Jumat, 16 Maret 2018

Pendidikan Pesantren Solusi Bekali Anak

Probolinggo, Ustadz Felix Siaw. Mustasyar PCNU Kabupaten Probolinggo H. Hasan Aminuddin menyampaikan bahwa masalah pendidikan saat ini menjadi tantangan tersendiri masyarakat yang masih memiliki anak usia sekolah. Solusinya adalah memasukkan anaknya di lingkungan pondok pesantren yang memadukan antara pendidikan umum dengan pendidikan agama.

Pendidikan Pesantren Solusi Bekali Anak (Sumber Gambar : Nu Online)
Pendidikan Pesantren Solusi Bekali Anak (Sumber Gambar : Nu Online)

Pendidikan Pesantren Solusi Bekali Anak

Hal tersebut disampaikan oleh Hasan Aminuddin saat menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Pondok Pesantren Ad-Dasuqqi di Desa Liprak Kulon Kecamatan Banyuanyar Kabupaten Probolinggo, Senin (26/12).

“Pendidikan pondok pesantren menjadi solusi bagi para orang tua dalam memberikan ilmu kepada anak-anaknya. Sebab di pesantren, selain diberikan ilmu umum, anak juga dibekali ilmu agama agar memiliki akhlak yang baik,” katanya.

Demi menjawab kepercayaan masyarakat tersebut jelas Hasan, maka manajemen di lingkungan pendidikan pondok pesantren harus dirubah sehingga keberadaan pondok pesantren bisa memberikan manfaat bagi orang tua.

“Pilihan pendidikan di pesantren tentunya akan menghemat pengeluaran orang tua terhadap kebutuhan anaknya dibandingkan jika anaknya tidak berada di pesantren. Tentunya hal ini juga menghindari tuntutan yang tidak bermanfaat dan merusak karakter serta perilaku akhlak para santri,” jelasnya.

Ustadz Felix Siaw

Dengan berada di lingkungan pesantren jelas Hasan, maka nantinya akan mampu membentengi anak dari hal-hal negatif akibat perkembangan zaman yang saat ini sudah sangat luar biasa. “Setidaknya dengan berada di pesantren, maka nantinya dapat mencetak karakter para santri yang lebih baik dan bermanfaat,” terangnya.

Hasan menghimbau kepada para orang tua agar selalu mendoakan anak-anaknya supaya menjadi anak yang bermanfaat dan berkualitas. Apalagi di pesantren anaknya diberikan pembelajaran tentang perilaku dan akhlak pada anak didiknya. “Sehingga nanti ilmu yang diajarkan kepada anaknya menjadi ilmu yang bermanfaat dan barokah,” pungkasnya.

Ustadz Felix Siaw

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini dihadiri oleh Pengasuh Pondok Pesantren Ad-Dasuqqi KH. Fakhrur Rozi Baqir, Pimpinan Bank Jatim Cabang Kraksaan Elfaurid Aguswantoro, Camat Banyuanyar H. Didik Abdul Rohim serta para tokoh agama dan tokoh masyarakat Desa Liprak Kulon Kecamatan Banyuanyar. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Quote, Kajian Sunnah, Berita Ustadz Felix Siaw

Selasa, 13 Maret 2018

Mendes Fasilitasi Pelaku Bisnis Indonesia dan Malaysia

Jakarta, Ustadz Felix Siaw?



Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Indonesia Eko Sandjojo memfasilitasi pertemuan pelaku bisnis Indonesia dan Malaysia di Hotel Gran Melia, Jakarta, (23/5). Pada kesempatan itu, ia mempertemukan lebih dari 20 perusahaan Malaysia dari sektor listrik, infrastruktur, jalan tol, properti, dengan 40 perusahaan swasta dalam negeri termasuk BUMN.?

Mendes Fasilitasi Pelaku Bisnis Indonesia dan Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)
Mendes Fasilitasi Pelaku Bisnis Indonesia dan Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)

Mendes Fasilitasi Pelaku Bisnis Indonesia dan Malaysia

Eko yang diamanati Presiden Joko Widodo Pejabat Penghubung Investasi untuk Malaysia, mendorong pengusaha kedua negara untuk menggali potensi investasi Malaysia sebesar Rp 61, 1 triliun. Selain itu, peluang potensi investasi Malaysia dengan proyek-proyek yang ditawarkan BUMN dari Indonesia sebesar Rp 65,6 triliun.

Dalam pertemuan tersebut, EKo memaparkan isu-isu terkini mengenai bagaimana meningkatkan iklim investasi, khususnya investor Malaysia melalui reformasi kebijakan investasi dan tata laksana penanaman modal dan industri yang ditawarkan. Kemudian upaya deregulassi terhadap kemudahan berinvestasi yang dilakukan pemerintah Indonesia dengan tujuan membantu meningkatkan iklim investasi Malaysia di Indonesia.?

Menteri Eko memastikan akan terus membantu mencari peluang investasi dari Malaysia. Upaya tersebut akan dilakukan dengan Duta Besar RI untuk Malaysia, Rusdi Kirana.?

Ustadz Felix Siaw

“Tim akan terus mengidentifikasi dan mengatasi persoalan yang menghambat investasi di Indonesia sesuai masukan dari pelaku bisnis di Malaysia dan di Indonesia. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dan Asosiasi Indonesia-Malaysia akan terus mengawal kelancaran proses realisasi investasi berkoordinasi dengan kementerian terkait,” katanya pada pertemuan bertajuk Indonesia Malaysia Business Networking itu.

Komitmen dan upaya untuk mendorong investasi dari Malaysia ke Indonesia akan dilakukan secara berkesinambungan dengan meningkatkan komunikasi, termasuk peningkatan pertemuan bisnis.?

Hadir pada kesempatan tersebut, Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini Mariani Soemarno, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, Dubes RI untuk Malaysia Rusd Kirana, Dubes Malaysia untuk Indonesia Datuk Seri Zahrain Mohamed Hashim. (Abdullah Alawi) ?

Ustadz Felix Siaw

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Berita, Anti Hoax, Kajian Sunnah Ustadz Felix Siaw

Tangkal Radikalisme, Pesantren Asnawiyah Gelar Sholawat Perdamaian

Demak, Ustadz Felix Siaw

Sekelompok orang yang kerap melakukan aksi kekerasan dan teror yang mengatasnamakan agama Islam selama ini membuat sebagian khalayak menganggap pesantren sebagai pusat kegiatan dan pengaderan kelompok tersebut dikarenakan kelompok itu selalu membawa nama agama dan pesantren.?

Tangkal Radikalisme, Pesantren Asnawiyah Gelar Sholawat Perdamaian (Sumber Gambar : Nu Online)
Tangkal Radikalisme, Pesantren Asnawiyah Gelar Sholawat Perdamaian (Sumber Gambar : Nu Online)

Tangkal Radikalisme, Pesantren Asnawiyah Gelar Sholawat Perdamaian

Hal inilah membuat pemangku Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur’an Asnawiyyah (PPTQ) Pilang Wetan, Kecamatan Kebon Agung, Demak, Jawa Tengah merasa terpanggil untuk menangkal anggapan yang mengaitkan pondok pesantren dengan ektremisme tersebut dengan menyelenggarakan sholawat dan pusisi perdamaian di pesantren, Ahad (31/01/2016) malam.

Pengasuh pesantren KH Muchozin dalam sambutan menguraikan hakikat pesantren termasuk sistem pembelajarannya dia menganggap ajaran Islam disampaikan secara transformatif termasuk bersolawat dan pembacaan puisi untuk menyampaikan pesan perdamaian.?

“Bukan melalui doktrin, termasuk pembuatan alat peledak maupun senjata, dipesantren adanya ya ngaji, bersholawat manaqib seperti ini, tidak ada pelajaran buat senjata, merakit bom atau sejenisnya, orang yang menuduh itu berarti perlu belajar dulu di pesantren biar tahu isinya pesantren,” kata Kiai Muchozin.

Sementara itu ketua yayasan PPTQ Kiai Cholilullah diacara yang sama mengatakan, majelis sholawat dianggapnya wahana yang tepat agar umat mengingat cara Rasulullah dalam berdakwah dengan metode rahmatan lil alamin. Dia pun mencontohkan saat Rasulullah SAW diejek orang yahudi yang buta namun dibalas-Nya dengan mengirim dan menyuapinya makanan tiap pagi.

Ustadz Felix Siaw

“Kalau kita mengingat cara Nabi Muhammad SAW saat menegakkan Islam dengan penuh kasih sayang seperti itu dan tidak pernah pakai kekerasan walau disakiti dan diejek, kita harus menganutnya,” tutur Kiai Cholil.

Kiai Cholilullah yang juga Ketua PAC GP Ansor Kebonagung menambahkan untuk merealisasikan gerakan rahmatan lil alamin lewat majlis sholawat dan puisi perdamaian tersebut dengan melibatkan Alumni yang sudah terjun di masyarakat.

Ustadz Felix Siaw

“Alumni sengaja kita libatkan agar pesan ini bisa sampai ke masyarakat, karena mereka sudah terbiasa hidup di tengah masyarakat,” jelas Gus Cholil.

Majelis sholawat perdamaian tersebut diikuti 200 peserta yang terdiri dari pengurus yayasan, pengasuh, santri dan alumni selain Sholawatan simtudh dhuror juga ada semaan al-Quran 30 juz, manaqib dan pembacaan puisi perdamaian. (A Shidiq Sugiarto/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Kyai, PonPes Ustadz Felix Siaw

Penyangga Indonesia itu Bernama Umat Islam

Oleh Imam Nahrawi

Nusantara merupakan anugerah yang luar biasa. Lebih dari sekadar kekayaan alam yang melimpah, negeri ini juga dikarunia kebudayaan yang sangat fleksibel dan bersahabat dengan manusia dan lingkungannya. Indonesia termasuk negara dengan peralihan agama mayoritas yang tergolong kerap: mulai dari kepercayaan lokal, Hindu, Budha, lalu Islam.

Penyangga Indonesia itu Bernama Umat Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Penyangga Indonesia itu Bernama Umat Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Penyangga Indonesia itu Bernama Umat Islam

Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia sekarang tak terlepas dari cara dakwah Wali Songo yang merakyat. Secara elegan para ulama penyebar Islam itu menginternalisasi ajaran Islam ke benak masyarakat lewat kebudayaan. Islam pun tersebar luas dengan nyaris tanpa kekerasan. Fakta ini setidaknya mencerminkan dua hal: toleransi mereka yang tinggi terhadap lokalitas dan canggihnya pendekatan yang mereka gunakan.

Ustadz Felix Siaw

Pada zaman revolusi, umat Islam juga mencetak sejarah sebagai bagian dari kelompok mayoritas yang berkontribusi untuk kemerdekaan republik ini. Bersama elemen bangsa lain, mereka mengorbankan pikiran, tenaga, harta, bahkan nyawa demi membebaskan tanah air dari belenggu penjajahan.

Teladan ulama

Perjuangan tersebut tentu terlalu sempit bila dilihat hanya untuk kepentingan Islam. Karena kenyataannya, sejak awal negeri ini dihuni oleh ragam agama dan etnis. Seruan perang suci oleh para ulama, misanya, pasti juga mencakup kepentingan seluruh rakyat di tanah air yang bineka itu.

Ustadz Felix Siaw

Pascakemerdekaan, perjuangan berlanjut dengan meletakkan pondasi republik yang baru lahir, merumuskan asas-asasnya, dan memikirkan struktur pemerintahannya. Usaha ini jelas sangat tidak mudah. Bisa dibayangkan betapa hebatnya perdebatan dan kontestasi kepentingan saat itu. Indonesia dihuni oleh ribuan suku dan unsur kebudayaan lainnya. Seluruhnya tentu menginginkan aspirasinya terpenuhi.

Meski demikian nyatanya gejolak tak sampai membuat negeri ini pecah belah. Di tengah belantara tarik menarik kepentingan kala itu para tokoh dan pendiri bangsa ini menunjukkan keluasan hatinya untuk memprioritaskan kepentingan bersama di atas kepentingan individu dan kelompok.

