Rabu, 26 Desember 2012

Peringati Harlah, GP Ansor Jateng Gelar Kemah Bakti II

Batang, Ustadz Felix Siaw. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, hadir membuka kegiatan Kemah Bakti II tahun 2017 pada rangkaian peringatan Hari Lahir ke 83 Gerakan Pemuda (GP) Ansor pada Sabtu (22/4) malam, di Desa Tombo, Kecamatan Bandar, Kabupaten Batang. Ia hadir didampingi Penjabat (PJ) Bupati Batang Siswo Laksono. Saat menyampaikan sambutannya, Ganjar mengapresiasi kegiatan yang digelar selama tiga hari mulai Sabtu sampai Senin (22-24/4).

Peringati Harlah, GP Ansor Jateng Gelar Kemah Bakti II (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringati Harlah, GP Ansor Jateng Gelar Kemah Bakti II (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringati Harlah, GP Ansor Jateng Gelar Kemah Bakti II

"Kemah ini menurut saya jadi bagian membentuk karakter anak bangsa. Mereka secara agama sudah tentu sangat paham, ideologi bernegara juga paham, tapi sikapnya seperti kereta atau tidak maju mundur," katanya.

Kondisi bangsa yang ada saat ini, menurutnya membutuhkan sikap bersama-sama menyuarakan kebenaran. Maka Ansor Banser melalui Kemah Bakti ini harus berani menyuarakan kebenaran.

"Saya mengapresiasi kemah bakti ini dari teman-teman GP Ansor," katanya.

Ustadz Felix Siaw

Ia menambahkan, melalui Kemah Bakti ini, para kader Ansor Banser akan menginternalisasi diri membangun karakter anak bangsa yang baik. Mereka nantinya akan tersebar di mana-mana untuk menularkannya.

Adapun pembukaan, dilakukan secara simbolis dengan pemukulan rebana oleh Gubernur Jateng. Selain itu juga dilakukan pemakaian jaket Banser pada Gubernur Ganjar Pranowo, Ketua PWNU Jateng DR KH Abu Hapsin, dan Anggota DPD RI Achmad Muqowam oleh Kasatkorwil Banser Jateng Hasyim Asyari.

Ketua PW Ansor Jateng Ikhwanudin mengatakan, Kemah Bakti II ini arahnya adalah untuk melestarikan nilai-nilai Nahdlatul Ulama melalui penggalian potensi kader dari berbagai bidang. Utamanya diarahkan untuk memupuk rasa kesetiaan dan cinta terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Harapannya, Ansor Banser tetap jadi garda terdepan dalam berpartisipasi di kehidupan berbangsa dan bernegara," tegasnya.

Ustadz Felix Siaw

Terdapat sejumlah kegiatan di Kemah Bakti yang diikuti 690 peserta dari 32 Cabang se Jateng ini, di antaranya sarasehan kebangsaan bersama Anggota DPD RI Achmad Muqowam, lomba prestasi yang terdapat 11 kejuaraan salah satunya perlobaan bidang IT atau pembuatan iklan layanan masyarakat.

"Itu juga untuk menanggulangi berita-berita hoax, membuat meme yang mengandung pesan rahmatan lil alamin," katanya.

Selain itu, juga ada bakti sosial, pameran produk-produk UMKM dari kader Ansor, mujahadah dan Ansor Bershalawat, dan pada Senin (24/4/2017) akan digelar apel kesetiaan NKRI sekaligus penutup.

Yang menarik dalam kegiatan Kemah Bakti kali ini, imbuh Ikhwan, adalah kegiatan ini didukung penuh oleh warga Desa Tombo, Kecamatan Bandar.

"Maka kami apresiasi besar pada Kepala Desa, Ketua Ranting NU dan Ansor yang telah memberi dukungan luar biasa terutama konsumsi," ujarnya.

PJ Bupati Batang, Siswo Laksono mengatakan, pihaknya berharap Batang kembali menjadi juara umum dalam kemah bakti tahun ini. Sehingga jika tahun ini digelar di kawasan pegunungan, maka tahun depan bisa digelar di kawasan pantai.? (Sholahuddin Al-Ahmed/Abdullah Alawi)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Hikmah Ustadz Felix Siaw

Rabu, 19 Desember 2012

Pesantren ini Terapkan 60% Kurikulum Ekonomi

"Al-Fath" merupakan surat ke 48 yang ada dalam Al-Quran. Jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia Al-Fath berarti kemenangan. Kemenangan inilah yang menjadi salah satu motivasi KH M. Fajar Laksana memberikan nama untuk lembaga pendidikan Islam yang ia dirikan, yaitu Pesantren Dzikir Al-Fath.

Pesantren yang berdiri sekitar lima tahun lalu ini beralamat di Jln. Merbabu Perum Gading Kencana Asri, Kelurahan Karang Tengah, Kecamatan Gunung Puyuh, Kota Sukabumi, Jawa Barat.

Pesantren ini Terapkan 60% Kurikulum Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren ini Terapkan 60% Kurikulum Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren ini Terapkan 60% Kurikulum Ekonomi

KH M. Fajar Laksana selaku Pengasuh Pesantren Dzikir Al-Fath mengungkapkan, saat ini Indonesia sedang dalam kondisi perang, sehingga santri yang saat ini berjumlah sekitar 470 orang, dididik dan digembleng untuk berhijrah dan menjadi seorang mujahid agar memperoleh kemenangan yang nyata (fatham mubina).

Ustadz Felix Siaw

Namun perang yang dimaksud oleh Fajar yang juga Murid Abah Anom Tasikmalaya ini, adalah perang dalam konteks ekonomi dan Teknologi Informasi.

Ustadz Felix Siaw

"Yang namanya perang itu jangan diartikan hanya perang fisik saja, tapi perang ekonomi, perang IT, artinya perang psikologis, perang dakwah, syiar Islam," kata alumni Pesantren Gentur Cianjur ini.

Mantan Bendahara PCNU Sukabumi ini pun menyayangkan di internal Islam sendiri ada paham-paham yang cenderung "menyerang" tradisi keagaamaan warga NU, padahal menurutnya hal itu adalah habluminallah.

"Padahal kan kita tidak mengganggu mereka, ini kan urusan kita dengan Allah dan lagipula ada dalil Al-Quran haditsnya, kepengen tuh ya jangan mengganggu karena kita juga tidak mengganggu atau mengusik mereka"tambahnya

Ekonomi sebagai Konsentrasi Pesantren

KH Fajar Laksana menyadari betul bahwa waktu dalam mendidik para santri sangat terbatas serta tidak cukup untuk materi pengajian kitab kuning, sehingga yang menjadi konsentrasi di pesantren ini adalah di bidang ekonomi dan IT.

"Di sini menerimanya Mahasantri, sehingga yang mau mondok disini harus kuat agamanya, saya sengaja mengambil porsi ekonomi karena porsi ekonomi ini sangat jarang, kalau yang mengambil porsi keagamaan sudah banyak," tambahnya

Dikatakan Ketua V MUI Sukabumi ini, kurikulum yang dikembangkan di Pesantren Dzikir Al-Fath ini adalah 20% teori yang didapatkan melalui belajar di kelas, 20% Dzikrullah, pengajian Al-Quran dan Hadits serta 60% bekerja di 30 unit bisnis pesantren yang sudah beromzet milyaran rupiah.

Diantara unit bisnis tersebut adalah Al-Fath Mart, Al-Fath Express, Al-Fath Plaza, Al-Fath Fried Chiken, Bank Swamitra, Investasi Domba Berqurban Beramal Berkelanjutan (IDB3), Integrated Farm Education And Entrepreneurship (IFE2), Rumah Kemasan dan Produksi, Al-Fath Tirta Hurip, Al-Fath Distribution Center, Al-Fath Techno Center, Sarah Boutique, Alya Boutique, Koperasi SSC, dan lainnya.

"Mayoritas penduduk Indonesia adalah Islam, tapi ternyata perekonomian di Indonesia justeru dikuasai oleh non muslim, jadi kita berperang dengan mereka dalam konteks ekonomi, tapi kita menggunakan fiqh siyasah, bukan berarti kita memusuhi apalagi menyerang mereka, kita tetap kerjasama dengan mereka, karena Nabi Muhammad pun dulu membuat perjanjian Hudaibiyah dengan non muslim," tambah Magister Manajemen Ekonomi ini.

Modal Usaha setelah Lulus

Mahasantri di Pesantren Dzikir Al-Fath semuanya mendapatkan beasiswa 100%, dengan mendapatkan fasilitas makan, tempat, serta pendidikan di pesantren dan di STIE-STMIK Pasim Sukabumi, perguruan tinggi tersebut masih berintegrasi dengan Pesantren Dzikir Al-Fath.

Untuk mendapatkan beasiswa tersebut, selain harus mempunyai mental yang tangguh, para mahasantri juga diwajibkan minimal hafal tiga surat, yaitu surat Al-Fath, Al-Anam dan Surat ar-Rum, karena ketiga surat itu sangat relevan untuk dijadikan sebagai motivasi dalam berperang.

"Kita ingin mencetak pemimpin, pekerja, pegawai yang berakhlakul karimah," ungkap KH. Fajar Laksana yang saat ini menjabat Ketua Lazisnu Sukabumi ini.

Para santri tidak semuanya tinggal di Pesantren, melainkan ditempatkan di beberapa tempat unit bisnis yang ada di Sukabumi dan sekitarnya, namun dalam seminggu harus ke pondok untuk mengikuti pengajian umum.

"Disana kalau waktu shalat tiba semuanya harus istirahat untuk shalat dan mengaji, disana ada ustad yang jadi mentornya," tukasnya.

Pendidikan dan penggemblengan yang diperoleh Mahasantri menyangkut tiga aspek, yaitu akal, hati dan badan, akal sebagai media untuk conceptual skill, dididik melalui pendidikan ilmu ekonomi dan IT di kelas, hati sebagai media spiritual skill, dididik dan digembleng melalui dzikirullah, dan badan sebagai media human skill atau life skill melalui bekerja di unit usaha pesantren.

Selain mendapatkan beasiswa selama mondok, para santri pun akan mendapatkan gaji dari hasil pekerjaannya, bukan hanya itu saja, jika nanti sudah lulus kuliah dan akan pulang ke kampungnya masing-masing mereka akan diberikan modal usaha sebesar Rp. 15.000.000.

