Sabtu, 30 September 2017

Jadi Tuan Rumah, Pemkot Kediri Sambut Baik LSN Regional Jatim II

Kediri, Ustadz Felix Siaw. Kickoff Liga Santri Nusantara (LSN) Regional Jatim II resmi dibuka Asisten Pemerintahan dan Kesra Mandung Sulaksono di Lapangan Sepak Bola Brawijaya Kediri, Rabu (24/8). Regional Jatim II meliputi Kediri, Jombang, Malang, Batu, Nganjuk, Blitar, dan Tulungangung.

Kota Kediri mendapat kehormatan menjadi tuan rumah Region II Jawa Timur dalam gelaran LSN 2016 yang digelar mulai 24-31 Agustus. Dalam kompetisi ini akan ada 17 tim yang berlaga.?

Jadi Tuan Rumah, Pemkot Kediri Sambut Baik LSN Regional Jatim II (Sumber Gambar : Nu Online)
Jadi Tuan Rumah, Pemkot Kediri Sambut Baik LSN Regional Jatim II (Sumber Gambar : Nu Online)

Jadi Tuan Rumah, Pemkot Kediri Sambut Baik LSN Regional Jatim II

Dalam sambutanya, Mandung mengatakan Pemerintah Kota Kediri mengapresiasi digelarnya Liga Santri ini. "Ini merupakan suatu dorongan bagi dunia sepak bola. Dalam kompetisi ini banyak santri-santri berbakat dalam dunia sepak bola yang bermunculan," ujarnya.

Lebih lanjut, Mandung menambahkan agar dalam pertandingan ini para pemain tetap menjaga sportifitas. "Junjung dan jaga terus sportifitas. Untuk para pemain yang sedang tidak bertanding kalian bisa jalan-jalan untuk mengunjungi beberapa tempat di Kota Kediri," imbuhnya.

Mandung mengucapkan terima kasih kepada pemerintah yang telah mempercayai Kota Kediri menjadi tuan rumah pada pelaksanaan Liga Santri Nusantara regional Jatim II ini. "Kota Kediri menjadi tuan rumah Liga Santri Nusantara regional Jatim II ini terasa istimewa. Sebab, kompetisi ini merupakan kali pertama bagi Kota Kediri menjadi pelaksana," ungkapnya.

Ustadz Felix Siaw

Lelaki yang menduduki posisi Kesra di Pemkot Kediri ini menambahkan, demi menyambut baik kepercayaan Kemenpora terhadap Kota Kediri dalam pelaksanaan LSN Regional Jatim II, Pemkot Kediri akan berusaha keras untuk suksesnya liga santri ini, "Sebagai tuan rumah yang baik, Pemkot Kediri akan berusaha keras demi terciptanya liga yang kompetitif dan sportif," jelasnya.

Mandung yang mewakili Walikota Kediri juga berharap pelaksanaan LSN bisa dimaksimalkan oleh pesantren untuk menghasilkan pemain sepak bola yang mumpuni . Dengan demikian, ke depan Timnas Indonesia tidak akan pernah kekurangan pemain berbakat untuk membela nama bangsa dan negara.

Ustadz Felix Siaw





Hadir dalam Kickoff LSN ini para Pengasuh Pondok Pesantren Kota Kediri, Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga, serta Manajer Persik Kediri. (Red-Zunus). Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Aswaja, Ubudiyah, Pertandingan Ustadz Felix Siaw

Muslimat NU NTT Ajak Seluruh Banom Ikut Jaga Masjid

Kupang, Ustadz Felix Siaw. Pimpinan Wilayah PW Muslimat NU Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ? mengajak warga Muslimat NU di seluruh tingkatan di NTT agar ikut menjaga masjid dengan cara mengisi kegiatan yang bergerak dari masjid ke masjid.

"Kalau Rasulullah Muhammad Saw di-isra-kan Allah SWT minal Masjidil Haram ilal Masjidil Aqsha, maka saya mengajak ibu-ibu semua dalam melakukan pengajian, kajian-kajian tafsir-hadits-fiqih, majelis taklim, agar lebih banyak dilakukan di masjid," kata Hj Nurni H. Amirudin kepada Ustadz Felix Siaw di Kupang Senin (01/05).

Muslimat NU NTT Ajak Seluruh Banom Ikut Jaga Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU NTT Ajak Seluruh Banom Ikut Jaga Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU NTT Ajak Seluruh Banom Ikut Jaga Masjid

?

Ia menyatakan, bagi ibu-ibu yang masih mengalami datang bulan, hal itu tidak boleh menjadi penghalang karena bagi yang sedang tidak shalat bisa di serambi masjid. Yang penting partisipasi kaum ibu-ibu Nahdiyin dan seluruh banom.

Menurut Nurny, Jika masjid tidak diisi dengan pengajian NU dan Muslimat NU, maka akan diisi oleh mereka yang banyak sekali perbedaannya dengan NU. "Karena itu saya ingin Muslimat NU ikut menjaga masjid."?

Ustadz Felix Siaw

Masjid, katanya, harus menjadi tempat di mana semakin diperbanyak taklim dan dzikir maka makin tenang suasana batin, semakin tenang suasana warga bangsa lebih khusus warna NTT.

"Sekali lagi saya pesan, perbanyak kegiatan Muslimat NU berbasis masjid, banyak bergerak dari masjid ke masjid. Isilah masjid dengan kegiatan yang banyak memberikan ketenangan dan kedamaian bagi masyarakat,"?

“Tak hanya warga Muslimat NU, saya juga mengajak pengurus NU Prov. NTT dan PCNU Kabupaten Kota serta seluruh tingkatannya agar menyiapkan kegiatan banom, lajnah maupun lembaga NU bergerak dari masjid ke masjid,” katanya.

Ustadz Felix Siaw

Terlebih sebentar lagi seluruh masjid akan menyelenggarakan shalat Tarawih. NU NTT di seluruh tingkatan sudah seharusnya menyiapkan para imam shalat tarawih serta pengisi pengajian kultum Tarawih maupun shalat Subuh.

"Kalau NU insyaaallah tinggal pilih. Kader-kader NU bacaan Al-Qurannya, tajwid maupun makharijul huruf-nya insyaaallah bagus-bagus."?

Bahkan di Masjid Istiqlal pengisi kultum Tarawih, Subuh maupun kajian Dhuha diisi perempuan. "Jika mengikuti referensi Masjid Istiqlal, sangat mungkin pengisi kultum di masjid lain juga bisa diisi perempuan dan saya berharap itu warga Muslimat NU," tandasnya.

Itu semua adalah PR supaya warga NU NTT bisa menjadi bagian dari penyelesaian masalah. "Jangan kemudian perbedaan menjadi firqah. Tapi kita harus melihat perbedaan itu sebagai rahmat, sehingga bisa saling menghormati dan menghargai satu sama yang lain," katanya. (Ajhar Jowe/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Ubudiyah, Nahdlatul, Hikmah Ustadz Felix Siaw

Jumat, 29 September 2017

Ketua PCNU Kota Blitar Terpilih sebagai Ketua MUI

Blitar, Ustadz Felix Siaw

Moh Bakir terpilih kembali menjadi ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) periode 2016-2021 Kota Blitar, Jawa Timur dalam Musyawarah Daerah yang berlangsung di Ruang Audio Visual Perpustakaan Proklamator Bung Karno.

Bakir yang saat ini menjadi Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Blitar itu sebelumnya juga terpilih sebagai ketua MUI Kota Blitar, pada Musda tahun 2011 lalu.

Ketua PCNU Kota Blitar Terpilih sebagai Ketua MUI (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua PCNU Kota Blitar Terpilih sebagai Ketua MUI (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua PCNU Kota Blitar Terpilih sebagai Ketua MUI

Musda Rabu (20/7) kali ini dibuka Wakil Wali Kota Blitar Santoso dan diikuti sekitar 50 orang terdiri dari pengurus MUI Kota Blitar periode 2011-2016, beserta para tokoh agama.

Ustadz Felix Siaw

Wakil Wali Kota Blitar Santoso saat memberikan kata sambutan berharap para pengurus terpilih mampu melanjutkan tugas kepengurusan sebelumnya yang ia nilai lumayan bagus. Menurutnya, kepengurusan masa khidmah 2011-2016 mampu menjaga kondusivitas Kota Blitar di tengah keberagaman baik agama, suku, dan lain-lain. “Pengurus lama udah baik. Program kegiatan juga jalan,” katanya.

Ustadz Felix Siaw

Ketua panitia Musda, KH Abdul Basyid mengatakan bahwa melalui forum ini dipilih ketua umum dan tim formatur, yang selanjutnya akan menyusun secara lengkap kepengurusan MUI periode 2016-2021. Selain itu juga disusun berbagai program kerja lima tahun ke depan.

Adapun kriteria bagi calon ketua umum adalah memiliki ilmu keulamaan, mengerti organisasi dan kemampuan manajerialnya tinggi. “Berdasarkan hasil musyawarah mufakat terpilih calon incumbent, yakni Pak Subakir kembali menjadi ketua umum MUI Kota Blitar periode 2016-2021,” ungkap Abdul Basyid.

Adapun tim formatur terdiri dari 7 orang, di antaranya Subakir, Abdul Basyid, Moh.Sidik, KH Rusdi Rianto, KH Abdul Karim Muhaimin, Mashudi, dan Didik Suharmanto. “Kami sudah persiapkan beberapa prioritas program lima tahun ke depan. Di antaranya pengaderan,” ungkap Subakir di sela-sela acara.

Selain itu, ia akan melakukan kerja sama dengan pihak kelurahan di Kota Blitar untuk menyelenggarakan kegiatan bersama. Yakni mengadakan pengajian atau majelis taklim yang difokuskan untuk pemuda agar tidak terjerumus pada paham aliran sesat. (Imam Kusnin Ahmad/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Nahdlatul Ulama, Quote Ustadz Felix Siaw

Anak Bisa Baca Al-Qur’an, Ini Keistimewaan Bagi Orang Tua

Solo, Ustadz Felix Siaw

Alkisah, seorang bapak telah meninggal, hingga 3 tahun sejak ia dikuburkan. Selama itu pula ia terus mendapat siksa kubur, hingga pada suatu hari tiba-tiba siksaan yang ia terima dihentikan. Ia pun bertanya? Ada apa gerangan?

