Selasa, 26 April 2016

Pemimpin Dayah Ini Sayangkan Sebagian Masyarakat Sambut Gerhana

Bireun, Ustadz Felix Siaw

Dalam menyampaikan khotbah shalat gerhana yang dilaksanakan di komplek Dayah (Pondok Pesantren) Jamiah Al-Aziziyah Batee Iliek, Bireun, Aceh, Rektor IAI Al-Aziziyah yang juga pimpinan dayah ini, Tgk Muntasir A Kadir menyebutkan ada sebagian umat Islam hari ini yang menyambut peristiwa gerhana dengan cara-cara jahiliyah. Dia sangat menyayangkan hal seperti itu karena menurutnya peristiwa gerhana adalah sesuatu yang seharusnya dijadikan i’tibar bagi kaum muslimin.

Pemimpin Dayah Ini Sayangkan Sebagian Masyarakat Sambut Gerhana (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemimpin Dayah Ini Sayangkan Sebagian Masyarakat Sambut Gerhana (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemimpin Dayah Ini Sayangkan Sebagian Masyarakat Sambut Gerhana

Tgk Muntasir menyebutkan, ada sebagian orang yang sengaja datang jauh-jauh dan dari jauh hari telah memesan hotel hanya sekadar untuk melihat pertunjukan yang menghadirkan sederet artis ibu kota di pantai-pantai. 

“Kenapa dinamakan jahiliyah, karena peristiwa gerhana adalah tanda alam yang seharusnya menjadi i’tibar dan diambil pelajaran di dalamnya. Ketika peristiwa gerhana kita dianjurkan untuk melakukan shalat, memperbanyak doa dan istighfar,” ujarnya.

Matahari dan bulan adalah dua di antara makhluk Allah yang besar, lanjutnya, kalau keduanya tidak berdaya dan tunduk di bawah kekuasaan Allah, maka apalagi dengan kita hamba yang lemah ini. Karena itu kita tidak boleh sombong dan harus senantiasa ingat kepada Allah SWT. 

Adanya gerhana matahari dan bulan juga menjadi pelajaran bagi mereka yang menjadikan keduanya sebagai sesembahan. Karena bagaimana mungkin matahari dan bulan patut untuk disembah, sementara keduanya tidak mampu menolak kekurangan yang Allah munculkan dengan pudarnya cahaya tatkala terjadinya gerhana. “Maka seharusnya peristiwa gerhana semakin mempertebal keimanan kita,” terangnya.

Ustadz Felix Siaw

Menurutnya, memang ada sedikit perbedaan antara jahiliyah masa lalu dengan jahiliyah dewasa ini dalam menyikapi gerhana. Kalau jahiliyah masa lalu, katanya, mereka akan memukul lonceng atau bunyi-bunyian. Hal itu dilakukan karena dalam anggapan mereka penyebab terjadinya gerhana matahari dikarenakan matahari ditelan oleh sebuah makhluk besar seumpama raksasa. 

Mereka meyakini, dengan suara bunyi-bunyian itu raksasa jadi takut hingga akhirnya matahari dimuntahkan kembali. Keyakinan itu semakin bertambah ketika gerhana berakhir yang dalam anggapan mereka itu pertanda matahari telah dimuntahkan kembali. 

Ustadz Felix Siaw

“Namun demikian, apa yang ditunjukkan oleh jahiliyah masa lalau dan jahiliyah modern sama-sama tidak menjadikan peristiwa gerhana sebagai ibrah atau pelajaran, dan cara itu sangat bertentangan dengan apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW,” jelasnya. (M Iqbal Jalil/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Sholawat Ustadz Felix Siaw

Selasa, 12 April 2016

Peran Santri dalam Membumikan Islam Nusantara

Oleh ? Muhamad Nurdin

Islam Nusantara melambung kepermukaan bak balon yang diisi gas, menari-nari diangkasa jagad pergulatan pemikiran, dalam wacana intelektualisme. Ada yang menolak ada yang menerima, bagi yang menolak, semoga mereka tidak gagal paham dalam memahami Islam Nusantara.

