Jumat, 25 November 2016

Jelang Pilpres, Tokoh NU Diminta Hati-hati Keluarkan Statemen Politik

Kudus, Ustadz Felix Siaw. Menjelang pelaksanaan pemilihan presiden, tokoh Nahdlatul Ulama (NU) diminta berhati-hati mengeluarkan pernyataan politik. Hal ini untuk menjaga kondusivitas dan menghindari perpecahan di kalangan warga.

Jelang Pilpres, Tokoh NU Diminta Hati-hati Keluarkan Statemen Politik (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Pilpres, Tokoh NU Diminta Hati-hati Keluarkan Statemen Politik (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Pilpres, Tokoh NU Diminta Hati-hati Keluarkan Statemen Politik

Pernyataan ini disampaikan Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah KH Ubaidillah Shodaqoh saat dihubungi Ustadz Felix Siaw, Rabu (14/5). Dikatakan, tokoh NU harus selalu menekankan seruan moral tanpa dilatarbelakangi kepentingan partai politik maupun calon presiden tertentu.

"Jangan terlalu berlebihan larut dalam persoalan politik. Kembalilah pada isu kesejahteraan dan moral umat," tegas kiai yang sering disapa Gus Ubaid ini.

Ustadz Felix Siaw

Ia mengingatkan terjadinya perpecahan (firqah) dalam agama berbarengan dengan peristiwa politik. "Makanya kiai-kiai NU harus hati-hati. Termasuk santri juga jangan mengompori dan memanipulasi pernyataan dan sikap kiai," tandasnya.

Ustadz Felix Siaw

Kepada pendukung capres, Gus Ubaid mengharapkan supaya menarik simpati sesuai etika politik tanpa menjelek-jelekkan lawannya. Begitu pula, para wartawan harus berimbang dalam menyampaikan informasi. "Tidaklah elok bila harus menjelek-jelekkan lawan politik," tegasnya lagi singkat.

Ditanya tentang sikap politik PWNU Jateng, Gus Ubaid menyatakan secara lembaga tetap bersikap netral dan tidak memberi dukungan kepada salah satu kandidat capres. "Meskipun begitu, NU tetap membimbing," ujarnya tanpa merinci penjelasannya. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Pendidikan Ustadz Felix Siaw

Jumat, 11 November 2016

Mahasiswa NU Belanda Tagih Janji Kampanye Jokowi-JK Soal Nasib Palestina

Amsterdam, Ustadz Felix Siaw - Ketua Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Belanda Dito Alif Pratama merespon positif salah satu keputusan sidang komisi Muktamar Ke-33 NU di Jombang terkait dukungan moril dan materil atas upaya mewujudkan negara Palestina merdeka. Ia juga mengingatkan peserta diskusi untuk tidak lupa menagih janji pemerintahan Jokowi-JK untuk merealisasikan janji kampanyenya dulu untuk mendukung kemerdekaan Palestina secara utuh.

Demikian disampaikan Dito pada diskusi publik bertajuk Palestina Merana, Indonesia Harus Bagaimana? di Kampus Vrije Universiteit Amsterdam, Senin (31/7) yang terselenggara atas kerja sama PPI Amsterdam, ILUNI UI, dan KMNU Belanda.

Mahasiswa NU Belanda Tagih Janji Kampanye Jokowi-JK Soal Nasib Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa NU Belanda Tagih Janji Kampanye Jokowi-JK Soal Nasib Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa NU Belanda Tagih Janji Kampanye Jokowi-JK Soal Nasib Palestina

Ia menekankan pentingya peran bangsa Indonesia dalam membantu penyelesaian konflik. Selain karena mayoritas bangsa Indonesia adalah Muslim yang harus membantu saudara Muslimnya di Palestina, bangsa Indonesia dalam konstitusinya juga dengan tegas menyatakan bahwa penjahajan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan keadilan.

“Melalui forum ini, saya juga ingin mengajak masyarakat Indonesia untuk sama-sama menyatukan suara menagih janji kampanye pemerintahan Jokowi-JK untuk mendukung sepenuhnya kemerdekaan negara Palestina, janji kampanye ini harus dibuktikan dengan langkah politis dan diplomatis yang jelas dan tersistem,” kata Dito.

Ustadz Felix Siaw

Pada forum ini, ia menjelaskan kondisi dan suasana konflik yang saat ini tengah terjadi di Israel-Palestina. Ia mengajak para peserta diskusi untuk sama-sama melihat konflik Israel-Palestina bukan semata-mata konflik antaragama, tetapi lebih pada konflik kemanusian.

Menurutnya, serangan-serangan Israel atas Palestina merupakan penjajahan tersistem di era modern.

Ustadz Felix Siaw

“Saat kita telah sama-sama memahami konflik ini sebagai konflik kemanusiaan, di mana ada sekelompok manusia yang sedang berjuang untuk mendapatkan hak-hak kemanusiaan dan kebebasanya yang terampas (baca: Palestina), maka yang akan bertanggung jawab untuk meredam hingga menyelesaikan konflik ini adalah seluruh umat manusia, tidak terbatas pada segmentasi satu agama maupun negara,” kata Dito.

