Jumat, 26 Agustus 2016

Kang Said: Pengurus NU Harus Siap Dikritik

Jakarta, Ustadz Felix Siaw. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengingatkan seluruh jajaran pengurus NU mulai pengurus besar hingga anak ranting bahkan cabang istimewa NU untuk berbesar hati menerima catatan, kritik, dan komentar dari dewan Syuriyah NU. Kebesaran hati merupakan modal dasar pengurus NU.

Kang Said: Pengurus NU Harus Siap Dikritik (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Pengurus NU Harus Siap Dikritik (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Pengurus NU Harus Siap Dikritik

Demikian dikatakan Kang Said dalam peringatan harlah ke-29 Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya (Lakpesdam NU) di aula lantai delapan gedung PBNU jalan Kramat Raya nomor 164, Jakarta Pusat, Rabu (16/4) malam.

Kang Said menilai wajar catatan dan kritik Syuriyah untuk Tanfidziyah. Pasalnya, NU merupakan sebuah organisasi yang mengikuti pakem organisasi ideal yang didasari sekurangnya lima syarat.

Ustadz Felix Siaw

Kelima itu, sambung Kang Said, adalah al-kafa’ah (proporsional), ta’ahhul (professional), al-infitah (terbuka), as-shorohah (transparansi), dan at-ta’awun (kerja sama).

“Bendahara kita siap diaudit dengan auditor eksternal. NU pun membuka diri untuk kerja sama dengan TNI, kejaksaan, kepolisian di samping koordinasi dengan lembaga, lajnah, dan banom NU,” terang Kang Said.

Ustadz Felix Siaw

Ia menyebut cepatnya laju perkembangan lembaga, lajnah, dan banom NU kendati beberapa di antaranya berjalan lambat. Bahkan baru periode saya ini, tambah Kang Said, jajaran Rais Syuriyah PBNU sangat aktif. Sebentar-sebentar mereka rapat. Padahal periode sebelumnya, para kiai Syuriyah jarang rapat.

“Bahkan Syuriyah kadang lebih aktif dari Tanfidziyahnya,” kata Kang Said disambut tawa sedikitnya seratus hadirin.

“Kalau Rais Syuriyah sudah rapat, tentu sejumlah kritik dan aspirasi ditujukan kepada pengurus. Tetapi tidak mengapa. Itu memang kerja Syuriyah untuk terus mengingatkan tanfidziyah mana yang kurang pas. Kita harus siap menerima masukan dan arahan Syuriyah,” tandas Kang Said mengimbau semua pangurus NU di semua lapisan. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Bahtsul Masail, Humor Islam, Quote Ustadz Felix Siaw

Minggu, 21 Agustus 2016

Benarkah Puasa Syawwal Penanda Maqbulnya Puasa Ramadhan?

Assalamu ’alaikum wr. wb.

Redaksi Bahtsul Masail Ustadz Felix Siaw yang kami hormati. Dalam kesempatan yang baik ini kami ingin menanyakan yang terkait dengan faidah atau manfaat puasa enam hari di bulan Syawwal. Konon katanya puasa enam hari tersebut sering dikaitkan dengan pertanda diterimanya ibadah puasa Ramadhan kita. Apakah memang demikian dan bagaimana penjelasannya? Mohon jawabannya dan disertai rujukan yang jelas. Demikian pertanyaan kami. Atas jawaban yang diberikan kami ucapkan terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Nama dirahasiakan/Jakarta).

Jawaban

Benarkah Puasa Syawwal Penanda Maqbulnya Puasa Ramadhan? (Sumber Gambar : Nu Online)
Benarkah Puasa Syawwal Penanda Maqbulnya Puasa Ramadhan? (Sumber Gambar : Nu Online)

Benarkah Puasa Syawwal Penanda Maqbulnya Puasa Ramadhan?

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa puasa enam hari di bulan Syawwal yang dilakukan setelah setelah Idul Fitri hukumnya adalah sunah.