Isu jihad dan terorisme yang kemudian dikaitkan dengan gerakan fundamentalisme, sekarang menjadi persoalan dominan dalam wacana dan praktik politik. Tagedi bom Bali, serangan di jalan Thamrin Jakarta, dan serentetan kejadian lainnya, yang mengatas namakan Islam. Maka, kemudian Islam menjadi tertuduh, sebagai agama kekerasan.?

Peran Santri dalam Membumikan Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Peran Santri dalam Membumikan Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Peran Santri dalam Membumikan Islam Nusantara

Kemudian, Islam Nusantara hadir ditengah-tengah kita, bagai oase yang menyejukkan, sekaligus menentramkan. Islam Nusantara adalah Islam yang rahmatal lil aamin, Islam yang damai, Islam yang tidak radikal. Inilah salah satu gugus pemikiran sumbangsih NU kepada bangsa.?

Secara geostrategi dan geopolitik, Islam Nusantara menjadi tawaran konsep keislaman global yang saat ini membutuhkan rujukan. Dalam khazanah pemikiran Islam, Islam Nusantara bukanlah barang baru yang tiba-tiba muncul begitu saja. Salah satu ciri Islam Nusantara adalah santun dalam menyebarkan agama, membawa Islam sebagai agama kedamaian.

Ustadz Felix Siaw

Tradisi Islam Nusantara, tidak mungkin menjadikan orang radikal. Tidak mengajarkan membenci, membakar, atau bahkan membunuh, Islam Nusantara ini didakwahkan merangkul budaya, melestarikan budaya, menghormati budaya, dan tidak ? memberangus budaya. NU akan terus mempertahankan karakter Islam Nusantara yang ramah, anti radikal, inklusif dan toleran. Model Islam Nusantara inilah yang dibutuhkan oleh masyarakat dunia saat ini.

Dalam membangun Islam Nusantara, para penyebar seperti Walisongo cukup dominan dalam pembentukan kultur Islam Nusantara. Para Wali telah mengembangkan Islam yang ramah yang bersifat kutural.?

Pribumisasi ala Walisongo mengajarkan toleransi, pola pribumisasi inilah yang akhirnya membentuk perwujudan kultur Islam. Pada titik inilah, Islam mulai menjadi bagian dari dinamika agama di Nusantara. Abdurahman Wahid menyebut, bahwa pribumisasi Islam, sebagai strategi dakwah untuk membumikan Islam Nusantara. Priumisasi Islam dalam bayangan Gus Dur adaah mempertemukan spirit Islam dengan kekhasan kultur dan adat masyarakat setempat.

Santri mulai mencatatkan sejarahnya ketika Walisongo menjadi juru dakwah dengan strategi damai. Perwujudan kultural ala Walisongo ini kemudian mencapai titik dalam bentuk pesantren. Pesantren memiliki ketangguhan dan kemandirian yang tinggi, ketika melawan penjajah.

Pada masa revolusi, jaringan santri kiai berperan penting memperjuangkan kemerdekaan dan melawan kolonial. Fatwa Jihad KH Hasyim AsyĆ­ari (1871-1947) pada 22 Oktober 1945 menggerakkan ribuan santri untuk berjuang bersama dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya dan peristiwa Palagan Ambarawa.?

Ustadz Felix Siaw

Pondok pesantren secara historis, cukup penting peranannya di Indonesia. Peran pesantren di masa lalu kelihatan paling menonjol dalam hal pergerakan, memimpin dan melakukan perjuangan dalam rangka mengusir penjajah. Menurut Suryanegara, kondisi saat itu mengubah fungsi pondok pesantren yang tadinya sebagai lembaga pendidikan, berubah menjadi ? a centre of centiment. Oleh karena, setiap perlawanan bersenjata selalu di gerakan dan tidak dapat dilepaskan hubungannya dengan pesantren. Pesantren selain sebagai benteng perjuangan, juga sebagai proses perkembangan masyarakat.

