Jumat, 24 Mei 2013

Akhlak dan Hizbul Hoaks Indonesia

Oleh Ayik Heriansyah



NU sebagai kekuatan sipil terbesar di Indonesia berada di garda terdepan menjaga NKRI. Harus diakui sejak republik ini berdiri, NU masih bersih dari segala macam kegiatan yang menganggu eksistensi negara. Dalam keadaan suka duka NU selalu bersama Indonesia secara lahir dan batin.?

Wajar jika pemerintah dan rakyat Indonesia menaruh kepercayaan penuh kepada NU ketika gerakan kaum radikal mulai menggeliat sejak 20 tahun yang lalu. Dari waktu ke waktu, mereka semakin menampakkan diri bertujuan mengubah NKRI menjadi negara khilafah. Untuk mengamankan negara, pemerintah? pun membubarkan organisasi pengusung paham itu, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), melalui Perppu Ormas yang kemudian disahkan menjadi UU Ormas oleh DPR.?

Akhlak dan Hizbul Hoaks Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Akhlak dan Hizbul Hoaks Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Akhlak dan Hizbul Hoaks Indonesia

Logis jika NU, GP Ansor dan Banser menjadi sasaran kemarahan selepas dicabutnya badan hukum mereka oleh pemerintah, dalam hal ini Kemenkumham; dengan memanfaatkan blog dan media sosial, berbagai berita hoaks, meme bernada pelecehan, potongan video yang tendensius, serta opini-opini lepas tanpa peduli benar atau salah, yang penting viral.?

Di sisi lain, reaksi GP Ansor dan Banser terhadap HTI, jadi dalih penghalang “dakwah”. Itu merupakan pintu propaganda masif agar terjadi pelemahan jama’ah dan jam’iyah. Tak hanya itu, untuk menciptakan aura kebencian kalangan umat Islam yang lain terhadap NU, GP Ansor dan Banser. Awalnya sempat terjadi kontraksi kecil di internal jama’ah NU, tapi tampaknya makin lama, mulai paham dan sadar ada niat busuk di balik share-sharean mereka di dunia maya.?

Alhamdulillah warga NU cepat kembali ke kiainya setelah sempat sebentar geger dan gagap dibombardir konten hoaks mereka.?

Ustadz Felix Siaw

Selama ini HTI mencitrakan dirinya sebagai kelompok politik intelektual, santun dan tanpa kekerasan. Bagi mereka, bahwa akhlak bagian dari syariat Islam. Bahkan ada satu kitab khusus berisi kumpulan ayat dan hadits tentang akhlak dalam rangka memperkokoh nafsiyah para anggotanya yaitu kitab Min Muqawwimat Nafsiyah Islamiyah (Pilar-pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyah).?

Di sisi lain pendapat HTI tentang akhlak terkait dakwah dan kebangkitan umat Islam sangat minor. Terkesan mengabaikan akhlak. Di bab terakhir kitab Nizhamul Islam? membahas akhlak. Di bab tersebut Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani mengatakan: akhlak tidak mempengaruhi secara langsung tegaknya suatu masyarakat. Masyarakat tegak dengan peraturanperaturan hidup dan dipengaruhi oleh perasaan-perasaan dan pemikiran-pemikiran. Akhlak tidak mempengaruhi tegaknya suatu masyarakat, baik kebangkitan maupun kejatuhannya. Yang mempengaruhinya adalah opini (kesepakatan) umum yang lahir dari persepsi tentang hidup. Disamping itu yang menggerakkan masyarakat bukanlah akhlak, melainkan peraturan-peraturan yang diterapkan di tengah-tengah masyarakat itu, pemikiran-pemikiran, dan perasaan yang melekat pada masyarakat tersebut. Akhlak sendiri adalah produk berbagai pemikiran, perasaan, dan hasil penerapan peraturan.?

Ustadz Felix Siaw

Atas dasar inilah, maka tidak diperbolehkan dakwah hanya diarahkan pada pembentukan akhlak dalam masyarakat. Sebab akhlak merupakan hasil dari pelaksanaan perintah- perintah Allah SWT yang dapat dibentuk dengan cara mengajak masyarakat kepada akidah dan melaksanakan Islam secara sempurna.?