Sebagaimana tampak pada fenomena Piagam Jakarta, dokumen historis sebagai hasil kompromi antara kecenderungan “kaku” Islamis dan nasionalis dalam Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Semula sila pertama Pancasila yang termaktub dalam dokumen itu adalah “Ketoehanan, dengan kewajiban mendjalankan sjariat Islam bagi pemeloek-pemeloeknja”. Namun akhirnya tujuh kata dicoret dan berubah menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa” seperti yang kita baca sekarang.

Pencoretan tujuh kata itu tak akan terjadi seandainya umat Islam keras kepala dan hanya memikirkan aspirasi kelompok. Protes keras kala itu datang dari mana-mana hingga pada tahap ancaman disintegrasi. Berkat kearifan sikap ulama-ulama kita yang menjadi bagian penentu rumusan dasar negara, Pancasila dengan narasi yang sekarang ini disepakati, dan Indonesia pun selamat dari perpecahan.

Amal jariyah

Perjuangan, pemikiran, dan kearifan para pendahulu tersebut memiliki dampat yang sangat besar hingga sekarang. Barangkali kita tidak akan mendapati kondisi Indonesia seaman ini kalau saja para pendiri bangsa sama-sama mengunggulkan ego mereka. Apa yang mereka korbankan sebentuk amal jariyah, jasa agung yang manfaatnya terus mengaliri perjalanan bangsa hingga kini.

Pancasila merupakan warisan luhur para pendahulu, termasuk ulama, yang sayapnya mampu menaungi seluruh elemen bangsa yang majemuk ini. Ia menjadi titik temu yang bagi umat Islam di beberapa negara Timur Tengah adalah hal yang masih sulit diraih, bahkan menimbulknan krisis kemanusiaan dengan korban jiwa yang tidak sedikit.

Kaum Muslim di Indonesia memiliki landasan yang kuat, di mana Islam dan kebangsaan berjalin saling menunjang. Nilai-nilai di dalam Pancasila adalah substansi ajaran yang juga menjadi prinsip dalam Islam. Pancasila memang bukan agama, tidak dapat menggantikan posisi agama, tapi butir-butirnya tidak bertentangan dengan agama.

Semangat itu pula yang pernah ditegaskan Nahdlatul Ulama pada Musyawarah Nasional Alim Ulama Nahdhatul Ulama di Situbondo pada tahun 1983 dalam “Deklarasi tentang Hubungan Pancasila dengan Islam”. Bagi NU, penerimaan dan pengamalan Pancasila merupakan perwujudan dari upaya umat Islam Indonesia untuk menjalankan syari’at agamanya. Sementara itu, Muhammadiyah menyebut negara berasas Pancasila ini sebagai Darul Ahdi was Syahadah atau negara konsensus nasional yang terdiri dari beragam agama, keyakinan, suku, dan ras.

Namun demikian, kita tidak bisa menampik adanya sentimen SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan) dan radikalisme yang muncul di publik belakangan ini. Itu fakta yang mesti ditanggapi secara serius oleh tidak hanya aparat pemerintah tapi juga umat Islam sendiri secara umum. Meskipun, saya yakin, pelakunya sangat minoritas di antara mayoritas umat Islam Indonesia yang tetap ramah, toleran, moderat, dan menghargai budaya.

Amal jariyah para pendiri bangsa masih mengalir lancar hingga kini. Umat Islam punya sumbangsih besar dalam hal ini. Tentu bersama dengan komponen bangsa lain yang perannya tak bisa diremehkan. Umat Islam harus terus berbenah memperbaiki perannya, sembari itu harus istiqamah membangun potensinya yang demikian besar sebagai kekuatan penyangga utama negeri ini.

Penulis adalah Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia



Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Tegal, Kiai Ustadz Felix Siaw

Sabtu, 10 Maret 2018

NU Jabar Kembangkan Radio Dakwah

Cirebon, Ustadz Felix Siaw. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Jawa Barat melalui Lembaga TaMir Masjid NU (LTMNU) tengah mengembangkan radio FM sebagai media dakwah.?

NU Jabar Kembangkan Radio Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Jabar Kembangkan Radio Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Jabar Kembangkan Radio Dakwah

Hal ini tampak ketika Rais Syuriyah PBNU KH Masdar Farid Masudi mengunjungi studio radio Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Al Biruni di Babakan, Ciwaringin, Cirebon, Jawa Barat, Ahad (6/1). Radio ini cukup lama pasif hingga akhirnya bekerjasama dengan PWNU Jabar.

"Ini radio swasta yang kurang bisa mengembangkan kreativitas. Kita coba dorong untuk bisa aktif kembali bersama NU Jawa Barat," kata Ketua LTMNU Jabar HM Syaifullah Amin.

Ustadz Felix Siaw

Syaifullah menargetkan, bulan depan radio siap mengudara dan bisa diakses oleh seluruh penduduk di kawasan Kabupaten Cirebon, Kota Cirebon, Kabupaten Majalengka, dan Kabupaten Kuningan.

Ditambahkan, pengembangan radio dimaksudkan untuk memperkuat paham Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja). Rencananya, radio ini akan diisi sejumlah kegiatan, seperti pengajian, dialog interaktif, pemberitaan, dan lain-lain.

Ustadz Felix Siaw

Ketua Pengurus Pusat LTMNU KH Abdul Manan A Ghani yang juga meninjau studio radio mendukung penuh lahirnya radio berbasis NU di Cirebon. Ia berharap, prestasi ini dapat ditingkatkan dan menjadi percontohan bagi pengurus LTMNU lain di seluruh Indonesia.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis ? : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Doa Ustadz Felix Siaw

Jumat, 09 Maret 2018

Kalau Sama-sama Ngotot, Mungkin Sekarang Indonesia Belum Lahir

Solo, Ustadz Felix Siaw - Indonesia didirikan dengan kompromi-kompromi antara kaum islamis yang ingin mendirikan negara agama dan kaum nasionalis yang ingin mendirikan negara sekuler.

“Melihat fakta sejarah, kalau waktu itu, islamis dan nasionalis sama-sama ngotot dan tidak mau kompromi, mungkin sampai sekarang Indonesia belum lahir," tutur Wakil Rais Syuriyah PCNU Kota Surakarta Kiai Abdul Aziz Ahmad, usai mengikuti acara Apel Nusantara Bersatu yang diadakan di Lapangan Kota Barat Solo, Rabu (30/11).

Kalau Sama-sama Ngotot, Mungkin Sekarang Indonesia Belum Lahir (Sumber Gambar : Nu Online)
Kalau Sama-sama Ngotot, Mungkin Sekarang Indonesia Belum Lahir (Sumber Gambar : Nu Online)

Kalau Sama-sama Ngotot, Mungkin Sekarang Indonesia Belum Lahir

Ditambahkan kiai yang juga pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Surakarta itu, para ulama akhirnya tetap konsekuen dengan kompromi tersebut dan memiliki semboyan NKRI harga mati. "Maka lahirlah Pancasila, yang menyerap ajaran-ajaran keduanya,” kata dia.

Ustadz Felix Siaw

Acara Apel Nusantara Bersatu ini, turut dihadiri kurang lebih 7.000 peserta dari berbagai elemen, di antaranya jajaran Pemkot, TNI, Polri, organisasi masyarakat dan organisasi keagamaan, serta tokoh masyarakat di Solo.

Ustadz Felix Siaw

Perwakilan dari berbagai elemen masyarakat tersebut menandatangani Ikrar Kesepakatan Bersama dalam rangka menjaga kebhinekaan dan antisipasi bahaya terorisme, paham radikalisme dan separatisme di Kota Surakarta.

Ikrar Kesepakatan Bersama yang ditandatangani oleh berbagai elemen masyarakat berisi lima poin. Pertama, setia kepada NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Kedua, menjaga keutuhan dan kedaulatan NKRI, menghormati keberagaman suku, agama, ras dan budaya, dan siap bersama-sama menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan.

Poin ketiga, mengamalkan prinsip sikap toleran dan menjaga kerukunan untuk mewujudkan kehidupan masyarakat yang aman, tertib dan adil. Keempat, menolak segala bentuk gerakan anarkisme dan radikalisme yang ingin memecah- belah persatuan bangsa, mengadu domba dengan provokasi SARA.

Poin kelima, menjunjung tinggi ketentuan hukum yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Kyai, Sholawat Ustadz Felix Siaw

Kamis, 08 Maret 2018

6 Cara Peningkatan Amal Selepas Ramadhan

Jember, Ustadz Felix Siaw - Bulan Ramadhan adalah bulan pendidikan dan latihan (diklat) bagi umat Islam. Berhasil atau tidaknya diklat tersebut, indikasinya bisa diteropong dari amal perbuatannya setelah Ramadhan. Meningkatkah ibadahnya atau semakin kendur. Di situlah penilaian keberhasilan Ramadhan.

Hal tersebut diungkapkan Ketua Pengurus Cabang Lembaga Pendidikan Ma’arif Kabupaten Jember, Jawa Timur Ustadz Hobri Ali Wafa saat menjadi khatib shalat idul fitri di Masjid Darussalam, Jl. Jayanegara No, 22 Jember, Rabu (6/7).

6 Cara Peningkatan Amal Selepas Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
6 Cara Peningkatan Amal Selepas Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

6 Cara Peningkatan Amal Selepas Ramadhan

Menurutnya, untuk melakukan peningkatan amal tersebut, dapat diupayakan melalui enam cara. Pertama, musyaratah. Artinya, mengawali bulan Syawal hendaknya diawali dengan tekad yang bulat? untuk betul-betul berupaya meningkatkan amal.

Kedua, muraqabah. Yaitu memantau diri atau merasakan bahwa Allah memantau. Jika sikap ini dimiliki, siapa pun tidak akan main-main dalam pelaksanaan tekad tersebut. "Ketiga, muhasabah, yaitu melakukan introspeksi sejauh mana pelaksanaan tekad yang diikrarkan tersebut. Apakah terlaksana dengan baik, atau terlaksana tetapi dipenuhi dengan kelalaian, atau tidak terlaksana sama sekali," tukansya.

Ustadz Felix Siaw

Sedangkan yang keempat adalah muaqabah, yaitu memberikan sanksi terhadap kelalaian dalam pelaksanaan tekad tersebut. Sebab, bila kelalaian itu tidak diberikan sanksi, dikhawatirkan kelalaian serupa akan terulang kembali.

Ustadz Felix Siaw

Kelima, mujahadah, yaitu mengerahkan segenap kemampuan yang ada pada diri untuk memperbaiki kelalaian. "Keenam, taubikh wa muatabah, yaitu koreksi diri. Dengan cara ini kita menyadari bahwa amal-amal kita penuh dengan kekurangan sehingga ke depan berupaya ditingkatkan," tuturnya.

Sementara itu, Wakil Ketua LTN NU Jember Ustadz Aryudi A. Razaq yang menjadi imam/khatib di masjid Al-Falah Kecamatan Patrang, dalam khotbahnya mengimbau agar hari raya kemenangan ini disyukuri dalam bentuk kegiatan yang positif. Bergembira tak dilarang. Bersukaria pun boleh. Namun semua itu tak boleh membuat umat Islam lalai dengan tugas dan kewajibannya selaku hamba Allah dan kholifah fil ardli.

"Yang jelas pesta pasti berakhir, kegembiraan juga akan berlalu. Karena itu, marilah kita bersiap-siap untuk berjuang meraih kemenangan lain di masa-masa yang akan datang di belantara kehidupan yang maha luas," tukasnya. (Red: Abdullah Alawi)

?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Nusantara Ustadz Felix Siaw

Cara KH Muhsin Ali Ajari Warga Demen Ngaji

Jepara, Ustadz Felix Siaw

KH Muhsin Ali, salah satu kiai sepuh Jepara, Jumat (10/03) kemarin, mengembuskan napas terakhir di RS Islam Sultan Hadlirin Jepara, Jawa Tengah. Meski Pengasuh Pesantren Al Mustaqim Desa Bugel, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara ini telah tiada namun kenangan bersamanya masih dirasakan oleh putranya, Sholahuddin.