Raih Berbagai Penghargaan

Walaupun usianya terhitung masih muda, Pesantren Dzikir Al-Fath berhasil menyabet berbagai prestasi dan penghargaan, baik di tingkat lokal maupun nasional, diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Juara I Pemangku Ketahanan Pangan tingkat Propinsi Jawa Barat (2012-2013)

2. Peraih Adhikarya Pangan Nusantara Se-Kota Sukabumi dari Wali Kota Sukabumi (2012-2013)

3. Juara I Kelompok Ternak Domba tingkat Jawa Barat (2013)

4. 10 penampil terbaik tingkat Nasional Olahraga Tradisional di Morotai Maluku (2012)

5. Juara I Olahraga Tradisional tingkat Jawa Barat (2013)

6. Praktisi Etnofarmaka tingkat Nasional (2013)

7. Juara I Kirab Seni Budaya Pawau Heleran Kota Sukabumi (2012-2013)

8. Penghargaan Walikota Sukabumi Sebagai Pembina Olahraga Masyarakat (2012-2013)

9. Penghargaan Kadis PORABUDPAR Sebagai Pelopor dan Pencipta Seni Budaya Boles (Bola Leungeun Seuneu/Bola Tangan Api) (2011)

10. Juara Intensifikasi pekarangan terbaik Kota Sukabumi

11. Juara Terbaik Pengurangan Kemiskinan & Pengangguran tingkat Jawa Barat. (Aiz Luthfi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Sholawat, Habib Ustadz Felix Siaw

Senin, 01 Oktober 2012

Rakyat Rindukan Jiwa Patriot dalam Pengelolaan Negara

Jakarta, Ustadz Felix Siaw

Hari Santri diperingati dengan berbagai cara dimana-mana dan dengan berbagai cara. Mulai dari futsal bersarung, melukis logo NU, seminar dan diskusi, karnaval budaya, Kirab Resolusi Jihad NU, pembacaan Shalawat Nariyah, sampai apel akbar.

Rakyat Rindukan Jiwa Patriot dalam Pengelolaan Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
Rakyat Rindukan Jiwa Patriot dalam Pengelolaan Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

Rakyat Rindukan Jiwa Patriot dalam Pengelolaan Negara

Menurut Ketua PBNU Robikin Emhas mengatakan, paling tidak, ada dua hal yang membuat peringatan Hari Santri menjadi magnet utama warga NU dan masyarakat Indonesia.

Pertama, menurut dia, memperingati Hari Santri berarti menggelorakan kembali Resolusi Jihad NU 1945. Pada waktu keluar resolusi tersebut mampu menjadi penyemangat untuk mengusir penjajah yang berusaha merebut kedaulatan negara yang telah merdeka.

Ustadz Felix Siaw

“Ini mengindikasikan rakyat Indonesia saat ini, khususnya NU, merindukan patriotisme dalam pengelolaan negara. Dulu patriot mengusir penjajajh, sekarang patriot pengelolaan ekonomi berdaulat, antikorupsi, dan antiradikalimse,” jelasnya di gedung PBNU, Jakarta (19/10). ?

Menurut dia, saat ini masyarakat tengah bosan mendengar korupsi terjadi dimana-mana. Masyarakat lelah dengan ekonomi yang sulit dan tidak berdaulat di hadapan negara besar. Begitu juga di bidang lain, seperti bidang energi, keuangan, sampai politik. Juga narkoba masuk ke desa-desa.

Ustadz Felix Siaw

Rasiogini, katanya, atau alat ukur seberapa jauh antara yang miskin dan yang kaya pada angka mengkhawatirkan. Rakyat ingin keluar dari keadaan itu.

“Keadaan itu yang ditangkap NU dengan menggelorakan semangat Resolusi Jihad NU. Sekarang harus diwujudkan dengan patriot penegakakan keadilan dan pemerataan ekonomi dan pembangunan,” tegasnya. ?

Daya tarik lain, lanjutnya, adalah pembacaan 1 miliar Shalawat Nariyah yang dibacakan serentak Jumat (21/10) dari Aceh sampai Papua, dan di luar negeri yang dikoordinir Pengurus Cabang Istimewa Nahdalatul Ulama di masing-masing negara.

“Shalawat Nariyah adalah jiwanya peringatan Hari Santri. Selain ekspresi cinta kepada Nabi dan Allah, di situ ada doa pengharapan. Ini raga ketemu rohnya. Itulah semangat warga NU menjadi bergelora,” jelasnya. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Daerah, Pesantren, News Ustadz Felix Siaw

Senin, 24 September 2012

Siswa MA Walisongo Produksi Cairan Khusus untuk Pertanian

Jepara, Ustadz Felix Siaw. Peserta didik Madrasah Aliyah Walisongo Pecangaan Jepara yang tergabung dalam Unit Kegiatan Siswa (UKS) Farm Agriculture memproduksi cairan khusus untuk pertanian.

Beberapa jenis cairan diproduksi dari bakteri pemacu pertumbuhan tanaman (PGPR/ plant growth-promoting rhizobacteria) akar bambu, PGPR rumput tekek-tekekan akar serabut, PGPR rumput tekek-tekekan akar gada, dan mol rebung bambu yang manfaatnya untuk mencegah penyakit akar tanaman.

Siswa MA Walisongo Produksi Cairan Khusus untuk Pertanian (Sumber Gambar : Nu Online)
Siswa MA Walisongo Produksi Cairan Khusus untuk Pertanian (Sumber Gambar : Nu Online)

Siswa MA Walisongo Produksi Cairan Khusus untuk Pertanian

Ada pula dari mol bonggol pisang dan mol buah maja untuk perangsang pertumbuhan pada fase fegetatif, mol buah-buahan untuk perangsang bunga dan buah, serta probiotik pengurai tinja untuk pengurai tinja di septitank.

Ustadz Felix Siaw

Delapan jenis cairan itu dipamerkan dalam kegiatan pelatihan dan pameran yang diadakan SMK Walisongo Pecangaan, Jepara, Jawa Tengah, di halaman sekolah setempat, Kamis (27/11) pagi.

Sri Utami, salah satu pegiat UKS tersebut menyebut proses pembuatan cairan-cairan itu. Siswi kelas X IPA itu menguraikan pembuatan probiotik pengurai tinja yang terbuat dari gula merah, lerin (air beras) dan rumen (kotoran sapi).

Ustadz Felix Siaw

Proses pembuatannya memakan waktu 2 pekan. “Rumen 20 ml dimasukkan di dalam wadah yang berisi air gula merah. Selama proses penyimpanan tidak boleh terkena sinar matahari namun botol cairan ini dikasih celah sedikit,” jelas Utami.

Manfaat cairan itu urai siswi asal desa Pancur, Mayong untuk mempercepat penguraian tinja di dalam septitank menjadi air yang diserap tanah sehingga tidak perlu repot untuk menguras.

Manfaat lain, lanjut dia, untuk meningkatkan kandungan mikro organisme pengurai di dalam tanah serta sebagai pupuk cair untuk fermentasi jerami.

Dalam setiap botol cairan dijual dengan harga berbeda. Khusus Probiotik Pengurai Tinja harganya Rp. 10.000/ mil. Lainnya, Rp.5.000 per 330 mil.

Dalam proses memproduksi mereka tidak sendirian namun didampingi pembina UKS Farm Agriculture, Saiful  Anam serta waka kesiswaan, Mukhlisin. (Syaiful Mustaqim/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Internasional, Habib, Ahlussunnah Ustadz Felix Siaw

Kamis, 06 September 2012

Safari Ramadhan, MWCNU Undawanu Ceritakan Biografi Istri Rasulullah

Blitar, Ustadz Felix Siaw. Dalam kunjungan safari Ramadhan di masjid Al-Musthofa desa Bakung, pengurus MWCNU Undawanu kabupaten Blitar membuka dialog seputar agama, Ahad (13/7). Mereka menjawab pertanyaan warga seputar riwayat Siti Khodijah sebelum menikah dengan Rasulullah SAW.

Menurut salah satu pengurus MWCNU Undawanu KH Syaikuddin Rohman, sebelum dengan Rasulullah SAW Siti Khodijah menikah dengan dua orang. Awalnya, Siti Khodijah menikah dengan Abu Halah bin Zurarah at-Tamimi. Dari Abu Halah, Siti Khdijah dikaruniai dua anak, Halah dan Hindun.

Safari Ramadhan, MWCNU Undawanu Ceritakan Biografi Istri Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)
Safari Ramadhan, MWCNU Undawanu Ceritakan Biografi Istri Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)

Safari Ramadhan, MWCNU Undawanu Ceritakan Biografi Istri Rasulullah

Tak lama kemudian suaminya meninggal dunia dengan meninggalkan kekayaan yang banyak selain juga jaringan perniagaan yang luas dan berkembang. Lalu Siti Khodijah menikah untuk kali kedua dengan Atiq bin ‘A’id bin Abdullah al-Makhzumi.

Ustadz Felix Siaw

“Setelah pernikahan itu berjalan beberapa waktu, akhirnya suami keduanya pun meninggal dunia, yang juga meninggalkan harta dan perniagaan. Terakhir Siti Khodijah mengabdikan hidupnya dengan hidup bersama Rasulullah,’’ tambah Kiai Syaikuddin.

Ketua MWC NU Udanawu H Abdul Qodir mengatakan, safari ramadhan sudah berjalan hampir 10 tahun terakhir. Usai Tarawih berjamaah, pengurus MWCNU Undawanu membuka dialog untuk menangkap aspirasi warga di tingkat ranting.

Ustadz Felix Siaw

“Selain menyampaikan program NU Undawanu, pengurus MWCNU Undawanu membuka dialog masalah agama Islam yang dipandu KH Syaikuddin Rohman,” tandas H Qodir. (Imam Kusnin Ahmad/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Pahlawan, Pemurnian Aqidah Ustadz Felix Siaw

Rabu, 08 Agustus 2012

Telah Terbit An-Nadzroh, Majalah MTs Darul Ulum

Jepara, Ustadz Felix Siaw. Majalah An-Nadzroh MTs Darul Ulum Purwogondo, Kalinyamatan, Jepara, Jawa Tengah, edisi 1/ Juli 2014 akhirnya terbit. Majalah bermoto “memandang  dengan kritis dan cerdas” ini hadir setebal 40 halaman dan sejumlah rubrikasi, di antaranya Laporan, Opini, Tausiyah, Puisi, Cerpen dan beberapa lagi.

Telah Terbit An-Nadzroh, Majalah MTs Darul Ulum (Sumber Gambar : Nu Online)
Telah Terbit An-Nadzroh, Majalah MTs Darul Ulum (Sumber Gambar : Nu Online)

Telah Terbit An-Nadzroh, Majalah MTs Darul Ulum

Maya Mayla Shofa, Pemimpin Redaksi An-Nadzroh mengatakan, dengan terbitnya majalah tersebut memotivasi peserta didik lain untuk berkecimpung di dalamnya. “Majalah ini semoga memberikan motivasi kepada siswa lain untuk bergabung lalu turut serta berkarya,” terang Maya.

Pembina Jurnalistik I, Ani Rosita menyampaikan, keinginan untuk menerbitkan sudah lama namun belum tercapai. “Dulu kami konsisten menerbitkan majalah dinding secara berkala. Alhamdulillah tahun ini bisa menerbitkan majalah,” jelasnya.

