Jumat, 16 Maret 2018

Pendidikan Pesantren Solusi Bekali Anak

Probolinggo, Ustadz Felix Siaw. Mustasyar PCNU Kabupaten Probolinggo H. Hasan Aminuddin menyampaikan bahwa masalah pendidikan saat ini menjadi tantangan tersendiri masyarakat yang masih memiliki anak usia sekolah. Solusinya adalah memasukkan anaknya di lingkungan pondok pesantren yang memadukan antara pendidikan umum dengan pendidikan agama.

Pendidikan Pesantren Solusi Bekali Anak (Sumber Gambar : Nu Online)
Pendidikan Pesantren Solusi Bekali Anak (Sumber Gambar : Nu Online)

Pendidikan Pesantren Solusi Bekali Anak

Hal tersebut disampaikan oleh Hasan Aminuddin saat menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Pondok Pesantren Ad-Dasuqqi di Desa Liprak Kulon Kecamatan Banyuanyar Kabupaten Probolinggo, Senin (26/12).

“Pendidikan pondok pesantren menjadi solusi bagi para orang tua dalam memberikan ilmu kepada anak-anaknya. Sebab di pesantren, selain diberikan ilmu umum, anak juga dibekali ilmu agama agar memiliki akhlak yang baik,” katanya.

Demi menjawab kepercayaan masyarakat tersebut jelas Hasan, maka manajemen di lingkungan pendidikan pondok pesantren harus dirubah sehingga keberadaan pondok pesantren bisa memberikan manfaat bagi orang tua.

“Pilihan pendidikan di pesantren tentunya akan menghemat pengeluaran orang tua terhadap kebutuhan anaknya dibandingkan jika anaknya tidak berada di pesantren. Tentunya hal ini juga menghindari tuntutan yang tidak bermanfaat dan merusak karakter serta perilaku akhlak para santri,” jelasnya.

Ustadz Felix Siaw

Dengan berada di lingkungan pesantren jelas Hasan, maka nantinya akan mampu membentengi anak dari hal-hal negatif akibat perkembangan zaman yang saat ini sudah sangat luar biasa. “Setidaknya dengan berada di pesantren, maka nantinya dapat mencetak karakter para santri yang lebih baik dan bermanfaat,” terangnya.

Hasan menghimbau kepada para orang tua agar selalu mendoakan anak-anaknya supaya menjadi anak yang bermanfaat dan berkualitas. Apalagi di pesantren anaknya diberikan pembelajaran tentang perilaku dan akhlak pada anak didiknya. “Sehingga nanti ilmu yang diajarkan kepada anaknya menjadi ilmu yang bermanfaat dan barokah,” pungkasnya.

Ustadz Felix Siaw

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini dihadiri oleh Pengasuh Pondok Pesantren Ad-Dasuqqi KH. Fakhrur Rozi Baqir, Pimpinan Bank Jatim Cabang Kraksaan Elfaurid Aguswantoro, Camat Banyuanyar H. Didik Abdul Rohim serta para tokoh agama dan tokoh masyarakat Desa Liprak Kulon Kecamatan Banyuanyar. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Quote, Kajian Sunnah, Berita Ustadz Felix Siaw

Selasa, 13 Maret 2018

Mendes Fasilitasi Pelaku Bisnis Indonesia dan Malaysia

Jakarta, Ustadz Felix Siaw?



Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Indonesia Eko Sandjojo memfasilitasi pertemuan pelaku bisnis Indonesia dan Malaysia di Hotel Gran Melia, Jakarta, (23/5). Pada kesempatan itu, ia mempertemukan lebih dari 20 perusahaan Malaysia dari sektor listrik, infrastruktur, jalan tol, properti, dengan 40 perusahaan swasta dalam negeri termasuk BUMN.?

