Kamis, 31 Agustus 2017

Konferwil Alot, Nurul Hidayati Akhirnya Terpilih Pimpin IPPNU Jatim

Surabaya, Ustadz Felix Siaw. Setelah keputusan deadlock 14 kali 24 jam, akhirnya Konferensi Wiayah (Konferwil) XIX Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Jatim kembali dilangsungkan, Ahad (18/12). Bertempat di Aula Kertoharjo Gedung Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jatim, Nurul Hidayati kader IPPNU asal Bangil terpilih untuk menjadi nakoda organisasi tersebut selanjutnya.

Sebelumnya, Konferwil XIX IPPNU Jatim ? diselenggarakan di Gedung SMPN 1 Sidoarjo mulai tanggal 2-4 Desember. Dalam forum ini, muncul dua nama kandidat ketua PW IPPNU Jatim yaitu Amidatus Sholihat dan Nurul Hidayati. Masing-masing mendapatkan 16 suara sampai lima kali putaran pemungutan suara.

Pada sidang lanjutan ini, pimpinan sidang yang ditugaskan dari Pimpinan Pusat (PP) IPPNU tidak sama dengan sebelumnya. Kali ini sidang dipimpin oleh Herawati dan sebagai sekretarisnya Zaimah.

Konferwil Alot, Nurul Hidayati Akhirnya Terpilih Pimpin IPPNU Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Konferwil Alot, Nurul Hidayati Akhirnya Terpilih Pimpin IPPNU Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Konferwil Alot, Nurul Hidayati Akhirnya Terpilih Pimpin IPPNU Jatim

Di awal forum peserta sidang sempat menolak adanya pergantian pimpinan sidang yang ditugaskan. Terjadi pro-kontra antara peserta yang hadir di forum yang akhirnya bisa diselesaikan oleh pimpinan sidang, sebab mereka memiliki Surat Tugas.

"Pada Konferwil lanjutan ini juga hadir PWNU yang diwakili KH Sholeh Hayat. Hal ini tidak lain untuk menjadi penengah dan pengayom sebab mempelajari sidang sebelumnya yang diputuskan deadlock," terang Ida Fitriani, ketua Steering Commitee.

Ustadz Felix Siaw

Benar saja, terjadi silang pendapat kembali di kalangan peserta Konferwil saat mulai membahas status aktif pimpinan cabang. Karena adanya perbedaan asumsi masa aktif antara pimpinan sidang sekarang dengan yang memimpin sebelumnya.

"Pimpinan ? Pusat yang hadir sekarang lebih saklek pada Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga (PDPRT). Dimana didalamnya tidak ada yang menyebutkan masa tenggang 3 bulan dari tanggal akhir jabatan yang tertulis di Surat Pengesahan (SP)," jelas Ida.

Ida yang pada forum di Sidoarjo memimpin sidang tata tertib juga mengingatkan kembali kepada peserta tentang keputusan yang dibuat sebelumnya. Yang mana pada sidang tata tertib telah disepakati tidak adanya masa tenggang tiga bulan dari SP. Dan keputusan inilah yang tidak diindahkan pimpinan sidang yang pertama.

Dengan pimpinan sidang baru yang saklek PDPRT ini akhirnya tiga cabang yaitu Situbondo, Jember dan Pacitan tidak lagi memiliki hak suara. Dalam SP tertulis masa aktif PC IPPNU Situbondo adalah sampai tanggal 10 Oktober 2016, Jember sampai 28 September 2016 dan Pacitan sampai 9 November 2016. Dari sini beberapa PC mulai mengajukan protes.

Forum kembali ricuh sampai akhirnya KH Sholeh Hayat perwakilan PWNU memberikan solusi. Solusi yang diberikan yaitu peserta sidang tetap sebagaimana forum sebelumnya di Sidoarjo.

Ustadz Felix Siaw

Terang solusi PWNU ini dianggap mencederai PDPRT yang ada. Forum pun akhirnya ricuh kembali sampai kemudian KH Sholeh Hayat mencabut apa yang disampaikannya dan memohon maaf kepada forum. Tidak sampai disitu saja KH Sholeh Hayat juga menutup forum tersebut.

"Pimpinan Pusat mendapatkan perintah dari Jakarta untuk pulang. Hasil Konferwil kali ini adalah apa yang ada di depan mata kalian sekarang. Maka saya nyatakan Konferwil ditutup," jelas Kiai Sholeh.

Beberapa peserta tidak terima dengan ditututpnya forum. Mereka memohon agar forum tetap dilanjutkan. Bahkan hampir setengah jam beberapa peserta ini tidak mengizinkan KH Sholeh Hayat keluar ruangan.

"Mereka memblokade pintu masuk ruangan, dan terus memohon kepada Kiai untuk melanjutkan sidang. Beberapa peserta lain tampak berurai air mata melihat Kiai diperlakukan demikian itu," ungkap Isnaini kader IPPNU Jombang yang saat kejadian masih di dalam ruangan.

Sidang pun akhirnya dilanjutkan kembali dengan Zaimah yang sebelumnya adalah sekretaris sidang beralih menjadi pimpinan sidang. Sedangkan Herawati menjadi sekretarisnya.

"Peralihan ini dilakukan sebab Mbak Herawati tidak bisa mengatasi segala kericuhan yang terjadi," terang Iffatul Wahidah ketua PC IPPNU Ponorogo yang juga menjadi peserta.

Keberadaan PC IPPNU Nganjuk sebagai peserta dalam sidang ini juga dipermasalahkan. Sebab menurut beberapa peserta PC tersebut sudah melaksanakan Konfercab pada hari yang sama dengan Konferwil. Dan pada saat itu pula sudah menyatakan demisioner, meskipun ketuanya ada di lokasi Konferwil.

"Domisioner itu tidak sah karena PCNU tidak diberi mandat untuk mendemisionerkan PC IPPNU. Justru PCNU nganjuk meminta panitia Konfercab untuk segera mengirimkan surat ke pusat, karena yang punya wewenang itu adalah pusat," terang Arum Ketua PC IPPNU Nganjuk.

Masih menurut Arum, Konfercab tersebut juga tidak melibatkan Pimpinan Pusat dan Pimpinan Wilayah yang secara organisasi memiliki tingkat di atas Pimpinan Cabang. Dan pengurus yang menyatakan demisioner hanyalah 4 orang saja.

"Tentang demisioner itu, saya sebagai ketua juga tidak pernah memandatkan kepada siapapun untuk melakukannya. Masa khidmat PC Nganjuk pun tertulis di SP sampat tanggal 1 Maret 2017," terang Arum. Oleh sebab itu PC Nganjuk akhirnya tetap dibolehkan menjadi peserta dengan hak suara.

Meskipun protes yang disampaikan peserta tak juga berhenti Pimpinan Sidang tetap melanjutkan forum dengan saklek berpatokan pada PDPRT. Dengan begitu hanya ada 29 Cabang saja yang memiliki hak suara.

Masuk tahap pemilihan suara, hasilnya adalah tetap 16 suara untuk Nurul Hidayati, dan 13 Suara untuk Amidatus Sholihat. Maka selanjutnya Nurul Hidayati mendapatkan mandat untuk menahkodai PW IPPNU Jawa Timur selama satu periode ke depan atau tiga tahun. (Nafisatul Husniah/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Ahlussunnah, Tokoh, Doa Ustadz Felix Siaw

Pesantren Lahirkan Tradisi Keberagaman yang Inklusif dan Moderat

Ponorogo, Ustadz Felix Siaw. Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin menyampaikan kekagumannya setiap kali berbicara tentang pesantren dan tradisi yang tumbuh didalamnya. Sebab, menurut pengalaman Menag, pesantren adalah satu-satunya lembaga pendidikan Islam yang unik, genuine, otentik, dan tidak mudah lekang di makan zaman.

Pesantren, lanjut Menag, sudah tumbuh sejak 7 abad yang lalu bersamaan dengan prosesi Islamisasi Nusantara. Dan hingga kini, pesantren tetap bertahan dan tidak tercerabut dari akar kulturalnya. Bahkan, Menag menegaskan, pesantren begitu dinamis, kreatif, inovatif dan memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap perkembangan masyarakat dan elemen kehidupan lainnya.

Pesantren Lahirkan Tradisi Keberagaman yang Inklusif dan Moderat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Lahirkan Tradisi Keberagaman yang Inklusif dan Moderat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Lahirkan Tradisi Keberagaman yang Inklusif dan Moderat

"Yang tak kalah penting lagi adalah saat pergumulan pesantren bersama dengan elemen bangsa melahirkan tradisi keberagaman yang inklusif dan moderat, yang menjadikan ciri khas keberagaman di Indonesia. Melalui pesantren inilah, watak ke Islaman dan ke Indonesiaan terbentuk seperti sekarang ini,” kata Menag saat berbicara dalam kesempatan menghadiri pertemuan akbar alumni Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo bersamaan dengan Peringatan 90 Tahun Pondok Gontor, Jumat (2/9).

Dikatakan Menag, lembaga pendidikan pesantren di Indonesia merupakan lembaga swadaya masyarakat yang tidak hanya menyelenggarakan pendidikan keagamaan Islam, akan tetapi juga melakukan pemberdayaan kepada masyarakat, dan bahkan pusat peradaban Islam.

"Pesantren telah banyak memberikan kontribusi yang luar biasa dalam melakukan pelayanan pendidikan keagamaan Islam,” papar Menag yang juga berkisah suka dukanya saat menjadi santri Gontor.

Ustadz Felix Siaw

Di luar kegiatan tersebut, Menag melanjutkan kunjungan kerjanya ke Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar yang pimpinannya sekarang Kiai Syaiful Anwar merupakan sahabat Menag satu angkatan (marhalah) saat menimba ilmu di Pondok Gontor.

Bersama santri dan pimpinan pondok Ngabar, Menag melaksanakan Shalat Jumat dilanjutkan dengan memberikan nasehat dan motivasi bagi santri-santri Ngabar agar terus berkhidmat menimba ilmu.

Ustadz Felix Siaw

"Anak-anakku sekalian, inilah masa terbaik, kalian semua bisa berkesempatan belajar di pesantren. Lembaga pendidikan yang memiliki pengalaman bagaimana ilmu itu diajarkan, dan diamalkan," ujar Menag.

"Ilmu menjadikan manusia akan semakin baik dan arif. Orang yang ilmunya sempit, cenderung bersikap kurang bijak. Di pesantrenlah tempat kita menimba ilmu dan berbagi pengalaman,” pungkasnya. (Kemenag/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Nahdlatul, Kajian Sunnah, Amalan Ustadz Felix Siaw

Hasyim Menilai Konflik di DPR Berpotensi Menggoyang Jokowi

Jakarta, Ustadz Felix Siaw. Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam KH Hasyim Muzadi berharap konflik yang terjadi di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) segera diakhiri. Jika konflik diterus-teruskan akan berpotensi menggoyang pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu memita semua anggota DPR yang dipilih dan memegang amanat rakyat bisa menahan diri.

Hasyim Menilai Konflik di DPR Berpotensi Menggoyang Jokowi (Sumber Gambar : Nu Online)
Hasyim Menilai Konflik di DPR Berpotensi Menggoyang Jokowi (Sumber Gambar : Nu Online)

Hasyim Menilai Konflik di DPR Berpotensi Menggoyang Jokowi

“DPR harus menahan diri. Jika jika konflik diteruskan maka akan menyebabkan konflik konstitusi. Kalau sudah konflik konstitusi maka akan menggoyang rezim yang ada sekarang,” kata Hasyim menjawab pertanyaan wartawan usai pembukaan seminar internasional di Pondok Pesantren Al-Hikam Depok, Kamis (30/10).

Ustadz Felix Siaw

“Kalau konflik diterus-teruskan maka keadaannya akan menjadi semakin tidak karu-karuan dan asing akan masuk,” tambahnya.