“Rupanya pada hari itu, anaknya yang dulu masih kecil, kini mulai belajar mengaji, membaca alif ba’ ta’. Bapak yang tidak mengajarkan anaknya mengaji, ikut mendapatkan berkah dari anaknya yang belajar Al-Qur’an,” tutur Habib Noval bin Muhammad Alaydrus, pada acara Wisuda Tahfidz Al-Qur’an siswa SD-MI-SMP Ta’mirul Islam, di Hotel The Sunan, akhir pekan lalu.

Anak Bisa Baca Al-Qur’an, Ini Keistimewaan Bagi Orang Tua (Sumber Gambar : Nu Online)
Anak Bisa Baca Al-Qur’an, Ini Keistimewaan Bagi Orang Tua (Sumber Gambar : Nu Online)

Anak Bisa Baca Al-Qur’an, Ini Keistimewaan Bagi Orang Tua

Diterangkan pengasuh Majelis Ar-Raudhah tersebut, betapa pentingnya memberikan pendidikan membaca dan memahami Al-Qur’an kepada anak. Sebab, dari anak pula para orang tua mendambakan kiriman doa ketika mereka sudah meninggal dunia.

“Kalau kita sudah meninggal siapa yang akan mendoakan kita. Bagaimana kalau anak kita tidak bisa mengaji? Apa kita akan mengandalkan orang lain untuk mendoakan kita,” tanya dia.

Ustadz Felix Siaw

Ditambahkan Habib Novel, yang juga penasihat GP Ansor Kota Solo, terlebih ketika memiliki putra-putri penghafal Al-Qur’an, maka sesuai dengan janji Allah pada sebuah hadits, orang tuanya akan mendapat mahkota dan pakaian yang indah.

Sementara itu, pada kesempatan tersebut sebanyak 267 siswa diwisuda. Koordinator Al-Quran SD Tamirul Islam, Mukhlisin, para peserta yang diwisuda, sebelumnya telah menyelesaikan hafalan Al-Quran masing-masing minimal juz 30.

“Beberapa dari mereka, bahkan ada yang telah menyelesaikan hafalan juz 1, 2, 26, 27, 28, dan 29,” terang dia. (Ajie Najmuddin/Fathoni)

Ustadz Felix Siaw

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Pemurnian Aqidah, Humor Islam Ustadz Felix Siaw

Cara Mudah Mengakses NU Onlne dari HP

Untuk memudahkan pembaca dalam mengakses Ustadz Felix Siaw, beberapa waktu lalu kami telah meluncurkan aplikasi android versi ke-2 yang telah mendapat beberapa penyempurnaan dari berbagai kekurangan yang ada pada versi sebelumnya. Berikut ini cara mengaplikasikannya:

Aplikasi android Ustadz Felix Siaw versi ke 2 ini dapat didownload melalui menu google play store. Ketik Ustadz Felix Siaw, atau klik link berikut:

https://play.google.com/store/apps/details?id=com.NUonline.NUmobile2

Cara Mudah Mengakses NU Onlne dari HP (Sumber Gambar : Nu Online)
Cara Mudah Mengakses NU Onlne dari HP (Sumber Gambar : Nu Online)

Cara Mudah Mengakses NU Onlne dari HP

Setelah didownload, Ustadz Felix Siaw versi android akan tampil sebagai menu tersendiri berupa logo NU yang bisa dengan mudah diakses sewaktu-waktu.

Pada aplikasi android yang baru ini, Ustadz Felix Siaw sudah dapat menyesuaikan ukuran tampilan layar pada berbagai versi android pengguna seperti ginger bread, honeycomb, Ice Cream Sandwidch, bahkan Jelly Bean. Pada ukuran huruf (fonts) juga sudah diperbesar, sehingga memudahkan pengakses utuk dapat membaca konten website serta bernavigasi di dalamnya.

Cara yang sama juga bisa dipakai untuk mengakses Radio NU (radio.nu.or.id) dan mengikuti Pengajian Ramadhan live dari beberapa pesantren. Bagi yang belum mendownload Radio Ustadz Felix Siaw, buka play store, lalu ketik Radio NU. Selanjutnya ikuti perintahnya.

Selain versi android, versi mobile Ustadz Felix Siaw juga sudah diluncurkan sebelumnya. Tanpa harus mendownload versi android, ketika mengetikkan nu.or.id di HP yang terkoneksi dengan internet secara otomatis akan langsung mengarah pada http://m.nu.or.id.  Selanjutnya nikmati versi mobile Ustadz Felix Siaw dengan tampilan yang lebih sederhana. Di bagian bawah juga tersedia pilihan jika ingin kembali ke tampilan utama atau versi dekstop. (Puji Utomo/Ardyan Novanto Arnowo)

Ustadz Felix Siaw

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw

Ustadz Felix Siaw Berita, Nahdlatul, Aswaja Ustadz Felix Siaw

Kamis, 28 September 2017

PBNU Sambut Baik Pengakuan Negara atas Legalitas Ma’had Aly

Jakarta, Ustadz Felix Siaw. Selama ini Ma’had Aly merupakan pendidikan tingkat tinggi khas pesantren yang konsisten mengajarkan ilmu-ilmu agama berbasis kitab kuning. Oleh Karena itu, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tentu menyambut baik pengakuan negara atas legalitas Ma’had Aly.

Hal ini disampaikan oleh Wakil Ketua Umum PBNU KH M. Maksoem Mahfoedz saat menghadiri Halaqah Nasional Penyusunan Kerangka Kurikulum Ma’had Aly yang digelar Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag dengan menggandeng Lakpesdam PBNU, Kamis (2/6) di The Media Hotel Jakarta.

PBNU Sambut Baik Pengakuan Negara atas Legalitas Ma’had Aly (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Sambut Baik Pengakuan Negara atas Legalitas Ma’had Aly (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Sambut Baik Pengakuan Negara atas Legalitas Ma’had Aly

Konsekuensi dari legalitas tersebut, lanjut Maksoem, Ma’had Aly harus merumuskan berbagai standar, kualifikasi, dan kurikulum agar eksistensinya menemukan relevansi dan signifikansi. “Siginifikansi inilah yang menjadikan peran Ma’had Aly sesuai dengan perubahan masyarakat di era global,” ujar Guru Besar UGM ini.

Dia juga menegaskan bahwa lulusan Ma’had Aly merupakan produk pendidikan tinggi khas pesantren. Sebab itu, Prinsip kemandirian dan pemahaman Islam secara substantif harus terus dipertahankan.

Ustadz Felix Siaw

Dalam konteks penyusunan kurikulum, Maksoem menerangkan bahwa kurikulum sepenuhnya menjadi kewenangan lembaga tersebut. Namun demikian, pemerintah dan pihak-pihak terkait juga perlu memberikan atau mengusulkan kerangka sehingga Ma’had Aly tetap menemukan relevansinya dengan perubahan sosial masyarakat.

Hadir beberapa tokoh penting dalam halaqoh ini diantaranya, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Wakil Rais Aam PBNU KH Miftahul Akhyar, Rais Syuriyah PBNU KH Masdar Farid Mas’udi, Ketua PP Lakpesdam PBNU H Rumadi, Sekretaris Lakpesdam PBNU H Marzuki Wahid, Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag H Mohsen, A’wan PBNU Hj Sri Mulyati, dan beberapa pimpinan Ma’had Aly. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw

Ustadz Felix Siaw Kiai, Fragmen, Sholawat Ustadz Felix Siaw

Ini Makna Gunungan Jaler-Estri di Grebek Mulud Surakarta

Solo, Ustadz Felix Siaw. Puncak perayaan Sekaten ditandai dengan acara Grebek Mulud di halaman Masjid Agung Surakarta, Kamis (24/12). Ribuan warga yang hadir, ikut memperebutkan gunungan yang menjadi simbol prosesi ini.

Digelar sejak abad ke-14, tradisi Grebek Mulud Keraton Solo seakan tak lekang oleh zaman. Grebek untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW itu tetap menjadi magnet bagi masyarakat.

Ini Makna Gunungan Jaler-Estri di Grebek Mulud Surakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Makna Gunungan Jaler-Estri di Grebek Mulud Surakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Makna Gunungan Jaler-Estri di Grebek Mulud Surakarta

Dua pasang Gunungan Jaler-Estri dan empat Gunungan anakan dikirab mulai dari Keraton Solo melewati Sithinggil menuju Masjid Agung Solo. Kirab Gunungan itu keluar dari Keraton melalui Kori Kamandungan sekitar pukul 10.30 WIB.

Ustadz Felix Siaw

Pengageng Kusumawa Wandawa Keraton Solo, KGPH Puger mengatakan, kirab Gunungan Jaler-Estri dalam Grebek Mulud menggambarkan keberadaan laki-laki dan perempuan yang kemudian melahirkan keturunan. “Maknanya, laki-laki dan perempuan ini menggambarkan kelahiran Nabi Muhammad SAW.” terang Puger.

Sebelum acara gunungan sekaten dimulai, masyarakat sudah memenuhi depan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat sekitar pukul 07.30 WIB. Mereka menunggu acara puncak gunungan Sekaten di depan Masjid Agung.

Ustadz Felix Siaw

Puger menambahkan, pengunjung yang hadir tidak hanya datang dari kalangan warga desa, tetapi juga golongan menengah ke atas. “Tadi pagi saya banyak menemui orang dari kalangan berbeda-beda, sekarang sekaten mulai digandrungi ? kembali, dukungan masyarakat diperlukan untuk nguri-uri budaya adat Jawa ini,” kata dia.

