Sabtu, 22 Maret 2008

Tahu Rasanya Nikmat dan Siksa Kubur?

Seperti orang hidup, mereka yang telah meninggal dunia pun mengecap kenikmatan sesuatu seperti makan, minum, dan lain-lain kenikmatan di alam kubur. Sambil menunggu habis umur dunia, segalanya terasa nikmat bagi mereka yang berhak. Demikian juga dengan kesengsaraan. Percaya, tidak percaya, kenyataannya demikian.

Keduanya ini yang dinamakan nikmat kubur dan siksa kubur. Kenyataan keduanya wajib diyakini orang Islam. “Dan orang Islam wajib meyakini kedatangan dua malaikat untuk bertanya kepada anak manusia yang meninggal dunia tentang Tuhan, Rasul, dan agamanya,” kata Sayid Ahmad bin Zaini Dahlan dalam Fathul Jawadil Mannan ala Faidhir Rahman.

Tahu Rasanya Nikmat dan Siksa Kubur? (Sumber Gambar : Nu Online)
Tahu Rasanya Nikmat dan Siksa Kubur? (Sumber Gambar : Nu Online)

Tahu Rasanya Nikmat dan Siksa Kubur?

“Allah Tuhanku. Muhammad SAW nabiku. Islam agamaku. Ka‘bah kiblatku. Orang-orang beriman saudaraku,” jawab penghuni kubur.

“Istirahatlah layaknya istirahat pengantin. Di mana hanya orang yang paling dikasihinya yang akan membangunkan pengantin,” perintah malaikat.

Ustadz Felix Siaw

Selanjutnya, kata Sayid Ahmad bin Zaini Dahlan, kubur orang itu diperluas. Sebuah lorong yang bersambung dengan surga terbuka. Dari sana berdatangan aroma dan aneka nikmat memenuhi kuburnya hingga tiba masa kebangkitan.

Ustadz Felix Siaw

Sebaliknya. Kalau penghuni kubur tidak sanggup menjawab dengan benar, maka keduanya akan menyiksa penghuni kubur dengan rupa-rupa siksa. Sebuah lorong yang terhubung dengan neraka terbuka di kuburnya. Dari situlah panas dan radiasi neraka membanjiri kuburnya hingga Kiamat kelak.

Tetapi bagaimana semua keterangan itu dapat dibenarkan sedangkan lima indra manusia sudah mati total? Pertanyaan demikian kerap mengaburkan keyakinan kita akan nikmat dan siksa kubur.

Sayid Ahmad bin Zaini Dahlan membenarkan bahwa pengalaman yang tengah dilalui penghuni kubur itu memang tidak dirasakan dan dilihat oleh mereka yang masih hidup. Kenyataan itu meski tidak bisa dicapai oleh akal, wajib kita imani. Keterangan berikut semoga dapat membantu.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?  

“Allah telah menjelaskan hujjah-Nya pada keadaan dan pengalaman orang tidur. Ia menyaksikan segala sesuatu di hadapannya. Ia melihat dirinya sedang makan, minum, berpergian, berdagang, bersetubuh dan lain aktivitas. Semua tindakan yang dialami orang tidur itu tidak bisa dialami mereka yang terjaga.”

Demikian orang tidur, demikian pula penghuni kubur dalam merasakan nikmat atau siksa kubur. Kalau kuburnya dibongkar, lanjut Sayid Ahmad bin Zaini Dahlan, tentu saja tidak terlihat apapun. Karena, alam barzakh (kubur) itu bagian dari alam malakut (gaib). Mereka yang terhijab tentu tidak bisa menembus pemandangan demikian. Tetapi tentu saja Allah membuka hijab sebagian hamba-Nya yang memiliki mata batin untuk menyaksikan keadaan orang meninggal di alam kubur. Wallahu A‘lam.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw PonPes Ustadz Felix Siaw

Rabu, 19 Maret 2008

Inilah Filosofi dalam Tradisi Halal Bihalal

Pringsewu, Ustadz Felix Siaw

Di Indonesia, bulan Syawwal identik dengan tradisi halal bihalal di mana setiap orang saling bersilaturahim mengungkapkan kebahagiaan hari raya sekaligus saling maaf-memaafkan dosa antarsesama. Tradisi ini merupakan khazanah budaya Islami di Nusantara yang merupakan warisan para wali dan ulama salafus shalih.

Inilah Filosofi dalam Tradisi Halal Bihalal (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Filosofi dalam Tradisi Halal Bihalal (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Filosofi dalam Tradisi Halal Bihalal

"Jika dicari di Qur’an dan Hadits tidak ada Istilah halal bihalal. Namun ini tidak berarti budaya ini tidak sesuai dengan Ajaran Islam. Intisari dari halal bihalal adalah silaturahmi dan ini merupakan sunnah Nabi," kata Ketua PCNU Kabupaten Pringsewu H Taufiqurrohim, Ahad ( 31/7).

Ia menjelaskan bahwa tradisi ini sudah ada sejak tahun 1700-an saat Nusantara Indonesia masih berbentuk kerajaan-kerajaan. Tradisi ini kemudian diformulasikan sedemikian rupa sehingga nuansa Islami hadir dalam tradisi tersebut.

Ustadz Felix Siaw

"Itulah kearifan para wali dan ulama Nusantara. Kehadiran mereka selalu dapat memberikan hikmah dan pencerahan tanpa perpecahan. Kalau zaman dulu para wali banyak yang mengislamkan orang-orang kafir. Namun pada zaman sekarang ini banyak orang malah mengkafirkan orang Islam," tegasnya saat kegiatan halal bihalal PCNU Pringsewu sekaligus Ngaji Ahad Pagi (Jihad Pagi) di Gedung NU Pringsewu, Lampung.

Mas Taufiq, begitu ia biasa dipanggil menjelaskan pula bahwa banyak sekali makna filosofis yang terkandung dalam tradisi halal bihalal di Indonesia. Di antaranya ia mencontohkan penggunaan bahasa Arab pada beberapa aspek seperti makanan yang sering disuguhkan pada saat halal bihalal.

Ustadz Felix Siaw

"Ketan aslinya khatiun maknanya kesalahan, apem aslinya ‘afwun maknanya memaafkan, keluban aslinya qulubana maknanya hati untuk saling memaafkan dan masih banyak lainnya," katanya.

Makna filosofis juga banyak terkandung pada menu makanan khas yang sering disuguhkan pada halal bihalal di setiap hari rayanya yaitu ketupat. "Ketupat itu ngaku lepat atau mengakui kesalahan. Bentuknya segi empat yang menunjukkan prinsip yang harus dilakukan saat halal bihalal yaitu lebar atau selesai, luber atau menyebar, lebur atau terhapus dan labur atau putih bersih," jelasnya.

Ketupat, tambahnya, dibuat dari anyaman daun kepala yang masih muda yang dinamai Janur. "Janur berasal dari bahasa Arab yaitu jaa-n-nur yang berarti telah datang cahaya," jelasnya.

Oleh karenanya filosofi yang luhur dari hal-hal tersebut harus dipertahankan dan diwariskan kepada para generasi penerus agar Islam di Nusantara tetap ada. (Muhammad Faizin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Humor Islam, Daerah, Kajian Ustadz Felix Siaw