Ia berharap berbagai elemen yang memegang fungsi kontrol untuk DPR, seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dapat memerankan fungsinya. “KPK mestinya juga melakukan clearing di legislatif, tidak hanya eksekutif,” katanya.

Ustadz Felix Siaw

Seperti diwartakan, persaingan partai politik dalam Pilpres berlanjut di DPR. Kursi kepemimpinan DPR dan komisi-komisi berhasil disapu bersih oleh kubu partai politik yang kalah pilpres. Puncaknya, sempat terjadi insiden banting meja dan telah dibentuk pimpinan DPR tandingan oleh partai politik pendukung pemerintah.

Ketua Umum Pengurus Pusat Muslimat NU Khofifah Indarparawansa meminta DPR berkaca kepada Dewan Perwakilan Daerah yang telah menyelesaikan pemilihan pemimpin dan kelengkapannya tanpa gejolak.

“Di DPD komite-komite telah terbentuk tiga minggu yang lalu. Saya berharap sinergi yang ada di DPD ini menular ke DPR. DPD sudah baik dan bisa bersinergi. Saya harap DPR juga begitu,” katanya. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Ulama Ustadz Felix Siaw

Ansor dan Fatayat Bulu Gelar Kaderisasi Terpadu

Rembang, Ustadz Felix Siaw - Pengurus GP Ansor dan Fatayat NU Kecamatan Bulu Kabupaten Rembang secara kompak menggerakkan organisasi kepemudaan NU. Hal ini tampak jelas saat keduanya membuka Pendidikan Kader Dasar bersama yang diadakan di? Madrasah An-Nurroniyah Desa Ngulaan Kecamatan Bulu, Jumat (22/7) pagi.

Menurut dua sayap kepemudaan NU ini, kaderisasi bersama merupakan sesuatu yang sudah biasa dilakukan oleh keduanya.

Ansor dan Fatayat Bulu Gelar Kaderisasi Terpadu (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor dan Fatayat Bulu Gelar Kaderisasi Terpadu (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor dan Fatayat Bulu Gelar Kaderisasi Terpadu

Selain PKD, GP Ansor dan Fatayat NU Bulu juga akan melangsungkan Konferancab pada Sabtu (23/7) di tempat yang sama.

Ketua GP Ansor Kecamatan Bulu Suyoto menyampaikan, ada 85 kader GP Ansor yang akan mengikuti PKD dari 17 ranting dan 45 kader Fatayat NU dari 16 ranting.

Ustadz Felix Siaw

"Dapat kami laporkan jika nanti akan ada 85 kader Ansor dan 45 Kader Fatayat, yang kesempatan kali ini akan mengikuti pelatihan," jelasnya.

Ustadz Felix Siaw

Dalam PKD bersama dan sekaligus Konferancab tampak hadir pengurus MWCNU Bulu KH Sarkowi, Ketua GP Ansor Rembang Gus Hanies Cholil Barro bersama sejumlah pengurus harian dan juga muspika setempat.

Pada pembukaan kader muda NU ini menyatakan deklarasi antiradikalisme. Mereka bersepakat untuk memerangi aksi radikalisme dan juga terorisme. Bunyi sirine yang dihidupkan Gus Hanies menandai pembakaan PKD dan Konferancab Ansor dan Fatayat NU Bulu.

Mereka dan aparat pemerintah setempat menandatangani nota kesepahaman perihal perang terhadap terorisme. (Ahmad Asmui/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Internasional, Sholawat Ustadz Felix Siaw

Rabu, 30 Agustus 2017

Kiai Wahab Ahli Debat Berbekal Fathul Mu’in

Jombang, Ustadz Felix Siaw. Sebagai orang yang bergaul lintas batas, KH Wahab Chasbullah bertemu siapa saja. Dari rakyat biasa, pedagang, pemuka agama sampai politisi. Dalam pergaulan itu tak jarang ia harus berdebat dengan kalangan yang ditemuinya.

Kiai Wahab Ahli Debat Berbekal Fathul Mu’in (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Wahab Ahli Debat Berbekal Fathul Mu’in (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Wahab Ahli Debat Berbekal Fathul Mu’in

Menurut sejarawan Choirul Anam, Kiai Wahab sering bergaul dengan kelompok diskusi pendiri Budi Utomo, yaitu Indonesiche studieclub di Surabaya.

Malah, lanjut Choirul Anam, di kelompok diskusi itu, Kiai Wahab kerapkali menjadi pembicara inti. “Seringkali dalam klub Dr Soetomo sendiri mengakui bahwa kalau dia itu berdebat dengan Mbah Wahab itu nggak akan menang,” katanya pada Sarasehan dan Launching Buku KH Wahab Chasbullah, Kaidah Berpolitik dan Bernegara karya H Abdul Mun’im DZ. Launching yang digelar di Aula Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Rabu (3/9) tersebut dalam rangka Haul Kiai Wahab yang ke-43.

Ustadz Felix Siaw

Choirul Anam menyebutkan pengakuan Soetomo tersebut dalam buku Kiai Abdul Halim Kedung: Perjuangan Kiai Wahab pada halaman 5. Anam memepertegas Kiai Abdul Halim yang dimaksud adalah kiai? Kebon Dalem Surabaya yang sama-sama terlibat di forum diskusi tersebut. “Jadi beliau itu orang pondokan tapi teori-teori debatnya luar biasa,” tambahnya lagi.

Chorul Anam kembali menukli kembali pengakuan Kiai Abdul Halim. Karena kepandaian debatnya itu, Kiai Abdul Halim pern menanyakannya kepada Kiai Wahab, “’Bagaimana kok bisa berdebat seperti itu?’ tanya Kiai Abdul Halim. ‘Ya sudah Fathul Mu’in itu saja,’jawab Mbah Wahab,” kutip Cak anam.

Ustadz Felix Siaw

Chorul Anam juga mengatakan, Kiai Wahab orang sabar menyanpaikan idenya. Ketika NU mau didirikan, 10 tahun sebelumnya ia berkali-kali mengemukakannya kepada KH Hasyim Asy’ari. Setelah 10 tahun bersabar, akhirnya didirikan tahun 1926. Menurut Anam, Kiai Wahab pada waktu itu sampai pada kesimpulan, kalau NU tidak diizinkan, ia akan masuk ke Sarekat Islam dan akan berdebat tiap hari dengan orang-orang yang ada di dalamnya.

“Saya sudah 10 tahun membela ulama pesantren yang dicaci maki karena berpegang pada mazhab. Kita harus berhasil membentuk perkumpulan sendiri. Kalau tidak saya akan lembali mengajar di pondok atau masuk organisasi lain dengan berdebat terus,” kutip Cak Anam dari buku KH Abdul Halim.

Kiai sampai pada pernyataan itu, menurut Cak Anam karena pada waktu itu pertentangan antara kelompok tradisionalis dan modernis di dunia Islam semakin memuncak. Waktu itu arus pembaharuan pemikiran Islam masuk tanah air. Mereka datang dengan semangat memurnikan Islam dengan jargon kembali pada Al-Quran dan Hadits, membasmi bid’ah, khurafat dan takhayul, mengharamkan tahlil, selamatan, maulidan, dan mencaci ulama-ulama karena menganut mazhab.

“Kiai Wahab pada waktu itu berada di geras depan membela pesantren. Bahkan beliau sering melayani debat terbuka dengan kelompok muslim yang disebut pembaharu aatau modernis dalam masalah furu’iyah, ” tegas Cak Anam.

Seusai sarasehan, Cak Anam juga mengemukakan data lain tentang kehalian debat Kiai Wahab. Ia pernah mengalahkan Mbrechten, di pengadilan Semarang. "Saya punya datanya tentang itu," lanjutnya.

Sebagai ahli debat, Wakil Sekretaris Jenderal PBNU H Abdul Mun’im DZ menyebut Kiai Wahab sebagai orang yang pandai meyakinkan orang. Ketika NU mau berubah status menjadi partai, kritik muncul dari dalam NU dan luar. Ia dicap sebagai orang yang akan membelah persatuan umat.

“Silahkan Saudara tetap di Masyumi, saya akan sendirin mendirikan Partai NU dan hanya butuh seorang sekretaris. Insya Allah NU akan menjadi partai besar,” kata Mun’im menirukan ucapan Kiai Wahab.

Dalam pemilu 1955 hal itu terbukti. NU menjadi partai terbesar ketiga mendapat 45 kursi di Dewan Perwakilan Rakyat dan 93 kursi di Konstituante, ditambah 8 kader NU menjadi menteri.

(Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Aswaja Ustadz Felix Siaw

Syirik itu Bisa di Mall atau Gedung DPR

Yogyakarta, Ustadz Felix Siaw. Aksi vandalisme di makam Ki Ageng Prawiro Purbo, cucu Sultan Hamengku Buwono VI, yang terjadi pada 18 September 2013 lalu, hingga kini masih menyedot perhatian dan keprihatinan beragam pihak. 

Syirik itu Bisa di Mall atau Gedung DPR (Sumber Gambar : Nu Online)
Syirik itu Bisa di Mall atau Gedung DPR (Sumber Gambar : Nu Online)

Syirik itu Bisa di Mall atau Gedung DPR

Warga masyarakat yang masih terusik dengan kejadian tersebut, menggelar acara “Dzikir Salifin; mengenang, meneladani, dan mendoakan leluhur”, pada di Pesarean Ki Ageng Prawiro Purbo, Jl. Kusumanegara, Umbulharjo, Yogyakarta, Ahad (13/10) siang.

Hadir sebagai pengisi acara, Emha Ainun Najib (Cak Nun), dan Ahmad Fuad Efendy (Cak Fuad) yang merupakan pengasuh Pengajian Padhang Mbulan Jombang. Turut hadir pula Grup Macapatan Rumah Budaya EAN, dan Geguritan Bambang  Nursinggih. 

Ustadz Felix Siaw

Acara tersebut didahului dengan pembacaan macapat dan geguritan yang dipimpin oleh Romo Manu.

Cak Nun dalam kesempatan itu lebih menyorot dua hal. Pertama, latar belakang munculnya aksi tersebut. Menurut Cak Nun, aksi vandalisme itu mungkin terjadi karena berangkat dari adanya dzan atau prasangka pada diri pelaku, bahwa di makam tersebut terdapat perilaku syirik. “Padahal yang mengerti kita ini syirik, atau kafir, atau Islam, itu adalah diri kita sendiri dan Allah, bukan orang lain,” tegasnya.

Ustadz Felix Siaw

Bukan Cak Nun namanya jika tanpa guyonan. “Saya husnudzon saja, orang yang merusak itu takut kita masuk neraka, tapi pesan saya jangan hanya khawatirkan orang-orang yang masuk kuburan saja, tolong juga khawatirkan orang-orang yang masuk mall, Amplaz, karena mereka adalah orang yang mendewakan materi. Jadi setelah ini saya anjurkan semua orang untuk berprasangka, biar semua tempat dihancurkan, termasuk gedung DPR,” ujarnya yang segera disambut gelak tawa hadirin.

Cak Nun tak henti-hentinya untuk selalu mengajak masyarakat agar selalu belajar dan tidak mudah menuduh. “Nggak usah nuduh-nuduh dulu, kita belajar saja bareng-bareng,” tandasnya.

Hal kedua yang disoroti Cak Nun adalah tentang tindakan pemerintah. Cak Nun mengungkapkan, bahwa jika ada fasilitas umum yang dirusak, baik itu ada hubungannya dengan agama atau tidak, pemerintah harus ikut bertanggungjawab. 

Menurutnya, pemerintah seharusnya bertindak tegas, karena jika tidak, berarti seakan-akan malah melegalisasi tindakan perusakan seperti itu. “Kita semua berharap semoga pelaku segera ditagkap,” imbuhnya. (Dwi Khoirotun Nisa’/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Ubudiyah, Daerah Ustadz Felix Siaw

Berkah Memberi Kegembiraan di Hari Asyura

Umat Islam dianjurkan untuk berbagi kebahagiaan pada hari Asyura atau 10 Muharram. Kisah yang termaktub dalam kitab an-Nawadir karya Ahmad Syihabudin bin Salamah Al-Qalyubiy ini mungkin dapat menjadi salah satu acuan mengapa pula banyak diadakan kegiatan penyantunan kepada fakir miskin dan anak yatim di hari Asyura.

