Kamis, 30 Maret 2017

Institut Zainul Hasan Bentengi Mahasiswa Baru dengan Aswaja Sejak Dini

Probolinggo, Ustadz Felix Siaw. Pimpinan Komisatiar Perguruan Tinggi (PKPT) Institut Zainul Hasan (Inzah) Genggong Kelurahan Semampir, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, Rabu (27/9) menggelar masa kesetiaan anggota (Makesta) di SMK Ma’arif NU di Desa Curahsawo, Kecamatan Gending.

Kegiatan ini diikuti oleh 39 orang peserta mahasiswa baru (maba) terdiri dari laki-laki 18 orang dan perempuan 21 orang. Kegiatan ini dihadiri oleh Ketua Pimpinan Cabang (PC) IPNU Kota Kraksaan Khoirul Imam, Ketua PKPT IPNU Inzah Umarul Faruq dan Ketua PKPT IPPNU Inzah Yuyun Nur Hayati.

Institut Zainul Hasan Bentengi Mahasiswa Baru dengan Aswaja Sejak Dini (Sumber Gambar : Nu Online)
Institut Zainul Hasan Bentengi Mahasiswa Baru dengan Aswaja Sejak Dini (Sumber Gambar : Nu Online)

Institut Zainul Hasan Bentengi Mahasiswa Baru dengan Aswaja Sejak Dini

“Selain untuk membentengi kader IPNU lebih awal, kegiatan ini bertujuan untuk membentengi kader khususnya di lingkungan kampus Inzah agar tidak masuk dalam paham selain Ahlussunnah wal Jamaah,” kata Ketua PKPT IPNU Inzah Umarul Faruq.

Dalam kegiatan ini para peserta Makesta diberikan beberapa materi diantaranya ke-NU-an, ke-IPNU-an dan ke-IPPNU an, ke-aswaja-an, ke-pancasila-an dan yang terpenting ke-Indonesia-an. “Semua ini dilakukan agar para mahasiswa calon kader IPNU-IPPNU tetap berhaluan pada NKRI,” tegasnya.

Ustadz Felix Siaw

Sementara Ketua PC IPNU Kota Kraksaan Khairul Imam berpesan agar para mahasiswa kader IPNU-IPPNU ini tetap memperkuat Aswaja untuk menjadikan pondasi sehingga tidak terjerumus ke lain faham.

“Semoga dengan kegiatan ini, para kader muda NU ini tetap berpegang teguh kepada aqidah Ahlussunnah wal Jamaah dan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Sebab saat ini sudah banyak paham-paham baru yang sengaja menyerang generasi muda. Jika tidak dibentengi sejak awal, maka khawatir mereka akan terjerumus kepada paham lain yang bertentangan dengan Ahlussunnah wal Jamaah,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Ustadz Felix Siaw

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Ulama, Humor Islam, Pertandingan Ustadz Felix Siaw

Tidak Cukup Sekedar Maaf

Pembelokan sejarah, atau lebih tepatnya manipulasi sejarah pelengseran Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam buku-buku pelajaran sejarah di sekolah-sekolah tergolong kasus besar. Ini bukan hanya soal perasaan warga NU, namun juga menyangkut perjalanan bangsa Indonesia. Sayang, secara “news” kasus ini antiklimaks gara-gara Bathoegana.

Saat kasus manipulasi sejarah Gus Dur dalam buku sejarah mencuat, media massa sudah tidak lagi tertarik dengan isu ini. Media sudah capek. Energi media sudah dihabiskan untuk mengisukan Sutan Batoegana yang keceplosan menyatakan Gus Dur turun dari kursi kepresidenan karena tidak bersih. Dan kasus ini dianggap selesai setelah politisi Partai Demokrat itu minta maaf kepada Ibu Sinta Nuriyah dan keluarga Gus Dur di Ciganjur.

Tidak Cukup Sekedar Maaf (Sumber Gambar : Nu Online)
Tidak Cukup Sekedar Maaf (Sumber Gambar : Nu Online)

Tidak Cukup Sekedar Maaf

Memang perlu dimaklumi, dari sisi bisnis, media massa lebih memilih berita yang sensasional, bukan berita yang penting. Jadi kasus manipulasi sejarah ini bukan lagi urusan media, tapi urusan kita.

Beberapa buku sejarah yang diterbitkan oleh dan atas izin Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memang tidak secara vulgar mengatakan Gus Dur turun karena kasus Bulog (Buloggate) dan Bruneigate. Namun jika uraian sejarah itu dirangkum menjadi soal ujian atau dalam lembar kerja siswa (LKS) maka siswa akan dipaksa untuk mengikuti alur sejarah yang disusun oleh pihak-pihak yang tidak senang dengan Gus Dur.

Ustadz Felix Siaw

Ustadz Felix Siaw

Misalnya dalam soal pilihan ganda ditanyakan, “Presiden ke-4 RI turun karena kasus…” Siswa harus menjawab Buloggate dan Bruneigate. Atau jika dibalik, “Skandal Buloggate dan Bruneigate menyebabkan turunnya presiden…” Siswa yang fanatik NU pun harus memilih jawaban Abdurrahman Wahid. Jika tidak maka jawabannya dianggap salah karena dalam buku Pedoman Ajar dan kunci jawaban untuk guru dan penguji pun menyebut demikian.

Padahal berbagai kajian akademik oleh pakar dan pengkaji ? hukum di berbagai perguruan tinggi menyebutkan bahwa Gus Dur turun dari kursi kepresidenan bukan karena Buloggate dan Bruneigate. Bahkan secara hukum, penurunan Gus Dur dari kursi presiden dinilai cacat hukum. Dalam laporan resmi Tim Pengkaji Hukum Departemen Hukum dan HAM (2005) terkait Impeachment menyebutkan beberapa kesalahan hukum dalam proses penjatuhan Gus Dur.

