Pada suatu hari datanglah seorang santri dari Pesantren Makam Agung Tuban yang beranama Jawahir, ia adalah santri Kiai Maruf yang hendak pulang, namun singgah di Belitung, dan santri tersebut menginap di kamar Saliyo. Menurut literatur sejarah yang ada, Jawahir adalah seorang santri yang mahir dalam bidang ilmu fiqih. Pada saat itu mereka berdiskusi tentang ilmu fiqih dan nahwu, sebelum berdiskusi mereka telah berkonsensus, siapa yang kalah akan mengaji kepada si pemenang. Dalam diskusi tersebut akhirnya tidak ada yang menang atau yang kalah. Maka dengan keputusan mereka bersama, akhirnya mereka sepakat bertukar tempat, Saliyo menimba ilmu di Makam Agung Tuban dan Jawahir di Belitung.
| Mengenal Mbah Ghozaly bin Lanah, Pendiri Pesantren Sarang (Sumber Gambar : Nu Online) |
Mengenal Mbah Ghozaly bin Lanah, Pendiri Pesantren Sarang
Setelah sekian lama Saliyo menimba ilmu di Makam Agung bersama Kiai Maruf, akhirnya sang kiai mengevaluasi para santrinya dengan pertanyaan mengenai ilmu nahwu. Sebelum melontarkan pertanyaan kepada santrinya, Kiai Maruf berjanji kalau ada yang bisa menjawab, akan dijadikan saudara iparnya.Setelah pertanyaan tersebut dilontarkan oleh sang kiai, keadaan berubah menjadi hening karena tidak ada satu pun santri yang menyahut untuk menjawabnya. Akhirnya ada salah seorang santri yang berkata: "Nyuwun sewu, Yai, wonten santri ingkang saget jawab, asmanipun Saliyo ingkang dipun laqobi Tumpul (Maaf, Yai, ada santri yang bisa menjawab, namanya Saliyo atau yang dijuluki Tumpul, red).”
Ustadz Felix Siaw
Ustadz Felix Siaw
Karena pertanyaan Kiai Ma’ruf merupakan bidang ilmu keahlian Saliyo, maka tidak menjadi hal yang sulit untuk menjawabnya. Akhirnya kiai menepati janjinya dan mengangkat Saliyo menjadi saudara iparnya, dijodohkan dengan Pinang (putri dari KH Muchdlor Sidoarjo). Tidak ada kuasa untuk Saliyo menolak kehendak dari sang kiai, sebagai santri yang selalu mengharap ridlo sang kiai. Di sisi lain, Saliyo berkesempatan untuk mendalami ilmu fiqih yang memang sebelumnya belum sempat untuk didalami. Hingga akhirnya Saliyo diizinkan pulang.Setelah kembali ke Sarang, beberapa saat kemudian beliau mendapatkan tanah wakaf dari seorang dermawan (ayah Kiai Muhsin Sarang). Kemudian beliau mendirikan pondok dan masjid, yang sekarang dikenal dengan sebutan Pondok Pesantren Mahadul Ilmi Asy-Syarie (MIS).
Beberapa tahun kemudian kira-kira pada abad 12 H, beliau pergi ke Tanah Suci dengan mengarungi samudra yang menghabiskan waktu 7 bulan lamanya. Sesampainya di Tanah Suci ternyata para jamaah haji telah melakukan wuquf di Arafah, sehingga ia pun harus menunggu waktu 1 tahun lamanya untuk menunaikan ibadah haji kembali. Kesempatan itu tidak disia-siakannya, Saliyo gunakan untuk menuntut ilmu kepada para ulama di Makkah. Sampai akhirnya beliau mampu menulis kitab "Tafsir Jajalain" yang kini masih tersimpan rapi di Pondok Pesantren MIS Sarang. Sebagai tafaul, sekembalinya beliau dari tanah suci berganti nama menjadi Ghozaly.
Perkembangan Pondok Sarang
Meski Kiai Ghozaly telah tiada, bukan berarti pondok pesantren itu tutup. Perjuangan Kiai Ghozaly diteruskan oleh menantunya yang bernama KH Umar bin Harun. Sejak itu, nama Pondok Pesantren Sarang semakin dikenal oleh banyak orang baik masyarakat lokal maupun luar daerah.
Pada saat pondok pesantren berkembang, Kiai Umar tak lagi sanggup meneruskan perjuangan orang tuanya karena sakit. Kemudian beliau meninggal pada 1890. Setelah pergantian kepemimpinan, kendali pesantren dipegang oleh KH Fathurrohman (putra KH Ghozaly) hingga 1962.
Selanjutnya, pimpinan pesantren berikutnya adalah KH Syuaib yang dibantu oleh dua putranya, KH Achmad dan KH Imam Kholil.
Setelah Kiai Syuaib meninggal, Pondok Pesantren Sarang itu dibagi menjadi dua, yaitu Pondok Pesantren Mahad Ilmisy Syari (MIS) yang diasuh oleh KH Imam Kholil dan Pondok Pesantren Mahadul Ulumisy Syariyyah (MUS) yang diasuh oleh KH Achmad dan KH Zuibair Dahlan. Generasi pimpinan berikutnya adalah KH Abdurrochim. (Aan Ainun Najib)
Sumber:
Buku Al-Shibghah (Penyusun M-Qta Crew Tahun 1427 H), Sarang
Suara Merdeka (2 Nopember 2004)
Dari Nu Online: nu.or.id
Ustadz Felix Siaw Kajian Islam, Sejarah Ustadz Felix Siaw
Tidak ada komentar:
Posting Komentar