Suatu hari, bertepatan dengan Asyura ada seorang fakir yang memiliki tanggungan anak pergi ke rumah tuan Qadli (hakim). Sebetulnya dia enggan meminta karena dia juga seorang Alawiyyin, akan tetapi melihat anaknya yang sudah berhari-hari tidak makan ia pun pergi menuju kota.

Berkah Memberi Kegembiraan di Hari Asyura (Sumber Gambar : Nu Online)
Berkah Memberi Kegembiraan di Hari Asyura (Sumber Gambar : Nu Online)

Berkah Memberi Kegembiraan di Hari Asyura

Untuk menuju ke kota, ia harus berjalan cukup jauh melewati padang pasir. Akhirnya, tibalah ia di rumah tuan Qadli. Kemudian menceritakan keadaannya.

Ustadz Felix Siaw

Inii rajulun fakirun dzu ‘iyalin (saya ini lelaki fakir yang punya banyak tanggungan keluarga). Hari ini bertepatan 10 muharam, saya mau minta kepada anda tidak banyak: 10 potong roti, 10 potong daging, dan uang 2 dirham,” kata si fakir.

Ustadz Felix Siaw

“Iya Pak, nanti siang anda ke sini lagi,” jawab Qadli.

Lalu pulanglah ia ke desa, sementara itu anaknya melihat kedatangan sang ayah merasa gembira. Berharap membawa sesuatu untuk dimakan. Akan tetapi kali ini ia pulang dengan tangan hampa.

“Sabar ya nak, nanti siang ayah kembali lagi ke sana,” jawab sang ayah.

Siangnya, si fakir kembali menemui Qadli dan mendapat jawaban sama. “Maaf, nanti sore kembali lagi ya, Pak,” jawab Qadli.

Jawaban tersebut terulang lagi, ketika pada sore harinya si fakir menemui Qadli. Bahkan, ia justru mendapat makian dari Qadli karena meminta-minta.

Merasa sedih dan tidak berdaya lagi, ia pun berdoa kepada Allah. “Ya Allah! mata mana yang tega melihat kondisi anak saya? Telinga mana yang mampu mendengar ratap tangisan anak saya? Mulut mana yang mampu menjawab pertanyaan anak saya!” pinta fakir.

Maka ia pun pulang dengan langkah gontai. Namun, di tengah jalan ia bertemu dengan seorang Nasrani bernama Saiduk

“Ada apa Pak, kenapa menangis?” tanya Saiduk.

“Jangan tanya kondisi saya,” jawab fakir.

“Saya tanya, billahi, mengapa kamu menangis?” tanya Saiduk kembali.

Akhirnya, ia menceritakan kisahnya kepada Saiduk dan membuatnya iba, kemudian ia bertanya. “Saat ini kalau dalam Islam, hari apa?” tanya Saiduk.

“10 Muharram. Ini hari yang penuh berkah,” jawab fakir.

“Kalau begitu saya ingin memberi kepada anda, lebih dari yang anda minta” jawab Saiduk.

Tidak hanya itu, bahkan Saiduk berjanji untuk selalu memberi bantuan kepada si fakir. Hal ini membuat fakir bahagia. Ia pun pulang dengan disambut gembira anak-anaknya, sebab kali ini ia pulang dengan membawa sejumlah makanan dan uang.

“Ya Allah, orang yang membuat kami senang, maka buatlah dia gembira, secepatnya,” ungkap anak-anaknya.

Sementara itu, pada malam harinya tuan Qadli bermimpi. Ia mendengar suara tanpa rupa (hatif).

“Angkat kepalamu!” dilihatnya dua rumah panggung yang terbuat dari emas dan perak.

“Ini untuk siapa?” tanya Qadli.

“Sesungguhnya untuk kamu, seandainya kamu melayani kebutuhannya orang fakir tadi, tapi karena kamu tidak melayani, maka ini diberikan kepada Saiduk,” jawab hatif.

Esok hari, tua Qadli bergegas menuju ke rumah Saiduk untuk menanyakan perihal mimpi semalam. “Wahai Saiduk, amal kebajikan apa yang telah kamu lakukan semalam?” tanya Qadli. Saiduk pun menceritakan kembali, tentang seorang fakir yang bertemu dengannya semalam..

“Baiklah saiduk, apa yang kau berikan kepada orang fakir tersebut, saya ganti 100.000 dirham,” kata Qadli.

Namun, di luar dugaan tawaran tersebut ditampik Saiduk. “Tuan Qadhi, jangankan sejumlah yang anda tawarkan. Seandainya diberi dunia ini penuh dengan emas, tidak akan saya berikan. Sekarang saksikan dan pegang tangan saya, Asyhadu an laa ilaaha illa Allah wa Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah,” tukas Saiduk yang akhirnya ditakdirkan Allah menjadi orang yang beruntung, sesuai dengan namanya. (Ajie Najmuddin)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Kajian, Fragmen Ustadz Felix Siaw

Senin, 28 Agustus 2017

Mobil Karya Anak SMK Dipamerkan di Muktamar Thariqah

Malang, Ustadz Felix Siaw. Mobil Karya anak anak SMK Surakarta yang beberapa waktu lalu dipakai Walikota dan Wakil Walikota Surakarta sebagai mobil dinasnya dapat dilihat di arena Muktamar XI Jamiyyah Ahlit Thariqah Al Mutabarah An Nahdliyyah (Jatman) yang berlangsung di Pesantren Al Munawariyah Bululawang Kabupaten Malang tanggal 10 - 14 Januari 2012.

Tidak hanya itu, beberapa karya anak anak SMK seperti sepeda motor, TV layar datar, LCD proyektor, alat pembuat tahu hingga alat pengukur travo juga dapat dilihat di arena pameran teknologi karya anak bangsa bersama SMKN 1 Singosari, SMKN 4,5 dan 6 Malang. Kemudian SMKN 7 Surabaya, SMKN 2 Pasuruan, SMK plus Al Maarif Singosari, SMK Al Munawariyah, SMK Cendika Bangsa, SMK Babussalam dan SMK Al Huda Malang.

Mobil Karya Anak SMK Dipamerkan di Muktamar Thariqah (Sumber Gambar : Nu Online)
Mobil Karya Anak SMK Dipamerkan di Muktamar Thariqah (Sumber Gambar : Nu Online)

Mobil Karya Anak SMK Dipamerkan di Muktamar Thariqah

Munirul Huda peserta muktamar asal Banyuwangi kepada Ustadz Felix Siaw mengatakan, dirinya tahu kalau di Muktamar Thariqah ada pameran otomotif karya anak anak SMK setelah diberitahu oleh teman satu pemondokan.

Ustadz Felix Siaw

Dikatakan, dirinya sangat kagum atas sentuhan anak anak SMK yang menurutnya tidak kalah dengan produk luar negeri dan sekaligus ini mengobati rasa penasaran yang hampir setiap hari diberitakan oleh media.

"Sebenarnya cukup banyak yang akan ikut pameran karya anak anak SMK, akan tetapi karena tempatnya terbatas, maka dibuat perwakilan saja," ujar Hamdani Muin Sekretaris panitia muktamar.

Ustadz Felix Siaw

Dikatakan, ide ada pameran karya anak anak bangsa sebagai bentuk apresiasi yang sedalam dalamnya dari thariqah, dengan cara ini diharapkan ke depan akan muncul karya karya lain yang lebih hebat.

Hamdani berharap Presiden SBY usai membuka muktamar bisa melihat lihat hasil karya anak anak SMK dan berkenan membubuhkan tanda tangan di mobil yang mulai banyak dipesan oleh berbagai kalangan.

Sebagaimana diketahui, mobil Kiat Esemka menjadi terkenal setelah Wakilota Surakarta Joko Widodo dan Wakilnya menjadikan sebagai kendaraan dinas sehari hari. Meski Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo kurang berkenan, akan tetapi Jokowi panggilan akrabnya tak bergeming untuk tetap menggunakan mobil bertype SUV sebagai kendaraan dinasnya.

Redaktur     : Mukafi Niam

Tim Liputan: A Khoirul Anam, Abdul Muis

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw IMNU Ustadz Felix Siaw

Sabtu, 26 Agustus 2017

Presiden: Pesantren Telah Beri Semangat Kebangsaan

Jakarta, Ustadz Felix Siaw. Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Rabithah Maahid Islamiyah (RMI) dan Silaturrahmi Kiai Pengasuh Pondok Pesantren se-Indonesia yang diberlangsungkan sejak Jumat (18/5) di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta diakhiri Senin (21/5) siang tadi. Penutupan Rakernas dan Silaturrahmi diadakan di Istana Merdeka Jakarta bersama Presiden Susilo bambang Yudhoyono (SBY).

Ketua Pengurus Pusat RMI KH Mahmoud Ali Zaen dalam sambutannya mengatakan pesantren akan memperluas wilayah pengabdiannya tidak hanya soal pendidikan moral-keagamaan tetapi juga pada penguatan sendi-sendi ekonomi bangsa, terutama di basis-basis masyarakat pesantren yakni petani, nelayan dan buruh.

Presiden: Pesantren Telah Beri Semangat Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Presiden: Pesantren Telah Beri Semangat Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Presiden: Pesantren Telah Beri Semangat Kebangsaan

"Kami melihat adanya kelambanan di sektor riil. Maka lembaga keuangan mikro adalah solusi," kata Mahmoud Zaen dihadapan Presiden SBY, beberapa menteri Kabinet Indonesia Bersatu serta 350 perwakilan kiai pengasuh pesantren dan pengurus RMI seluruh Indonesia.

Ditambahkan, Rakernas RMI yang bertema "Meneguhkan Kembali Nilai-Nilai Pesantren Menuju Kemandirian dan Profesionalisme di Era Global" kali ini telah merekomendasikan kepada Pengurus Pusat RMI untuk membuat standar pendidikan pesantren di berbagai level. "RMI akan mengajukan tawaran-tawaran mengenai standarisasi kurikulum dan sistem pendidikan ke pesantren-pesantren," kata Mahmoud Zaen.

Sementara itu Presiden SBY dalam sambutannya menyatakan, pesantren menjadi tempat tumbuhnya tradisi intelektualisme Islam yang khas di Indonesia. Salah satu yang khas dari intelektualitas pesantren adalah penentangan para kiai dan santri terhadap segala bentuk penjajahan.

Ustadz Felix Siaw

"Selain mendidik para santri, pesantren telah melakukan penentangan terhadap para penjajah. Para kiai dan santrinya teleh mendorong pergeseran dari masa ke masa untuk mewujudkan kemerdekaan," katanya.

Ditambahkan SBY, pesantren telah memberikan rasa, semangat dan wawasan kebabangsaan di Indonesia. "Sumbangan pesantren bagi negara sangat besar," katanya.

Dalam penutupan sambutannya Presiden SBY berjanji akan menindaklanjuti beberapa rekomendasi dari rakernas RMI yang ditujukan kepada pemerintah. "Saya meminta kepada Pak Menteri Agama dan Pak Sekretaris Kabinet untuk menindaklajuti rekomendasi dari para kiai, dan juga akan diteruskan ke menteri pendidikan," kata SBY.

