Jumat, 23 Desember 2016

Fiqih Islam Berbahasa Melayu Karya Syaikh Dawud Pattani

Ini adalah halaman sampul dari kitab “Sullamul Mubtadî fî Ma’rifah Tharîqatil-Muhtadî” karangan seorang ulama besar Nusantara dari Kesultanan Melayu Pattani (kini Thailand Selatan), yaitu Syaikh Dâwûd ibn ‘Abdullâh al-Fathânî (dikenal dengan Syaikh Dawud Pattanil, w. 1847 M).

Kitab “Sullamul Mubtadî” berisi kajian fiqih Islam bagian ibadah dan mu’amalah secara lengkap dan ringkas yang ditulis dalam bahasa Melayu beraksara Arab (Jawi). Saya mendapatkan versi cetak dari kitab ini edisi terbitan Maktabah Musthafâ al-Bâbî al-Halabî, Kairo, dengan tahun cetak 1354 Hijri (1935 Masehi), dengan tebal 52 halaman.

Kitab ini sangat populer keberadaannya di kawasan Melayu Semenanjung (kini Malaysia dan Thailand Selatan), serta di beberapa kawasan di Aceh, Palembang, Medan, dan sebagian kawasan Melayu Sumatra lainnya. Di beberapa pesantren dan instutusi pendidikan Islam di kawasan tersebut, kitab “Sullamul Mubtadî” masih lestari dikaji dan diajarkan hingga saat sekarang ini.

Fiqih Islam Berbahasa Melayu Karya Syaikh Dawud Pattani (Sumber Gambar : Nu Online)
Fiqih Islam Berbahasa Melayu Karya Syaikh Dawud Pattani (Sumber Gambar : Nu Online)

Fiqih Islam Berbahasa Melayu Karya Syaikh Dawud Pattani

Dalam kata pengantarnya, Syaikh Dawud Pattani menjelaskan jika kitab ini ditulis untuk merangkum pengetahuan hukum Islam secara ringkas. Beliau menulis;

Ustadz Felix Siaw

?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ?

Ustadz Felix Siaw

(Maka ini adalah sebuah risalah yang kecil ukurannya namun banyak faedahnya dan agung manfaatnya, sekaligus mencukupi bagi orang-orang awam dari umat Muslim untuk mengetahui apa-apa yang wajib atas mereka dari kewajiban-kewajiban agama. Aku menamakannya “Sullamul Mubtadî fî Ma’rifah Tharîqatil Muhtadî”).

Pada halaman sampul, judul kitab ini dilengkapi dengan sub-judul yang menegaskan jika isi kajian kitab ini berdasarkan manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja). Tertulis di sana: “Sullamul Mubtadî fî Ma’rifah Tharîqatil Muhtadî” … “Pada Bicara Ushûluddîn Atas Jalan Ahlussunnah wal Jamâ’ah dan Hukum Fiqih”.

Penegasan ini tampaknya perlu disampaikan oleh Syaikh Dawud Pattani, mengingat pada masa kitab ini ditulis, tengah muncul sebuah aliran baru dalam sejarah pemikiran Islam, yaitu kelompok Wahhabisme yang diprakarsai oleh Muhammad ibn ‘Abdul Wahhâb dari Nejd (w. 1793 M) yang berhaluan puritan dan berseberangan dengan ulama mayoritas (sawâd a’zham) yang berhaluan Ahlussunnah wal Jama’ah. Kelompok Wahhabisme tidak mengakui madzhab fiqih dalam Islam, cenderung mengkafirkan, membid’ahkan, dan memusyrikkan ajaran dan amalan kelompok Muslim lain yang tidak sealiran dengan mereka. Meski demikian, kelompok ini gemar mengusung jargon kamuflatif, yaitu “ajaran Sunnah, ajaran Salaf, ajaran Islam yang murni yang paling sesuai Alqur’an dan hadits”. Kelompok ini pada masa-masa awal kemunculannya mendapat reaksi penolakan dari jumhur ulama Muslim di hampir seluruh belahan dunia Islam.

Adapun isi kitab “Sullam al-Mubrtadî”, maka ia dibagi ke dalam satu (1) bab dan enam belas (16) kitab (sub-kajian). Satu bab tersebut mengkaji khusus tentang masalah keimanan (aqidah atau theology), sementara ke-16 sub-kajian tersebut mencakup; (1) hukum shalat, (2) hukum zakat, (3) hukum puasa, (4) hukum haji [nusuk], (5) hukum hewan sembelihan dan akekah, (6) hukum jual beli, (7) hukum waris dan wasiat, (8) hukum nikah, (9) hukum rujuk dan iddah, (10) hukum jinayat [pidana], (11) hukum hudud, (12) hukum jihad, (13) hukum pacuan kuda dan memanah, (14) hukum sumpah dan nazar, (15) hukum saksi dan kehakiman, dan (16) hukum membebaskan perbudakan.

Kitab “Sullam al-Muhtadî” ini kemudian di-syarh (penjelasan dan komentar) oleh cucu sang pengarang dari jalur ibu, yaitu Syaikh Muhammad Nûr ibn Muhammad ibn Ismâ’îl al-Fathhânî al-Makkî (dikenal dengan Syaikh Nur Pattani, w. 1363 H/ 1943 M). Syarh tersebut berjudul “Kifâyatul Muhtadî fî Syarhi Sullamil Mubtadî” yang ditulis di Makkah pada tahun 1351 H/ 1932 M.

Dalam kolofon, diterangkan bahwa kitab ini diselesaikan pada hari Senin, tanggal 13 Rajab tahun 1252 Hijri (bertepatan dengan 20 Oktober 1836 M). Melihat titimangsa ini, penulisan karya “Sullamul Mubtadî” menjadi estafet penerus penulisan kitab fiqih Islam dalam bahasa Melayu yang ditulis sebelumnya, yaitu “Sabîl al-Muhtadîn fî al-Tafaqquh bi Amr al-Dîn” karangan Syaikh Muhammad Arsyad Banjar (selesai ditulis pada tahun 1193 Hijri/ 1779 Masehi).

Syaikh Dawud Pattani menulis;

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

(Telah sempurnalah maksud hamba yang fakir kepada Allah Ta’ala Dâwûd ibn ‘Abdullâh al-Fathânî daripada meterjemahkan risalah yang bernama “Sullamul Mubtadî fî Bayân Tharîqil-Muhtadî [ ………. ] pada hari Isnin 13 hari bulan Syawwal al-Asham pada Hijrah Nabi 1252).

Data kolofon di atas adalah data yang terdapat pada cetakan al-Halabi Kairo (1354 H/ 1935 M). Ketika saya membandingkan data ini dengan data yang terdapat pada versi cetakan al-Hidayah House, Kuala Lumpur (2012), tampaknya ada kesalahan penulisan nama bulan pada data versi cetaka al-Halabi Kairo tersebut. Yang benar, data seharusnya seharusnya adalah bulan “Rajab”, bukan “Syawwal”, karena (1) julukan “al-Asham” untuk bulan Hijri adalah “Rajab” dan bukan “Syawwal”, dan (2) ketika dilihat kalender Hijri pada 13 Syawwal 1252 Hijri, didapati harinya adalah “Jum’at”. Sementara Syaikh Dawud mengatakan selesai penulisannya hari “Senin”. Sementara tanggal 13 Rajab 1252 sama dengan hari “Senin”.

Pengarang kitab ini, yaitu Syaikh Dawud Pattani, tercatat sebagai ulama Nusantara dari Pattani terbesar sepanjang sejarahnya. Beliau lahir di Kampung Kerisik, Pattani, sebuah perkampungan tua yang dipercaya sebagai titik tolak berkembangnya agama Islam di wilayah itu. Syaikh Maulana Malik Ibrahim, salah satu tokoh Wali Songo dikabarkan lebih dulu berdakwah di Kerisik sebelum akhirnya pindah ke Gresik di Jawa Timur.

Tahun kelahiran Syaikh Dawud Pattani belum terlacak, tetapi diperkirakan pada paruh kedua abad ke-18 M. Jejak langkah dan pemikiran Syaikh Dawud mulai terlacak dengan jelas setelah beliau berada di Haramain (Makkah dan Madinah). Syaikh Dawud berada di Kota Suci itu satu angkatan (meski lebih yunior) dengan Syaikh Abdul Shamad Palembang, Syaikh Arsyad Banjar, Syaikh Nafis Banjar, dan Syaikh Abdul Rahman Betawi. Hanya saja, ketika nama-nama yang disebut itu kembali pulang ke Nusantara, Syaik Dawud Pattani tetap berada di Haramain dan mengajar di Masjidil Haram hingga akhir hayatnya.

Syaikh Dawud Pattani tercatat sangat produktif menulis. Di antara karya tulis beliau adalah; (1) Nahjur Râghibîn wa Subulul Muttaqîn, ditulis tahun 1234 H/ 1818 M, (2) Hidâyaul Muta’allimîn wa ‘Umdatul Mu’allimîn, ditulis tahun 1244 H/ 1828 M, (3) Fathul Mannân li Shafwah Zubad Ibn Ruslân, ditulis tahun 1249 H/ 1832 M, (4) Bughyah al-Thullâb yang merupakan ringkasan dari “Sabîlul Muhtadîn” karya Syaikh Arsyad Banjar, (5) Sullamul Mubtadî yang kita bicarakan ini, selesai ditulis tahun 1252 H/ 1836 M, (6) al-Jawâhirus Saniyyah, ditulis tahun 1252 H/ 1836 M, (7) Furû’ul Masâ’il wa Ushûlul Wasâ’il, ditulis tahun 1254 H/ 1838 M, dan lain-lain. Karya-karya Syaikh Dawud diterbitkan di Timur Tengah (Makkah dan Kairo) dan tentu saja di Nusantara (Pattani, Malaysia, dan Indonesia).

Syaikh Dawud wafat di Thaif pada 1264 H/ 1847 M. (A. Ginanjar Sya’ban)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Hikmah, Pendidikan Ustadz Felix Siaw

Kamis, 22 Desember 2016

Penulis Keislaman Jatim Pertegas Pengarusutamaan Islam Moderat di Internet

Surabaya, Ustadz Felix Siaw 

Puluhan penulis keislaman moderat di Provinsi Jawa Timur berkumpul di Hotel Sahid Surabaya sejak Sabtu (2/12). Mereka hadir mengikuti Workshop Penulisan Konten-konten Keislaman yang berlangsung hingga Ahad (3/12).

Direktur Ustadz Felix Siaw, Mohamad Syafi Alielha mengatakan hal yang melatarbelakangi kegiatan tersebut lantaran banjirnya informasi di internet yang tak mungkin dibendung dan harus disiasati.

"(Caranya adalah) bagaimana membuat informasi positif tetap lebih dominan ketimbang (informasi) negatif," kata Savic, sapaan akrabnya.

Penulis Keislaman Jatim Pertegas Pengarusutamaan Islam Moderat di Internet (Sumber Gambar : Nu Online)
Penulis Keislaman Jatim Pertegas Pengarusutamaan Islam Moderat di Internet (Sumber Gambar : Nu Online)

Penulis Keislaman Jatim Pertegas Pengarusutamaan Islam Moderat di Internet





Menurut Savic teknologi siber yang mudah dan murah mendorong banyak orang untuk berselancar ria di dunia maya. Apabila konten positif selalu tampil terdepan, kemungkinan netizen terpapar radikalisme dan hoaks atau berita fiktif dapat diminimalisasi. 

Ustadz Felix Siaw

"Usaha ini memang berangkat dari asumsi bahwa hampir mustahil kita menghapus atau memblokir seluruh konten yang dianggap negatif. Karenanya, perang isi menjadi amat relevan," terang pria yang juga aktivis 98 itu.

Secara sistematis, lanjut dia, perang konten tersebut hanya bisa maksimal apabila media-media Islam moderat melakukan konsolidasi dan berusaha meningkatkan kapasitasnya. Perspektif keadilan atau perdamaian bisa mendominasi jagat maya jika para produsen informasi relatif bergerak simultan dengan konsep-konsep gerakan yang terencana.

"Pengumpulan bahan, pengorganisasin tema, pengelolaan sumber daya manusia, dan perumusan strategi kampanye menjadi kata kunci dalam solusi ini," ulasnya.