Hadir sebagai narasumber aktivis Lakpesdam NU Belanda Hadi Rahmat Purnama (Kandidat Ph.d bidang Transnational Legal Studies, Faculty of Law, Vrije Universiteit Amsterdam) dan Ketua KMNU Belanda Dito Alif Pratama (Kandidat Master bidang Peace, Trauma and Religion, Vrije Universiteit Amsterdam). Forum ini dimoderatori oleh Abdullah Muslich Rizal Maulana (Kandidat Master bidang interreligious studt, Vrije Universiteit Amsterdam). (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Nahdlatul, Meme Islam Ustadz Felix Siaw

Selasa, 08 November 2016

Tatacara Puasa Dawud

?Assalamu’alaikuw warahmatullahi wabarakatuh. Redaksi Yth saya berinisiatif membuat jadwal puasa Nabi Dawud pada Senin, Kamis, dan Sabtu (di antara Senin dengan Kamis, dua hari berbuka). Bolehkan hal tersebut saya lakukan? Terimkasih. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh (Ega Prasetya Noor)

Jawaban

Assalamu’alaikum wr. wb. Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Dalam ajaran Islam, terdapat yang yang dikategorikan sebagai wajib, yaitu puasa pada bulan Ramadlan. Disamping puasa wajib, masih banyak puasa yang status hukumnya adalah sunnah. Di antaranya adalah puasa Senin-Kamis, Arafah, puasa pada tanggal 13, 14, dan 15 atau yang dikenal dengan ayyam al-bidl, dan puasa Dawud.

Tatacara Puasa Dawud (Sumber Gambar : Nu Online)
Tatacara Puasa Dawud (Sumber Gambar : Nu Online)

Tatacara Puasa Dawud

Apa yang dimaksud dengan puasa Dawud adalah puasa yang dilakukan oleh Nabi Dawud AS dan merupakan puasa yang paling utama dibanding dengan puasa sunnah yang lainnya. Sedang tatacaranya adalah dengan sehari puasa kemudian sehari tidak berpuasa dan seterusnya. Hal ini sebagaimana keterangan yang terdapat dalam hadits berikut ini:  

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. “Puasa yang paling utama adalah puasanya Nabi Dawud AS, ia berpuasa sehari dan berbuka (tidak berpuasa) sehari” (H.R. An-Nasa`i)

Ustadz Felix Siaw

Kenapa puasa Dawud menjadi puasa sunnah yang paling utama? Karena puasa dawud merupakan puasa yang paling berat. Dengan puasa Dawud seseorang bersua dengan apa yang sudah menjadi disenangi sehari kemudian berpisah sehari.

 ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Karena puasa dawud itu memberatkan jiwa dengan mendapati apa yang disengani jiwa sehari sehari kemudian meninggalkannya sehari pula” (Abdurrauf al-Munawi, at-Taisir bi Syarh al-Jami’ ash-Shaghir, Riyadl-Maktabah al-Imam asy-Syafi’i, cet ke-3, 1408 H/1988 M, juz, 1, h. 374)

Ustadz Felix Siaw

Dengan kata lain, seseorang tersebut mulai dari terbitnya fajar sampai terbenamnya bisa melakukan apa saja yang sudah terbiasa dilakukan dan dihalalkan seperti makan-minum, menggauli istri, dan lain-lain. Baru sehari merasakan hal itu kemudian pada hari berikutnya harus dihentikan karena melakukan puasa. Hal ini tentunya sangat memberatkan.      

Jika penjelasan singkat ini ditarik dalam konteks pertanyaan di atas, maka puasa sebagaimana dideskripsikan dalam pertanyaan tersebut bukanlah termasuk puasa dawud. Sebab, puasa dawud adalah sehari puasa sehari tidak berpuasa.

Namun apabila anda tetap melakukan puasa sehari kemudian jeda selama dua hari, terus puasa sehari, jeda sehari, lalu puasa sehari dan jeda dua hari lagi itu tidak masalah, tetapi bukan merupakan puasa Dawud.  Dan sebaiknya melakukan puasa sunnah Senin-Kamis saja. Meskipun puasa pada hari sabtu itu juga tidak masalah, tetapi dihukumi makruh kalau sebelumnya tidak berpuasa atau tidak disambung dengan hari berikutnya.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. “Dimakruhkan menyendirikan puasa pada hari Sabtu, tetapi apabila seseorang pada hari sebelumnya berpuasa atau setelahnya berpuasa maka tidak dimakruhkan,” (Muhyiddin Syarf an-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, Jeddah-Maktabah al-Irsyad, tt, juz, 6, h. 481)

Demikian jawaban singkat dari kami. Saran kami jangan anda memaksakan diri untuk melakukan puasa dawud sekiranya akan mengganggu kewajiban-kewajiban lainnya. Dan sebaiknya melakukan puasa sunnah Senin-Kamis saja. Meskipun puasa pada hari sabtu itu juga tidak masalah, tetapi dihukumi makruh kalau tidak disambung dengan hari berikutnya atau sebelumnya sudah berpuasa.     

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq. Wassalamu’alaikum wr. wb. (Mahbub Ma’afi Ramdlan)  

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Pertandingan Ustadz Felix Siaw