Cara KH Muhsin Ali Ajari Warga Demen Ngaji (Sumber Gambar : Nu Online)
Cara KH Muhsin Ali Ajari Warga Demen Ngaji (Sumber Gambar : Nu Online)

Cara KH Muhsin Ali Ajari Warga Demen Ngaji

Salah satu kenangan yang masih ia ingat hingga sekarang ialah cara mendidik almarhum kepada warga sekitar agar demen mengaji.

Dulu, sebagaimana diceritakan lelaki yang kerap disapa Gus Sholah itu sewaktu boyong dari Pesantren Pondoan Pati asuhan KH Muhammadun, Kiai Muhsin diamanati ayahnya untuk meneruskan langgar yang pernah dirintis ayahnya. Mushala Al Firdaus, namanya.

Ustadz Felix Siaw

Sembari mengajar di Madrasah Muallimin, kiai sepuh ini mempunyai strategi agar mushala tak hanya digunakan untuk tidur. Dibelikanlah alat rebana.

Ustadz Felix Siaw

Lewat alat musik tersebut Kiai Muhsin membuat anak muda di kampung semangat. Dengan seringnya latihan, alhasil grup rebana ini diundang K Sulaiman untuk tampil di kediamannya. Lambat laun grup ini juga kerap mendapat undangan dari masyarakat sekitar.

Di tengah-tengah tenarnya grup ini, sang ibunda kiai, Muslimah marah. Dirampaslah seperangkat alat musik ini. Tujuannya agar tidak main lagi. “Bapak menjelaskan perkara ini kepada ibu. Intinya mushala menurut Bapak (Kiai Muhsin Ali) bukan sekadar tempat tidur,” jelasnya saat ditemui Ustadz Felix Siaw di rumah duka, Sabtu (12/03) siang.

Berawal dari kemarahan ibu ini, pihak keluarga mengevaluasi kegiatan tersebut. Sehingga kegiatan yang mulanya hanya rebana dan zafin mulai saat itu kemudian ditambah dengan ngaji, hafalan Al-Qur’an dan masih banyak lagi.

Cerita itulah yang menjadi awal berdirinya pesantren hingga kini. Saat ini tercatat sekitar 175 santri yang mukim di pesantren yang beralamat di Jalan Pasar Lama desa Bugel RT 05 RW 02 Kecamatan Kedung Kabupaten Jepara. Santri mukim ini berasal dari Jepara, Demak, Pati, dan Semarang.

Kini, kiai sepuh berusia 76 tahun ini telah kembali ke haribaan Illahi. Sebagai salah satu putra almarhum, Gus Sholah yang juga dosen Institut Pesantren Mathaliul Falah (Ipmafa) Pati ini secara tidak langsung menyatakan siap meneruskan perjuangan ayahanda tercintanya.

Di Yayasan Muhsin Ali berdiri MTs, TPQ, Wustho, Ulya dan Pesantren. Apalagi kiai muda ini teringat apa yang menjadi petuah bapaknya, yakni agar tetap istiqamah berjuang di pesantren, madsarah dan Nahdlatul Ulama.

Nasihat ini baginya bukan ucapan belaka. Ayahnya memang aktif di KBIHNU, PCNU, dan pesantren Al Mustaqim.

Sabtu (12/03) pagi almarhum sudah dikebumikan di maqbarah keluarga Bani Ali dan Muslimah (Banlima) tak jauh dari kediamannya. Pasangan KH Muhsin Ali dan Hj. Mas’adah meninggalkan 5 anak Hj. Elok Faiqoh, H. Luluk Zahroh, H. Sholahuddin, Habiburrahman dan Hj. Nur Hidayah. (Syaiful Mustaqim/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw IMNU, Nasional Ustadz Felix Siaw

Rabu, 07 Maret 2018

Gelar Raker 2018, Lakpesdam PBNU Perkuat Program dan Kinerja

Jakarta, Ustadz Felix Siaw. Beraktivitas di Lakpesdam adalah melanjutkan visi dan cita-cita Nahdlatul Ulama yakni menjadi jam’iyah diniyah Islamiyah ijtima’iyah yang memperjuangkan tegaknya ajaran Aswaja, mewujudkan kemaslahan masyarakat, kemajuan bangsa, kesejahteraan, keadilan, dan kemandirian khususnya warga NU serta terciptanya rahmat bagi semesta dalam wadah NKRI.

Demikian kalimat awal yang disampaikan Ketua Lakpesdam PBNU, H Rumadi Ahmad saat mengawali Rapat Kerja Tahunan 2018 di Aula PBNU Jakarta, Selasa (23/1).

Gelar Raker 2018, Lakpesdam PBNU Perkuat Program dan Kinerja (Sumber Gambar : Nu Online)
Gelar Raker 2018, Lakpesdam PBNU Perkuat Program dan Kinerja (Sumber Gambar : Nu Online)

Gelar Raker 2018, Lakpesdam PBNU Perkuat Program dan Kinerja

Rumadi menerangkan, memasuki tahun ketiga dalam periode kepengurusan 2015-2020 ini, beberapa capaian memang sudah terlaksana, namun perlu terus dikuatkan dan ditingkatkan. Ada PPWK (Pendidikan dan Pengembangan Wawasan Keulamaan) dan penggerak ranting yang menjadi bagian dari proses kaderisasi.

“Proses pemberdayaan masyarakat dan pendampingan kelompok melalui program Peduli, Konsorsium Kemala dam Kompak, hingga digitalisasi perpustakaan dan penerbitan Jurnal serta beberapa buku juga terus dilakukan,” ujar Rumadi.

Ustadz Felix Siaw

Spirit khidmah untuk peningkatan kualitas SDM NU menjadi bagian penting yang harus terus diupayakan, termasuk mendorong dan mempengaruhi kebijakan yang sesuai dengan misi Nahdaltul Ulama.

“Rapat Kerja Tahunan ini diharapkan mampu melahirkan gagasan lanjutan dari yang sudah tercapai dua tahun lalu,” katanya.

Aspek pengelolaan kelembagaan dan keuangan juga menjadi hal yang tidak luput untuk terus dirapikan, begitu juga laporan kegiatan, membuat rintisan sertifikasi profesi, hingga pemberitaan Lakpesdam di media sosial.

Ustadz Felix Siaw

Menusliskan isu-isu penting yang melibatkan PBNU di dalamnya juga perlu didokumentasikan dalam sebuah buku. Dan tahun berikutnya juga diharapkan mulai membuat pemetaan potensi yang dimiliki jaringan Lakpesdam baik di wilayah maupun cabang sehingga bisa saling bersinergi.

Rapat kali ini juga dihadiri salah satu Ketua PBNU, Robikin Emhas yang juga menegaskan pentingnya kaderisasi yang telah dirumuskan PBNU dalam 5 jenis dan model, yakni kaderisasi keulamaan, kaderisasi struktural, kaderisasi penggerak NU, kaderisasi fungsional dan kaderisasi profesional.

“Ini menjadi ruh bagi organisasi, terlebih di tengah gempuran dan bullying serta fitnah yang beredar luas di masyarakat, dan tak sedikit juga menimpa PBNU dan jajaran ulama dan tokohnya,” ucap Robikin.

Berbagai support terkait riset dan gagasan program serta kaderisasi yang baik akan sangat dibutuhkan, terlebih menyongsong dua hal penting, yakni bonus demografidan era digital. Bagaiamana generasi penerus merespon perubahan namun tetap berpijak pada cita-cita dan visi Nahdlatul Ulama di atas.

“Tentu semua anak negeri ini tidak ingin Indonesia dijadikan sebagai medan pertempuran, baik dunia maya apalagi dunia nyata, berbagai pihak yang hanya mau mengambil keuntungan,” tandasnya. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Lomba, Pahlawan Ustadz Felix Siaw

"Sang Kiai" Film Terbaik FFI 2013, Wakili Indonesia di Academy Award

Jakarta, Ustadz Felix Siaw. Malam Anugerah Piala Citra Festival Film Indonesia (FFI) 2013 menjadi malamnya film "Sang Kiai" yang menjadi menjadi Film Bioskop Terbaik.

Kategori pemenang paling bergengsi itu diumumkan di penghujung acara puncak FFI 2013 di Marina Convention Centre, Semarang, Jawa Tengah, Sabtu malam (7/12).

Sang Kiai Film Terbaik FFI 2013, Wakili Indonesia di Academy Award (Sumber Gambar : Nu Online)
Sang Kiai Film Terbaik FFI 2013, Wakili Indonesia di Academy Award (Sumber Gambar : Nu Online)

"Sang Kiai" Film Terbaik FFI 2013, Wakili Indonesia di Academy Award

"Sang Kiai" bersaing dengan film lainnya yang juga meraih banyak penghargaan seperti "Belenggu" dan "Habibie dan Ainun".

Ustadz Felix Siaw

Berikut ini daftar pemenang FFI2013 dari berbagai kategori:

Ustadz Felix Siaw

Pemenang Film Bioskop Terbaik: Sang Kiai

Pemenang Pemeran Pendukung Pria Terbaik : Adipati Dolken - Sang Kiai

Pemenang Penata Efek Visual: Eltra Studio – Moga Bunda Disayang Allah

Pemenang Pemeran Pendukung Wanita: Jajang C. Noer - Cinta Tapi Beda

Pemenang Penata Artistik Terbaik: Iqbal – Belenggu

Pemenang Penata Musik Tebaik: Aksan Sjuman - Belenggu

Pemenang Penyunting Gambar Terbaik: Cesa David Luckmansyah – Rectoverso

Pemenang Penata Busana Terbaik: Retno Ratih Damayanti – Habibie & Ainun

Pemenang Penghargaan Khusus Film Dokumenter Pendek Terbaik: Epic Java

Pemenang Film Pendek Terbaik: Simanggale

Pemenang Film Animasi Pendek Terbaik: Sang Supporter

Pemenang Penata Suara Terbaik: Khikmawan Santosa, M Ikhsan, Yusuf A Pattawari - Sang Kiai

Penata Sinematografi Terbaik : Yudi Datau-Lima Sentimeter

Penulis Skenario Terbaik: Ginatri S Noer & Ifan Ardiansyah Ismail – Habibie & Ainun

Pemenang Penulis Cerita Asli Terbaik: Anggoro Saronto - Sang Pialang (Garuda Nusantara Sinema)

Pemenang Film Dokumenter Pendek Terbaik - Split Mind (FFTV - IKJ)?

Pemenang Film Dokumenter Panjang Terbaik - Denok & Gareng (Dwi Susanti Nugraheni, Jawa Dwipa Film)

Pemenang Pemeran Utama Pria Terbaik: Reza Rahadian - Habibie & Ainun

Pemenang Pemeran Utama Wanita Terbaik: Adinia Wirasti - Laura & Marsha

Pemenang Sutradara Terbaik: Rako Prijanto - Sang Kiai

Academy Award

Prestasi "Sang Kiai" sebagai film terbaik Festival Film Indonesia (FFI) 2013 akan menjadi perwakilan Indonesia di ajang Academy Awards 2014 kategori Film Berbahasa Asing Terbaik.

Film berkisah tentang seorang ulama KH Hasyim Asyari itu meraih empat Piala Citra di malam puncak FFI 2013 di Semarang, Jawa Tengah, Sabtu malam (7/12).

Sejatinya, film yang dibintangi oleh pemeran utama Ikranagara tersebut mendapat persaingan ketat dari film lainnya seperti "Habibie dan Ainun" (raihan tiga Piala Citra) serta "Belenggu" (dua Piala Citra). Terlebih film-film rival itu masuk ke dalam sejumlah nominasi kategori penghargaan.

Contohnya, "Habibie dan Ainun" masuk ke dalam delapan nominasi sedangkan "Belenggu" lebih banyak lagi dengan 13 nominasi.

Empat kategori nominasi yang dimenangi "Sang Kiai" yaitu Film Bioskop Terbaik, Pemeran Pendukung Pria Terbaik (Adipati Dolken), Penata Suara Terbaik (Khikmawan Santosa, M Ikhsan dan Yusuf A Pattawari) serta Sutradara Terbaik (Rako Prijanto).