Disamping itu, mengajak masyarakat pada akhlak semata, dapat memutarbalikkan persepsi Islam tentang kehidupan dan dapat menjauhkan manusia dari pemahaman yang benar tentang hakikat dan bentuk masyarakat. Bahkan dapat membius manusia dengan hanya mengerjakan keutamaan amal-amal yang bersifat individual. Hal ini mengakibatkan kelalaian terhadap langkah-langkah yang benar menuju kemajuan hidup. Dengan demikian sangat berbahaya mengarahkan dakwah Islamiyah hanya pada pembentukan akhlak saja. Hal itu memunculkan anggapan bahwa dakwah Islam adalah dakwah untuk akhlak saja. Cara seperti ini dapat mengaburkan gambaran utuh tentang Islam dan menghalangi pemahaman manusia terhadap Islam. Lebih dari itu dapat menjauhkan masyarakat dari satu-satunya metode dakwah yang dapat menghasilkan penerapan Islam, yaitu tegaknya Daulah Islamiyah. (Nizhamul Islam, terj, 2007: 197-198)

Di kitab at-Takattul Hizbi, Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani juga mengkritik organisasi-organisasi yang mendakwahkan Islam, di samping berbagai organisasi pendidikan dan social tersebut, berdiri pula organisasi berdasarkan akhlak yang berusaha membangkitkan umat atas dasar akhlak melalui nasihat-nasihat, bimbingan-bimbingan, pidato-pidato, dan selebaran-selebaran, dengan suatu anggapan bahwa akhlak adalah dasar kebangkitan. Organisasi-organisasi ini telah mencurahkan tenaga dan dana yang tidak sedikit, namun tidak mendatangkan hasil yang berarti. Perasaan umat tersalur melalui pembicaraan-pembicaraan yang membosankan yang diulang-ulang tanpa arti. (at-Takattul Hizbi, terj: 2001: 25).

Dari pemikiran Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani di atas sebenarnya HTI tidak melepaskan akhlak secara mutlak. Akhlak sebatas urusan seorang individu terhadap dirinya sendiri. Maksudnya akhlak masalah privat bukan politik. Di ranah politik, akhlak dikesampingkan sebab dalam proses politik menuju tegaknya khilafah, HTI berpedoman pada metode dakwah yang mereka adopsi yang diyakini berasal dari metode dakwah Nabi SAW. Tahap yang krusial bagi eks-HTI dalam metode dakwah mereka adalah fase tafa’ul ma’a ummah (berinteraksi dengan umat). Di fase ini eks-HTI melancarkan shira’ul fikri (konfrontasi pemikiran) dan gencar melakukan aktivitas kifahu siyasi (perjuangan politik).?

Pelanggaran akhlak islami sering kali terjadi pada dua aktivitas ini. Untuk memenangkan konfrontasi pemikiran, eks-HTI tidak segan-segan memanipulasi makna kitab turats (kitab kuning). Contohnya makna khilafah itu sendiri. Eks-HTI mengutip qaul ulama berbagai mazhab tentang khilafah yang bermakna umum (general) kemudian oleh eks-HTI keumuman makna khilafah ditimpali/ditahrif menjadi makna khusus menjadi lebih spesisfik dengan makna khilafah yang mereka maksud dan mereka perjuangkan.?

Khilafah yang ada dalam benak eks-HTI adalah kepemimpinan umat yang dipegang oleh Amir Hizbut Tahrir dalam naungan negara yang mengadopi kontitusi yang disusun oleh Amir Hizbut Tahrir. Tentu saja makna khilafah seperti ini bukan yang dimaksud oleh para ulama salaf dan khalaf di kitab-kitab mereka. Para ulama membiarkan keumuman makna khilafah, sehingga bentuk kepemimpinan, negara dan pemerintahan yang tercakup dalam keumuman makna ini, dianggap Khilafa secara syar’i. NKRI salah satunya.?

Dengan demikian, sebenarnya umat Islam tidak pernah kosong dari khilafah sejak dibaiatnya Abu Bakar al-Shiddiq sebagai khalifah sampai dilantiknya Presiden Jokowi. Keadaan vacuum of khilafah tidak pernah terjadi pasca runtuhnya Khilafah Turki Utsmani 3 Maret 1924 sebagaimana yang diyakini oleh HTI.

Adapun titik rawan pelanggaran akhlak islami oleh eks-HTI ketika melakukan aktivitas perjuangan politik yaitu aksi membongkar strategi (kasyful khuththath). Kasyful khuththath merupakan aktivitas politik eks-HTI dalam membongkar, menyingkap lalu membongkar ke publik strategi dan rencana penguasa yang mereka vonis sebagai antek-antek negara asing. Tujuan aksi ini untuk memutus kepercayaan publik terhadap pemerintah (dharbu ‘alaqah baina ummah wa hukkam).?

