Jumat, 28 April 2017

Pelajar NU Sorong Perlu Perhatian Khusus

Sorong, Ustadz Felix Siaw. Ketua PCNU Sorong, Papua Barat Nahrowiyanto menyatakan IPNU-IPPNU Sorong memerlukan perhatian khusus terutama perihal kaderisasi. Ia menyoroti tepatnya pada minusnya fasilitator kaderisasi yang mumpuni.

Nahrowiyanto memaklumi kekurangan demikian mengingat keberadaan IPNU-IPPNU di Indonesia bagian timur. Keterbatasan jarak ini menjadi satu dari sekian banyak faktor.

Pelajar NU Sorong Perlu Perhatian Khusus (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Sorong Perlu Perhatian Khusus (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Sorong Perlu Perhatian Khusus

“Minimnya fasilitator menjadi ‘PR’ berat pengurus baru IPNU-IPPNU Sorong untuk mengimplementasikan proses pengaderan yang sistematis,” terang Nahrowiyanto saat sambutan konfercab III IPNU-IPPNU Sorong di gedung LPTQ, Ahad (16/2).

Ustadz Felix Siaw

Nahrowiyanto meminta PP IPNU dan PP IPPNU untuk menyentuh langsung pelajar NU Sorong dan membenahi kinerja organisasi melalui berbagai diklat kader.

Dengan segala keterbatasan, ia mengharapkan pengurus baru PC IPNU-IPPNU Sorong melahirkan pemimpin amanah, mandiri, dan bertanggung jawab dengan prinsip belajar, berjuang, dan bertakwa. (Zaenal Arifin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw

Ustadz Felix Siaw Bahtsul Masail Ustadz Felix Siaw

Minggu, 23 April 2017

17 Penghafal Quran Pesantren Yanbu Diwisuda

Kudus, Ustadz Felix Siaw. Keceriaan terlihat dari wajah 17 santri Pesantren Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Desa Krandon, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Pada Senin (10/6) lalu, mereka diwisuda sebagai  tanda lulus menghafal Al-Quran 30 juz pada haflatul hidzaq.

Haflatul Hidzaq (wisuda) dibuka pengasuh Pesantren Yanbuul Quran KH Ulil Albab Arwani, sementara doa dan pemberian sanad kepada khotimin (santri yang sudah khatam menghafal) diserahkan langsung oleh KH Mc Ulinnuha Arwani. Acara dihadiri para orang tua dan disaksikan para kiai, antara lain KH Arifin Fanani, KH Mashum AK, dan KH Munfaat.

17 Penghafal Quran Pesantren Yanbu Diwisuda (Sumber Gambar : Nu Online)
17 Penghafal Quran Pesantren Yanbu Diwisuda (Sumber Gambar : Nu Online)

17 Penghafal Quran Pesantren Yanbu Diwisuda

Pimpinan Pesantren Yanbuul Quran KH A Ainun Naim dalam sambutannya memberikan apresiasi atas jerih-payah dan kesungguhan para santrinya dalam menghafal al-Quran selama di pesantren, “Para khotimin patut bersyukur atas rahmat yang diberikan Allah SWT. Namun ini masih permulaan,” katanya.

Ustadz Felix Siaw

Ainun Naim berpesan supaya para santri ke depan tetap giat belajar dan mengaji, agar hafalannya semakin baik. Tidak sekadar baik dalam bacaan (tahsin tilawah), tetapi sesuai dengan tahsin dalam aturan membacanya, seperti baik tajwidnya.

Ustadz Felix Siaw

"Yang terpenting, apapun cita-cita panjenengan semua, tetaplah menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman dan menjadi generasi Qurani yang berpegang teguh pada nilai-nilai dan ajaran Al-Quran, tuturnya.

 

Redaktur: Abdullah Alawi

Kontributor : Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Sejarah, Sholawat Ustadz Felix Siaw

Kepengurusan GP Ansor Kota Kraksaan Dilantik

Probolinggo, Ustadz Felix Siaw. Kepengurusan GP Ansor Kota Kraksaan Kabupaten Probolinggo masa khidmah 2014-2018 resmi dilantik di Gedung Islamic Center (GIC) Kota Kraksaan, Kamis (7/1). Pelantikan ini dipimpin langsung oleh Wakil Ketum GP Ansor Aam Khoirul Amri.

Kepengurusan GP Ansor Kota Kraksaan Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)
Kepengurusan GP Ansor Kota Kraksaan Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)

Kepengurusan GP Ansor Kota Kraksaan Dilantik

Pengurus GP Ansor Kota Kraksaan ini dilantik berdasarkan Surat Keputusan PP GP Ansor Nomor : 115/PP/SK-01/IV/2015 Tentang Pengesahan Pengurus GP Ansor Kota Kraksaan masa khidmah 2014-2018.

Selain Aam Khoirul Amri, pelantikan pengurus GP Ansor Kota Kraksaan ini dihadiri oleh Bupati Probolinggo Hj Puput Tantriana Sari, Mustasyar PCNU Kota Kraksaan H Hasan Aminuddin, Wakil Ketum GP Ansor yang juga Komandan Satkornas Banser Alfa Isnaeni dan sejumlah Kepala SKPD, camat serta para pengurus GP Ansor se-Cabang Kota Kraksan.

Ustadz Felix Siaw

Hj Puput Tantriana menyampaikan ucapan selamat dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas pelantikan para pengurus GP Ansor Kota Kraksaan dengan harapan mampu menggerakkan peran para pemuda.

“GP Ansor adalah mitra dari Pemerintah Daerah. Tentunya saya mengajak jajaran pengurus yang berangkat dari beragam latar belakang profesi ini mampu menciptakan kebersaman dan harmoni yang luar biasa yang mampu memberikan masukan positif kepada pemerintah daerah,” ujarnya.