Ustadz Felix Siaw

Tiga Hasil Akhir

Savic juga memaparkan ada tiga pokok penting yang ingin dihasilkan dari kegiatan ini. Pertama, melahirkan cara pandang dan kesadaran bersama tentang Islam yang damai dan toleran. 

"Kemudian yang kedua, untuk melakukan perlawanan (counter) terhadap infiltrasi dan serangan kelompok-kelompok yang membawa ideologi/paham keagamaan transnasional, yang intoleran," lanjutnya.





Savic berkeyakinan kelompok-kelompok tersebut akan merusak kehidupan keagamaan masyarakat dan berpotensi memecah eksistensi negara Indonesia yang didasarkan pada Pancasila dan NKRI.





Adapun tujuan ketiga yakni untuk memproduksi konten-konten keislaman yang berpijak pada paham Islam rahmatan lil alamin.

"Forum ini dalam rangka melahirkan cara pandang dan kesadaran bersama tentang Islam yang damai dan toleran, serta membuat informasi positif di dunia maya," tandasnya,

Forum yang dihadiri dan dibuka oleh Ketua PBNU Robikin Emhas itu dirancang sebagai penguatan konten keislaman dan diharapkan nantinya dapat menghasilkan output yang bersifat operasional dalam penulisan konten keislaman di berbagai media.

Strategi yang dipakai dalam Workshop Penulisan Konten-konten Keislaman tersebut dikemas dalam diskusi bagaimana memperkuat konten positif, berbagi pengalaman penulisan, serta pengembangan narasi penulisan. (Mochamad Nur Rofiq/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Pemurnian Aqidah, Makam Ustadz Felix Siaw

Rabu, 21 Desember 2016

Nasirun Takut Tobat

Pelukis masyhur asal Cilacap-Jawa Ttengah, Nasirun hendak berangkatkan haji saudara-saudaranya. Tidak main-main tiga orang bersama pasangannya masing-masing. Jadi Nasirun akan berangkatkan 6 orang.

"Alhamdulillah, terima kasih," ujar salah seorang saudaranya.

"Lhah, Kamu berangkat ndak, Run?" tanya saudara yang lain.

Nasirun Takut Tobat (Sumber Gambar : Nu Online)
Nasirun Takut Tobat (Sumber Gambar : Nu Online)

Nasirun Takut Tobat

Nasirun, sang pelukis yang tinggal di Jogjakarta itu celingukan, memandang satu per satu saudaranya. Tidak menjawab, eh, Nasirun malah ngeloyor sambil ngekek.

Tapi istri Nasirun menimpali, berusaha menjawab pertanyaan yang ditujukan pada suaminya itu, "Kang Nasirun tidak berangkat. Dia takut tobat." (Hamzah Sahal)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw

Ustadz Felix Siaw Aswaja, Warta, Pesantren Ustadz Felix Siaw

Selasa, 13 Desember 2016

Shalat yang Dapat Mencegah Perbuatan Keji dan Mungkar

Assalamualaikkum ustadz. Saya mau bertanya, shalat yang bagaimana yang dapat mencegah perbuatan keji dan mukar, dan bagaimana memahami shalat untuk implementasi dalam kehidupan ini serta kitab atau buku apa yang dapat saya baca untuk mendapatkan penjelasan ini, terima kasih. Wassalamu’alaikum wr wb. (Cepi Subarnas)

Jawaban

Shalat yang Dapat Mencegah Perbuatan Keji dan Mungkar (Sumber Gambar : Nu Online)
Shalat yang Dapat Mencegah Perbuatan Keji dan Mungkar (Sumber Gambar : Nu Online)

Shalat yang Dapat Mencegah Perbuatan Keji dan Mungkar

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Shalat merupakan ibadah dan komunikasi langsung seorang hamba dengan Allah. Dan setidaknya ada lima shalat yang diwajibkan bagi setiap muslim yang sudah mukallaf atau sudah dibebani kewajiban agama. Hal ini bermakna ada lima kali keharusan bagi hamba untuk berkomunikasi dengan-Nya. Dan komunikasi aktif antara hamba dengan Allah melalui shalat inilah mengandung hikmah yang sangat luar biasa yaitu ketakwaan. Karenanya Allah swt berfirman: 

Ustadz Felix Siaw

 ? ? ? ? ? ? --?: 45. “Sesungguhnya shalat itu dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar” (Q.S. Al-Ankabut: 45)

Ustadz Felix Siaw

Dengan kata lain, kewajiban seorang mukallaf untuk menjalankan shalat lima waktu pada dasarnya mengandung pengertian sebagai peringatan dari Allah agar ia selalu mengingat-Nya. Ingatan kepada Allah berujung pada ingatan kepada perintah dan larangan-Nya. Inilah yang disebut dengan takwa sebagaimana dikemukakan di atas.

 ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (? ? ? ? ? ? ?-? ? ? ? ? 1420?/2000? ? 16? ?. 106)

“Nampak jelas bahwa takwa merupakan hikmah dibalik disyariatkannya shalat, karena ketika seorang mukallaf mengingat perintah dan larangan Allah swt maka ia akan menjalankan perintah dan meninggalkan larangan-Nya” (Muhammad Thahir bin ‘Asyur, at-Tahrir wat-Tanwir, Bairut-Mu`assah at-Tarikh al-‘Arabi, cet ke-1, 1420 H/2000 M, juz, 16, h. 106)

Berangkat dari penjelasan di atas maka ibadah shalat yang merupakan komunikasi atau hubungan antara seorang hamba dengan Allah swt sejatinya harus memiliki pengaruh positif terhadap komunikasi kita dengan yang ada di sekitar kita. 

Ironisnya sering kali kita menyaksikan orang yang rajin shalat tetapi masih saja melakukan kemungkaran dan perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh agama padahal setidaknya ia lima kali menyapa Allah melalui shalat. Pertanyaannya, mengapa bisa demikian? Hal ini terjadi karena shalat masih dipahami hanya sebatas formalitas yang tidak memiliki konsekwensi apa-apa terhadap kehidupannya. Sepanjang kita masih berkutat pada pemahaman seperti ini maka shalat kita jelas tidak memiliki makna apa-apa, tidak bisa mencegah perbuatan yang keji dan mungkar. 

Sedangkan untuk menambah wawasan kita mengenai shalat, maka kami sarankan untuk membaca buku yang terkait dengan rahasia dan hikmah shalat. Misalnya buku yang ditulis oleh Ali Ahmad al-Jurjawi yang berjudul Hikmah at-Tasyri` wa Falsafathu (Hikmah dan Falsafat Dibalik Penetapan Syariat). Di dalam buku tersebut terdapat bab yang menjelaskan hikmah yang terdapat dalam shalat. Banyak sekali buku tentang hikmah shalat yang ditinjau dari berbagai perspektif.

Demikian penjelasan singkat ini, semoga bisa menjadi penjelasan yang dapat membantu menyelesaikan persoalan yang Anda hadapi. (Mahbub Ma’afi Ramdlan

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw PonPes, Amalan Ustadz Felix Siaw

Jumat, 25 November 2016

Jelang Pilpres, Tokoh NU Diminta Hati-hati Keluarkan Statemen Politik

Kudus, Ustadz Felix Siaw. Menjelang pelaksanaan pemilihan presiden, tokoh Nahdlatul Ulama (NU) diminta berhati-hati mengeluarkan pernyataan politik. Hal ini untuk menjaga kondusivitas dan menghindari perpecahan di kalangan warga.

Jelang Pilpres, Tokoh NU Diminta Hati-hati Keluarkan Statemen Politik (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Pilpres, Tokoh NU Diminta Hati-hati Keluarkan Statemen Politik (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Pilpres, Tokoh NU Diminta Hati-hati Keluarkan Statemen Politik

Pernyataan ini disampaikan Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah KH Ubaidillah Shodaqoh saat dihubungi Ustadz Felix Siaw, Rabu (14/5). Dikatakan, tokoh NU harus selalu menekankan seruan moral tanpa dilatarbelakangi kepentingan partai politik maupun calon presiden tertentu.

"Jangan terlalu berlebihan larut dalam persoalan politik. Kembalilah pada isu kesejahteraan dan moral umat," tegas kiai yang sering disapa Gus Ubaid ini.

Ustadz Felix Siaw

Ia mengingatkan terjadinya perpecahan (firqah) dalam agama berbarengan dengan peristiwa politik. "Makanya kiai-kiai NU harus hati-hati. Termasuk santri juga jangan mengompori dan memanipulasi pernyataan dan sikap kiai," tandasnya.

Ustadz Felix Siaw

Kepada pendukung capres, Gus Ubaid mengharapkan supaya menarik simpati sesuai etika politik tanpa menjelek-jelekkan lawannya. Begitu pula, para wartawan harus berimbang dalam menyampaikan informasi. "Tidaklah elok bila harus menjelek-jelekkan lawan politik," tegasnya lagi singkat.

Ditanya tentang sikap politik PWNU Jateng, Gus Ubaid menyatakan secara lembaga tetap bersikap netral dan tidak memberi dukungan kepada salah satu kandidat capres. "Meskipun begitu, NU tetap membimbing," ujarnya tanpa merinci penjelasannya. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Pendidikan Ustadz Felix Siaw

Jumat, 11 November 2016

Mahasiswa NU Belanda Tagih Janji Kampanye Jokowi-JK Soal Nasib Palestina

Amsterdam, Ustadz Felix Siaw - Ketua Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Belanda Dito Alif Pratama merespon positif salah satu keputusan sidang komisi Muktamar Ke-33 NU di Jombang terkait dukungan moril dan materil atas upaya mewujudkan negara Palestina merdeka. Ia juga mengingatkan peserta diskusi untuk tidak lupa menagih janji pemerintahan Jokowi-JK untuk merealisasikan janji kampanyenya dulu untuk mendukung kemerdekaan Palestina secara utuh.

Demikian disampaikan Dito pada diskusi publik bertajuk Palestina Merana, Indonesia Harus Bagaimana? di Kampus Vrije Universiteit Amsterdam, Senin (31/7) yang terselenggara atas kerja sama PPI Amsterdam, ILUNI UI, dan KMNU Belanda.

Mahasiswa NU Belanda Tagih Janji Kampanye Jokowi-JK Soal Nasib Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa NU Belanda Tagih Janji Kampanye Jokowi-JK Soal Nasib Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa NU Belanda Tagih Janji Kampanye Jokowi-JK Soal Nasib Palestina

Ia menekankan pentingya peran bangsa Indonesia dalam membantu penyelesaian konflik. Selain karena mayoritas bangsa Indonesia adalah Muslim yang harus membantu saudara Muslimnya di Palestina, bangsa Indonesia dalam konstitusinya juga dengan tegas menyatakan bahwa penjahajan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan keadilan.

“Melalui forum ini, saya juga ingin mengajak masyarakat Indonesia untuk sama-sama menyatukan suara menagih janji kampanye pemerintahan Jokowi-JK untuk mendukung sepenuhnya kemerdekaan negara Palestina, janji kampanye ini harus dibuktikan dengan langkah politis dan diplomatis yang jelas dan tersistem,” kata Dito.

Ustadz Felix Siaw

Pada forum ini, ia menjelaskan kondisi dan suasana konflik yang saat ini tengah terjadi di Israel-Palestina. Ia mengajak para peserta diskusi untuk sama-sama melihat konflik Israel-Palestina bukan semata-mata konflik antaragama, tetapi lebih pada konflik kemanusian.

Menurutnya, serangan-serangan Israel atas Palestina merupakan penjajahan tersistem di era modern.

Ustadz Felix Siaw

“Saat kita telah sama-sama memahami konflik ini sebagai konflik kemanusiaan, di mana ada sekelompok manusia yang sedang berjuang untuk mendapatkan hak-hak kemanusiaan dan kebebasanya yang terampas (baca: Palestina), maka yang akan bertanggung jawab untuk meredam hingga menyelesaikan konflik ini adalah seluruh umat manusia, tidak terbatas pada segmentasi satu agama maupun negara,” kata Dito.