Grebek Mulud merupakan tradisi yang diadakan untuk memperingati hari lahir Nabi Muhammad saw. Selain di Solo, tradisi ini juga diadakan di Yogyakarta dan Demak. (Ajie Najmuddin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Cerita Ustadz Felix Siaw

Baznas dan LPBINU Buka Layanan Kesehatan Usai Banjir Sampang

Sampang, Ustadz Felix Siaw - Lembaga Penanggulangan Bencana dan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) Sampang bekerja sama dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) menyediakan layanan kesehatan secara gratis kepada korban banjir Sampang. Pasalnya, usai banjir surut mereka mengalami gangguan kesehatan.

Tampak ribuan warga Sampang memanfaatkan layanan pengobatan massal ini di Kelurahan Dalpenang, Kecamatan Sampang, Kabupaten Sampang, Sabtu (5/3). Pada kegiatan tersebut, warga Dalpenang dan sekitarnya beramai-ramai memanfaatkan layanan pemeriksaan kesehatan dan obat-obatan secara gratis yang ditangani para dokter dan tim medis.

Baznas dan LPBINU Buka Layanan Kesehatan Usai Banjir Sampang (Sumber Gambar : Nu Online)
Baznas dan LPBINU Buka Layanan Kesehatan Usai Banjir Sampang (Sumber Gambar : Nu Online)

Baznas dan LPBINU Buka Layanan Kesehatan Usai Banjir Sampang

Menurut Wakil Ketua II Baznas Jawa Timur KH Abdurrahman Navis, Baznas sudah merealisasikan program peduli banjir Sampang sejak Ahad (28/2) lalu dengan menyalurkan bantuan makanan dan layanan kesehatan. "Prinsipnya kami memberikan bantuan sesuai dengan kebutuhan dasar para korban. Terutama kesehatan dan makanan pokok. Kami juga sudah berkoordinasi dengan pemerintah setempat untuk mendata dan memetakan bantuan apa yang bisa diberikan Baznas untuk membantu pemulihan usai bencana banjir," kata kiai yang juga Wakil Ketua PWNU Jatim ini.

Ustadz Felix Siaw

Kiai Navis juga memuji kekompakan semua elemen masyarakat yang bekerja secara suka rela untuk membantu para korban banjir. Selain berkoordinasi dengan pemkab setempat, Baznas juga bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Lembaga Penanganan Bencana dan Iklim Nahdlatul Ulama? (LPBINU), Palang Merah Indonesia (PMI), dan lainnya di Sampang.

Senada dengan itu, Wakil Bupati Sampang H Fadhilah Budiono yang hadir pada kegiatan itu mengucapkan terima kasih kepada Baznas dan unsur masyarakat yang menaruh kepedulian. Ia juga berjanji akan segera menghidupkan Baznas Sampang yang selama ini vakum.

Ustadz Felix Siaw

Selain memberikan layanan kesehatan, Baznas juga menyalurkan ribuan paket sembako dan 66 kasur lipat untuk korban banjir. "Kami sudah melakukan pendataan dan pemetaan usai terjadinya banjir. Ternyata para korban membutuhkan alas tidur yang nyaman karena banjir menghanyutkan kasur mereka, terutama para dhuafa dan sedang sakit," jelas Dodong dari Baznas Pamekasan.

Sembako dan kasur ini diberikan di 11 kelurahan dan desa seperti Rongtengah, Dalpenang, Pasea, Gunung Sekar, Karang Delem, Polagen, Panggung, Tenggamung, Pangilen, Pekalangan, Kamuning dan Geligis. (Ibnu Nawawi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Cerita, Jadwal Kajian Ustadz Felix Siaw

Senin, 25 September 2017

Santri Tak Hanya Dihitung,Tapi Diperhitungkan

Lebak, Ustadz Felix Siaw

Pengurus Cabang Gerakan Pemuda (PC GP) Ansor Kabupaten Lebak mengadakan peringatan Hari Santri Nasional secara besar-besaran, Ahad, (22/10) di Alun-alun Malingping, Lebak Banten. Lebih dari lima ribu santri dan masyarakat dari berbagai daerah sekitar Malingping hadir di lokasi.

“Saya bangga, peringatan Hari Santri di Malingping Lebak dihadiri oleh lebih enam ribu santri dan masyarakat. Ini sebentuk kecintaan pada pesantren dan pada bangsa ini. Santri mulai sekarang tidak hanya dihitung, tapi diperhitungkan,” ujar Ketua PC GP Ansor Ade Bujhaerimi, dalam sambutan singkatnya. 

Santri Tak Hanya Dihitung,Tapi  Diperhitungkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Tak Hanya Dihitung,Tapi Diperhitungkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Tak Hanya Dihitung,Tapi Diperhitungkan

Pada momentum tersebut, digelar berbagai kegiatan menarik. Diawali kirab santri yang diikuti ribuan santri, disusul dengan Dialog Kebangsaan, istigotsah dan doa untuk bangsa yang dipimpin langsung oleh Abuya Muhtadi, mimbar bebas, dan nonton bareng film Sang Kiai.

Para tokoh agama, politik dan masyarakat, juga menyampaikan pandangannya terkait momen Hari Santri ini secara bergiliran, termasuk Ketua MUI Kabupaten Lebak Ketua MUI Kabupaten Lebak KH Pupu Mahpudin. Kiai Pupu mengatakan, Allah Swt pelan-pelan akan mencabut ilmu dari muka bumi ini.

“Bukan dengan mencabut ilmu itu langsung, melainkan dengan mewafatkan para ulama. Jika situasi ini terjadi, maka yang akan dijadikan pemimpin adalah orang-orang bodoh, yang akan menimbulkan berbagai kezaliman bagi rakyatnya,” ujarnya.

Ustadz Felix Siaw

Dalam kondisi seperti ini, maka posisi santri menjadi sangat penting.

“Yang akan mengganti ulama itu santri. Makanya, ibu-ibu isilah kobong dan pesantren oleh anak-anak kita semua, karena santri harus mengganti ulama biar tidak terjadi kezaliman dan untuk merubah kezaliman itu,” ujarnya lantang disambut gemuruh takbir hadirin. 

Pengasuh Pondok Pesantren Darus-Saadah Cimarga ini juga menyampaikan optimismenya, bahwa yang akan mampu membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik adalah para santri.

Ustadz Felix Siaw

“Kelak santrilah yang akan mengubah bangsa ini menjadi baldah thayyibah wa rabb ghafur dan mampu mensejahterakan bangsa ini,” katanya. 

Karena itu, katanya, semua komponen umat Islam patut bersyukur atas penetapan Hari Santri oleh Pemerintah.

“Kita bersyukur ada Hari Santri. Ini wujud pengakuan pemerintah. Ke depan, santri tidak hanya dihitung, tapi diperhitungkan,” tegasnya lagi. (Nhm/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Syariah, RMI NU Ustadz Felix Siaw

Jumat, 22 September 2017

Rafli Mursalim, Striker Jebolan LSN Gantikan Ezra Walian di Timnas

Pati, Ustadz Felix Siaw. Pagelaran Piala AFF U 18 sudah selesai beberapa waktu yang lalu. Begitupun kualifikasi Piala Asia U 19. Ada hal yang patut membuat publik ditanah air kecewa. Tim kesayangan mereka kalah di perempat final setelah kandas melawan Thailand. Sama seperti di AFF Tim Garuda Nusantara kalah dan tidak lolos apabila bukan sebagai tim tuan rumah di kualifikasi tahun ini.

 

Rafli Mursalim, Striker Jebolan LSN Gantikan Ezra Walian di Timnas (Sumber Gambar : Nu Online)
Rafli Mursalim, Striker Jebolan LSN Gantikan Ezra Walian di Timnas (Sumber Gambar : Nu Online)

Rafli Mursalim, Striker Jebolan LSN Gantikan Ezra Walian di Timnas

Namun tetap saja ada yang istimewa pada pertandingan-pertandingan tersebut. Sosok santri terlibat secara langsung bergabung bersama Timnas demi membela Indonesia. Dialah Rafli Mursalilm. Sosok santri yang lahir pada 5 Maret 1999 itu sukses melayangkan hattrick ke gawang Brunei Darussalam pada Piala AFF U 18. Tak berhenti sampai di situ, ia juga ikut andil melesakkan lagi sebuah gol ke gawaang Brunei pada saat kualifikasi Piala Asia U 19.

 

Sosok jebolan Liga Santri Nasional (LSN) yang sukses menjadi top scor dengan mengemas 15 gol dipanggil dalam uji coba Timnas U 23 melawan Suriah, Kamis (16/11). Ini merupakan kali kesekian kali bagi Rafli ikut membela Timnas Indonesia.

Ustadz Felix Siaw

 

Nama Rafli merupakan wajah baru pada daftar pemain kali ini bersama M. Lutfi kamal. Sebelumnya hanya Egy Mulyana Vikri yang di panggil. Hal ini cukup mengejutkan karena ia dipanggil menggantikan pemain Almere City, Ezra Walian. Ezra sendiri adalah pemain yang sempat booming beberapa waktu lalu.

Ustadz Felix Siaw

 

Muhammad Zaenuri salah seorang santri senior Pondok Pesantren Kulon Banon Kajen Pati merasa senang karena ada santri yang bisa ikut bermain bola bersama timnas. "

Biasanya santri kan sibuk ngaji. Ini ada yang ikut timnas kan hebat," ungkapnya.

 

Ia mengakui tak terlalu kaget Rafli bisa sampai sesukses itu, karena pria yang mengaku santri tulen ini menegaskan bila hobi santri main bola.

"Ketika libur ngaji atau Pak Kiai sedang tidak rawuh (datang mengajar) biasanya kami bal-balan (bermain bola). Jadi melihat Rafli sudah biasa. Lha wong hobi santri bal-balan," pungkasnya.

(Ahsol Matkan/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Berita, Amalan Ustadz Felix Siaw

Kamis, 21 September 2017

Kenal Kaligrafi Sejak TPQ, Kini Juara di Berbagai Lomba

Jepara, Ustadz Felix Siaw

Namanya Nusrotuz Zulfa. Siswi MA Walisongo Pecangaan Jepara ini mengenal kaligrafi sejak dirinya masih duduk di bangku TPQ. Di jenjang pendidikan berikutnya, Madrasah Diniyyah (Madin) materi menulis Arab indah itu juga ia dapatkan.