Misalnya, disebutkan bahwa Sidang Istimewa MPR yang memecat Gus Dur tidak didahului dengan Memorandum I dan II. Memang sudah ada memorandum I dan II tapi itu untuk kasus lain, yakni Buloggate dan Bruneigate. Secara hukum ini proses tidak dibenarkan. Belum lagi soal mekanisme Sidang istimewa, siapa dan berapa syarat jumlah anggota MPR yang harus hadir.?

Memang Setelah Kejaksaan Agung mengeluarkan Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan (SKPP) terkait Buloggate dan Bruneigate, pihak-pihak yang ingin melengserkan Gus Dur mencari segala macam cara untuk menjatuhkan Gus Dur. Kesimpulannya, Gus Dur tidak turun dari kursi kepresidenan karena persoalan hukum, tapi dijatuhkan secara politik. Kajian Departemen Hukum dan HAM menyebut pelengseran Gus Dur seperti kudeta militer: tidak dibenarkan secara hukum namun menang secara politik.

Waktu itu situasi semakin tidak kondusif: bentrokan massa tidak terhindarkan, baik yang mendukung maupun yang membenci Gus Dur serta pihak-pihak yang sengaja membuat kerusuhan, Gus Dur akhirnya rela meninggalkan Istana Negara dengan hanya memakai kaos dan celana pendek: Gus Dur keluar istana sebagai rakyat biasa, bukan sebagai presiden atau kiai, dan keluar istana tanpa membawa apa-apa. Gus Dur memilih mundur dari pada pertumpahan darah 1998 terulang lagi. Korban sudah terlalu banyak berjatuhan.

Secara metodologis, penulisan sejarah turunnya Gus Dur juga tidak tepat karena belum melalui vase "pengendapan". Para pelaku sejarah masih banyak yang hidup dan masih berproses sebagai politisi dan pelaku sejarah. Siapa pahlawan dan siapa pecundang belum ditentukan. Sejarah baru dimulai dan masih sedang berproses. Jika pun kisah pelengseran Gus Dur itu perlu dibahas, maka pembahasan dilakukan dari perspektif politik atau hukum di fakultas hukum dan ilmu politik, bukan dalam buku pelajaran sejarah untuk siswa.

Maka yang dibutuhkan bukan sekedar kata maaf dari penyelenggara pendidikan; Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan Kementerian Agama. Kata maaf kepada keluarga Gus Dur, PBNU dan warga NU tidak menyelesaikan masalah. Semua buku pelajaran yang memanipulasi sejarah pelengseran Gus Dur harus dicabut. Para penyelenggara pendidikan harus menyiapkan buku sejarah yang bagus untuk anak-anak di negeri ini.

Kasus manipulasi Gus Dur dalam buku pelajaran sejarah di sekolah paling tidak mengharuskan kita, orang tua siswa, guru serta pemerhati pendidikan untuk lebih waspada dengan berbagai produk buku pelajaran dan lembar kerja siswa. Berbagai masukan, aspirasi dan kritik sat ini bisa disampaikan melalui media massa, jejaring sosial, atau melalui organisasi sosial keagamaan.

Kita tidak perlu berprasangka bahwa ada pihak-pihak yang mungkin “meracuni” siswa melalui buku-buku pelajaran. Kita hanya perlu mewaspadai para penulis dan penerbit buku yang ceroboh, malas dan “kejar setoran” dalam menyiapkan buku-buku pelajaran untuk siswa, dan mereka bisa dari kalangan manapun. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Doa, Kajian Sunnah Ustadz Felix Siaw

Selasa, 28 Maret 2017

Suluk Kiai Cebolek

Oleh A Muchlishon Rochmat

Daerah pojok timur laut Kabupaten Pati adalah daerah yang kurang begitu dikenal baik di wilayah Jawa Tengah apalagi Indonesia. Tetapi siapa yang menyangka, di Pati, tepatnya desa Kajen di makamkan seorang salik yang begitu karismatik. Mbah Mutammakin atau Kiai Cebolek namanya. Seseorang yang begitu dihormati oleh masyarakat sekitar dan dipercaya sebagai seorang wali.

Ahmad Mutammakin, Sumahadiwijaya, dan Kiai Cebolek adalah nama yang disematkan pada sosok yang diyakini masyarakat sekitar ini sebagai wali Allah. Kiai Cebolek hidup pada tahun 1645-1740 (Milal, 2002) bersamaan dengan Amangkurat IV dan Pakubuwono II, raja Kartasura. Tidak banyak fakta sejarah yang menjelaskan kehidupan Kiai Cebolek secara menyeluruh. Tetapi kejadian heroik Kiai Cebolek adalah saat ia diadili oleh Ketib Anom di Keraton Kartasura karena dianggap menyebarkan ilmu hakikat (manunggaling kawula gusti) kepada masyarakat awam.

Suluk Kiai Cebolek (Sumber Gambar : Nu Online)
Suluk Kiai Cebolek (Sumber Gambar : Nu Online)

Suluk Kiai Cebolek

Serat Cebolek yang diyakini sebagai karya pujangga terbesar Keraton Kartasura, R Ng Yasadipura I, merekam perdebatan sengit yang melibatkan Kiai Cebolek dengan Ketib Anom dari Kudus. Selain Serat Cebolek, ada Teks Kajen dan Arsy Muwahhidun yang diyakini sebagai karangan asli Kiai Cebolek, namun tidak sedikit yang meragukannya. Dalam Serat Cebolek, Kiai Cebolek dilukiskan memiliki perangai yang lusuh, jelek, mirip pengemis dan sok pintar padahal bodoh. Hal tersebut sangat kontras dengan apa yang terdapat dalam Teks Kajen dan Arsy Muwahhidun yang mana melukiskan Kiai Cebolek sebagai sosok yang luas ilmunya, memiliki kedalaman sepiritual dan gagah perkasa.

