Kamis, 30 November 2017

Pengamat: Peningkatan Suara PKB karena “Efek NU”

Jakarta, Ustadz Felix Siaw. Direktur Ekskutif Indo Barometer Muhammad Qodari menilai peningkatan perolehan suara Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang hampir 100 persen pada pemilu legislatif 2014 merupakan efek dari dukungan Nahdlatul Ulama.

Pengamat: Peningkatan Suara PKB karena “Efek NU” (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengamat: Peningkatan Suara PKB karena “Efek NU” (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengamat: Peningkatan Suara PKB karena “Efek NU”

"Peningkatan suara PKB, bukan karena efek Rhoma Irama, tapi efek dukungan NU. Karena, hasil survei, elektabilitas Rhoma itu rendah," kata Muhammad Qodari ketika dihubungi melalui telepon selulernya, Kamis.

Menurut Qodari, peningkatan suara PKB dari sekitar lima persen pada pemilu legislatif 2009 menjadi 9,5 persen berdasarkan hasil hitung cepat pada pemilu legislatif 2014, menunjukkan berkumpulnya kembali kaum nahdliyin ke partai yang dipimpin Muhaimin Iskandar tersebut.

Ustadz Felix Siaw

Qodari menegaskan, NU berperan penting penting pada PKB, karena NU yang melahirkan PKB, pada era kepemimpinan KH Abdurrahman Wahid.

Ustadz Felix Siaw

"NU adalah organisasi keagamaan sangat besar. Karena, sekitar 30 persen penduduk muslim Indonesia adalah warga NU," katanya.

Qodari menilai, berkumpulnya aspirasi politik warga NU di PKB hingga perolehan suaranya meningkat hampir 100 persen, berkat orkestrasi Muhaimin yang mampu mengoptimalkan berbagai potensi yang ada.

Menurut dia, Muhaimin mau mengalah dan memberi tempat besar pada sosok seperti Rhoma Irama dan Ahmad Dani pada kampanye-kampanye, memberikan tempat kepada pemilik sebuah maskapai penerbangan Rusdi Kirana dengan dukungan sumber dayanya, serta ketokohan Mahfud MD dan Jusuf Kalla yang banyak menjadi sumber pemberitaan.

"PKB juga memanfaatkan potensi ketokohan Said Aqil Siroj (Ketua PBNU) yang ditampilkan dalam iklan-iklan resmi PKB," katanya.

Merujuk dari hasil analisa perolehan suara partai politik dari Exit Poll Kompas, faktor Nahdhiyin memang begitu dominan dalam kontribusi peningkatan perolehan suara PKB. (antara/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Berita, IMNU Ustadz Felix Siaw

Ikuti Kelas Pemikiran Gus Dur di Jakarta, Ini Persyaratannya

Jakarta, Ustadz Felix Siaw - Gusdurian Jakarta akan menggelar Kelas Pemikiran Gus Dur (KPG) angkatan kedua pada Sabtu-Ahad, 25-26 Maret 2017. Ketua Panitia KPG 2, Agustina Iskandar menuturkan kelas tersebut merupakan upaya memperkenalkan sosok, gagasan, dan perjuangan Gus Dur di bidang agama, politik, sosial, seni dan budaya secara lebih sistematis dan mudah dipahami.

“Forum juga dimaksudkan untuk meningkatkan wawasan tentang nilai-nilai yang diperjuangkan Gus Dur sekaligus menghubungkan dengan berbagai isu dan bidang-bidang tersebut,” katanya melalui rilis yang diterima Ustadz Felix Siaw, Sabtu (18/2).

Ikuti Kelas Pemikiran Gus Dur di Jakarta, Ini Persyaratannya (Sumber Gambar : Nu Online)
Ikuti Kelas Pemikiran Gus Dur di Jakarta, Ini Persyaratannya (Sumber Gambar : Nu Online)

Ikuti Kelas Pemikiran Gus Dur di Jakarta, Ini Persyaratannya

Lebih lanjut ia mengungkapkan, KPG diharapkan akan melahirkan generasi yang berkomitmen mengembangkan pemikiran dan perjuangan Gus Dur. Karena itu, peserta kelas dihasilkan dari seleksi berdasarkan kriteria terkait visi, komitmen, dan kemampuan peserta.

Sejumlah tokoh dijadwalkan mengisi materi KPG, yaitu Anita Wahid (Biografi Gus Dur), Syafiq Hasyim (Gus Dur dan Keislaman), Maftuh (Gus Dur dan Demokrasi), Sastrow Al-Ngatawi (Gus Dur dan Kebudayaan), Savic Ali (Gus Dur dan Gerakan Sosial), Jay Ahmad (Jaringan Gusdurian).