Hadir dalam penutupan acara Rakernas dan Silaturrahmi itu beberapa kiai sepuh antara lain KH Idris Marzuki, KH Masduki Mahfudz, KH Miftahul Ahyar, Habib Lutfi bin Yahya. Acara ditutup dengan pembacaan doa oleh Ketua PBNU KH. Said Aqil Siradj.(nam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw

Ustadz Felix Siaw IMNU, PonPes, Quote Ustadz Felix Siaw

Jumat, 25 Agustus 2017

Pesantren Jadi Ikon Brebes, Selain Bawang Merah dan Telor Asin

Brebes, Ustadz Felix Siaw

Bupati Brebes Hj Idza Priyanti merangkul para ulama dan tokoh masyarakat untuk menyukseskan pembangunan daerah. Hal ini dilakukan guna tercapainya pembangunan yang seimbang antara pembangunan jasmani dan rohani. Brebes, katanya, layak menjadi negeri santri karena banyaknya pondok pesantren dan anak-anak yang menempuh pendidikan di pesantren.

Pesantren Jadi Ikon Brebes, Selain Bawang Merah dan Telor Asin (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Jadi Ikon Brebes, Selain Bawang Merah dan Telor Asin (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Jadi Ikon Brebes, Selain Bawang Merah dan Telor Asin

“Saya bertekad akan menyeimbangkan pembangunan jasmani dan rohani,” ujarnya saat silaturahim dengan para kiai dan tokoh masyarakat se-Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes, di aula kecamatan setempat, Selasa (9/2).

Ia menjelaskan bahwa pesantren menjadi ikon Kabupaten Brebes selain bawang merah dan telor asin. Menurut Idza, Kabupaten Brebes terkenal karena banyaknya pesantren yang berkualitas. “Dari daerah lain di Indonesia maupun luar negeri, banyak yang berkunjung ke Brebes juga karena mondok, nyantri di Brebes,” ungkapnya.

Lebih dari dua ratus pondok pesantren tersebar di 17 Kecamatan se Kabupaten Brebes, baik yang besar maupun kecil dan masing-masing memiliki spesifikasi sendiri-sendiri. “Tanpa peran kiai, Kabupaten Brebes tidak maju,” ucapnya.

Ustadz Felix Siaw

Oleh karena itu, kata Idza, Pemerintah Kabupaten Brebes memperhatikan dengan sepenuh hati keberadaan pondok pesantren, masjid, mushala, madrasah diniyah, pimpinan pondok pesantren, hafidz-hafidzah, maupun ustadz-ustadzah.

Ustadz Felix Siaw

Pembangunan SDM, sambungnya, akan mampu meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Brebes. Dengan kebersamaan antara ulama dan umara serta tokoh masyarakat, IPM Brebes yang tadinya pada posisi bontot bisa beranjak satu digit pada urutan ke-34.

Bupati juga meminta kepada para kiai dan tokoh masyarakat terus mendorong peningkatan semangat belajar di kalangan generasi muda. Dengan uluran tangan keikhlasan dari kiai dan tokoh masyarakat, kondisi Kabupaten Brebes akan kondusif. Di samping itu, generasi muda tidak akan mudah tergiur ajakan-ajakan yang menyesatkan sebagaimana telah dilakukan kelompok radikal dan ormas Gafatar.

Dirinya tidak ingin pembangunan Kabupaten Brebes hanya berkutat masalah fisik saja, tetapi harus merambah ke persoalan rohaniyah. Karena, menurutnya, kuatnya rohani akan mampu membuat bangunan yang tinggi menjulang. “Pembangunan infrastruktur tinggal 10 persen, selanjutnya diseimbangkan dengan pembangunan sumber daya manusia,” ujarnya. (Wasdiun/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Hikmah, Internasional Ustadz Felix Siaw

Kamis, 24 Agustus 2017

Ide Pembaharuan Islam Tokoh-tokoh Kontemporer

Judul: Menafsirkan Tradisi dan Modernitas: Ide-ide Pembaharuan Islam

Penulis    : Wasid, dkk.

Penerbit: Pustaka Idea, Surabaya

Ide Pembaharuan Islam Tokoh-tokoh Kontemporer (Sumber Gambar : Nu Online)
Ide Pembaharuan Islam Tokoh-tokoh Kontemporer (Sumber Gambar : Nu Online)

Ide Pembaharuan Islam Tokoh-tokoh Kontemporer

Cetakan: I, Juli 2011

Tebal: 369 halaman

ISBN: 978-602-99387-1-5

Harga: Rp. 59.000

Ustadz Felix Siaw

Peresensi: Abd. Basid

Ustadz Felix Siaw

Ada banyak ragam seseorang dalam membaca realitas keagamaan dalam tiap fasenya. Ada yang berpegang teguh pada kekuasaan teks dan sebaliknya ada yang mengabaikannya. Penganut tipe yang pertama ini biasa disebut dengan kaum fundamentalis sedangkan yang kedua disebut kaum rasionalis.

Kaum fundamentalis berkeyakinan bahwa dalam membaca dan memaknai sebuah realitas harus dikembalikan pada teks murni. Mereka mengajak seluruh masyarakat luas agar taat terhadap teks-teks Kitab Suci yang otentik dan tanpa kesalahan. Karenanya faham ini seringkali berbenturan dengan kelompok-kelompok lain, bahkan yang ada di lingkungan agamanya sendiri. Ciri mereka yang menganut faham ini di antaranya suka menolak perubahan, intoleransi, tertutup, kekakuan madzhab (aliran), keras, tunduk kepada turats (tradisi), kembali ke belakang, dan menentang pertumbuhan dan perkembangan.

Kebalikan dari fundamentalis adalah rasionalis. Kaum rasionalis beranggapan bahwa kebenaran haruslah ditentukan melalui pembuktian, logika, dan analisis yang berdasarkan fakta, daripada melalui iman, dogma, atau ajaran agama. Bagi mereka, sudah bukan saatnya kita “menuhankan” tradisi. Semuanya harus berubah. Zaman modern menuntut kita untuk berpikir logis dan empiris. Karenanya, bagi mereka, isu-isu problematika yang semakin pelik di berbagai sektor ini harus dibaca dengan logika. Ciri aliran ini adalah penolakannya terhadap perasaan (emosi), adat-istiadat, atau kepercayaan yang sedang populer.

Dua aliran yang saling bertentangan di atas, cukup kuat jika dikatakan laksana Tom and Jarry yang tak pernah damai. Keduanya sama-sama perpegang teguh pada prinsipnya. Yang pertama anti modernis dan yang kedua anti turats (tradisi).

Selanjutnya, bagaimana kita sebagai insan yang sudah menerima dan mendapatkan hasil olah keduanya? Buku “Menafsirkan Tradisi dan Modernitas: Ide-ide Pembaruan Islam”, saya kira bisa menjadi jawaban dari problematika di atas. Buku ini mencoba membaca turats dan modernitas dengan analisa para tokoh kontemporer Islam yang ide-idenya dilandaskan pada pembaharuan Islam.

Sebut saja seperti Muhammad Syahrur, Thoha Husain, dan Asghar Ali Engineer. Muhammad Syahrur dengan teori limit-nya merespon keadaan zaman yang pelik ini (hal. 17-21). Baginya, dunia hukum Islam tidaklah terkungkung bak tahanan dalam perjara. Hukum Islam itu bebas bergerak selama dalam batas-batas yang ditentukan. Batasan itu adalah Nabi Muhammad, di mana ia merupakan inspirasi awal untuk melakukan sesuatu. Nabi Muhammad adalah penafsir pertama atas kondisi sosial dunia ini.

Thoha Husain dengan modal rasionalisme, tradisi ilmiah, dan kesejarahan menyikapi turast dan modernitas dengan arif. Baginya, turats tidak harus ditolak dan begitu juga modernitas. Dengan pemaduan turats dan modernitas, Thoha Husain mencoba membaca ulang turats agar lebih bermakna bagi kemanusiaan terkini (hal. 115-122).

Asghar Ali Engineer dengan teori teologi pembebasannya membaca keterbelakangan Islam dari Barat. Ia menggugat teologi klasik yang hanya berkutat pada pembebasan Tuhan dan menghadirkan teologi kepasrahan. Baginya, keterbelakangan dan ketertindasan umat Islam dikarenakan teologi yang tidak membebaskan. Untuk itu, ia menawarkan teologi pembabasan (hal. 336-338), di mana teologi itu tidak hanya untuk “membela” Tuhan, akan tetapi juga untuk “membela” manusia. Untuk hal ini, Asghar Ali Engineer meneliti turats untuk dicari nuansa pembebasannya dan mendialogkan dengan realitas kekinian.

Buku yang ditulis keroyokan oleh para pemikir dan intelektual strata tiga Pemikiran Islam IAIN Sunan Ampel Surabaya ini layak untuk dibaca para akademisi dan intelektual keislaman secara umum. Topik buku ini, yang sampai mereka bawa ke dalam forum diskusi—yang mereka istilahkan Forum “20”—sebelum terbit semakin menambah nilai ketajaman analisis masing-masing penulisnya.

Sebagai catatan akhir, ada dua catatan saya perihal buku ini, yaitu pertama, mengingat buku ini merupakan kajian tokoh, seringkali ditemukan judul tulisan kurang mewakili isi tulisan. Lihat saja, seperti pada tulisan yang berjudul “Membendung Otoritarianisme, Mengusung Hermeneutika Negosiatif” (hal. 67). Tulisan dengan judul tersebut berisi kajian terhadap pemikiran tokoh Khaled Abou El-Fadl, namun judul itu kurang memberi informasi bahwa di dalamnya berisi pemikiran tokoh Khaled Abou El-Fadl. Bagi para pembaca yang sudah berkecipung lama dengan dunia pemikiran tokoh kontemporer, mungkin tidak asing bahwa teori Hermeutika Negosiatif adalah teori interpretasi Khaled Abou El-Fadl, namun belum tentu bagi pembaca yang baru (baca: pemula) berkecipung dalam dunia pemikiran kontemporer? Hal serupa juga bisa ditemukan pada halaman-halaman lain seperti halaman 23 (tentang pemikiran Hassan Hanafi), 43 (tentang pemikiran Muhammad Syahrur), 109 (tentagn pemikiran Thaha Husain), 123 (tentang pemikiran Sayyed Hussein Nasr), 219 (tentang pemikiran Baihaqi AK) dan 253 (tentang pemikiran Fatima Mernessi).

Kedua, buku ini terkesan buku foto copy-an, bukan cetakan asli, melihat lay out pinggirnya yang mepet dengan tepi buku sehingga seakan-akan terpotong karena mau dijilid dan ditambah lagi kertasnya yang buram.

* Sarjana theologi Islam IAIN Sunan Ampel Surabaya

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Tegal, Syariah, Jadwal Kajian Ustadz Felix Siaw

Rabu, 23 Agustus 2017

Kala Para Alumni PMII Ciputat Bertemu Kangen

Tangerang Selatan, Ustadz Felix Siaw

Haru dan seru. Itulah perasaan yang menghinggapi alumni PMII Cabang Ciputat saat menggelar Reuni dan Temu Kangen, Ahad (1/5) di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten. Tak jarang terlihat pemandangan ekspresif saat kali pertama bertemu yang ditandai dengan teriakan, jabatan tangan erat-erat, rangkulan, dan saling mendokumentasikan diri. Karena merupakan momen langka, kegiatan yang diikuti oleh lebih dari 100 orang ini berlangsung begitu meriah dengan suasana penuh keakraban dan persahabatan.

Kala Para Alumni PMII Ciputat Bertemu Kangen (Sumber Gambar : Nu Online)
Kala Para Alumni PMII Ciputat Bertemu Kangen (Sumber Gambar : Nu Online)

Kala Para Alumni PMII Ciputat Bertemu Kangen

Tampak hadir sahabat-sahabati senior PMII era 70-an hingga 90-an. Aktivis pergerakan tempo dulu yang kini menjadi tokoh nasional ikut memeriahkan reuni, sebut saja KH Chotibul Umam (Guru Besar UIN Jakarta), Wahiduddin Adams (Hakim Konstitusi MK), Abd. Rahman Mas’ud ? (Kepala Badan Litbang dan Diklat Kemenag RI), Gatot Abdullah Manshur (Mantan Duta Besar Arab Saudi), H Munzier Suparta (Guru Besar UIN Jakarta), Indah SDA (Anggota DPR), Fadhilah Suralaga (Wakil Rektor UIN Jakarta), Wahid, mantan Dirjen Peraturan Perundang-undangan Kementerian Hukum dan HAM, dan tokoh-tokoh lainnya.?