Ustadz Felix Siaw

Sementara itu, Kepala MTs Darul Ulum, A Taufiq dalam sambutannya di halaman 1 mengungkapkan, keberadaan media madrasah untuk menampung kreasi, kreativitas dan potensi warga madrasah bidang tulis-menulis.

Ustadz Felix Siaw

Ia berharap, An-Nadzroh juga menjadi wahana memperkenalkan kepada siswa dan khalayak eksistensi MTs Darul Ulum.

Waka kesiswaan, Solihul Hadi menyatakan, di edisi majalah tersebut tentu banyak kekurangan. Solihul mengharapkan kritik dan saran dari pembaca untuk perbaikan edisi berikutnya. “Agar kedepan majalah ini tambah berkualitas dengan karya-karya yang kreatif dan makin inovatif,” harapnya. (Syaiful Mustaqim/Mahbib)  

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw AlaNu Ustadz Felix Siaw

Senin, 23 Juli 2012

Halaqoh Kiai Muda, GP Ansor Malang Angkat Islam Sebagai Rahmat

Malang, Ustadz Felix Siaw. Sejumlah pengurus pesantren menghadiri acara Halaqoh Kiai Muda IV yang diselenggarakan PC GP Ansor Malang di Aula STAI Raden Rahmat Kepanjen Malang, Jawa Timur, Ahad (24/11). Halaqah ini mengangkat tema “Sinergi Menguatkan Islam Rahmatan Lil Alamin”.

Halaqoh Kiai Muda, GP Ansor Malang Angkat Islam Sebagai Rahmat (Sumber Gambar : Nu Online)
Halaqoh Kiai Muda, GP Ansor Malang Angkat Islam Sebagai Rahmat (Sumber Gambar : Nu Online)

Halaqoh Kiai Muda, GP Ansor Malang Angkat Islam Sebagai Rahmat

Tampak hadir dalam halaqah ini sejumlah tokoh pesantren. Mereka yang hadir antara lain pengasuh Pesantren Assidiqiyah Jakarta KH Noor Iskandar dan pengasuh Pesantren An-Nur Malang Gus Fahrur.

Kiai Noor Iskandar mengatakan, rahmatan lil alamin berarti kasih sayang bagi semesta alam. Maksudnya, kehadiran Islam di tengah kehidupan masyarakat mampu mewujudkan kedamaian dan kasih sayang bagi manusia maupun alam.

Ustadz Felix Siaw

“Pesan kerahmatan dalam Islam benar-benar tersebar dalam teks-teks Islam, baik Alquran maupun hadist,” tegas Kiai Noor Iskandar.

Ketua pelaksana halaqoh Husnul Syadad menyampaikan, penguatan Islam rahmatan lil alamin dibahas agar peserta dapat memperkaya wawasan yang nantinya bisa diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari. Dengan demikian terciptalah masyarakat yang damai dan rukun.

Ustadz Felix Siaw

Husnul menambahkan, agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW diperuntukkan bagi seluruh umat manusia pada umumnya dan melintas batas ruang dan waktu. Karenanya, Islam dikenal sebagai agama universal. Islam ditujukan untuk semua ras manusia tanpa kecuali. (Abdul Basyit/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Olahraga, Amalan, Pahlawan Ustadz Felix Siaw

Sabtu, 26 Mei 2012

Mendes Instruksikan Bupati Percepat Penetapan Dana Desa

Jakarta, Ustadz Felix Siaw. Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Marwan Jafar meminta bupati/wali kota mempercepat menerbitkan peraturan tentang penetapan dana desa dan Perda APBD 2015 yang diminta Kementerian Keuangan sebagai syarat pencairan dana desa.

Mendes Instruksikan Bupati Percepat Penetapan Dana Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
Mendes Instruksikan Bupati Percepat Penetapan Dana Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

Mendes Instruksikan Bupati Percepat Penetapan Dana Desa

"Informasi terakhir dari Ditjen Perimbangan Keuangan per tanggal 30 April 2015, baru 100 kabupaten yang telah menerima penyaluran dana desa tahap pertama (40%), dari total 434 kabupaten/kota," ujarnya di Jakarta, lewat rilis Kemendesa PDTT yang diterima Ustadz Felix Siaw, Rabu (6/5).

Dana desa, kata Marwan, baru tercairkan tahun ini sebesar Rp 1,762 triliun, atau baru 8,49% dari total Rp 20,766 triliun. "Atau sekitar 23% kabupaten/kota yang menerima penyaluran dana desa tahap pertama di akhir April 2015," jelasnya.

Ustadz Felix Siaw

Lambatnya pencairan dana desa itu disebabkan karena belum disampaikannya dua prasyarat oleh kabupaten/kota ke Kementerian Keuangan, yaitu Perda APBD 2015 dan terutama Perbup/Perwalikota tentang Penetapan Dana Desa 2015.

Ustadz Felix Siaw

"Kementerian Keuangan akan tetap memproses penyaluran dana desa tahap pertama, tergantung dari kesiapan Pemda Kabupaten/Kota dalam menyampaikan pra-syarat penyaluran yang diminta," ujar Marwan.?

Dijelaskan Marwan, dana desa digunakan untuk membiayai pembangunan dan pemberdayaan masyarakat sesuai dengan prioritas penggunaan yang ditetapkan oleh Kementerian Desa.?

Namun penggunaan dana desa untuk kegiatan yang tidak termasuk prioritas dapat dilakukan sepanjang kebutuhan untuk pemenuhan kegiatan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat telah terpenuhi.

"Penggunaan dana untuk kegiatan yang tidak prioritas harus mendapatkan persetujuan bupati/walikota. Persetujuan diberikan pada saat evaluasi terhadap Rancangan Peraturan Desa tentang APB Desa," katanya.? Karena itulah, Mendes kembali mengingatkan desa yang belum menyiapkan RPJMDes, RKPDes, dan APBDes agar segera mempercepat penyelesaiannya.?

"Dana itu adalah hak desa yang diatur oleh undang-undang, eman-eman? (sayang) jika tidak diserap untuk pembangunan ekonomi pedesaan," ujar Marwan menjelaskan. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Hadits Ustadz Felix Siaw

Minggu, 20 Mei 2012

HUT Ke-72, TNI Gandeng UNU Sidoarjo Gelar Lomba Hafal Al-Quran

Sidoarjo, Ustadz Felix Siaw - Dalam rangka memperingati HUT ke-72 TNI, Korem 084 Bhaskara Jaya bersama Kodim 0816 Sidoarjo berkerja sama dengan Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (Unusida) menggelar Musabaqah Hafidzil Quran (MHQ) tingkat Mahasiswa 2017.

Acara yang digelar di Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo ini diikuti sedikitnya 18 peserta putra-putri dari perwakikan 9 Kodim di bawah naungan Korem Bhaskara Jaya.

HUT Ke-72, TNI Gandeng UNU Sidoarjo Gelar Lomba Hafal Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)
HUT Ke-72, TNI Gandeng UNU Sidoarjo Gelar Lomba Hafal Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)

HUT Ke-72, TNI Gandeng UNU Sidoarjo Gelar Lomba Hafal Al-Quran

Salah satu panitia lokal dari Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo Muhammad Najib Arjamy mengatakan, peringatan ini dilaksanakan di Gresik dan Sidoarjo selama 2? hari mulai tanggal 6-7 Juni 2017.

Ustadz Felix Siaw

"Lomba ini diikuti perwakilan dari Kodim-kodim. Yang menjadi juara 1 di tingkat Korem akan diikutkan di tingkat Kodam," kata Muhammad Najib Arjamy, Rabu (7/6).

Ia menambahkan, selain Musabaqah Hafizhil Quran (MHQ), peringatan ini juga diramaikan dengan lomba hadrah dan paduan suara yang bertempat di Bangkalan dan Surabaya pada tanggal 8-9 mendatang. (Moh Kholidun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw

Ustadz Felix Siaw Cerita, Quote Ustadz Felix Siaw

Rabu, 25 April 2012

UNU Sidoarjo Naik Peringkat pada Anugrah Kampus Unggul Kopertis

Sidoarjo, Ustadz Felix Siaw - Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Sidoarjo, Jawa Timur, berada di posisi Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di kelompok Madya. Hal ini atas penilaian dari Koordinator Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) VII yang diselenggarakan oleh Kopertis VII dalam ajang Anugrah Kampus Unggul 2016 pada Selasa, 26 April lalu.

Berdasarkan Surat Keputusan Koordinator Kopertis Wilayah VII Nomor: 063/K7/SK/KL/2016 tanggal 16 Mei 2016 tentang penetapan PTS penerima Anugerah Kampus Unggulan dan Unggul Perguruan Tinggi Swasta di wilayah Kopertis VII, UNU Sidoarjo menempati posisi ke-37 di kelompok Madya. Sedangkan tahun 2015 lalu, kampus tersebut menempati peringkat 42 di kelompok yang sama.

UNU Sidoarjo Naik Peringkat pada Anugrah Kampus Unggul Kopertis (Sumber Gambar : Nu Online)
UNU Sidoarjo Naik Peringkat pada Anugrah Kampus Unggul Kopertis (Sumber Gambar : Nu Online)

UNU Sidoarjo Naik Peringkat pada Anugrah Kampus Unggul Kopertis

Rektor UNU Sidoarjo, Fatkul Anam, mengaku senang dengan hasil yang diperoleh tahun ini. Targetnya, semakin tahun peringkat UNU Sidoarjo akan semakin naik.

Ustadz Felix Siaw

"Meski kita kampus baru, kita tidak kalah dengan kampus-kampus lain. Semoga dengan semakin meningkatnya peringkat ini akan dapat memacu civitas akademika untuk giat memberikan yang terbaik demi kemajuan kampus dan peningkatan peringkat," ungkap Rektor yang akrab disapa Pak Anam itu, Senin (25/7).

Senada dengan Anam, Kepala Biro Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan UNU Sidoarjo, Hadi Ismanto mengatakan, UNU yang baru berusia dua angkatan sangat bersyukur bisa menempati posisi sebagai Madya.

Ustadz Felix Siaw

"Bagi kami, bisa masuk di kelompok kampus Madya merupakan kebanggaan, karena usia UNU Sidoarjo masih belum tiga tahun tapi bisa menempati posisi tersebut, dari 329 perguruan tinggi di regional VII," ucap Hadi.

Anugerah Kampus Unggul yang digelar oleh Kopertis VII ini bertujuan untuk mendorong peningkatan mutu kampus-kampus swasta yang ada di wilayah naungannya. Selain itu juga memacu perguruan tinggi untuk taat asas.