Dari pengalaman belajar ini, puncaknya saat Zulfa duduk di bangku VIII MTs Walisongo Pecangaan berhasil menyabet juara I lomba kaligrafi pada perhelatan Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) Maarif.

Kenal Kaligrafi Sejak TPQ, Kini Juara di Berbagai Lomba (Sumber Gambar : Nu Online)
Kenal Kaligrafi Sejak TPQ, Kini Juara di Berbagai Lomba (Sumber Gambar : Nu Online)

Kenal Kaligrafi Sejak TPQ, Kini Juara di Berbagai Lomba

Anak ketiga dari empat bersaudara itu orang tuanya tidak mempunyai darah seni. Tetapi Khoirul Atho dan Umi Kulsum, ayah dan ibunya, senantiasa memotivasinya agar dia menjadi juara.

Ustadz Felix Siaw

Di samping orang tua, kakak serta bibinya memotivasinya agar rajin belajar kepada pamannya, Ahmad Jamaluddin yang sudah malang melintang di dunia kaligrafi.

Ustadz Felix Siaw

“Ikutlah latihan dengan Pak Lekmu (pamanmu, red),” begitu ajak bibi dan juga kakaknya.

Siswi jurusan IPS itu menceritakan saat masih di MTs ia terpilih dalam seleksi untuk mengikuti lomba. Lantas dia latihan ke rumah pamannya di desa Gemiring, Nalumsari. Saat Jum’at hari libur madrasahnya ia latihan dengan pamannya itu.

Gadis kalem yang memiliki hobi melukis itu hingga tahun 2015 kemarin telah menyabet juara kaligrafi hingga tingkat Provinsi. Juara 2 tingkat Provinsi tahun 2015, juara harapan 3 tingkat Provinsi 2015, juara 2 tingkat kabupaten 2015, juara 2 kabupaten 2014.

Saat duduk di bangku MTs juga pernah menyabet berbagai lomba kaligrafi di tingkat kabupaten. Hingga saat ini dirinya belum merasa puas dengan hasil yang telah diraih.

Di akhir Mei ini dirinya berencana lomba kaligrafi tingkat nasional di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Perempuan yang lahir di Jepara, 10 Oktober 1998 itu memiliki motto pengalaman adalah guru yang terbaik. Sehingga ia terus ingin menambah banyak pengalaman di berbagai lomba.

Selain guru, teman-teman di lingkungan MA Walisongo yang memotivasinya Zulfa juga memiliki teman yang sama-sama memberikan motivasi. Perkenalannya dengan Athi Melia diawali dari kegiatan Porsema saat Zulfa baru di kelas X MA. Waktu itu, Zulfa mewakili MA dan Athi’ pesantren Hasyim Asyari Bangsri.

Dari pertemanan itu berlanjut hingga sekarang. Keduanya saling memotivasi hasil karya baik BBM maupun SMS. Meski menempuh pendidikan di beda madrasah keduanya enjoy saat berkompetisi.

Tahun 2015 lalu di gelaran Porsema ia juara 2 temannya Athi juara 1. Di acara Aksioma dia juara 1 dan Athi juara 2. Sehingga di kesempatan yang lebih tinggi Zulfa mewakili Jepara di cabang Aksioma di Boyolali. Sedangkan temannya mengikuti cabang Porsema di Kebumen.

Hal yang belum tercapai sebutnya menyabet juara di tingkat nasional. “Semoga saya bisa memperoleh juara di tingkat nasional,” harapnya. (Syaiful Mustaqim/Mahbib)







Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Syariah Ustadz Felix Siaw

Minggu, 17 September 2017

Inilah Sistem Kewalian di Demak

Demak adalah nama sebuah kabupaten di provinsi Jawa Tengah. Terletak di pesisir pantai utara pulau Jawa, wilayah ini pernah menjadi pusat peradaban masa lalu Nusantara. Pada abad keenam belas, ketika di Perancis mengalami masa Revolusi Industri, di Nusantara sedang mengalami pergeseran peradaban dari Majapahit ke Demak. Hal ini oleh para sastrawan dilukiskan sebagai Senjakala ing Majapahit atau Sirna Kerta ing Bumi. Yang berarti, masa senja kebesaran peradaban Majapahit atau kebesaran Raja Kertajaya purna dari bumi.

Jatuh bangun sebuah peradaban di dalam sejarah sudah sering terjadi. Sebagaimana peradaban Mesopotamia dan Arkadia di tepi Sungai Tigris, peradaban Mesir, peradaban Persia, peradaban India, atau peradaban muslim Arab. Setiap peraban tersebut memiliki ciri khasnya masing-masing, demikian pendapat Nasr Hamid Abu Zaid. Karena, alasan jatuh bangun peradaban ini, maka tidak mustahil jika pergeseran di Nusantara, terutama di pulau Jawa, terjadi. Sebagaimana peradaban Tarumanegara di Bogor, peradaban Dieng, peradaban, peradaban Mataram Lama, peradaban Singasari, peradaban Majapahit, hingga Demak. Pergeseran yang bias diartikan sebagai puncak kemakmuran dan kejayaan yang sudah lelah.

Inilah Sistem Kewalian di Demak (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Sistem Kewalian di Demak (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Sistem Kewalian di Demak

Dari asumsi ini, kemunduran sebuah peraban dapat disebabkan oleh berbagai persoalan, seperti perebutan tahta dan ambisi oleh para pewaris yang berlanjut pada perang saudara yang menyebabkan kebobrokan moral, atau karena serangan dan campur tangan dari luar.

Ustadz Felix Siaw

Dari alasan “pergeseran” ini dapat dibuktikan dengan symbol-simbol kebesaran Majapahit masih dipakai oleh kerajaan Demak. Simbol tersebut adalah Matahari (Surya) sebagai lambang kerajaan yang masih terdapat di atas mihrab Mesjid Demak. Mesjid yang didirikan oleh para Walisanga.

Mesjid sebagai Lembaga Permusyawaratan

Suara iringin lagu Lir Ilir yang diciptakan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga menyambut pengunjung yang datang dengan salawat Bantenan. Tidak diketahui asal usul nama Bantenan tersebut ketika ditanyakan kepada pimpinan grup salawat tersebut, Abdul Wahhab. Terdapat dua kemungkinan nama Banten digunakan, yaitu model atau gaya grup salawat tersebut diadopsi dari Banten atau bisa dikembalikan kepada makna asalnya dari sebutan bahasa Sansekerta sebagai “persembahan”. Banten dalam arti sesembahan. Persembahan salawat yang ditujukan kepada para tetamu yang datang. Di dalam tradisi Syiwa-Buddha, persembahan berupa umbe rampe dikenal sebagai “bebantenan”, persembahan rasa syukur kepada Sang Hyang Widhi Wasa yang hanya ada di dalam tradisi Syiwa-Buddha di Nusantara.

Ustadz Felix Siaw

Sebagai pusat peradaban, keraton Demak sebagai singgasana raja sering dipertanyakan letaknya. Ada asumsi yang mengatakan; teknologi kayu, terutama jati sebagaimana yang digunakan di mesjid Demak telah dihancurkan, terutama Sultan Agung yang telah menghancurkan pelabuhan-pelabuhan di sepanjang pantai utara pulau Jawa untuk menghindari serangan Portugis dan Belanda. Sehingga keraton kayu yang didirikan oleh raja-raja Demak tidak berhasil dipertahankan.

Namun demikian, asumsi ini tidak sepenuh benar, mengingat keraton yang ada di Cirebon masih tetap berdiri, meskipun dengan konsekuensi kerajaan Cirebon tidak boleh memiliki tentara oleh Belanda. Di samping, kerajaan-kerajaan Hindu di Bali biasa tidak memiliki keraton sebagai pusat kerajaan.

Penggunaan simbol-simbol kerajaan seperti Surya Majapahit atau Bulus (kura-kura) yang tertera di mihrab menunjukkan harmonisasi terjadi antara Majapahit dan Demak. Bulus yang berarti “melebu alus” dipraktekkan sebagai sikap patuh atau tawadu kepada pimpinan. Dipraktekkan, setiap orang yang masuk ke dalam mesjid Demak harus berjalan “ngesot” selayak seorang hamba menghadap sang raja.

Sistem Kewalian

Pengertian wali dalam konsep sufisme berarti “kekasih Allah” atau orang yang memiliki kedekatan (taqarrub) kepadaNya. Sehingga ada banyak kitab yang menjadi referensi sufisme tersebut, yang menyebutkan tentang ciri-ciri dan tahap-tahap menuju kewalian, seperti kitab Inayatul Azkiya karya Syekh Mahfudz At-Tarmisi. Wali dalam konteks ini dimengerti sebagai orang suci (saint) yang memiliki pengalaman kerohanian menembus alam misykat hingga mampu menempuh maqam-maqam (stations) tertentu. Maka tidak heran, jika seorang wali bisa mencapai maqam tertinggi yang biasa dikatakan sebagai wali qutb. Sebagaiman sistem sebuah pemerintahan, wali-wali ini memiliki jenjang struktural: wali abdal, wali awtad, wali nuqaba, dan wali qutb. Mereka tersebar di penjuru dunia. Sistem kewalian di dalam sufisme Islam ini dikenal di dalam ajaran Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Implementasi sistem kewalian ini kemudian dimanifestasikan oleh ulama-ulama Nusantara ke dalam sistem pemerintahan dan politik kenegaraan. Pendapat ini memang tidak populer didengar, namun mulai dikaji dan diteliti tentang sistemnya. Istilah “Dewan Walisanga” yang belakangan muncul menjadi salah satu jawaban misteri terhadap eksitensi sistem Walisanga yang memiliki rentang sejarah berbeda. Padahal, di dalam cerita tutur masyarakat, semua wali sembilan tersebut sering bertemu dalam satu ruang dan waktu yang sama. Sehingga tidak dapat dinalar secara logis, bahkan disangsikan adanya. Walisanga di Nusantara tidak pernah ada.