Ustadz Felix Siaw

Hal ini didasarkan pada sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Muslim, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian mengiringinya dengan puasa enam hari di bulan Syawwal, maka ia seperti puasa sepanjang tahun.”

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Ustadz Felix Siaw

Artinya, “Sebagian pakar hukum Islam (fuqaha`) berpendapat bahwa hukum puasa enam hari di bulan Syawwal adalah sunah karena didasarkan pada hadits, ‘Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian mengiringinya dengan puasa enam hari di bulan Syawwal, maka ia seperti puasa sepanjang tahun,’” (Lihat Al-Mawsu’atul Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, Mesir, Darus Shafwah, cetakan pertama, juz XXVI, halaman 287).

Sedang pertanyaan mengenai puasa enam hari di bulan Syawwal dan keterkaitannya dengan penanda diterimanya puasa Ramdhan kita, maka dalam hal ini ada baiknya kami akan menyuguhkan pandangan Ibnu Rajab Al-Hanbali.

Menurutnya, setidaknya ada beberapa faedah dari menjalankan puasa enam hari di bulan Syawwal, yang salah satunya adalah sebagai salah satu indikasi diterimanya puasa Ramadhan kita.

Logika sederhana yang digunakan untuk meneguhkan pandangan ini adalah bahwa apabila Allah SWT menerima amal kebajikan yang dilakukan hamba-Nya, maka Allah SWT akan memberikan taufik kepadanya untuk berbuat kebajikan yang lain. Menjalankan ibadah puasa Ramadhan sudah barang tentu merupakan kebajikan.

? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Salah satu faidah puasa enam hari di bulan Syawwal adalah bahwa kembali menjalankan puasa (puasa enam hari di bulan Syawaal, pent) setelah puasa Ramadhan adalah menjadi salah satu penanda diterimanya ibadah puasa Ramadhan karena sesungguhnya apabila Allah menerima amal kebajikan seorang hamba, maka ia akan memberikan taufik kepadanya untuk menjalankan amal kebajikan setelahnya,” (Lihat Ibnu Rajab Al-Hanbali, Lathaiful Ma’arif fi Ma li Mawasimil ‘Am wal Wazha`if, Kairo, Darul Hadits, 1426 H/2005 M, halaman 301).

Karena itu, ketika kita kembali melakukan puasa setelah puasa Ramadhan, yaitu berpuasa selama enam hari di bulan Syawwal yang notabenenya adalah suatu kebajikan lain juga, maka bisa jadi hal tersebut menjadi penanda bahwa puasa Ramadhan kita diterima di sisi Allah SWT.

Pandangan ini selaras dengan pernyataan sebagian ulama yang menyatakan, “Ganjaran kebaikan adalah kebaikan (lain) yang dilakukan setelahnya.” Barangsiapa yang melakukan amal kebajikan kemudian mengiringinya dengan kebajikan yang lain, maka hal ini bisa jadi menjadi salah satu indikasi bahwa amal kebajikan sebelumnya diterima di sisi Allah.

Begitu sebaliknya, apabila kita melakukan suatu amal kebajikan kemudian kita setelahnya melakukan amal kejelekan, maka hal ini bisa menjadi indikasi bahwa amal kebajikan yang kita lakukan tersebut tidak diterima di sisi Allah SWT.

? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh sebagian ulama, ‘Ganjaran kebajikan adalah kebajikan setelahnya’ sehingga barangsiapa yang menjalankan kebajikan kemudian mengiringinya dengan kebajikan yang lain, maka hal itu menjadi salah satu penanda penerimaan kebajikan sebelumnya. Demikian pula orang yang melakukan kebajikan kemudian mengiringinya dengan kejelekan, maka hal itu menjadi salah satu penanda penolakan kebajikan yang ia lakukan dan tidak diterimnya (di sisi Allah, pent),” (Lihat Ibnu Rajab Al-Hanbali, Lathaiful Ma’arif fi Ma li Mawasimil ‘Am wal Wazha`if, halaman 301).