Mendes Fasilitasi Pelaku Bisnis Indonesia dan Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)
Mendes Fasilitasi Pelaku Bisnis Indonesia dan Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)

Mendes Fasilitasi Pelaku Bisnis Indonesia dan Malaysia

Eko yang diamanati Presiden Joko Widodo Pejabat Penghubung Investasi untuk Malaysia, mendorong pengusaha kedua negara untuk menggali potensi investasi Malaysia sebesar Rp 61, 1 triliun. Selain itu, peluang potensi investasi Malaysia dengan proyek-proyek yang ditawarkan BUMN dari Indonesia sebesar Rp 65,6 triliun.

Dalam pertemuan tersebut, EKo memaparkan isu-isu terkini mengenai bagaimana meningkatkan iklim investasi, khususnya investor Malaysia melalui reformasi kebijakan investasi dan tata laksana penanaman modal dan industri yang ditawarkan. Kemudian upaya deregulassi terhadap kemudahan berinvestasi yang dilakukan pemerintah Indonesia dengan tujuan membantu meningkatkan iklim investasi Malaysia di Indonesia.?

Menteri Eko memastikan akan terus membantu mencari peluang investasi dari Malaysia. Upaya tersebut akan dilakukan dengan Duta Besar RI untuk Malaysia, Rusdi Kirana.?

Ustadz Felix Siaw

“Tim akan terus mengidentifikasi dan mengatasi persoalan yang menghambat investasi di Indonesia sesuai masukan dari pelaku bisnis di Malaysia dan di Indonesia. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dan Asosiasi Indonesia-Malaysia akan terus mengawal kelancaran proses realisasi investasi berkoordinasi dengan kementerian terkait,” katanya pada pertemuan bertajuk Indonesia Malaysia Business Networking itu.

Komitmen dan upaya untuk mendorong investasi dari Malaysia ke Indonesia akan dilakukan secara berkesinambungan dengan meningkatkan komunikasi, termasuk peningkatan pertemuan bisnis.?

Hadir pada kesempatan tersebut, Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini Mariani Soemarno, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, Dubes RI untuk Malaysia Rusd Kirana, Dubes Malaysia untuk Indonesia Datuk Seri Zahrain Mohamed Hashim. (Abdullah Alawi) ?

Ustadz Felix Siaw

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Berita, Anti Hoax, Kajian Sunnah Ustadz Felix Siaw

Tangkal Radikalisme, Pesantren Asnawiyah Gelar Sholawat Perdamaian

Demak, Ustadz Felix Siaw

Sekelompok orang yang kerap melakukan aksi kekerasan dan teror yang mengatasnamakan agama Islam selama ini membuat sebagian khalayak menganggap pesantren sebagai pusat kegiatan dan pengaderan kelompok tersebut dikarenakan kelompok itu selalu membawa nama agama dan pesantren.?

Tangkal Radikalisme, Pesantren Asnawiyah Gelar Sholawat Perdamaian (Sumber Gambar : Nu Online)
Tangkal Radikalisme, Pesantren Asnawiyah Gelar Sholawat Perdamaian (Sumber Gambar : Nu Online)

Tangkal Radikalisme, Pesantren Asnawiyah Gelar Sholawat Perdamaian

Hal inilah membuat pemangku Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur’an Asnawiyyah (PPTQ) Pilang Wetan, Kecamatan Kebon Agung, Demak, Jawa Tengah merasa terpanggil untuk menangkal anggapan yang mengaitkan pondok pesantren dengan ektremisme tersebut dengan menyelenggarakan sholawat dan pusisi perdamaian di pesantren, Ahad (31/01/2016) malam.

Pengasuh pesantren KH Muchozin dalam sambutan menguraikan hakikat pesantren termasuk sistem pembelajarannya dia menganggap ajaran Islam disampaikan secara transformatif termasuk bersolawat dan pembacaan puisi untuk menyampaikan pesan perdamaian.?

“Bukan melalui doktrin, termasuk pembuatan alat peledak maupun senjata, dipesantren adanya ya ngaji, bersholawat manaqib seperti ini, tidak ada pelajaran buat senjata, merakit bom atau sejenisnya, orang yang menuduh itu berarti perlu belajar dulu di pesantren biar tahu isinya pesantren,” kata Kiai Muchozin.