Di dalam tradisi muslim Nusantara—terutama di pulau Jawa—selain Walisanga, di setiap penjuru daerah banyak tersebar makam wali-wali yang dihormati masyarakat setempat dengan mengadakan hari peringatan (haul). Dalam sebuah pernyataan, KH Abdurrahman Wahid menyatakan setiap desa ada wali. Ada banyak nama makam yang memiliki nama serupa, seperti Syekh Maghribi, Sunan Kalijaga, atau Syekh Makhdum. Di samping kewalian hanya dirunut ke dalam hubungan emosional guru dan murid atau orangtua dan anak.

Ahmad Widodo (lahir 1965) kepada Tim Ekspedisi Islam Nusantara ketika sampai di Demak Demak, (7/4) menyodorkan istilah sistem kewalian tersebut menjadi 3: Wali Ngajeng (koordinator, yang diwakili oleh para sunan Walisanga), Wali Bekel (duduk di pemerintahan sesuai denga profesinya, seperti penghulu atau jaksa), dan Wali Wingking yang membantu di wilayah masing-masing. Nama-nama yang biasa disebut sebagai Wali Wingking tersebut adalah Sunan Pengging, Sunan Tingkir, Sunan Butuh, Sunan Banyubiru, dan Sunan Jatinom. Dari sini kemudian, kesunanan dapat dimengerti sebagai sebuah sistem. (M. Sakdillah, anggota tim Ekspedisi Islam Nusantara)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Cerita Ustadz Felix Siaw

Sabtu, 16 September 2017

Amankan Rapat Pleno PBNU, Ratusan Banser Diseleksi

Wonosobo, Ustadz Felix Siaw. Sebanyak 15 satuan koordinasi rayon (satkoryon) Barisan Ansor Serbaguna (Banser) se-Kabupaten Wonosobo, Rabu (4/9), mengikuti seleksi sebagai pasukan pengamanan Rapat Pleno PBNU di Wonosobo, Jawa Tengah.

Proses seleksi yang diadakan di kantor Pengurus Cabang NU (PCNU) Wonosobo ini melibatkan sejumlah kriteria yang ditentukan satuan koordinasi cabang (satkorcab) Banser setempat, antara lain terkait postur tubuh, wawasan, dan dedikasi. 

Amankan Rapat Pleno PBNU, Ratusan Banser Diseleksi (Sumber Gambar : Nu Online)
Amankan Rapat Pleno PBNU, Ratusan Banser Diseleksi (Sumber Gambar : Nu Online)

Amankan Rapat Pleno PBNU, Ratusan Banser Diseleksi

Dari ratusan peserta seleksi, 75 anggota terpilih diharuskan siap berambut cepak dan sanggup bertugas siang-malam selama Rapat Pleno berlangsung, 6-8 September 2013, di Universitas Sains Ilmu al-Qur’an (Unsiq) Kalibeber, Wonosobo, atau berdekatan dengan PPTQ Al-Asyariyyah, Wonosobo.

Ustadz Felix Siaw

"Memang seharusnya anggota yang diterjunkan untuk pengamanan diacara tersebut jangan yang ‘galau’, sehingga bisa mengemban tugas yang diberikan dengan cermat dan cerdas," ungkap Ketua PCNU Wonosobo Arifin Siddiq.

Ustadz Felix Siaw

Menurut dia, upaya ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan tuan rumah kepada para tamunya agar tetap dalam suasana aman dan nyaman di lokasi acara.

"Tetapi dalam melaksanakan tugas (Banser) tidak boleh meninggalkan akhlaqul karimah, ikhlas, jujur dan bisa mengambil keputusan yang benar dan tepat,” imbuhnya. (Herry BH/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Tegal, Kiai, Amalan Ustadz Felix Siaw

Jumat, 15 September 2017

Hanya Ingin NU

Penyair asal Madura D. Zawawi Imron punya cerita tentang keinginannya.

Dia bilang, koleganya, sesama penyair asal Madura, sebut saja Dasirun, memintanya untuk masuk partai politik.



Hanya Ingin NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Hanya Ingin NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Hanya Ingin NU

Dasirun : “Cak, Sampean ikut kamilah!

”Zawawi : “Ikut ke mana?”

Dasirun : “Masuk partai kamilah”

Ustadz Felix Siaw

Zawawi  : “Ah, Sampean ada-ada saja. Emang manfaatnya apa?”

Dasirun : “Ya kalau Sampean gabung partai kami, Sampean boleh sebut apapun keinginan Sampean. Kami akan memenuhinya.”

Zawawi lantas diam. Dahinya berkerut. Terasa ada yang berat di kepalanya. Tapi, sejurus kemudian dia merespon ajakan temannya itu:

”Ah, aku hanya ingin NU. Apa partai Sampean bisa sediakan keinganku itu?” (Hamzah Sahal)

Ustadz Felix Siaw

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Kajian Sunnah, Pertandingan Ustadz Felix Siaw

Diperlukan Sosok Kiai “Ahlul Aqdi” untuk Muktamar Jombang

Depok, Ustadz Felix Siaw. Muktamar ke-33 NU di Jombang, 1-5 Agustus 2015 mendatang akan menerapkan model baru dalam pemilihan Rais Aam atau pemimpin tertinggi NU, yakni dengan sistem ahlul halli wal aqdi. Namun dalam sistem pemilihan “tidak langsung” ini mutlak diperlukan sosok kiai kharismatik yang bisa menjadi “ahlul aqdi” yang disegani semua pihak.

“Sosok ahlul aqdi ini harus dicari. Ia adalah tokoh kharismatik yang bisa menjadi leader dan merangkul semua, dan dengan sendirinya netral. Ia menjadi penggerak kiai, namun lapang dada, tidak ambisius dan tidak emosional,” kata Wakil Sekjen PBNU Abdul Mun’im DZ di rumahnya di kawasan Sawangan Depok, Ahad (21/6).

Diperlukan Sosok Kiai “Ahlul Aqdi” untuk Muktamar Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)
Diperlukan Sosok Kiai “Ahlul Aqdi” untuk Muktamar Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)

Diperlukan Sosok Kiai “Ahlul Aqdi” untuk Muktamar Jombang

Sistem “tidak langsung” dalam pemilihan pimpinan NU diterapkan sejak berdirinya organisasi ulama ini pada 1926. Selanjutnya selama sekitar 32 tahun sejak 1952 diterapkan sistem pemilihan langsung untuk memilih pimpinan tertinggi NU, yakni pada saat NU menjadi partai politik. Pada Muktamar tahun 1984 NU “kembali ke khittah” dan kembali menerapkan sistem “tidak langsung” yang disebut ahlul halli wal aqdi, namun berikutnya tidak diterapkan lagi.

Ustadz Felix Siaw

Menurut Mun’im, kunci sukses keberhasilan penerapan sistem ahlul halli wal aqdi pada 1984 karena waktu itu ada sosok kiai kharismatik yang disegani semua kelompok kepentingan. “Aqdi itu artinya ikatan. Ahul Aqdi berarti ahli mengikat atau ahli merangkul,” kata penulis buku “Piagam Kebangsaan NU” itu.

Pada Muktamar ke-27 NU di Situbondo tahun 1984, sosok KH As’ad Syamsul Arifin lah yang memerankan fungsi sebagai ahlul aqdi. “Kiai As’ad dibantu oleh kiai sepuh lainnya seperti Kiai Ali Ma’shoem, Kiai Mahrus Aly, dan kiai kharismatik lainnya,” kata Mun’im.

Ustadz Felix Siaw

“Semua kiai ahlul aqdi ini tidak ada yang berambisi menjadi Rais Aam. Kiai As’ad kembali ke pesantrennya di Asembagus. Kiai Mahrus Aly memilih menjadi Syuriyah di Jawa Timur saja. Bahkan Kiai Ali’ Ma’shoem sejak awal tidak pernah mau menjadi Rais Aam. Maka mereka semua menjadi panutan,” tambahnya.

Menurut Mun’im, ketegangan yang terjadi saat ini harus diselesakan sebelum muktamar Jombang Agustus 2015 mendatang, jika sistem Ahlul Halli wal Aqdi akan diterapkan kembali. Para ulama sepuh perlu mengadakan pertemuan seperti pada hari-hari menjelang muktamar 1984.

“Kalau kita lihat di beberapa kegiatan pra muktamar baik di Mataram, Makassar, Medan dan Jakarta sudah ada ketegangan. Bila ini dibiarkan potensi tegang bisa lebih besar, maka sebelum muktamar diharapkan sudah selesai,” katanya.

Terkait ahul halli wal waqdi, sebagai catatan, usulan untuk menerapkan kembali sistem ini menyusul adanya suasana persaingan yang hebat di arena muktamar NU Makassar pada 2010 yang melibatkan para kiai. Persaingan terjadi akibat sistem pemilihan langsung.

Usulan penerapan kembali ahlul halli wal aqdi untuk pemilihan pucuk pimpinan NU dibahas secara serius pada Rapat Pleno PBNU, September 2013 di Wonosobo. Waktu itu beberapa unsur pimpinan NU bahkan tidak sepakat termasuk Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. Rapat akhirnya menyepakati penerapan ahlul halli, namun hanya untuk pemilihan Rais Aam (Syuriyah), sementara untuk Ketua Umum (Tanfidziyah) tetap dipilih secara langsung.

Penerapan ahlul halli wal aqdi dibahas kembali secara lebih rinci dalam Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama NU di Jakarta, November 2014. Munas yang diselenggarakan di kantor PBNU Jakarta Pusat itu dihadiri para pimpinan syuriyah PBNU, antara lain Pejabat Rais Aam KH Musthofa Bisri, Rais Syuriyah KH Hasyim Muzadi, dan Katib Aam KH Malik Madani.

