Sabtu, 19 November 2011

Ini Amalan Salafus Saleh di Bulan Sya’ban

Orang-orang saleh terdahulu membaca Al-Quran lebih banyak pada bulan Sya‘ban. Kebiasaan mereka kemudian ditandai oleh masyarakat. Tidak heran kalau masyarakat menamai bulan Sya‘ban sebagai “bulan para pembaca Al-Quran” dan “bulan Al-Quran”.

Bahkan Amr bin Qais Al-Mala’i menghentikan aktivitas bisnisnya di bulan Sya‘ban hanya untuk meluangkan waktu untuk tadarus Al-Quran.

Ini Amalan Salafus Saleh di Bulan Sya’ban (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Amalan Salafus Saleh di Bulan Sya’ban (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Amalan Salafus Saleh di Bulan Sya’ban

Betul bahwa tadarus Al-Quran dianjurkan di setiap bulan. Hanya saja tadarus sangat dianjurkan pada bulan-bulan penuh berkah seperti Sya‘ban atau Ramadhan; atau di tempat-tempat mulia seperti di kota Mekkah, Raudhah, dan tempat-tempat mulia lainnya.

Hasan bin Sahal meriwayatkan bahwa bulan Sya‘ban bertanya kepada Allah, mengapa ia ditempatkan di antara dua bulan agung, yaitu Rajab dan Ramadhan? “Aku menjadikanmu sebagai bulan untuk umat-Ku bertadarus,” jawab Allah SWT.

Ustadz Felix Siaw

Selain tadarus, umat Islam juga dianjurkan untuk banyak bersedekah kepada kalangan dhuafa. Hal ini dimaksudkan agar kelompok penghasilan rendah dan tidak menentu dapat menyambut gembira bulan puasa sebagaimana umat Islam menengah ke atas.

Ustadz Felix Siaw

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahumullah mengatakan, ‘Kami menerima riwayat dengan sanad dhaif dari Anas RA yang mengatakan bahwa ketika masuk bulan Sya‘ban umat Islam tertunduk pada mushaf Al-Quran. Mereka menyibukkan diri dengan tadarus dan mengeluarkan harta mereka untuk membantu kelompok dhuafa dan orang-orang miskin dalam menyongsong bulan Ramadhan,” (Lihat Sayyid Muhammad bin Alwi bin Abbas Al-Maliki, Ma Dza fi Sya‘ban?, cetakan pertama, 1424 H, halaman 44).

Tampaknya dua amalan utama salafus saleh di bulan Sya‘ban perlu dihidupkan kembali di tengah masyarakat sekarang. Keduanya masih relevan untuk saat ini. Keduanya merupakan ibadah yang mencakup aspek ritual dan sosial. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Aswaja, News, Hikmah Ustadz Felix Siaw

Rabu, 09 November 2011

HIPSI Berdakwah Lewat Wirausaha

Cirebon, Ustadz Felix Siaw. HIPSI atau Himpunan Pengusaha Santri Indonesia, sebuah lembaga yang dibentuk di bawah Rabithah al-Maahid al-Islamiyyah (RMI) atau asosiasi pesantren se-Indonesia, menempuh jalur dakwah lewat jalur wirausaha. Menurut HIPSI, nilai-nilai kejujuran dan kerja keras bisa didakwahkan lewat entrepreneurship.

HIPSI Berdakwah Lewat Wirausaha (Sumber Gambar : Nu Online)
HIPSI Berdakwah Lewat Wirausaha (Sumber Gambar : Nu Online)

HIPSI Berdakwah Lewat Wirausaha

Demikian disampaikan Mohammad Gozali, Ketua Umum HIPSI, di sela Munas-Konbes NU 2012 di Pondok Pesantren Kempek, Cirebon, Senin (17/9) lalu.

“Dakwah selalu diidentikkan dengan penyampaian ajaran Islam lewat kata-kata di forum-forum pengajian atau di tempat-tempat ibadah. Padahal Nabi Muhammad SAW melakukan dakwah lewat berbagai media yang hasilnya juga tak kalah efektif dibandingkan dengan kata-kata, yakni "bilhal" atau perbuatan, khususnya perdagangan,” katanya.

Ustadz Felix Siaw

HIPSI  menjadi institusi yang bukan menciptakan calon pencari kerja, tapi kader pesantren yang mampu menciptakan peluang pekerjaan dan menyerap tenaga kerja sebanyak mungkin serta menciptakan pengusaha baru kreatif dan inovatif

HIPSI yang didirikan di Pesantren Al-Yasini Pasuruan ini juga sudah dideklarasikan di sejumlah daerah, seperti Jatim, Jateng, Kalimantan dan Palembang. Sejumlah provinsi lain seperti Jabar berikut DKI menjadi target berikutnya. 

Ustadz Felix Siaw

Menurut Gozali, seminar dan deklarasi HIPSI sudah dilakukan kepada santri dari ratusan, salah satunya di  pesantren Alqurthuby Bondowoso, dikumpulkan 300-an santri yang dididik targetnya agar mereka memiliki jiwa wirausaha. Diharapkan mereka setelah lulus dari pesantren, tidak lagi bingung mencari, melainkan justru bisa membuka lapangan pekerjaan.

HIPSI berdiri awal 2012, tepatnya bulan Februari. Waktu itu sekitar 2008 dirinya dan beberapa teman santri, sudah gandrung berbicara tentang bisnis. Melihat semangat sekelompok  anak muda itu, maka RMI mengakomodasinya dalam sebuah lembaga resmi, maka berdirilah HIPSI.

RMI membawahi 23.000 pondok pesantren se-Indonesia, tapi rata-rata, mereka ini lebih fokus ke ilmu agama jarang sekali yang menyentuh ekonomi. Secara legalitasnya HIPSI di bawah RMI atau menginduk ke RMI, organisasi pondok pesantren di bawah NU itu memiliki misi menjadi wadah pengembangan pendidikan wirausaha santri yang mandiri. 

Mochammad Ghozali menegaskan, target ke depan HIPSI menjadi organisasi wadah pengkaderan pengusaha  dan jejaring ekonomi di kalangan nahdiyyin. Beralamat kantor di Jl Kayun 38-40 Surabaya, sampai saat ini telah memiliki hampir 1000-an santri pengusaha anggota yang tersebar merata di Jawa Timur dan beberapa di daerah lain. 

Menurutnya, HIPSI yang berada di bawah RMI sebagai organisasi pondok pesantren di bawah NU itu memiliki misi menjadi wadah pengembangan pendidikan wirausaha santri yang mandiri, Targetnya 1 juta pengusaha santri dalam 10 tahun kedepan.

Misi lainnya adalah menyinergikan kekuatan ekonomi santri di seluruh Indonesia serta pemberdayaan ekonomi masyarakat.

"Dakwah secara umum sudah banyak dilakukan oleh para tokoh, tapi dakwah lewat perdagangan ini yang masih terbilang jarang disentuh bahkan diabaikan. Padahal Nabi dulu juga berdagang dan itu bagian dari dakwah beliau," kata Gozali.

Sekretaris Pengurus Pusat RMI Miftah Fakih, dihubungi Ustadz Felix Siaw mengatakan, HIPSI diharapkan menjadi wadah untuk memunculkan sebanyak mungkin pengusaha dari kalangan pesantren. 

“RMI sudah berpesan bahwa HIPSI ini anggotanya harus NU atau warga pesantren, lebih khusus lagi harus punya background pesantren atau pernah nyantri di pesantren,” katanya. 

Redaktur: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Nahdlatul Ulama, IMNU, AlaNu Ustadz Felix Siaw