Dalam penganugerahan tersebut, Kopertis VII membagi penghargaan dalam tiga kelompok, yakni: Pratama, Madya, dan Utama. Tiga kelompok tersebut diisi oleh universitas, institut, sekolah tinggi, akademi, dan politeknik. (Moh Kholidun/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Olahraga, Pertandingan, IMNU Ustadz Felix Siaw

Sabtu, 21 April 2012

Cucu Syekh Abdul Qodir al-Jailani Meriahkan Harlah NU di Bojonegoro

Bojonegoro, Ustadz Felix Siaw

Cucu Syekh Abdul Qodir al-Jailani Syekh Muhammad Fadhil al-Jailani al-Hasani menghadiri peringatan hari lahir ke-93 Nahdlatul Ulama yang diselenggarakan Majelis Wakil Cabang NU (MWCNU) Kecamatan Balen, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Cucu Syekh Abdul Qodir al-Jailani Meriahkan Harlah NU di Bojonegoro (Sumber Gambar : Nu Online)
Cucu Syekh Abdul Qodir al-Jailani Meriahkan Harlah NU di Bojonegoro (Sumber Gambar : Nu Online)

Cucu Syekh Abdul Qodir al-Jailani Meriahkan Harlah NU di Bojonegoro

Syekh Fadhil memberikan ijazah (sanad keilmuan) kepada para jamaah yang hadir, berua shalawat dan lainnya, yang dibacakan dengan menggunakan bahasa Arab. Setelah membacakan ijazah itu, para jamaah secara serentak mengucapkan qabilna atau kami terima.

Di hadapan ribuan warga NU, ia mengaku hanya Indonesia yang paling ia senangi selama berkeliling dunia. "Sudah sembilan tahun datang ke Indonesia, tidak pernah merasa menjadi orang asing di Indonesia. Indonesia negera kedua saya," kata Syekh Fadhil, melalui penerjemah Abdul Aziz Ibnu Abdil, Sabtu (23/4) itu.

Ustadz Felix Siaw

Syekh Fadhil juga menjelaskan tentang keistimewaan angka tujuh. "Hikmah angka 7 banyak, angka itu keramat, angka istimewa," katanya yang juga memaparkan bahwa setiap perbuatan baik diganjar 10 dan setiap sepuluh itu berlipat tujuh, sehingga menjadi 70. Syekh Abdul Qodir juga dikatakan sebagai wali tingkat tujuh di antara wali-wali yang lain.

Acara digelar di halaman Yayasan Pondok Pesantren Raudlotut Tholibin (YPPRT) Balen. Cucu Syekh Abdul Qodir al-Jailani asal Turki itu mendapat sambutan hangat dari warga NU. Usai kegiatan, jamaah yang berbaju putih-putih secara bergantian berjabat tangan dengannya secara tertib.

Ustadz Felix Siaw

Sebelum pengajian dimulai, momen peringatan harlah ke-93 NU ini diisi acara pengukuhan para pengurus baru Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Balen. Ketua MWCNU Kecamatan Balen H Mulazim menyebut para pengurus baru sebagai generasi mendatang kepemimpinan NU. (M. Yazid/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Pemurnian Aqidah, Meme Islam, Quote Ustadz Felix Siaw

Rabu, 11 April 2012

Ulama Nusantara Kembangkan Islam dengan Ilmu dan Pergulatan Sosial

Jakarta, Ustadz Felix Siaw. Rais Aam PBNU KH A Mustofa Bisri (Gus Mus) menyebut kekhasan pengembangan Islam di Nusantara. Jaringan ulama Aswaja yang memiliki kedalaman ilmu agama dan meleburnya mereka di tengah masyarakat, dengan sendirinya membentuk corak masyarakat Nusantara yang khas pula.

“Keterlibatan ulama di tengah perubahan masyarakat tanpa henti, menjadi ciri khas ulama Nusantara yang bertanggung jawab untuk terus memberikan tawaran pemikiran yang terbaik di zamannya,” kata Gus Mus pada forum yang diinisiasi Jakarta Foreign Correspondents Club (JFCC) di Jakarta, Kamis (28/5).

Ulama Nusantara Kembangkan Islam dengan Ilmu dan Pergulatan Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Nusantara Kembangkan Islam dengan Ilmu dan Pergulatan Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Nusantara Kembangkan Islam dengan Ilmu dan Pergulatan Sosial

Pada diskusi bertema Indonesias Role In Addressing Global Islamist Extremism, Gus Mus yang hadir sebagai narasumber menyebut, konsekuensi dari metode dakwah ulama Nusantara itu berujung pada pembentukan masyarakat muslim yang bergerak dalam bimbingan ulama itu sendiri.

Ustadz Felix Siaw

“Dengan kedalaman ilmunya dan pemahaman atas dinamika sosial itu, para ulama mengedepankan kebersamaan, gotong royong, dan persatuan sosial. NKRI yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945, jelas merupakan konsep yang mencerminkan pemahaman Islam Aswaja yang berintikan rahmat terhadap sesama,” kata Gus Mus.

NU sendiri hadir dalam rangka merawat kebersamaan jaringan ulama Aswaja di Nusantara dalam tugasnya membimbing masyarakat. Para pendiri NU dengan kesadarannya akan jaringan ulama Nusantara ini mencoba menajamkan gerakan agar lebih terstruktur untuk memegang prinsip lama dan mengembangkan diri.

Ustadz Felix Siaw

Gus Mus kemudian menyebut NU sebagai komunitas epistemik dalam pengertian, “Kelompok ulama sebagai intelektual pemikir yang terus-menerus mengembangkan gagasan-gagasan mengenai Islam Nusantara sebagai sistem nilai dan penerapannya dalam menanggapi masalah-masalah aktual dari waktu ke waktu.”

NU juga membangun struktur kepemimpinan sosial yang efektif dengan ulama dalam posisi tertinggi. Dengan supremasinya di tengah masyarakat, ulama NU membimbing basis massanya yang luas dalam mengamalkan ajaran Islam Nusantara dalam praktik nyata hidup keseharian. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw PonPes, Nasional, Kyai Ustadz Felix Siaw

Jumat, 06 April 2012

Sukseskan Konferensi NU, 1500 Santri Konvoi Sejauh 30 Km

Tasikmalaya, Ustadz Felix Siaw - Sebanyak 1500 santri Pesantren Baitul Hikmah Haurkuning Salopa ikut memeriahkan Konferensi Cabang Nahdlatul XVI. Mereka menggelar konvoi sejauh 30 km ke lokasi konferensi di Pondok Pesantren Cipasung Singaparna, Kamis (29/12).

Gemuruh nyanyian mars Baitul Hikmah dan lagu-lagu khas NU menghiasi rombongan santri berseragam putih di atas mobil bak. Tercatat 45 mobil santri putra dan putri ditambah sembilan mobil ranting NU di seluruh Salopa.

Sukseskan Konferensi NU, 1500 Santri Konvoi Sejauh 30 Km (Sumber Gambar : Nu Online)
Sukseskan Konferensi NU, 1500 Santri Konvoi Sejauh 30 Km (Sumber Gambar : Nu Online)

Sukseskan Konferensi NU, 1500 Santri Konvoi Sejauh 30 Km

Pengasuh Pesantren Baitul Hikmah Haurkuning Salopa KH Acep Salahudin mengatakan, konvoi ini dilandasi oleh rasa kepemilikian terhadap NU. NU merupakan pesantren besar dan pesantren merupakan NU kecil.

Ustadz Felix Siaw

Ketua MWCNU Salopa ini melanjutkan, tidak hanya santri yang dikerahkan, tapi ranting-ranting NU pun ikut memeriahkan. Setiap ranting NU menggunakan satu mobil. Rombongan MWCNU Salopa juga berpartisipasi.

Ustadz Felix Siaw

“Ini semua dalam rangka rasa memiliki, NU milik kita, milik pesantren, milik seluruh umat Muslim,” jelas putra Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Tasikmalaya periode 2010 KH Saepuddin Zuhri rahimahullah.

Salah satu santri Haurkuning yang mengikuti konvoi, Asy’ari, mengatakan dirinya merasa bangga dengan mengikuti kegiatan ini. “Ketika ada momen seperti ini saya teringat wasiat KH Saepuddin Zuhri. Yang pertama wajib mertahankeun aqidah syariah dan akhlaq Ahlussunnah wal Jamaah. Yang kelima kudu jadi NU.” (Husni Mubarok/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Aswaja Ustadz Felix Siaw

Senin, 02 April 2012

Indonesia Dorong ILO Perbaiki Tata Kelola Migrasi Pekerja

Jenewa, Ustadz Felix Siaw. Indonesia mendorong Organisasi Buruh Internasional (International Labour Organization/ILO) untuk memperbaiki tata kelola migrasi pekerja secara global.

Hal tersebut ditegaskan oleh Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja, Kementerian Ketenagakerjaan RI, Haiyani Rumondang, dalam pernyataannya di depan sidang sesi ke-331 Governing Body (GB) ILO di Jenewa, Swiss, pada Kamis (8/11) waktu setempat.

“Tata kelola migrasi pekerja yang adil dan efektif sangat penting guna memastikan perlindungan hak-hak pekerja migran. Mengingat perlindungan pekerja migran merupakan isu prioritas bagi Indonesia, Pemerintah RI akan senantiasa mendukung upaya global, termasuk penguatan peran ILO, dalam memperbaiki tata kelola migrasi pekerja di berbagai level,” kata Dirjen Haiyani di hadapan Direktur Jenderal ILO dan seluruh negara anggota, wakil pekerja dan pengusaha anggota GB ILO.

Indonesia Dorong ILO Perbaiki Tata Kelola Migrasi Pekerja (Sumber Gambar : Nu Online)
Indonesia Dorong ILO Perbaiki Tata Kelola Migrasi Pekerja (Sumber Gambar : Nu Online)

Indonesia Dorong ILO Perbaiki Tata Kelola Migrasi Pekerja

Haiyani menambahkan bahwa Indonesia mendukung inisiatif ILO untuk meningkatkan bantuan teknis kepada negara-negara anggota dalam hal pengembangan ketrampilan bagi pekerja migran agar dapat selaras dengan permintaan pasar kerja global. 

Ditekankannya pula bahwa Indonesia juga telah mengembangkan berbagai program pelatihan guna meningkatkan ketrampilan dan kompetensi para pekerja migran Indonesia yang dilaksanakan oleh 281 pusat pelatihan di berbagai wilayah di Indonesia.

“Dalam pertemuan ini, GB telah menyetujui Rencana Aksi ILO untuk Tata Kelola Migrasi Pekerja yang Efektif dan Adil. Rencana Aksi tersebut merupakan tindak lanjut resolusi yang disahkan dalam pertemuan International Labour Conference (ILC) pada bulan Juni 2017 yang lalu dan akan diimplementasikan dalam lima tahun ke depan” demikian disampaikan oleh Duta Besar Hasan Kleib, Wakil Tetap RI untuk PBB, WTO dan Organisasi Internasional ainnya di Jenewa. 

Ustadz Felix Siaw

Duta Besar Hasan Kleib juga menambahkan bahwa dalam implementasi Rencana Aksi tersebut, ILO berencana akan mengembangkan database ILOSTAT mengenai migrasi pekerja di berbagai kawasan dengan merujuk pada model yang selama ini telah dikembangkan oleh ILO di ASEAN. 