Ustadz Felix Siaw

Menurut Tantri, Pemerintah Daerah akan terus memberikan dukungan kepada GP Ansor dan organisasi apapun yang terbukti memberikan dampak kepada masyarakat. “Semoga awal tahun ini mampu memberikan semangat baru kepada pemuda Ansor untuk berbuat di tengah-tengah masyarakat,” jelasnya.

Sementara Alfa mengharapkan kepengurusan GP Ansor Kota Kraksaan bisa melaksanakan program sesuai dengan harapan pemuda. Tentunya dengan adanya keterlibatan dari semua pengurus, termasuk Banser.

Menurut Alfa, masa kepengurusan Banser tidak sama dengan GP Ansor. Meskipun kepengurusan GP Ansor sudah habis, Banser masih bisa bekerja sampai dicabut SK-nya. Demikian pula Satkorcab Banser, tidak bisa dipilih oleh ketua terpilih. Tetapi diusulkan oleh pengurus harian kepada Satkorwil Banser. Setidaknya ada tiga nama yang diusulkan untuk bisa disetujui oleh Satkorwil Banser.

“Semoga keberadaan Banser bisa semakin baik, walaupun terkadang tidak ada dukungan dari APBD. Kami berharap, kader Banser yang ada di Jawa Timur bisa didorong ke Kornas Banser. Sebab Jawa Timur adalah penyumbang terbesar anggota Banser,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Nasional, Sholawat Ustadz Felix Siaw

Sabtu, 22 April 2017

Ketum IPNU: Tugas Kami Menyiapkan Kayu

Jakarta, Ustadz Felix Siaw. Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Khaerul Anam Hs mengatakan, tugas organisasi yang sekarang dipimpinnya adalah menyiapkan kayu pilihan, sementara NU bertugas membentuknya.

“Tinggal mau dijadikan apa kayu-kayu itu, itu tugas NU. NU mau menjadikannya apa, terserah,” katanya pada sambutan peringatan Hari Lahir (harlah) ke-60 IPNU di aula Perpustakaan Nasional, Jakarta (24/2).

Ketum IPNU: Tugas Kami Menyiapkan Kayu (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketum IPNU: Tugas Kami Menyiapkan Kayu (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketum IPNU: Tugas Kami Menyiapkan Kayu

Kayu-kayu itu, ketua umum kelahiran Sulawesi Selatan itu mengibaratkan, bisa dijadikan kursi, lemari atau yang lainnya.

Ustadz Felix Siaw

Pernyataan Khaerul Anam diamini oleh salah seorang mantan Ketua Umum IPNU KH Asnawi Latif yang disampaikan kepada Ustadz Felix Siaw selepas acara. “Betul itu apa yang dikatakan ketua umum tadi, IPNU kayu, bahan bakar,” katanya.

Ustadz Felix Siaw

Menurut dia, dengan pengibaratan itu, IPNU berarti adalah organisasi pengkaderan untuk mempersiapkan kepemimpinan NU. Supaya pemimpin NU itu ke depan tidak karbitan, “Tahu-tahu sudah ada menclok aja di PBNU, tanpa ada kaderisasi di IPNU,” katanya.

Ia menambahkan, bukan tidak boleh orang masuk NU, tapi jangan langsung jadi pemimpin di Pengurus Besar. Sebab, kata dia, hal itu bisa mematikan kaderisasi. “Itu preseden buruk. Apa gunanya kaderisasi? Akhirnya kader-kader terbaik lari kemana-mana,” tegasnya.

Harlah bertema “60 Tahun Berkhidmah untuk Indonesia” tersebut mendaulat Wamenhan RI Sjafrie Sjamsoeddin dan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj untuk menyampaikan pidato. Selain itu, PP IPNU juga memberikan plakat penghargaan atas jasa mantan-mantan Ketua Umum IPNU. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Tegal, Sejarah, Aswaja Ustadz Felix Siaw

Jumat, 14 April 2017

Jangan Hanya Mementingkan Sekolah Formal

Rembang, Ustadz Felix Siaw. Seiring dikesampingkannya pendidikan non-formal dalam hal ini sebagai benteng generasi muda oleh sebagian orang tua, membuat Rais MWCNU Kaliori KH Mustain angkat bicara. Ia menyatakan, masyarakat jangan memprioritaskan sekolah formal saja, tetapi setidaknya mengmibangi pendidikan karakter dengan pendidikan keagamaan Islam seperti di pondok pesantren dan madrasah diniyah.?

Jangan Hanya Mementingkan Sekolah Formal (Sumber Gambar : Nu Online)
Jangan Hanya Mementingkan Sekolah Formal (Sumber Gambar : Nu Online)

Jangan Hanya Mementingkan Sekolah Formal

Kiai Mustain menganjurkan, sebagaimana ulama terdahulu agar senantiasa memperhatikan hal yang berkaitan dengan ilmu dan akhlak. Sebagaimana orang terdahulu, lanjut Kiai Mustain, contoh seperti Imam Abu Hanifah, Imam Syafii, Imam Malik, dan Imam Ibnu Hambal mereka semua merupakan orang terpandang dihadapan manusia dan Allah SWT.?

"Tidak cukup dengan bersantai-santai bisa menjadi orang yang berilmu. Para ulama banyak mengarang kitab, untuk memacu para santri dalam hal ilmu. Maka di pesantren ada kitab yang namanya Talimul Mutaalim,” jelasnya.

Sebagaimana sabda Nabi, kata Kiai Mustain, barang siapa yang ingin dunia maka harus dengan ilmu, dan barang siapa yang ingin akhirat maka juga harus dengan berilmu. Ia menambahkan, kita terlambat dalam mencari ilmu. Jangan orang yang iri ketika melihat kesuksesan orang, baru kita ingin belajar. Orang ini masuk dalam kategori orang yang terlambat.