Ustadz Felix Siaw

Terlepas dari perbedaan ini, sosok Kiai Cebolek begitu mengisnpirasi dan melekat di sanubari masyarakat sekitarnya. Di Kajen, desa di mana Kiai Cebolek dimakamkan, menjadi ‘kota santri’ dengan lebih dari 30 pesantren. Sangat luar biasa mengingat Kajen yang notabenenya adalah desa kecil yang lahan untuk persawahan pun tak punya. Hampir semua pesantren besar yang tersebar di pesisir pantai Jawa diasuh oleh dzurriyah (anak turunnya) Mbah Mutammakin atau Kiai Cebolek.

Tafsir Suluk Kiai Cebolek

Dalam bukunya Ubaidillah Achmad dan Yuliyatun Tajuddin (Suluk Kiai Cebolek, 2014) disebutkan bahwa ada enam spirit atau suluk Kiai Cebolek sebelum menggapai martabat insan kamil. Keenam suluk ini disimpulkan dari keterangan-keterangan yang ada pada ornamen-ornamen masjid Kiai Cebolek, penuturan para dzurriyahnya dan masyarakat sekitar.

Ustadz Felix Siaw

Pertama, suluk niat Kiai Cebolek. Suluk niat menjadi dasar dari segala perbuatan ibadah seorang hamba seperti yang telah disabdakan nabi. Kalau niatnya sudah tidak benar, maka amalnya juga tidak akan benar. Menurut cerita masyarakat sekitar Kajen, kesalahan niat pernah dialami oleh Ketib Anom saat ia berkunjung ke Kajen untuk menemui Kiai Cebolek dan berniat untuk menguji dan menjatuhkannya. Kiai Cebolek mampu menjawab apa yang ditanyakan oleh Ketib Anom. Kemudian Kiai Cebolek meminta Ketib Anom untuk menafsirkan ornamen-ornamen pada dinding masjid Kiai Cebolek, Ketib Anom tidak bisa dan malah kebingungan.

Kedua, suluk ketauhidan. Suluk ini merupakan cerminan kayakinan Kiai Cebolek kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW sebagai Rasulullah. Gelar “Al-Mutammakin” (orang yang berpegang teguh dan berprinsip) yang disandangnya merupakan bukti bahwa Kiai Cebolek mengamalkan nilai-nilai ketauhidan secara total dan kuat. Ketauhidan yang diamalkan Kiai Cebolek bukan hanya di mulut, tapi juga pada tindakan-tindakannya.

Ketiga, suluk transformasi (perubahan diri). Suluk transformasi merupakan suluk yang mengupayakan perubahan diri dari hal yang tidak baik ke hal yang baik. Selain memperbaiki diri sendiri, Kiai Cebolek juga turut memperbaiki masyarakatnya. Kiai Cebolek berusaha sekuat tenaga untuk mendampingi rakyat dan melawan tirani dengan menggunakan ranah tasawuf sebagai media perjuangannya.

Keempat, suluk pembebasan. Setiap individu memiliki kewajiban untuk melepaskan setiap individu dan masyarakat dari penindasan. Suluk pembebasan mengharmonisasikan peran antarindividu, tidak ada yang menguasai dan tak ada yang dikuasai. Berbeda dengan Kiai Cebolek yang menggunakan tasawuf sebagai media untuk membebaskan rakyat dari ketiranian, Gus Dur, salah satu dzurriyahnya dan presiden keempat NKRI, menggunakan demokrasi untuk membebaskan dan melindungi rakyat lemah.

Kelima, suluk kearifan lokal. Kearifan lokal merupakan kekayaan dan identitas yang dimiliki oleh suatu masyarakat. Kiai Cebolek, sebagaimana yang dilakukan oleh para Wali Sanga, berusaha melindungi dan melestarikan kearifan-kearifan lokal masyarakat dengan cara menyisipkan nilai-nilai islami ke dalamnya.

Keenam, tazkiyatun nafsi (membersihkan diri) dari hal-hal yang syubhat, apalagi haram. Kisah yang melegenda masyarakat sekitar tentang tazkiyatun nafsi Kiai Cebolek adalah saat Kiai Cebolek melakukan riyadhah (olah jiwa) selama empat puluh hari. Pada saat akan berbuka puasa, Kiai Cebolek menyiapkan makanan-makanan yang lezat. Ia meminta istrinya untuk mengikatnya dan meletakkan makanan tersebut di hadapannya. Maka keluarlah nafsu Kiai Cebolek dalam bentuk dua ekor anjing, anjing ini menyantap habis makanan tersebut dan setelah selesai ke dua ekor anjing tersebut akan masuk lagi ke tubuh Kiai Cebolek tetapi Kiai Cebolek tidak memperkenankannya. Kedua anjing ini diberi nama Kamaruddin dan Abdul Kahar. Bisa saja cerita ini hanya kiasan semata, tetapi yang pasti Kiai Ceboleh melakukan tazkiyatun nafsi tingkat tinggi.

Enam suluk ini merupakan tangga untuk menggapai status insan kamil (manusia sempurna) sebagaimana yang Kiai Cebolek ajarkan. Yang perlu kita tahu bahwa Kiai Cebolek tidak melulu beribadah di masjid, tetapi ia juga berjuang bersama rakyat dari segala penindasan dan kesengsaraan yang ada.

Suluk, ajaran, atau semangat Kiai Cebolek tak pernah surut dan akan terus tumbuh subur di kalangan dzurriyah-dzurriyah (anak-cucunya), santri-santri dan masyarakat sekitarnya.