Hadir sebagai narasumber aktivis Lakpesdam NU Belanda Hadi Rahmat Purnama (Kandidat Ph.d bidang Transnational Legal Studies, Faculty of Law, Vrije Universiteit Amsterdam) dan Ketua KMNU Belanda Dito Alif Pratama (Kandidat Master bidang Peace, Trauma and Religion, Vrije Universiteit Amsterdam). Forum ini dimoderatori oleh Abdullah Muslich Rizal Maulana (Kandidat Master bidang interreligious studt, Vrije Universiteit Amsterdam). (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Nahdlatul, Meme Islam Ustadz Felix Siaw

Selasa, 08 November 2016

Tatacara Puasa Dawud

?Assalamu’alaikuw warahmatullahi wabarakatuh. Redaksi Yth saya berinisiatif membuat jadwal puasa Nabi Dawud pada Senin, Kamis, dan Sabtu (di antara Senin dengan Kamis, dua hari berbuka). Bolehkan hal tersebut saya lakukan? Terimkasih. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh (Ega Prasetya Noor)

Jawaban

Assalamu’alaikum wr. wb. Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Dalam ajaran Islam, terdapat yang yang dikategorikan sebagai wajib, yaitu puasa pada bulan Ramadlan. Disamping puasa wajib, masih banyak puasa yang status hukumnya adalah sunnah. Di antaranya adalah puasa Senin-Kamis, Arafah, puasa pada tanggal 13, 14, dan 15 atau yang dikenal dengan ayyam al-bidl, dan puasa Dawud.

Tatacara Puasa Dawud (Sumber Gambar : Nu Online)
Tatacara Puasa Dawud (Sumber Gambar : Nu Online)

Tatacara Puasa Dawud

Apa yang dimaksud dengan puasa Dawud adalah puasa yang dilakukan oleh Nabi Dawud AS dan merupakan puasa yang paling utama dibanding dengan puasa sunnah yang lainnya. Sedang tatacaranya adalah dengan sehari puasa kemudian sehari tidak berpuasa dan seterusnya. Hal ini sebagaimana keterangan yang terdapat dalam hadits berikut ini:  

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. “Puasa yang paling utama adalah puasanya Nabi Dawud AS, ia berpuasa sehari dan berbuka (tidak berpuasa) sehari” (H.R. An-Nasa`i)

Ustadz Felix Siaw

Kenapa puasa Dawud menjadi puasa sunnah yang paling utama? Karena puasa dawud merupakan puasa yang paling berat. Dengan puasa Dawud seseorang bersua dengan apa yang sudah menjadi disenangi sehari kemudian berpisah sehari.

 ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Karena puasa dawud itu memberatkan jiwa dengan mendapati apa yang disengani jiwa sehari sehari kemudian meninggalkannya sehari pula” (Abdurrauf al-Munawi, at-Taisir bi Syarh al-Jami’ ash-Shaghir, Riyadl-Maktabah al-Imam asy-Syafi’i, cet ke-3, 1408 H/1988 M, juz, 1, h. 374)

Ustadz Felix Siaw

Dengan kata lain, seseorang tersebut mulai dari terbitnya fajar sampai terbenamnya bisa melakukan apa saja yang sudah terbiasa dilakukan dan dihalalkan seperti makan-minum, menggauli istri, dan lain-lain. Baru sehari merasakan hal itu kemudian pada hari berikutnya harus dihentikan karena melakukan puasa. Hal ini tentunya sangat memberatkan.      

Jika penjelasan singkat ini ditarik dalam konteks pertanyaan di atas, maka puasa sebagaimana dideskripsikan dalam pertanyaan tersebut bukanlah termasuk puasa dawud. Sebab, puasa dawud adalah sehari puasa sehari tidak berpuasa.

Namun apabila anda tetap melakukan puasa sehari kemudian jeda selama dua hari, terus puasa sehari, jeda sehari, lalu puasa sehari dan jeda dua hari lagi itu tidak masalah, tetapi bukan merupakan puasa Dawud.  Dan sebaiknya melakukan puasa sunnah Senin-Kamis saja. Meskipun puasa pada hari sabtu itu juga tidak masalah, tetapi dihukumi makruh kalau sebelumnya tidak berpuasa atau tidak disambung dengan hari berikutnya.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. “Dimakruhkan menyendirikan puasa pada hari Sabtu, tetapi apabila seseorang pada hari sebelumnya berpuasa atau setelahnya berpuasa maka tidak dimakruhkan,” (Muhyiddin Syarf an-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, Jeddah-Maktabah al-Irsyad, tt, juz, 6, h. 481)

Demikian jawaban singkat dari kami. Saran kami jangan anda memaksakan diri untuk melakukan puasa dawud sekiranya akan mengganggu kewajiban-kewajiban lainnya. Dan sebaiknya melakukan puasa sunnah Senin-Kamis saja. Meskipun puasa pada hari sabtu itu juga tidak masalah, tetapi dihukumi makruh kalau tidak disambung dengan hari berikutnya atau sebelumnya sudah berpuasa.     

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq. Wassalamu’alaikum wr. wb. (Mahbub Ma’afi Ramdlan)  

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Pertandingan Ustadz Felix Siaw

Rabu, 26 Oktober 2016

MA Unggulan akan Diperluas Bekerjasama dengan Pemda

Jakarta, Ustadz Felix Siaw. Keberadaan Madrasah Aliyah unggulan Insan Cendikia yang berprestasi tingkat internasional dan lulusannya bisa masuk universitas negeri papan atas turut mengangkat nama madrasah yang sebelumnya dianggap sebagai lembaga pendidikan kelas dua.

MA Unggulan akan Diperluas Bekerjasama dengan Pemda (Sumber Gambar : Nu Online)
MA Unggulan akan Diperluas Bekerjasama dengan Pemda (Sumber Gambar : Nu Online)

MA Unggulan akan Diperluas Bekerjasama dengan Pemda

Dengan keberhasilan ini, Kementerian Agama akan terus menambah jumlah MA Insan Cendikia di seluruh Indonesia. Saat ini yang sudah beroperasi 3 MA, yang dalam proses pembangunan 20 sehingga total ada 23  yang seluruhnya sudah akan beroperasi pada 2017.

Lalu bagaimana dengan 10 propinsi sisanya? Direktur Pendidikan Madrasah Kemenag Nur Kholis Setiawan mengatakan, dalam diskusinya dengan Menag Lukman Hakim Syaifuddin, Menag menyampaikan bahwa dirinya akan mengusahakan 10 propinsi sisanya dengan bekerjasama dengan gubernur.

Ustadz Felix Siaw

“Kalau sudah ada madrasah yang bagus, kita manage dari sini, menunya dari sini, sama persis rasanya, hanya outletnya yang beragam, bermitra dengan pemerintah daerah, bisa maksimal,” katanya kepada Ustadz Felix Siaw baru-baru ini di kantor Kemenag.

Ia menambahkan, melalui kerjasama dengan pemerintah, maka otomatis sustainabilitas madrasah tersebut juga terjaga. “Pemerintah daerah tidak selesai hanya menyerahkan 10 hektar pada kita, tetapi mereka juga berkewajiban membangun infrastruktur jalan, listrik, air, sanitasi, beasiswa dan seterusnya,” tandasnya. 

Ustadz Felix Siaw

Selanjutnya, tugas Kemenag adalah mengontrol dan membina, sekaligus madrasah unggulan tersebut bisa menjadi percontohan. Ia menjelaskan, Madrasah Insan Cendikian Serpong membantu madrasah yang ada di sekelilingnya sehingga saat ini, tak ada lagi madrasah buruk di seputaran Serpong.

“Tolak ukurnya mudah, dari hasil Ujian Nasional. Tidak ada angka ujian Madrasah Aliyah yang buruk. Tidak pernah dibawah 99 persen. Ini artinya serius membina.”

Bahkan bukan hanya membantu madrasah di sekitarnya, Insan Cendikia Serpong atau Gorontalo juga diminta pertimbangan oleh daerah lain seperti di NTT.

“Skema begini mudah melakukan pembinaan karena ada imamnya. Mereka jadi mercusuarnya. Saya yakin strategi pengembangannya akan jauh lebih efektif karena roadmapnya jelas. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Sunnah Ustadz Felix Siaw

Selasa, 18 Oktober 2016

"Ukhuwah Wathaniyah" Dulu, Baru "Ukhuwah Islamiyah"

Semarang, Ustadz Felix Siaw. Kondisi umat Islam dewasa ini tidak menggembirakan. Di beberapa negara, umat Islam sangat menderita karena pertikaian. Afghanistan yang penduduknya 100 persen Islam dilanda perang saudara, lantas diporak-porandakan Amerika, dan sekarang penuh dengan konflik sektarian.

Ukhuwah Wathaniyah Dulu, Baru Ukhuwah Islamiyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ukhuwah Wathaniyah Dulu, Baru Ukhuwah Islamiyah (Sumber Gambar : Nu Online)

"Ukhuwah Wathaniyah" Dulu, Baru "Ukhuwah Islamiyah"

Republik Somalia yang penduduknya juga 100 persen Islam, bahkan jadi negara gagal. Bisa dikatakan, tak ada pemerintahan di negara itu, karena semua orang bebas memegang senjata dan memiliki kekuasaan sendiri-sendiri.

Demikian disampaikan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dalam sambutan pengarahan Pelantikan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah di halaman Pondok Pesantren Al-Itqon Pedurungan, Semarang, Jawa Tengah, Ahad (6/10).

Ustadz Felix Siaw

Itu semua, menurut Kang Said, panggilan akrabnya, karena tiadanya rasa nasionalisme di kalangan warga negaranya. Tak ada ukhuwah wathaniyyah ? (persaudaraan sebangsa dan setanah air) di sana.

Atas fakta tersebut, Kang Said mengusulkan ukhuwah wathaniyah didahulukan, baru kemudian ukhuwah islamiyah (persaudaraan sesama muslim). Jika persaudaraan nasional ini sudah kokoh, sangat mudah untuk membangun persaudaraan sesama umat Islam.?

Ustadz Felix Siaw

Logikanya sederhana. Kata dia, orang ingin membangun masjid, mendirikan pesantren atau madrasah butuh tempat berpijak. Jadi memiliki dan menunjung tanah air merupakan kewajiban, karena tanpa tanah air, kewajiban berupa dakwah Islam tidak bisa dijalankan. ?

“Apa kita mau membangun pesantren dan madrasah di awang-awang?” ujarnya dengan kalimat tanya.?

Tapi dia menegaskan, hal itu hanya sebatas usulan. Itupun menurutnya meniru ajaran pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari yang dia modifikasi. KH Hasyim Asy’ari, kisah Said, mengajarkan ukhuwah islamiyah dan ukhuwah wathoniyyah. Ajaran itu dia balik susunannya menjadi ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah islamiyah.

“Hadlratussyaikh KH Hasyim Asy’ari mengajarkan ukhuwah islamiyah dan ukhuwah wathaniyah. Saya punya usul yang membalik susunannya saja. Ini sebatas ide saya,” pungkasnya. (Mohammad Ichwan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Lomba Ustadz Felix Siaw

Senin, 17 Oktober 2016

Tahun Depan, Pelatihan Khat JQHNU Sidoarjo Prioritaskan Siswa MTs/SMP

Sidoarjo, Ustadz Felix Siaw. Pengurus Cabang Jamiyyatul Qurra Wal Huffahz Nahdlatul Ulama (PC JQHNU) Sidoarjo akan mengadakan pelatihan Khat khusus untuk siswa MTs/SMP dan SMA sederajat.

Tahun Depan, Pelatihan Khat JQHNU Sidoarjo Prioritaskan Siswa MTs/SMP (Sumber Gambar : Nu Online)
Tahun Depan, Pelatihan Khat JQHNU Sidoarjo Prioritaskan Siswa MTs/SMP (Sumber Gambar : Nu Online)

Tahun Depan, Pelatihan Khat JQHNU Sidoarjo Prioritaskan Siswa MTs/SMP

Hal ini dilakukan karena pelatihan Khat pertama yang diadakan JQHNU Sidoarjo di aula Kemenang Sidoarjo mendapatkan respon positif dari para peserta.

Melihat respon tersebut, JQHNU Sidoarjo akan mengadakan acara yang sama dan lebih difokuskan kepada para pelajar, mengingat saat ini pelatihan Khat sangat langkah.