Sementara itu ketua yayasan PPTQ Kiai Cholilullah diacara yang sama mengatakan, majelis sholawat dianggapnya wahana yang tepat agar umat mengingat cara Rasulullah dalam berdakwah dengan metode rahmatan lil alamin. Dia pun mencontohkan saat Rasulullah SAW diejek orang yahudi yang buta namun dibalas-Nya dengan mengirim dan menyuapinya makanan tiap pagi.

Ustadz Felix Siaw

“Kalau kita mengingat cara Nabi Muhammad SAW saat menegakkan Islam dengan penuh kasih sayang seperti itu dan tidak pernah pakai kekerasan walau disakiti dan diejek, kita harus menganutnya,” tutur Kiai Cholil.

Kiai Cholilullah yang juga Ketua PAC GP Ansor Kebonagung menambahkan untuk merealisasikan gerakan rahmatan lil alamin lewat majlis sholawat dan puisi perdamaian tersebut dengan melibatkan Alumni yang sudah terjun di masyarakat.

Ustadz Felix Siaw

“Alumni sengaja kita libatkan agar pesan ini bisa sampai ke masyarakat, karena mereka sudah terbiasa hidup di tengah masyarakat,” jelas Gus Cholil.

Majelis sholawat perdamaian tersebut diikuti 200 peserta yang terdiri dari pengurus yayasan, pengasuh, santri dan alumni selain Sholawatan simtudh dhuror juga ada semaan al-Quran 30 juz, manaqib dan pembacaan puisi perdamaian. (A Shidiq Sugiarto/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Kyai, PonPes Ustadz Felix Siaw

Penyangga Indonesia itu Bernama Umat Islam

Oleh Imam Nahrawi

Nusantara merupakan anugerah yang luar biasa. Lebih dari sekadar kekayaan alam yang melimpah, negeri ini juga dikarunia kebudayaan yang sangat fleksibel dan bersahabat dengan manusia dan lingkungannya. Indonesia termasuk negara dengan peralihan agama mayoritas yang tergolong kerap: mulai dari kepercayaan lokal, Hindu, Budha, lalu Islam.

Penyangga Indonesia itu Bernama Umat Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Penyangga Indonesia itu Bernama Umat Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Penyangga Indonesia itu Bernama Umat Islam

Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia sekarang tak terlepas dari cara dakwah Wali Songo yang merakyat. Secara elegan para ulama penyebar Islam itu menginternalisasi ajaran Islam ke benak masyarakat lewat kebudayaan. Islam pun tersebar luas dengan nyaris tanpa kekerasan. Fakta ini setidaknya mencerminkan dua hal: toleransi mereka yang tinggi terhadap lokalitas dan canggihnya pendekatan yang mereka gunakan.

Ustadz Felix Siaw

Pada zaman revolusi, umat Islam juga mencetak sejarah sebagai bagian dari kelompok mayoritas yang berkontribusi untuk kemerdekaan republik ini. Bersama elemen bangsa lain, mereka mengorbankan pikiran, tenaga, harta, bahkan nyawa demi membebaskan tanah air dari belenggu penjajahan.

Teladan ulama

Perjuangan tersebut tentu terlalu sempit bila dilihat hanya untuk kepentingan Islam. Karena kenyataannya, sejak awal negeri ini dihuni oleh ragam agama dan etnis. Seruan perang suci oleh para ulama, misanya, pasti juga mencakup kepentingan seluruh rakyat di tanah air yang bineka itu.

Ustadz Felix Siaw

Pascakemerdekaan, perjuangan berlanjut dengan meletakkan pondasi republik yang baru lahir, merumuskan asas-asasnya, dan memikirkan struktur pemerintahannya. Usaha ini jelas sangat tidak mudah. Bisa dibayangkan betapa hebatnya perdebatan dan kontestasi kepentingan saat itu. Indonesia dihuni oleh ribuan suku dan unsur kebudayaan lainnya. Seluruhnya tentu menginginkan aspirasinya terpenuhi.