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thrariq,

Wassalamu ‘alaikum wr. wb.


(Mahbub Maafi Ramdlan)Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Ulama, Ubudiyah, Fragmen Ustadz Felix Siaw

Selasa, 09 Agustus 2016

Islam dan Rambut Gondrong

KH Masdar Farid Mas’udi dikenal sebagai kyai yang jago dalam halaqoh dan bahtsul masail. Banyak kyai sering kali terbengong-bengong mendengar gagasannya yang cerdas, pendapatnya yang penting, hujahnya yang bening, dan penemuannya yang orisinil.

Pak Masdar, demikian ia dipanggil, menguasai semua bab dalam fiqih, dari politik hingga hukum waris, dari bab kesetaraan jender hingga teologi tanah, dari fiqih haji, fiqih zakat, hingga hubungan antaragama.

Islam dan Rambut Gondrong (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam dan Rambut Gondrong (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam dan Rambut Gondrong

Menurut riwayat, Pak Masdar ini memang hobi menggelar halaqoh semenjak menjadi santri. Ketika menghadapi persoalan pelik dalam urusan agama atau yang lain, ia selalu bikin halaqoh.

Ustadz Felix Siaw

Saat mesantren di Krapyak misalnya, Masdar santri pernah bikin pengurus pondok mengelus dada. Halaqoh dilatarbelakangi karena Masdar selalu ditegur pengurus, lantaran berambut gondrong. 

“Kang Masdar, rambutmu dipotong ya besok Jumat. Santri tidak boleh gondrong banget,” begitu kira-kira perintah pengurus pondok. Menurut riwayat, Masdar santri tak pernah pusing dengan perintah tersebut. Suatu hari, ia bikin halaqoh. 

Jumat, waktu yang semestinya untuk potong rambut, Masdar malah pasang spanduk yang menyita perhatian ratusan santri yang sedang duduk-duduk di emperan masjid seusai Jumatan. 

Ustadz Felix Siaw

Setelah spanduk terbentang, jelas sekali terlihat gambar seorang lelaki paruh baya, kepala bagian atasnya botak, tapi bagian belakangnya terjuntai rambut hingga pundak. Semua paham, ia adalah potret seorang filsuf, faqih, dan sufi besar bernama Imam al-Ghozali.

Di bawah gambar tersebut, ada kata-kata yang tersusun dengan jelas,”Hadirilah!!! Halaqoh Bertema: Islam dan Rambut Gondrong.” (Hamzah Sahal)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Doa, AlaSantri Ustadz Felix Siaw

Sabtu, 06 Agustus 2016

Pesan Rais Aam PBNU kepada Wisudawan-Wisudawati STAINU Jakarta

Jakarta, Ustadz Felix Siaw. Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ma’ruf Amin turut hadir dan memberikan orasi ilmiah kepada para wisudawan-wisudawati Sekolah Tinggi Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta pada prosesi Wisuda Ke-5 di Gedung Sasono Langen Budoyo TMII Jakarta Timur, Selasa (27/9).

Dalam orasinya, Kiai Ma’ruf yang juga Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat ini menuturkan bahwa seorang yang lulus dari perguruan tinggi sudah selayaknya berpikir dan bertindak beda dengan orang yang tidak memiliki kesempatan kuliah. Para sarjana diharapkan peran besarnya di tengah masyarakat.

Pesan Rais Aam PBNU kepada Wisudawan-Wisudawati STAINU Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesan Rais Aam PBNU kepada Wisudawan-Wisudawati STAINU Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesan Rais Aam PBNU kepada Wisudawan-Wisudawati STAINU Jakarta

“Kepada para wisudawan dan wisudawati, saya berharap menjadi sarjana yang mampu berpikir akademis, kritis, metodolgis, dan komprehensif,” jelas Cicit Syekh Nawawi Al-Bantani ini.