Dia mengaku prihatin dengan kondisi saat ini, banyak orang tua yang mengedepankan sekolah formal, dibandingkan dengan pendidikan pesantren dan madrasah diniyah. Demi pelajaran di sekolah umum, orang tua rela mencari seorang guru yang ahli dibidangnya. Bukan hanya itu saja, kata Kiai Mustain, orang tua pun rela antar jemput. Hal ini bertolak belakang jika orang tua berbicara dengan ngaji dan madrasah diniyah, banyak orang tua yang acuh dalam hal ini.

Ustadz Felix Siaw

Dia menandaskan, pesantren merupakan lembaga pendidikan yang paling profesional dalam hal mendidik. Sebabnya, semua guru yang mengajar dipastikan sudah lebih dahulu melakukan apa yang diajarkan. Meski tidak bisa dipungkiri, sekola umum dinilai penting sebagai perimbangan. (Ahmad Asmui/Fathoni)

Ustadz Felix Siaw

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Pesantren Ustadz Felix Siaw

Kamis, 13 April 2017

Konferensi Internasional Cendekiawan Muslim Siap Digelar

Jakarta, Ustadz Felix Siaw
Konferensi Internasional Cendekiawan Muslim (International Conference of Islamic Scholars-ICIS II) siap digelar.

Perdana Menteri Malaysia Abdullah Ahmad Badawi dan Raja Yordania Abdullah II, sudah menyatakan kesiapannya untuk hadir pada hajatan besar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang akan digelar 20-22 Juni mendatang di Hotel Borobudur, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta.

Kepastian itu didapat sebagaimana disampaikan oleh Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi dalam jumpa pers di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Senin (12/6)

PBNU, ungkap Hasyim, juga telah mengundang Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa (EU) Javier Solana dan pemimpin tertinggi umat Katolik sedunia. “Kita juga telah mengundang Vatikan (Paus Benediktus XVI). Namun sampai sekarang belum ada jawaban, mudah-mudahan besok sudah ada jawaban,“ ungkapnya.

Selain itu, imbuh Hasyim, hampir seluruh peserta dari luar negeri juga sudah menyatakan siap untuk hadir pada acara tersebut. “Dari 57 negara yang kita undang, 53 negara sudah menyatakan siap hadir,“ terangnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Panitia Pelaksana ICIS II, Rozy Munir mengungkapkan bahwa konferensi internasional tersebut akan di buka langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yodhoyono (SBY).

“Presiden (SBY) menyatakan akan membuka acara ini. Hal itu terungkap saat kita (PBNU) mengadakan audiensi dengan beliau beberapa waktu lalu,“ terang Rozy.

Redakan Konflik Timur-Barat

Menurut Hasyim, agenda utama dari ICIS II adalah membahas upaya peredaan konflik antara dunia Timur dan Barat.

Konflik antara Timur dan Barat, tegas Hasyim, bukanlah konflik agama, sebagaimana hal itu dipahami selama ini. “Konflik Timur dan Barat itu adalah konflik hegemoni politik dan ekonomi dari Barat, bukan konflik agama,” tegasnya.

Mantan Ketua Pengurus Wilayah NU Jawa Timur ini menambahkan, persoalan ketegangan di antara sesama umat Islam, baik di Indonesia maupun di luar negeri, juga akan menjadi perhatian dalam konferensi yang akan diikuti sekitar 300 peserta ini.

“Konflik antara Hamas dan Fatah di Palestina, Syiah dan Sunni di Iran, dan lain sebagainya juga akan dibahas,“ terang Hasyim.

Akomodir Semua Madzhab

Penyelenggaraan ICIS, kata Hasyim, berbeda dengan konferensi semacamnya. ICIS, menurutnya, akan mengakomodir semua madzhab di dalam Islam. “Kalau konferensi lainnya hanya berkutat pada satu madzhab saja, maka di ICIS ini semua madzhab kita undang, asalkan bisa berpikir moderat,“ terangnya.

Tak hanya itu. Pesertanya pun merupakan perwakilan dari ulama atau cendikiawan dari masing-masing negara. “Pesertanya adalah ulama yang muktabar atau yang signifikan untuk mengikuti konferensi ini,“ ujarnya. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Nusantara Ustadz Felix Siaw

Konferensi Internasional Cendekiawan Muslim Siap Digelar (Sumber Gambar : Nu Online)
Konferensi Internasional Cendekiawan Muslim Siap Digelar (Sumber Gambar : Nu Online)

Konferensi Internasional Cendekiawan Muslim Siap Digelar

Rabu, 12 April 2017

Kampanye Aswaja, IPNU-IPPNU Minahasa Rekrut Puluhan Pelajar dan Remaja Masjid

Minahasa, Ustadz Felix Siaw - Pengurus Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Minahasa menggalang anggota baru melalui Makesta yang melibatkan puluhan pelajar dan remaja masjid di Kecamatan Romboken Kabupaten Minahasa. Mereka mendidik anggota baru berkaitan dengan pandangan-pandangan Islam rahmatan lil alamin dan Ke-NU-an di SMAN 01 Romboken, akhir pekan, Sabtu-Ahad (23-24/4).

Rekrutmen ini dilakukan sebagai bagian dari usaha menciptakan kader-kader muda NU serta sebagai bagian dari kampanye Islam yang berlandaskan paham Ahlussunah wal Jamaah. Sebelumnya pelajar NU Minahasa merekrut puluhan anggota baru di Kecamatan Tondano Selatan pada bulan lalu.