Meski demikian nyatanya gejolak tak sampai membuat negeri ini pecah belah. Di tengah belantara tarik menarik kepentingan kala itu para tokoh dan pendiri bangsa ini menunjukkan keluasan hatinya untuk memprioritaskan kepentingan bersama di atas kepentingan individu dan kelompok.

Sebagaimana tampak pada fenomena Piagam Jakarta, dokumen historis sebagai hasil kompromi antara kecenderungan “kaku” Islamis dan nasionalis dalam Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Semula sila pertama Pancasila yang termaktub dalam dokumen itu adalah “Ketoehanan, dengan kewajiban mendjalankan sjariat Islam bagi pemeloek-pemeloeknja”. Namun akhirnya tujuh kata dicoret dan berubah menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa” seperti yang kita baca sekarang.

Pencoretan tujuh kata itu tak akan terjadi seandainya umat Islam keras kepala dan hanya memikirkan aspirasi kelompok. Protes keras kala itu datang dari mana-mana hingga pada tahap ancaman disintegrasi. Berkat kearifan sikap ulama-ulama kita yang menjadi bagian penentu rumusan dasar negara, Pancasila dengan narasi yang sekarang ini disepakati, dan Indonesia pun selamat dari perpecahan.

Amal jariyah

Perjuangan, pemikiran, dan kearifan para pendahulu tersebut memiliki dampat yang sangat besar hingga sekarang. Barangkali kita tidak akan mendapati kondisi Indonesia seaman ini kalau saja para pendiri bangsa sama-sama mengunggulkan ego mereka. Apa yang mereka korbankan sebentuk amal jariyah, jasa agung yang manfaatnya terus mengaliri perjalanan bangsa hingga kini.

Pancasila merupakan warisan luhur para pendahulu, termasuk ulama, yang sayapnya mampu menaungi seluruh elemen bangsa yang majemuk ini. Ia menjadi titik temu yang bagi umat Islam di beberapa negara Timur Tengah adalah hal yang masih sulit diraih, bahkan menimbulknan krisis kemanusiaan dengan korban jiwa yang tidak sedikit.

Kaum Muslim di Indonesia memiliki landasan yang kuat, di mana Islam dan kebangsaan berjalin saling menunjang. Nilai-nilai di dalam Pancasila adalah substansi ajaran yang juga menjadi prinsip dalam Islam. Pancasila memang bukan agama, tidak dapat menggantikan posisi agama, tapi butir-butirnya tidak bertentangan dengan agama.

Semangat itu pula yang pernah ditegaskan Nahdlatul Ulama pada Musyawarah Nasional Alim Ulama Nahdhatul Ulama di Situbondo pada tahun 1983 dalam “Deklarasi tentang Hubungan Pancasila dengan Islam”. Bagi NU, penerimaan dan pengamalan Pancasila merupakan perwujudan dari upaya umat Islam Indonesia untuk menjalankan syari’at agamanya. Sementara itu, Muhammadiyah menyebut negara berasas Pancasila ini sebagai Darul Ahdi was Syahadah atau negara konsensus nasional yang terdiri dari beragam agama, keyakinan, suku, dan ras.

Namun demikian, kita tidak bisa menampik adanya sentimen SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan) dan radikalisme yang muncul di publik belakangan ini. Itu fakta yang mesti ditanggapi secara serius oleh tidak hanya aparat pemerintah tapi juga umat Islam sendiri secara umum. Meskipun, saya yakin, pelakunya sangat minoritas di antara mayoritas umat Islam Indonesia yang tetap ramah, toleran, moderat, dan menghargai budaya.

Amal jariyah para pendiri bangsa masih mengalir lancar hingga kini. Umat Islam punya sumbangsih besar dalam hal ini. Tentu bersama dengan komponen bangsa lain yang perannya tak bisa diremehkan. Umat Islam harus terus berbenah memperbaiki perannya, sembari itu harus istiqamah membangun potensinya yang demikian besar sebagai kekuatan penyangga utama negeri ini.