Untuk mendapatkan informasi seputar strategi dan rencana penguasa, eks-HTI melakukan kegiatan mata-mata (intelijen) amatiran. Informasi-informasi mereka kumpulkan dari berbagai sumber baik yang terbuka umum seperti media massa, media online dan media sosial maupun sumber-sumber tertutup dari kegiatan silaturahmi mereka dengan para ulama, pejabat, birokrat, akademisi, dan lain-lain yang mayoritas beragaman Islam.?

Padahal aktivitas memata-matai mereka sangat dilarang oleh akhlak islami. Tajassus kepada sesama muslim perbuatan yang tidak diragukan lagi keharamannya. Seringkali eks-HTI ceroboh dalam menilai kegiatan seorang Muslim yang jadi pejabat, antara perbuatan pribadi atau sebagai pejabat sehingga yang terjadi justru aksi bongkar aib pribadi yang dilakukan eks-HTI kepada seorang pejabat bukan membongkar rencana “jahat antek penjajah”. Membongkar aib pribadi pejabat ke publik termasuk dosa besar. Itu pun bercampur fitnah dan ghibah.

Namun demikian, eks-HTI merasa tidak bersalah karena diyakini sebagai bagian dari implementasi metode dakwah Nabi SAW. Kemudian diperkuat oleh pemikiran Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani yang memisahkan akhlak dari masyarakat membuat eks-HTI mengabaikan akhlak dalam berdakwah. HTI sendiri menegaskan kelompok mereka bukan kelompok ruhani dan akhlak. Mereka merupakan partai politik yang berorientasi meraih kekuasaan sebagai syarat terjadinya perubahan masyarakat. Manuver politik nirakhlak yang dipraktikkan eks-HTI dampak dari keyakinan mereka yang salah tentang metode dakwah Nabi SAW dan konsepsi tentang akhlak kaitannya dengan perubahan masyarakat.?

Betul, suatu masyarakat eksis karena adanya pemikiran, perasaan dan aturan yang sama, namun unsur pokok masyarakat adalah individu. Tanpa individu-individu tidak akan terwujud suatu masyarakat sebagus apapun pemikiran, perasaan dan aturan yang dirancang. Sebab itu perubahan masyarakat ditentukan oleh perubahan individu yang meliputi pemikiran, perasaan dan akhlak. Jika seorang individu belum bisa mengatur dirinya dengan akhlak, maka rasanya berat bagi individu untuk bisa diatur dalam suatu masyarakat. Akhlak jadi parameter keteraturan suatu masyarakat.

Kesalahpahaman Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam mendiagnosa penyakit masyarakat ditambah kedangkalan ilmu agama eks-HTI menjadikan mereka tidak segan-segan mengadu domba lawan-lawan politik mereka dari kalangan ulama dan ormas Islam. NU, GP Ansor dan Banser sebagai benteng NKRI tidak lain merupakan penghalang terbesar sipil bagi agenda pendirian Khilafah oleh eks-HTI.?

Meski belum ada bukti pasti berasal dari mereka, memproduksi konten hoaks agar menimbulkan rasa kebencian dan permusuhan kepada NU, GP Ansor dan Banser adalah perbuatan keji yang jauh dari akhlak terpuji. Dan sepertinya kalangan petinggi eks-DPP HTI membiarkan aksi-aksi “machiaveli” eks-HTI karena dianggap aksi individual, bukan agenda jama’ah dan secara politik aksi-memberi manfaat bagi perjuangan mereka. Mereka seperti menikmati aksi-aksi lone wolf eks-HTI di dunia maya mengingat mereka tidak bisa lagi beraktivitas di dunia nyata.?

Yang pasti, dakwah Islam dengan cara-cara kotor, alih-alih mendapat nashrullah, justru akan mengundang murka Allah SWT. Sudah jadi sunnatullah syariat Islam hanya tegak dengan cara-cara yang bersih, bersih niat, bersih pikiran, bersih ujaran dan bersih tindakan. Menegakkan syariat Islam dengan akhlak tercela ibarat menegakkan benang basah.

Penulis adalah jama’ah Sabtuan NU Kota Bandung, Pegiat di Institute for Democracy Education. Mantan Ketua HTI Babel 2004-2010

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Nahdlatul, Internasional, Anti Hoax Ustadz Felix Siaw

Jumat, 10 Mei 2013

PBNU dan Mizan Bahas Perkembangan Sufisme Dunia

Jakarta, Ustadz Felix Siaw

Penerbit Mizan bekerjasama dengan Lembaga Talif wan Nasyr (LTNNU) dan Lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU), akan mengadakan bedah buku dan diskusi tentang perkembangan sufisme dunia, pada Jumat (26/2), jam. 14.00, hari ini. Agenda ini juga dalam rangka Studium Generale Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU Jakarta) dan Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Indonesia. Diskusi dan Studium Generale ini, diselenggarakan dengan tema "Sufism in the Modern World".

