Senin, 18 Agustus 2008

Kaos Gus Dur dan Kiai Hasyim Laris Manis

Jombang, Ustadz Felix Siaw . Muktamar NU, di Jombang tidak saja menjadi ajang berkumpulnya Nahdliyin di seluruh Indonesia dan luar negeri, namun juga menjadi medan bisnis bagi masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia. Ama Siswanto (25), mengaku bersyukur dengan adanya hajatan organisasi Islam terbesar di Indonesia itu. 

"Jika biasanya per hari saya hanya bisa menjual enam hingga tujuh kaos, sekarang bisa mencapai 50 hingga 100 kaos," kata Ama yang berjualan di areal GOR Jombang, Senin (2/8) malam.

Kaos Gus Dur dan Kiai Hasyim Laris Manis (Sumber Gambar : Nu Online)
Kaos Gus Dur dan Kiai Hasyim Laris Manis (Sumber Gambar : Nu Online)

Kaos Gus Dur dan Kiai Hasyim Laris Manis

Kaos berlogo Muktamar NU ke 33, Hadratus Syaikh KH Hasyim Asari, dan Gus Dur bersaing menjadi permintaan peserta, persentasenya menurut Ama seimbang.

Ustadz Felix Siaw

"Orang Jujur Kenal Gus Dur" merupakan salah satu kaos dijual Ama. "Untuk kaos oblong, Rp30 ribu, kalau berkerah Rp40 ribu," kata Ama menjelaskan nilai dagangannya.

Perihal ia memilih salah satu kaos bertuliskan "Orang Jujur Kenal Gus Dur" dilengkapi gambar KH Abdurahman Wahid atau Gus Dur, Ama yang awalnya minder berjualan kaos dengan bermodal sablon digital menyatakan sosok Presiden ke-4 RI yang sebelumnya menjabat Ketua PBNU selama tiga periode merupakan sosok ceplas-ceplos, apa adanya.

Ustadz Felix Siaw

"Itu alasannya kaos tersebut berbunyi demikian," kata Ama yang memiliki industri kecil "Jombang Banget. Oleh-Oleh Khas Jombang" itu menjelaskan. (Gatot Arifinto/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Amalan, Tokoh Ustadz Felix Siaw

Rabu, 13 Agustus 2008

PBNU Desak Pemerintah Atasi Melemahnya Rupiah

Jombang, Ustadz Felix Siaw. Ketua Umum PBNU hasil Muktamar ke-33 NU di Jombang, KH Said Aqil Siroj berharap nilai mata uang rupiah yang kini melemah hingga menembus Rp 14 ribu tidak naik lagi. PBNU berharap pemerintah mempunyai langkah untuk mengatasi melemahnya rupiah terhadap dolar AS.

"Saya mengharapkan terutama tim ekonomi pemerintah sekarang ini betul-betul harus mempunyai kiat atau kebijakan yang jitu, bagaimana mempertahankan agar rupiah? tidak naik lagi," ujar Kang Said, sapaan akrabnya, saat berkunjung di Jombang, Selasa (25/8).

PBNU Desak Pemerintah Atasi Melemahnya Rupiah (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Desak Pemerintah Atasi Melemahnya Rupiah (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Desak Pemerintah Atasi Melemahnya Rupiah

Kedatangan Kang Said yang didamping H Saifullah Yusuf di kota santri ini adalah yang pertama setelah digelarnya Muktamar ke-33 NU di Jombang, 1-5 Agustus 2015 lalu. Rombongan PBNU ini datang untuk berterima kasih atas suksesnya kegiatan Muktamar NU.