Kampanye Aswaja, IPNU-IPPNU Minahasa Rekrut Puluhan Pelajar dan Remaja Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
Kampanye Aswaja, IPNU-IPPNU Minahasa Rekrut Puluhan Pelajar dan Remaja Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

Kampanye Aswaja, IPNU-IPPNU Minahasa Rekrut Puluhan Pelajar dan Remaja Masjid

Pembina SMAN 01 Romboken Muhammad Alwan meminta agar kegiatan-kegiatan IPNU-IPPNU Minahasa ini tidak hanya berhenti pada kegiatan Makesta.

Sementara Pembina IPNU-IPPNU Minahasa yang diwakili oleh H Syafaruddin Madeppungan menyampaikan apresiasi yang sangat besar terhadap gerakan kaderisasi IPNU-IPPNU Minahasa.

Ustadz Felix Siaw

Kegiatan yang bertema Mendidik Generasi, Mempererat Silaturahmi, Menjaga Keutuhan Bangsa ini diharapkan dapat memunculkan kader yang berkarakter, berilmu serta mampu membentengi generasi muda NU dari paham-paham radikal.

Ustadz Felix Siaw

Ketua IPPNU Minahasa Putri Intan Permatasari Van Gobel mengatakan bahwa dalam dua hari ini peserta Makesta dibekali dengan materi-materi standar kaderisasi seperti Ke-NU-an, managemen organisasi, analisa diri, dan materi kepemimpinan.

"Untuk menjaga silaturrahmi dengan anggota serta pendalaman ilmu dan pengetahuan, IPNU-IPPNU Minahasa akan menggelar diskusi rutin tiap pekan,” kata Putri. (Lian Van Gobel/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Cerita, Berita Ustadz Felix Siaw

Minggu, 09 April 2017

Ansor Pekalongan Adakan Pelatihan Nonlitigasi Permasalahan Hukum

Pekalongan, Ustadz Felix Siaw. Pimpinan Cabang GP Ansor Kabupaten Pekalongan menggelar Karya Latihan Bantuan Hukum (Kalabahu) Nonlitigasi di Bumi Perkemahan Linggoasri Kabupaten Pekalongan Jumat-Sabtu, 22-23 Desember 2017.

Kegiatan juga dirangkai dengan peluncuran Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Ansor Kabupaten Pekalongan.

Ansor Pekalongan Adakan Pelatihan Nonlitigasi Permasalahan Hukum (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Pekalongan Adakan Pelatihan Nonlitigasi Permasalahan Hukum (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Pekalongan Adakan Pelatihan Nonlitigasi Permasalahan Hukum

 

M Azmi Fahmi, Ketua PC GP Ansor Kabupaten Pekalongan mengungkapkan, kegiatan ini sebagai bentuk penguatan kapasitas kader-kader GP Ansor yang bergerak di LBH Ansor.

Ustadz Felix Siaw

"Sebagaimana kita ketahui, tidak jarang Nahdliyin dan anggota Ansor Banser yang menghadapi masalah hukum. GP Ansor melalui LBH Ansor hadir untuk memberikan advokasi dan bantuan hukum," tuturnya.

Ustadz Felix Siaw

Sementara itu, Kabag Hukum Setda Kabupaten Pekalongan, Agus Pranoto mengapresiasi Kalabahu ini. 

"Kegiatan Kalabahu ini sangat bagus mengingat aturan dan persoalan hukum sangat dinamis, regulasi berubah dengan sangat cepat yang menuntut setiap orang untuk bisa memahami dengan cepat pula," kata dia.

Ia berharap kader-kader Ansor dapat menyikapi permasalahan hukum dengan pendekatan nonlitigasi sehingga tidak setiap persoalan hukum dibawa ke pengadilan.

"Karena di samping prosesnya memakan waktu, juga menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Dengan pendekatan negosiasi ataupun arbitrase persoalan hukum dapat diselesaikan dengan lebih baik," tandasnya.

Pemerintah Kabupaten Pekalongan turut menyambut baik peluncuran dan pengukuhan LBH Ansor.

Nantinya LBH Ansor bisa bersinergi karena di Pemkab juga ada program bantuan hukum untuk masyarakat yang tidak mampu yang sedang menghadapi permasalahan hukum.

Selama kegiatan peserta dibekali materi penguatan kapasitas dan praktik advokasi nonlitigasi yang disampaikan para pejabat, praktisi dan akademisi. Salah satu narasumber adalah Anggota DPR RI Komisi III, yang juga Ketua Peradi Kabupaten Pekalongan H Arsul Sani.

Turut hadir dalam pembukaan Kasatreskrim Polres Pekalongan, Agung Ariyanto; Pengurus Peradi Kabupaten Pekalongan; serta jajaran pengurus GP Ansor Kabupaten Pekalongan. (Alim Mustova/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Kyai, Hadits, Pemurnian Aqidah Ustadz Felix Siaw

Jumat, 07 April 2017

Lakpesdam NU Gelar Diskusi Publik Terkait Pesantren

Jakarta, Ustadz Felix Siaw. Pengurus Pusat Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU akan membuka diskusi publik dengan tajuk ‘Pesantren dan Tantangan Pendidikan Nasional’. Diskusi Publik ini rencananya akan diadakan pada pukul 15.00-18.00, Selasa, 31 Juli 2012 di lantai delapan Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya nomor 164, Jakarta Pusat.

Diskusi terbuka ini akan membahas dunia pesantren dan pendidikan nasional di Indonesia. Sejauh mana pengaruh kedua lembaga pendidikan tersebut di tengah masyarakat, akan menjadi ruang dialog. Dari diskusi ini, sejumlah masukan akan muncul sebagai catatan bagi dunia pendidikan nasional saat ini.