Ustadz Felix Siaw

Dalam KPG, para peserta akan mendapatkan materi pemikiran Gus Dur dan mendiskusinyaa dalam sesi dialog interaktif dengan para pemateri; peserta akan dibagi ke dalam kelompok dan mendapatkan tugas-tugas yang dapat memperkuat tim dan membangun kerja sama tim yang baik.

Selain itu peserta akan menampilkan pertunjukan seni pada malam penutupan. Kegiatan ini melatih mereka untuk belajar secara tim dan juga belajar kebudayaan. Di akhir sesi peserta diberi kesempatan untuk menyusun rencana tindak lanjut yang dapat dilakukan secara berkelanjutan.

Ustadz Felix Siaw

Adapun syarat-syarat mengikuti KPG adalah calon peserta? berusia 18-25 tahun; berdomisili di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek); dan membuat karya tentang pemikiran Gus Dur.

Mengenai karya, calon peserta dapat membuatnya dalam bentuk esai sepanjang 300-500 kata; vlog tentang Gus Dur berdurasi maksimal 1 (satu) menit; karikatur Gus Dur, ataupun bentuk karya lainnya.

“Calon peserta dapat memilih salah satu atau beberapa dari bentuk karya di atas,” tambah Agustina.

Formulir pendaftaran/biodata peserta dan persyaratan dikirim ke ke alamat email: gusdurian.jkt@gmail.com dan diterima selambat-lambatnya 19 Maret 2017. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Ahlussunnah Ustadz Felix Siaw

Sisa Makanan yang Membatalkan Shalat

Tujuan shalat adalah menghadap Allah swt. dengan penuh ketundukan dan keikhlasan. Dalam shalat seseorang dituntut untuk khusyu’ sesuai dengan kemampuannya masing-masing, meskipun sulit akan tetapi kekhusyuan itulah yang bisa menenangkan hati pada saat menjalankan shalat. Karena sesungguhnya Allah tidak akan memberatkan hambanya dengan sesuatu kecuali sesuai dengan kemampuan hamba tersebut.

Salah satu dari hal yang membatalkan shalat adalah makan dan minum, saat seseorang sedang menjalankan shalat ia tidak diperbolehkan makan dan minum, dikarenakan hal itu bisa menyebabkan hilangnya kekhusyuan dalam shalat. Lebih dari itu pekerjaan makan dan minum juga tidak layak jika dilakukan ketika seseorang sedang menghadap Allah swt. dalam shalat.

Makan dan minum ketika sedang shalat jelas mebatalkan shalat, lalu bagaimanakah dengan menelan sisa makanan atau meminum tetesan air yang masuk kemulut. Istilah makan dan minum secara umum adalah memasukan sesuatu kedalam mulut, entah itu banyak maupun sedikit. Hanya saja terkadang sisa makanan itu tertinggal dimulut dan belum masuk keperut, sehingga dengan menggerakan lidah kekanan kekiri atau keatas kebawah mengakibatkan sisa makanan tersebut tertelan keperut.

Dalam kitab Fathul Qarib Imam Al-Ghazzi memberi penjelasan, bahwa pekerjaan makan dan minum dalam shalat, baik itu banyak maupun sedikit tetap membatalkan shalat. Sedangkan menelan sisa makanan termasuk dari kategori sedikit, maka menelan sisa makanan juga bisa membatalkan shalat.

Sisa Makanan yang Membatalkan Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)
Sisa Makanan yang Membatalkan Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)

Sisa Makanan yang Membatalkan Shalat

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Diantara hal yang membatalkan shalat adalah pekerjaan makan dan minum, entah itu banyak maupun sedikit, kecuali jika seorang tersebut tidak tahu hukumnya.

Ustadz Felix Siaw

Dalam hal ini menelan tetesan air bekas wudlu’ ataupun tetesan air yang lain juga membatalkan shalat.

Maka dari itu menjaga etika dalam shalat sangat dituntut oleh syara’, karena orang tersebut sedang menghadap kepada Allah swt. (Pen. Fuad H/Red. Ulil H) 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw

Ustadz Felix Siaw Tokoh, Tegal, Pertandingan Ustadz Felix Siaw

NU Bersatu Susah Dipecah-belah

Jepara, Ustadz Felix Siaw. Nahdlatul Ulama memasuki usianya yang ke-92 tahun menurut kalender Hijriyah. Di usianya yang kian senja menurut KH Asyhari Syamsuri, Ketua PCNU Jepara harus semakin bersatu. Jika bersatu kelompok lain akan susah memecah belah jamiyyah yang bermakna kebangkitan ulama ini.