*) Penulis adalah Jurnalis Ustadz Felix Siaw, Wasekjen MPII Pusat.Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Humor Islam Ustadz Felix Siaw

Minggu, 19 Maret 2017

Dai Muda Indonesia Serukan Aksi Berjalan Damai

Jakarta, Ustadz Felix Siaw. Forum Komunikasi Dai Muda Indonesia (FKDMI) menyerukan seluruh elemen masyarakat yang tergabung dalam Aksi 4 November 2016 agar menjaga kedamaian dan keutuhan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, menjunjung tinggi akhlakul karimah dalam menyampaikan aspirasi, serta menghindari kekerasan dan provokasi yang melanggar koridor hukum dan dapat mencederai demokrasi.

Dai Muda Indonesia Serukan Aksi Berjalan Damai (Sumber Gambar : Nu Online)
Dai Muda Indonesia Serukan Aksi Berjalan Damai (Sumber Gambar : Nu Online)

Dai Muda Indonesia Serukan Aksi Berjalan Damai

Seruan tersebut disampaikan Sekjen Pengurus Pusat FKDMI, Moh. Nur Huda setelah mencermati kondisi yang berkembang di tengah masyarakat saat ini. Menurut Huda, Keutuhan kita sebagai sesama anak bangsa harus senantiasa dijaga.?

"Sampaikan aspirasi dengan cara yang baik dan santun,” ujarnya. Yang penting juga, menurut Huda adalah menghindari aksi anarki yang dapat mencederai demokrasi dan melukai ukhuwah di tengah masyarakat. Karena sejatinya Islam selalu menyerukan kedamaian dalam situasi dan kondisi apapun.

Terhadap isu dan tujuan gerakan dari aksi damai bela Islam ini, FKDMI mendesak penegak hukum untuk bertindak tegas dan cepat dalam memproses tindakan dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama guna menjaga stabilitas dan keamanan NKRI.?

Ustadz Felix Siaw

Penegakan hukum yang adil dengan prinsip sama rata terhadap semua orang, tanpa memandang status dan jabatan, akan menghadirkan keyakinan masyarakat terhadap penegak hukum dan pemerintah.

"Aksi damai ini merupakan reaksi masyarakat muslim atas dugaan penistaan agama yang dilakukan Basuki Tjahaja Purnama, karenanya penegak hukum harus dengan cepat dan tepat dalam memproses kasus ini secara adil dan tuntas,” tegas Huda.

Aksi damai merupakan ciri dalam berdemokrasi dan dilindungi oleh konstitusi negeri ini. Aksi juga salah satu bentuk penyampaian aspirasi secara langsung kepada Pemerintah, dalam mendukung proses penegakan hukum agar dilakukan dengan tegas dan proporsional. (Red: Fathoni)

Ustadz Felix Siaw

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Pertandingan, Bahtsul Masail, Budaya Ustadz Felix Siaw

Sabtu, 18 Maret 2017

Mari Beribadah Umrah di Ramadhan Bersama ASBIHU

Jakarta, Ustadz Felix Siaw



Bulan Ramadhan menjadi momentum berharga bagi setiap Muslim untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Bulan Ramadhan juga menawarkan begitu banyak keutamaan dan kemuliaan karena ibadah yang dijalankan akan mendapat pahala yang berlipat.?

Salah satu amalan istimewa di Ramadhan adalah melaksanakan ibadah umrah. Dalam sebuah hadist dijelaskan, “Umrah di bulan Ramadhan seperti berhaji bersama Rasulullah” (HR. Bukhari).

Mari Beribadah Umrah di Ramadhan Bersama ASBIHU (Sumber Gambar : Nu Online)
Mari Beribadah Umrah di Ramadhan Bersama ASBIHU (Sumber Gambar : Nu Online)

Mari Beribadah Umrah di Ramadhan Bersama ASBIHU

Karenanya banyak umat Islam yang menginginkan dapat melakukan ibadah umrah pada bulan Ramadhan.

Memenuhi niat suci umat Islam di Indonesia yang ingin melaksanakan ibadah umrah di bulan Ramadhan, ASBIHU Tour and Travel membuka paket perjalanan umrah Ramadhan. Perjalanan umrah Ramadhan dijadwalkan pada 28 Mei 2017. Umrah Ramadhan bersama ASBIHU adalah paket sembilan hari.

Ustadz Felix Siaw

Ada keistimewaan dalam pelaksanaan umrah bersama ASBIHU, di antaranya pelaksanaan manasik yang sesuai ajaran ahlussunah wal jamaa dan ziarah ke makam-makam sahabat Nabi.?

Dengan layanan maksimal dan mengacu pada kepuasan jamaah, Umrah Ramdhan ASBIHU dilaksanakan selama sembilan hari. Pesawat yang digunakan adalah Oman Air, dengan rute Jakarta-Madinah. Biaya yang diperlukan untuk paket Umrah Ramadhan terbilang sangat terjangkau, yakni hanya sebesar Rp24 juta rupiah.

Ustadz Felix Siaw

Masyarakat yang ingin mengikuti umrah Ramadhan bersama ASBIHU dapat mendaftarkan diri melalui kantor pusat ASBIHU di Jalan Basuki Rahmad No 12 Balimester-Jakarta Timur, atau menghubungi nomor telepon 021-8590-0265 dan 0812-1881-2972. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Tokoh, Khutbah, Budaya Ustadz Felix Siaw

Kamis, 16 Maret 2017

Lima Hal Penting dalam Merefleksikan Hari Pahlawan

Jakarta, Ustadz Felix Siaw. Hari Pahlawan yang diperingati setiap tahun pada 10 November memberikan kesan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pejuangnya. Namun demikian, nilai-nilai kepahlawanan yang ada dalam diri para pemuda dan bangsa Indonesia mengalami krisis.