Lakpesdam NU Gelar Diskusi Publik Terkait Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Lakpesdam NU Gelar Diskusi Publik Terkait Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Lakpesdam NU Gelar Diskusi Publik Terkait Pesantren

Dialog terbuka ini menghadirkan Prof. DR. Nur Syam, Dirjen Pendidikan Islam Depag, Prof. DR. Mansur Ramli, Litbang Depdikbud, Dharmaningtyas, Peneliti Pendidikan, dan Ahmad Baso, Wakil Ketua PP Lakpesdam NU.

Ustadz Felix Siaw

Forum terbuka ini akan meninjau lebih dalam dua institusi pendidikan baik pesantren maupun sekolah. Sebagai instistusi pendidikan, keduanya diharapkan bukan hanya sekadar lembaga pendidikan semata, tetapi juga lembaga kebudayaan.

Ustadz Felix Siaw

Sebelum diskusi berlanjut, forum ini akan dibuka oleh Yahya Ma‘shum, Ketua PP Lakpesdam NU dan KH. Said Aqil Siroj, Ketua Umum PBNU. Untuk selanjutnya, diskusi berjalan yang dimoderatori oleh Enceng Shobirin Najd, Wasekjen PBNU.

Forum terbuka ini digelar sebagai bentuk kepedulian Lakpesdam NU dalam melihat kondisi kebangsaan kini. Kondisi kebangsaan kini menampakkan gejala-gejala moralalitas yang mengalami dekaden. Dengan mengupas lebih dalam kondisi lembaga pendidikan berikut sistemnya, kondisi kebangsaan dapat diselamatkan ke arah yang lebih baik.

Usai diskusi, Lakpesdam NU yang didirikan pada 7 April 1985 menyuguhkan hidangan buka puasa bersama.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis    : Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Anti Hoax Ustadz Felix Siaw

Islam Nusantara, Dari NU untuk Dunia

Oleh Dawam Multazam

Akhir-akhir ini panggung diskusi publik kita diramaikan oleh tema Islam Nusantara, terutama sejak kejadian pembacaan al-Qur’an dalam sebuah acara di Istana Negara oleh seorang qori’ yang juga dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Qiro’ah tersebut menjadi buah bibir masyarakat karena, sebagaimana disebutkan oleh pembawa acara, menggunakan langgam khas Nusantara, tilawah (cara membaca) al-Qur’an yang kurang lazim didengar oleh sebagian masyarakat.

Setelah kejadian tersebut, tak pelak timbul pro-kontra yang cukup panjang, apalagi Pemerintah, melalui Presiden Jokowi dan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, menyatakan dukungannya terhadap tilawah tersebut. Dukungan yang diberikan Pemerintah sebenarnya tidak hanya terhadap qiro’ah berlanggam Nusantara, tetapi lebih besar daripada itu, yakni dukungan terhadap Islam Nusantara. Menurut Presiden Jokowi, ia mendukung Islam Nusantara, karena merupakan “Islam kita, yang penuh sopan santun, tata krama, dan toleransi” (BBC Indonesia, 14/6).

Islam Nusantara, Dari NU untuk Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam Nusantara, Dari NU untuk Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam Nusantara, Dari NU untuk Dunia

Ramainya panggung diskusi publik seputar Islam Nusantara ini juga seiring dengan rencana Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menjadikan tema Muktamar NU ke-33 di Jombang, 1-5 Agustus 2015, berbunyi“Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia”. Menurut Ketua Muktamar tersebut, H Imam Aziz, dipilihnya tema tersebut tidak terlepas dari agenda jam’iyyah NU menjelang seabad usianya. Islam Nusantara, sebagai model keislaman yang dianut oleh Nahdliyin (warga NU), perlu untuk ditunjukkan posisi strategisnya sebagai “agen” Islam rahmatan lil alamin di Indonesia dan di seluruh dunia. Terkait peran NU di Indonesia, tentu saja sudah menjadi pengetahuan umum bahwa NU yang lahir pada tahun 1926 merupakan organisasi massa Islam terbesar di Indonesia, sehingga sudah barang tentu memiliki peran yang signifikan bagi perjalanan bangsa dan negara ini.

Kemudian, mengenai kiprah NU di panggung dunia, selain beberapa kali pengurusnya hadir dalam beberapa forum pro-perdamaian dan pro-toleransi Internasional,  NU juga menginspirasi, antara lain, ulama Afghanistan untuk membentuk organisasi masyarakat yang bertujuan untuk kemaslahatan umat. Berawal dari pertemuan dengan PBNU pada 2013, saat ini ulama Afghanistan sudah membentuk Nahdlatul Ulama Afghanistan (NUA), organisasi masyarakat yang berprinsip tawasut (moderat), tawazun (seimbang-equal), adalah (keadilan), tasamuh (toleran), dan musyarokah (serikat-persatuan). Sebagaimana diketahui, prinsip yang dianut oleh NUA tersebut mengadopsi prinsip-prinsip yang dianut oleh NU berdasarkan petunjuk para ulama salaf (pendahulu).

Tanggung Jawab NU untuk Umat

Ustadz Felix Siaw

Berangkat dari kesadaran atas perannya yang signifikan bagi masyarakat, tampaknya NU juga menyadari bahwa ada tanggung jawab yang lebih besar. Akhirnya, dengan menghilangkan sekat organisasi masyarakat yang dimilikinya, NU kemudian memunculkan tema Islam Nusantara. Pemunculan frasa Islam Nusantara ini sebenarnya bukan merupakan penemuan aliran atau ajaran Islam yang baru. Karena, menurut Dr H Eman Suryaman, Ketua PWNU Jawa Barat, Islam Nusantara merupakan “sebuah model keislaman yang berdasarkan demografi-sosiologis” (Ustadz Felix Siaw, 9/6).