Kiai Ma’ruf berkisah tentang tukang perahu dan seorang Perdana Menteri yang diuji seorang Raja. Raja tersebut meminta tukang perahu untuk naik ke darat dan melihat apa yang ada di darat. Tukang perahu itu melaporkan kepada Raja bahwa di darat ada kucing beranak 5 dengan berbagai macam warna.

Kemudian sang Raja bertanya kepada tukang perahu, ada berapa kucing dan warnanya apa saja. Untuk menjawab Raja, tukang perahu tersebut naik lagi ke darat berkali-kali. Lalu sang Raja memerintahkan perdana menteri untuk melihat apa yang dilihat tukang perahu. Perdana menteri begitu cakap dan hanya sekali untuk menjawab pertanyaan Raja yang persis sama seperti ditujukan kepada tukang perahu.

Ustadz Felix Siaw

“Itulah sedikit gambaran tantang perbedaan sarjana dan orang biasa. Seorang sarjana cukup hanya sekali melihat tetapi mampu menjelaskan secara komprehensif atau menyeluruh,” terang Kiai Ma’ruf.

Dia juga berharap kepada para lulusan STAINU Jakarta untuk berupaya menjadi tokoh perubahan ke arah yang lebih baik untuk umat dan masyarakat. Karena menurutnya, saat ini masyarakat sangat membutuhkan orang-orang yang mampu mengubah keadaan menjadi lebih baik.?

“Masyarakat kita membutuhkan perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik secara terus-menerus sehingga mewujudkan kemajuan bangsa dan negara,” tuturnya.

Hadir dalam wisuda STAINU Jakarta ini antara lain, Ketua STAINU Jakarta H Syahrizal Syarif, Direktur Pascasarjana STAINU Jakarta H Mastuki HS, Menpora RI H Imam Nahrawi, Ketua PBNU H Marsudi Syuhud, Katib Syuriyah PBNU KH Mujib Qulyubi, Ketua BP3TNU H Marzuki Usman, Ketua PP LP Ma’arif NU H Arifin Junaidi, para Dosen dan Civitas Akademika STAINU Jakarta. (Fathoni)?

Ustadz Felix Siaw

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Tegal, Nusantara, Hadits Ustadz Felix Siaw

Kamis, 04 Agustus 2016

Dzikir Berjamaah Tentramkan Muslim di Roma

Sebagai seorang Muslim, hidup di negara yang umat Muslim-nya minoritas, membutuhkan emosional spiritual yang kuat. Salah-salah, bisa terbawa arus pergaulan ala Eropa, yang bisa jadi dilarang oleh aturan agama. Contohnya di Eropa, bermesraan di taman atau tempat terbuka dianggap hal biasa. Saya pun pernah menyaksikan sendiri di taman Villa Bhorghese, Roma.

“Bisa mengaji iqro sampai khatam, sudah bersyukur Alhamdulillah, Ustad. Apalagi kalau bisa membaca Al Qur’an dengan lancar dan menghafalkannya. Itu sih udah hebat banget,” ungkap Siti Rahayu, salah seorang Home Staff KBRI Roma. Ia asli Betawi dan PNS Kementrian Luar Negeri yang sebelumnya pernah bertugas di Melbourne, Australia.

Dzikir Berjamaah Tentramkan Muslim di Roma (Sumber Gambar : Nu Online)
Dzikir Berjamaah Tentramkan Muslim di Roma (Sumber Gambar : Nu Online)

Dzikir Berjamaah Tentramkan Muslim di Roma

Hal yang sangat dibutuhkan oleh Muslim Indonesia di Roma adalah nasihat-nasihat keagamaan yang menentramkan, menyejukkan hati, mencerahkan, dan menyentuh.

?