Hal tersebut sejalan dengan upaya Pemerintah RI yang juga terus mengembangkan database pekerja migran yang terintegrasi guna meningkatkan upaya perlindungan terhadap pekerja migran Indonesia. Tata kelola pekerja migran menjadi salah satu isu penting yang dibahas dalam pertemuan sidang sesi ke-331 GB ILO yang berlangsung di Jenewa, Swiss, tanggal 30 Oktober 2017 - 9 November 2017. 

Ustadz Felix Siaw

GB merupakan badan eksekutif ILO yang terdiri dari 56 negara dimana Indonesia saat ini menjabat sebagai Deputy Member dan memiliki mandat memutuskan kebijakan, anggaran dan program-program ILO. (Red: Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Pendidikan Ustadz Felix Siaw

Selasa, 06 Maret 2012

IAIN Jember Segera Bertransformasi Jadi UIN

Jember, Ustadz Felix Siaw. Setelah berhasil naik status dari Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember dua setengah tahun lalu, kini mereka telah mempersiapkan diri bertransformasi menjadi Universitas Islam Negeri (UIN).?

IAIN Jember Segera Bertransformasi Jadi UIN (Sumber Gambar : Nu Online)
IAIN Jember Segera Bertransformasi Jadi UIN (Sumber Gambar : Nu Online)

IAIN Jember Segera Bertransformasi Jadi UIN

Seakan berpacu dengan waktu, petinggi IAIN Jember terus berupaya memenuhi segala persyaratan untuk merealisasikan keinginan tersebut, baik dari sisi sumber daya manusia ? maupun pembanguan fisik.

Menurut Rektor IAIN Jember, Babun Suharto, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Islam, Kementerian Agama sudah menyetujui kenaikan status IAIN menjadi UIN Jember.?

"Secara prinsip, sudah disetujui. Surat dari Kementerian Agama juga sudah kami terima. Tinggal melengkapi sejumlah persyaratan lain," ucapnya di Jember, Jumat (28/4).

Ustadz Felix Siaw

Mantan Ketua PC GP Ansor Jember itu menambahkan, saat ini IAIN Jember memiliki 5 guru besar, 50 tenaga bergelar doktor, dan beberapa lainnya sedang menempuh pendidikan S3 baik di dalam maupun di luar negeri.?

Pada saat yang sama, sarana dan prasarana pendidikan terus dilengkapi, termasuk pembukaan sejumlah program studi baru. Dengan demikian, diharapkan perubahan status tersebut segera bisa diwujudkan.?

"Karena itu, saya butuh dukungan semua pihak, dan saya yakin dalam waktu tak terlalu lama, Jember bakal memiliki UIN," lanjutnya.

Ustadz Felix Siaw

Di tempat terpisah, dukungan perubahan status tersebut datang dari Ketua PCNU Jember, KH Abdullah Syamsul Arifin. Menurutnya, akan menjadi kebanggaan tensendiri bagi warga Jember jika perguruan tinggi yang embrionya digagas oleh kiai dan tokoh NU tersebut, kelak menjadi UIN.?

"Harapan kita semua, IAIN Jember bisa segera menjadi UIN," ucapnya.

Sebelumnya, tokoh NU Jawa Timur, Hasan Aminuddin saat bekunjung ke Jember ? memberikan dukungannya terhadap rencana perubahan status IAIN Jember. Bahkan ia mengusulkan agar IAIN Jember membuka program-program studi yang menjadi peluang dan banyak dibutuhkan untuk menjawab tantangan zaman ke depan, seperti entepreneurship dan ekonomi kreatif. (Aryudi A. Razaq/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Tokoh Ustadz Felix Siaw

Kamis, 01 Maret 2012

Ini Penyebab Beragama di Nusantara Banyak Kenduri

Jakarta, Ustadz Felix Siaw 



Ketua Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) PBNU KH Agus Sunyoto mengatakan di dalam bahasa lokal Nusantara hampir tidak ditemukan kata searti dengan miskin. 

Ini Penyebab Beragama di Nusantara Banyak Kenduri (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Penyebab Beragama di Nusantara Banyak Kenduri (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Penyebab Beragama di Nusantara Banyak Kenduri

“Kalau kita belajar ilmu bahasa, kita akan menemukan fakta bahasa-bahasa lokal kuno, Jawa kuno, Sunda kuno, Bali, tidak kita temukan kosa kata yang sama artinya dengan miskin. Tidak ada,” katanya di gedung PBNU, Jumat 28 Juli lalu.  

Menurut dia, miskin berasal dari bahasa Arab, kata yang belakangan masuk karena pengaruh Islam. Kata fakir, juga bahasa Arab. Begitu juga kata melarat, yang berubah dari asal kata mudharat yang berasal dari bahasa yang sama. 

“Tidak dikenal istilah miskin,” katanya pada Silaturahim Kebudayaan bertema “Meneguhkan Kebudayaan, Memperkuat Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia” yang digelar Lesbumi PBNU.

Hal itu, lanjutnya, berkaitan dengan pemilikan makanan orang Nusantara. Pada zaman kuno, di tiap desa, pedukuhan, rumah, orang Nusantara mempunyai lumbung makanan persediaan. 

Ustadz Felix Siaw

“Nah, orang yang berlimpah makanan punya kebiasaan cara berpikir untuk membagi makanan.”

Jadi, kata dia, orang Jawa itu mulai lahir sudah mengucapkan syukur dengan membagi makanan. Namanya berokohan. Pada kegiatan itu tetangga diundang untuk mencicipi. Kemudian berdoa bersama, pulang membawa berkat. 

Pada usia tujuh hari setelah kelahiran, ada upacara lepas tali pusar. Slametan lagi. Makan lagi. Pulang bawa akanan lagi. 

“Nanti selapanan, 35 hari, makan lagi. Upacara lagi. Turun tanah, khitan, kawin, lamaran, dengan kenduri selamaten, sampai mati pun makan karena kita lumbung makanan,” jelasnya.

Ustadz Felix Siaw

Kemudian, penulis buku populer “Atlas Wali Songo; Buku Pertama yang Mengungkap Wali Songo sebagai Fakta Sejarah” ini belakangan bermunculan cara pandang Timur Tengah yang melihat membagi makanan secara aneh. Bagi mereka mubazir dan bid’ah. 

“Mereka memandang dengan cara etik, pandangan orang asing.sementara pandangan kita wajar, wong kita berlimpah makanan. Kalau tidak membagi makanan, salah kita. Kenapa Islam kita berbeda? Karena melimpah makanan,” katanya. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Aswaja, Quote Ustadz Felix Siaw

Jumat, 24 Februari 2012

Kunjungi PBNU, JK Doakan NU Tambah Maju dan Makmur

Jakarta, Ustadz Felix Siaw. Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) memenuhi undangan PBNU dalam kapasitasnya sebagai salah seorang mustasyar atau penasehat PBNU dalam rapat tertutup yang berlangsung pada Rabu (16/4).

Kepada para wartawan, ia menegaskan, sama sekali tidak ada pembicaraan politik dalam pertemuan tersebut. “Saya datang ke PBNU bukan hanya sekarang, saya selalu datang kalau diundang,” jelasnya.

Kunjungi PBNU, JK Doakan NU Tambah Maju dan Makmur (Sumber Gambar : Nu Online)
Kunjungi PBNU, JK Doakan NU Tambah Maju dan Makmur (Sumber Gambar : Nu Online)

Kunjungi PBNU, JK Doakan NU Tambah Maju dan Makmur

Meskipun tidak menjelaskan detail pertemuan tersebut, rapat tersebut merupakan upaya untuk terus meningkatkan kinerja organisasi.?

Ustadz Felix Siaw

“Saya berdoa NU terus maju dan tambah makmur,” tandasnya.?

Ustadz Felix Siaw

JK merupakan putra H Kalla, tokoh NU di Sulawesi Selatan. Dalam penyelenggaraan muktamar ke-32 di Makassar tahun 2010 lalu, ia membantu mensukseskan acara lima tahunan NU tersebut.

Ia merupakan salah satu calon presiden yang diusung oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), partai yang pendiriannya difasilitasi oleh PBNU.

KH Said Aqil Siroj yang mendampingi JK menjelaskan, rapat tersebut membahas berbagai persoalan internal organisasi, diantaranya rencana penyelenggaraan musyawarah nasional dan konferensi besar (munas dan konbes) yang akan berlangsung awal Mei mendatang di Jakarta. ?

Rapat tersebut dihadiri oleh Rais Aam PBNU KH Mustofa Bisri, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj serta para pengurus NU lainnya. (mukafi niam)

Foto: antara

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Sunnah, Syariah Ustadz Felix Siaw

Sabtu, 11 Februari 2012

Dikukuhkan, FKUB Generasi Muda

Semarang, Ustadz Felix Siaw. Forum Kerukunan Umat Beragama Generasi Muda (FKUB GM) Jawa Tengah yang baru pertama ada di Indonesia dan menjadi percontohan, Jum’at (30/12) kemarin dikukuhkan. pengurusnya dilantik.

Dikukuhkan, FKUB Generasi Muda (Sumber Gambar : Nu Online)
Dikukuhkan, FKUB Generasi Muda (Sumber Gambar : Nu Online)

Dikukuhkan, FKUB Generasi Muda

Pelantikan dilaksanakan di Hotel Muria, Jl Dr Cipto Semarang, oleh Wakil Gubernur Jateng Rustriningsih didampingi Kepala Badan Kesbangpollinmas Jateng Agus Tusono dan seluruh pengurus FKUB Jateng.

Disaksikan hadirin utusan FKUB kabupaten/kota se-Jateng dan pejabat Kantor Kanwil Kemenag Jateng, organiasi baru para aktivis muda lintas agama itu dikukuhkan untuk berkiprah menjaga kerukunan umat beragama di kalangan generasi muda.

Ustadz Felix Siaw

Mereka terdiri atas Ketua Imam Fadhilah (Islam), Wakil Ketua Iqbal Birsyada (Islam), Wakil Ketua Pdt Timotius Setyanto (Kristen), Sekretaris Titus Bayu Santoso (Katholik), Sekretaris II Chandra Purnama Sari (Budha), Bendahara Eko Pujianto (Hindu) Bendahara II Giyanto Wijaya Salim (Kong Hu Chu). 

Ustadz Felix Siaw

Ditambah para pengurus bidang yang mewakili unsur enam agama di Indonesia.

Dibentuk di Seluruh Jateng

Ketua FKUB Jateng Abu Hapsin Umar didampingi jajaran pengurus menyatakan, pihaknya akan berupaya membentuk FKUB GM di seluruh kabupaten atau kota se-Jawa Tengah.  Targetnya, dalam tahun 2012 bisa selesai di 35 daerah di Jateng.

 “Kami mengupayakan agar FKUB GM bisa terbentuk di seluruh kabupatan/kota se-Jateng dalam tahun 2012 ini. Semoga ini kepeloporan ini membawa kebaikan dan bisa menyebar ke seluruh Indonesia,” tuturnya.