Dalam draft ahlul halli wal aqdi yang telah dirumuskan untuk Muktamar ke-33 NU di Jombang, setiap PWNU dan PCNU akan mengusulkan 9 (sembilan) nama kiai sebagai calon anggota ahlul halli wal aqdi. Semua nama yang terkumpul dari 34 PWNU, lebih dari 500 PCNU plus PCINU akan ditabulasi dan diambil 9 nama yang teratas. Selanjutnya 9 anggota ahlul halli wal aqdi akan memilih Rais Am dan Wakil Rais Aam, setelah itu mereka memilih beberapa calon ketua umum untuk dipilih langsung oleh Muktamirin. (A. Khoirul Anam)

Foto: KH Hasyim Muzadi, Habib Luthfi bin Ali, KH Mustofa Bisri, dan KH Malik Madani di sela Munas Alim Ulama NU di kantor PBNU, Jakarta Pusat, November 2014.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Kajian Ustadz Felix Siaw

Kamis, 14 September 2017

1.400 Orang Ikut Mudik Gratis Bareng NU

Jakarta, Ustadz Felix Siaw. Memasuki waktu pendaftaran Mudik Bareng NU 2015 hari ini, kantor PBNU Kramat Raya Jakarta dipadati para calon pemudik yang ingin mendaftarkan diri. Dengan membawa fotokopi KTP dan Kartu Keluraga (KK), mereka antri hingga berjam-jam demi bisa mengikuti program PBNU yang dikelola LTMNU dari tahun 2010 ini.

“Ada sebanyak 1.400 orang yang akan ikut mudik bersama NU, mereka sudah mendapatkan formulir pendaftaran yang akan ditukarkan dengan tiket tanggal 6 Juli mendatang,” ujar Koordinator Mudik Gratis, Mujahidin di sela-sela kesibukannya melayani calon pemudik, Rabu (1/7) di Kantor LTMNU lantai 4 Gedung PBNU Jakarta.

1.400 Orang Ikut Mudik Gratis Bareng NU (Sumber Gambar : Nu Online)
1.400 Orang Ikut Mudik Gratis Bareng NU (Sumber Gambar : Nu Online)

1.400 Orang Ikut Mudik Gratis Bareng NU

Mujahidin juga menerangkan, bahwa posko mudik berbasis masjid juga telah disediakan oleh pihaknya dengan menggandeng para Muharrik masjid. Dia menambahkan, para pemudik nanti akan dilayani sepenuhnya oleh para pengurus dan remaja masjid di posko tersebut.?

Ustadz Felix Siaw

Sementara itu, Sekretaris LTMNU, H Ibnu Hazen menuturkan, program mudik gratis ini akan terus digulirkan setiap tahun untuk memenuhi kebutuhan mudik para perantau di Jakarta dan sekitarnya yang sebagian besar dari mereka adalah warga NU.

“Sudah tugas kami untuk melayani dan menyapa umat. Selain itu, program ini juga untuk mendukung pemerintah dalam mengurangi angka kecelakaan mudik dari pemotor yang semakin bertambah setiap tahun,” terangnya.

Ustadz Felix Siaw

PBNU telah menyediakan 30 armada bus dengan 30 kota tujuan, termasuk 2 bus khusus untuk karyawan PBNU.?

Adapun rincian kota tujuannya yaitu, Jawa Timur terdiri dari 13 kota tujuan, yakni Banyuwangi via Situbondo, Banyuwangi via Jember, Probolinggo via Pasuruan, Sumenep via Suramadu, Sampang via Suramadu, Surabaya-Bungurasih, Malang via Kediri-Blitar, Mojokerto via Ngawi-Jombang, Pacitan via Madiun-Ponorogo, Gresik via Lamongan, Tuban via Rembang, Blitar via Tulungagung, Bojonegoro via Cepu.

Jawa Tengah terdiri dari 12 kota tujuan, yakni Wonogiri via Sukoharjo, Solo via Salatiga, Yogyakarta, Purworejo via Kebumen, Magelang via Temanggung, Wonosobo via Banjarnegara, Purwokerto via Bumiayu, Rembang via Kudus, Jepara via Demak, Semarang via Kendal, Batang via Pekalongan, Tegal via Tol Cipali.

Sedangkan Jawa Barat, yakni Cilacap via Banjar-Ciamis, Kuningan via Majalengka, dan Cirebon via Indramayu, dan 2 bus karyawan khusus PBNU yaitu tujuan Surabaya via Gresik serta jurusan Madiun via Magetan. (Fathoni)

?

Foto: Suasana antrian calon pemudik di depan kantor LTMNU.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Kyai, Tegal Ustadz Felix Siaw

Selasa, 12 September 2017

NU Cirebon: Ahlul Halli wal Aqdi itu Demokrasi Nahdliyah

Cirebon, Ustadz Felix Siaw. Keluarga Besar Nahdlatul Ulama (KBNU) Cirebon menyatakan sepakat pada mekanisme pemilihan Rais Aam PBNU yang bermuara pada supremasi syuriyah NU. Pilihannya jatuh pada penerapan Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) sebagai proses pemilihan Rais Aam PBNU oleh dewan kiai khos pada Muktamar ke-33 NU dan muktamar NU selanjutnya.

NU Cirebon: Ahlul Halli wal Aqdi itu Demokrasi Nahdliyah (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Cirebon: Ahlul Halli wal Aqdi itu Demokrasi Nahdliyah (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Cirebon: Ahlul Halli wal Aqdi itu Demokrasi Nahdliyah

"KBNU Cirebon mendukung penuh dan siaga berada di garda terdepan untuk mengawal penerapan AHWA sebagai sistem pemilihan kepemimpinan NU mendatang, dimulai dari Muktamar ke-33, 1-5 Agustus 2015 besok di Jombang," kata KH Marzuki Wahid, perwakilan NU Cirebon kepada sejumlah awak media di Kantor PCNU Kota Cirebon, Senin (8/6).

Persiapan Muktamar ke-33 NU yang direncanakan digelar di Jombang pada Agustus 2015 ini, sudah memasuki pembahasan mekanisme pemilihan Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Mekanisme ini rencananya akan ditetapkan pada Musyawarah Nasional (Munas) NU pada 14-15 Juni 2015 di Jakarta.

Ustadz Felix Siaw

AHWA, menurut Marzuki, merupakan mekanisme pemilihan yang dipandang lebih layak untuk diterapkan dalam Muktamar NU. Hal ini dapat menghilangkan potensi politis dan saling olok antarpendukung tokoh yang dicalonkan.

"AHWA bagi kami adalah demokrasi ala NU, demokrasi nahdliyyah, atau musyawarah mubarakah yang telah lama dipraktikkan oleh para kiai dan nyai-nyai NU dalam setiap Muktamar jauh sebelum diterapkan pemilihan langsung model demokrasi liberal, yang berprinsip one man one vote," katanya.

Ustadz Felix Siaw

Sementara mengenai apakah mekanisme AHWA bisa mengurangi hak politik warga NU atau tidak, Kiai Marzuki menjawab bahwa hak politik warga NU bisa dilibatkan dalam penentuan para tokoh kiai yang akan dijadikan sebagai anggota AHWA.

"Sebab, siapa yang berhak untuk menjadi anggota AHWA ditentukan oleh warga dan pengurus NU sesuai dengan tingkat kepengurusannya," kata Marzuki.

Sebelumnya, banyak beredar kabar bahwa sekelompok warga NU menolak pemberlakuan AHWA karena dianggap sebagai kemunduran nilai demokratis. Namun di sisi lain, AHWA merupakan tradisi pemilihan pengurus NU yang pernah diterapkan orang-orang shaleh. (Sobih Adnan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Hadits Ustadz Felix Siaw

Minggu, 10 September 2017

Makna Silaturrahim dalam Sabda Nabi Muhammad

Silaturrahim merupakan salah satu agenda utama di momen Idul Fitri atau Lebaran untuk berkunjung ke keluarga, sanak saudara, tetangga, dan masyarakat dalam tradisi Muslim di Indonesia. Bahkan untuk tujuan menyambung tali kasih ini, masyarakat berbondong-bondong pulang kampung atau mudik setiap tahunnya.

Selain agenda utama, silaturrahim secara syariat juga merupakan amalan utama karena mampu menyambungkan apa-apa yang tadinya putus dalam relasi hablum minannas. Belum lagi keutamaan dari amalan ini yang di antaranya dapat memperpanjang umur serta melapangkan rezeki.

Terkait substansi silaturrahim ini, Muhammad Quraish Shihab dalam buku karyanya Membumikan Al-Qur’an: Peran dan Fungsi Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat (Mizan, 1999: 317) mengungkapkan Sabda Nabi Muhammad.

Makna Silaturrahim dalam Sabda Nabi Muhammad (Sumber Gambar : Nu Online)
Makna Silaturrahim dalam Sabda Nabi Muhammad (Sumber Gambar : Nu Online)

Makna Silaturrahim dalam Sabda Nabi Muhammad

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Laysa al-muwashil bil mukafi’ wa lakin al-muwwashil ‘an tashil man qatha’ak. (Hadits Riwayat Bukhari)

Artinya: “Bukanlah bersilaturrahim orang membalas kunjungan atau pemberian, tetapi yang bersilaturrahim adalah yang menyambung apa yang putus.” (HR Bukhari)

Dari Sabda Nabi Muhammad tersebut, jelas termaktub bahwa silaturrahim menyambung apa yang telah putus dalam hubungan hablum minannas. Manusia tidak terlepas dari dosa maupun kesalahan sehingga menyebabkan putusnya hubungan. Di titik inilah silaturrahim mempunyai peran penting dalam menyambung kembali apa-apa yang telah putus tersebut.

Ustadz Felix Siaw

Lebaran merupakan momen yang paling tepat jika di hari-hari lain belum mampu menyambungkan apa yang telah putus. Energi kembali ke fithri turut mendorong manusia untuk berlomba-lomba mengembalikan jiwanya pada kesucian. Idul Fitri-lah yang mampu melakukannya.

Meskipun disadari, silaturrahim sesungguhnya tidak terbatas dilakukan ketika Idul Fitri tiba. Manusia tidak mungkin harus menunggu berbulan-bulan hanya untuk meyambungkan apa yang telah putus. Hal ini didasarkan bahwa batas umur manusia tidak ada yang tahu. Tentu manusia akan merugi ketika nyawa tidak lagi dikandung badan namun masih menyimpan salah dan dosa kepada orang lain.