Ustadz Felix Siaw

Melemahnya Rupiah terhadap dolar AS hingga Rp 14 ribu, kata Said, sudah sangat maksimal, meski diakuinya memang melemahnya nilai rupiah adalah pengaruh ekonomi global. Karena itu, pihaknya mendesak pemerintah melakukan langkah penguatan ekonomi fundamental. "Ini sudah maksimal lah Rp 14 ribu, jangan sampai naik lagi,"ujarnya

Ustadz Felix Siaw

Sebagai Ormas, PBNU selalu siap memberikan masukan terhadap pemerintah dalam upaya mempertahankan nilai tukar rupiah terhadap dolar. Kang Said juga meyakini, tim ekonomi pada kabinet kerja diisi oleh orang-orang mumpuni dalam urusan ekonomi propesional.

“Mereka cukup bisa untuk mengatasi ekonomi Indonesia sekarang," pungkasnya seraya menyebut Menko Rizal Ramli, Darmin itu semua orang pintar. “Semua saya yakin mereka bisa mengatasi ekonomi sekarang.” (Muslim Abdurrahman/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Anti Hoax Ustadz Felix Siaw

Senin, 07 Juli 2008

IPPNU Banyumas Raih Juara l Organisasi Kepemudaan Berprestasi

Banyumas, Ustadz Felix Siaw?

Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Banyumas berhasil meraih juara pertama dalam lomba Organisasi Kepemudaan Berprestasi tingkat Kabupaten Banyumas tahun 2017 yang digelar oleh Bidang Kepemudaan Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Banyumas, Jawa Tengah.

Kegiatan lomba yang digelar selama tiga hari, dari tangal 10-12 April 2017 itu diawali dengan peninjauan ke sekertariat organisasi perserta lomba oleh dewan juri.

IPPNU Banyumas Raih Juara l Organisasi Kepemudaan Berprestasi (Sumber Gambar : Nu Online)
IPPNU Banyumas Raih Juara l Organisasi Kepemudaan Berprestasi (Sumber Gambar : Nu Online)

IPPNU Banyumas Raih Juara l Organisasi Kepemudaan Berprestasi

Sedangkan pengumuman pemenangnya dilaksanakan di Aula Bappedalitbang Banyumas, Rabu (12/4) oleh dewan juri setelah masing-masing peserta mempresentasikan program kerja unggulannya.?

Dari 10 perserta yang mengikuti lomba, IPPNU meraih peringkat pertama dengan nilai 3.074, disusul ST3 Telkom Purwokerto dengan nilai 2.977 dan ketiga diraih Banyumas Muda Kecamatan Banyumas dengan nilai 2.881.

Khusnul Khotimah Ketua IPPNU Kabupaten Banyumas mengatakan, tentunya tidak mudah untuk meraih juara, butuh perjuangan dan ketekunan.

Ustadz Felix Siaw

"Banyak tahap dan kriteria yang harus dipenuhi, tapi alhamdulillah Tuhan berikan kemenangan ini untuk kita," kata Khusnul ketika dihubungi.?

Ustadz Felix Siaw

Khusnul juga mengucapkan terima kasih untuk semua pihak yang telah membantu mempersiapkan lomba ini. "Piala ini untuk kalian semua, untuk semua kader IPPNU se-Kabupaten Banyumas," lanjutnya.?

Azka Miftahudin 3 IPNU Banyumas, mengaku sangat mengapresiasi IPPNU karena selama dua tahun berturut-turut menjadi juara dalam lomba Organisasi Kepemudaan.?

"Tahun lalu juara 2, sekarang juara 1, selamat ya," jelas Azka.?

Dengan kemenangan tersebut dipastikan IPPNU Banyumas akan maju dalam lomba Organisasi Kepemudaan tingkat Jawa Tengah. (Kifayatul Ahyar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Daerah Ustadz Felix Siaw

Kamis, 05 Juni 2008

PMII Kupang Gelar Sekolah Islam dan Gender

Kupang, Ustadz Felix Siaw - Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Kupang menggelar Sekolah Islam dan Gender bagi pengurus Cabang dan Komisariat se-Kupang pada Ahad (22/1).

Ketua Kopri PC PMII Siti Asyah mengatakan, sekolah tersebut adalah bagian dari memberikan pemahanan dasar keislaman tentang gender yang bersentuhan langsung dengan fiqih serta Al-Qur’an dan hadits.