"Alhamdulillah, saya melihat respon dari para peserta sangat luar biasa. Untuk itu, di tahun yang akan datang kami akan mengadakan pelatihan ini kepada para pelajar," kata Ketua PC JQHNU Sidoarjo, H Imam Mukozali, disela-sela pelatihan Khat di aula Kemenang Sidoarjo, Ahad (12/2).

Senada juga dikatakan oleh ketua panitia pelatihan Khat, Moh Idris, ia mengimbau para peserta khususnya di tingkat MTs/SMP atau SMA untuk mengikuti pelatihan Khat yang diadakan oleh JQHNU Sidoarjo.

Ustadz Felix Siaw

"Melihat animo masyarakat yang sangat merespon kegiatan tersebut, jadi pelatihan Khat mendatang khusus untuk siswa MTs/SMP dan SMA. Karena pelajar nanti juga bisa mengikuti lomba Aksioma. Kami juga mengimbau kepada dewan gurunya, barangkali ada murid yang berminat agar menghubungi JQHNU Sidoarjo," imbau Idris.

Idris menegaskan bahwa, belajar Khat itu selain bersyiar juga turut melestarikan karya tulis kaligrafi yang telah diajarkan para pendahulu dan supaya tidak hilang. Karena, anak muda sekarang untuk menekuni Khat saat ini kurang. (Moh Kholidun/Fathoni)

Ustadz Felix Siaw

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Pondok Pesantren Ustadz Felix Siaw

Minggu, 16 Oktober 2016

Mengapa Haul Gus Dur Diperingati Bulan Desember?

Jika ada yang mengatakan peringatan tahunan meninggalnya ulama atau haul adalah bid’ah, maka keluarga KH Abdurrahman Wahid dan Gusdurian yang menyelenggarakan haul Gus Dur di bulan Desember berarti telah melakukan bid’ah dua kali: Bid’ah pertama adalah haul itu sendiri, dan bid’ah kedua menyelenggarakan haul berdasarkan kalender Masehi.

Dalam tradisi NU, haul para kiai atau ulama yang diniatkan sebagai acara untuk ibadah, berdoa dan mengambil teladan dilaksanakan berdasarkan kalender Hijriyah. Gus Dur meninggal pada 30 Desember 2009, jika dikonversikan dalam kalender qamariyah atau Hijriyah tanggal itu bertepatan dengan 14 Muharram 1431 H. Mengapa haul Gus Dur tidak diperingati di bulan Muharram saja?

Barangkali ada dua jawaban sederhana. Pertama, generasi ketiga dan keempat dari para tokoh pendiri NU, termasuk keluarga Gus Dur lebih akrab dengan sistem pendidikan yang dalam istilah kurang tepatnya disebut “sekolah umum”, yang lebih identik dengan kalender Masehi. Kedua, figur Gus Dur juga dianggap milik publik dan lagi-lagi masyarakat Indonesia lebih akrab dengan penanggalan Masehi. Apalagi Gus Dur meninggal di penghujung tahun, akhir bulan Desember, sehingga mudah diingat karena pada saat itu banyak orang melakukan refleksi dan perenungan.

Mengapa Haul Gus Dur Diperingati Bulan Desember? (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengapa Haul Gus Dur Diperingati Bulan Desember? (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengapa Haul Gus Dur Diperingati Bulan Desember?

Namun dua jawaban itu terlalu sederhana jika dikaitkan dengan pergeseran cara pandang orang NU dalam menyikapi sistem penanggalan. Lihat bagaimana hari lahir (Harlah) NU 31 Januari 1926 lebih sering disebut dari pada Hijriyahnya, 16 Rajab 1344. Juga pada saat NU lepas dari politik praktis atau kembali menjadi organisasi keagamaan yang bersifat sosial disebut dengan momen kembali ke Khittah 1926, bukan Khittah 1344.

Beberapa momen penting NU seperti Resolusi Jihad, beberapa Muktamar dan  Munas paling bersejarah, serta Rapat Akbar NU juga lebih ditulis tanggal Masehinya. Dalam bahasa yang lebih akademis barangkali sejak NU menyetujui berdirinya sebuah negara (Islam) bernama Indonesia, selanjutnya NU mengintegrasikan diri ke dalam pergerakan nasional; menuliskan sejarah pergerakannya dalam sistem kalender nasional.

Bukan saja dalam hal berorganisasi, dalam hal ibadah kalangan NU juga tidak terlalu mensakralkan hari dan tanggal. Lihat pelaksanaan khususi tarekat, manakib, tahlil, istighotsah, maulid, atau ziarah kubur tidak harus diselenggarakan di malam Jum’at yang diyakini sebagai hari terbaik dalam Islam (sayyidul ayam), atau di tanggal yang baik menurut kalender Hijriyah. Tradisi keagamaan NU itu malahan juga sering diselenggarakan di hari Ahad (Minggu), bahkan di hari-hari libur nasional.

Lagi-lagi dengan bahasa yang lebih akademis, pola dakwah NU dalam mengena hati para jamaah belakangan ini semakin renyah dan longgar. Dan selain artikel ini juga tidak ada yang menyoal pelaksanaan haul Gus Dur di bulan Desember, tidak ada yang melarang orang berdoa di penghujung tahun 2013 Masehi. (A. Khoirul Anam)

Ustadz Felix Siaw

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Kajian Ustadz Felix Siaw

Ustadz Felix Siaw

Selasa, 27 September 2016

Di Pesantren Darul Ulum, Tim Resolusi Jihad Ditunjukkan Kiprah Pendiri Pesantren

Jombang, Ustadz Felix Siaw - Sekitar jam 13.00 WIB rombongan Tim Resolusi Jihad NU 2016 tiba di Pesantren Darul Ulum (PPDU) Peterongan Jombang. Disambut drumband, mereka diterima pimpinan pesantren setempat. KH Cholil Dahlan mewakili pimpinan PPDU mengemukakan bahwa para pendiri pesantren sangat peduli dengan perjuangan NU.

"Di pesantren ini, kami memperjuangkan amaliyah Ahlussunnah wal Jamaah secara lahir dan batin," katanya, Sabtu (15/10) siang.

Di Pesantren Darul Ulum, Tim Resolusi Jihad Ditunjukkan Kiprah Pendiri Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Pesantren Darul Ulum, Tim Resolusi Jihad Ditunjukkan Kiprah Pendiri Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Pesantren Darul Ulum, Tim Resolusi Jihad Ditunjukkan Kiprah Pendiri Pesantren

Ketua MUI Jombang ini juga menceritakan bahwa kiprah pendiri PPDU telah dimulai sejak tahun 1885. "Kala itu pesantren didirikan oleh KH Tamim Irsyad," terangnya.

Dari putra-putrinya yakni Ny Hj Farihah Cholil, KH Romli Tamim, dan KH Umar Tamim perjuangan PPDU dilanjutkan.

Ustadz Felix Siaw

Ustadz Felix Siaw

Bahkan akses perjuangan kepada NU kian nyata saat KH Romli dan KH Dahlan memperjuangkan masuknya dua badan otonom (banom). "Dua banom itu adalah Jamiyatul Qurra wal Huffadz serta thariqah mutabarah," terang Kiai Cholil, sapaan akrabnya.

Demikian pula saat terjadi perang kemerdekaan. "Karena kala itu KH Cholil menjadikan kediamannya sebagai markas Hizbullah," ungkapnya.

Karenanya, kehadiran Tim Resolusi Jihad ini menjadi penyemangat bagi seluruh komponen di PPDU untuk terus berkhidmat.

Ketua rombongan Tim Resolusi Jihad NU H Ishfah Abidal Azis yang juga sangat terharu dengan sambutan ini.

Selanjutnya rombongan dan pimpinan PPDU melakukan tahlil di pesantren setempat. Perjalanan dilanjutkan dengan berziarah ke Pesantren Tebuireng. (Ibnu Nawawi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Sunnah Ustadz Felix Siaw

Rabu, 21 September 2016

Puasa itu Tameng Jiwa dan Zakat Raga

Demak, Ustadz Felix Siaw. Nilai puasa di sisi Allah sangat bergantung pada niat, tujuan, dan kualitasnya. Semakin ia berkualitas, semakin tinggi nilainya di sisi-Nya. Begitu pula sebaliknya puasa yang kualitasnya sekadar menahan lapar dan dahaga, ia tidak bernilai apa-apa di sisi Allah.

Selain sebagai pemenuhan rukun Islam yang kedua, puasa juga merupakan sarana membentengi jiwa dari berbagai hal yang merugikannya. Puasa adalah tameng. Tameng yang kuat akan mampu menghalau godaan hawa nafsu.

Puasa itu Tameng Jiwa dan Zakat Raga (Sumber Gambar : Nu Online)
Puasa itu Tameng Jiwa dan Zakat Raga (Sumber Gambar : Nu Online)

Puasa itu Tameng Jiwa dan Zakat Raga

Ash-shaumu Junnatun (puasa itu ibarat tameng), yang namanaya tameng harus yang kuat, terbuat dari baja biar tidak tembus peluru,” ujar KH Zainal Arifin Maksum (Gus Zen), Pengasuh Pesantren Fahul Huda Karangggawang Sidorejo, Sayung, Demak, Jateng, di aula pesantren setempat, Selasa (9/7) pada acara khataman kitab Shahih Bukhari dalam kajian Ramadlan.

Ustadz Felix Siaw

Selain sebagai tameng, lanjut Gus Zen, puasa juga merupakan implementasi zakat raga. Menurutnya, puasa selain bisa mengekang nafsu seseorang juga bisa sebagai pembersih dirinya bagaikan dermawan mengeluarkan sebagian hartanya untuk fakir miskin.

Ustadz Felix Siaw

Likulli syaiin? zakatun, wa zakatul jasadi ash-shaumu (segala sesuatu itu ada zakatnya dan zakatnya badan itu puasa,” imbuhnya.

Selama 20 hari di bulan Ramadhan tahun ini, Pesantren Fathul Huda mengaji beberapa kitab yang diasuh oleh keluarga kiai dan dewan guru pesantren setempat. Di antaranya KH Zaenal Arifin Makshum mengaji Shahih Bukhari 4 juz, Gus Luthfinnajib mengaji Riyadhush Shalihin, dan Nyai Hj Khiyarotun Nisa Zen mengaji Faraidhul Bahiyyah, dan masih kitab-kitab rujukan NU lainnya. (A Shiddiq Sugiarto/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw AlaSantri, Syariah, Ubudiyah Ustadz Felix Siaw

Minggu, 11 September 2016

UNU Sumbar Bakal Lahirkan Sarjana Anti Radikal

Padang, Ustadz Felix Siaw -

Makin gencarnya gerakan penyebaran Islam radikal di tengah masyarakat, perlu disiapkan generasi muda dan sarjana yang memiliki pemahaman Islam yang rahmatan lil’alamin, menjadi rahmat sekalian alam. Pendidikan yang berwawasan Islam moderat berpahamkan Ahlussunnah wal-Jamaah semakin dibutuhkan untuk membentengi sarjana dari paham radikal dan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku di Indonesia.

Demikian diungkapkan Rektor Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Sumatera Barat, Dr. Rudi Kusuma, Selasa (18/7/2017) di kampusnya Jalan Ikhlas VII Andalas, Padang. ? Menurut Rudi, kehadiran UNU di Sumatera Barat adalah untuk menyiapkan sarjana-sarjana yang berpahamkan Islam Ahlussunnah Waljamaah (Aswaja).?

Dikatakan Rudi, UNU yang berada dalam pembinaan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama ini didirikan dalam rangka mensyiarkan Islam berpahamkan Aswaja. “Alhamdulillah, UNU cukup mendapatkan perhatian calon mahasiswa di Sumatera Barat. Tahun ini UNU sudah memasuki tahun kedua,” kata Rudi yang didampingi para Pembantu Rektornya, PR I Muhammad Danil, ? PR Nazaruddin dan PR III Arianto.

UNU Sumbar Bakal Lahirkan Sarjana Anti Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)
UNU Sumbar Bakal Lahirkan Sarjana Anti Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)

UNU Sumbar Bakal Lahirkan Sarjana Anti Radikal

Saat ini, kata Rudi, UNU sudah menempati gedung baru di Jalan Iklas VII Andalas. Sebelumnya di jalan Banda Purus No. 71. Dengan gedung yang lebih representatif, diharapkan kenyamanan proses belajar mengajar lebih baik.