“Bukan nasihat yang membuat resah, menyinggung masalah politik antar negara, yang boleh jadi, ustadnya sendiri belum pernah berkunjung ke negara tersebut, dan akhirnya nasihat yang disampaikannya tidak menyentuh kepada jamaah yang mayoritas adalah Diplomat yang telah bertugas di berbagai negara,” kata Adnan, salah seorang staff KBRI di Roma.?

Ustadz Felix Siaw

Menurut Adnan saat berceramah, berilah nasihat-nasihat yang menyejukkan dan sederhana. Jangan yang berat-berat, yang dasar saja dan meringankan.

Saat menjalankan tugas sebagai dai ambassador di Italia, sering saya menyampaikan tentang perlunya pengajian Al Qur’an khususnya untuk staff KBRI, dan umumnya untuk masyarakat muslim di Roma.

?

Saya mengamati dan mempelajari keadaan dan kebiasaan keagamaan di sini. Ternyata masalahnya adalah masih kurangnya tenaga pengajar Al Qur’an. Kasihan anak-anak yang tadinya sudah pernah bisa membaca Al Quran di Indonesia, sesampainya di Roma karena ikut orangtua, lama-kelamaan lupa. Paling tidak, ada guru pembimbing agar mereka bisa menjaga kemampuan membacanya. Syukur-syukur bisa melancarkan dan menghafalkannya.

Ustadz Felix Siaw

Memang sekarang sudah ada pengajian di masjid Roma setiap minggu, yang dipandu oleh Ustad Adnan, tetapi masih belum bisa menutupi kebutuhan keagamaan Muslim Indonesia. Harus ada tambahan guru yang bersedia ditempatkan di sini untuk membimbing keagamaan dan mengajarkan bacaan Al Quran. Karena dengan agama, inshaallah hati akan tentram. Dan dengan bacaan Al Quran, hidup akan tenang.?

Selama di Roma, setiap bada sholat, sebelum mengisi kajian, saya biasakan untuk membaca dzikir bersama-sama. Semua membaca dengan suara yang lantang. Terdengar sekali keasyikkan membaca kalimat-kalimat dzikir tersebut. Memperbanyak istighfar, membaca tasbih, tahmid, takbir sebanyak 33 kali diakhiri dengan hauqolah, dilengkapi doa-doa memohon keberkahan dan kebaikan dunia akhirat. Bersama-sama jamaah mengaminkan.

?

Suasana semacam itu membuat kondisi terasa damai sekali, indah dan menyenangkan. Sepertinya inilah waktu yang paling berharga untuk menentramkan hati setelah disibukkan dengan pekerjaan yang menyita waktu.

Dzikir bersama seperti ini juga sangat dibutuhkan di tengah Muslim minoritas yang tidak pernah terdengar alunan murottal Al Quran. Bukan hanya sebagai bacaan yang menetramkan, tetapi ini juga sebagai bentuk pendidikan dan pengajaran kepada anak-anak tentang doa-doa harian yang mereka hafalkan. Salah satunya adalah doa untuk orangtua. Allahummaghfilii waliwalidayya warhamhumaa kamaa robbayaanii sghiiroo.

Khumaini Rosadi, anggota Tim Inti Dai dan Media Internasional (TIDIM) LDNU, dan Dai Ambassador Cordofa 2017 dengan penugasan ke Roma, Italia.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Internasional, Doa, Pahlawan Ustadz Felix Siaw

Rabu, 03 Agustus 2016

Media Islam Online Didorong Budayakan Tabayun

Jakarta, Ustadz Felix Siaw. Kurangnya validasi karena tuntutan kecepatan memproduksi berita berakibat informasi yang berkembang liar dan cenderung kurang dipertanggungjawabkan. Hal ini kerap ditemukan di media online, media sosial, dan kanal-kanal lain dengan berbagai bentuk konten sehingga langkah tabayun (cek kebenaran, konfirmasi) harus dibudayakan oleh insan media.