Penulis adalah Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia



Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Tegal, Kiai Ustadz Felix Siaw

Sabtu, 10 Maret 2018

NU Jabar Kembangkan Radio Dakwah

Cirebon, Ustadz Felix Siaw. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Jawa Barat melalui Lembaga TaMir Masjid NU (LTMNU) tengah mengembangkan radio FM sebagai media dakwah.?

NU Jabar Kembangkan Radio Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Jabar Kembangkan Radio Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Jabar Kembangkan Radio Dakwah

Hal ini tampak ketika Rais Syuriyah PBNU KH Masdar Farid Masudi mengunjungi studio radio Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Al Biruni di Babakan, Ciwaringin, Cirebon, Jawa Barat, Ahad (6/1). Radio ini cukup lama pasif hingga akhirnya bekerjasama dengan PWNU Jabar.

"Ini radio swasta yang kurang bisa mengembangkan kreativitas. Kita coba dorong untuk bisa aktif kembali bersama NU Jawa Barat," kata Ketua LTMNU Jabar HM Syaifullah Amin.

Ustadz Felix Siaw

Syaifullah menargetkan, bulan depan radio siap mengudara dan bisa diakses oleh seluruh penduduk di kawasan Kabupaten Cirebon, Kota Cirebon, Kabupaten Majalengka, dan Kabupaten Kuningan.

Ditambahkan, pengembangan radio dimaksudkan untuk memperkuat paham Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja). Rencananya, radio ini akan diisi sejumlah kegiatan, seperti pengajian, dialog interaktif, pemberitaan, dan lain-lain.

Ustadz Felix Siaw

Ketua Pengurus Pusat LTMNU KH Abdul Manan A Ghani yang juga meninjau studio radio mendukung penuh lahirnya radio berbasis NU di Cirebon. Ia berharap, prestasi ini dapat ditingkatkan dan menjadi percontohan bagi pengurus LTMNU lain di seluruh Indonesia.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis ? : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Doa Ustadz Felix Siaw

Jumat, 09 Maret 2018

Kalau Sama-sama Ngotot, Mungkin Sekarang Indonesia Belum Lahir

Solo, Ustadz Felix Siaw - Indonesia didirikan dengan kompromi-kompromi antara kaum islamis yang ingin mendirikan negara agama dan kaum nasionalis yang ingin mendirikan negara sekuler.

“Melihat fakta sejarah, kalau waktu itu, islamis dan nasionalis sama-sama ngotot dan tidak mau kompromi, mungkin sampai sekarang Indonesia belum lahir," tutur Wakil Rais Syuriyah PCNU Kota Surakarta Kiai Abdul Aziz Ahmad, usai mengikuti acara Apel Nusantara Bersatu yang diadakan di Lapangan Kota Barat Solo, Rabu (30/11).

Kalau Sama-sama Ngotot, Mungkin Sekarang Indonesia Belum Lahir (Sumber Gambar : Nu Online)
Kalau Sama-sama Ngotot, Mungkin Sekarang Indonesia Belum Lahir (Sumber Gambar : Nu Online)

Kalau Sama-sama Ngotot, Mungkin Sekarang Indonesia Belum Lahir

Ditambahkan kiai yang juga pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Surakarta itu, para ulama akhirnya tetap konsekuen dengan kompromi tersebut dan memiliki semboyan NKRI harga mati. "Maka lahirlah Pancasila, yang menyerap ajaran-ajaran keduanya,” kata dia.

Ustadz Felix Siaw

Acara Apel Nusantara Bersatu ini, turut dihadiri kurang lebih 7.000 peserta dari berbagai elemen, di antaranya jajaran Pemkot, TNI, Polri, organisasi masyarakat dan organisasi keagamaan, serta tokoh masyarakat di Solo.

Ustadz Felix Siaw

Perwakilan dari berbagai elemen masyarakat tersebut menandatangani Ikrar Kesepakatan Bersama dalam rangka menjaga kebhinekaan dan antisipasi bahaya terorisme, paham radikalisme dan separatisme di Kota Surakarta.