Lima Hal Penting dalam Merefleksikan Hari Pahlawan (Sumber Gambar : Nu Online)
Lima Hal Penting dalam Merefleksikan Hari Pahlawan (Sumber Gambar : Nu Online)

Lima Hal Penting dalam Merefleksikan Hari Pahlawan

Dalam hal ini, Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategis Bangsa (LKSB) Abdul Ghopur dalam diskusi, Kamis (10/11) di Gedung PBNU memberikan 5 hal penting yang perlu direnungkan dalam memperingati Hari Pahlawan.

Berikut lima hal tersebut:

1. Mempertahankan dan menegakkan kembali kedaulatan negara kesatuan republik Indonesia merdeka dari rongrongan pihak manapun!?

Ustadz Felix Siaw

2. Menghindari mental dan sikap individualistis dan eksklusif yang mengarah pada pengkhianatan dasar negara dan cita-cita luhur para pendiri bangsa yang telah gugur menumpahkan darah, jiwa dan raga demi kemerdekaan Republik Indonesia.

Ustadz Felix Siaw

3. Peristiwa perang 10 Nopember 1945 dalam rangka mempertahankan kemerdekaan republik Indonesia yang baru merdeka adalah nyata dari hasil ijtihad para ulama NU melalui “Resolusi Jihad NU” 22 Oktober 1945. Dan, sebagai rasa hormat dan terimakasih yang tak terkira dari generasi penerusnya, maka tonggak bersejarah itu wajib dihormati, dan senantiasa diingat serta ditanamkan kembali dalam sanubari, diteladani dan diamalkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

4. Semangat heroisme dan rela mengorbankan segalanya dari para perintis dan pendiri bangsa patut bahkan wajib dihormati setinggi-tingginya oleh generasi penerus dan pelurus bangsa dalam bentuk menjaga dan merawat persatuan dan kesatuan bangsa dengan sikap saling tolong-menolong, berbagi dan mengasihi sesamanya.

5. Bahwa Bhinneka Tunggal Ika, Pancasila dan Proklamasi 17 Agustus 1945 adalah fakta sejarah bangsa Indonesia yang tidak dapat diingkari dan wajib kita jaga dan rawat, setia sekaligus menolak segala bentuk radikalisme dan paham yang bereserangan dengan Pancasila.

(Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Lomba, Cerita, Pemurnian Aqidah Ustadz Felix Siaw

Pahala Mengajarkan Shalat Tidak Terputus Meski Telah Meninggal

Jepara, Ustadz Felix Siaw



Seorang guru yang mengajarkan shalat kepada muridnya, selama masih dikerjakan, maka pahala bagi guru tidak akan terputus. 

Pahala Mengajarkan Shalat Tidak Terputus Meski Telah Meninggal (Sumber Gambar : Nu Online)
Pahala Mengajarkan Shalat Tidak Terputus Meski Telah Meninggal (Sumber Gambar : Nu Online)

Pahala Mengajarkan Shalat Tidak Terputus Meski Telah Meninggal

Pernyataan itu disampaikan Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah KH Ubadillah Shodaqoh pada pengajian umum yang diselenggarakan Pesantren Darunnajah desa Kedungleper kecamatan Bangsri kabupaten Jepara, Sabtu (09/12) malam. 

“Kiai Ridlwan yang mengajarkan shalat, selama masih ditunaikan santrinya, akan terus mendapat ganjaran,” terangnya pada acara yang juga Haul KH Ridlwan ke-47, KH Muchtar Hasan ke-33 dan KH Baidlowi Ali ke-11. 

Jika saat Kiai Ridlwan masih hidup mengajarkan kepada 100 santri, kemudian sekarang sudah wafat, pahala akan terus mengalir kepadanya. 

Pengajian umum dalam rangka haul itu, menurutnya, merupakan contoh kelebihan ulama atau orang alim. Karena itu, santri penting membaca manaqib (sejarah) orang alim. 

Ustadz Felix Siaw

“Sembari berdoa agar derajat guru kita diangkat dan kita pun katut (ikut, red),” paparnya pada kegiatan yang dimeriahkan Jamiyyah Hadrah Robithotussyubban (RBS) Jepara. 

Ia menambahkan, sebagaimana petuah Abu A’la, ulama laksana pohon kelapa yang tiap bagiannya bermanfaat. Begitu juga dengan ulama, bermanfaat kepada masyarakat. (Syaiful Mustaqim/Abdullah Alawi)

Ustadz Felix Siaw

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Ulama, Sunnah, Berita Ustadz Felix Siaw

Selasa, 14 Maret 2017

Santri BPUN Ansor Way Kanan Belajar Kejujuran dari Polisi Hoegeng

Way Kanan, Ustadz Felix Siaw

Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Way Kanan Provinsi Lampung mengajak peserta Pesantren Kilat Bimbingan Belajar Pasca ujian Nasional (Sanlat BPUN) 2016 menyaksikan tayangan Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso yang menurut KH Abdurahhman Wahid (Gus Dur) merupakan polisi jujur.

Santri BPUN Ansor Way Kanan Belajar Kejujuran dari Polisi Hoegeng (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri BPUN Ansor Way Kanan Belajar Kejujuran dari Polisi Hoegeng (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri BPUN Ansor Way Kanan Belajar Kejujuran dari Polisi Hoegeng

"Dari Jenderal Hoegeng saya belajar mengenai konsistensi, kejujuran, dan bagaimana menjadi pejabat yang tidak terbuai rayuan dunia," ujar Santri BPUN Anisa Yuliani dari SMAN 2 Buay Bahuga, di Gunung Labuhan, Rabu (18/5).

Menurut Anisa seusai menyaksikan kisah Jenderal Hoegeng pada sesi motivasi di aula Pesantren Assiddiqiyah 11 Labuhan Jaya, Gunung Labuhan, Way Kanan yang diasuh Kiai Imam Murtadlo Sayuthi, Hoegeng Imam Santoso yang menjabat sebagai Kapolri pada tahun 1968-1971 adalah  sosok patut diteladani.