“UNU kini memiliki 5 fakultas dan 10 program studi. Yakni prodi Ilmu Hukum, Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Pendidikan Bahasa Inggris, Ekonomi Islam, Agrobisnis, Teknik Informatika, Sistem Informasi, Teknik Lingkungan, Manajemen Sumber Daya Perairan dan Budi Daya Perairan,” kata Rudi menambahkan. ?

Ustadz Felix Siaw

Menurut Rudi, UNU mengembangkan kajian kebangsaan dan keislamanan yang moderat, terbuka dan mendakwahkan Islam Rahmatan lil’alamin.”Selain itu, UNU juga mendidik mahasiswa berjiwa wirausaha sehingga tidak mengandalkan menjadi pegawai negeri semata. Kini sedang dijajaki kerjasama dengan berbagai pihak,” kata Rudi. (Armaidi Tanjung/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw

Ustadz Felix Siaw Pertandingan Ustadz Felix Siaw

Minggu, 04 September 2016

Banyak Orang Gagal Lewati Ujian di Sini Menurut Ibnu Athaillah

Manusia tak pernah putus menerima aliran nikmat Allah dalam bentuk apapun baik material maupun nonmaterial yang disadari sebagai sebuah nikmat atau yang tak disadari. Kalau sudah begini, mereka harus menjaga adab kepada Allah dalam bentuk syukur.

Ada juga sebagian orang yang tidak taat dan kufur sering tampak hidup makin membaik, segar bugar tanpa sakit, makin jauh dari kemiskinan, dan seterusnya. Tidak perlu heran karena di sinilah sebenarnya rahmat Allah untuk mereka.

Banyak Orang Gagal Lewati Ujian di Sini Menurut Ibnu Athaillah (Sumber Gambar : Nu Online)
Banyak Orang Gagal Lewati Ujian di Sini Menurut Ibnu Athaillah (Sumber Gambar : Nu Online)

Banyak Orang Gagal Lewati Ujian di Sini Menurut Ibnu Athaillah

Sebenarnya ketika seseorang mendurhakai Allah sementara anugerah-Nya terus mengalir bahkan secara lahiriah bertambah banyak, ia patut waspada karena bisa jadi itu merupakan bagian dari istidraj dari Allah sebagai disinggung Syekh Ibnu Athaillah dalam hikmah berikut.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Ustadz Felix Siaw

Artinya, “Takutlah pada kebaikan Allah kepadamu di tengah keberlangsungan durhakamu terhadap-Nya karena itu bisa jadi sebuah tipudaya (istidraj) seperti firman-Nya, ‘Kami memperdayakan (mengistidrajkan) mereka dari jalan yang mereka tak ketahui.’”

Ustadz Felix Siaw

Istidraj adalah semacam perangkap bagi manusia di mana mereka yang durhaka kepada Allah tampak semakin makmur, jaya, dan sejahtera. Tetapi sejatinya peningkatan kemakmuran yang terus beranjak naik bahkan melimpah itu sejatinya adalah uluran atau semacam penundaan untuk azab Allah yang pada gilirannya lebih dahsyat menimpa yang bersangkutan.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Istidraj adalah ujian tersembunyi di balik sebuah anugerah Allah. Istidraj terambil dari kata ‘daraj’ (angsuran), seperti anak kecil yang mulai berjalan selangkah demi selangkah. Terambil dari kata ini juga adalah anak tangga di mana seseorang dapat naik ke atas. Sama halnya dengan orang yang diistidraj. Ia dicekal melalui nikmat sedikit demi sedikit tanpa sadar. Allah berfirman, ‘Kami memperdayakan mereka dari jalan yang mereka tak ketahui,’ maksudnya kami cekal mereka dengan kenikmatan, lalu kami jerumuskan mereka ke dalam siksa tanpa mereka sadar.

Perihal ini Syekh Zarruq berkata, ‘Wahai para murid, takutlah pada karunia-Nya untukmu berupa kesehatan, kelapangan, kucuran deras rezeki, dan aliran deras  kekuatan baik material maupun spiritual di tengah kedurhakaanmu terhadap-Nya berupa kelalaian dan keteledoran,’” (Lihat Syekh Ibnu Ajibah, Iqazhul Himam fi Syarhil Hikam, Beirut, Darul Fikr, halaman 101).

Orang yang terjaga mata batinnya selalu waspada dan khawatir atas penambahan nikmat dari Allah berupa harta, jabatan, status, eksistensi, dan lain sebagainya. Mereka khawatir nikmat itu merupakan istidraj dari Allah karena kerap lalai bersyukur atas nikmat itu. Kekhawatiran ini merupakan sifat orang-orang beriman.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?...? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Takut pada ujian melalui nikmat Allah adalah sifat orang beriman. Tidak takut pada ujian kenikmatan di tengah kedurhakaan adalah sifat orang kafir. Sebagian ulama mengatakan, tanda-tanda istidraj adalah durhaka kepada Allah, terperdaya dengan ketenangan waktu, mengandung penundaan siksa atas kewajiban sampai pada-Nya. Ini adalah tipudaya tersembunyi. Allah berfirman, ‘Kami memperdayakan mereka dari jalan yang mereka tak ketahui,’ maksudnya tanpa mereka sadari. Syekh Ibnu Athaillah berkata, ‘Setiap kali mereka bermaksiat, Kami perbarui nikmat untuk  mereka dan kami membuat mereka lupa pada istighfar atas maksiat tersebut,’” (Lihat Syekh Ibnu Abbad, Syarhul Hikam, Indonesia, Maktabah Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah, halaman 51).

Manusia dianjurkan untuk selalu bersyukur kepada Allah dalam bentuk ucapan, keyakinan, dan tindakan. Dalam menerima nikmat dengan segala bentuknya, manusia juga ditekankan untuk tidak melupakan jasa dan budi baik orang lain. Agama menganjurkan manusia untuk berterima kasih terhadap sesama karena tanpa disadari manusia berutang budi satu sama lain sebagai disinggung Syekh Ibnu Ajibah berikut ini.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Setiap orang, ketika merasakan nikmat lahir-batin dan material-spiritual, wajib mengetahui kewajibannya dan segera mensyukurinya melalui ucapan, keyakinan, dan perbuatan. Lidah mengucap ‘Alhamdulillah’. Mulut bersyukur. Keyakinan itu melihat kehadiran Allah dalam nikmat tersebut dan menyandarkan nikmat kepada-Nya, dan tak perlu lagi melihat sebab kucuran nikmat di mana semuanya diyakini dengan hati dan disyukuri dengan ucapan. Tetapi siapa yang tidak berterima kasih kepada orang lain atas jasanya, maka ia tidak bersyukur kepada Allah. Orang yang paling berterima kasih kepada orang lain adalah orang paling bersyukur kepada-Nya. Apabila seseorang berterima kasih kepada orang lain dengan ucapan, ‘Jazakallahu khairan (Semoga Allah membalas budi baikmu),’ maka ia telah menjalankan kewajibannya untuk syukur. Bentuk syukur dengan perbuatan adalah penggunaan segala nikmat tersebut untuk taat kepada Allah sebagaimana keterangan lalu.

Kalau ia tidak bersyukur baik dengan ucapan, keyakinan, maupun perbuatan, dikhawatirkan nikmat itu ditarik atau menjadi istidraj. Istidraj ini lebih buruk daripada penarikan nikmat. Simpulannya, kewajiban syukur adalah adab kepada Allah sebagai pemberi nikmat. Orang yang su’ul adab ketika datang nikmat, maka akan diberi pelajaran agar beradab. Pengajaran di dalam batin ini yang kerap jarang disadari banyak orang,” (Lihat Syekh Ibnu Ajibah, Iqazhul Himam fi Syarhil Hikam, Beirut, Darul Fikr, halaman 101-102).

Singkatnya, manusia harus menjaga adab kepada Allah dan kepada orang lain. Jangan sampai kufur nikmat dan tidak tahu terima kasih kepada orang lain. Manusia harus bersyukur kepada Allah dengan segala bentuknya dan juga berterima kasih kepada orang lain atas jasa mereka. Husnul adab menjadi kata kunci penolak istidraj. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Halaqoh Ustadz Felix Siaw

Jumat, 26 Agustus 2016

Kang Said: Pengurus NU Harus Siap Dikritik

Jakarta, Ustadz Felix Siaw. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengingatkan seluruh jajaran pengurus NU mulai pengurus besar hingga anak ranting bahkan cabang istimewa NU untuk berbesar hati menerima catatan, kritik, dan komentar dari dewan Syuriyah NU. Kebesaran hati merupakan modal dasar pengurus NU.

Kang Said: Pengurus NU Harus Siap Dikritik (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Pengurus NU Harus Siap Dikritik (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Pengurus NU Harus Siap Dikritik

Demikian dikatakan Kang Said dalam peringatan harlah ke-29 Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya (Lakpesdam NU) di aula lantai delapan gedung PBNU jalan Kramat Raya nomor 164, Jakarta Pusat, Rabu (16/4) malam.

Kang Said menilai wajar catatan dan kritik Syuriyah untuk Tanfidziyah. Pasalnya, NU merupakan sebuah organisasi yang mengikuti pakem organisasi ideal yang didasari sekurangnya lima syarat.

Ustadz Felix Siaw

Kelima itu, sambung Kang Said, adalah al-kafa’ah (proporsional), ta’ahhul (professional), al-infitah (terbuka), as-shorohah (transparansi), dan at-ta’awun (kerja sama).

“Bendahara kita siap diaudit dengan auditor eksternal. NU pun membuka diri untuk kerja sama dengan TNI, kejaksaan, kepolisian di samping koordinasi dengan lembaga, lajnah, dan banom NU,” terang Kang Said.

Ustadz Felix Siaw

Ia menyebut cepatnya laju perkembangan lembaga, lajnah, dan banom NU kendati beberapa di antaranya berjalan lambat. Bahkan baru periode saya ini, tambah Kang Said, jajaran Rais Syuriyah PBNU sangat aktif. Sebentar-sebentar mereka rapat. Padahal periode sebelumnya, para kiai Syuriyah jarang rapat.

“Bahkan Syuriyah kadang lebih aktif dari Tanfidziyahnya,” kata Kang Said disambut tawa sedikitnya seratus hadirin.

“Kalau Rais Syuriyah sudah rapat, tentu sejumlah kritik dan aspirasi ditujukan kepada pengurus. Tetapi tidak mengapa. Itu memang kerja Syuriyah untuk terus mengingatkan tanfidziyah mana yang kurang pas. Kita harus siap menerima masukan dan arahan Syuriyah,” tandas Kang Said mengimbau semua pangurus NU di semua lapisan. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Bahtsul Masail, Humor Islam, Quote Ustadz Felix Siaw

Minggu, 21 Agustus 2016

Benarkah Puasa Syawwal Penanda Maqbulnya Puasa Ramadhan?

Assalamu ’alaikum wr. wb.

Redaksi Bahtsul Masail Ustadz Felix Siaw yang kami hormati. Dalam kesempatan yang baik ini kami ingin menanyakan yang terkait dengan faidah atau manfaat puasa enam hari di bulan Syawwal. Konon katanya puasa enam hari tersebut sering dikaitkan dengan pertanda diterimanya ibadah puasa Ramadhan kita. Apakah memang demikian dan bagaimana penjelasannya? Mohon jawabannya dan disertai rujukan yang jelas. Demikian pertanyaan kami. Atas jawaban yang diberikan kami ucapkan terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Nama dirahasiakan/Jakarta).

Jawaban

Benarkah Puasa Syawwal Penanda Maqbulnya Puasa Ramadhan? (Sumber Gambar : Nu Online)
Benarkah Puasa Syawwal Penanda Maqbulnya Puasa Ramadhan? (Sumber Gambar : Nu Online)

Benarkah Puasa Syawwal Penanda Maqbulnya Puasa Ramadhan?

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa puasa enam hari di bulan Syawwal yang dilakukan setelah setelah Idul Fitri hukumnya adalah sunah.

Ustadz Felix Siaw

Hal ini didasarkan pada sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Muslim, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian mengiringinya dengan puasa enam hari di bulan Syawwal, maka ia seperti puasa sepanjang tahun.”