Reuni ini mengambil tema Merajut Silaturahmi, Meneguhkan Ukhuwah, Khidmat Tiada Henti. Acara terbagi dalam dua sesi. Pertama, sesi seremonial yang diisi dengan kumandang lagu Indonesia Raya dan Mars PMII, sambutan dari penggagas acara, sesepuh, IKA PMII, dan Ketua PC PMII, Games, dan terakhir doa.?

Kedua, sesi dialog dan temu kangen. Pada sesi pertama, penggagas acara, Abd. Rahman Mas’ud, menyampaikan bahwa reuni dimaksudkan untuk mempererat tali shilaturrahim dan menjalin komunikasi kembali dalam rangka khidmat kepada bangsa dan agama.?

Atas nama sesepuh alumni, Munzier Suparta, dalam sambutannya menegaskan pentingnya merapatkan barisan pergerakan agar lebih siap dan sigap dalam menghadapi berbagai tantangan, terutama tantangan yang merongrong keutuhan NKRI dan keyakinan Ahlussunnah wal Jama’ah.?

Ustadz Felix Siaw

Selain itu, Ketua IKA PMII Ciputat, sahabat Zuhair Rusli, mengutarakan pentingnya merevitalisasi IKA PMII agar berperan lebih konkret, terlabih pada tahun 2016 ini telah memasuki masa suksesi kepemimpinan. Sementara Ketua PC PMII, Muhammad Rafsanjani, menjabarkan keberhasilan PMII Cabang Ciputat dalam pengkaderan baik secara kualitas seperti hidupnya suasana santri di lingkungan PMII, maupun secara kuantitas dengan jumlah kader yang meningkat signifikan dan pengisian pimpinan jabatan organisasi baik ekstra maupun intra kampus yang kini cukup dominan.

Meski terjeda dengan break dan shalat, peserta reuni dengan penuh semangat melanjutkan pertemuan di sesi kedua. Sesi yang dipandu oleh duet Hj Iryani Su’aidah dan KH Abd. Tholib ini berjalan dengan rileks dan penuh keakraban. (Efa Ainul Falah/Fathoni)?

Ustadz Felix Siaw

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Santri, News, Nahdlatul Ustadz Felix Siaw

Selasa, 22 Agustus 2017

Besok, LPBI NU Gelar Diskusi Publik Solusi Bencana Asap

Jakarta, Ustadz Felix Siaw. Pengurus Pusat Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) akan menggelar diskusi publik bertema “Mencari Solusi Asap yang Tak Kunjung Lenyap”, Selasa (13/19), pukul 13.00-17.00 WIB.

Besok, LPBI NU Gelar Diskusi Publik Solusi Bencana Asap (Sumber Gambar : Nu Online)
Besok, LPBI NU Gelar Diskusi Publik Solusi Bencana Asap (Sumber Gambar : Nu Online)

Besok, LPBI NU Gelar Diskusi Publik Solusi Bencana Asap

Kegiatan yang akan berlangsung di Gedung PBNU, Lantai 8,? Jalan Kramat Raya 164 Jakarta Pusat, ini diselenggarakan atas dasar keprihatinan terhadap bencana asap yang menyebar di Sumatera dan Kalimantan akibat kebakaran hutan dan lahan.

Dalam undangan yang diterima Ustadz Felix Siaw, pembicara yang dijadwalkan hadir antara lain. Raffles B Panjaitan (Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan KLHK), Tri Budhiarto (Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB), Togu Manurung (Forest Watch), Raynaldo Sembiring (Indonesian Center for EnviromentalLaw/ICEL), dan Soewarso (PT Sinar Mas).

Ustadz Felix Siaw

Ketua PP LPBI NU M. Ali Yusuf mengatakan, dampak adanya asap tebal tersebut adalah meningkatnya penyakit ISPA (infeksi saluran pernapasan akut), lumpuhnya pelayanan publik, matinya sektor jasa, dan pemenuhan kebutuhan dasar yang terancam.

Ustadz Felix Siaw

“Permasalahan tersebut membutuhkan solusi bersama antar pemangku kepentingan, sehingga peristiwa tahunan tersebut dapat segera diatasi dan dicarikan solusi yang permanen sehingga program Nawa Cita sebagai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional dapat diaktualisasikan dengan baik dan tidak berubah menjadi Duka Cita,” katanya.

LPBI NU mengajak masyarakat secara umum, termasuk awak media cetak, elektronik, dan online untuk turut serta dalam diskusi tersebut. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Hadits, Internasional Ustadz Felix Siaw

Sabtu, 19 Agustus 2017

Ansor Banyuanyar Gelar Konsolidasi Alumni PKD

Probolinggo, Ustadz Felix Siaw. Sebagai Rencana Tindak Lanjut (RTL) Pelatihan Kader Dasar (PKD), Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Banyuanyar Kabupaten Probolinggo menggelar konsolidasi alumni PKD, Rabu (9/12) malam. Konsolidasi ini digelar dalam kegiatan Rijalul Ansor di Desa Liprak Wetan Kecamatan Banyuanyar.

Kegiatan yang diikuti oleh para alumni peserta PKD, PAC GP Ansor Kecamatan Banyuanyar dan pengurus Pimpinan Cabang GP Ansor Kota Kraksaan ini dihadiri oleh Trainer Kaderisasi PW GP Ansor Jawa Timur Zen Ubaidillah dan Ketua PAC GP Ansor Kecamatan Banyuanyar Kholilullah.

Ansor Banyuanyar Gelar Konsolidasi Alumni PKD (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Banyuanyar Gelar Konsolidasi Alumni PKD (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Banyuanyar Gelar Konsolidasi Alumni PKD

“Kegiatan ini bertujuan supaya ada kaderisasi yang jelas dan konsolidasi kader. Sehingga keberlangsungan regenerasi di tubuh GP Ansor bisa berjalan dengan baik, tentunya tetap berpedoman pada AD/ART GP Ansor,” ujar Ketua PAC GP Ansor Kecamatan Banyuanyar Kholilullah.

Ustadz Felix Siaw

Dari konsolidasi tersebut diperoleh beberapa kesepakatan diantaranya ada pertemuan rutin dengan agenda studi ideologi dasar, analisa sosial dan rekayasa sosial yang dibina langsung oleh pengurus PC GP Ansor Kota Kraksaan yang sudah bersertifikat Training of Trainer (ToT).

“Di samping juga mengadakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW serta jamiyah dzikir dan sholawat Rijalul Ansor dengan melibatkan semua elemen pengurus dan pemuda sekitar. Disamping juga ada keterlibatan dari masyarakat,” jelasnya.

Ustadz Felix Siaw

Konsolidasi sendiri diawali dengan istighotsah rattibul haddad dan musyawarah. “Dengan kegiatan ini diharapkan soliditas kader Ansor semakin kuat sehingga mampu memberikan manfaat untuk masyarakat,” harapnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Quote Ustadz Felix Siaw

Jumat, 18 Agustus 2017

Peduli Muslim Rohingya, Ansor Probolinggo Dzikir Akbar

Probolinggo, Ustadz Felix Siaw. Tragedi kemanusiaan yang dialami oleh umat muslim Rohingya, di Rakhine Myanmar telah memantik aksi sejumlah kalangan untuk memberikan dukungan moril. Salah satunya seperti yang dilakukan oleh Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.

Sebagai bentuk kepedulian terhadap umat muslim Rohingya PC GP Ansor Kabupaten Probolinggo bersama pengurus PCNU Kabupaten Probolinggo dan Kota Kraksaan melaksanakan dzikir akbar sekaligus sholat ghaib peduli umat muslim Rohingya di halaman depan Eks Kantor Bupati Probolinggo di Kecamatan Dringu, Ahad (10/9) sore.

Peduli Muslim Rohingya, Ansor Probolinggo Dzikir Akbar (Sumber Gambar : Nu Online)
Peduli Muslim Rohingya, Ansor Probolinggo Dzikir Akbar (Sumber Gambar : Nu Online)

Peduli Muslim Rohingya, Ansor Probolinggo Dzikir Akbar

Kegiatan ini dihadiri oleh Mustasyar PCNU Kabupaten Probolinggo H Hasan Aminuddin, Rais PCNU Kabupaten Probolinggo KH Jamaluddin al Hariri, Ketua PCNU Kabupaten Probolinggo KH Abdul Hadi Saifullah, pengurus PW GP Ansor Jawa Timur, Ketua PC GP Ansor Kabupaten Probolinggo Muchlis dan sejumlah pejabat di lingkungan Pemkab Probolinggo.

Dzikir akbar dan sholat ghaib yang diikuti oleh seluruh pengurus PAC GP Ansor, Banser dan pengurus NU se-Kabupaten Probolinggo ini diawali dengan sholat ghaib peduli umat muslim Rohingya. Kemudian dilanjutkan dengan istighotsah yang dipimpin Rais PCNU Kabupaten Probolinggo KH. Jamaluddin al Hariri.

Mustasyar PCNU Kabupaten Probolinggo H Hasan Aminuddin menyampaikan bahwa sebagai umat muslim, khususnya warga NU agar tidak terpancing dan terprovokasi oleh aksi-aksi yang mengarah kepada cara anarkis.

Ustadz Felix Siaw

“Sebab, apabila warga NU sampai terpancing dan terprovokasi tentunya akan membawa pengaruh yang negatif dan dapat memecah belahkan persatuan umat muslim di Republik Indonesia,” ungkapnya.

Oleh karena itu Hasan menginstruksikan kepada seluruh ranting dan anak ranting agar melakukan gerakan doa khusus pada pemerintah Myanmar yang telah melakukan penistaan antar manusia yang satu dengan manusia yang lainnya. “Permasalahan ini bukan karena persoalan agama, tetapi konflik ini disebabkan hanya karena persoalan dunia,” pungkasnya.

Terpisah Ketua PC GP Ansor Kabupaten Probolinggo Muchlis menyampaikan bahwa dzikir akbar dan sholat ghaib ini merupakan salah satu upaya kegiatan positif yang dilakukan oleh GP Ansor sebagai bentuk aksi solidaritas terhadap muslim Rohingya.

“Saya menolak dan mengutuk keras bila ada ormas melakukan aksi-aksi solidaritas Etnis Muslim Rohingya di Rakhine Myanmar dengan cara anarkis. Aksi itu harus dilakukan melalui hal-hal positif dengan cara mendoakan yang terbaik bagi umat muslim Rohingya,” katanya. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Ustadz Felix Siaw

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Kajian, Hadits, Cerita Ustadz Felix Siaw

Waketum PBNU Berharap Kader Jombang Jadi Pionir

Jombang, Ustadz Felix Siaw. Wakil Ketua Umum PBNU H As’ad Said Ali mengatakan, Jombang merupakan daerah asal para pendiri NU. Ia berharap muncul para kader NU dari Jombang yang akan menjadi pionir perjuangan NU seperti para pendahulu.

Saat membuka Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU) di Pondok Pesantren Babus Salam, Kalibening, Mojoagung Jombang, Jum’at (6/3) Waketum mengatakan, Muktamar NU pada tahun ini digelar di Jombang salah satunya karena banyak tokoh pendiri NU yakni KH Hasyim Asyari, KH Wahab Chasbullah, KH Bisri Syansyuri berasal dari kota santri ini.

Waketum PBNU Berharap Kader Jombang Jadi Pionir (Sumber Gambar : Nu Online)
Waketum PBNU Berharap Kader Jombang Jadi Pionir (Sumber Gambar : Nu Online)

Waketum PBNU Berharap Kader Jombang Jadi Pionir

"Saya yakin Jombang tetap akan menjadi pioneer. Karenanya Muktamar dipilih di sini? dalam situasi yang seperti ini," tandasnya.