"Beliau adalah polisi sejati, patut dicontoh polisi lain dan seluruh masyarakat di negeri ini. Indonesia hari ini butuh ribuan Hoegeng yang konsisten dengan kejujurannya," kata Anisa lagi.

Hoegeng yang dilahirkan di Pekalongan tahun 1921 pernah menolak hadiah rumah dan berbagai isinya saat menjalankan tugas sebagai Kepala Direktorat Reskrim polda Sumatra Utara tahun 1956.

Ustadz Felix Siaw

Anisa menambahkan, satu figur Hoegeng berdampak besar dengan kejujuran dimilikinya. "Apalagi jika ada seribu figur sebagaimana Hoegeng dengan beragam profesi. Tentu akan sangat bisa memajukan bangsa karena banyak figur memiliki keberanian untuk tidak menyeleweng," ujarnya.

Ketua PC GP Ansor Way Kanan selaku Manajer BPUN Gatot Arifianto berharap para peserta BPUN 2016 dapat mengambil kesimpulan dan pelajaran dari tayangan Jenderal Hoegeng sehinggga dapat menjadi generasi bangsa yang akan mampu bersikap dan bertindak seperti Hoegeng dimasa mendatang. (Septiana Nurul Fajriah/Fathoni)

Ustadz Felix Siaw

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Meme Islam, Kajian Islam Ustadz Felix Siaw

Senin, 13 Maret 2017

Layak Pahlawan Nasional, STAINU Malang Soroti Perjuangan KH Masjkur

Malang, Ustadz Felix Siaw. Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Malang, Pujiono menyatakan bahwa KH Masjkur, tokoh nasional asal malang layak menjadi pahlawan nasional. Menurutnya, kelayakan itu ditinjau dari segi peran kesejarahannya yang sangat besar, baik saat perjuangan fisik melawan Belanda maupun perjuangan pergerakan nasional di era revolusi.

Lebih jauh ia menyatakan, pentingnya penggalian kembali sejarah Indonesia di awal revolusi. Karena ia menyayangkan kenyataan sejarah saat ini, bahwa masih banyak tokoh-tokoh yang memegang peranan penting tetapi belum tercatat dalam sejarah.

Layak Pahlawan Nasional, STAINU Malang Soroti Perjuangan KH Masjkur (Sumber Gambar : Nu Online)
Layak Pahlawan Nasional, STAINU Malang Soroti Perjuangan KH Masjkur (Sumber Gambar : Nu Online)

Layak Pahlawan Nasional, STAINU Malang Soroti Perjuangan KH Masjkur

“Kita tahu, sejarah tidak mencatat dengan baik peranan para ulama dalam perjuangan Indonesia. Sehingga mereka menjadi para pejuang yang besar jasanya tapi mastur (tersembunyi). KH Masjkur adalah salah satu contohnya,” kata Pujiono kepada Ustadz Felix Siaw, Senin (18/5).

Ustadz Felix Siaw

Pujiono mengatakan, dirinya menilai KH Masjkur memiliki jasa besar setidaknya dalam hal jihad membela tanah air dari tangan penjajah. Inilah jihad dalam makna sesungguhnya.

“Resolusi Jihad itu siapa yang menyangkal itu bukan jihad? Itulah Jihad dalam arti yang sebenarnya, yakni jihad dalam arti melepaskan tanah airnya dan umat Islam dari tangan penjajah. Kiai Masjkur berperan di dalamnya dengan memimpin laskar Sabilillah,” katanya.

Ustadz Felix Siaw

Dia menjelaskan, perlu dicatat disini bahwa Kiai Masjkur menjadikan desanya sebagai salah satu pusat pertahanan pasukan Hizbullah dan Sabilillah, baik dalam melawan agresi militer Belanda I dan II. Malang adalah benteng pertahanan terakhir saat terjadi agresi militer Belanda I dan II. “Jika menyebut malang sebagai benteng pertahanan, maka maksudnya adalah Singosari, di mana di sana ada KH Masjkur,” tambahnya.

Namun demikian, Pujiono juga menghendaki kajian sejarah yang lebih mendalam tentang peran perjuangan KH Masjkur ini.

“Kami setuju bahwa Kiai Masjkur layak jadi pahlawan. Tapi ini tidak bisa serta-merta demikian, melainkan membutuhkan kajian ulang yang lebih mendalam,” pungkasnya. (Ahmad Nur Kholis/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Nusantara Ustadz Felix Siaw

Minggu, 12 Maret 2017

Mencicipi Berkat Maulid Nabi

Tanpa harus menunggu instruksi RW atau RT, warga NU sudah mengerti dari sononya untuk menyediakan aneka penganan dan makanan untuk dihidangkan dalam perayaan maulid Nabi Muhamad SAW.

Penganan maupun makanan yang tidak setiap hari tergeletak di meja sarapan pagi, bisa keluar begitu saja di perayaan maulid sebagai berkat. Penganan basah maupun kering khas di lingkungan masing-masing, mengobati kerinduan mereka pada makanan-makanan langka tersebut.

Mencicipi Berkat Maulid Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)
Mencicipi Berkat Maulid Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)

Mencicipi Berkat Maulid Nabi

Penganan siap lahap antara lain adalah kue pisang, ketimus, gemblong, dodol, uli, ketan, lemper, dan lainnya. Kecuali itu, perayaan maulid juga dihadiri aneka buah-buahan baik yang panen musim setahun sekali atau lebih.

Dalam menyajikan hidangan maulid, warga NU sekenanya saja mengemas berkat. Kemasan yang dipakai berupa daun pisang, plastik, kertas nasi, hingga daun jati. Ada juga yang menggabungkan antara plastik dan daun pisang. Bahkan, ada pula yang membungkus makanan dalam keranjang dari anyaman bambu. Itu sah saja ditinjau dari hukum agama maupun hukum positif.