PMII Kupang Gelar Sekolah Islam dan Gender (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Kupang Gelar Sekolah Islam dan Gender (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Kupang Gelar Sekolah Islam dan Gender

Aisyah menambahkan, kegiatan ini adalah upaya PMII putri untuk memberikan pemahaman tentang pentingnya perempuan dalam Islam kepada para kader.

Ustadz Felix Siaw

"Sehingga kita bisa memberikan pemahaman tentang keislaman sesuai Al-Quran dan hadits yang berkaitan dengean isu gender," katanya.

Ustadz Felix Siaw

Sementara Ketua PMII Cabang Kupang Julfirlan mengatakan, Sekolah Islam dan Gender memberikan semangat kader Kopri.

Menurut Firlan, dilihat dari dinamika zaman seperti ini, sebagai kader gerakan, PMII putri harus mampu mengawasi, mengatasi baik diri maupun keluarga di lingkungan masing-masing.

"Penajaman tentang Islam kepada kader menjadi rutinitas yang harus dilakukan oleh cabang," katanya.

Kegiatan tersebut menghadirkan pemateri alumni Kopri Siti Hajar, Ketua Muslimat NU Hj. Nurni H. Amirudin, dan Srichatun. (Ajhar Jowe/Abdullah Alawi)



?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Ubudiyah Ustadz Felix Siaw

Sabtu, 22 Maret 2008

Tahu Rasanya Nikmat dan Siksa Kubur?

Seperti orang hidup, mereka yang telah meninggal dunia pun mengecap kenikmatan sesuatu seperti makan, minum, dan lain-lain kenikmatan di alam kubur. Sambil menunggu habis umur dunia, segalanya terasa nikmat bagi mereka yang berhak. Demikian juga dengan kesengsaraan. Percaya, tidak percaya, kenyataannya demikian.

Keduanya ini yang dinamakan nikmat kubur dan siksa kubur. Kenyataan keduanya wajib diyakini orang Islam. “Dan orang Islam wajib meyakini kedatangan dua malaikat untuk bertanya kepada anak manusia yang meninggal dunia tentang Tuhan, Rasul, dan agamanya,” kata Sayid Ahmad bin Zaini Dahlan dalam Fathul Jawadil Mannan ala Faidhir Rahman.

Tahu Rasanya Nikmat dan Siksa Kubur? (Sumber Gambar : Nu Online)
Tahu Rasanya Nikmat dan Siksa Kubur? (Sumber Gambar : Nu Online)

Tahu Rasanya Nikmat dan Siksa Kubur?

“Allah Tuhanku. Muhammad SAW nabiku. Islam agamaku. Ka‘bah kiblatku. Orang-orang beriman saudaraku,” jawab penghuni kubur.

“Istirahatlah layaknya istirahat pengantin. Di mana hanya orang yang paling dikasihinya yang akan membangunkan pengantin,” perintah malaikat.

Ustadz Felix Siaw

Selanjutnya, kata Sayid Ahmad bin Zaini Dahlan, kubur orang itu diperluas. Sebuah lorong yang bersambung dengan surga terbuka. Dari sana berdatangan aroma dan aneka nikmat memenuhi kuburnya hingga tiba masa kebangkitan.

Ustadz Felix Siaw

Sebaliknya. Kalau penghuni kubur tidak sanggup menjawab dengan benar, maka keduanya akan menyiksa penghuni kubur dengan rupa-rupa siksa. Sebuah lorong yang terhubung dengan neraka terbuka di kuburnya. Dari situlah panas dan radiasi neraka membanjiri kuburnya hingga Kiamat kelak.

Tetapi bagaimana semua keterangan itu dapat dibenarkan sedangkan lima indra manusia sudah mati total? Pertanyaan demikian kerap mengaburkan keyakinan kita akan nikmat dan siksa kubur.