Tahun ini, FFI menyeleksi sejumlah judul untuk meraih Piala Citra di masing-masing kategori. Di antaranya sebanyak 53 judul film bioskop, 80 judul film dokumenter durasi pendek, 21 judul film dokumenter durasi panjang, 119 judul film durasi pendek, 75 judul film televisi dan 93 judul film animasi durasi pendek. (antara/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Humor Islam, Berita, Pondok Pesantren Ustadz Felix Siaw

Senin, 05 Maret 2018

Jelang UN, IPNU-IPPNU Wirosari Agendakan Istighotsah Kubro

Grobogan, Ustadz Felix Siaw. Menghadapi Ujian Nasional, Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPNU-IPPNU) kecamatan Wirosari kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, menggelar rapat persiapan istighotsah kubro Maret mendatang.

Pertemuan rutin selapanan yang membahas persiapan istighotsah kubro digelar di masjid Miftahul Falah Ahad (23/2). Tampak hadir dalam pertemuan ini jajaran pimpinan ranting, komisariat, dan cabang IPNU-IPPNU Grobogan.

Jelang UN, IPNU-IPPNU Wirosari Agendakan Istighotsah Kubro (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang UN, IPNU-IPPNU Wirosari Agendakan Istighotsah Kubro (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang UN, IPNU-IPPNU Wirosari Agendakan Istighotsah Kubro

Ketua PAC IPNU Wirosari Mugi Setyono mengatakan, kegiatan ini bertujuan mempererat kader muda NU selain menjadi forum bertukar pendapat dalam memajukan progam-program IPNU-IPPNU.

Ustadz Felix Siaw

Forum ini memutuskan bahwa istighotsah tersebut dilaksanakan di masjid Jami’ Baitur Rahman. “Masalah tanggal, belum kami sepakati sebab menyangkut kebijakan madrasah-madrasah. Kami bisa mempublikasikan tanggal setelah ada kesepakatan dengan mereka,” pungkasnya.

Pertemuan ini diawali dengan lantunan lafal Maulid Simtud Duror karya Habib Ali Al-Habsyi yang berisi biografi Rasulullah. “Rutinan ini kami buka dengan maulid sebagai salah satu bentuk pelestarian ajaran dan tradisi ke-NUan,” pungkas Setyono. (Asnawi Lathif/Alhafiz K)

Ustadz Felix Siaw

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Nasional Ustadz Felix Siaw

Minggu, 04 Maret 2018

Cegah Provokasi, Kemenag Brebes Terbitkan Khutbah Idhul Fitri

Brebes, Ustadz Felix Siaw. Guna menghindari isi khutbah yang provokatif, Kantor Kementerian Agama Brebes menerbitkan khutbah Idhul Fitri 1436 Hijriyah. Penerbitan khutbah dilatarbelakangi pengalaman tahun-tahun lalu di mana banyak beredar khutbah berisi provokatif. Padahal Idhul Fitri sebagai hari kemenengan umat Islam harus dipenuhi dengan suasana menyejukkan.

Cegah Provokasi, Kemenag Brebes Terbitkan Khutbah Idhul Fitri (Sumber Gambar : Nu Online)
Cegah Provokasi, Kemenag Brebes Terbitkan Khutbah Idhul Fitri (Sumber Gambar : Nu Online)

Cegah Provokasi, Kemenag Brebes Terbitkan Khutbah Idhul Fitri

“Jangan sampai, Idhul Fitri dikotori oleh isi khutbah yang isinya adu domba, menghujat, menyakiti kelompok tertentu yang agitatif dan provokatif,” ? ujar Kepala Kantor Kemenag Brebes H Imam Hidayat usai menghadiri rapat kesiapan Idhul Fitri di ruang rapat Setda Brebes, Rabu (8/7).

Buku khutbah yang diterbitkan disebar ke seluruh masjid sekabupaten Brebes dan tempat-tempat shalat Ied di berbagai kota Brebes. Di Brebes, ada sekitar 1500 masjid. Tiap Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) dan Penyuluh Agama sekabupaten Brebes telah menyebar khutbah terbitan kementerian agama di masjid-masjid.

Ustadz Felix Siaw

Khutbah yang berjudul Perspektif Fitri Terhadap Dinamika dan Perubahan Karakter Manusia, juga bisa diakses di www.nu.or .id dan www.brebeskab.go.id.

Ustadz Felix Siaw

Gerakan radikalisme yang dilakukan Islam garis keras, lanjutnya, telah membuat persatuan dan kesatuan Indonesia terancam. Kebencian terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia digencarkan mereka tanpa tedeng aling-aling. Sehingga kita perlu mewaspadai gerakan tersebut, yang bisa saja dihembuskan lewat khutbah Idhul fitri.

Imam juga mengimbau agar Takbir Keliling Idhul Fitri jangan dilaksanakan di jalan raya. Karena bisa mengganggu arus lalu lintas yang masih padat oleh arus mudik lebaran.

“Takbir keliling tidak dilarang, tetapi hendaknya dilaksanakan di kampung-kampung saja, dengan penuh semarak. Tidak harus berkeliling ke jalan raya kota,” imbuhnya. (Wasdiun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Tegal, Pahlawan, Makam Ustadz Felix Siaw

Perayaan Tahun Baru ala Lesbumi NU Tasikmalaya

Tasikmalaya, Ustadz Felix Siaw

Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PCNU Kota Tasikmalaya menyambut pergantian tahun dengan gelaran Tasyakur Akhir Tahun. Kegiatan bertema “Tafakur Diri untuk Negeri” ini menyajikan berbagai pentas mulai dari pembacaan puisi, nadhaman, pencak silat, musik angklung, dan nyanyian shalawat dari Grup Band Aswaja Fi’il Harmony.

Perayaan Tahun Baru ala Lesbumi NU Tasikmalaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Perayaan Tahun Baru ala Lesbumi NU Tasikmalaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Perayaan Tahun Baru ala Lesbumi NU Tasikmalaya

Acara tersebut dilaksanakan pada Sabtu (31/12) pukul 20.00 WIB di Jalan Dr. Soekardjo No. 47 tepatnya di depan Gedung Nahdlatul Ulama (NU) Kota Tasikmalaya, Jawa Barat.

Pentas seni tersebut mendapat sambutan positif dari warga setempat. Hujan deras yang sempat mengguyur Kota Tasikmalaya tidak menurunkan antusiasme mereka untuk hadir menyaksikan pergelaran itu.

Ustadz Felix Siaw

Menurut Ketua Lesbumi PCNU Kota Tasikmalaya Aan Ahmad Farhan, pihaknya mempersembahkan berbagai pentas seni yang merupakan ciri khas budaya di Tanah Air. “Mari kita tasyakur sekaligus tafakur,” Kata Aan.

Ia juga menambahkan, penampilan Aswaja Fi’il Harmony, grup musik milik Lesbumi PCNU Kota Tasikmalaya, menjadi warna baru dalam perhelatan ditengah hiruk pikuk perayaan tahun baru. “Karena band ini menyanyinyakn lagu-lagu shalawatan yang merupakan kekhasan orang-orang NU,” tuturnya.

Ustadz Felix Siaw

“Harapannaya semoga di tahun 2017 ini Aswaja Fi’il Harmony dapat roadshow ke setiap sekolah dan pesantren terwujud dengan baik dan lancar, guna mensyiarkan shalawat lewat musik,” tambah Aan. (Agum Gumilar/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Kajian Sunnah, Syariah, Humor Islam Ustadz Felix Siaw

Sabtu, 03 Maret 2018

Kiai Sholeh Darat Penyambung Risalah Islam

Semarang, Ustadz Felix Siaw - Kiai Sholeh Darat adalah penyambung risalah Islam. Dengan keilmuannya mendidik para santri dan mengarang banyak kitab, ajaran Rasulullah bisa tersebar di Nusantara dan membuat orang Jawa mereka mengenal agama Islam.

Karena Kiai Sholeh merupakan guru dari para gurunya ulama nusantara, maka tersebarlah ajaran Islam dan diteruskan para murid dan muridnya murid hingga kini dan di masa mendatang. Kitab-kitab karyanya juga terus dicetak dibaca dan diajarkan sehingga semakin luas sebaran ajaran Islam ke masyarakat khususnya di Jawa.

Kiai Sholeh Darat Penyambung Risalah Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Sholeh Darat Penyambung Risalah Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Sholeh Darat Penyambung Risalah Islam

Demikian disampaikan KH Khafid Romli asal Boja Kendal, Jawa Tengah dalam mauidhoh hasanah di acara Pengajian Haul ke-116 Kiai Sholeh Darat di halaman masjid Darat Semarang, Jumat (15/7) malam.

Kiai muda alumnus Pondok Pesantren Padaan Podorejo Ngaliyan Semarang, ini mengajak hadirin untuk melanjutkan kiprah keilmuan Kiai Sholeh Darat dengan banyak belajar agama dan mengaji kitab-kitab karya sang waliyullah yang pernah jadi mufti di Mekah itu.

Ustadz Felix Siaw

"Mbah Sholeh Darat adalah penyambung risalah Islam. Karena beliaulah kita mengenal Nabi Muhammad dan ajaran Islam melalui para guru kita dan melalui kitab-kitab karya beliau," tuturnya yang dominan memakai Bahasa Jawa dalam taushiyahnya.

Jika tiada Kiai Sholeh Darat, lanjutnya, orang Jawa (Nusantara) pada umumnya tidak mengerti makna Al-Quran maupun apa saja yang isi syariat Islam.

Ustadz Felix Siaw

Sebab Kiai Sholeh Darat yang bernama lengkap Syaikh Muhammad Sholeh bin Umar Assamarony adalah penulis pertama Tafsir Al Quran berbahasa Jawa. Sehingga orang Jawa termasuk RA Kartini sang murid yang tidak mengerti arti ayat Al Quran bisa mengetahui isi kandungan kitab suci umat Islam tersebut.

Sebelumnya, mayoritas orang hanya bisa membaca Al-Quran tanpa tahu artinya. Dan kalaupun ada yang mengerti isinya, itu hanya kalangan terbatas yang menguasai bahasa Arab dan perangkat ilmu lainnya macam kiai atau santri pondok pesantren.

Seperti diketahui, Kiai Sholeh Darat adalah pengarang Tafsir Faidhur Rohman, kitab berisi penerjemahan dan penjelasan atas ayat Al Quran berbahasa Jawa dengan aksara Arab Pegon.

Kitab itu diyakini didorong penulisannya oleh RA Kartini yang merupakan murid beliau dan meminta agar bisa mengerti arti Al-Quran dalam aktivitas mengajinya. Diyakini pula, kitab Tafsir itu menjadi kado perkawinan dari sang guru kepada Kartini saat ia menikah dengan Bupati Rembang RM Jayadiningrat. (Ichwan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Daerah, Internasional, Kajian Islam Ustadz Felix Siaw

Jumat, 02 Maret 2018

Inayah Wahid: Teater Ajarkan Toleransi dengan Sesama

Kudus, Ustadz Felix Siaw. Putri bungsu KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Inayah Wulandari menghadiri acara festival? teater Pelajar 2015 di Gor Bulutangkis Djarum Kaliputu Kudus, Jawa Tengah, Sabtu (21/11). Dalam acara itu, Inayah didaulat menjadi? juri final festival yang diselenggarakan Teater Djarum selama dua hari Sabtu-Ahad (21-22/11).

Saat ditemui Ustadz Felix Siaw, Inayah mengatakan dirinya sangat mengapresiasi kegiatan teater di lingkungan pelajar. Menurutnya, teater adalah kegiatan bagus yang mengajarkan toleransi, empati, memberikan penghormatan, dan penghargaan kepada orang lain.

Inayah Wahid: Teater Ajarkan Toleransi dengan Sesama (Sumber Gambar : Nu Online)
Inayah Wahid: Teater Ajarkan Toleransi dengan Sesama (Sumber Gambar : Nu Online)

Inayah Wahid: Teater Ajarkan Toleransi dengan Sesama

?