Ustadz Felix Siaw

Dalam kesempatan itu ia bahkan menyampaikan harapannya agar ada tokoh tokoh NU asal Jombang yang bisa memimpin NU dan dicalonkan dalam Muktamar. Ia mengaku dirinya sudah terlalu tua jika dicalonkan menjadi ketua umum pada muktamar ke-33 NU yang bakal digelar di Jombang 1-5 Agustus nanti.

"Saya merindukan ada tokoh tokoh NU asal Jombang, yang bisa memipin NU ke depan. Kalau saya cukup mendampingi saja, tidak usah menjadi ketua umum PBNU, karena sudah terlalu tua, sudah usia 65 tahun," ujarnya.

Ustadz Felix Siaw

Dari Jakarta, H As’ad Said Ali datang bersama para instruktur kaderisasi dari PBNU diantaranya Abdul Mun’im DZ yang juga wakil sekjen PBNU asal Jombang, Enceng Shobirin Najd dan Adnan Anwar. Ketua Pelaksana Kaderisasi PBNU KH Masyhuri Malik hadir di hari ketiga.

Hadir dalam pembukaan PKPNU Jombang KH Masduqi Abdurrahman Al Hafidz, KH Hasib Abdul Wahab Chasbullah, KH Wazir Aly, Munif Kusnan Wakil ketua PCNU Jombang, serta KH Salmanuddin dan para pengasuh Pesantren Babus Salam lainnya.

Asad mengatakan, NU sebagai Jamiyah harus kuat dalam organisasi, sebab jamaahnya sangat besar dan organisasi NU banyak dikagumi bangsa lain. Bahkan dikatakannya, beberapa negara seperti Inggris meminta NU hadir disana.

Untuk itu, dikatakan Asad, pelatihan kader penggerak NU kini terus dilakukan oleh PBNU setelah sejak lama tidak ada pelatihan kader. "Kita sudah melakukan pengkaderan ini dibeberapa wilayah untuk penguatan organisasi dan membuat strategi pengembangan NU," imbuhnya.

PKPNU di Jombang kali ini tidak hanya diikuti para kader dari kabupaten Jombang. Peserta juga datang dari perwakilan kader beberapa cabang NU seperti Batu, Lamongan, Kediri, dan Nganjuk. (Muslim Abdurrahman/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Tokoh Ustadz Felix Siaw

Rabu, 16 Agustus 2017

Anak Muda NU Teruskan Perjuangan Antikekerasan Gus Dur

Malang, Ustadz Felix Siaw. Sikap toleransi yang dibawa dan dicontohkan Gus Dur tidak lantas hilang karena kehilangan penggagasnya. Generasi muda pengagum Presiden RI ke-5 meneruskan perjuangannya dengan mengaji pemikiran-pemikiran Gus Dur.

Anak Muda NU Teruskan Perjuangan Antikekerasan Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Anak Muda NU Teruskan Perjuangan Antikekerasan Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Anak Muda NU Teruskan Perjuangan Antikekerasan Gus Dur

Gerakan Gusdurian Muda (Garuda) membedah buku “Dialog Peradaban” yang mengisahkan dialektika antara Gus Dur dan Daisaku Ikeda di jalan Sunan Kalijaga, Malang, Jawa Timur, Rabu, (5/12).

Sementara itu, Wakil Lakpesdam Malang Mahphur membantah keras jika GARUDA dikaitkan dengan unsur politik. Sebagai salah satu pendiri GARUDA, ide awal terbentuknya kajian rutin akan pemikiran Gus Dur tak lain hanya ingin menghidupkan nilai-nilai yang dibawa Gus Dur.

Ustadz Felix Siaw

“Karena dengan itu kita bisa menapaktilasi perjalan Gus Dur. Gus Dur tidak pernah mati,” terang Mahphur di forum bedah buku itu.

Ustadz Felix Siaw

Gus Dur, menurutnya, sangat memahami agama-agama lain dengan sangat baik. Hal inilah yang membuat semua agama mengakui Gus Dur sebagai kaum intelektual dan sosok Kiai bijaksana. Karena, sikap bajik tolerasi itu sendiri tidak akan terlahir tanpa memahami detil agama yang ada di lingkungan kita.

Keseringan orang menggunakan klaim dengan pikiran negatif dalam memahami orang lain yang berbeda. Hal ini tidak pernah dilakukan Gus Dur ketika berhubungan dengan tokoh lain agama, jelas Mahphur.

Gus Dur melihat fakta sejarah ketika peradaban dibangun dengan kekerasan akan sangat bahaya dan merugikan bagi kedua Negara (Dijajah dan Menjajah). Pasalnya, ketika Negara yang dijajah akan terpinggirkan dan jauh dari kemajuan. Tak ketinggalan yang menjajah akan tak habis-habisnya mengalami kerugian ekonomi yang sangat besar, dan tentunya itu akan berimbas pada rakyat. (Diana Manzila/Alhafiz K)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Lomba Ustadz Felix Siaw

Selasa, 15 Agustus 2017

Grup Hadroh Polres Grobogan Meriahkan Harlah ke-88 NU

Grobogan, Ustadz Felix Siaw. Setelah tim hadroh Sholawat Ahbabul Musthofa Grobogan, penampilah grup hadroh anggota Polres Grobogan mengawali peringatan harlah ke-88 NU yang diselenggarakan PCNU Grobogan, Kamis (6/2) malam. Penampilan mereka menarik perhatian ribuan hadirin yang memadati lokasi acara, terminal Angkudes.

Seorang penabuh rebana Briptu Sudarsono bercerita, tim hadroh Polres Grobogan mengawali latihan tabuh rebana pada Juni 2013 lalu. “Hanya dalam satu bulan kami diminta tampil kali pertama di acara shalawat bareng Habib Syekh bin Abdul Qodir As-Segaf di alun-alun Purwodadi Grobogan pada Juli 2013,” ujarnya.

Grup Hadroh Polres Grobogan Meriahkan Harlah ke-88 NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Grup Hadroh Polres Grobogan Meriahkan Harlah ke-88 NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Grup Hadroh Polres Grobogan Meriahkan Harlah ke-88 NU

Kalau ada sholawatan di Grobogan Insya Allah kami selalu hadir. Selain di Grobogan, sebelum ini kami pernah tabuh rebana di Tuban atas instruksi dan ajakan dari Gus Aslam, tambahnya.

Ustadz Felix Siaw

Sudarsono menyatakan senang berkumpul dengan para pecinta shalawat.

Ustadz Felix Siaw

Peringatan Harlah ke-88 NU ini melibatkan Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) Jateng dan Ketua Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) Jateng, H Adi Setiawan.

Sementara komunitas pecinta shalawat yang hadir antara lain mereka yang menamakan diri “Mafia Shalawat” asal desa Toroh, Purwodadi.

Sejumlah pengamen jalanan pun turut memeriahkan acara ini. Mereka menembangkan dua lagu populer bagi warga nahdliyyin, Syair Tanpo Waton dan tembang Ilir-Ilir.

Usai bershalawat, seluruh hadirin disuguhkan tayangan singkat berdurasi sekitar 10 menit film dokumenter perihal sejarah kelahiran Nahdlatul Ulama. (Asnawi Lathif/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Pendidikan Ustadz Felix Siaw

Senin, 14 Agustus 2017

Gelar Diskusi Publik, Lakpesdam Angkat NU dan Kedaulatan Digital Indonesia

Jakarta, Ustadz Felix Siaw 

Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (Lakpesdam PBNU) menggelar diskusi publik di lantai lima, Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Rabu (15/11).

Pada diskusi kali ini, Lakpesdam mengangkat tema NU dan Kedaulatan Digital Indonesia dengan menghadirkan empat pembicara. 

Gelar Diskusi Publik, Lakpesdam Angkat NU dan Kedaulatan Digital Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Gelar Diskusi Publik, Lakpesdam Angkat NU dan Kedaulatan Digital Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Gelar Diskusi Publik, Lakpesdam Angkat NU dan Kedaulatan Digital Indonesia

Adapun nama-nama pembicara tersebut, ialah Sekretaris Jenderal PBNU H Helmy Faisal Zaini, Ketua Lakpesdam PBNU H Rumadi Ahmad, Ketua Lembaga Talif wan Nasr PBNU (LTN PBNU) Hari Usmayadi, Pakar Informasi Teknologi Didik Soenardi, dan Sekretaris Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia (Wantiknas) M. Andi Zaky. 

Ketua Lakpesdam PBNU H Rumadi Ahmad menjelaskan tentang pentingnya mengangkat tema ini. Menurutnya, karena selama ini NU hanya menjadi penonton daripada pemain dalam dunia digital, sementara secara kuantitas,  warga NU mempunyai jumlah yang banyak tapi hanya menjadi pasar atau konsumen. 

Ustadz Felix Siaw

Walaupun begitu, ia mengakui bahwa dalam tubuh NU, ada yang mulai beradaptasi dengan dunia digital seperti Ustadz Felix Siaw, atau Lembaga Talif wan Nasr PBNU (LTN PBNU). 

Selain itu, NU sebagai kelompok masyarakat yang ikut mendirikan negara ini juga bertanggung jawab dalam menjaga Kedaulatan Indonesia. 

Ustadz Felix Siaw

Dalam konteks serbuan teknologi yang sangat gencar, ia mempertanyakan tentang dampak ke depan dari teknologi. 

"Saya ingin dan saya kira hal yang paling dipikirkan ke depan adalah apa implikasi terhadap NU," katanya. 

Ia berharap, diskusi dengan mengangkat tema ini mendapatkan inside untuk kebaikan NU dan bangsa Indonesia. (Husni Sahal/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Hikmah, Sunnah Ustadz Felix Siaw

Minggu, 13 Agustus 2017

Pengamat Tak Yakin Gus Dur Jadi Presiden Lagi

Jakarta, Ustadz Felix Siaw

Bukan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) namanya bila tak membuat kontroversi. Pun pernyataannya tentang kesiapannya kembali maju menjadi calon presiden pada Pemilihan Presiden (pilpres) pada 2009 mendatang ditanggapi beragam oleh banyak kalangan. Sejumlah pengamat mengaku tak yakin Gus Dur bakal menjadi presiden lagi.



Pengamat Tak Yakin Gus Dur Jadi Presiden Lagi (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengamat Tak Yakin Gus Dur Jadi Presiden Lagi (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengamat Tak Yakin Gus Dur Jadi Presiden Lagi

Pengamat Politik, Arbi Sanit, mengatakan, peluang Gus Dur menjadi presiden pada 2009 mendatang lebih kecil dibandingkan pada 1999 silam. “Kalau 1999 itu, kan bisa dikatakan calon presiden itu tidak ada. Orang-orang yang dianggap melebihi Amien Rais dan Megawati tidak ada," katanya di Jakarta, Kamis (20/9).

Menurutnya, Pilpres 1999 dan Pilpres 2009 jelas berbeda. Untuk Pilpres 2009, katanya, ada banyak calon yang menonjol untuk maju menjadi capres. "Kalau mau ada perubahan UU Pilpres sepertinya tidak akan mendapat banyak dukungan, karena urgensinya tidak ada. Bakal langsung kalah itu," terangnya.

Ustadz Felix Siaw

Arbi menilai, saat menjadi presiden pada 1999, Gus Dur yang juga Ketua Umum Dewan Syura DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tidak memiliki prestasi dan kharisma yang luar biasa. "Kita tahu, saat memerintah dulu Gus Dur juga sering kesulitan memilih orang-orangnya. Jadi, kenapa PKB tidak mencari orang yang lebih sempurna dari Gus Dur," imbuh Arbi.

Ustadz Felix Siaw

Senada dengan Arbi, Guru Besar Ilmu Politik Universitas Indonesia, Maswadi Rauf, mengatakan, Pilpres 2009 bukan arena untuk Gus Dur. Menurutnya, Gus Dur lebih pas jadi guru bangsa. Gus Dur, katanya, tidak cocok dengan jabatan-jabatan formal.