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Ustadz Felix Siaw

Artinya, “Sebagian pakar hukum Islam (fuqaha`) berpendapat bahwa hukum puasa enam hari di bulan Syawwal adalah sunah karena didasarkan pada hadits, ‘Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian mengiringinya dengan puasa enam hari di bulan Syawwal, maka ia seperti puasa sepanjang tahun,’” (Lihat Al-Mawsu’atul Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, Mesir, Darus Shafwah, cetakan pertama, juz XXVI, halaman 287).

Sedang pertanyaan mengenai puasa enam hari di bulan Syawwal dan keterkaitannya dengan penanda diterimanya puasa Ramdhan kita, maka dalam hal ini ada baiknya kami akan menyuguhkan pandangan Ibnu Rajab Al-Hanbali.

Menurutnya, setidaknya ada beberapa faedah dari menjalankan puasa enam hari di bulan Syawwal, yang salah satunya adalah sebagai salah satu indikasi diterimanya puasa Ramadhan kita.

Logika sederhana yang digunakan untuk meneguhkan pandangan ini adalah bahwa apabila Allah SWT menerima amal kebajikan yang dilakukan hamba-Nya, maka Allah SWT akan memberikan taufik kepadanya untuk berbuat kebajikan yang lain. Menjalankan ibadah puasa Ramadhan sudah barang tentu merupakan kebajikan.

? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Salah satu faidah puasa enam hari di bulan Syawwal adalah bahwa kembali menjalankan puasa (puasa enam hari di bulan Syawaal, pent) setelah puasa Ramadhan adalah menjadi salah satu penanda diterimanya ibadah puasa Ramadhan karena sesungguhnya apabila Allah menerima amal kebajikan seorang hamba, maka ia akan memberikan taufik kepadanya untuk menjalankan amal kebajikan setelahnya,” (Lihat Ibnu Rajab Al-Hanbali, Lathaiful Ma’arif fi Ma li Mawasimil ‘Am wal Wazha`if, Kairo, Darul Hadits, 1426 H/2005 M, halaman 301).

Karena itu, ketika kita kembali melakukan puasa setelah puasa Ramadhan, yaitu berpuasa selama enam hari di bulan Syawwal yang notabenenya adalah suatu kebajikan lain juga, maka bisa jadi hal tersebut menjadi penanda bahwa puasa Ramadhan kita diterima di sisi Allah SWT.

Pandangan ini selaras dengan pernyataan sebagian ulama yang menyatakan, “Ganjaran kebaikan adalah kebaikan (lain) yang dilakukan setelahnya.” Barangsiapa yang melakukan amal kebajikan kemudian mengiringinya dengan kebajikan yang lain, maka hal ini bisa jadi menjadi salah satu indikasi bahwa amal kebajikan sebelumnya diterima di sisi Allah.

Begitu sebaliknya, apabila kita melakukan suatu amal kebajikan kemudian kita setelahnya melakukan amal kejelekan, maka hal ini bisa menjadi indikasi bahwa amal kebajikan yang kita lakukan tersebut tidak diterima di sisi Allah SWT.

? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh sebagian ulama, ‘Ganjaran kebajikan adalah kebajikan setelahnya’ sehingga barangsiapa yang menjalankan kebajikan kemudian mengiringinya dengan kebajikan yang lain, maka hal itu menjadi salah satu penanda penerimaan kebajikan sebelumnya. Demikian pula orang yang melakukan kebajikan kemudian mengiringinya dengan kejelekan, maka hal itu menjadi salah satu penanda penolakan kebajikan yang ia lakukan dan tidak diterimnya (di sisi Allah, pent),” (Lihat Ibnu Rajab Al-Hanbali, Lathaiful Ma’arif fi Ma li Mawasimil ‘Am wal Wazha`if, halaman 301).

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thrariq,

Wassalamu ‘alaikum wr. wb.


(Mahbub Maafi Ramdlan)Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Ulama, Ubudiyah, Fragmen Ustadz Felix Siaw

Selasa, 09 Agustus 2016

Islam dan Rambut Gondrong

KH Masdar Farid Mas’udi dikenal sebagai kyai yang jago dalam halaqoh dan bahtsul masail. Banyak kyai sering kali terbengong-bengong mendengar gagasannya yang cerdas, pendapatnya yang penting, hujahnya yang bening, dan penemuannya yang orisinil.

Pak Masdar, demikian ia dipanggil, menguasai semua bab dalam fiqih, dari politik hingga hukum waris, dari bab kesetaraan jender hingga teologi tanah, dari fiqih haji, fiqih zakat, hingga hubungan antaragama.

Islam dan Rambut Gondrong (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam dan Rambut Gondrong (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam dan Rambut Gondrong

Menurut riwayat, Pak Masdar ini memang hobi menggelar halaqoh semenjak menjadi santri. Ketika menghadapi persoalan pelik dalam urusan agama atau yang lain, ia selalu bikin halaqoh.

Ustadz Felix Siaw

Saat mesantren di Krapyak misalnya, Masdar santri pernah bikin pengurus pondok mengelus dada. Halaqoh dilatarbelakangi karena Masdar selalu ditegur pengurus, lantaran berambut gondrong. 

“Kang Masdar, rambutmu dipotong ya besok Jumat. Santri tidak boleh gondrong banget,” begitu kira-kira perintah pengurus pondok. Menurut riwayat, Masdar santri tak pernah pusing dengan perintah tersebut. Suatu hari, ia bikin halaqoh. 

Jumat, waktu yang semestinya untuk potong rambut, Masdar malah pasang spanduk yang menyita perhatian ratusan santri yang sedang duduk-duduk di emperan masjid seusai Jumatan. 

Ustadz Felix Siaw

Setelah spanduk terbentang, jelas sekali terlihat gambar seorang lelaki paruh baya, kepala bagian atasnya botak, tapi bagian belakangnya terjuntai rambut hingga pundak. Semua paham, ia adalah potret seorang filsuf, faqih, dan sufi besar bernama Imam al-Ghozali.

Di bawah gambar tersebut, ada kata-kata yang tersusun dengan jelas,”Hadirilah!!! Halaqoh Bertema: Islam dan Rambut Gondrong.” (Hamzah Sahal)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Doa, AlaSantri Ustadz Felix Siaw

Sabtu, 06 Agustus 2016

Pesan Rais Aam PBNU kepada Wisudawan-Wisudawati STAINU Jakarta

Jakarta, Ustadz Felix Siaw. Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ma’ruf Amin turut hadir dan memberikan orasi ilmiah kepada para wisudawan-wisudawati Sekolah Tinggi Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta pada prosesi Wisuda Ke-5 di Gedung Sasono Langen Budoyo TMII Jakarta Timur, Selasa (27/9).

Dalam orasinya, Kiai Ma’ruf yang juga Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat ini menuturkan bahwa seorang yang lulus dari perguruan tinggi sudah selayaknya berpikir dan bertindak beda dengan orang yang tidak memiliki kesempatan kuliah. Para sarjana diharapkan peran besarnya di tengah masyarakat.

Pesan Rais Aam PBNU kepada Wisudawan-Wisudawati STAINU Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesan Rais Aam PBNU kepada Wisudawan-Wisudawati STAINU Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesan Rais Aam PBNU kepada Wisudawan-Wisudawati STAINU Jakarta

“Kepada para wisudawan dan wisudawati, saya berharap menjadi sarjana yang mampu berpikir akademis, kritis, metodolgis, dan komprehensif,” jelas Cicit Syekh Nawawi Al-Bantani ini.

Kiai Ma’ruf berkisah tentang tukang perahu dan seorang Perdana Menteri yang diuji seorang Raja. Raja tersebut meminta tukang perahu untuk naik ke darat dan melihat apa yang ada di darat. Tukang perahu itu melaporkan kepada Raja bahwa di darat ada kucing beranak 5 dengan berbagai macam warna.

Kemudian sang Raja bertanya kepada tukang perahu, ada berapa kucing dan warnanya apa saja. Untuk menjawab Raja, tukang perahu tersebut naik lagi ke darat berkali-kali. Lalu sang Raja memerintahkan perdana menteri untuk melihat apa yang dilihat tukang perahu. Perdana menteri begitu cakap dan hanya sekali untuk menjawab pertanyaan Raja yang persis sama seperti ditujukan kepada tukang perahu.

Ustadz Felix Siaw

“Itulah sedikit gambaran tantang perbedaan sarjana dan orang biasa. Seorang sarjana cukup hanya sekali melihat tetapi mampu menjelaskan secara komprehensif atau menyeluruh,” terang Kiai Ma’ruf.

Dia juga berharap kepada para lulusan STAINU Jakarta untuk berupaya menjadi tokoh perubahan ke arah yang lebih baik untuk umat dan masyarakat. Karena menurutnya, saat ini masyarakat sangat membutuhkan orang-orang yang mampu mengubah keadaan menjadi lebih baik.?

“Masyarakat kita membutuhkan perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik secara terus-menerus sehingga mewujudkan kemajuan bangsa dan negara,” tuturnya.

Hadir dalam wisuda STAINU Jakarta ini antara lain, Ketua STAINU Jakarta H Syahrizal Syarif, Direktur Pascasarjana STAINU Jakarta H Mastuki HS, Menpora RI H Imam Nahrawi, Ketua PBNU H Marsudi Syuhud, Katib Syuriyah PBNU KH Mujib Qulyubi, Ketua BP3TNU H Marzuki Usman, Ketua PP LP Ma’arif NU H Arifin Junaidi, para Dosen dan Civitas Akademika STAINU Jakarta. (Fathoni)?

Ustadz Felix Siaw

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Tegal, Nusantara, Hadits Ustadz Felix Siaw

Kamis, 04 Agustus 2016

Dzikir Berjamaah Tentramkan Muslim di Roma

Sebagai seorang Muslim, hidup di negara yang umat Muslim-nya minoritas, membutuhkan emosional spiritual yang kuat. Salah-salah, bisa terbawa arus pergaulan ala Eropa, yang bisa jadi dilarang oleh aturan agama. Contohnya di Eropa, bermesraan di taman atau tempat terbuka dianggap hal biasa. Saya pun pernah menyaksikan sendiri di taman Villa Bhorghese, Roma.

“Bisa mengaji iqro sampai khatam, sudah bersyukur Alhamdulillah, Ustad. Apalagi kalau bisa membaca Al Qur’an dengan lancar dan menghafalkannya. Itu sih udah hebat banget,” ungkap Siti Rahayu, salah seorang Home Staff KBRI Roma. Ia asli Betawi dan PNS Kementrian Luar Negeri yang sebelumnya pernah bertugas di Melbourne, Australia.

Dzikir Berjamaah Tentramkan Muslim di Roma (Sumber Gambar : Nu Online)
Dzikir Berjamaah Tentramkan Muslim di Roma (Sumber Gambar : Nu Online)

Dzikir Berjamaah Tentramkan Muslim di Roma

Hal yang sangat dibutuhkan oleh Muslim Indonesia di Roma adalah nasihat-nasihat keagamaan yang menentramkan, menyejukkan hati, mencerahkan, dan menyentuh.

?

“Bukan nasihat yang membuat resah, menyinggung masalah politik antar negara, yang boleh jadi, ustadnya sendiri belum pernah berkunjung ke negara tersebut, dan akhirnya nasihat yang disampaikannya tidak menyentuh kepada jamaah yang mayoritas adalah Diplomat yang telah bertugas di berbagai negara,” kata Adnan, salah seorang staff KBRI di Roma.?

Ustadz Felix Siaw

Menurut Adnan saat berceramah, berilah nasihat-nasihat yang menyejukkan dan sederhana. Jangan yang berat-berat, yang dasar saja dan meringankan.

Saat menjalankan tugas sebagai dai ambassador di Italia, sering saya menyampaikan tentang perlunya pengajian Al Qur’an khususnya untuk staff KBRI, dan umumnya untuk masyarakat muslim di Roma.

?

Saya mengamati dan mempelajari keadaan dan kebiasaan keagamaan di sini. Ternyata masalahnya adalah masih kurangnya tenaga pengajar Al Qur’an. Kasihan anak-anak yang tadinya sudah pernah bisa membaca Al Quran di Indonesia, sesampainya di Roma karena ikut orangtua, lama-kelamaan lupa. Paling tidak, ada guru pembimbing agar mereka bisa menjaga kemampuan membacanya. Syukur-syukur bisa melancarkan dan menghafalkannya.