Hal ini mengemuka ketika Kepala Sub Bagian (Kasubag) Humas dan Layanan Informasi Kementerian Agama Muhammad Khoiron Dhoruri memberikan materi dalam kegiatan Workshop Penyusunan Standar Literasi Media Islam Online, Jumat (21/4) di Hotel Lumire, Jakarta Pusat.

Media Islam Online Didorong Budayakan Tabayun (Sumber Gambar : Nu Online)
Media Islam Online Didorong Budayakan Tabayun (Sumber Gambar : Nu Online)

Media Islam Online Didorong Budayakan Tabayun

Dia mencontohkan ketika kontroversi Qori dengan menggunakan langgam Jawa di Istana Negara mengemukan yang kemudian mendatangkan protes yang ditujukan kepada Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. Padahal menurutnya, membaca Al-Qur’am selama ini memang dibaca dengan berbagai langgam.

“Dalam hal ini, Pak Menteri berusaha menerapkan pemahaman agamanya. Pak Menteri juga sudah melakukan klarifikasi. Di sinilah tabayun menjadi lebih penting,” ujar Khoiron.

Menurut pria kelahiran Tegal, Jawa Tengah ini, kegiatan penyusunan standar literasi media Islam online ini penting, tidak hanya menyelaraskan pandangan berdasarkan pedoman literasi, tetapi juga menghadirkan konten-konten positif di dunia maya.

Ustadz Felix Siaw

“Sindikasi media itu penting, tetapi menurut saya yang selama ini berjalan justru penyeragaman informasi. Mestinya sindikasi media dimanfaatkan untuk memperkaya konten dalam artian positif,” jelasnya.

Dia juga mengimbau agar media Islam online yang tentu membawa ideologi agar tidak dibenturkan dengan keberagaman masyarakat dan bangsa. “Sebab jangan-jangan ideologi kita sendiri yang membatasi atau menutup diri dari keberagaman,” terang Khoiron.

Di akhir pemaparannya, Khoiron berharap, hasil dari pertemuan para pengelola dan jurnalis media Islam online ini ada kesepahaman bersama dalam menyusun standar literasi yang nantinya menjadi pedoman untuk mewujudkan persebaran informasi yang berimbang dan positif.

“Untuk tujuan itu, tentu Kemenag akan mendukung penuh,” tandas Khoiron. (Fathoni)?

Ustadz Felix Siaw

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Nahdlatul, Amalan, Pondok Pesantren Ustadz Felix Siaw

Selasa, 02 Agustus 2016

Kiat Pesantren Hadapi Tantangan Masa Depan

Lamongan, Ustadz Felix Siaw
Sebagai lembaga pendidikan klasik dan tertua di Indonesia, pesantren kini sedang mengalami tantangan yang berat. Pasalnya, pesantren tidak hanya dituntut dapat meningkatkan mutu pendidikan, tetapi juga harus mampu bersaing dalam bidang ekonomi dengan mengembangkan ekonomi berbasis pesantren.

Demikian disampaikan Ketua Umum Robithah Ma’ahid Islamiyah (RMI), KH. Mahmud Ali Zen saat menjadi pembicara dalam dalam seminar dengan tema “Pesantren dan Tantangan Masa Depan” yang diselenggarakan Ikatan Keluarga Besar Alumni Tarbiyatut Tholabah (IKBAL TABAH) di Auditorium Pondok Pesantren Tarbiyatut Tholabah, Rabu (10/11) kemarin.

Selain KH. Mahmud Ali Zen, hadir pula dalam seminar tersebut anggota DPR RI dari Fraksi Kebangkitan Bangsa (FKB) H. Taufikurrahman Saleh dan kandidat doktor dari Universitas Kebangsaan Malaysia Drs. Zaini Mahbub, M.Sc.