Selain ia bukan merupakan aliran atau ajaran, ia juga bukan hal yang baru (saja) dilahirkan oleh NU. Memang betul bahwa NU adalah pihak pertama yang dewasa ini begitu gencar memunculkan istilah ini, tercatat pada tahun 2008 lalu, Taswirul Afkar (Jurnal yang diterbitkan oleh Lakpesdam NU), mengangkat tema “Islam Nusantara” sebagai bahan kajian di edisi ke-26.Kemudian, sejak tahun 2013 di lingkungan perguruan tinggi NU (Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama, STAINU, Jakarta) sudah dibuka program pascasarjana Sejarah Kebudayaan Islam yang berkonsentrasi pada Islam Nusantara. Tetapi sejatinya Islam Nusantara sudah eksis sejak pertama kali dakwah Islam hadir dan berkembang di Tanah Air Nusantara ini, meskipun tentu saja belum dirumuskan dalam frasa Islam Nusantara.

Ustadz Felix Siaw

Begitu dua kata yang tersusun dari entitas agama dan budaya ini ramai dibincangkan, barulah para tokoh NU berikhtiar merumuskan definisinya. Prof Isom Yusqi, Direktur Program Pascasarjana STAINU Jakarta, misalnya, menyebutkan bahwa Islam Nusantara merupakan “istilah yang digunakan untuk merangkai ajaran dan paham keislaman dengan budaya dan kearifan lokal Nusantara yang secara prinsipil tidak bertentangan dengan nilai-nilai dasar ajaran Islam” (Ustadz Felix Siaw, 25/6). KemudianKH Afifuddin Muhajir, Katib Syuriyah PBNU dan Guru Utama Fiqh-Ushul Fiqh di Pesantren Sukorejo, Situbondo, memaknai Islam Nusantara sebagai “pemahaman, pengamalan, dan penerapan Islam dalam segmen fiqih mu’amalah sebagai hasil dialektika antara nash, syari’at, dan ‘urf, budaya, dan realita di bumi Nusantara” (Ustadz Felix Siaw, 27/6). Begitu juga Abdul Moqsith Ghozali, menyebut Islam Nusantara sebagai “Islam yang sanggup berdialektika dengan kebudayaan masyarakat” (Ustadz Felix Siaw, 29/6).

Aneka definisi yang diberikan para tokoh NU tersebut, semakin melengkapi tujuan mengingatkan umat untuk kembali meneladani perjuangan para ulama yang telah berhasil mendakwahkan Islam sehingga dapat tersebar secara kuat dan luas di bumi pertiwi. Keberhasilan dakwah para ulama tersebut, menurut Agus Sunyoto (2012), setelah mereka – para ulama, khususnya Walisongo pada abad ke-15, dapat memahami bagaimana cara mengenalkan Islam secara tepat kepada masyarakat asli Nusantara. Keberhasilan dakwah ala Walisongo tersebut, seperti hujan yang datang setelah kemarau panjang; tak kurang dari tujuh abad semenjak Muslim pertama datang di Aceh, Walisongo “hanya” perlu waktu kurang dari satu abad untuk menemukan “formula dakwah jitu” dan menyebarkan Islam di hampir semua pulau besar di Nusantara. Kekayaan, kekhasan, dan keunikan Islam Nusantara inilah yang hendak dieksplorasi oleh para mahasiswa Pascasarjana Islam Nusantara STAINU Jakarta untuk kemudian dipublikasikan pada dunia internasional (STAINU Jakarta, 2013).

Nusantara, Tidak Hanya Jawa

Namun sayangnya, di tengah diskursus yang menarik tersebut, masih ada kesalahpahaman dari sementara kalangan, terutama pihak yang kontra terhadap topik Islam Nusantara ini. Menurut masyarakat yang tampaknya masih awam terhadap pengertian Islam Nusantara, misalnya, Islam Nusantara dianggapsesat dan menyesatkan, karena dikira anti-Arab dan hendak melakukan pribumisasi-nusantarasasi Islam yang bermuara pada sinkretisme. Dalam pemahaman mereka, sinkretisme yang ada dalam Islam Nusantara diwujudkan dalam, misalnya, wudhu dengan air kembang; membenci bahasa Arab sehingga adzan dan shalat dengan bahasa Indonesia; mengkafani jenazah dengan kain batik; arah kiblat dan pergi haji ke gunung atau candi di Indonesia;  dan beragam tuduhan menggelikan lainnya.

Terhadap tuduhan kelompok ini, Rijal Mumazziq Zionis, Dosen Pendidikan Anti Korupsi IAIN Jember, menyatakan bahwa Islam Nusantara tidak mungkin anti-Arab (Suara-Islam, 18/6). Menyitir pendapat sastrawan Remi Sylado yang menyebut bahwa 9 dari 10 kosakata dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Asing, ia menegaskan bahwa masyarakat pesantren, pendidikan khas Islam Nusantara, masih menggunakan kitab-kitab berbahasa Arab. Sehingga, terlepas dari tidak mungkinnya beragam tuduhan tadi dijalankan oleh umat Islam, sikap anti-Arab merupakan hal yang mustahil.

Sedangkan sanggahan yang lebih baik datang dari sebagian pihak yang lebih memiliki pemahaman, tetapi menolak Islam Nusantara – terutama, menurut hemat penulis, semata karena alasan berbeda afiliasi organisasi. Bagi kelompok ini, Islam Nusantara perlu ditolak karena terlalu Jawa-sentris, sehingga ketika dipaksakan justru dapat memicu disintegrasi antar sesama muslim di Indonesia.Menurut mereka, adanya Islam Nusantara yang Jawa-sentris dapat memicu juga lahirnya Islam Minang, Islam Aceh, Islam Makassar, Islam Lombok, dan lain-lain, sebagai sikap ketidakpuasan terhadap Islam Nusantara. Selain itu, Islam Nusantara juga dapat memantik munculnya Islam Malaysia, Islam China, Islam Eropa, Islam Amerika, dan lain-lain.