Ustadz Felix Siaw

Memang sekarang sudah ada pengajian di masjid Roma setiap minggu, yang dipandu oleh Ustad Adnan, tetapi masih belum bisa menutupi kebutuhan keagamaan Muslim Indonesia. Harus ada tambahan guru yang bersedia ditempatkan di sini untuk membimbing keagamaan dan mengajarkan bacaan Al Quran. Karena dengan agama, inshaallah hati akan tentram. Dan dengan bacaan Al Quran, hidup akan tenang.?

Selama di Roma, setiap bada sholat, sebelum mengisi kajian, saya biasakan untuk membaca dzikir bersama-sama. Semua membaca dengan suara yang lantang. Terdengar sekali keasyikkan membaca kalimat-kalimat dzikir tersebut. Memperbanyak istighfar, membaca tasbih, tahmid, takbir sebanyak 33 kali diakhiri dengan hauqolah, dilengkapi doa-doa memohon keberkahan dan kebaikan dunia akhirat. Bersama-sama jamaah mengaminkan.

?

Suasana semacam itu membuat kondisi terasa damai sekali, indah dan menyenangkan. Sepertinya inilah waktu yang paling berharga untuk menentramkan hati setelah disibukkan dengan pekerjaan yang menyita waktu.

Dzikir bersama seperti ini juga sangat dibutuhkan di tengah Muslim minoritas yang tidak pernah terdengar alunan murottal Al Quran. Bukan hanya sebagai bacaan yang menetramkan, tetapi ini juga sebagai bentuk pendidikan dan pengajaran kepada anak-anak tentang doa-doa harian yang mereka hafalkan. Salah satunya adalah doa untuk orangtua. Allahummaghfilii waliwalidayya warhamhumaa kamaa robbayaanii sghiiroo.

Khumaini Rosadi, anggota Tim Inti Dai dan Media Internasional (TIDIM) LDNU, dan Dai Ambassador Cordofa 2017 dengan penugasan ke Roma, Italia.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Internasional, Doa, Pahlawan Ustadz Felix Siaw

Rabu, 03 Agustus 2016

Media Islam Online Didorong Budayakan Tabayun

Jakarta, Ustadz Felix Siaw. Kurangnya validasi karena tuntutan kecepatan memproduksi berita berakibat informasi yang berkembang liar dan cenderung kurang dipertanggungjawabkan. Hal ini kerap ditemukan di media online, media sosial, dan kanal-kanal lain dengan berbagai bentuk konten sehingga langkah tabayun (cek kebenaran, konfirmasi) harus dibudayakan oleh insan media.

Hal ini mengemuka ketika Kepala Sub Bagian (Kasubag) Humas dan Layanan Informasi Kementerian Agama Muhammad Khoiron Dhoruri memberikan materi dalam kegiatan Workshop Penyusunan Standar Literasi Media Islam Online, Jumat (21/4) di Hotel Lumire, Jakarta Pusat.

Media Islam Online Didorong Budayakan Tabayun (Sumber Gambar : Nu Online)
Media Islam Online Didorong Budayakan Tabayun (Sumber Gambar : Nu Online)

Media Islam Online Didorong Budayakan Tabayun

Dia mencontohkan ketika kontroversi Qori dengan menggunakan langgam Jawa di Istana Negara mengemukan yang kemudian mendatangkan protes yang ditujukan kepada Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. Padahal menurutnya, membaca Al-Qur’am selama ini memang dibaca dengan berbagai langgam.

“Dalam hal ini, Pak Menteri berusaha menerapkan pemahaman agamanya. Pak Menteri juga sudah melakukan klarifikasi. Di sinilah tabayun menjadi lebih penting,” ujar Khoiron.

Menurut pria kelahiran Tegal, Jawa Tengah ini, kegiatan penyusunan standar literasi media Islam online ini penting, tidak hanya menyelaraskan pandangan berdasarkan pedoman literasi, tetapi juga menghadirkan konten-konten positif di dunia maya.

Ustadz Felix Siaw

“Sindikasi media itu penting, tetapi menurut saya yang selama ini berjalan justru penyeragaman informasi. Mestinya sindikasi media dimanfaatkan untuk memperkaya konten dalam artian positif,” jelasnya.

Dia juga mengimbau agar media Islam online yang tentu membawa ideologi agar tidak dibenturkan dengan keberagaman masyarakat dan bangsa. “Sebab jangan-jangan ideologi kita sendiri yang membatasi atau menutup diri dari keberagaman,” terang Khoiron.

Di akhir pemaparannya, Khoiron berharap, hasil dari pertemuan para pengelola dan jurnalis media Islam online ini ada kesepahaman bersama dalam menyusun standar literasi yang nantinya menjadi pedoman untuk mewujudkan persebaran informasi yang berimbang dan positif.

“Untuk tujuan itu, tentu Kemenag akan mendukung penuh,” tandas Khoiron. (Fathoni)?

Ustadz Felix Siaw

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Nahdlatul, Amalan, Pondok Pesantren Ustadz Felix Siaw

Selasa, 02 Agustus 2016

Kiat Pesantren Hadapi Tantangan Masa Depan

Lamongan, Ustadz Felix Siaw
Sebagai lembaga pendidikan klasik dan tertua di Indonesia, pesantren kini sedang mengalami tantangan yang berat. Pasalnya, pesantren tidak hanya dituntut dapat meningkatkan mutu pendidikan, tetapi juga harus mampu bersaing dalam bidang ekonomi dengan mengembangkan ekonomi berbasis pesantren.

Demikian disampaikan Ketua Umum Robithah Ma’ahid Islamiyah (RMI), KH. Mahmud Ali Zen saat menjadi pembicara dalam dalam seminar dengan tema “Pesantren dan Tantangan Masa Depan” yang diselenggarakan Ikatan Keluarga Besar Alumni Tarbiyatut Tholabah (IKBAL TABAH) di Auditorium Pondok Pesantren Tarbiyatut Tholabah, Rabu (10/11) kemarin.

Selain KH. Mahmud Ali Zen, hadir pula dalam seminar tersebut anggota DPR RI dari Fraksi Kebangkitan Bangsa (FKB) H. Taufikurrahman Saleh dan kandidat doktor dari Universitas Kebangsaan Malaysia Drs. Zaini Mahbub, M.Sc.

Menurut Kiai Mahmud – sapaan akrab KH. Mahmud Ali Zen – sistem yang dapat dipraktikkan oleh Pesantren di Indonesia adalah  sistem ekonomi syariah, sebagaimana diterapkan oleh Pesantren Sidogiri Pasuruan. Sistem tersebut dinilai paling cocok diterapkan, karena tidak bertentangan dengan syariat Islam. Pesantren Sidogiri yang menerapkan sistem tersebut terbukti telah mengalami perkembangan ekonomi yang sangat baik. “Pesantren bisa membangun ekonomi dan sistem yang diterapkan sesuai dengan syariat Islam,” paparnya kepada ratusan peserta seminar.

Dikatakannya, untuk membangun pendidikan pesantren yang bermutu serta mempunyai visi ekonomi dibutuhkan keteladanan para pimpinan pesantren. Sebab, Rasulullah sendiri selama hidup memimpin umatnya selalu memberikan contoh terlebih dahulu sebelum mengajak kepada kebaikan. “Rosulullah pada saat itu tidak hanya memberi konsep, tapi juga contoh,” jelasnya.

Kiai yang kini menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) ini menambahkan, jika ada kemauan dan tekad yang bulat, semua pesantren di Indonesia akan mampu membangun ekonomi yang kuat. Sebab, Allah pada dasarnya menciptakan manusia ini sebagai umat yang terbaik, termasuk masyarakat pesantren. “kalian bisa menjadi umat terbaik bagi manusia,” ungkapnya sambil mengutip salah satu ayat Al-Quran.

Sementara itu, anggota DPR RI H. Taufikurrahman Saleh memaparkan pentingnya reformasi di bidang pendidikan, karena hingga saat ini mutu pendidikan Indonesia masih tertinggal jauh dari negara-negara lain. Reformasi pendidikan, menurutnya, harus dilakukan jika bangsa Indonesia ingin mengejar ketertinggalan dari bangsa lain. “Kita ini belum melakukan reformasi pendidikan. Jadi, sebenarnya reformasi ekonomi kita belum, pendidikan juga belum,” kata mantan Ketua Komisi VI DPR RI yang membidangi pendidikan ini.

Putra Kiai Saleh ini menambahkan, pendidikan Indonesia selama ini belum mempunyai visi yang jelas, karena menyimpang dari fakta dan realita yang terjadi di masyarakat. Semakin banyaknya pengangguran disebabkan visi pendidikan yang belum jelas, sehingga dari tahun ke tahun angka pengangguran mengalami peningkatan. “kita itu masih mengajari anak-anak kita untuk belajar sekolah, bukan untuk hidup. Kalau dulu orang diajara cara menyuntik sapi, sekarang harus langsung praktek nyuntik,” ungkapnya.

Lantas, cara apa yang dapat dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan? Langkah yang dapat ditempuh untuk meningkatkan mutu pendidikan adalah reformasi kurikulum pendidikan, karena saat ini peserta didik ditunutut bisa belajar cepat. Reformasi tersebut harus dilakukan secara terus menerus karena kondisi masyarakat yang terus berubah dan berkembang sesuai dengan perkembangan zaman.

Selain itu, lanjutnya, peningkatan mutu pendidikan harus ditopang dengan tenaga pendidik yang berkualitas. Karena itu, pelatihan guru harus dilakukan secara terus menerus, sehingga guru benar-benar mampu mengemban tugas sebagai tenaga pendidik. “Guru harus berkualitas. Jadi mereka harus dilatih. Tapi jangan harap semua daerah itu sama. Itu harus disesuaikan dengan daerahnya,” ungkapnya.

Ditambahkanya, peningkatan mutu pendidikan memang masih menghadapi persoalan yang kompleks. Di samping menyangkut masalah dana, juga masalah sistem pendidikan, baik yang bersifat makro dalam arti pendidikan nasional secara keseluruhan, maupun mikro dalam arti sistem internal di masing-masing lembaga pendidikan. “Kualitas pendidikan juga ditentukan oleh metode, pola pengembangan serta atmosfer yang tumbuh berkembang dalam institusi pendidikan yang bersangkutan,” kata Taufik.(amh)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Pondok Pesantren Ustadz Felix Siaw

Kiat Pesantren Hadapi Tantangan Masa Depan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiat Pesantren Hadapi Tantangan Masa Depan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiat Pesantren Hadapi Tantangan Masa Depan

Astaghfirullah, Intoleransi Sesama Muslim Lebih Tinggi

Jakarta, Ustadz Felix Siaw. Survei yang dilakukan Wahid Foundation tahun 2016 menemukan fakta bahwa intoleransi yang dilakukan oleh umat Muslim kepada sesama Muslim yang berbeda kelompok, angkanya lebih tinggi dibandingkan intoleransi orang Muslim kepada non-Muslim. Intoleransi kepada non-Muslim sebanyak 38, 4 persen; sementara kepada sesama Muslim mencapai 49 persen.

Data juga diperkuat dengan temuan bahwa angka toleransi kepada non-Muslim mencapai 40, 4. Sementara angka toleransi kepada sesama Muslim hanya 0,6 persen.

Astaghfirullah, Intoleransi Sesama Muslim Lebih Tinggi (Sumber Gambar : Nu Online)
Astaghfirullah, Intoleransi Sesama Muslim Lebih Tinggi (Sumber Gambar : Nu Online)

Astaghfirullah, Intoleransi Sesama Muslim Lebih Tinggi

Demikianlah salah satu poin penting yang disampaikan pada Diskusi Terfokus (FGD) Pembahasan draft Rekomendasi Kebijakan dan Program Kontra Radikalisme, Kamis (16/11) di Jakarta.

Dalam kesempatan tersebut juga disampaikan Wahid Foundation melandaskan ukuran intoleransi dengan sikap-sikap antara lain penerimaan terhadap pendirian rumah ibadah, kegiatan keagamaan yang dilakukan penganut agama, dan penerimaan kepemimpian non-Muslim dalam pemerintahan.