Ketua FKUB GM Iman Fadhillah menyatakan, forum yang dipimpinnya bertugas membantu FKUB yang sudah ada dalam upaya menjalin dialog antar umat beragama di kalangan generasi muda.

“Kami akan menjadi fasilitator bagi para pemuda lintas agama untuk membicarakan isu-isu strategis dalam relasi antar agama,” terang akvitis muda Nahdlatul Ulama ini.

Dosen Fakultas Syariah IAIN Walisongo Semarang ini menambahkan, forumnya telah menggelar rapat kerja dan memprogramkan banyak kegiatan. Diantaranya mengadakan Kongres Pemuda Antaragama yang mempertemukan pemuda lintas agama dari seluruh kabupaten/kota di Jawa Tengah.

Sementara itu, Wakil Gubernur (Wagub) Jateng Rustriningsih dalam sambutannya mengingatkan agar generasi muda Jawa Tengah terus menjaga kerukunan antarumat beragama agar tercipta suasana yang guyub, dan harmonis. Ia meminta pengurus FKUB GM Jateng membangun terus komunikasi lintas agama.

“Fasilitasi aspirasi umat dengan baik dan sosialisasikan kebijakan yang berkaitan dengan kerukunan umat beragama.”

Rustri berharap FKUB GM menjadi pionir dalam kehidupan sosial, dengan  program pemberdayaan  masyarakat dalam aktivitas yang positif seperti bhakti lingkungan, peduli korban bencana, dan pelatihan kerja.

Secara khusus Wagub menyampaikan penghargaan kepada Gerakan Pemuda Ansor yang pasukannya, Banser,  selalu membantu pengamanan perayaan Natal.

“Hal itu sebagai wujud nyata kerjasama lintas agama untuk mendukung toleransi dan kerukunan beragama,” ucapnya seraya mendukung pembentukan FKUB GM di daerah di Jawa Tengah.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Ichwan

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Khutbah, Nahdlatul Ulama, PonPes Ustadz Felix Siaw

Selasa, 07 Februari 2012

Pesantren: Instrumen Sinergi antara Ilmu, Islam, dan Indonesia

Oleh Suwendi

Keberadaan pondok pesantren menempati posisi strategis terutama dalam konteks pengembangan keilmuan, keislaman, dan keindonesiaan. Ilmu, Islam, dan Indonesia dalam beberapa diskursus terkadang dipahami secara diametral, sehingga sulit ditemukan titik temu antara ketiganya. Ilmu yang oleh sebagian cendekiawan dikategorikan sebagai sesuatu yang ”bebas nilai”, sehingga memadukan antara ilmu dan Islam yang oleh sebagian pemikir disebut proses islamisasi ilmu (islamization of knowledge) menghadapi kendala yang cukup serius, baik pada tingkat  ontologi, epistemologi, dan aksiologinya. Demikian juga mengembangkan Islam yang berkarakter keindonesiaan oleh sebagian kelompok ditanggapi secara resistensial.





Pesantren: Instrumen Sinergi antara Ilmu, Islam, dan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren: Instrumen Sinergi antara Ilmu, Islam, dan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren: Instrumen Sinergi antara Ilmu, Islam, dan Indonesia

Sebagian masyarakat mengidentikkan Islam dengan dunia Timur, khususnya Arab. Islam adalah Arab, dan Arab adalah Islam. Bahkan, seringkali memperadukkan dan tidak membedakan antara: mana ajaran Islam dan mana budaya Arab. Dianggapnya semua budaya Arab adalah ajaran Islam, dan ajaran Islam adalah semua yang berasal dari Arab. Hal ini mengakibatkan Islam dianggapnya hanya milik Arab. Di sisi lain, kita tidak memiliki keyakinan untuk mengatakan bahwa Indonesia juga adalah Islam. Di Arab ada Islam, di Indonesia juga ada Islam. Di sinilah tantangan yang sangat serius bagi dunia pesantren untuk mencari  formulasi integrasi ”Ilmu, Islam, dan Indonesia” baik pada tingkat pengembangan akademik, kurikuler, maupun desain kelembagaan yang jelas.



Ustadz Felix Siaw

Sejumlah cendekiawan muslim Indonesia sesungguhnya telah banyak melahirkan ide-ide pembaharuan dalam Islam-Indonesia. Abdurrahman Wahid dengan gagasan ”Pribumisasi Islam”, Nurcholish Madjid dengan ide merelasikan antara ”Islam dan Modernitas”, Quraish Shihab dengan gagasan ”Membumikan Islam”, atau “Islam Aktual” milik Jalaluddin Rahmat, merupakan ijtihad yang luar biasa dalam merumuskan Islam yang ”kekinian” dan ”kedisinian”. Islam yang mampu menjawab problem kekinian dan modernitas serta Islam yang fungsional dan aktual diterapkan di sini, di Indonesia.



Problematika masa dulu dengan masa kini tentu berbeda dan jauh lebih komplek. Demikian juga tantangan di belahan dunia sana jauh berbeda dengan tantangan yang dihadapi negara ini. Oleh karenanya, transformasi keislaman dari Islam-potensial menjadi Islam-aktual
 begitu penting. Islam tidak hanya di langit, tetapi ada juga di bumi. Islam tidak hanya sebagai ajaran agung, tetapi juga ajaran yang mampu menyelesaikan persoalan kemanusiaan.



Dalam konteks itu, pesantren dituntut agar mampu melahirkan sejumlah pemikir, pembaharu, dan mujtahid yang melahirkan gagasan-gagasan besar, ide-ide transformatif yang mampu menempatkan Islam sebagai pemecah problematika kemanusiaan. Untuk itu,
 terdapat beberapa langkah yang perlu dilakukan oleh pondok pesantren ke depan.

Ustadz Felix Siaw



Pertama,
 jadikan pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan Islam nasional dan dunia yang berkarakter keindonesiaan. Ciri khas budaya dan tradisi keislaman dengan meneguhkan tradisi lokalitasnya perlu direvitalisasi dengan tetap terbuka atas wacana pembaharuan dan pemikiran yang kontributif bagi pengembangan pendidikan. Pesantren didorong untuk menjadi wadah dialektika pemikiran, keilmuan, dan kebangsaan dengan tetap teguh atas kekhasan yang dimiliki pesantren. Oleh karenanya, revitalisasi atas budaya dan kearifan lokal patut untuk dijunjung tinggi.



Kedua,
 jadikan pesantren sebagai media yang mampu membentengi dari pemikiran dan gerakan radikalisasi agama. Ancaman radikalisasi agama sangat kuat dan nyata, dan itu tidak bisa dibiarkan. Radikaliasi keagamaan harus hadapi dengan mengembangkan pemikiran dan gerakan keislaman yang rahmatan lil’alamin, pemikiran dan gerakan keislaman yang damai, yang menjunjung tinggi demokrasi, hak asasi manusia, multikultural, dan semangat kemanusiaan, dengan tanpa meninggalkan identitas dirinya sebagai makhluk Tuhan yang harus selalu beribadah kepada-Nya. Cara dan metode dakwah dan keagamaan yang dikembangkan oleh Walisongo patut diberikan ruang yang cukup. Dakwah yang dimaksud adalah dakwah yang menenteramkan dan menyejukkan umat, bukan dakwah yang mencaci maki atau menghegemoni pemahaman keagamaan. Umat Islam Indonesia membutuhkan dan mendambakan lulusan pesantren yang mampu menyatukan dan meneguhkan kebersamaan, bukan menyalahkan dan menyudutkan.





Ketiga, dengan bertambahnya varian-varian layanan pendidikan di lingkungan pesantren, bukan berarti lalai atau meninggalkan kajian dan konsentrasi keilmuan yang justru menjadi identitas lembaga pesantren. Hal ini patut menjadi perhatian, pasalnya belakangan mulai terjadi fenomena dengan mengakomodasi sejumlah layanan pendidikan  itu menjadikan kajian keagamaan (tafaquh fiddin) yang awalnya menjadi ciri dari pesantren malah justru semakin tertinggal. Ketika pesantren mengakomodasi layanan pendidikan formal, semisal sekolah dan madrasah, justru kajian kitab kuning semakin berkurang. Oleh karena itu, merevitasilasi pesantren yang hanya menyelenggarakan kajian kitab kuning mutlak dilakukan.



Keempat,
 pondok pesantren didorong untuk memiliki jaringan kerjasama (networking) yang luas, baik dalam pengembangan akademik, perpustakaan, sarana prasarana, maupun akses pemanfaatan lulusan. Kerjasama tidak hanya bersifat nasional, tetapi juga terhadap sejumlah lembaga berskala regional dan dunia. Kreativitas dan pemikiran out of the box juga diperlukan demi pengembangan pesantren yang lebih baik.



Tentu saja, di samping beberapa langkah di atas, masih banyak pemikiran dan upaya lain yang patut dirumuskan untuk menjadikan pesantren sebagai lembaga yang khas keilmuan, keislaman, dan keindonesiaan. 










Alumni Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon dan Dosen STAINU Jakarta



Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw AlaNu, Daerah, Warta Ustadz Felix Siaw

Rabu, 01 Februari 2012

Gus Miek, dari Khataman ke Tempat Perjudian

GUS MIEK adalah seorang yang sangat terkenal di kalangan guru sufi, seniman, birokart, preman, bandar judi, kiai-kiai NU, dan para aktivis. Dialah yang membangun tradisi pengajian Sema’an Al-Qur’an Jantiko Mantab dan pembacaan wirid dzikrul ghafilin bersama beberapa koleganya. 

Hamim Tohari Djazuli adalah nama lengkapnya. Ia dilahirkan pada 17 Agustus 1940 di Kediri dari pasangan KH Jazuli Usman dan Nyai Radliyah. Nyai Radliyah ini memiliki jalur keturunan sampai kepada Nabi Muhammad, sebagai keturunan ke-32 dari Imam Hasan, anak dari Ali bin Abi Thalib dengan Siti Fathimah.

Gus Miek, dari Khataman ke Tempat Perjudian (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Miek, dari Khataman ke Tempat Perjudian (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Miek, dari Khataman ke Tempat Perjudian

Ayah Gus Miek, KH. Jazuli Usman adalah pendiri pesantren Ploso Kediri. Ia pernah nyantri kepada banyak guru, di antaranya kepada KH Hasyim Asy`ari, Mbah Ma’ruf (KH Ma’ruf Kedunglo), KH Ahmad Shaleh Gondanglegi Nganjuk, KH Abdurrahman Sekarputih, KH Zainuddin Mojosari, KH Khazin Widang, dan Syaikh al-`Allamah al-Aidrus Mekkah. 

KH Jazuli Usman nama kecilnya adalah Mas Mas`ud. Dia telah sekolah di STOVIA yang ada di Batavia, tatkala anak-anak seangkatannya belum sekolah. Mas Mas`ud ini anak dari Mas Usman, kepala KUA Ploso, Kediri. Pada saat itu jabatan sebagai kepala KUA sangat bergengsi. Akan tetapi ayah Gus Miek lebih memilih hidup dan mendirikan pesantren.