Ikrar Kesepakatan Bersama yang ditandatangani oleh berbagai elemen masyarakat berisi lima poin. Pertama, setia kepada NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Kedua, menjaga keutuhan dan kedaulatan NKRI, menghormati keberagaman suku, agama, ras dan budaya, dan siap bersama-sama menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan.

Poin ketiga, mengamalkan prinsip sikap toleran dan menjaga kerukunan untuk mewujudkan kehidupan masyarakat yang aman, tertib dan adil. Keempat, menolak segala bentuk gerakan anarkisme dan radikalisme yang ingin memecah- belah persatuan bangsa, mengadu domba dengan provokasi SARA.

Poin kelima, menjunjung tinggi ketentuan hukum yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Kyai, Sholawat Ustadz Felix Siaw

Kamis, 08 Maret 2018

6 Cara Peningkatan Amal Selepas Ramadhan

Jember, Ustadz Felix Siaw - Bulan Ramadhan adalah bulan pendidikan dan latihan (diklat) bagi umat Islam. Berhasil atau tidaknya diklat tersebut, indikasinya bisa diteropong dari amal perbuatannya setelah Ramadhan. Meningkatkah ibadahnya atau semakin kendur. Di situlah penilaian keberhasilan Ramadhan.

Hal tersebut diungkapkan Ketua Pengurus Cabang Lembaga Pendidikan Ma’arif Kabupaten Jember, Jawa Timur Ustadz Hobri Ali Wafa saat menjadi khatib shalat idul fitri di Masjid Darussalam, Jl. Jayanegara No, 22 Jember, Rabu (6/7).

6 Cara Peningkatan Amal Selepas Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
6 Cara Peningkatan Amal Selepas Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

6 Cara Peningkatan Amal Selepas Ramadhan

Menurutnya, untuk melakukan peningkatan amal tersebut, dapat diupayakan melalui enam cara. Pertama, musyaratah. Artinya, mengawali bulan Syawal hendaknya diawali dengan tekad yang bulat? untuk betul-betul berupaya meningkatkan amal.

Kedua, muraqabah. Yaitu memantau diri atau merasakan bahwa Allah memantau. Jika sikap ini dimiliki, siapa pun tidak akan main-main dalam pelaksanaan tekad tersebut. "Ketiga, muhasabah, yaitu melakukan introspeksi sejauh mana pelaksanaan tekad yang diikrarkan tersebut. Apakah terlaksana dengan baik, atau terlaksana tetapi dipenuhi dengan kelalaian, atau tidak terlaksana sama sekali," tukansya.

Ustadz Felix Siaw

Sedangkan yang keempat adalah muaqabah, yaitu memberikan sanksi terhadap kelalaian dalam pelaksanaan tekad tersebut. Sebab, bila kelalaian itu tidak diberikan sanksi, dikhawatirkan kelalaian serupa akan terulang kembali.

Ustadz Felix Siaw

Kelima, mujahadah, yaitu mengerahkan segenap kemampuan yang ada pada diri untuk memperbaiki kelalaian. "Keenam, taubikh wa muatabah, yaitu koreksi diri. Dengan cara ini kita menyadari bahwa amal-amal kita penuh dengan kekurangan sehingga ke depan berupaya ditingkatkan," tuturnya.

Sementara itu, Wakil Ketua LTN NU Jember Ustadz Aryudi A. Razaq yang menjadi imam/khatib di masjid Al-Falah Kecamatan Patrang, dalam khotbahnya mengimbau agar hari raya kemenangan ini disyukuri dalam bentuk kegiatan yang positif. Bergembira tak dilarang. Bersukaria pun boleh. Namun semua itu tak boleh membuat umat Islam lalai dengan tugas dan kewajibannya selaku hamba Allah dan kholifah fil ardli.

"Yang jelas pesta pasti berakhir, kegembiraan juga akan berlalu. Karena itu, marilah kita bersiap-siap untuk berjuang meraih kemenangan lain di masa-masa yang akan datang di belantara kehidupan yang maha luas," tukasnya. (Red: Abdullah Alawi)

?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Nusantara Ustadz Felix Siaw