Isi berkat tentu saja bukan urusan kiai apalagi jajaran perangkat desa. Isi berkat ditentukan oleh individu masyarakat sendiri. Nasi boleh sama. Perkara lauknya, itu putusan yang tidak akan pernah bulat hingga hari Kiamat. Lauk berkat boleh daging kerbau, sapi, ikan bandeng, ikan emas, ikan mujahir, ayam atau telurnya.

Boleh jadi daging itu dimasak model goreng, semur, rendang, atau dendeng. Untuk ayam, ada kekhususan sedikit selain aneka model di atas. Warga NU juga kerap menyajikannya dalam bentuk opor atau dimasak banjir kecap. Yang pasti, nasi itu tidak dibiarkan sendirian. Akan terlihat janggal kalau nasi putih sendirian mendekam di dalam berkat.

Ustadz Felix Siaw

Ini pelajaran awal yang baik buat para remaja perihal hak yang nilainya melebihi harga sepuluh kilo daging. Aneka warna penganan dan lauk meramaikan perayaan maulid tanpa ada pembatasan atau pengawasan dari institusi apapun. Penganan yang terlalu manis atau asin juga tidak membuat mereka cerewet seperti pengunjung restoran.

Berkat maulid berupa penganan masuk tidak hanya ke dalam rongga tubuh mereka. Berkat juga bisa masuk ke alam pikiran mereka. Bayangkan, kehadiran beragam makanan membuat kanak-kanak yang belum mengerti dunia kegirangan. Meskipun pasti kebagian, kanak-kanak berebutan menjambret makanan dari tangan panitia.

Kanak-kanak seperti kesetanan. Kalau keadaan sudah demikian, imbauan tertib panitia takkan diindahkan. Mereka hanya mengerti berebut. Titik. Tetapi, melihat kekisruhan kecil itu, orang dewasa hanya tertawa.

Ustadz Felix Siaw

Berkat Gaya Muslimat NU Depok

Dalam rangka peringatan maulid Nabi Muhamad SAW. pada 1434 H yang bertepatan pada tahun 2013, pengurus Muslimat NU Depok tidak mau tertinggal kaum Nahdliyin. Mereka mengumpulkan paling sedikit dua ribu kadernya di Masjid Dian Al-Mahri yang masyhur dikenal ‘Masjid Kubah Emas’, jalan Meruyung, Kecamatan Limo Depok, Senin (28/1) pagi.

Hanya saja perayaan maulid tahun ini meleset jauh makanan dan penganan di atas. Mereka terima undangan dari majelis taklim, lalu datang hanya membawa diri tanpa makanan apapun. Karena, berkat sudah disediakan panitia maulid. Hal ini dipandang ringan saja oleh para hadirin.

Pulang mendengarkan sifat luhur Nabi Muhamad SAW, kaum ibu Muslimat NU Depok hanya menenteng kepalan-kepalan garam mentah. Tak ada semur kerbau, opor ayam, pecak bandeng, atau keributan kanak-kanak berebut berkat.

Bagi umat Islam pengamal setia maulid atau penentangnya, berkat berupa garam mentah tidak lazim sama sekali. Sesuatu di luar kelaziman akan mendatangkan guncangan di tengah masyarakat. Setuju dengan model berkat demikian? Silakan. Tidak setuju? Anggap saja angin lalu.

Yang masih menggantung, apa maksudnya pengurus Muslimat NU Depok membekali garam mentah sebagai berkat? Apa karena kaum ibu dinilai lebih akrab dengan cobek? Mungkin boleh jadi kaum ibu dinilai lebih mandiri dalam mengolah makanan yang senantiasa bercengkerama dengan garam?

Pengurus Muslimat NU Depok mungkin hanya ingin mengingatkan bahwa garam merupakan satu kebutuhan dasar bagi manusia. Tanpa garam, orang bisa diserbu penyakit gondok. Tak ada garam, kelezatan masakan pun berkurang drastis seperti benda jatuh dari lantai lima langsung menuju lubang sumur.

Boleh jadi berkat berisi garam mentah merupakan cara kaum ibu NU membela nasib petani garam Indonesia yang terhuyung-huyung akibat kebijakan impor garam oleh pemerintah setahun terakhir.

Berkat garam Muslimat NU Depok boleh jadi merupakan kelanjutan dari kongres Asosiasi Petani Garam Nusantara, Aspegnu 11-12 Juli 2012 di Madura atas pelbagai soal terkait garam nasional. Bagi-bagi garam merupakan partisipasi Muslimat NU agar petani garam dalam negeri tidak menjadi “Anak itik mati di lumbung padi” atau alih profesi menjadi importir garam.

Sadar akan kepentingan umum, Muslimat NU Depok sanggup mengurungkan niat untuk berdemonstrasi yang akan menimbulkan kebisingan selain kemacetan. Dalam hal ini, kaum ibu Muslimat NU tidak mau gegabah menyikapi masalah garam nasional. Karena, salah-salah ambil sikap dapat merumitkan persoalan yang sebenarnya mudah.

Karena itu, mereka berinisiatif untuk memilih bentuk berkat maulid tahun ini dengan garam mentah dalam arti harfiah. Artinya, berkat itu benar-benar garam mentah yang dibawa pulang oleh 2000 kader Muslimat NU Depok. Mereka akan bercerita berkat pada suami, anak, dan anak menantu mereka. (Alhafiz Kurniawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Doa Ustadz Felix Siaw

Kemenakertrans Bantu Ambulan RSI NU Demak

Demak, Ustadz Felix Siaw. Kementrian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans) RI memberikan bantuan kepada Rumah Sakit Islam Nahdlatul Ulama (RSI NU) Demak, Jawa Tengah, satu unit ambulan. Serah terima kendaraan medis untuk tanggap darurat tersebut dilakukan staf khusus Kemenakertrans Fathan Subchi dan Direktur RSI NU dr H Abdul Azis.