Menurut Kiai Mahmud – sapaan akrab KH. Mahmud Ali Zen – sistem yang dapat dipraktikkan oleh Pesantren di Indonesia adalah  sistem ekonomi syariah, sebagaimana diterapkan oleh Pesantren Sidogiri Pasuruan. Sistem tersebut dinilai paling cocok diterapkan, karena tidak bertentangan dengan syariat Islam. Pesantren Sidogiri yang menerapkan sistem tersebut terbukti telah mengalami perkembangan ekonomi yang sangat baik. “Pesantren bisa membangun ekonomi dan sistem yang diterapkan sesuai dengan syariat Islam,” paparnya kepada ratusan peserta seminar.

Dikatakannya, untuk membangun pendidikan pesantren yang bermutu serta mempunyai visi ekonomi dibutuhkan keteladanan para pimpinan pesantren. Sebab, Rasulullah sendiri selama hidup memimpin umatnya selalu memberikan contoh terlebih dahulu sebelum mengajak kepada kebaikan. “Rosulullah pada saat itu tidak hanya memberi konsep, tapi juga contoh,” jelasnya.

Kiai yang kini menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) ini menambahkan, jika ada kemauan dan tekad yang bulat, semua pesantren di Indonesia akan mampu membangun ekonomi yang kuat. Sebab, Allah pada dasarnya menciptakan manusia ini sebagai umat yang terbaik, termasuk masyarakat pesantren. “kalian bisa menjadi umat terbaik bagi manusia,” ungkapnya sambil mengutip salah satu ayat Al-Quran.

Sementara itu, anggota DPR RI H. Taufikurrahman Saleh memaparkan pentingnya reformasi di bidang pendidikan, karena hingga saat ini mutu pendidikan Indonesia masih tertinggal jauh dari negara-negara lain. Reformasi pendidikan, menurutnya, harus dilakukan jika bangsa Indonesia ingin mengejar ketertinggalan dari bangsa lain. “Kita ini belum melakukan reformasi pendidikan. Jadi, sebenarnya reformasi ekonomi kita belum, pendidikan juga belum,” kata mantan Ketua Komisi VI DPR RI yang membidangi pendidikan ini.

Putra Kiai Saleh ini menambahkan, pendidikan Indonesia selama ini belum mempunyai visi yang jelas, karena menyimpang dari fakta dan realita yang terjadi di masyarakat. Semakin banyaknya pengangguran disebabkan visi pendidikan yang belum jelas, sehingga dari tahun ke tahun angka pengangguran mengalami peningkatan. “kita itu masih mengajari anak-anak kita untuk belajar sekolah, bukan untuk hidup. Kalau dulu orang diajara cara menyuntik sapi, sekarang harus langsung praktek nyuntik,” ungkapnya.

Lantas, cara apa yang dapat dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan? Langkah yang dapat ditempuh untuk meningkatkan mutu pendidikan adalah reformasi kurikulum pendidikan, karena saat ini peserta didik ditunutut bisa belajar cepat. Reformasi tersebut harus dilakukan secara terus menerus karena kondisi masyarakat yang terus berubah dan berkembang sesuai dengan perkembangan zaman.

Selain itu, lanjutnya, peningkatan mutu pendidikan harus ditopang dengan tenaga pendidik yang berkualitas. Karena itu, pelatihan guru harus dilakukan secara terus menerus, sehingga guru benar-benar mampu mengemban tugas sebagai tenaga pendidik. “Guru harus berkualitas. Jadi mereka harus dilatih. Tapi jangan harap semua daerah itu sama. Itu harus disesuaikan dengan daerahnya,” ungkapnya.