Menurut rencana, agenda ini akan dihadiri oleh pakar sufi dari Aljazair, Dr Abdul Aziz Abbaci (Sadra Institute), Dr Haidar Bagir (Mizan), dan Dr Mastuki HS (Direktur Pascasarjana STAINU Jakarta). Agenda ini, terselenggara dengan dukungan Gerakan Islam Cinta, Nutizen, Ustadz Felix Siaw, TV9, Aswaja TV,? dan majalah Risalah NU.

PBNU dan Mizan Bahas Perkembangan Sufisme Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU dan Mizan Bahas Perkembangan Sufisme Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU dan Mizan Bahas Perkembangan Sufisme Dunia

Munawir Aziz, salah satu panitian menjelaskan pada agenda ini, akan dibahas perkembangan sufisme di negara-negara modern, serta kaitannya dengan jaringan sufisme di Nusantara. Tema ini, terkait erat dengan tema besar yang diusung Nahdlatul Ulama, yakni Islam Nusantara untuk peradaban dunia. Tentu, kajian ini akan menarik sebagai perspektif baru dalam memandang Islam di dunia, yakni dari pendekatan tasawuf yang penuh cinta dan welas asih. Pada momentum ini, juga akan diluncurkan sebuah buku baru, karya Prof. Carl Ernst (Carolina University), yang diterbitkan oleh Penerbit Mizan.

Katib Syuriyah PBNU, KH Mujib Qulyubi, menyambut hangat diksusi sebagai salah satu titik penting dalam mengkaji perkembangan Islam di dunia. "Pada prinsipnya kita menyambut hangat majelis ilmiah yang sesuai dengan visi Nahdlatul Ulama. Terlebih, mengkaji perkembangan sufisme itu sangat menarik. Jadi, ada pengkaji sufi, dan pelaku sufi," ungkap Kiai Mujib.

Ustadz Felix Siaw

Diskusi dan Studium Generale pada agenda ini, akan disiarkan secara langsung (live streaming) oleh Nutizen, via aplikasi media ini. Untuk konfirmasi kehadiran, silakan hubungi Faiz, 085710086095[]. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw

Ustadz Felix Siaw Berita Ustadz Felix Siaw

Selasa, 07 Mei 2013

Sukendar, Mencintai Gus Dur dengan Puisi Sunda

Jakarta, Ustadz Felix Siaw. Seribu ekspresi umat mencintai Gus Dur. Dari mendoakan, menziarahi maqbarohnya, hingga melukisnya. Semuanya sudah biasa, termasuk menulis puisi untuk guru bangsa itu. Namun, menggubah syair dalam puisi Sunda, ini terasa istimewa.   

Itulah yang dilakukan oleh Dadang Sukendar. Ia menulis syair dalam bahasa Sunda ketika selintingan ada orang yang menghina Gus Dur. “Ngaraos tugenah rehna seueur jalmi nu sok ngahina atanapi nuding Gus Dur tanpa tabayyun, nu antukna jadi opini di masyarakat,” ujarnya, ketika dihubungi Ustadz Felix Siaw, di Jakarta, Senin, (3/12).

Sukendar, Mencintai Gus Dur dengan Puisi Sunda (Sumber Gambar : Nu Online)
Sukendar, Mencintai Gus Dur dengan Puisi Sunda (Sumber Gambar : Nu Online)

Sukendar, Mencintai Gus Dur dengan Puisi Sunda

Maksudnya, merasa tidak enak ketika ada orang yang menghina Gus Dur tanpa dasar, karena hal itu menyebabkan opini yang tidak baik di masyarakat. 

Seorang karyawan swasta di daerah Pancoran-Jakarta Selata tersebut mengaku karena ia tak mungkin melakukan unjuk rasa seperti yang lain sehingga ia membela sesuai kemampuannya, yaitu menggubah syair.

Ia menulis dimulai dengan lafadz Bismillahirrohmaanirrohiim diakhiri dengan Alhamdulillah. Kemudian syair itu diberi judul “Syiir keur Gus Dur”.  

Syair tersebut berisi 15 bait. Tiap bait disusun dua baris. Tiap baris disusun dua kalimat. Tiap kalimat dijeda tanda #. Bait-bait tersebut memiliki rima yang beraturan. Misalnya pada bait pertama, setiap baris berakhiran “ur”, bait kedua berakhiran “ak”. Begitu seterunya.    