"Gus Dur sendiri kan pernah ngomong, dia bukan potongan presiden. Tapi, ya, kenapa masih mau juga. Presiden itu bukan arena Gus Dur. Dia harusnya jadi guru bangsa, jadi resi. Jangan urusi jabatan formal. Nanti orang repot ikut repot," tutur Maswadi.

Ia menilai, para pemimpin partai politik dan elit politik lebih memikirkan seleranya sendiri, ketimbang kepentingan rakyat Indonesia. "Di Indonesia itu ada masalah, yang dipentingkan kharisma sebagai kriteria dalam menentukan pemimpin, bukan prestasinya," kata dia.

Peneliti Lembaga Survei Indonesia (LSI), Isra Ramli, berpendapat, saat masih menjadi tokoh alternatif dan belum pernah mencicipi kursi presiden, orang mengakui Gus Dur mampu menyatukan berbagai kalangan. Bahkan mampu menarik simpati. Namun, setelah berada di kekuasaan, Gus Dur tampil dengan dominasi dan hegemoni yang sangat eksesif (mau menguasai sendiri).

"Dan itu kemudian tidak diterima orang-orang yang merasa Gus Dur jadi presiden karena mereka. Mereka kemudian membuktikan Gus Dur tidak sehebat yang dikira," tutur Isra.

Meski komitmennya menjaga pluralisme diwujudkan, banyak pihak yang kecewa. Lewat Poros Tengah, para elit politik itu pun sepakat menjatuhkan Gus Dur. Saat kembali berada di luar kekuasaan, pengaruh Gus Dur tidak seperti saat dia belum menjadi presiden.

"Yang mau ditawarkan Gus Dur nanti apa. Orang akan melihat Gus Dur hanya akan membuat huru-hara politik baru. Dan, dari segi ekonomi, dia tidak kompeten. Jadi, dari segi demand, dia bukan pemimpin yang pas untuk saat ini," katanya.

Sementara itu, pernyataan bernada optimis dikemukakan Anggota Fraksi Kebangkitan Bangsa DPR RI, Abdullah Azwar Anas. Ia menilai, perbedaan pendapat di kalangan pengamat politik merupakan hal yang wajar. “Tapi kan harus diingat, negeri ini bukan hanya milik pengamat," pungkasnya.

Politisi muda PKB ini menilai, sikap berani Gus Dur untuk kembali mencalonkan diri sebagai capres pada pemilu 2009 bukan tanpa perhitungan matang. Apalagi konteks deklarasi Gus Dur sebagai capres karena merespons realitas masyarakat yang kecewa dengan pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono karena banyak janji-janji kampanyenya yang tidak terwujud. (dtc/rif)Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Pahlawan, Doa Ustadz Felix Siaw

Sabtu, 12 Agustus 2017

Perempuan Ini Minta Pemerintah Tegas Sikapi Organisasi Khilafah

Jombang, Ustadz Felix Siaw

Mantan Ketua Umum Fatayat NU Ida Fauziyah meminta pemerintah tegas menolak keberadaan organisasi yang mengusung dan memperjuangkan berdirinya khilafah di Indonesia. Pasalnya hal ini dianggap telah mencederai nilai pancasila dan kebangsaan.

Perempuan Ini Minta Pemerintah Tegas Sikapi Organisasi Khilafah (Sumber Gambar : Nu Online)
Perempuan Ini Minta Pemerintah Tegas Sikapi Organisasi Khilafah (Sumber Gambar : Nu Online)

Perempuan Ini Minta Pemerintah Tegas Sikapi Organisasi Khilafah

"Pemerintah harus tegas menolak dan berani membubarkan keberadaan organisasi yang memperjuangkan berdirinya khilafah. Karena itu jelas bertentangan dengan NKRI," ujar Ida Fauziyah   ditemui usai Sosialisasi Empat Pilar dalam penguatan Wawasan Kebangsaan di hadapan santri dan mahasiswa di Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Sabtu (17/4).

Ida mengakui, hak kebebasan berserikat dan berkumpul sehingga memunculkan organisasi yang bertentangan dengan NKRI menjadi kendala pemerintah untuk membubarkan. Namun menurutnya, jika ada organisasi semacam HTI yang memperjuangkan berdirinya khilafah, maka pemerintah harus mengambil tindakan tegas.

Ustadz Felix Siaw

"NKRI sudah final. Kalau ada organisasi yang mau mengubah, maka pemerintah harus tegas membubarkan," tambah Ida.

Pelajar, santri dan mahasiswa, alumni Pesantren Tambakberas ini diminta menggelorakan kembali nilai-nilai Pancasila dan kebhinekaan serta wawasan kebangsaan di masyarakat. Karena Pancasila adalah ideologi yang kini semakin terabaikan oleh generasi muda bangsa. "Nilai-nilai Pancasila seperti musyawarah-mufakat, gotong-royong di kalangan masyarakat kini jarang digunakan," ujarnya.

Ustadz Felix Siaw

Memudarnya pemahaman wawasan kebangsaan di kalangan generasi muda perlu menjadi perhatian serius semua pihak. "Hasil penelitian salah satu lembaga survei sungguh sangat mengejutkan saya. Karena kalangan muda, pelajar, dan mahasiswa mengganggap ideologi Pancasila tidak penting, ini sangat memprihatinkan," tandasnya.

Ida kemudian mencontohkan kasus Zaskia Gotik yang akhirnya dianggap melecehkan simbol negara dan menjadi viral di dunia maya. "Bisa jadi apa yang disampaikan Zaskia adalah spontanitas dan sekadar lucu-lucuan. Atau karena ketidaktahuannya.  Tapi apapun motifnya, kejadian tersebut menambah kekhawatiran kita terhadap kelestarian pilar-pilar kebangsaan Indonesia,” imbuh Ida.

Padahal dalam menyusun Pancasila para pendiri Bangsa ini dengan susah payah mengakomodasi dan menyatukan berbagai suku, agama, dan budaya. Dalam sejarah kemerdekaan Indonesia, salah satu tokoh NU terlibat dalam persiapan kemerdekaan, KH Wahid Hasyim.

"KH A Wahid Hasyim berhasil memasukkan sila Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Pancasila sebagai ganti dari Kewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi Pemeluknya. Gagasan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan Pancasila," pungkasnya. (Muslim Abdurrahman/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Kajian Islam, Ulama, Fragmen Ustadz Felix Siaw

Jumat, 11 Agustus 2017

Cara Santri NU Meneladani Rasulullah dalam Bernegara

Oleh Irwan Masduqi



Jargon-jargon Khilafah Islamiyah semakin berkumandang sekeras pekikan takbir para demonstran. Dari DI TII/NII hingga era ISIS dan HTI, seruan itu terus menjadi-jadi. Dalam pandangan mereka, berislam haruslah kaffah, menyeluruh. Kaffah tidak hanya dalam beribadah, namun juga dalam berpolitik. Umat Islam harus kembali kepada Al-Quran dan Sunnah dengan mengikuti seluruh ucapan Nabi, perilakunya, dan kebijakan-kebijakan politiknya sesuai dengan bunyi teksnya. Indonesia zaman now harus diubah seluruh sistemnya agar selaras dengan bunyi teks hadits-hadits Nabi di zaman old. Khilafah Islamiyyah harus ditegakkan. 

Pemahaman yang sempit ini sangat membahayakan keberlangsungan negara Indonesia. Oleh karena itu, sebaiknya direnungkan kembali dan diluruskan.

Cara Santri NU Meneladani Rasulullah dalam Bernegara (Sumber Gambar : Nu Online)
Cara Santri NU Meneladani Rasulullah dalam Bernegara (Sumber Gambar : Nu Online)

Cara Santri NU Meneladani Rasulullah dalam Bernegara

Santri NU senantiasa mempelajari kekayaan khazanah keilmuan Islam yang di antaranya adalah kitab-kitab Fiqh. Dalam kitab fiqh terdapat bab Imamah yang membahas tentang kepemimpinan dan politik Islam dalam bingkai Khilafah Islamiyyah yang mirip dengan ideologi HTI. 

Tetapi mengapa santri NU memiliki sikap yang unik yaitu tidak mempropagandakan penegakan Khilafah Islamiyah, sementara di seberang sana HTI sangat vokal menyuarakan penegakan Khilafah Islamiyah secara tekstual? 

Berbeda dengan HTI dalam memahami sistem Khilafah, santri tidak terjebak pada pemahaman yang tekstual. Santri tidak taqlid buta dan tidak fanatik pada bunyi teks. Akan tetapi santri memahami sistem Khilafah dan sumber haditsnya secara manhaji, yakni pemahaman yang berdasarkan pada metode-metode ilmu Ushul Fiqh. Dengan pendekatan metodologis ini, maka santri mampu menyelaraskan antara keislaman dan keindonesiaan.

Ustadz Felix Siaw

Dalam literatur ilmu ushul fiqh, Nabi Muhammad SAW dipandang memiliki beragam kapasitas. Selain sebagai Rasulullah, beliau juga orang Arab yang lekat dengan budaya Arabnya, penggembala, pedagang, sekaligus seorang pemimpin negara. Umat Islam harus jeli membedakan beragam kapasitas Nabi Muhammad SAW tersebut agar tidak salah kaprah dalam mengikuti ajarannya. 

Terkait dengan masalah ini, para ulama ushul era klasik dan pertengahan seperti Abi Muhammad Ibnu Qutaybah al-Daynuri (w. 276 H) dalam kitabnya Ta’wil Mukhtalaf al-Hadits, Al-Qadhi ‘Iyyadh (w. 544 H) dalam kitab Al-Syifa bi Ta’rifi Huquq al-Mushthafa, Ibnu Qayyim al-Jawziyyah (w. 751 H) dalam kitab I’lam al-Muwaqi’in, dan Sihabuddin al-Qarafi (w. 684 H) dalam kitab Al-Furuq, telah menerangkannya secara terang benderang.

Ustadz Felix Siaw

Ucapan dan tindakan Muhammad SAW selaku Rasulullah adalah bagian dari syariat yang mengikat seluruh umat Islam. Shalat, puasa, zakat, haji yang dilaksanakan oleh Rasulullah SAW harus diiukti oleh umat secara umum yang mampu melaksanakannya. 

Akan tetapi, tata cara Nabi berpakaian jubah dan naik onta adalah bagian dari ciri khas Nabi sebagai orang Arab yang tidak diperintahkan untuk ditiru. Orang Indonesia boleh naik Honda dan boleh berpakaian sesuai adat masing-masing daerah asalkan menutupi aurat.

Kemudian kebijakan-kebijakan Nabi SAW sebagai kepala negara dalam meletakkan sistem politik (nidham siyasi), aturan-aturan negara, strategi perang dan seterusnya adalah bagian dari ijtihad politik yang barangkali hanya relevan untuk kondisi dan situasi pada saat itu. Para ulama ushul fiqh mengkategorikan kebijakan-kebijakan Muhammad SAW dalam politik dengan istilah “siyasah juz’iyyah” atau politik partikular yang bersifat temporal (muaqqat). 

Dengan mempertimbangkan hal itu, maka umat Islam di Indonesia saat ini diperbolehkan berijtihad menentukan arah kebijakan politiknya sesuai dengan tantangan-tantangan kebangsaan yang sedang dihadapi. 

Kesimpulannya, meneladani Muhammad SAW tidak harus secara tekstual sebagaimana bunyi sebuah hadits yang berkaitan dengan politik. Meneladani Rasulullah Saw tidak harus melalui sistem khilafah Islamiyyah. 