Ustadz Felix Siaw

Arti silaturrahim

Dalam buku yang sama, Quraish Shihab menjelaskan arti silaturrahim ditinjau dari sisi bahasa. Silaturrahim adalah kata majemuk yang terambil dari kat bahasa Arab, shilat dan rahim. Kata shilat berakar dari kata washl yang berarti menyambung dan menghimpun. Ini berarti hanya yang putus dan terserak yang dituju oleh kata shilat itu.

Sedangkan kata rahim pada mulanya berarti kasih sayang, kemudian berkembang sehingga berarti pula peranakan (kandungan). Arti ini mengandung makna bahwa karena anak yang dikandung selalu mendapatkan curahan kasih sayang.

Salah satu bukti yang paling konkret tentang silaturrahim yang berintikan rasa rahmat dan kasih sayang itu adalah pemberian yang tulus. Sebab itu, kata shilat juga diartikan dengan pemberian atau hadiah(Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Hikmah, IMNU, AlaSantri Ustadz Felix Siaw

Jumat, 08 September 2017

6 Tokoh Lintas Iman Ini Ungkap Jiwa Sederhana dan Semesta Gus Dur

Bandung, Ustadz Felix Siaw. Sejumlah 6 tokoh agama kota Bandung menyampaikan orasi kebangsaan lintas agama pada acara dalam rangka Haul Gus Dur ke-7 yang digelar oleh Pengurus Cabang PMII kota Bandung, Rabu (28/12) kemarin, di halaman gedung PCNU setempat.

6 Tokoh Lintas Iman Ini Ungkap Jiwa Sederhana dan Semesta Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
6 Tokoh Lintas Iman Ini Ungkap Jiwa Sederhana dan Semesta Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

6 Tokoh Lintas Iman Ini Ungkap Jiwa Sederhana dan Semesta Gus Dur

Jopie Rattuseorang Pendeta Kristen mengungkapkan Gus Dur orangnya sederhana. Kata “sederhana” kelihatannya cuma singkat, tapi kata sederhana punya makna yang dalam. “Apa yang beliau sampaikan mengena pada hati saya,” ungkapnya dihadapan puluhan mahasiswa yang hadir dalam Haul itu.

Menurut pendeta Jopie, Gus Dur adalah pembela minoritas, apalagi minoritas yang tertindas. Pemikiran Gus Dur yang visioner dapat menyelesaikan persoalan yang terjadi saat ini.Jadi ada pemikiran Gus Dur itu seharusnya menjadi format bagi orang-orang yang memimpin di negeri ini.

“Dia orang yang berani mempertaruhkan dirinya untuk bangsa. Hari ini kita memperingatinya untuk merenung, bisakah menjalankan prinsip apa yang disampaikan beliau?Negeri ini membutuhkan generasi-generasi yang sama seperti apa yang Gus Dur sampaikan,” ujarnya.

Ustadz Felix Siaw

Sementara Eko Supeno pemuka Buddha mengajak untuk membudayakan dan melestasrikan pemikiran Gus Dur, sebagaimana dalam kitab Suci agama Buddha di bab 1 dan ayat 1 yakni tentang pentinya pikiran itu sebagai pelopor, pemimpin, dan pembentuk dalam kehidupan.?

“Harus kita lestarikan adalah pemikiran Gus Dur yang hebat dan cemerlang untuk kebersamaan dan keutuhan NKRI.Jadi, mahasiswa harus mempunyai pemikiran besar seperti Gus Dur. Pemikiran besar itu positif, inovatif, kreatif, dan produktif,” sambung Pemuka Buddha itu.

Lain lagi penuturan Fam Kiun Fat. Ia menceritakan masa mudanya saat pembuatan KTP tidak boleh mencantumkan Kong Hu Chu sebagai agamanya. Namun semenjak Gus Dur mengeluarkan Keppres Nomor 6 tahun 2000 yang mencabut Intruksi Presiden Nomor 14 tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Cina. Umat Kong Hu Chu dan Tionghoa kembali mendapatkan hak sipil mereka.Makan di mata umat agamanya, Gus Dur adalah pahlawan.

Ustadz Felix Siaw

“Marilah kita pemuda bersatu untuk membuat satu kekuatan. Dalam ajaran Kong Hu Chu, semua umat bersaudara. Karena kita sama-sama berdarah merah bertulang putih, itulah merah putih,” ajak kepada para mahasiswa lintas agama yang hadir pada acara itu.

Agus Sugiarto pemuka Katolikmempunyai pandangan lain. Baginya, Gus Dur itu orang kudus, artinya orang suci. Dalam tradisi gereja Katolik, setiap orang kudus itu selalu diperingati saat orang itu wafat. “Gus Dur mempunyai empati yang luar biasa. Ketika ada kaum minoritas yang tertindas, jiwa Gus Dur itu tergerak batinnya untuk membela,” lanjut Agus.

Yang terpenting bagi Gus Dur adalah bagaiamana negara indonesia bisa berkembang dan sejahtera, keadilan dirasakan di seluruh tanah air. “Kita sebagai generasi muda, mudah-mudah jiwa dan spirit Gus Dur itu mari kita lanjutkan dan kembangkan dan sebarkab kepada setiap orang yang kita jumpai, karena yang diperjuangkan adalah kebenaran dan keadilan,” pintanya.?

Oleh karena sering berjumpa dengan kiai NU, ia menjadi sangat hafal bahwa kalangan kiai NU jelas-jelas mempertahankan empat pilar yang disingkat menjadi PBNU, jelas Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, UUD 1945. “Luar biasa,” sanjungnya disambut tepuk tangan meriah oleh hadirin.

Adapun pemuka Hindu yang kali ini diwakili oleh I Nengah Kondra menerangkan Gus Dur menurut pandangan Hindu adalah sosok yang memilik sosok jiwa semesta. Dalam konsep hindu itu adalah pengakuan secara universal bahwa setiap manusia adalah sama, bersaudara. Saudara itu satu ruh, kalau kita Indonesia berarti satu negara Indonesia.?

Sosok Gus Dur dalam Hindu adalah sosok yang mengamalkan 3 hal yang menyebabkan manusia berbahagia. Pertama, manusia itu selaras dengan Tuhan, beribadah dengan kepercayaan masing-masing. Itu dipelihara oleh Gus Dur.?

Kedua, keharmonisan sesama manusia. Itu juga merupakan sesuatu yang sangat ditekankan pada saat pemerintahan Gus Dur, sehingga kesempatan saling bertolentasi bertumbuh sampai sekarang. Ketiga, keselarasan manusia dengan alam. Tiga konsep ini yang sangat ditekankan pada masa pemerintah Gus Dur.?

“Saya sangat mengagumi dan meneladani Gus Dur, tetapi sayang sekali disetiap kegiatan keagamaan, saya belum belum sampai bersalaman dengan beliau. Tetapi saya menanamkan dalam hati bagaimana konsep pemikiran kebhinekaan Gus Dur dapat saya teladankan kepada yang lainnya,” kagumnya.

Sedangkan menurut Wahyul Afif Al-Ghafiqi seorang pengasuh pesantren di Bandung menuturkan bahwa Kiai Abdurrahman Wahid adalah salah satu karunia Allah bagi Indonesia. Santri yang pernah menjadi presiden. Dan kapan lagi Indonesia mempunyai santri menjadi presiden.

“Kita sering dengar bahwa istana negara itu jadi istananya rakyat memang benar di masa Gus Dur, santri tidak pakai sepatu, memakai sendal jempit hendak ketemu Gus Dur, tanpa protokoler, termasuk saya. Jadi kalau sekarang situasi bangsa sedang seperti ini, kangennya luar biasa,” tuturnya.

Mantan aktivis PMII Bandung itu meyakini bahwa Gus Dur itu mengamalkan ajaran Rasululllah bahwa membela siapapun yang tertindas, siapapun yang teraniaya, tidak perduli dari kalangan apapun. Bahkan kita sendiri yang mengikuti bingung mencari pembenaran dari apa yang dilakukan oleh Gus Dur.

“Gus Dur itu asli kiainya, mondoknya di mana-mana, gelar pengakuannya juga banyak. Mana ada kiai jadi Dewan Kesenian Jakarta, sampai jadi pengamat sepak bola,”paparnya dari pengalamannya berjumpa Gus Dur. (M. Zidni Nafi’/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Pendidikan Ustadz Felix Siaw

Kamis, 07 September 2017

Gelar Muskercab, PCNU Jombang Sikapi Radikalisme Global

Jombang, Ustadz Felix Siaw

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Jombang, Jawa Timur gelar Musyawarah Kerja Cabang (Muskercab) yang terakhir di auditorium Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu), Pterongan, Jombang. Ahad (8/5/2016).

Dalam Muskercab ini, segenap pengurus cabang akan melihat serta mengevaluasi sejumlah program yang telah dilaksanakan, juga yang akan dilaksanakan selama satu tahun ke depan (2017).

Gelar Muskercab, PCNU Jombang Sikapi Radikalisme Global (Sumber Gambar : Nu Online)
Gelar Muskercab, PCNU Jombang Sikapi Radikalisme Global (Sumber Gambar : Nu Online)

Gelar Muskercab, PCNU Jombang Sikapi Radikalisme Global

Untuk program yang akan dilaksanakan, di samping bersifat merampungkan program kerja yang telah ditentukan sebelumnya, PCNU setempat juga berupaya membaca situasi dan kondisi yang menurutnya penting untuk disikapi melalui perumusan program-program kembali.

Misalnya, paham Islam garis keras yang kian hari semakin massif di sejumlah daerah. Menurut KH Isrofil Amar, Ketua PCNU Jombang, belakangan ini sudah terdapat simbol-simbol dari paham tersebut, baik dari penyebaran video di internet ataupun gambar-gambar yang memicu terhadap kelompok terkait.

"PCNU Jombang sudah beberapa kali mendapat video-video yang berbau paham Islam radikal," katanya saat menyampaikan sambutannya di hadapan tamu undangan dan peserta Muskercab.