Ditambahkanya, peningkatan mutu pendidikan memang masih menghadapi persoalan yang kompleks. Di samping menyangkut masalah dana, juga masalah sistem pendidikan, baik yang bersifat makro dalam arti pendidikan nasional secara keseluruhan, maupun mikro dalam arti sistem internal di masing-masing lembaga pendidikan. “Kualitas pendidikan juga ditentukan oleh metode, pola pengembangan serta atmosfer yang tumbuh berkembang dalam institusi pendidikan yang bersangkutan,” kata Taufik.(amh)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Pondok Pesantren Ustadz Felix Siaw

Kiat Pesantren Hadapi Tantangan Masa Depan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiat Pesantren Hadapi Tantangan Masa Depan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiat Pesantren Hadapi Tantangan Masa Depan

Astaghfirullah, Intoleransi Sesama Muslim Lebih Tinggi

Jakarta, Ustadz Felix Siaw. Survei yang dilakukan Wahid Foundation tahun 2016 menemukan fakta bahwa intoleransi yang dilakukan oleh umat Muslim kepada sesama Muslim yang berbeda kelompok, angkanya lebih tinggi dibandingkan intoleransi orang Muslim kepada non-Muslim. Intoleransi kepada non-Muslim sebanyak 38, 4 persen; sementara kepada sesama Muslim mencapai 49 persen.

Data juga diperkuat dengan temuan bahwa angka toleransi kepada non-Muslim mencapai 40, 4. Sementara angka toleransi kepada sesama Muslim hanya 0,6 persen.

Astaghfirullah, Intoleransi Sesama Muslim Lebih Tinggi (Sumber Gambar : Nu Online)
Astaghfirullah, Intoleransi Sesama Muslim Lebih Tinggi (Sumber Gambar : Nu Online)

Astaghfirullah, Intoleransi Sesama Muslim Lebih Tinggi

Demikianlah salah satu poin penting yang disampaikan pada Diskusi Terfokus (FGD) Pembahasan draft Rekomendasi Kebijakan dan Program Kontra Radikalisme, Kamis (16/11) di Jakarta.

Dalam kesempatan tersebut juga disampaikan Wahid Foundation melandaskan ukuran intoleransi dengan sikap-sikap antara lain penerimaan terhadap pendirian rumah ibadah, kegiatan keagamaan yang dilakukan penganut agama, dan penerimaan kepemimpian non-Muslim dalam pemerintahan.

Terkait dengan potensi radikalisme, Wahid Foundation mendapati 7,7 persen orang yang bersedia bertindak radikal; 0,4 persen melakukan tindak radikal; 19,9 persen tidak memilih sikap; dan 72 persen menolak tindakan radikal.?

Ustadz Felix Siaw

Kabar baiknya, pencegahan dan penanggulangan radikalisme terus menjadi isu prioritas di Indonesia. Radikalisme disadari sebagai ancaman serius bagi Indonesia yang ingin maju, demokratis, dan sejahtera.?

Hal itu tergambar antara lain dengan Detasemen Khusus (Densus) 88 sebagai ujung tombak Polri berhasil melemahkan jaringan terorisme dengan melumpuhkan aktor-aktor yang terlibat.

Ustadz Felix Siaw

Kemudian, melalui pemblokiran oleh Kemenkominfo dan investigasi ujaran kebencian oleh Polri, pemerintah juga berhasil memaksa pengelola situs-situs berkonten radiskalisme untuk berubah jadi lebih ‘lunak’.

Melalui BNPT, pemerintah juga sangat serius untuk melakukan deradikalisasi. Upaya tersebut mulai berbuah positif. Beberapa pelaku terorisme mengubah sikap ekstrim nya dan bahkan bersedia ambil bagian dalam mengkampanyekan kontra radikalisme ke masyarakat.

Sejak Januari 2017 Wahid Foundation mengimplementasikan Program Promosi Pluralisme dan Toleransi (Proposi) untuk memperkuat kerja sama masyarakat dengan negara dalam mencegah radikalisme dan terorisme.

Salah satu yang dilakukan dalam kerangka program Proporsi, adalah melakukan kajian terhadap program dan kebijakan pencegahan dan penanggulangan radikalisme dan terorisme yang telah dilakukan oleh pemerintah dan lembaga terkait. (Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Nasional, IMNU, Nahdlatul Ulama Ustadz Felix Siaw