Sabtu, 22 Maret 2014

Surat Santri untuk Presiden Baru

Jakarta, Ustadz Felix Siaw. Dibekali teori dan wawasan seputar penulisan kreatif, 22 santri hasil seleksi dari pesantren-pesantren di Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Banten, diminta praktik menulis surat untuk presiden baru.

Surat Santri untuk Presiden Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Surat Santri untuk Presiden Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Surat Santri untuk Presiden Baru

“Mereka menulis harapan dan pandangan mereka sebagai santri kepada presiden baru. Gaya dan panjang-pendeknya halaman kita serahkan ke mereka. Karya mereka itu didiskusikan bersama dan disempurnakan,” terang Alamsyah M. Dja’far, Program Officer the Wahid Institute, Sabtu siang (13/7) di Jakarta.

Ditambahkan Ahmad Nurcholis, fasilitator kegiatan dua hari ini, tulisan mereka itu juga akan dipublikasi di website resmi WI www.wahidinstitute.org dan dibukukan. Hasilnya akan disampaikan kepada presiden baru yang akan dilantik Oktober mendatang.

Ustadz Felix Siaw

“Di Negara kita ini, Indonesia masih banyak permasalah yang mencekik rakyat secara perlahan. Mulai dari produktivitas ekonomi yang anjlok. Angka kemiskinan semakin hari semakin parah,” tulis Mohammad Fahminuddin santri asal As-Sa’adah Banten.

Syifa fauziah, santri kelas tiga Pesantren Al-Falak Bogor menyorot soal pentingnya pengembangan sumber daya manusia. “Saya berharap bapak menjadi pemimpin yang mampu mengembangkan SDM. Saya tidak ingin Bapak menjadi seorang penguasa. Kata KH Abdurrahman Wahid, pemimpin dan penguasa adalah dua hal berbeda,” katanya dalam surat.

Ustadz Felix Siaw

Soal menjaga keragaman juga mendapat sorotan. “Saya sadar menjadi Presiden di Republik ini bukanlah hal yang mudah dengan keberagaman agama, suku, adat, bahasa, dan budaya. Tapi saya meyakini bahwa semua perbedaan itu bukanlah penbghambat. Malah itu menjadi suatu suatu penguatan persatuan, dalam agama yang saya anut, perbedaan adalah rahmat,” kata Syifa Husnul Ummah dari Pesantren Qathratul Falah.        

Praktik menulis ini merupakan satu rangkaian dalam Pelatihan Penulisan Kreatif

santri se-jabodetabek bertajuk “Pesantren untuk Peradaban Dunia”. Pelatihan digelar The Wahid Institute bekerjasam dengan Kedutaan Kanada, pada Sabtu – Minggu (12-13/07) di Jakarta.

Kegiatan ini melibatkan perwakilan santri dari Pesantren Ashidiqiyah Jakarta Barat, Pesantren Tapak Sunan Jakarta Timur, Pesantren Motivasi Nurul Mukhlisin Bekasi, Pesantren Al-Falak Pagentongan Bogor, Al-Inayah Bogor, Miftahul Huda Tangerang, Qatrathul Falah Banten, As-Saa’dah Banten, dan Malnu Menes Banten.

Sepanjang dua hari mereka berdiskusi dan mendapat motivasi dari sejumlah ahli seputar pesantren dan dunia penulisan: Direktur WI Yenny Zannuba Wahid, Sekretaris Kedua Bidang Politik dan Hubungan Masyarakat kedutaan Kanada Huy Nguyen, sastrawan AS Laksana dan Acep Zamzam Noor, dewan redaksi majalah sastra Surah dan redaktur Ustadz Felix Siaw, dan pendiri Menara Hati International M. Najmi AF.

Dalam sambutan dan motivasinya, Yenny Wahid menegaskan pentingnya kontribusi santri mengembangkan sikap kerterbukaan dan mempromosikan wajah Islam yang damai.

“Untuk menjadi orang hebat seperti Gus Dur misalnya, hanya bisa dilakukan dengan pikiran dan sikap yang terbuka terhadap setiap gagasan dan informasi dari manapun. Jangan mudah menutup diri. Gus Dur banyak membaca buku dari Timur dan Barat. Setelah itu baru mencerna dan mengnalisis informasi dan gagasan tersebut. Dengan sikap ini, kita sangat bisa berkontribusi bagi dunia. Di samping itu modal utama menjadi santri yang hebat di bidang penulisan adalah semangat dan pantang menyerah,” tandasnya.

Semangat itu, kata Yenny, yang membuat dirinya lolos seleksi dan menjadi wartawan The Sydney Morning Herald and The Age. Sebagai wartawan harian ini ia banyak meliput wilayah konflik di Indonesia. Ia juga berhasil mewawancari Xanana Gusmao, kini Perdana Menteri Timor Leste, saat menjadi tahanan pemerintah Indonesia di era tahun 90-an. Hasil liputannya pernah diganjar penghargaan. “Modalnya semangat dan pantang menyerah,” ungkapnya lagi.

Sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia, pesantren banyak melahirkan tokoh di bidang penulisan yang levelnya mendunia. Selain KH. Abdurrahman Wahid, ada Mahbub Djunaidi, putera Betawi yang kesohor sebagai penulis esai yang andal, lincah, dan jenaka. Di dunia sastra, ada sejumlah tokoh seperti KH. Mustofa Bisri asal Rembang, KH Dzawawi Imron dari Madura, Acep Zamzam Noor dari Cipasung.

“Pesantren telah memainkan peran penting bagi dunia dalam mengembangkan Islam rahmatan lil alamin,” kata Nguyen dalam sambutannya. [Red: Abdullah Alawi]

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw PonPes Ustadz Felix Siaw

Selasa, 11 Maret 2014

Bupati Bondowoso: Saat Ini Seharusnya PMII Lebih Mudah Lahirkan Tokoh

Bondowoso, Ustadz Felix Siaw?



Pengurus Cabang Ikatan Alumni (IKA) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupten Bondowoso memperingati hari lahir ke-57 PMII yang dikemas dengan acara bertajuk malam tasyakuran. Kegiatan berlangsung di aula Pendopo Bupati pada Senin (17/4) malam itu diikuti kader dan alumni.

Bupati Kabupaten Bondowoso H Amin Said Husni mengatakan, PMII pada eranya bergerak dengan segala keterbatasan, tapi bisa menghasilkan pejuang-pejuang, tokoh-tokoh nasional dengan sikap kenegarawanannya.

Bupati Bondowoso: Saat Ini Seharusnya PMII Lebih Mudah Lahirkan Tokoh (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Bondowoso: Saat Ini Seharusnya PMII Lebih Mudah Lahirkan Tokoh (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Bondowoso: Saat Ini Seharusnya PMII Lebih Mudah Lahirkan Tokoh

Menurut Ketua IKA PMII Jawa Timur itu, PMII zaman sekarang, pada era gajet, dengan segala macam teknologi informasi dan komunikasi di tangan-tangan para kader, seharusnya lebih mudah menghasilkan tokoh-tokoh yang lebih besar lagi.

Ia juga mengajak seluruh kader PMII dan alumni untuk terus menambah semangat dalam pergerakan dalam mengawal bangsa Indonesia dengan berperan di segala bidang.

"Alumni PMII bisa jadi bupati, bisa jadi menteri, bisa menjadi hakim-hakim, termasuk hakim konstitusi, juga profesi yang lain, bisa juga tokoh agama, tokoh pendidikan, tokoh ulama, tokoh perempuan dan lain sebagainya," katanya.?

Ustadz Felix Siaw

Kegiatan ditutup dengan pemotongan tumpeng oleh Ketua IKA PMII Bondowoso Asnawi Sabil yang diserahkan kepada Bupati Bondowoso, Ketua PCNU, Kapolres, Dandim, Kajari dan Sekda Bondowoso, Ketua PC PMII Bondowoso dan Ketua Kopri Bondowoso.

Malam tasyakuran bertema Revitalisasi Nilai-nilai Pergerakan dalam Pemberdayaan Umat tersebut juga dihadiri Sekda Bondowoso Hidayat, Kapolres Bondowoso AKBP Afrisal SIK,Dandim 0822 Bondowoso Letkol Arh Sudrajay serta Kajari. (Ade Nurwahyudi/Abdullah Alawi)

Ustadz Felix Siaw

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw IMNU Ustadz Felix Siaw

Jumat, 07 Maret 2014

Rais Majelis Ilmi Paparkan Tiga Aspek Al-Quran

Jakarta, Ustadz Felix Siaw. Rais Majelis Ilmi Jam’iyyatul Qurra wal-Huffaz Nahdlatul Ulama (JQHNU) KH Akhsin Sakho Muhammad memaparkan tiga aspek Al-Quran, yaitu sebagai bacaan, tulisan, dan makna. Ia memaparkan itu pada peluncuran mushaf Al-Quran An-Nahdlah di gedung PBNU, Jakarta, Jumat (21/6).

Menurut Kiai Ahsin, bahwa Al-Quran itu terdiri dari bacaan. Bacaan tersebut harus dibaca sesuai dengan apa yang diajarkan Rasulullah SAW kepada para Sahabat, “Harus sesuai ikhfanya, idghamnya, gunnahnya, madnya,” katanya.

Rais Majelis Ilmi Paparkan Tiga Aspek Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais Majelis Ilmi Paparkan Tiga Aspek Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais Majelis Ilmi Paparkan Tiga Aspek Al-Quran

Yang kedua, kata dia, Al-Quran menyangkut aspek tulisan. Tulisan Al-Quran harus ditulis dengan huruf Arab sebagaiamana yang telah dilakukan sahabat, tabiin, atbaith tabi’in.

Ustadz Felix Siaw

Kemudian Al-Quran juga ada yang berkaitan dengan makna, dan inilah yang telah dilakukan para mufasirin (para penafsir Al-Quran).

Mushaf Al-Quran bernama An-Nahdlah d tersebut diterbitkan PBNU melalui PT Hati Emas yang menggandeng Asia Pulp & Paper (APP).

Ustadz Felix Siaw

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Sholawat, Khutbah, PonPes Ustadz Felix Siaw