Ustadz Felix Siaw

Hal ini, tentu menjadi ancaman serius bagi bangsa Indonesia, terutama warga nahdliyin di Tanah Air. Sebab paham tersebut mengancam ketentraman tatanan kebangsaan dan kebhinekaan. Untuk itu, Kiai Isrofil mengimbau kepada masyarakat NU untuk merapatkan barisan menyikapi kondisi demikian.

"Nahdlatul ulama akan merapatkan barisan rerkait isu-isu yang pada akhirnya seperti partai komunis, karena NU tetap akan setia pada NKRI dan Pancasila," terangnya. .

Ia menambahkan, upaya untuk menghalau gerakan tersebut, NU akan berkoordinasi dengan pihak pemerintah. Kerjasama tersebut dipandang sangat efektif daripada melakukan gerakan secara mandiri. "Nahdlatul Ulama tidak berdiri sendiri namun harus juga dengan pemerintah," imbuhnya.

"Mudah-mudahan pada Musker ini dapat memberikan pencerahan-pencerahan..Sekali NU kita tetap NU, kita terus akan melanjutkan perjuangan ulama, terutama para pendiri Nahdlatul Ulama," lanjutnya. (Syamsul Arifin/Fathoni) .

Ustadz Felix Siaw

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Kiai, Sejarah, Olahraga Ustadz Felix Siaw

Senin, 04 September 2017

Mimbar Masjid Jami Lasem ini Berusia 420 Tahun

Rembang, Ustadz Felix Siaw. Mimbar khutbah masjid Jami Lasem diyakini berusia lebih dari420 tahun, kata pengamat sejarah dan sekaligus pengurus masjid jami Lasem Abdullah Hamid, Jumat (18/7). Ia menambahkan dari mimbar itu pula, menjadi saksi bisu perlawanan terhadap penjajah Belanda, yang berpusat di wilayah Kecamatan Lasem.

Mimbar Masjid Jami Lasem ini Berusia 420 Tahun (Sumber Gambar : Nu Online)
Mimbar Masjid Jami Lasem ini Berusia 420 Tahun (Sumber Gambar : Nu Online)

Mimbar Masjid Jami Lasem ini Berusia 420 Tahun

Mimbar yang berukuran sekitar panjang 3 meter dan lebarnya 1 meter ini, di tempatkan di sebelah utara pengimaman masjid Lasem dan masih sering digunakan untuk aktifitas khutbah setiap hari jumah. jika dilihat dari bentuknya, memang terlihat mulai dari pahatan hingga desain menggunakan alat pada zaman dahulu, yang terbuat dari kayu jati tua, yang dipunuhi dengan motif ukiran.

Menurut Abdullah, masjid Jami Lasem biasanya Masjid kuno memiliki mimbar semacam itu. Kalau Masjid zaman sekarang, bentuknya lain. Ia menganggap mimbar tersebut sebagai salah satu aset peninggalan yang harus selalu dijaga.

Ustadz Felix Siaw

Abdullah menambahkan, mimbar telah mengiringi sejarah sejak zaman perang Lasem sampai sekarang. Dalam cerita Babad Lasem dikisahkan Mbah Joyo Tirto atau Kiai Baedlawi kerap berkhutbah di mimbar tersebut, untuk menggelorakan semangat nasionalisme masyarakat, berjihad melawan penjajah Belanda sekira tahun 1742 Masehi.

Ustadz Felix Siaw

Puncaknya, pejuang pribumi menyerang markas Belanda di Rembang. Masa telah berganti, mimbar lebih banyak berfungsi untuk mengingatkan keislaman umat. Ulama ulama sekelas Kiai Maksoem, Kiai Kholil, Kiai Imam Sofwan dan Kiai muda Sihabudin Ahmad, pernah berkhutbah dari balik mimbar.

Ketika ada peziarah dari luar daerah singgah ke Masjid Jami’ Lasem, rata rata perhatian mereka tertuju pada mimbar khutbah. Ia mengakui memang tersirat kharisma tersendiri.

Dari kharisma para pendahulu pula, harapannya mampu menular kepada jemaah. Giat memakmurkan masjid dan khusyuk beribadah, menunaikan perintah illahi robbi.

Selain itu, di area masjid ini menjadi area pemakaman para tokoh ulama Lasem tak terkecuali salah seoarang yang merupakan pendiri jamiyah Nahdlatul Ulama (NU) Mbah Masoem Lasem. Di sekeliling masjid itu juga terdapat makam para tokoh kerajaan kuno Lasem, Bupati Lasem yang akrap disebut mbah Srimpet. (Ahmad Asmui/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Quote, Tokoh Ustadz Felix Siaw

PBNU Sesalkan Sikap Presiden Terkait Interpelasi Nuklir Iran

Jakarta, Ustadz Felix Siaw. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi menyesalkan sikap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang dinilainya kurang berani menghadapi interpelasi DPR terkait nuklir Iran.

"Kalau mau datang sejak awal, masalah interpelasi Iran sudah selesai. Kenapa harus dicicil dengan  ketemu pimpinan DPR dan interpelator terlebih dahulu," kata Hasyim Muzadi di Jakarta, Rabu.

Menurut Hasyim, sikap Presiden Yudhoyono itu justru bisa memunculkan kecurigaan dari berbagai kalangan. Publik bisa menduga bahwa Presiden telah menyembunyikan sesuatu di balik dukungan Indonesia terhadap resolusi DK PBB 1747 soal nuklir Iran.

PBNU Sesalkan Sikap Presiden Terkait Interpelasi Nuklir Iran (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Sesalkan Sikap Presiden Terkait Interpelasi Nuklir Iran (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Sesalkan Sikap Presiden Terkait Interpelasi Nuklir Iran

"Jadi sekarang kesannya seperti ada yang dirahasiakan. Yang diinginkan DPR adalah alasan dan pertimbangan mengapa Indonesia sampai mendukung resolusi 1747 itu," katanya.

Agar masalah interpelasi nuklir Iran cepat tuntas, Presiden World Conference on Religion for Peace (WCRP) itu meminta Presiden Yudhoyono untuk berani memenuhi keinginan DPR yakni hadir langsung ke sidang paripurna.

"Kalau mau selesai cepat, ya, harus datang ke sidang paripurna DPR. Kalau ditunda-tunda terus, interpelasi nuklir Iran tak akan selesai," kata pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam, Malang, Jatim itu.

Ustadz Felix Siaw

Menurut Hasyim, kehadiran Presiden Yudhoyono ke sidang DPR untuk memberi penjelasan secara langsung  tidak akan menjatuhkan pamor dan gengsi seorang presiden.  "Saya kira tidak sampai menurunkan gengsi Presiden. Legislatif dan eksekutif kan sama-sama lembaga negara. Kenapa harus takut. Jadi, gengsi Presiden tidak akan jatuh gara-gara interpelasi itu," katanya.

Ustadz Felix Siaw

Mengenai upaya interpelasi masalah lumpur Lapindo Kiai Hasyim menegaskan bahwa hal tersebut bisa disatukan sekaligus dengan interpelasi masalah Iran karena memang tidak ada aturan yang melarangnya.

“Sebenarnya target saya adalah pemerintah bisa menalangi dulu dana bagi para korban lumpur dengan persetujuan DPR, melalui dana-dana yang saat ini masih menganggur dan nanti baru dimintakan ke Lapindo, kasihan mereka,” paparnya.

Menurutnya dana yang diberikan kepada BPLS lebih dari satu trilyun untuk membangun infrastruktur yang rusak seharusnya didahulukan kepada para pengungsi, baru setelah daerah tersebut aman, maka pembangunan bisa dimulai. (mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Nasional, Kajian Islam, Fragmen Ustadz Felix Siaw

Jumat, 01 September 2017

Mahasiswa UNU Sidoarjo Galang Dana untuk Korban Puting Beliung

Sidoarjo, Ustadz Felix Siaw - Aksi kemanusiaan terus dilakukan masyarakat Sidoarjo untuk meringankan beban korban puting beliung yang melanda tiga desa di Kecamatan Waru. Salah satu aksi itu dilakukan oleh puluhan mahasiswa yang tergabung dalam aliansi organisasi kemahasiswaan (ormawa) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo.

Dalam aksinya, mereka melakukan penggalangan dana di alun-alun Sidoarjo. Setiap pengendara yang melintas di jalur Sidoarjo-Surabaya itupun memberikan bantuan uang. Uang yang terkumpul kemudian mereka salurkan ke lokasi bencana atau di posko NU peduli bencana.

Mahasiswa UNU Sidoarjo Galang Dana untuk Korban Puting Beliung (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa UNU Sidoarjo Galang Dana untuk Korban Puting Beliung (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa UNU Sidoarjo Galang Dana untuk Korban Puting Beliung

"Kegiatan ini tidak lain adalah bentuk kepedulian terhadap saudara-saudara kami yang terkena musibah. Semoga dapat membantu dan meringankan beban mereka," kata salah satu mahasiswa UNU Sidoarjo, Haedar Wahyu, Jumat (24/11).

Setelah menyalurkan bantuan kepada korban puting beliung, mahasiswa UNU Sidoarjo kemudian melakukan istighotsah dan doa bersama. Diharapkan, dengan bantuan doa itu masyarakat di tiga desa yakni Desa Tambakrejo, Tambak Sumur dan Tambak Sawah sedikit berkurang rasa traumanya.

Ustadz Felix Siaw

Ustadz Felix Siaw

Untuk diketahui, dari data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sidoarjo, jumlah bangunan rusak akibat terjangan angin puting beliung di tiga desa terus bertambah. Data terakhir tercatat sekitar 900-an unit bangunan rusak.

Sebagian besar bangunan rumah warga, yang rata-rata rusak pada bagian atapnya. Sementara bagian lain adalah tempat ibadah, gedung sekolah dan bangunan lain. Sedangkan warga yang rumahnya roboh dan rusak mengungsi di sekolah MI Darul Ulum Tambakrejo. Jumlah warga yang mengungsi sekitar 100 orang, namun sebagian sudah kembali ke rumah dan masih memilih tetap bertahan. (Moh Kholidun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Budaya, Humor Islam, Syariah Ustadz Felix Siaw