Ustadz Felix Siaw

Bait pertama berbunyi demikian:

aya jalmi hina gusdur # tangtos eta jalmi ngawur

Ustadz Felix Siaw

pikiran nuju tagiwur # teu emut ka alam kubur

Maksudnya, ada orang yang menghina Gus Dur, jelas ia orang ngawur, pikiran orang itu sedang tidak teratur dan tidak ingat alam kubur. Bait selanjutnya:

kedahna mikir sing asak # mun urang erek ngacaprak

sangkan henteu tisaralak # matak rusak kana awak 

Orang yang menghina Gus Dur adalah orang tidak teratur. Seharusnya (orang itu) berpikir yang matang, supaya tidak terjatuh, karena hal itu bisa menyebabkan badan rusak. 

seueur jalmi kirang cermat # ka gusdur nganggapna sesat

padahal lincah jeung rikat # ngabela sadaya umat

(memperlakukan Gus Dur demikian) karena orang itu tidak cermat sehingga ia menganggap Gus Dur sesat, padahal Gus Dur orang yang cepat tanggap dalam membela umat. Selain itu, Gus Dur juga adalah,

Tara pilih ejueng kasih # sok komo nanagih pamrih

Estu ikhlas bari bersih # sanajan pinuh ka peurih

(Gus Dur adalah orang) yang tidak pilih kasih, apalagi menagih pamrih, (Gus Dur) sangat ikhlas dan bersih, kendati ia sering mengalami perih.

Kemudian syair itu mengimbau. Kepada warga semua, jangan salah sangka, kepada Gus Dur jangan menghina, karena hal itu hanyalah menambah dosa saja. Perhatikan bait berikut. 

Ka warga-warga sadaya # poma ulah salah sangka

Ka gusdur tong sok ngahina # bisi kena tambah dosa

Lalu, syair itu bercerita tentang pribadi Gus Dur lebih umum. Kata orang Gus Dur itu zionis, (orang itu berbicara demikian) dengan sinis, padahal (hati Gus Dur itu) manis, ia adalah orang yang membela orang-orang dari berbagai lapisan masyarakat. Gus Dur adalah orang yang membela rakyat kecil, mekipun banyak kritik. Ia memang nyentrik sehingga hidupnya unik. 

Syair itu kembali membela tuduhan-tudahn orang terhadap Gus Dur. Mulai dari tuduhan sebagai Yahudi, tidak Islami, kafir. Tapi yakinlah itu hanyalah kesalahan cara berpikir sehinngga mangkir. 

Gus Dur adalah orang pesantren, kemudian jadi presiden. Ia berbeda dengan yang lain. Ia penuh wibawa sehingga mendapat gelar bapak bangsa. Itu bukti dan nyata, dan Gus Dur tidak memintanya.    

Tiga bait terakhir, penulis menceritakan kapan dan dimana syair itu ditulis. Syair itu ditulis di Cikoko, dibikin sambil minum kopi dan merokok, pada malam Jumat, hampir pukul setengah empat. Beberapa lama setelah syair ini ditulis, terdengarlah suara iqomat.

Pengarang syair tersebut, Dadang Sukendar, adalah pria kelahiran Majalengka tahun 1980. Tahun 1996, ia pernah nyantri di Arjawinangun, di Pesantren Darut Tauhid yang diasuh KH Ibnu Ubaidillah Syatori, KH Husein Muhammad, KH Ahsin Sakho Muhammad.

Semasa nyantri, ia sering mendengar nama Gus Dur. Ia kemudian mencari tahu kepada santri-santri lain sehingga sedikit-sedikit paham cerita-cerita dan “keanehan” seputar kehidupan Ketua Umum PBNU 1984-1999 tersebut.

Karena ingin bertemu Gus Dur ia membaca “hadiyah” surat Al-Fatihah untuk Gus Dur setiap bada maktubah. Ia yakin upaya tersebut, suatu saat akan dipertemukan dengan Gus Dur.

Sepulang dari pesantren, Dadang mengikuti jejak orang tuanya. Ia masuk di Gerakan Pemuda Ansor Majalengka. Melalui organisasi pemuda inilah “hadiyah” yang ia kirim di pesantren dulu itu terpenuhi.

Ketika Gus Dur menjadi presiden RI keempat, ia ditugaskan Ansor Jawa Barat menjadi salah seorang yang mengamankan Gus Dur saat berziarah ke Panjalu, Ciamis.

Redaktur  : Hamzah Sahal

Penulis     : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Tokoh Ustadz Felix Siaw