Sayid Ahmad bin Zaini Dahlan membenarkan bahwa pengalaman yang tengah dilalui penghuni kubur itu memang tidak dirasakan dan dilihat oleh mereka yang masih hidup. Kenyataan itu meski tidak bisa dicapai oleh akal, wajib kita imani. Keterangan berikut semoga dapat membantu.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?  

“Allah telah menjelaskan hujjah-Nya pada keadaan dan pengalaman orang tidur. Ia menyaksikan segala sesuatu di hadapannya. Ia melihat dirinya sedang makan, minum, berpergian, berdagang, bersetubuh dan lain aktivitas. Semua tindakan yang dialami orang tidur itu tidak bisa dialami mereka yang terjaga.”

Demikian orang tidur, demikian pula penghuni kubur dalam merasakan nikmat atau siksa kubur. Kalau kuburnya dibongkar, lanjut Sayid Ahmad bin Zaini Dahlan, tentu saja tidak terlihat apapun. Karena, alam barzakh (kubur) itu bagian dari alam malakut (gaib). Mereka yang terhijab tentu tidak bisa menembus pemandangan demikian. Tetapi tentu saja Allah membuka hijab sebagian hamba-Nya yang memiliki mata batin untuk menyaksikan keadaan orang meninggal di alam kubur. Wallahu A‘lam.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw PonPes Ustadz Felix Siaw

Rabu, 19 Maret 2008

Inilah Filosofi dalam Tradisi Halal Bihalal

Pringsewu, Ustadz Felix Siaw

Di Indonesia, bulan Syawwal identik dengan tradisi halal bihalal di mana setiap orang saling bersilaturahim mengungkapkan kebahagiaan hari raya sekaligus saling maaf-memaafkan dosa antarsesama. Tradisi ini merupakan khazanah budaya Islami di Nusantara yang merupakan warisan para wali dan ulama salafus shalih.

Inilah Filosofi dalam Tradisi Halal Bihalal (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Filosofi dalam Tradisi Halal Bihalal (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Filosofi dalam Tradisi Halal Bihalal

"Jika dicari di Qur’an dan Hadits tidak ada Istilah halal bihalal. Namun ini tidak berarti budaya ini tidak sesuai dengan Ajaran Islam. Intisari dari halal bihalal adalah silaturahmi dan ini merupakan sunnah Nabi," kata Ketua PCNU Kabupaten Pringsewu H Taufiqurrohim, Ahad ( 31/7).

Ia menjelaskan bahwa tradisi ini sudah ada sejak tahun 1700-an saat Nusantara Indonesia masih berbentuk kerajaan-kerajaan. Tradisi ini kemudian diformulasikan sedemikian rupa sehingga nuansa Islami hadir dalam tradisi tersebut.

Ustadz Felix Siaw

"Itulah kearifan para wali dan ulama Nusantara. Kehadiran mereka selalu dapat memberikan hikmah dan pencerahan tanpa perpecahan. Kalau zaman dulu para wali banyak yang mengislamkan orang-orang kafir. Namun pada zaman sekarang ini banyak orang malah mengkafirkan orang Islam," tegasnya saat kegiatan halal bihalal PCNU Pringsewu sekaligus Ngaji Ahad Pagi (Jihad Pagi) di Gedung NU Pringsewu, Lampung.

Mas Taufiq, begitu ia biasa dipanggil menjelaskan pula bahwa banyak sekali makna filosofis yang terkandung dalam tradisi halal bihalal di Indonesia. Di antaranya ia mencontohkan penggunaan bahasa Arab pada beberapa aspek seperti makanan yang sering disuguhkan pada saat halal bihalal.

Ustadz Felix Siaw

"Ketan aslinya khatiun maknanya kesalahan, apem aslinya ‘afwun maknanya memaafkan, keluban aslinya qulubana maknanya hati untuk saling memaafkan dan masih banyak lainnya," katanya.