Apa yang sudah dilakukan oleh Walisongo, hingga para pendiri NU, menjadi renungan bersama untuk menegaskan kembali konsep Islam Nusantara sebagai wajah asli Islam di negeri ini. Para santri harus tetap mengawal dan membumikan kdnsep Islam Nusantara ini ketengah-tengah publik umatnya.

Penulis adalah Ketua ISNU Kuningan, ? Kepala Seksi Penyelenggara Syariah Kemenag Kuningan, dan penulis beberapa buku yang diterbitkan secara nasional.

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Tokoh, AlaNu Ustadz Felix Siaw

Penelitian Ini Ungkap 2 Faktor Napi Kriminal Tertarik kepada Napi Terorisme

Jakarta, Ustadz Felix Siaw. Peneliti dari Pusat Kajian Terorisme dan Konflik Sosial Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Solahudin memaparkan dua faktor yang menyebabkan para napi kriminal tertarik mendekati napi teroris (napiter).

Penelitian Ini Ungkap 2 Faktor Napi Kriminal Tertarik kepada Napi Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Penelitian Ini Ungkap 2 Faktor Napi Kriminal Tertarik kepada Napi Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Penelitian Ini Ungkap 2 Faktor Napi Kriminal Tertarik kepada Napi Terorisme

Hal itu ia sampaikan pada acara Short Course Penguatan Perspektif Korban dalam Peliputan Isu Terorisme bagi Insan Media di hotel Sofyan, Jakarta Pusat, Rabu (24/1).

Pertama, faktor logistik. Menurut Solahudin, napi-napi teroris di dalam lembaga pemasyarakatan (lapas) hidupnya relatif sejahtera. Mereka mendapat sumbangan dari para pengikut yang ada di luar lepas, dan lembaga-lembaga kemanusiaan yang menyumbang. Makannya daging, telor, atau ayam. 

"Sehingga rata-rata mereka hidupnya relatif cukup nyaman. Makannya cukup enak. Kebutuhan sehari-hari mereka terpenuhi, bahkan bisa buka usaha di dalam lapas," katanya di hotel Sofyan, Jakarta Pusat, Rabu (24/1). 

Ustadz Felix Siaw

Hal itu berbanding terbalik dengan para napi kriminal lainnya. Menurutnya, napi-napi lain hanya mengandalkan makanan dari lapas. Biaya makanan per hari antara 14 ribu hingga 15 ribu. Jenis makanannya tidak lebih dari tempe, tahu, dan sayuran seadanya. 

"Itu yang membuat napi kriminal tertarik, terutama napi-napi yang disebut napi anak hilang, yaitu napi-napi yang tidak dijenguk keluarga atau tidak mendapat sumbangan dari luar. Akhirnya dia mendekat kepada napi-napi teroris yang logistiknya meningkat," jelasnya. 

Kedua, faktor proteksi. Solahudin mengatakan, di dalam lepas terdapat berbagai geng. Sementara untuk napi-napi teroris dikenal dengan geng ustadz.

Napi-napi teroris mempunyai pengaruh di dalam lapas yang bisa memproteksi napi kriminal lainnya, seperti napi-napi yang sering mendapat bully atau mendapatkan tekanan.

Ustadz Felix Siaw

"Jadi ada dua faktor, yaitu untuk mendapatkan logistik, yang kedua untuk proteksi, perlindungan. Itu yang menjadi pull faktor," tegasnya. 