"Teater sebagai media bagus sekali untuk mengampanyekan toleransi, kita tidak main hakim sendiri dan akan bisa menghargai sesama," ujarnya.

?

Ustadz Felix Siaw

Dikatakan, Indonesia sangat membutuhkan generasi masa depan yang memahami akan toleransi. Dengan bermain teater, meraka akan memainkan peran tokoh-tokoh? di luar komunitasnya? yang ketika sampai pada titik puncaknya akan memahami toleransi dengan baik.

?

Ustadz Felix Siaw

"Dalam konteks kekinian toleransi menjadi urgen dan harus dikenalkan sejak dini kepada anak-anak. Salah satu media bagus ya teater. Karena kalau sudah main teater, kita tidak akan mempertanyakan latar belakang,? semua akan kerja sama," tandas putri Gus Dur yang biasa disapa Inayah Wahid ini.

?

Ia menuturkan dirinya sangat merasakan manfaatnya aktif di dunia teater pada waktu masih sekolah Menengah Atas (SMA). Ditegaskan, teater mampu menjadi sarana penyaluran ekspresi dan kreasi bagi pelajar.

?

"Melalui teater, anak-anak punya penyaluran yang positif. Mereka pulang sekolah tidak berbuat aneh-aneh, langsung bermain teater," imbuhnya.

Selain menjadi juri, Inayah Wahid juga menjadi pemateri Workshop teater yang menjadi rangkaian acara Fesetival tersebut. Siang harinya, Inayah dijadwalkan bertemu dengan kader-kader NU dalam acara silaturahim di aula Kantor NU Jalan Pramuka Nomor 20 Kudus.

?

Sementara itu,? final festival teater Pelajar ini, menampilkan 3 kelompok teater tingkat SMP diantaranya, Teater satu atap SMP 3 Kudus, Teater Temperatur SMP 1 Mejobo dan Teater PR Mts NU Nahdlatul Athfal. Sedangkan tingkat SMA, 7 kelompok teater yang lolos di final adalah Teater Stif MANU Ibtidaul Falah Dawe, Teater X-Miffa SMKNU Miftahul Falah Dawe, Teater Patas SMA I Bae, Teater Kahanan SMA 1 Mejobo, Studi One SMA ! Kudus, Teater Ganesha SMA 2 Kudus dan teater Apotek SMK Duta Karya Kudus. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Cerita, Bahtsul Masail Ustadz Felix Siaw

MTs Maarif Tembarak Juara Umum Porsema Temanggung 2017

Temanggung, Ustadz Felix Siaw. Madrasah Tsanawiyah (MTs) Maarif Tembarak di Selopampang Temanggung kembali menjadi juara umum dalam ajang Pekan Olahraga dan Seni Maarif (Porsema) tingkat Kabupaten Temanggung Jawa Tengah 2017.?

MTs Maarif Tembarak Juara Umum Porsema Temanggung 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)
MTs Maarif Tembarak Juara Umum Porsema Temanggung 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)

MTs Maarif Tembarak Juara Umum Porsema Temanggung 2017

Porsema yang digelar Lembaga Pendidikan (LP) Maarif NU Temanggung itu terpusat di MAN Kowangan berlangsung selama dua hari, akhir pekan lalu.

"Porsema tahun ini, kita meraih prestasi yang cukup membanggakan. Kita mendapat 14 emas, ? 3 perak 3 dan 1 perunggu, dinobatkan menjadi juara umum," ucap Kepala MTs Maarif ? Tembarak M Rohmatullah usai menyerahkan tropi, piagam penghargaan dan uang pembinan kepada siswa ? berprestasi dikemas dalam upacara bendera di halaman madrasah, Senin (6/2) kemarin.

Aktivis muda NU itu merinci , 14 emas itu diantaranya; juara I Olimpiade Matematika diraih oleh Virda Agustina, juara I Olimpiade IPA (Avita Khilyatul Hafni), juara I Olimpiade Ke-NU-an (Laelatul Azizah), juara I pidato bahasa jawa (M. Azza Iqdam M), juara I pidato bahasa Indonesia (Umi Nur Haeni), juara I pidato bahasa arab (Linainil Muna).

Ustadz Felix Siaw

Selanjutnya, juara I puisi religi siswa putra (M. Adip Fauzi Hidayat), juara I puisi religi putri (Linda Listyani), juara I cerdas tangkas Ke-NU-an (Team siswa MTs Maarif Tembarak), juara I lari marathon 5 km putra (M. Husein Basri), juara I lari marathon 5 km putri (Ani Roudhotussarifah), juara I catur putri (Rema Wahyu Sari).

Adapun 3 perunggu, diantaranya; juara 2 lomba karya ilmiah IPA ? oleh ? tim terdiri 3 orang siswa (Laeli, Nela dan Mujib), juara 2 lomba poster (Fajar Pramudiyo), juara 2 Bulu Tangkis Putri (Saparyatun) dan terakhir 1 perunggu, yakni; juara 3 Olimpiade IPS (Maulidya Syifa Annisa).

"Prestasi ini, akan tetap kita pertahankan dalam Porsema yang akan datang. Saat ini, kami fokus menyiapkan diri ? untuk berlaga dalam Porsema tingkat Jawa Tengah yang akan digelar di Kabupaten Jepara 18-21 Mei mendatang," ungkapnya. ?

Wakil Kepala MTs Maarif Tembarak Mukhtar Hadi Purwanto menambahkan, untuk menyongsong Porsema tingkat Jateng, supaya mendapat prestasi yang membanggakan sebagai wakil Temanggung, saat ini siswa-siswa yang kini menjadi juara umum tingkat Kabupaten terus digembleng dan dilatih secara intensif dengan bimbingan para pelatih, selain pelatih, juga melibatkan alumni.

"Prestasi yang kita capai ini, bukti kami sungguh-sungguh dalam mengelola madrasah. Kami berharap sekolah yang berlokasi di Jalan Simpang Empat Desa Kacepit Selopampang ini bisa tambah maju, makin dipercaya dan menjadi idola masyarakat," harapnya. (Ahsan Fauzi/Fathoni)

Ustadz Felix Siaw

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Anti Hoax, Pertandingan, Berita Ustadz Felix Siaw

Kamis, 01 Maret 2018

Katib Aam: NU Didirikan Bukan Sekadar untuk Dakwah

Jakarta, Ustadz Felix Siaw. Katib Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf mengingatkan tetang pentingnya Nahdliyin mengetahui tujuan didirikannya Nahdlatul Ulama. Menurutnya, NU didirikan para ulama lebih dari semata untuk tujuan dakwah dan tarbiyah Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

“Tapi NU juga beridiri untuk listishlâhi (membangun dan memperbaiki) Indonesia,” ujarnya di hadapan peserta Pelatihan dan Konsolidasi Media Online di Lingkungan PBNU yang digelar Lembaga Ta’lif wan Nasyr NU (LTNNU) di Jakarta, Sabtu (24/10).

Katib Aam: NU Didirikan Bukan Sekadar untuk Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)
Katib Aam: NU Didirikan Bukan Sekadar untuk Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)

Katib Aam: NU Didirikan Bukan Sekadar untuk Dakwah

Pria yang akrab disapa Gus Yahya ini lalu menceritakan tentang keluarnya NU dari partai Masyumi menjelang Pemilu 1955. Baginya, sikap NU untuk keluar dari partai afiliasi kelompok-kelompok Islam tersebut merupakan keputusan cerdas yang melampaui urusan NU sebagai golongan.

Ustadz Felix Siaw

Sebab, katanya, bila NU tetap bergabung di Masyumi kemungkinan besar partai ini memperoleh suara separuh lebih warga Indonesia dan mendominasi keputusan sidang konstituante. Hal ini tidak positif untuk perkembangan Indonesia, karena Masyumi yang didominasi kalangan muslim modernis kala itu mengusung gagasan sektarian berdirinya negara Islam.

Ustadz Felix Siaw

“Jika negara Islam berdiri, maka NKRI pasti bubar. Apalagi saat itu Papua belum berhasil direbut,” ujarnya. Menurut Gus Yahya, kiai-kiai NU mengambil keputusan visioner itu dengan logika syariat dan fiqih yang sangat kompleks dan kerap berusaha dipatahkan kelompok lain hanya dengan jargon sederhana “kembali ke al-Qur’an dan Hadits”.

Dengan demikian, lanjutnya, NU terdiri dari dua gagasan yang tak bisa saling dilepaskan, yakni? keaswajaan dan keindonesiaan. Hanya saja, untuk menyiarkan kedua hal tersebut NU butuh kendaraan konkret, seperti media dan lain-lain.

Ia mendorong para peserta pelatihan tersebut aktif dalam menyebarkan nilai-nilai Aswaja dan keindonesiaan untuk membangun bangsa Indonesia yang lebih beradab. Hadir dalam kesempatan itu ketua Pengurus Pusat LTNNU Juri Ardiantoro, serta para utusan dari lembaga dan badan otonom NU. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw AlaNu Ustadz Felix Siaw

Pembangunan Desa dan Peran IPNU

Oleh Achmad Faiz MN Abdalla



Secara regulasi, desa nyaris dilupakan selama puluhan tahun. Desa tidak mampu menjadi kekuatan ekonomi karena perhatian pemerintah terhadap desa sangat terbatas. Data Kemendesa tahun 2015, dari seluruh desa di Indonesia yang berjumlah 74.093 desa, masih ada 39.086 desa (52,78 persen) yang masuk kategori desa tertinggal. Sementara data BPS menyebutkan, masih ada 10.985 desa yang belum memiliki Sekolah Dasar (SD). Adapun untuk pelayanan kesehatan dasar, masih ada 117 kecamatan yang belum memiliki Puskemas atau Puskesmas Pembantu.

Pembangunan Desa dan Peran IPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Pembangunan Desa dan Peran IPNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Pembangunan Desa dan Peran IPNU

NU yang berbasis di pedesaan sedikit banyak tentu terdampak dengan keadaan tersebut. Tidak dipungkiri, peran NU sangat besar dalam mengawal kehidupan berbangsa dan bernegara. NU telah menjadi garda terdepan terhadap berbagai persoalan bangsa. Namun, peran NU dicemaskan tergerus seiring melemahnya soliditas dan daya tahan NU akibat kemiskinan struktural massa NU di pedesaan.

Masa reformasi pun bergulir. Otonomi Daerah menjadi bagian penting agenda reformasi. Dalam perkembangannya, terbitlah Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Undang-undang tersebut mengamanahkan paradigma baru dalam membangun desa sebagai bagian penting pembangunan nasional. Setelah berpuluh tahun dipunggungi, akhirnya desa mendapat penguatan yuridis. Hal itu pun dipertegas dengan Nawa Cita Presiden Jokowi, yakni membangun Indonesia dari pinggiran.

Ustadz Felix Siaw

Komitmen Pemerintah telah ditunjukkan dengan adanya Dana Desa. Tahun 2016 ini, Dana Desa naik menjadi Rp 46,98 triliun. Ditambah Alokasi Dana Desa (ADD) dari Pemerintah Daerah, maka rata-rata setiap desa akan mengelola dana tidak kurang dari Rp 1 Milyar.

Ustadz Felix Siaw

Namun yang harus dipahami, selain Dana Desa, gerakan dan partisipasi masyarakat juga harus terbangun dengan baik. Menurut Marwan Jafar (2015), ada tiga prinsip yang harus diterapkan dalam membangun desa, yaitu government, movement dan culture. Artinya, dibutuhkan sinergi yang baik antara keseriusan pemerintah dengan gerakan masyarakat dalam membangun desa. Semua itu harus mengedepankan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal.

Membangun partisipasi dan gerakan masyakarakat, harus dimulai dari pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang pembangunan desa. Dalam teori ilmu hukum, pengetahuan masyarakat akan sebuah peraturan merupakan indikator tercapainya kesadaran dan kepatuhan masyarakat terhadap peraturan tersebut. Karena itu, masyarakat minimal memahami hal-hal mendasar tentang kedesaaan, seperti kelembagaan desa, hak-hak masyarakat desa, pembangunan partisipatif, dan lainnya.