Ustadz Felix Siaw

Sejak kecil, Gus Miek sudah tampak unik. Dia tidak suka banyak bicara, suka menyendiri, dan bila berjalan selalu menundukkan kepala. Akan tetapi Gus Miek juga sering masuk ke pasar, melihat-lihat penjual di pasar, sering melihat orang mancing di sungai. Bila keluarganya berkumpul, Gus Miek selalu mengambil tempat paling jauh. 

Ustadz Felix Siaw

Pada awalnya Gus Miek disekolahkan oleh KH Jazuli Usman di Sekolah Rakyat, tetapi tidak selesai karena dia sering membolos. Setelah itu Gus Miek belajar Al-Qur’an kepada ibunya, kepada Hamzah, Khoirudin, dan Hafidz. Ketika pelajaran belum selesai Gus Miek sudah minta khataman. Para gurunya jadi geleng-geleng kepala.

Ketika usia Gus Miek masih 9 tahun, dia sudah sering tabarrukan ke berbagai kiai sufi. Beberapa kiai yang dikunjunginya adalah KH Mubasyir Mundzir Kediri, Gus Ud (KH Mas’ud) Pagerwojo-Sidoarjo, dan KH Hamid Pasuruan. Di tempat Gus Ud Pagerwojo Sidoarjo, Gus Miek bertemu dengan KH Achmad Shidiq yang usianya lebih tua. KH Achmad Shidiq ini di kemudian hari sering menentang tradisi sufi Gus Miek, tetapi akhirnya menjadi kawan karibnya di dzikrul ghafilin.

Kebiasaan Gus Miek pergi ke luar rumah menggelisahkan orang tuanya. Akhirnya ayahnya memintnya ngaji ke Lirboyo, Kediri di bawah asuhan KH Machrus Ali, yang kelak begitu gigih menentang tradisi sufinya. 

Di Lirboyo Gus Miek bertahan hanya 16 hari  dan kemudian pulang ke Ploso. Ketika sadar orang tuanya resah akibat kepulangannya, Gus Miek justru akan menggantikan seluruh pengajaran ngaji ayahnya, termasuk mengajarkan kitab Ihya Ulumuddin. 

Tapi beberapa bulan kemudian, Gus Miek kembali ke Lirboyo. Ketika masih di pesantren ini, pada usia 14 tahun Gus Miek pergi ke Magelang, nyantri di tempatnya KH. Dalhar Watucongol, mengunjungi Mbah Jogoreso Gunungpring, KH Arwani Kudus, KH Ashari Lempuyangan, KH Hamid Kajoran, dan Mbah Benu Yogyakarta. Setelah itu Gus Miek pulang lagi ke Ploso.

Di Ploso, di tempat pesantren ayahnya, Gus Miek minta dinikahkan, dan akhirya ia menikah dengan Zaenab, putri KH. Muhammad Karangkates, yang masih berusia 9 tahun. Pernikahan ini berakhir dengan perceraian, ketika istrinya masih berusia sekitar 12 tahun. Pada masa ini Gus Miek sudah sering pergi untuk melakukan dakwah kulturalnya di berbagai daerah, tabarrukan ke berbagai guru sufi, dan mendapatkan ijazah wirid-wirid.

Pada tahun 1960 Gus Miek menikah dengan Lilik Suyati dari Setonogedong. Pernikahan ini atas saran dari KH. Dalhar dan disetujui KH. Mubasyir Mundzir, salah satu guru Gus Miek. Gadis itulah yang menurut gurunya akan sanggup mendampingi hidupnya, dengan melihat tradisi dan kebiasaan Gus Miek untuk berdakwah keluar rumah. 

Pada awalnya pernikahan Gus Miek dengan gadis Setonogedong ditentang KH Jazuli Utsman dan Nyai Radliyah. Setelah melalui proses yang panjang akhirnya pernikahan itu disetujui. Saat itu Gus Miek sudah berdakwah ke diskotek-diskotek, ke tempat perjudian, dan lain-lain. 

Dari berbagai perjalanan, riyadlah,  dan tabarrukan, Gus Miek akhirnya menyusun kembali wirid-wirid secara tersendiri yang didapatkan dari para gurunya. Pada awanya Gus Miek mendirikan Jama`ah Mujahadah Lailiyah tahun 1962. Sampai tahun 1971 jama`ah yang dirintis Gus Miek ini sudah cukup luas. 

Pada tahun 1971, para jama`ah Gus Miek dan masyarakat NU menghadapi dilema pemilu. Saat itu semua pegawai negeri diminta memilih Golkar oleh penguasa. Gus Miek sendiri tidak mencegah bila para pengikutnya yang PNS untuk memilih Golkar, karena situasi sosial saat itu di bawah rezim otoriter Soeharto. 

Metamorfosis dari komunits yang dibangun Gus Miek, semakin menampakkan bahwa ia mengembangkan tradisi wirid di luar kelompok tarekat yang sudah mapan di kalangan NU. Jama`ah Mujahadah Lailiyah yang dibangunnya berkembang menjadi dzikrul ghafilin. Pada tahun 1971-1973 susunan wirid-wirid dzikrul ghafilin diusahakan untuk dicetak, terutama setelah jangkauan dakwah Gus Miek telah menjangkau Jember. 

Bersama-sama KH Achmad Shidiq yang awalnya sangat menentang, tetapi akhirnya menjadi sahabatnya, naskah wirid dzikrul ghafilin berhasil dicetak. Naskah-naskah yang tercetak dibagikan kepada jaringan jama`ah Gus Miek: di Jember di bawah payung KH Achmad Shidiq, di Klaten di bawah payung KH Rahmat Zuber, di Yogyakarta di bawah payung KH Daldiri Lempuyangan, dan di Jawa Tengah di bawah payung KH Hamid Kajoran Magelang. 

Di samping mengorganisir dzikrul ghafilin, Gus Miek pada tahun 1986 juga mengorganisir sema’an Al-Qur’an. 

Beberapa bulan kemudian sema’an ini dinamakan Jantiko. Tahun 1987 sema’an Al-Qur’an Jantiko mulai dilakukan di Jember. Saat itu KH. Achmad Shidiq sudah menjadi Rais Am Syuriyah PBNU yang diangkat oleh Muktamar NU ke-27 di Situbondo tahun 1984. 

Dibandingkan dzikrul ghafilin, jama`ah Jantiko ini lebih cepat berkembang. Pada tahun 1989, Jantiko kemudian diubah namanya menjadi Jantiko Mantab atau Jantiko man taba. Ada juga yang mengartikan Mantab sebagai Majlis Nawaitu Tapa Brata. Dikatakan juga man taba itu berarti siapa bertaubat. Jantiko Mantab ini kemudian berkembang ke berbagi daerah. 

Perjuangan Gus Miek dengan dzikrul ghafilin, sema`an Al-Qur’an, dan tradisi sufinya ke tempat-tempat diskotek, tempat perjudian, dan lain-lain, sangatlah tidak mudah. Di tengah-tengah jam`iyah NU yang telah membakukan tarekat mu’tabarah, tradisi sufi Gus Miek mendapatkan perlawanan. Dzikrul ghafilin dianggap berada di luar kelaiman, tidak mu’tabarah. Penentangan datang dari orang yang sangat terkenal, sekaligus pernah menjadi gurunya di Lirboyo, yaitu KH Machrus Ali. 

Hanya saja, semua itu bisa dilewati Gus Miek dengan sabar. Yang paling menggemberikan karena KH Achmad Shidiq sebagai orang yang sangat dihormati di NU, yang pada awalnya menentang tradisi sufinya, kemudian bersama-sama mengembangkan dzikrul ghafilin di sekitar Jember dan sekitarnya.

Gus Miek wafat pada 5 Juni 1993. Dia dimakamkan di Pemakaman Tambak Kediri, diiringi ratusan ribu kaum muslimin. Di pemakaman ini pula KH Achmad Shidiq dimakamkan, di sebelah timur makam Gus Miek. Di pemakaman ini pula terdapat tidak kurang dari 22 orang yang kebanyakan menjadi guru sekaligus murid Gus Miek. [Nur Kholil Ridwan] 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Hadits, Budaya Ustadz Felix Siaw

Kamis, 19 Januari 2012

Majalah NU Sejak 1928

Tidak banyak yang tahu bahwa Nahdlatul Ulama telah memiliki Majalah untuk mengabarkan dan mempublikasikan kegiatannya sejak Shafar 1347 H bertepatan dengan tahun 1928 M. Majalah pertama NU ini ditulis dengan bahasa Jawa dengan tulisan Arab Pegon. ?

Dalam buku sejarwan NU asal Surabaya, Choirul Anam, perkembangan media milik PBNU telah didirikan sejak berkantor di Surabaya. Para ulama pendiri NU, ini mengetahui betul peran media dalam penyebaran dan propaganda untuk mengembangkan organisasi dan ajaran Islam.

Majalah NU Sejak 1928 (Sumber Gambar : Nu Online)
Majalah NU Sejak 1928 (Sumber Gambar : Nu Online)

Majalah NU Sejak 1928

Dalam terbitan pertamanya, majalah dengan Nama Swara Nahddlatoel Oelama itu dengan redaktur KH Wahab Chasbullah, Direktur Kiai Mas Badul Kohar dan pengarang KH Ahmad Dahlan, KH Mas Alwi bin Abdul Azis dan KH Ridwan.

Ustadz Felix Siaw

Majalah NU ini berkantor di Jalan Kawatan Gang Onderling Belang Nomor 9 Surabaya.? Isi majalah selain memberitakan internal kegiatan dan perjuangan NU, juga memuat perkembangan dunia Islam, masalah pemerintahan dan juga ilmu pengetahuan.

Soal pemasaran, para pendiri NU dan pengelola majalah ini sangat memahami pasar. Bahkan daftar harga berlangganan majalah dicantumkan. Untuk satu tahun berlangganan seharga 2,50; setengah tahun 1,40, tiga bulan 0,75. Langganan luar daerah dikenakan berbeda terkait ongkos kirim dan ditentukan "uang harus dibayar lebih doeloe."

Ustadz Felix Siaw

Tidak hanya soal berlangganan, harga advetorial juga sudah tercantum, baik untuk halaman muka maupun yang di dalam.

Dalam perkembangannya, Majalah Berita Nahdlatul Oelama pada tahun ke-6 atau 1936 H, sudah mencantumkan iklan sebuah toko yang menjual jas dan piayama.

Perkembangan majalah NU ini sepertinya banyak diminati pembaca. Kemudian dibuatlah majalah "Berita Nahdlatul Oelama”, “Oetoesan Nahdlatul Ulama” dengan bahasa bahasa Indonesia.