Fathan Subchi Saat memeriksa kondisi mobil bersama Abdul Aziz dan Rais Syuriyah PCNU Demak KH Alawi Mas’udi mengatakan, bantuan ambulan ini merupakan bagian dari program kesehatan dan keselamatan kerja (K3) Kemenakertrans di bawah pimpinan Muhaimin Iskandar.

Kemenakertrans Bantu Ambulan RSI NU Demak (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemenakertrans Bantu Ambulan RSI NU Demak (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemenakertrans Bantu Ambulan RSI NU Demak

“Hari ini pak menteri (Muhaimin Iskandar) menugaskan kepada saya menyerahkan bantuan kepada rumah sakit NU Demak ini, semoga bermanfaat,” katanya.

Ustadz Felix Siaw

Penyerahan bantuan yang berlangsung Selasa (25/3) disaksikan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Ketua Yayasan RSI NU Hasyim Asy’ari, Ketua PCNU Demak KH Musadad Syarif, Mustasyar PCNU Demak yang juga Mantan ketua DPRD Demak KH Muhammad Nurul Huda, Ketua MUI Demak KH Moh Asyiq, serta para pengurus NU dari cabang hingga ranting di wilayah Demak.

Ustadz Felix Siaw

Direktur RSI NU Demak dr H Abdul Azis usai menerima ambulan itu mengaku bangga atas meningkatnya jumlah fasilitas yang dimiliki rumah sakit kebanggaan warga NU Demak ini. Menurutnya, bantuan ini akan berguna bagi peningkatan kualitas pelayanan RSI NU Demak.

“Kami berterima kasih pada Pak Menteri Muhaimin dengan bantuan ini. Berarti fasilitas kami bertambah, semoga dengan bantuan ini bisa meningkatkan kinerja pelayanan dari rumah sakit untuk pasien,” jelas dr Azis. (A Shiddiq Sugiarto/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Pesantren Ustadz Felix Siaw

Senin, 06 Maret 2017

NU dan WWF Luncurkan Buku Tentang Perubahan Iklim

Jakarta, Ustadz Felix Siaw. Dalam KTT Perubahan Iklim baru-baru ini di Cancun, Meksiko yang menghasilkan Cancun Agreement, secara jelas disebutkan bahwa kegiatan adaptasi harus mendapatkan prioritas yang sama dengan mitigasi.



NU dan WWF Luncurkan Buku Tentang Perubahan Iklim (Sumber Gambar : Nu Online)
NU dan WWF Luncurkan Buku Tentang Perubahan Iklim (Sumber Gambar : Nu Online)

NU dan WWF Luncurkan Buku Tentang Perubahan Iklim

Bersamaan dengan komitmen mitigasi Indonesia yang disebutkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yaitu menurunkan 26 % emisi Gas Rumah Kaca dari business as usual hingga 2020, Indonesia diharapkan dapat juga menghasilkan strategi Adaptasi Nasional Perubahan Iklim.

Mendukung kesepakatan dan komitmen pemerintah RI tersebut, WWF Indonesia dan Nahdlatul Ulama (NU) sepakat menandatangani Memorandum of Understanding sekaligus meluncurkan buku “Jalan Terbaik Masyarakat dalam Menghadapi Perubahan Iklim: Perspektif Islam dalam Adaptasi Perubahan Iklim hari ini.

Ustadz Felix Siaw

“MoU ini menggabungkan dua nilai kekuatan masing-masing organisasi, yaitu konservasi lingkungan hidup, dan pendekatan religius dan budaya dalam rangka menjaga kelestarian planet bumi yang kita huni,” ungkap Dr Efransjah, CEO WWF-Indonesia.

Efransjah menambahkan, “Kami yakin jaringan pesantren, sekolah dan kelengkapan organisasi NU lainnya akan mampu menjadi komponen penting dalam usaha konsisten kami menumbuhkan dan meningkatkan kepedulian masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati Indonesia. Tentunya kami juga berharap seluruhwarga NU akan merasakan manfaat dari kegiatan bersama yang nantinya akan dilakukan oleh WWF-Indonesia dan NU.”

Ustadz Felix Siaw

“Peluncuran buku merupakan salah satu bentuk perhatian dan keseriusan NU terhadap masalah lingkungan, pelanggulangan bencana dan perubahan iklim, serta masalah kemanusiaan sebagai implikasi dari kerusakan lingkungan. NU telah membentuk lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklilm (LPBI-NU) sebagai pealaksana kebijakan dan program NU dalam bidang tersebut,” jelas KH Said Aqil Siradj.

Dalam proses disseminasinya, buku ini dapat menjadi referensi bagi para kiai, santri maupun ummat NU, khususnya dalam menghadapi dampak perubahan Iklim. Kang Said menekankan, “Selain memberikan gambaran tentang bagaimana Islam memandang isu-isu lingkungan dan perubahan iklim, serta sekelumit contoh aksi nyata adaptasi perubahan iklim.”

Tentang keterkaitan adaptasi perubahan iklim dan perspektif agama, Ir Avianto Muhtadi, ketua LPBI NU mengatakan, “Memang tidak selamanya ‘pintu agama’ mampu memainkan parannya, namun paling tidak apabila jalur-jalur ilmu pengetahuan dan kesepakatan bersama menghadapi hambatan, maka pendekatan agama dapat menjadi alat untuk mempengaruhi jiwa setiap individu agar tidak merusak lingkungan dan justru melestarikannya. Daya tahan ini lebih dibutuhkan masyarakat dan ekosistem untuk menghadapi variabilitas iklim yang tak menentu serta mengingkatknya kemungkinan kejadian iklim ekstrim.” (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Olahraga, Kajian Ustadz Felix Siaw