Sebagai contoh, seringkali masyarakat tidak mendapatkan laporan yang transparan mengenai hasil aset desa dan sumber Pendapatan Asli Desa (PADes) lain. Bahkan banyak aset desa yang tidak diatur di dalam Perdes (Peraturan Desa), sehingga pemanfaatannya untuk kesejahteraan masyarakat seringkali tidak terpenuhi dengan baik. Masyarakat desa umumnya hanya diam, karena tidak dibekali pengetahuan yang cukup. Dengan demikian, dibutuhkan pengetahuan yang baik agar terbangun partisipasi dan pengawasan masyarakat yang baik.



Peran IPNU


NU secara sosiologis tentu bertanggung jawab terhadap penguatan unsur movement tersebut. Di samping karena berbasis di pedesaan, juga karena politik kebangsaan NU untuk mendukung pemerintah dalam program pembangunan nasional. Menurut Marwan Jafar, Resolusi Jihad yang ditelurkan dari pemikiran Kiai Hasyim Asyari harus dikontekstualisasikan dengan era pembangunan saat ini, yakni dengan membangun Indonesia dari desa-desa.

Sebagai salah satu badan otonom (banom) NU, IPNU tentu diharapkan berperan serta dalam penguatan gerakan masyarakat tersebut. Setidaknya, ada dua alasan mengapa IPNU harus mengambil peran strategis tersebut.

Pertama, membangun desa haruslah menjadi visi keindonesiaan, tidak sekadar visi pemerintah. Generasi muda harus dikenalkan perihal urgensi pembangunan desa sebagai salah satu dimensi penting pembangunan nasional. Harus ada ruang pemahaman bagi generasi muda, baik melalui pendidikan formal atau organisasi pelajar seperti IPNU. Dengan begitu, pembangunan desa tidak bersifat parsial, berhenti pada tatanan regulasi dan unsur government, namun bersifat menyeluruh, dengan membangun kesadaran generasi muda sebagai upaya penting membangun partisipasi dan gerakan masyarakat.

Kedua, IPNU memiliki basis struktural yang menjangkau sampai ke tingkat ranting (desa). Tidak jelas, berapa jumlah riil IPNU ranting yang terdata. Namun umumnya, struktur IPNU hampir dapat ditemukan di setiap struktur ranting NU. Keadaan ini harus dimanfaatkan dengan baik. Terlebih, masih banyak desa yang tidak memiliki karang taruna sebagai lembaga pemberdayaan anak muda. Keberadaan IPNU tentu akan sangat membantu pemerintah dalam mengoptimalkan peran anak muda untuk bersinergi membangun desa.

Untuk itu, perlu digagas kajian tentang desa di lingkungan IPNU. Secara rutin, perlu diadakan diskusi yang membahas pembangunan desa. Pemerintah Desa setempat atau alumni-alumni IPNU yang telah berkiprah di pemerintahan dapat digandeng untuk menyelenggarakan kajian desa tersebut. Materi yang dibahas mulai yang berkaitan pemerintahan, semisal kelembagaan desa, Peraturan Desa, Dana Desa, APBDes atau? BUMDes; Perencanaan Pembangunan Desa, meliputi RPJMDes, RKPDes dan penggalian serta pengembangan potensi desa; dan materi-materi yang berkaitan dengan kearifan lokal desa.

Berbekal pengetahuan dan pemahaman yang diperoleh dari kajian tersebut, IPNU diharapkan dapat berperan aktif dalam Musyawarah Desa, khususnya dalam perumusan RPJM Desa, RKP Desa dan APB Desa. Di samping itu, juga dapat berperan aktif dalam pemberdayaan ekonomi desa melalui BUMDesa serta membangun sinergi dengan elemen masyarakat desa lainnya dalam mengawasi penggunaan dana desa. Dengan begitu, IPNU dapat memberikan peran nyata dalam pembangunan desa.

Penulis adalah pelajar NU Gresik



Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Sunnah Ustadz Felix Siaw

Rabu, 28 Februari 2018

Kaum Salafi Indonesia dan Ruang Maya Bag-1

Tidak dinyana sebelumnya, kesadaran kaum salafi terutama di Indonesia untuk menggunakan ruang publik sebagai spatial medium bagi dakwah mereka begitu menakjubkan. Kelompok ini sangat cepat belajar menatap kebutuhan masa depan mereka. Setelah era majalah cetak di kalangan mereka habis, ditandai dengan kejatuhan majalah cetak Sabili, Hidayatullah, dan beberapa jenis yang lainnya, kaum salafi begitu cepat melakukan proses adaptasi ke online media.

Sebagaimana yang saya sebutkan di tulisan sebelumnya –lihat dua post terakhir saya—, gejala seperti ini, selain dilatarbelakangi oleh “kewarasan” mengenai perlunya terus eksis di ruang publik, gejala ini juga menunjukkan adanya penerimaan yang rendah atas kelompok ini di ruang konkrit kalangan Muslim Indonesia. Karenanya, bagi mereka, hijrah untuk menggunakan ruang online media atau internet merupakan ruang baru yang menjanjikan. Sebuah medan baru untuk melaksanakan jihad baru juga. Jihad lama dengan senjata tidak dihapus, namun jihad baru melalui pena dan tulisan perlu digalakkan.?

Tulisan ini tidak ingin mencari bagaimana masalah penggunaan teknologi internet atau online untuk keperluan dakwah di kalangan salafi, namun lebih ingin melihat antusiasme mereka dalam mengelola, menyajikan dan mengkampanyekan opini, diskursus, berita yang bernuansa salafi melalui surat kabar atau majalah, webpage, facebook, dan sarana-sarana online mereka lainnya. Basis analisis yang akan saya pakai di sini adalah teori-teori mengenai “ruang” (space) terutama abstract space. Yang saya maksud dengan abstract space di sini adalah ruang yang tidak tidak tersentuh oleh dunia nyata atau biasa disebut dengan istilah virtual. Selain itu, dalam menulis artikel ringan ini, saya terilhami oleh metode riset kualitatif yang biasa disebut dengan netnografi (netnography). Netnografi adalah etnografi di internet. Artinya, metode ini menggunakan teknik-teknik riset etnografis untuk mengkaji kebudayaan dan masyarakat yang muncul melalui komunikasi berbasis internet. Metode riset kualitatif ini pada mulanya digunakan untuk meriset konsumen di online misalnya forum-forum di internet untuk menjajagi apa yang diminati dan dikehendaki oleh konsumen. Metode ini sangatlah berguna untuk melihat kehadiran kaum salafi di ruang online –ruang-ruang forum–dan bagaimana mereka mempersuasi audien.

Kaum Salafi Indonesia dan Ruang Maya Bag-1 (Sumber Gambar : Nu Online)
Kaum Salafi Indonesia dan Ruang Maya Bag-1 (Sumber Gambar : Nu Online)

Kaum Salafi Indonesia dan Ruang Maya Bag-1

?

Makna Ruang Maya Bagi Salafi

Sebagaimana kita tahu tahu bahwa kaum mainstream Indonesian yang berhaluan Sunni masih belum bisa menerima sepenuh hati kehadiran kalangan salafi. Meskipun istilah salafi atau salafiyyah sendiri sudah lama dipakai I Indonesia misalnya oleh kalangan NU untuk menamai pesantren mereka, namun salafi yang saya maksudkan di sini, masih dianggap oleh mainstream Islam di Indonesia sebagai Wahhabi. Dalam kajian Islam, Wahhabi sebenarnya masih dalam kategori Sunni, namun masyarakat Sunni Islam di Indonesia—merupakan Sunni terbesar di seluruh dunia—belum bisa memasukki Wahhabi ke dalam kelompok mereka. Dalam diskursus publik, mayoritas ulama di Indonesia keberatan dengan Wahhabi. Fenomena lain yang sering dijumpai adalah meskipun mereka secata teologis berafilalsi dengan Wahhabi namun kebanyakan juga tidak berterus terang atau enggan disebut sebagai kaum Wahhabi. Hal ini semua karena stigmatisasi Wahhabi di Indonesia sebagai kelompok sesat dalam Islam sudah sekalian lama terjadi. Sudah barang tentu bagi mereka yang belajar di sekolah-sekolah atau madrasah-madrasah NU, Perti, al-Wasiliyah organisasi-organisasi lainnya, pernah disodori pelajaran Ahlusunnah Waljamaah dengan menggunakan buku pegangan yang dikarang oleh KH. Siradjuddin Abbas. Jelas dalam buku beliau, I’tiqad Ahlussunnah Waljamaah, Wahhabi dikeluarkan dari firqah najiyah (kelompok yang selamat). Tidaknya hanya Wahhabi, seluruh mereka yang menolak Imam AshʿārÄ« dan MāturidÄ« sebagai pedoman i’tiqad mereka bukan menjadi bagian dari mereka.

Namun yang lebih mendasar lagi, penolakan atas Wahhabi oleh kalangan Islam mainstream juga disebabkan oleh kekhuwatiran mereka akan ajaran Wahhabi yang mengancam pada tradisi keagamaan kaum mainstream. Di sini kaum mainstream bisa dikatakan sebagai kaum ortodoks dimana mereka menggunakan alasan-alasan kesucian doktrin agama untuk melarang ajaran lain yang dipandangnya keluar dari ortodoksi. Talal Asad menyatakan ortodoksi adalah pengaturan kembali pengetahuan yang bertujuan membangun sebuah relasi penguasaan wacana dalam hal pengaturan mana bentuk-bentuk praktis Islam yang benar. (210-11, Genealogy of Religion).

Ustadz Felix Siaw

Meskipun di Saudi Arabia, salafi-Wahhabi bisa dikatakan sebagai pemegang ortodoksi, tapi di Indonesia mereka tidak demikian adanya. Dari perspektif kaum mainstream Islam Indonesia, salafi-Wahhabi adalah kaum heterodok karena pemegang kebenaran ajaran Islam di Indonesia adalah kelompok mainstream Islam yang memiliki perbedaan cara pandang keagamaan dengan kaum salafi-Wahhabi. Karenanya, pada titik ini, keberadaan kaum Wahhabi sebenarnya hampir mirip dengan nasib-nasib kelompok sempalan lainnya, katakanlah kelompok Syiah atau Ahmadiyah. MUI sendiri misalnya secara implisit menolak salafi melalui fatwa-fatwa mereka yang menolak jihad ekstrim kaum salafi-Wahhabi sebagaimana juga menolak kaum Syiah. ? Nahdlatul Ulama secara keras menolak model pemikiran dan praktik keagamaan kaum Wahhabi.? Kembali kepada pandangan Talal Asad? bahwa kaum Muslim yang memiliki kuasa untuk mengatur, mempertahankan, mempersyaratkan, merendahkan atau mengganti hal-hal yang tidak benar adalah kaum ortodok.

Sebagai kelompok heterodok, kaum salafi-Wahhabi di Indonesia memerlukan ruang untuk mengekspresikan dan mempertahankan doktrin mereka yang dianggap “menyimpang” dari mainstream Islam di Indonesia dan “internet space” adalah pilihan yang tepat. Ketika mereka tidak bisa atau terancam oleh ketatnya ortodoksi dalam “concrete space,” maka ruang internet menyediakan mereka kebebasan untuk berdakwah karena di dalam ruang ini mereka adalah atau kita adalah pemegang kendali diskursus yang kita kehendaki. Berbeda dengan model interaksi “dari muka ke muka,” interaksi di ruang internet bisa dilakukan secara arbitrer, doktriner dan sekaligus otoriter. Dalam konteks Indonesia, Salafi-Wahhabi memerlukan ruang yang demikian ini untuk bergerak? karena pada dasarnya mereka adalah “kaum ortodoksi” juga di negara asalnya, namun karena ortodoksi mereka tidak mendapatkan legitimasi maka mereka menjadi heterodok. Di ruang maya ada proses dialog dan interaksi, tapi pemegang domain secara unilateral bisa menghentikan atau mentiadakan proses dialog atau forum. Ruang maya juga merupakan hal yang paling strategis untuk berkampanye pada audien yang tidak memerlukan penelahaan panjang (tidak kritik). Namun patut diakui bahwa daya juang kaum salafi-Wahhabi di ruang maya luar sangat efektif. Saya tidak menjumpau kelompok-kelompok heterodok lain yang seperti salafi-Wahhabi ini yang sedemikian efektif dan strategis dalam menggunakan “internet space.” Katakanlah kelompok Ahmadiyah dan Syiah Indonesia, mereka tidak punya “cyberspace fighters” sebagaimana yang dipunyai oleh kaum salafi-Wahhabi. Internet space sekarang menjadi semacam masjid virtual pusat pembelajaran alternatif.