Perkembangan yang cukup pesat dan untuk keberlangsungan percetakan, KH Wahab Chasbullah bersama beberapa kawannya urunan membeli mesin cetak sendiri. "Begitulah totalitas KH Wahab kepada NU. Sepanjang hidupnya utuk mengembangkan NU," tulis Cak Anam yang juga mantan Ketua GP Ansor Jawa Timur ini. (Muslim Abdurrahman)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Hadits, Tegal Ustadz Felix Siaw

Selasa, 17 Januari 2012

Hukum Jual Kulit Hewan Kurban

Sebagian masyarakat Indonesia belakangan ini banyak yang menjual kulit dan kepala hewan kurban. Motifnya beraneka ragam. Ada yang karena berada di daerah dengan tingkat kemampuan perekonomian tinggi sehingga jumlah hewan kurban di daerahnya sangat banyak. Karena saking banyaknya daging, mereka tidak punya banyak waktu untuk mengurus kulit dan kepala hewan kurban.

Atau mungkin ada sebagian yang mempunyai motif ingin menghemat biaya operasional sehingga kulit dan kepala dijual untuk kemudian hasil penjualannya selain dibuat untuk biaya operasional, juga bisa dibuat membayar tukang jagal.

Hukum Jual Kulit Hewan Kurban (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Jual Kulit Hewan Kurban (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Jual Kulit Hewan Kurban

Imam Nawawi mengatakan, berbagai macam teks redaksional dalam madzhab Syafii menyatakan bahwa menjual hewan kurban yang meliputi daging, kulit, tanduk, dan rambut, semunya dilarang. Begitu pula menjadikannya sebagai upah para penjagal.

Ustadz Felix Siaw

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Beragam redaksi tekstual madzhab Syafii dan para pengikutnya mengatakan, tidak boleh menjual apapun dari hadiah (al-hadyu) haji maupun kurban baik berupa nadzar atau yang sunah. (Pelarangan itu) baik berupa daging, lemak, tanduk, rambut dan sebagainya.

Ustadz Felix Siaw

Dan juga dilarang menjadikan kulit dan sebagainya itu untuk upah bagi tukang jagal. Akan tetapi (yang diperbolehkan) adalah seorang yang berkurban dan orang yang berhadiah menyedekahkannya atau juga boleh mengambilnya dengan dimanfaatkan barangnya seperti dibuat untuk kantung air atau timba, muzah (sejenis sepatu) dan sebagainya. (Lihat Imam Nawawi, Al-Majmu, Maktabah Al-Irsyad, juz 8, halaman 397).

Jika terpaksa tidak ada yang mau memakan kulit tersebut, bisa dimanfaatkan untuk hal-hal lain seperti dibuat terbang, bedug, dan lain sebagainya. Itupun jika tidak dari kurban nadzar. Kalau kurban nadzar atau kurban wajib harus diberikan ke orang lain sebagaimana diungkapkan oleh Imam As-Syarbini dalam kitab Al-Iqna.

Menyikapi hal ini, panitia bisa memotong-motong kulit tersebut lalu dicampur dengan daging sehingga semuanya terdistribusikan kepada masyarakat. Bagi orang yang kurang mampu, kulit bisa dimanfaatkan untuk konsumsi lebih.

Bukan tanpa risiko, akibat dari menjual kulit dan kepala hewan sebagaimana yang berlaku, bisa menjadikan kurban tersebut tidak sah. Artinya, hewan yang disembelih pada hari raya kurban hanya menjadi sembelihan biasa, orang yang berkurban tidak mendapat fadlilah pahala berkurban sebagaimana sabda Rasulullah SAW.

? ? ? ? ? ? ?) ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Barangsiapa yang menjual kulit kurbannya, maka tidak ada kurban bagi dirinya. Artinya dia tidak mendapat pahala yang dijanjikan kepada orang yang berkurban atas pengorbanannya,” (HR Hakim dalam kitab Faidhul Qadir, Maktabah Syamilah, juz 6, halaman 121).

Apabila sudah terlanjur, karena jual belinya tidak sah, maka perlu ditelaah lebih lanjut. Apabila pembeli adalah orang yang sebenarnya tidak berhak menerima kurban, pembeli seperti ini harus mengembalikan lagi daging yang telah ia beli, uang juga ditarik. Jika terlanjur dimakan, ia harus membelikan daging pengganti untuk kemudian dikembalikan.

Sedangkan jika yang membeli adalah orang yang sebenarnya berhak, ia cukup dikembalikan uangnya dan daging yang ia terima merupakan daging sedekah.

Sebagaimana orang yang berkurban, begitu pula penerima daging kurban juga tidak boleh menjual kembali daging yang telah ia terima apabila penerima ini adalah orang yang termasuk kategori kaya. Orang kaya mempunyai kedudukan sama dengan orang yang berqurban karena ia sama-sama mendapat tuntutan untuk berkurban.

Oleh karena ia sama kedudukannya, walaupun yang ia terima sudah berupa daging, ia tidak boleh menjualnya kembali kepada orang lain. Ia hanya boleh mengonsumsi atau membagikan kembali kepada orang lain.

Berbeda dengan orang miskin. Sebab ia tidak mendapat tuntutan sebagaimana orang kaya, jika ia mendapat daging kurban, boleh menjual kepada orang lain. Keterangan ini diungkapkan oleh Habib Abdurrahman Baalawi sebagai berikut.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Bagi orang fakir boleh menggunakan (tasharruf) daging kurban yang ia terima meskipun untuk semisal menjualnya kepada pembeli, karena itu sudah menjadi miliknya atas barang yang ia terima. Berbeda dengan orang kaya. Ia tidak boleh melakukan semisal menjualnya, namun hanya boleh mentasharufkan pada daging yang telah dihadiahkan kepada dia untuk semacam dimakan, sedekah, sajian tamu meskipun kepada tamu orang kaya. Karena misinya, dia orang kaya mempunyai posisi seperti orang yang berqurban pada dirinya sendiri. Demikianlah yang dikatakan dalam kitab At-Tuhfah dan An-Nihayah. (Lihat Bughyatul Mustarsyidin, Darul Fikr, halaman 423).

Kesimpulan dari penjelasan di atas, hewan kurban yang meliputi daging, kulit dan tanduk semuanya tidak diperbolehkan untuk dijual. Apabila dijual, orang yang berkurban tidak mendapatkan pahalanya. Sedangkan penerima daging juga tidak boleh menjual daging atau kulit yang ia terima kecuali penerima tersebut merupakan orang fakir.

Adapun masalah operasional panitia, jika mengambil jalan paling selamat tanpa hilah transaksional adalah dengan cara bagi siapa saja yang ingin berkurban melalui panitia, diwajibkan menyerahkan sejumlah uang untuk biaya operasional termasuk membayar tukang jagal, biaya plastik dan sebagainya.

Tukang jagal juga berhak menerima qurban sebagaimana biasa, namun bukan atas nama mereka sebagai tukang jagal, tetapi sebagai mustahiq. Jadi jika atas nama mustahiq, sudah semestinya ia mendapatkan jatah sebagaimana lazimnya, tidak lebih.

Daging yang diberikan atas nama mustahiq ini diterimakan setelah mereka para penjagal sudah menerima upah jagal. Ini jalan yang paling hati-hati. Wallahu alam. (Ahmad Mundzir)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Kyai, Doa, News Ustadz Felix Siaw

Selasa, 03 Januari 2012

Menag: Muslim yang Baik Jadi Warga Negara yang Baik

Tangerang, Ustadz Felix Siaw

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin berpendapat, Muslim yang baik akan menjadi warga negara yang baik pula. Dengan demikian, membela dan mempertahankan Tanah Air adalah bagian dari upaya menegakkan agama.

Menag: Muslim yang Baik Jadi Warga Negara yang Baik (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag: Muslim yang Baik Jadi Warga Negara yang Baik (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag: Muslim yang Baik Jadi Warga Negara yang Baik

Hal ini disampaikan Menag saat menjadi pembicara kunci pada Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) di Serpong, Tangerang, Banten, Selasa (21/11).

Menurut Menag, Tanah Air adalah tempat warga bangsa menjalankan ajaran agama. Karenanya, relasi antara hubungan antara identitas keagamaan dan identitas kewarganegaraan tidak sepatutnya dipertentangkan.

Ustadz Felix Siaw

“Membela Tanah Air dan menjaga keutuhannya merupakan kewajiban agama. Seorang Muslim yang baik pasti menjadi warga negara yang baik," tegas Menag melalui siaran pers.

Ustadz Felix Siaw

Namun demikian, kontestasi politik, terutama dalam pemilihan umum, kata Menag, tidak jarang memunculkan masalah politik identitas primordial. Sebagian masyarakat menilai identitas primordial  seperti suku, agama, dan ras, masih memainkan peranan penting dalam politik. Dampaknya,  masyarakat terpecah dan kadang sampai muncul konflik-konflik sosial yang tidak perlu.

"Perlu didiskusikan hubungan antara identitas keagamaan dengan identitas kewarganegaraan dalam konteks negara-bangsa," tutur Menag.

Islam dalam sejarahnya memiliki pengalaman panjang dalam mengelola hubungan antara identitas keagamaan dan identitas kewarganegaraan. Kisah sukses itu bermula dari Piagam Madinah yang mengakui hak-hak kewarganegaraan bagi seluruh komponen masyarakat Madinah, terlepas dari perbedaan agama, suku dan ras.

Dengan tegas dinyatakan, “anna al-Yahûd Ummah, wal muslimîn ummah” (orang Yahudi dan Muslim adalah umat dalam ikatan identitas agama masing-masing), tetapi pada saat yang sama, “annal muslimiina wal yahuuda ummah” (kaum Muslim dan Yahudi adalah SATU UMMAH yang diikat oleh kesamaan sebagai warga negara).

"Prinsipnya jelas, seperti kata Rasulullah, “lahum mâ lanâ wa `alayhim mâ `alayna” (mereka memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan kita)," tegas Menag.

Konsep hampir serupa, kata Menag, dibuat para pendiri bangsa yang terdiri dari berbagai komponen masyarakat ini. Mereka bersepakat menetapkan Pancasila sebagai dasar dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara, dengan prinsip Bhinneka Tunggal Ika, dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

"Keragaman adalah keniscayaan dalam hidup, yang diciptakan bukan untuk dipertentangkan, tetapi untuk disinergikan sehingga menghasilkan kekuatan dan kemajuan," tandasnya.

AICIS 2017 menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain: Syed Farid Alatas (National University of Singapore), Ronald A Lukens Bull (University of North Florida), Imtiyaz Yusuf (Mahidol University Thailand), Lisolette Abid (Vienna University, Austria), dan Livia Holden (Oxford University UK).

AICIS dihadiri pimpinan, guru besar, dosen dan peneliti di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam. Ada 25 narasumber utama (dalam dan luar negeri) dan 332 pemakalah yang akan mempresentasikan hasil kajian dan penelitiannya. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Tegal Ustadz Felix Siaw