Kelompok terakhir ini sepertinya belum mengetahui, atau sekurangnya lupa, bahwa terdapat jaringan ulama Nusantara yang membentang luas secara geografis dari seluruh wilayah Indonesia saat ini, hingga Malaysia, Brunei Darussalam, dan Patani (Thailand). Pada masa Tanah Hijaz belum dikuasai oleh Kerajaan Saudi Arabia yang didukung oleh ulama Wahabi, ulama Nusantara berperan cukup penting di sana. Banyak ulama Nusantara yang belajar di tanah kelahiran Islam tersebut, dan tak sedikit pula yang menjadi pengajar di sana. Sebagai identitas terhadap orang-orang yang datang dari kawasan yang kini Asia Tenggara tersebut, diberikan nisbah sesuai negeri asalnya, al-Jawi. Bagi yang pernah membaca sekilas sejarah yang menyebut nama ulama al-Jawi ini, barangkali mengira bahwa yang dimaksud sebagai “Jawi” adalah Pulau Jawa saja.

Padahal, sebutan al-Jawi ini berlaku untuk semua orang yang berasal dari kawasan geografis yang membentang di Asia Tenggara kini. Sebagai contohnya, ada nama besar Syeikh Abdurrauf bin Ali al-Jawi al-Fansuri al-Singkili di Aceh, Syekh Abdul Samad bin Abdullah Al-Jawi Al-Falimbani di Palembang, dan Syaikh Ahmad bin Muhammad Zain al-Fathani al-Jawi di Patani (Thailand). Semuanya memakai nisbah al-Jawi sekalipun tidak berasal ataupun tinggal di Pulau Jawa. Selain itu, Ahmad Baso (2012), mengungkapkan sejarah jaringan kyai-santri, guru-murid, baik secara langsung maupun melalui tulisan,terjalin secara luas mulai dari wilayah-wilayah yang penulis singgung di atas, bahkan hingga ke daerah Kepala Burung dan Fakfak di Pulau Papua. Luasnya cakupan geografis ini, sejak zaman dahulu memang lazim disebut sebagai “Jawi”, “Negeri Bawah Angin”, dan “Nusantara” – terma yang menjadi bahan diskusi hangat kali ini.

Selain dari aspek kesejarahan yang menihilkan sangkaan Jawa-sentris terhadap Islam Nusantara, secara esensial pun Islam Nusantara tidak hendak melakukan Jawanisasi. Dalam ukhuwwah (persaudaraan) yang terjalin antara ulama dari berbagai daerah di Nusantara, pada zaman dahulu maupun saat ini, tidak tampak adanya upaya radikal dari ulama Jawa untuk melakukan Jawanisasi di wilayah-wilayah di luar Pulau Jawa. Di Pulau Sumatera, misalnya, Islam sudah lebih dahulu berkembang daripada di Pulau Jawa, sehingga motif melakukan Jawanisasi Sumatera tidak menemukan bentuknya. Di Banjar Kalimantan, meskipun Islam masuk di sana sebagai syarat yang diberikan Sultan Demak atas dukungan politik pada Raja Banjar, tidak juga didapati upaya Jawanisasi Banjar yang berlebihan. Demikian juga di Lombok, yang mana Islamnya memiliki “citarasa” tersendiri dalam wujud Islam Wetu Telu, atau di Makassar, yang baru masuk Islam di awal abad ke-17 tetapi langsung gigih dalam menyebarkan agama tauhid tersebut. Sepanjang sejarah, harus diakui bahwa tidak ada upaya Jawanisasi terhadap model beragama yang ada di Nusantara.

Sebagai sebuah model keislaman, tentunya Islam Nusantara menjadi payung bagi “submodel” Islam Aceh, Islam Minang, Islam Jawa, Islam Lombok, Islam Banjar, Islam Makassar, Islam Melayu, Islam Patani, dan Islam-Islam “yang lain” di wilayahnya. Sebagai payung, Islam Nusantara akan menaungi dan mengayomi model keislaman yang berangkat dari tradisi dan kearifan lokal dalam koridor agama Islam, di manapun ia berada. Islam Nusantara bersifat lentur tetapi teratur. Terhadap hal ini, Zastrouw al-Ngatawi (2015), menyatakan bahwa sebenarnya Islam Nusantara tidak terbatasi oleh batasan-batasan geografis, karena ia dapat menjadi semacam “school of thought” dalam aspek apapun. Oleh karena itu, jika nantinya Islam Nusantara memancing lahirnya model keislaman yang lain, seperti Islam Arab, Islam Amerika, Islam Eropa, Islam Tiongkok, dan lain sebagainya, tidaklah menjadi persoalan sepanjang tetap di dalam kerangka Islam sesuai ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad SAW.Wallahu a’lam.

 

*) Dawam Multazam, Santri Islam Nusantara STAINU Jakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Nusantara Ustadz Felix Siaw

Kamis, 06 April 2017

Materi dan Kekuasaan Jadi Tujuan Utama Pengusung Khilafah

Tangerang, Ustadz Felix Siaw. Pusat Studi dan Pengembangan NU Santri Tangerang Raya (PSP Nusantara) mengadakan sarasehan kebangsaan bertajuk “Membongkar Bahaya Ideologi Radikalisme dan Terorisme”, Rabu (28/1). Diskusi terbuka ini menguak materi dan nafsu berkuasa sebagai motivasi gerakan gerombolan pengusung khilafah yang tidak lain.