Dalam kondisi yang terdesak di ruang konkrit, web-space menyediakan sifat immediacy, kecepatan untuk memanfaatkan media online ini dalam merespon peristiwa, kejadian, atau hal-hal genting lainnya, dalam waktu yang hampir bersamaan. Surat kabar, hasil riset, majalah dan sumber-sumber informasi offline lainnya tidak memiliki ini. Kita teringat ketika kaum salafi-Wahhabi mendapatkan tuduhan sebagai pelaku pengeboman beberapa tempat penting di Eropa, dengan cyberspace mereka bisa bereaksi secara cepat baik reaksi dan meluas itu untuk melakukan pembenaran maupun pengingkaran akan keterlibatan dirinya. Meskipun para ahli cyberspace crime bisa menemukan “concrete space” yang dijadikan sebagai tempat dimana mereka mengeluarkan pernyataan tersebut, tetapi hal ini memerlukan waktu yang lumayan agak panjang dan cara yang agak rumit.?

Dalam satu dekade terakhir, setelah beberapa peristiwa pengeboman di beberapa tempat penting di Indonesia dimana kaum salafi-Wahhabi adalah pihak yang banyak dituduh, dicurigai dan ada juga yang sudah terbutki secara hukum, mereka menyadari akan marginalisasi kelompok mereka di ruang konkrit. Tidak hanya menyadari hal ini, namun mereka berusaha untuk mencari ruang baru (alternative site). Ruang baru ini tidak hanya menyediakan kenyamanan bagi mereka, namun juga mempermudah transnasionalisasi ide dan gagasan mengingat frontier di dalam virtual space sangat cair dan bahkan bisa dikatakan borderless (tanpa batas). Di dunia nyata, transnasionalisasi membutuhkan ongkos yang tidak murah. Memindahkan dan mengirimkan orang, buku, dan juga hal-hal sarana lainnya dari satu negara ke negara lain tidak bisa dilakukan tanpa dukungan uang yang banyak. Lihat berapa uang yang dihabiskan oleh pemerintah Saudi dalam menyebarkan Islam-versi mereka ke negara-negara lain dalam kurun 30 tahun terakhir ini. Namun dalam dunia maya, mobilitas dan migrasi ide dan gagasan tidak memerlukan kehadiran seseorang, rujukan yang tersentuh, dan lain sebagainya.

Ustadz Felix Siaw

Lalu bagaimana dengan otoritas agama? Dunia maya tidak kurang canggih dalam mengakomodasi dan mempertahankan otoritas agama. Apabila di dunia offline, otoritas agama bisa runtuh gara-gara penampilan seorang pemegang otoritas yang kacau, di dunia maya, otoritas agama tidak hanya disediakan ruang untuk menyampaikan, tapi juga ruang untuk memperindah dan bila perlu memanipulasi kekurangan-kekurangan yang terjadi di ruang offline. Inilah salah satu kelebihan yang dimiliki oleh ruang maya dan salafi Wahhabi Indonesia membaca ini sebagai hal yang berguna bagi perjuangan mereka.

*) Penulis adalah Rais Syuriah PCI-NU Jerman, saat ini menetap di Berlin.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Lomba Ustadz Felix Siaw

Pesantren Hati Sembelih 131 Ekor Hewan Kurban

Probolinggo, Ustadz Felix Siaw - Pada Hari Raya Idul Adha, 10 Dzulhijjah 1437 H, Pondok Pesantren Hati di Dusun Toroyan Desa Rangkang Kecamatan Kraksaan Kabupaten Probolinggo menyembelih 131 ekor hewan kurban, Senin (12/9). Terdiri dari 28 ekor sapi dan 3 ekor kambing ditambah 100 ekor kambing dari Persatuan Guru dan Ulama Singapura.

Prosesi penyembelihan hewan kurban ini dihadiri oleh Pengasuh Pondok Pesantren Hati Hj. Puput Tantriana Sari yang juga Bupati Probolinggo serta jajaran pengurus PCNU Kota Kraksaan Kabupaten Probolinggo.

Pesantren Hati Sembelih 131 Ekor Hewan Kurban (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Hati Sembelih 131 Ekor Hewan Kurban (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Hati Sembelih 131 Ekor Hewan Kurban

Ketua Panitia Kurban Pondok Pesantren Hati Zulmi Noor Hasani mengungkapkan bahwa pelaksanaan penyembelihan hewan kurban ini akan dirampungkan dalam waktu 1 (satu) hari. Tetapi jika dalam penyembelihan tersebut tidak selesai, maka akan dilanjutkan hari kedua, Selasa (13/9) di lokasi yang sama.

Ustadz Felix Siaw

“Dari hasil penyembelihan hewan kurban, dagingnya akan disalurkan kepada masyarakat kurang mampu di 20 desa di Kecamatan Kraksaan, Krejengan dan Besuk. Dimana masing-masing desa akan menerima 100 bungkus. Sehingga total untuk 20 desa mencapai 2.000 bungkus daging kurban,” katanya.

Ustadz Felix Siaw

Sementara Hj. Puput Tantriana Sari mengharapkan agar daging kurban ini mampu berbagi kebahagiaan dengan masyarakat kurang mampu. “Setidaknya masyarakat dari kalangan kurang mampu bisa bersama-sama merayakan Hari Raya Idul Adha 1437 H,” uangkapnya.

Dalam penyembelihan hewan kurban ini, panitia kurban sendiri mengerahkan sedikitnya 75 orang petugas jagal yang akan menyembelih ratusan hewan kurban tersebut. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Humor Islam Ustadz Felix Siaw

Jika Kau Sebut Gus Dur, Mereka Menyahabatimu

Oleh Miftahul Jannah--Cita-cita tentang terwujudnya perdamaian dunia adalah tujuan kemanusiaan yang mulia. Di mana pun, konflik dan peperangan adalah kesedihan bagi yang menyaksikannya. Terlebih lagi bagi yang mengalaminya. Anak-anak, perempuan mengalami trauma. Juga kaum bapak dan semua yang kehilangan anggota keluarga, harta benda dan pekerjaan.

Begitu juga Konflik Israel-Palestina. Konflik di sana berawal dari adanya resolusi PBB yang membagi tanah Palestina menjadi dua bagian. Israel mendapatkan tanah lebih luas sementara Palestina mendapat bagian yang lebih kecil. Konflik semakin memuncak ketika Israel mendirikan negara pada tahun 1948 berdasarkan resolusi tersebut.

Jika Kau Sebut Gus Dur, Mereka Menyahabatimu (Sumber Gambar : Nu Online)
Jika Kau Sebut Gus Dur, Mereka Menyahabatimu (Sumber Gambar : Nu Online)

Jika Kau Sebut Gus Dur, Mereka Menyahabatimu

Konflik terus berlangsung. Tak sedikit masyarakat sipil baik dari Palestina maupun Israel yang menjadi korban. Dampak semakin terasa di pihak Palestina karena wilayahnya semakin mengecil, akibatnya masyarakat terusir dari wilayahnya sendiri dan harus mengungsi ke negara-negara Arab lainnya.

Jalan damai Israel-Palestina telah diupayakan sejak tahun 1948 baik oleh kedua belah pihak atau pihak lain sebagai mediator. Namun kata sepakat sulit ditemukan. Puncak kegagalan upaya damai ini terjadi ketika partai Hamas dari Palestina menolak berunding dengan Israel sehingga peperangan kembali terjadi dan entah sampai kapan akan berakhir. Bahkan Liga Arab sebagai organisasi negara-negara Arab tidak mampu memberikan jalan tengah bagi konflik tersebut. Banyak negara-negara Timur Tengah turut merasakan dampaknya. Pan-Arabisme yang menyatukan negara-negara Arab ini sempat mengalami kemunduran sehingga menimbulkan sikap apatis terhadap konflik Timur Tengah. Dengan demikian perdamaian di Israel Palestina dan Timur Tengah lainnya masih sulit untuk terwujud sampai saat ini.

Ustadz Felix Siaw

Ustadz Felix Siaw

Jerusalem

Saya berkesempatan melakukan kunjungan ke Israel (19-27 Jan 2015) sebagai salah seorang peserta Indonesian Moslem Leaders "Tribute to Gus Dur". Salah satu tempat yang dikunjungi adalah Jerusalem. Nama ini diambil dari kata saleem (selamat), merupakan kota yang penting bagi umat Yahudi (Jewish), umat muslim dan umat Kristen. Di Jerusalem lah Nabi Ibrahim menerima wahyu untuk berkurban, Nabi Sulaiman membangun temple, juga Nabi Muhammad berangkat ke langit dari Jerussalem.

Bagi umat Yahudi, Jerusalem merupakan tempat beradanya tembok ratapan dan Bait Allah. Bagi umat Islam, adalah tempat dimana mesjid Al Aqsha berada, tempat nabi melaksanakan perjalanan spiritual nan suci dari Masjidil Haram di Makkah ke mesjid Al Aqsha di Jerussalem (Qs Al Isra:1). Lalu menuju ke langit untuk menerima wahyu kewajiban shalat lima waktu bagi umat muslim. Dan bagi umat Kristen, Jerusalem adalah tempat gereja Makam Kudus, dimana Jesus disalib dan dimakamkan. Serta situs-situs keagamaan yang penting lainnya seperti gereja Kelahiran dan kuburan Rahel di Betlehem.

Israel memiliki budaya yang beranekaragam karena para Yahudi imigran dari seluruh dunia membawa tradisi dan budayanya masing-masing. Hari raya nasional ditentukan berdasarkan kalender Yahudi. Saya menyaksikan hari Sabtu (Shabbat), candlelighting di rumah seorang yahudi taat, Peta Pelach. Lalu Shabbat Service di sinagoge terdekat dan Shabbat hospitality di kediaman seorang rabi (pendeta Yahudi).

Shabbat ditetapkan sebagai hari libur dimulai dari sunset Jumat sampai dengan sunset Sabtu. Tidak ada aktivitas apa pun saat Shabbat. Tidak ada jual beli, tidak bekerja, tidak menyalakan computer atau kamera. Hanya doa dan kumpul bersama keluarga menikmati dinner saat Shabbat. Israel juga dipengaruhi budaya Arab yang terlihat pada arsitektur-arsitektur bangunan, musik, dan kuliner Israel.

Kami berkunjung ke museum, salah satu institusi kebudayaan yang terpenting di Israel. Saya mengunjungi Museum Holocaust nasional Israel, Yad Vashem. Museum ini menyimpan sejumlah arsip-arsip informasi mengenai peristiwa pembantaian terhadap kaum Yahudi oleh Nazi Jerman. Juga berkunjung ke museum di Masada in memory of Yigeal Yadin, dan Museum of Islamic Art yang menyimpan sejarah perjalanan Islam Timur Tengah, periode Mongol, Iran, Turki dan tentunya Islam di Israel.

Silaturrahim dan kunjungan juga dilakukan ke pusat pusat kebudayaan Islam. Selain ke museum yang menyimpan banyak sejarah tokoh dan peristiwa, kunjungan juga ke Arabiyah Village dekat perbatasan Israel Lebanon Jordan, dan Syiria, dimana komunitas muslim Israel Palestina berada. Kunjungan juga dilakukan ke mesjid-mesjid, yaitu Masjid Ahmad Haji Qadirov (nama ayah dari presiden Cechnya), karena memang biaya pembangunan mesjid berasal dari donasi Presiden Cechnya. Menurut peraturan perundangan yang berlaku, pemerintah Israel tidak boleh memberikan dana untuk mendirikan tempat ibadah agama apa pun. Pendirian tempat ibadah menjadi tanggung jawab para pemeluknya masing-masing.