Terkait dengan potensi radikalisme, Wahid Foundation mendapati 7,7 persen orang yang bersedia bertindak radikal; 0,4 persen melakukan tindak radikal; 19,9 persen tidak memilih sikap; dan 72 persen menolak tindakan radikal.?

Ustadz Felix Siaw

Kabar baiknya, pencegahan dan penanggulangan radikalisme terus menjadi isu prioritas di Indonesia. Radikalisme disadari sebagai ancaman serius bagi Indonesia yang ingin maju, demokratis, dan sejahtera.?

Hal itu tergambar antara lain dengan Detasemen Khusus (Densus) 88 sebagai ujung tombak Polri berhasil melemahkan jaringan terorisme dengan melumpuhkan aktor-aktor yang terlibat.

Ustadz Felix Siaw

Kemudian, melalui pemblokiran oleh Kemenkominfo dan investigasi ujaran kebencian oleh Polri, pemerintah juga berhasil memaksa pengelola situs-situs berkonten radiskalisme untuk berubah jadi lebih ‘lunak’.

Melalui BNPT, pemerintah juga sangat serius untuk melakukan deradikalisasi. Upaya tersebut mulai berbuah positif. Beberapa pelaku terorisme mengubah sikap ekstrim nya dan bahkan bersedia ambil bagian dalam mengkampanyekan kontra radikalisme ke masyarakat.

Sejak Januari 2017 Wahid Foundation mengimplementasikan Program Promosi Pluralisme dan Toleransi (Proposi) untuk memperkuat kerja sama masyarakat dengan negara dalam mencegah radikalisme dan terorisme.

Salah satu yang dilakukan dalam kerangka program Proporsi, adalah melakukan kajian terhadap program dan kebijakan pencegahan dan penanggulangan radikalisme dan terorisme yang telah dilakukan oleh pemerintah dan lembaga terkait. (Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Nasional, IMNU, Nahdlatul Ulama Ustadz Felix Siaw

Jumat, 29 Juli 2016

Ilmuwan Rusia Simpulkan Yasser Arafat Meninggal Alamiah

Moskow, Ustadz Felix Siaw. Mantan pemimpin Palestina Yasser Arafat meninggal dunia karena sebab alami, bukan karena racun radiasi, kata kepala forensik Rusia yang menyelidiki jenasah Arafat seperti dikutip kantor berita Interfax.

Ilmuwan Rusia Simpulkan Yasser Arafat Meninggal Alamiah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ilmuwan Rusia Simpulkan Yasser Arafat Meninggal Alamiah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ilmuwan Rusia Simpulkan Yasser Arafat Meninggal Alamiah

Kesimpulan Rusia ini bersesuaian dengan kesimpulan para pakar Prancis yang belum lama bulan ini bahwa Arafat, yang meninggal dunia pada 2004, tidak kehilangan nyawa akibat unsur radioaktif polonium.

"Yasser Arafat meninggal dunia bukan akibat radiasi namun karena sebab-sebab alami," kata Vladimir Uiba, kepala Biro Medis Biologi Federal  (FMBA).

Ustadz Felix Siaw

Arafat, yang menandatangani Perjanjian Damai Oslo 1993 Oslo dengan Israel meninggal dunia pada usia 75 tahun di sebuah rumah sakit Prancis, empat pekan setelah jatuh sakit setelah memakan daging di kediamannya di Ramallah yang dikepung tank-tank Israel.

Ustadz Felix Siaw

Waktu itu para dokter Prancis mengaku tak bisa menentukan penyebab sakitnya Arafat.

Tapi bulan lalu para pakar forensik Swiss mengumumkan bahwa setelah menguji sampel darah Arafat maka itu konsisten dengan polonium.

Sampel-sampel darah Arafat itu pada November 2012 dibawa oleh para pakar Swiss, Prancis dan Rusia, setelah video dokumenter Al Jazeera menyebutkan bahwa pakaian Arafat menunjukkan kandungan tinggi polonium, demikian Reuters. (antara/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Nasional, Kajian Sunnah, Ulama Ustadz Felix Siaw

Jumat, 22 Juli 2016

Doa dan Waktu yang Pas untuk Berjimak

Assalamu alaikum, alhamdulillah sekarang ada rubrik baru yg sangat bermanfaat. Saya mau nanya apa amalan yang disyariatkan oleh ulama Aswaja ketika sebelum melakukan jimak, ketika melakukannya dan setelah melakukannya, adakah doa-doa atau bacaan yang disyariatkan, agar dalam jimak mendapatkan pahala dan keutamaan yang lebih besar dan kapan waktu terbaik untuk jimak? Terima kasih. (Wahyudi Ariannor --Jl. Bina Murni, Loktabat Utara, Banjarbaru, Kalimantan Selatan)

?

Jawaban

Doa dan Waktu yang Pas untuk Berjimak (Sumber Gambar : Nu Online)
Doa dan Waktu yang Pas untuk Berjimak (Sumber Gambar : Nu Online)

Doa dan Waktu yang Pas untuk Berjimak

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Bahwa bagi suami istri berjimak adalah sebuah kebutuhan yang mendasar. Sebagai sebuah kebutuhan yang mendasar maka terdapat beberapa amalan yang sebaiknya dilakukan baik sebelum melakukannya, sedang maupun sesudahnya. Sedang mengenai waktu berjimak, karenan keterbatasan yang ada kami hanya menjelaskan secara singkat. Dan insya Allah akan kami jelaskan lebih detail lagi pada kesempatan yang lain.? ? ? ? ? ?

Amalan yang sebaiknya dilakukan sebelum memulai jimak adalah sebagai berikut:

Disunnahkan untuk membaca bismillah Membaca surat Al-Ikhlash Membaca takbir dan tahlil (Allohu akbar, Laailaha illalloh) 4.? ? ? ? ? Membaca doa: Bismillahil-‘aliyy al-azhim. Allahumma ij`alhâ dzurriyatan thayyibah, in kunta qaddarta an tukhrija dzâlika min shulbi. Allahumma jannibni asy-syaithân wa jannib asy-syaithân mâ razaqtanâ. (Redaksi Arabnya seperti dalam penjelasan al-Ghaali di bawah) Memakai penutup atau selimut, dan jangan melakukan jimak dengan telanjang bulat Memulai dengan cumbu-rayu dan ciuman ?

Amalan ketika sedang jimak:

Ustadz Felix Siaw

Hindari untuk mengadap kearah kiblat Hindari terlalu banyak pembicaraan 3.? ? ? ? ? Ketika istri menjelang orgasme, maka suami mengatakan dalam hati: Alhamdulillahil-ladzi khalaqa minal-mâ` basyara faja’alahu nasaban wa shahra wa kana rabbuka qodîra. Usahakan untuk keluar bersama-sama, karenanya pihak lelaki jangan terburu-buru untuk segera mentuntaskan permainan sebelum pihak perempuan mencapai orgasme. Dan jika ingin mengulangi jimak yang kedua maka sebaiknya membersihkan atau mencuci terlebih dahulu kemaluannya. Demikian itu sebagaimana dikemukakan oleh Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya` ‘Ulumiddin:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.... ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (? ? ? ? ? ? ?-? ? ? 1385 ?/1936? ? 2? ?. 51? 52

“Dan disunnahkan memulai dengan membaca bismillah. Selanjutnya diawali dengan membaca Qul huwallahu ahad, membaca takbir, lalu membaca doa: Bismillah al-‘aliy al-‘azhîm allahumma ij’alha dzurriyatan thayyibah in kunta qaddarta an tukhrija dzalika min shulbi. Rasulullah saw bersabda, jika salah satu di antara kalian mendatangi isterimu maka berdoalah, allahumma jannibnisy-syaithân wa jannibisy-syaithân ma razaqtana, karena apabila (hubungan badan) di antara keduanya menghasilkan anak maka syaitan tidak akan menggangunya. Dan apabila si istri menjelang orgasme, maka bacalah dalam hatimu dan jangan gerakkan kedua bibirmu: Alhamdulillahil ladzi khalaqa minal-mâ`i basyaran fa ja’alahu nasaban wa shahran wa kâna rabbuka qadîran. Dan sebagian ashab al-hadîts bertakbir sampai seiisi rumah mendengarnya. Kemudian berpaling dari kiblat dan tidak menghadap kiblat ketika jimak karena untuk memuliakan kiblat. Dan hendaknya (suami) menutupi dirinya dan istrinya dengan kain (tsaub). Rasulullah saw menutupi kepalanya dan memelankan suaranya sembari berkata kepada istrinya, tenanglah. Bila salah satu dari kalian berhubungan badan dengan istrinya maka jangan keduanya bertelanjang bulat seperti halnya dua keledai. Dan (sebelum berhubungan badan) hendaknya didahului dengan cumbu-rayu dan ciuman. Rasulullah saw bersabda: Janganlah salah satu di antara kalian menyetubuhi isitrinya sebagaimana persetubuhan hewan, dan hendaknya di antara keduanya ada perantara. Lantas ditanyakan (kepada beliau), apa itu perantara wahai Rasulullah saw, beliau-pun menjawab, ciuman dan cumbu-rayu….kemudian ketika suami mengalami orgasme maka hantarkan sang istri secara perlahan-lahan sampai ia juga mengalami orgasme. (Abu Hamid al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, Mesir-Mushthafa al-Babi al-Halabi, 1358 H/1939 M, juz, 2, h. 51, 52) ? ? ? ? ? ? ?

Ustadz Felix Siaw

Lebih lanjut menurut Imam al-Ghazali, jika ingin mengulangi jimak yang kedua maka sebaiknya membersihkan atau mencuci terlebih dahulu kemaluannya. Setelah berjimak segeralah mandi junub, namun apabila ingin langsung tidur atau makan maka lakukan wudlu terlebih dahulu. (Abu Hamid al-Ghazalim Ihya` ‘Ulumiddin, juz, 2, h. 52)

Selanjutnya mengenai waktu yang pas untuk berjimak, menurut Imam al-Ghazali, sebaiknya jimak dilakukan setiap empat hari sekali, atau tergantung kebutuhan. Sebagian ulama ada yang mensunnahkan pada hari Jum’at. Dan dimakruhkan berjimak pada awal bulan, tengah, dan akhir bulan. Bagitu juga dimakruhkan berjimak pada awal malam. ? Hal ini sebagaimana dikemukan oleh Imam al-Ghazali:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?…. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?… ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?..... ? ? ? ? ? ? ? ? ? ....? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (? ? ? ? ? ? ?-? ? ? 1385 ?/1936? ? 2? ?. 52)

“Dan sebaiknya suami mendatangi istirinya empat hari sekali. Dan ini adalah yang paling ideal karena jumlah maksimal perempuan (yang boleh dinikahi) itu empat. Selanjutnya boleh juga mengakhirkan sampai batas ini, bisa sebaiknya menambah atau mengurangi sesuai dengan kebutuhan istri dalam tahshîn….dan dimakruhkan bagi suami untuk berjimak pada tiga malam dari satu bulan yaitu pada awal bulan, akhir, dan tengah bulan. Dikatakan: Sesungguhnya syaitan akan menghadiri jimak yang dilakukan pada malam-malam ini…Sebagian ulama ada yang mensunnahkan jimak pada hari dan malam jumat sebagai hasil tahqiq terhadap salah satu dari dua ta’wil dari sabda Rasulullah saw: Allah akan merahmati orang mencuci dan mandi (pada hari jumat)….Dan jika suami ingin berhubungan badan dengan istrinya untuk yang kedua kali maka hendaknya ia mencuci kemaluannya….dan dimakruhkan berjimak pada awal malam sampai ia tidak tidur kecuali dalam kondisi tidak suci, maka jika ingin tidur atau makan hendaknya ia melakukan wudlu sebagaimana wudlu untuk shalat. Demikian ini hukumnya sunnah. (Abu Hamid al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, Mesir-Mushthafa al-Babi al-Halabi, 1358 H/1939 M, juz, 2, h. 51, 52)

? Demikian jawaban yang dapat kami sampaikan, semoga bisa menjadi panduan yang bermanfaat. (Mahbub Ma’afi Ramdlan)

?

?

?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Doa, Nasional, Quote Ustadz Felix Siaw