Ken Setiawan dari NII Crisis Center lebih menceritakan pengalamannya saat menjadi anggota Negara Islam Indonesia (NII). Menurutnya, tujuan utama organisasi yang mengusung khilafah Islamiyah adalah materi dan? kekuasaan.

Materi dan Kekuasaan Jadi Tujuan Utama Pengusung Khilafah (Sumber Gambar : Nu Online)
Materi dan Kekuasaan Jadi Tujuan Utama Pengusung Khilafah (Sumber Gambar : Nu Online)

Materi dan Kekuasaan Jadi Tujuan Utama Pengusung Khilafah

“Dengan keduanya itu, nilai keislaman yang universal tertutupi oleh rasa keinginan yang mendalam. Mereka akhirnya menghalalkan segala cara, proses taqqiyah (pembohongan menyelinap) pun menjadi metode yang diterapkan,” kata Ken dalam sarasehan di pesantren Jabal Nur, Cipondoh, kota Tangerang.

Ustadz Felix Siaw

Ken mencontohkan bagaimana perekrutan anggota organisasi pendukung syariat Islam sebagai konstitusi dengan membenturkan calon anggota berpengetahuan keislaman yang minim dan kekurangan dari sistem pemerintahan Pancasila.

“Lalu ujung-ujungnya khilafah islamiyah atau pendirian negara Islam dijadikan sebagai solusi,” tegas Ken pada sarasehan yang dihadiri santri, anggota Ansor, anggota IPPNU, dan masyarakat Tangerang ini.

Ustadz Felix Siaw

Hadir narasumber lainnya HM Qustulani dari Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Tangerang dan pimpinan pesantren Jabal Nur KH Saeful Millah. Sarasehan ini diadakan untuk membeberkan pemahaman yang utuh perihal keislaman di kalangan generasi muda Indonesia.

Direktur PSP Nusantara Hilman mengatakan bahwa lembaga yang tengah diamanahkan kepadanya bernaung di bawah Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU) Tangerang. “Sebab itu, usaha membumikan bahaya radikalisme harus digelorakan demi keutuhan bangsa dan negara di masa depan, khususnya di Tangerang.”

Sementara Kiai Saeful, banyak nilai keislaman yang berbermakna untuk diterapkan dalam kehidupan yang beragam apalagi di Indonesia. Pasalnya, pedoman dasar masyarakat Indonesia mengacu pada demokrasi Pancasila yang mengedapankan asas mufakat.

“Seharusnya, nilai-nilai tersebut diterapkan dalam keseharian tanpa adanya pengafiran atau penyalahan kelompok tertentu atas nama agama,” kata Kiai Saeful.

Senada dengan Kiai Saeful, H Qustulani mengatakan bahwa tipe organisasi yang mengarah pada pragmatisme dan radikalisme ideologi adalah mereka yang mengusung khilafah Islamiyah dan menggugat demokrasi sebagai sistem kafir.

Ia mengingatkan peserta sarasehan untuk tidak tertipu dengan symbol-simbol atas nama agama. Untuk itu, mulai dari sekarang diri, keluarga, saudara serta teman harus dibentengi dari organisasi model seperti itu. (Marwata/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Kiai, Hikmah, Amalan Ustadz Felix Siaw

Rabu, 05 April 2017

UIM-IPNU Sulsel Gelar Uji Coba UN di Tiga Kota

Makassar, Ustadz Felix Siaw. Dalam rangka menyambut Ujian Nasional tahun ini, Universitas Islam Makassar (UIM) bersama Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Sulawesi Selatan malaksanakan uji coba (try out) Ujian Nasional tingkat sekolah menengah atas (SMA) dan sederajat yang ada di Kota Makassar, Maros, dan Gowa.

UIM-IPNU Sulsel Gelar Uji Coba UN di Tiga Kota (Sumber Gambar : Nu Online)
UIM-IPNU Sulsel Gelar Uji Coba UN di Tiga Kota (Sumber Gambar : Nu Online)

UIM-IPNU Sulsel Gelar Uji Coba UN di Tiga Kota

Kegiatan yang dijadwalkan terlaksana pada 23 Maret 2014 ini tidak memungut biaya dari peserta alias gratis. Rencananya, uji coba UN akan berlangsung di kampus Universitas Islam Makassar.

Selasa (18/3), panitia dari IPNU telah mengadakan pertemuan dengan Rektor UIM Dr A Majdah  M Zain, Pembantu Rektor IV UIM Dr Nur Taufiq Sanusi, dan Humas UIM. Ketua Panitia Aswad didampingi Ketua IPNU Makassar Muh Nur, dan. Pertemuan tersebut membahas persiapan panitia dan teknis pelaksanaan acara.

Ustadz Felix Siaw

“Sosoialisasi Try Out UN di beberapa sekolah di Makassar sudah dilaksanakan. Alhamdulillah banyak sekolah yang sudah konfirmasi untuk  mengutus siswanya hadir pada kegiatan tersebut”, ungkap Aswad. Kegiatan ini merupakan latihan menjawab soal bagi siswa mematangkan persiapan dalam menghadapi Ujian Nasional nanti.

Rencananya, kegitan tersebut akan dihadiri Rektor Universitas Islam Makassar, Rais Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sulsel, Ketua  Tanfidziah PWNU Sulsel, dan Ketua PW IPNU Sulsel. Peserta ujian juga akan dihibur oleh grup musik “Launun”, serta hiburan-hiburan lainnya. Kegiatan ini bekerja sama dengan Bimbingan belajar JILC dan Staedtler. (Red: Mahbib Khoiron)

Ustadz Felix Siaw

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Amalan, Internasional, Pemurnian Aqidah Ustadz Felix Siaw