Kami disambut Walikota Abi Gosh, visit dan lunch at sufi center-Islamic cultural Syeikh Ghassan Manasra imam Thariqah Qadliriyah di Nazaret; putra Syeikh Abdussalam Husein Munashiroh muallif kitab “Mu’jam kalimatul Qur’anul karim maniy wa tashrif”. Nazareth adalah Kota terindah di Israel yang berada di puncak pegunungan, dengan mayoritas muslim keturunan Arab. Meski demikian, kota ini tetap disebut sebagai kota Jesus. Atas kesepakatan bersama, di sinilah toleransi dan kebesaran hati masing-masing pemeluk agama teruji.

Tak lupa kunjungan juga dilakukan untuk turut dapat berempati dan memberikan cinta kasih kepada korban perang Syiria yang dirawat Rumah Sakit Zip Hospital. Seluruh korban perang di sini tidak dipungut biaya, ditanggung pemerintah Israel. Setidaknya selama tahun 2014, sebanyak 77.000 pasien gawat darurat dan 220.000 pasien rawat jalan di sini. Selanjutnya kunjungan ke Save A Child’s Heart di Wolfson Hospital, Holon Tel Aviv. Di situ anak-anak dari seluruh dunia termasuk Afrika yang memiliki penyakit di bagian hati dirawat dan diupayakan sembuhkan. Love is powerfull! ?

Gus Dur dan Perdamaian dunia

Gus Dur atau KH Abdurrahman Wahid adalah nama seorang muslim Indonesia yang paling sering didengar di Israel karena selalu disebut para rabai (Pendeta Yahudi), tokoh Kristen, jurnalis, aktivis Interfaith di Israel. Juga tentunya di kalangan moslem community di Israel dan Palestina. Gus Dur menjadi nama yang begitu akrab dan dicintai baik kalangan yahudi maupun komunitas muslim di kedua negara itu. Menyebut nama Gus Dur adalah berkah bagi warga Indonesia karena dengan menyebutnya seperti menjadi semacam clue dan ada chemistry bahwa ada persahabatan antara kami dengan mereka.

Peran aktif Gus Dur dalam mewujudkan perdamaian antara Palestina dan Israel terlihat jelas semasa hidupnya. Setidaknya Gus Dur tercatat dalam dua organisasi besar yang memperjuangkan terwujudnya kerukunan antarumat beragama dan perdamaian dunia di Israel dan Palestina. Bahkan Gus Dur juga menjadi salah satu pendiri di dalam organisasi ini jauh sebelum ia menjadi Presiden Republik Indonesia, yaitu the Peres Center for Peace. Organisasi itu dimotori mantan Presiden Israel Simon Peres. Gus Dur juga tercatat sebagai member board The Elijah Interfaith Institute sharing wisdom, fostering peace dimana para tokoh agama dan tokoh perdamaian dunia menjadi member di dalam kedua organisasi ini. Gus Dur ada di dalamnya karena konsisten memperjuangkan perdamaian dunia.

Ketika Gus Dur menjadi presiden, beliau pernah mewacanakan membuka hubungan dagang dengan Israel. Wacana yang cukup kotroversial. Banyak yang mengkritik terhadap keinginannya, terutama dari kalangan umat Islam. Alasannya cukup ‘ideologis’ bahwa Israel sampai saat ini masih melakukan penjajahan terhadap Palestina. Konstitusi Indonesia UUD 1945 menganut ‘Penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. Penolakan muncul dari mana-mana, baik dari dalam parlemen maupun dari luar parlemen. Akibat penolakan ini, bisa ditebak hasilnya, pembukaan hubungan dagang batal dilakukan.

Selama di Israel, setidaknya saya mengikuti dua forum diskusi formal dalam bentuk seminar, beberapa seminar yang diperuntukkan khusus sebagai penghormatan kepada jasa Gus Dur dalam turut serta mewujudkan kerukunan antarumat beragama dan perdamaian dunia. Fakta eksistensi Gus Dur sangat berarti bagi umat beragama khususnya di wilayah konflik seperti Israel-Palestina yang tidak bisa dilepaskan dari pengaruh agama yang berbeda-beda di sana.

Israel berpenduduk kurang lebih 7.5 juta jiwa dengan16 % persennya beragama Islam. Lebih dari tiga per empat, atau 75,5% populasi Israel adalah Yahudi yang berlatar belakang berbeda-beda. Sekitar 68% Yahudi Israel dilahirkan di negara tersebut, 22%-nya merupakan imigran dari Eropa dan Amerika, dan 10%-nya merupakan imigran dari Asia dan Afrika (termasuk pula dari Arab). Umat Muslim mencapai 16%, agama minoritas terbesar di Israel sebab yang lain sekitar 2% populasi beragama Kristen, dan 1,5%-nya beragama Druze.

Saat rasa curiga dan tidak percaya antarwarga bangsa, antarumat beragama terjadi, saat umat Yahudi tidak percaya lagi kepada umat Muslim, saat umat muslim tidak percaya umat Yahudi dan umat lainnya, Gus Dur datang memberikan pencerahan dan harapan perdamaian di tanah Israel-Palestina.

Seorang aktivis kerukunan umat beragama perempuan di Israel dari Elijah Institut Peta Jones Pellach menyampaikan testimoninya tentang Gus Dur. “Menyaksikan langkah dan usaha Gus Dur dalam kerukunan umat beragama dan perdamaian dunia, membuat kami semakin memahami bahwa Islam yang sebenarnya adalah Islam yang dipikirkan, dikatakan, dan dilakukan oleh Gus Dur, yaitu Islam yang rahmatan lil alamin; Islam yang mengayomi semua orang yang menjadi berkah dan member kasih sayang tanpa pandang bulu kepada siapa pun di dunia.”

Ini sejalan dengan yang sering didengungkan Gus Dur “bahwa kita butuh Islam ramah, bukan Islam marah”.

Masih menurut Pelach bahwa ia masih mengingat kata-kata Gus Dur terhadap saya "lakukan kebaikan yang selama ini telah kamu lakukan, maka engkau akan mendapatkan perdamaian di tanah suci tiga agama ini."

Menarik, bahwa para Yahudi dan Kristen di Israel sangat berharap akan terus berkembangnya Islam moderat sebagaimana Islam Indonesia yang telah ditunjukkan Gus Dur. Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia sangat diharapkan peran aktifnya dalam membantu proses perdamaian termasuk di Timur Tengah. Moderasi Islam yang dibawa oleh Gus Dur telah mengubah pandangan mereka tentang Islam di dunia. Mereka sangat berharap pemahaman Islam "model" Gus Dur ini akan terus berkembang agar dunia menjadi lebih damai.

Selain itu mereka juga menceritakan bagaimana mereka juga sangat terkesan dengan guyonan ala Gus Dur yang sering dilontarkannya di forum Israel, sebagaimana disampaikan Emanuel Shahaf, seorang Yahudi yang menjadi Vice Chairman Israel-Indonesia Chamber of Commerce.

Begitu juga Mr Chaim Chosen selaku Head of the Asia and the Pacific division of Ministry of Foreign Affairs of Israel. Dia mengaku sangat terkesan dan bahagia bisa bertemu dengan Gus Dur. Menurutnya bertemu Gus Dur adalah peristiwa penting dan istimewa. Pertama dia bertemu Gus Dur di Universitas Hebrow Israel. Kedua, Gus Dur hadir pada penandatanganan perdamaian antara Israel dengan Jordania. Menurut Chaim juga, bahwa meski tidak memiliki hubungan diplomatik antara Israel dengan Republik Indonesia, tetapi hubungan tidak formal seperti kunjungan ini menjadi penting mengingat Indonesia sebagai negara Muslim moderat di dunia. Katanya tidak ada conflict of interest antara Indonesia dan Israel.

The last but not the least bertemu dengan Simon Peres, mantan Presiden Israel di Bait Peres Lil Salam. Lagi-lagi Gus Dur menjadi objek utama perbincangan. Tentu tak lupa juga tentang Islam Indonesia. Bagi Simon Peres, Mr. Wahid (begitu dia menyebut KH Abdurrahman Wahid) adalah pribadi yg sangat merdeka, independen dan mengayomi. Saat semua orang membicarakan tentang perang dan menuding Israel sebagai penyerang, ia justru datang kepada kami, Israel, untuk bicara tentang perdamaian. Ia adalah figur yang inspiratif bagi para pencinta damai dan kerukunan.

“Wahid adalah salah satu board di Peres Peace Center. Kami merasa kehilangan seorang tokoh yg luar biasa dan sangat dicintai. Dia memimpin jutaan umat Islam di negara muslim terbesar di dunia, yaitu Indonesia. Islam yg menjadi harapan bagi kedamaian dunia,” kata Peres.

Dan tak lupa Peres pun meminta kepada tim delegasi Indonesia, jika tidak keberatan, ada yang membuat patung Wahid untuknya, untuk dipasang di salah satu bagian gedung kantornya “The Peres Center for Peace” berdampingan dengan tokoh besar dunia lainnya seperti yang sudah ada di situ, yaitu patung Dalailama, Mahatma Ghandi dan lain-lain.

Gus Dur anugrah bagi Indonesia dan perdamaian dunia.

“Jika kamu berbuat baik pada semua orang, orang tidak akan tanya apa agamamu.” Gus Dur, lahul Fatihah.

Miftahul Jannah, Ketua Pimpinan Wilayah Fatayat NU Banten

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Habib, Kajian Ustadz Felix Siaw

Tiga Tingkatan Santri Menurut Kiai Syaroni

Jepara, Ustadz Felix Siaw. Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Sya’roni Ahmadi menyebut ada tiga tingkatan santri. Tingkatan pertama adalah Mubtadi. Ialah santri yang sudah bisa membaca kitab tetapi belum bisa menguasainya.

Halitu dikemukakannya dalam Haflah Akhirussanah Pesantren Roudlotul Mubtadiin Balekambang desa Gemiring Lor kecamatan Nalumsari kabupaten Jepara, Rabu (3/6) siang.

Tiga Tingkatan Santri Menurut Kiai Syaroni (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Tingkatan Santri Menurut Kiai Syaroni (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Tingkatan Santri Menurut Kiai Syaroni

Tingkatan berikutnya Mutawasit yakni santri yang bisa membaca kitab kuning serta mampu mengulasnya.

Sedangkan tingkatan terakhir Muntahi yaitu santri yang bisa membaca, mengulas dan bisa menunjukkan dalil qur’an dan hadits tentang yang dibacanya.

Ustadz Felix Siaw

Kiai Sya’roni menjelaskan pesantren yang diasuh KH Makmun Abdullah Hadziq dinamakan Roudlotul Mubtadiin sudah tepat. Karena sesuai penjabarannya bisa membaca namun belum bisa menguasainya.

Ustadz Felix Siaw

Harapannya kedepan santri tingkatannya bisa meningkat menjadi Muntahi. Kiai kharismatik ini menambahkan menjadi santri harus percaya diri. Sebab perintah mondok sudah dicantumkan dalam Surat Baraah.

Perintah mondok disejajarkan dengan perintah perang Sabil. Baik mana? Kiai Sya’roni menjelaskan sama-sama baiknya tetapi ia lebih cocok untuk memilih mondok. Karena ilmu yang telah diperoleh di bangku pesantren bisa ditular-tularkan kepada yang lain.

Ia menambahkan orang yang mati dalam medan pertempuran dan di pesantren sama-sama sahidnya. Mati di medan perang sahid dunia akhirat. Sedangkan yang wafat di pesantren sahid akhirat.

“Semoga ilmu yang anda peroleh di Balekambang bermanfaat di dunia dan akhirat,” doanya. (Syaiful Mustaqim/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Pertandingan, Aswaja, Daerah Ustadz Felix Siaw