Makna filosofis juga banyak terkandung pada menu makanan khas yang sering disuguhkan pada halal bihalal di setiap hari rayanya yaitu ketupat. "Ketupat itu ngaku lepat atau mengakui kesalahan. Bentuknya segi empat yang menunjukkan prinsip yang harus dilakukan saat halal bihalal yaitu lebar atau selesai, luber atau menyebar, lebur atau terhapus dan labur atau putih bersih," jelasnya.

Ketupat, tambahnya, dibuat dari anyaman daun kepala yang masih muda yang dinamai Janur. "Janur berasal dari bahasa Arab yaitu jaa-n-nur yang berarti telah datang cahaya," jelasnya.

Oleh karenanya filosofi yang luhur dari hal-hal tersebut harus dipertahankan dan diwariskan kepada para generasi penerus agar Islam di Nusantara tetap ada. (Muhammad Faizin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Humor Islam, Daerah, Kajian Ustadz Felix Siaw

Kamis, 14 Februari 2008

Hukum Pencantuman Nama Suami di Belakang Nama Istri

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Redaksi Ustadz Felix Siaw yang saya hormati, semoga selalu dalam lindungan Allah SWT. Kami ingin menanyakan tentang hukum pencantuman nama suami di belakang nama istri. Sementara saya pernah mendengar ustadz tidak memperbolehkan pencantuman suami setelah nama istri. Mohon keterangannya. Atas penjelasannya saya ucapkan terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Mahmud/Jakarta)

Jawaban

Hukum Pencantuman Nama Suami di Belakang Nama Istri (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Pencantuman Nama Suami di Belakang Nama Istri (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Pencantuman Nama Suami di Belakang Nama Istri

Assalamu ’alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa lazimnya nama yang dicantumkan di belakang nama seseorang adalah orang tuanya, terutama bapak kandung yang bersangkutan. Pencantuman itu adakalanya dibubuhi dengan “bin”, “binti”, atau tanpa itu semua. Nama anak itu digandeng langsung dengan nama orang tuanya. Ada juga yang menyandingkan namanya dengan nama kedua orang tuanya sekaligus seperti Abdullah bin Ubay bin Salul.

Ustadz Felix Siaw

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ?

Ustadz Felix Siaw

Artinya, “(Abdullah bin Ubay bin Salul) bin Ubay adalah pemuka Khazraj. Ia dinisbahkan kepada bapak dan ibunya. Bapaknya bernama Ubay. Ibunya bernama Salul. Namanya sendiri adalah Abdullah sebagai keterangan guru kami,” (Lihat Syekh Sulaiman Umar Al-Jamal, Al-Futuhatul Ilahiyah bi Taudhihi Tafsiril Jalalain lid Daqa’iqil Khafiyyah, Beirut, Darul Fikr, 2003 M/1423 H, juz III halaman 302).

Pencantuman nama orang tua di belakang nama anak biasanya dipakai untuk sejumlah kepentingan. Salah satunya pencantuman nama itu dimaksudkan untuk penegasan nasab atau hubungan biologis. Karenanya pencantuman nama orang lain yang bukan orang tua kandung di belakang nama seseorang terhitung aib yang sangat tercela dalam Islam seperti disebutkan Rasulullah SAW berikut ini.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Dari Abu Dzar, ia mendengar Nabi Muhammad SAW bersabda, ‘Tiada seorangpun yang menisbahkan diri kepada selain bapaknya dengan sengaja melainkan ia menjadi kufur,’” (HR Bukhari).