Yang paling utama, umat Muslimin di Indonesia harus bekerja sama dalam mewujudkan kemaslahatan umum, keadilan, kemerdekaan, kesetaraan, dan kesejahteraan yang dilandasi keimanan kepada Allah swt. Meneladani Rasulullah SAW dalam bernegara secara tekstual tanpa melihat konteks keindonesiaan justru akan memberatkan umat dan bertentangan dengan nilai Islam yang merahmati serta memudahkan urusan umat. Wallahu a’lam bi shawab.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Pendidikan, Cerita Ustadz Felix Siaw

Kamis, 10 Agustus 2017

Bagaimana Hukum Terima Sumbangan Non-Muslim?

Solo, Ustadz Felix Siaw. Ada ungkapan dalam bahasa Jawa, Jer Basuki mawa bea, sebuah keberhasilan membutuhkan sebuah pengorbanan. Pengorbanan di sini meliputi banyak hal termasuk di antaranya yakni sumber dana.

Bagaimana Hukum Terima Sumbangan Non-Muslim? (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagaimana Hukum Terima Sumbangan Non-Muslim? (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagaimana Hukum Terima Sumbangan Non-Muslim?

Pun, dalam kehidupan organisasi kemasyarakatan, seperti Nahdlatul Ulama, meskipun bukan syarat mutlak, namun sumber dana ini tentu penting untuk mendukung keberhasilan sebuah program ataupun kegiatan.

Dus, setelah dianggap penting, tentu menjadi sebuah hal yang tak boleh terlupakan asal muasal dana tersebut, apakah halal atau haram?

Ustadz Felix Siaw

NU Solo membahas hal tersebut dalam Kegiatan Bahtsul Masail (BM), yang diadakan di Kantor PCNU, belum lama ini (13/12).

“Misal kita sebagai warga NU (baik secara kelembagaan maupun pribadi) mau dikasih bantuan oleh salah satu donatur non-Muslim, boleh atau tidak?” tanya ketua PCNU Solo, A Helmy Sakdillah kepada para peserta BM.

Ustadz Felix Siaw

Hal ini kemudian dijawab oleh salah satu perwakilan dari Majelis Wakil Cabang (MWC) Jebres, Rojali. Ustaz asal Madura itu menerangkan di dalam Tafsir al-Maroghi memperbolehkan menerimanya dengan beberapa syarat.

“Sah-sah saja dari non-Muslim. Dengan syarat tidak ada dampak untuk agama atau politik tertentu,” terangnya.

Untuk itu, menurut Rojali meskipun diperbolehkan, namun diharapkan untuk berhati-hati dalam menerimanya.

Selain masalah dana, dalam acara BM tersebut, juga dibahas persoalan yang banyak terjadi di Kota Solo dan sekitarnya. Yakni, permasalahan khutbah Shalat Jumat, dimana rukun tidak dibaca sang khatib dengan lengkap.

“Kalau merujuk kepada Imam Syafi’i tentu tidak sah hukum khutbah bahkan Jumatannya, sebab khutbah merupakan syarat Jumatan,” kata Ustaz Anshori berpendapat.

Tapi mengingat di Solo ini sangat sulit untuk mencari jumatan yang ala NU. Maka, tolong dicarikan pendapat dari mazhab lain semisal dari mazhab Hanafi, agar ada kelonggaran untuk orang awam,” tutur pengajar Pesantren Al-Inshof Plesungan itu. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Sholawat Ustadz Felix Siaw

IPNU Garut Galang Dana Bantu Korban Bencana

Garut,Ustadz Felix Siaw. Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Garut menggalang dana di SMK Ma’arif Garut bagi korban banjir bantaran sungai Cimanuk. Penggalangan dana dihimpun dalam satu posko bantuan PCNU beserta Badan Otonomnya, yang akan didistribusikan pada korban banjir melalui Pemerintah Daerah Garut.

IPNU Garut Galang Dana Bantu Korban Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Garut Galang Dana Bantu Korban Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Garut Galang Dana Bantu Korban Bencana

Penyaluran bantuan tersebut diharapkan merata, bagi setiap korban banjir berada di berbagai tempat pengungsian.? Disisi lain, pendistribusian bantuan melalui pemerintah daerah menjadi antisipasi, bagi kelompok-kelompok penggalang dana tertentu yang memiliki kepentingan.

“Kepentingan Pemerintah Daerah dengan meratanya bantuan bagi setiap korban, tanpa memperhatikan latarbelakang korban,” ucap Ketua PC IPNU Garut Ridwan Pamungkas, Kamis (22/09).

Ustadz Felix Siaw

Dia mengungkapkan, keprihatinan mendalam atas musibah besar yang menewaskan belasan orang ini. Musibah ini bukan hanya cerminan untuk wilayah Garut kota saja, akan tetapi semua unsur masyarakat diharapkan menyadari akan pentingnya menjaga lingkungan bersama-sama.

“Kami turut berduka cita atas bencana yang terjadi, semoga semua korban diberi kesabaran,” ungkapnya.

Ustadz Felix Siaw

Dalam membantu para korban, dia menuturkan, PC IPNU Garut membentuk dua tim relawan yang membantu para korban, dari segi penggalangan dana maupun evakuasi lapangan. Dua kelompok relawan unsur Corp Brigade pembangunan(CBP) yang ditugaskan ikut mengevakuasi lokasi bencana, bersama aparatur pemerintah seperti TNI dan Kepolisian.

“Semua kita libatkan kader IPNU untuk membantu meringankan beban korban bencana,” katanya.

Lanjut dia, relawan pengurus IPNU lainnya standby di posko bantuan, sebagai bentuk aksi garda terdepan. Mengingat IPNU sebagai organisasi kepemudaan yang selaras dalam mengemban tugas sebagai generasi penerus, dalam hal ini generasi penjaga lingkungan. Dibentuknya kedua kelompok relawan ini diharapkan IPNU, mampu berperan dalam meringankan beban korban.

Sebelumnya, Ketua Umum PP IPNU Asep Irfan Mujahid, mengintruksikan Corp Brigade Pembangunan (CBP) IPNU, untuk membantu dalam mengevakuasi korban bencana. ?Kader IPNU harus membuat posko tanggap bencana, ?disamping itu membantu menyalurkan kebutuhan pokok dan kebutuhan lainnya.

“Kita akan bantu secara optimal, dengan mengerahkan kader ipnu di daerah,” pungkasnya. (Benny Ferdiansyah/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Quote, Halaqoh Ustadz Felix Siaw

Rabu, 09 Agustus 2017

Sempat Vakum, Pelajar NU Lumbang Kembali Gerak

Probolinggo, Ustadz Felix Siaw. Setelah sempat vakum, akhirnya kepengurusan Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) kecamatan Lumbang kabupaten Probolinggo periode 2015-2017 terbentuk. Kepengurusan ini pun resmi dilantik di pesantren Zainul Hasan IV desa Boto kecamatan Lumbang, Ahad (1/1).

Sempat Vakum, Pelajar NU Lumbang Kembali Gerak (Sumber Gambar : Nu Online)
Sempat Vakum, Pelajar NU Lumbang Kembali Gerak (Sumber Gambar : Nu Online)

Sempat Vakum, Pelajar NU Lumbang Kembali Gerak

Pelantikan yang dipimpin oleh Ketua IPNU Probolinggo Eko Cahyono ini dihadiri oleh para pengurus IPNU Probolinggo, pengurus IPNU Lumbang, IPNU Kuripan dan seluruh pengurus Pimpinan Ranting IPNU sekecamatan Lumbang.

Dalam kepengurusan ini, Multazam diberi amanah untuk memimpin organisasi pelajar NU di Lumbang dua tahun mendatang. “Alhamdulillah, setelah sempat vakum kepengurusan PAC IPNU Lumbang bisa terbentuk kembali,” kata Eko Cahyono.

Ustadz Felix Siaw

Eko berharap pengurus yang baru dilantik ini dapat betul-betul menjalankan roda organisasi sesuai dengan tupoksinya sebaik-baiknya demi memajukan IPNU di Probolinggo.

“Selamat bergabung dan berjuang bersama kami dengan rekan dari kecamatan lain untuk membina watak generasi muda. Kami juga memohon agar para ulama, pejabat serta tokoh masyarakat turut serta mendukung kegiatan kepemudaan,” ungkapnya.

Ustadz Felix Siaw

Multazam menyatakan komitmennya untuk menjalankan amanah yang diberikan dengan sebaik-baiknya dan yakin bisa lebih eksis lagi serta lebih maju lagi dari sebelum-sebelumnya.

”Semoga kita terbang dengan ilmunya dan kita berlayar dengan pengalamannya serta kita tercantum sebagai sosok yang berakhlaqul karimah. Mohon doa dan dukungannya supaya kami bisa menjalankan amanah dengan sebaik mungkin,” harapnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Amalan, Pendidikan, Hadits Ustadz Felix Siaw

Senin, 07 Agustus 2017

PBNU: Dakwah Kultural Hasilnya Nyata

Jakarta, Ustadz Felix Siaw. Dakwah kultural yang dilakukan dalam periode awal masuknya Islam di Indonesia terbukti nyata hasilnya berupa dipeluknya Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia tanpa disadari terjadinya proses berislam yang terjadi secara perlahan-lahan.

“Hasilnya ya seperti sekarang ini, kita-kita disini sudah berislam tanpa kita tahu bagaimana kakek-kakek kita dahulu berprosesnya,” kata Sekjen PBNU Marsyudi Syuhud dalam Dialog Penguatan Kerukunan Ummat Beragama yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama dan The Sahabuddin Institute di Jakarta, Selasa (8/2).

PBNU: Dakwah Kultural Hasilnya Nyata (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: Dakwah Kultural Hasilnya Nyata (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU: Dakwah Kultural Hasilnya Nyata

Motode ini tentu berbeda sekali dengan cara dakwah Islam “baru” yang sedikit-sedikit berteriak “Allahu Akbar”, sehingga malah memberi persepsi buruk terhadap kalimat takbir tersebut, bahkan terhadap agama Islam sendiri. Para pendahulu menggunakan metode seni, yang disukai oleh masyarakat, yang akhirnya tanpa terasa mereka memeluk Islam.

Ustadz Felix Siaw

Ditambahkannya, pluralitas di Indonesia merupakan sejarah lama yang terus dihargai sampai sekarang dengan berbagai keragaman dalam bentuk agama, budaya, bahasa dan lainnya. Upaya sekelompok orang untuk memaksakan nilainya dianggap oleh Marsyudi sebagai sesuatu yang tidak pas.

“Zaman kemerdekaan, semua bersepakat nilai-nilai agamanya saja yang menjadi dasar dalam bentuk Pancasila. Tak ada satu pun nilai-nilai Pancasila yang bertentangan dengan Islam” katanya.

Ustadz Felix Siaw

Penghargaan Islam terhadap pluralitas terdapat dalam sebuah ayat Al-Qur’an, yang menjelaskan bahwa manusia diciptakan berbeda-beda dalam jenis kelamin, kesukuan dan perbedaan lainnya agar saling mengenal dan memahami.

Rasulullah juga terbukti sangat menghargai agama lain yang tertuang dalam Piagam Madinah, yang menghargai dan menghormati suku dan agama lain, baik Yahudi, Nasrani atau Majusi. Dalam Piagam Madinah, umat dibagi menjadi 9 komunitas, satu komunitas muhajirin dan delapan lainnya komunitas lokal. Mereka yang setia kepada konstitusi harus dilindungi dan antara komunitas yang satu dengan yang lain dilarang berperang.

“Musuh bersamanya adalah mereka yang melanggar konstitusi,” tegasnya.

Terjadinya konflik dan kekerasan yang seringkali timbul merupakan akibat dari tidak adanya saling mengenal dan memahami antara satu kelompok dan kelompok lainnya. Ia mencontohkan, kesulitan satu agama untuk membangun tempat ibadah karena agama tersebut kurang menyapa dan mengenal masyarakat lokal di lokasi tempat ibadah tersebut akan didirikan.

Ada juga kelompok yang berperilaku dengan seenaknya dengan mengatasnamakan demokrasi, padahal demokrasi juga didasarkan pada aturan yang disepakati bersama. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Meme Islam Ustadz Felix Siaw