Solahudin pun mengungkapkan tentang cara menghilangkannya. Menurutnya, sumber logistik kepada napi teroris itu harus diputus agar terhambat. Sementara cara menghilangkan pengaruh napi-napi teroris yang bisa memproteksi, yaitu dengan cara disebar atau tidak dikonsentrasikan di satu lapas. (Husni Sahal/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Olahraga, Berita, Nahdlatul Ustadz Felix Siaw

Selasa, 05 April 2016

Kemendes PDTT Kerahkan Pendamping Desa Bantu Pengungsi Gunung Agung

Denpasar, Ustadz Felix Siaw

Pendamping Desa dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) di Provinsi Bali mengambil langkah aktif membantu para pengungsi peningkatan intensitas kegempaan Gunung Agung di Bali. Selain membantu pihak Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam pengumpulan data bencana, para pendamping juga turun langsung membantu mengumpulkan berbagai jenis bantuan yang dibutuhkan para pengungsi.

"Kami menggerakkan para pendamping desa di wilayah Bali ini untuk membantu saudara-saudara yang sedang kesulitan. Kami kumpulkan makanan, obat-obatan, selimut, juga pakaian. Kami juga menghibur anak-anak di pengungsian agar mereka tidak trauma," ujar Koordinator Provinsi Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat (P3MD) Provinsi Bali, Kadek Suardika, di Denpasar, Senin (25/09).

Kemendes PDTT Kerahkan Pendamping Desa Bantu Pengungsi Gunung Agung (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemendes PDTT Kerahkan Pendamping Desa Bantu Pengungsi Gunung Agung (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemendes PDTT Kerahkan Pendamping Desa Bantu Pengungsi Gunung Agung

Suardika menambahkan, setidaknya sudah lebih dari 15.000 pengungsi yang tersebar di beberapa wilayah, yakni Buleleng, Klungkung, Gianyar, Kota Denpasar, Badung, Karangasem, dan Bangli. Para pendamping turun langsung ke lapangan mengingat banyak desa dampingan mereka yang juga dihimbau untuk segera mengungsi. Logistik untuk pengungsi mereka kumpulkan secara kolektif berdasarkan inisiatif pendamping desa maupun mengumpulkan donasi dari masyarakat.

"Upaya tanggap darurat bencana kami juga lakukan. Kami terus berkoordinasi dengan pemerintah desa yang terkena dampak dari intensitas kegempaan Gunung Agung yang semakin tinggi. Untuk sementara ini, ada sekitar 500 Kepala Keluarga (KK) yang kami fasilitasi," lanjutnya.

Ustadz Felix Siaw

Fasilitasi tersebut, lanjut Suardika, yakni mencarikan tempat pengungsian sementara. Para pendamping desa mengupayakan dua opsi, yakni singgah sementara di rumah warga atau singgah di posko utama. Selain fasilitasi tersebut, para pendamping desa juga menyiapkan skema penguatan kesiapsiagaan bencana di masa yang akan datang.

Suardika mengungkapkan, kesulitan yang dihadapi pemerintah desa saat ini adalah aspek administratif dalam menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) untuk situasi tanggap darurat bencana. Salah satu contohnya adalah upaya mencukupi kebutuhan logistik para pengungsi.

Ustadz Felix Siaw

"Para pendamping desa dan perbekel (kepala desa) sepakat untuk menyampaikan permintaan adanya surat keputusan bupati yang memberikan ruang kepada desa agar bisa menggunakan APBDesa untuk penanganan bencana. Ini adalah rencana jangka panjang sebagai bentuk antisipasi untuk kondisi seperti saat ini," ujarnya.

Aktivitas kegempaan Gunung Agung yang terus meningkat membuat masyarakat desa di sekitar kaki gunung harus mengungsi ke tempat yang lebih aman. Warga yang tinggal dalam radius 12 kilometer diminta meninggalkan rumah dan ternaknya. Dalam jangkauan tersebut, terdapat 31 desa yang harus dikosongkan. BNPB mencatat, per Minggu (24/09) pukul 12.00 WITA terdapat 34.931 jiwa yang mengungsi. Pos pengungsi tersebar di 238 titik. (Red. Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Nasional, Lomba, Sholawat Ustadz Felix Siaw