Penjelasan hadits di atas diulas oleh Badruddin Al-Aini dalam ‘Umdatul Qari Syarhu Shahihil Bukhari berikut ini.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “(Kepada selain bapaknya) dan (dengan sengaja) kalimat hal atau penunjuk waktu kekinian. Artinya ia saat itu sadar bahwa nama penisbahan di belakang namanya itu bukanlah bapaknya. Penisbahan itu dikaitkan dengan kesengajaan karena kesalahan dianggap dosa ketika dilakukan dengan sengaja. Sebagian naskah menyebut, ‘kufur kepada Allah’ yang mana hal ini tidak terdapat dalam riwayat Muslim. Dan tidak ada pada riwayat selain Abu Dzar. Tidak adanya penyebutan ‘kufur kepada Allah’ bisa jadi dipahami sebagai kufur nikmat atau maksudnya tidak seperti yang tertera secara harfiah. Tetapi maksudnya adalah penegasan larangan dan aib atas penisbahan seseorang kepada orang lain yang bukan bapak kandungnya. Hadits itu juga bisa dipahami bahwa penisbahan itu merupakan perilaku yang serupa dengan perbuatan orang kafir,” (Lihat Badruddin Al-Aini, ‘Umdatul Qari Syarhu Shahihil Bukhari, juz 24, halaman 35).

Dalil lain yang diangkat sebagai pengharaman penisbahan nama orang lain adalah Surat Al-Ahzab ayat 5.

? ? ? ? ? ?

Artinya, “Kaitkan panggilan mereka (anak-anak angkat) itu dengan nama orang tua kandung mereka. Itu lebih adil statusnya di sisi Allah.”

Ada baiknya kita lihat keterangan singkat Syekh Wahbah Az-Zuhayli perihal ayat ini dalam tafsirnya berikut ini.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Nisbahkan anak-anak (angkat) itu kepada bapak mereka yang sebenarnya di mana mereka adalah orang tua kandung mereka, bukan kepada orang tua angkat mereka. penisbahan anak kepada bapak kandung itu lebih adil statusnya,” (Lihat Wahbah Az-Zuhayli, At-Tafsirul Wajiz ala Hamisyil Qaur’anil Azhim, Damaskus, Darul Fikr, cetakan kedua 1416 H/ 1996 M, halaman 419).

Namun begitu, penjelasan Sayyid Al-Alusi berikut ini sedikit banyak menjawab masalah yang ditanyakan. Menurutnya, penisbahan nama secara biologis kepada selain orang tua itu dilarang kalau memang dilakukan secara sengaja.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Secara lahiriyah, ayat ini mengharamkan dengan sengaja penyebutan nisbah seseorang kepada selain bapaknya. Bisa jadi keharaman itu karena penyebutan nama dilakukan seperti tradisi masyarakat Jahiliyah. Sedangkan panggilan yang berbeda dengan konsep penyebutan nama dalam Jahiliyah seperti bentuk panggilan orang dewasa kepada mereka yang lebih muda dengan sapaan ‘Anakku’ dan banyak sapaan kasih-sayang dan ramah-bersahabat serupa itu, secara lahiriyah tidaklah haram,” (Lihat Sayyid Mahmud Al-Alusi, Ruhul Ma‘ani, Beirut, Daru Ihya’it Turatsil Arabi, tanpa tahun, juz 21, halaman 149).

Berangkat dari pelbagai penjelasan di atas, kita mengambil sejumlah simpulan. Pertama, Islam mengecam keras mereka yang mencantumkan nama orang lain di belakang namanya secara sengaja dengan niat nisbah biologis. Karena perbuatan itu merupakan pengingkaran terhadap bapak kandungnya sendiri. Ini bagian dari kufur nikmat dan kedurhakaan.

Kedua, pencantuman nama suami di belakang nama istri jelas tidak dimaksudkan untuk penisbahan biologis. Dengan demikian boleh saja seorang istri membubuhi nama suami di belakang namanya.

Ketiga, sapaan seseorang yang lebih dewasa kepada mereka yang lebih muda atau sebaliknya dengan kata “Nak”, “Dik”, “Pak”, “Om”, "Tante", “Cing”, “Bu”, “Pak dhe”, atau sapaan serupa lainnya untuk menunjukkan kehangatan dan keakraban dua orang yang sama sekali tidak berkaitan secara biologis, tidak diharamkan seperti penjelasan Al-Alusi di atas.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu ‘alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Ubudiyah Ustadz Felix Siaw