Demikian disampaikan dalam pengajian Haul Massal dan Harlah NU ke-92 yang diadakan MWCNU Kalinyamatan bertempat di gedung MWCNU Kalinyamatan, Jum’at (08/05/15) siang.

NU Bersatu Susah Dipecah-belah (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Bersatu Susah Dipecah-belah (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Bersatu Susah Dipecah-belah

Kiai Asyhari meyakini jika NU bersatu, rukun susah apabila ada kelompok lain memecah-belah keutuhan NU. “Jika kita bersatu, kita susah diintervensi kelompok lain,” pesannya kepada ribuan jamaah yang memadati gedung MWCNU.

Ustadz Felix Siaw

Apa yang dikatakan dia tentu sejalan dengan penggalan syair KH Ahmad Fauzan, tokoh NU Jepara tempo dulu. Mlakune NU Koyo Slender/ Senajan Nyrangap Merohi Klenyer/ Duwe Dalan Dewe Ora Keno Nabrak/ Seng Sopo Nabrak Merohi Kelenger.

Dijelaskan Kepala SMKN 3 Jepara ini NU mempunyai jalan sendiri. Kelompok lain tidak boleh ikut campur. Yang ikut campur akan tahu sendiri akibatnya.

Ustadz Felix Siaw

Hal lain dikemukakan Muhsinin. Menurut Ketua MWCNU Kalinyamatan ini NU wajib menjunjung tinggi hasil musyawarah. “Apapun keputusan musyawarah NU harus diikuti dan dijalankan dengan sebaik-baiknya,” terangnya.

Dalam kegiatan yang dihadiri ribuan jamaah ini menghadirkan penceramah asal Grobogan, KH Mahyan Ahmad. (Syaiful Mustaqim//Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Nusantara, AlaSantri, Kiai Ustadz Felix Siaw

Banser Bekerja Bakti Bangun Masjid PCNU Kabupaten Sukabumi

Sukabumi, Ustadz Felix Siaw



Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Kabupaten Sukabumi melakukan bakti sosial pembangunan masjid kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Sukabumi di Jl. Raya Cijalingan Desa Cisande, Kecamatan Cicantayan.?

Menurut Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Sukabumi Nurodinpada Rabu (29/3), bakti sosial itu sebagai bentuk perwujudan bakti kepada NU yang menjadi induk organisasi Ansor.

Banser Bekerja Bakti Bangun Masjid PCNU Kabupaten Sukabumi (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Bekerja Bakti Bangun Masjid PCNU Kabupaten Sukabumi (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Bekerja Bakti Bangun Masjid PCNU Kabupaten Sukabumi

Bakti sosial itu, lanjutnya, sejatinya untuk menggugah semangat dalam berorganisasi dan menjadikan soliditas dari anggota Banser, khususnya yang ada di Kabupaten Sukabumi dalam membangun karakter Banser yang militan.

Ia menegaskan, kegiatan itu telah direncanakan jauh hari, tapi baru diintruksikan hari ini agar semua anggota baik Ansor maupun Banser mengikuti kegiatan itu.

Ustadz Felix Siaw

Bakti sosial itu merupakan rencana tindak lanjut dari Diklatsar kedua yang diadakan Satkorcab dua minggu lalu dengan jumlah peserta 105 orang di Pondok Pesantren Global Insan Mandiri (GIM) Al Amin Cicurug. (Sofyan Syarif/Abdullah Alawi)

Ustadz Felix Siaw

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Berita, Lomba Ustadz Felix Siaw

Rabu, 29 November 2017

Di Kudus, Mahasiswa Thailand Diajak Pahami Khazanah Budaya

Kudus, Ustadz Felix Siaw. Tercatat sejak 18 Juli 2017 hingga 11 Agustus 2017 mendatang, empat mahasiswa asal Thailand, melakukan teaching internship program difasilitasi Universitas Muria Kudus (UMK). Teaching internship program dilakukan di dua sekolah mitra UMK, yaitu SMAN 2 Bae dan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Kudus.

Di Kudus, Mahasiswa Thailand Diajak Pahami Khazanah Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Kudus, Mahasiswa Thailand Diajak Pahami Khazanah Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Kudus, Mahasiswa Thailand Diajak Pahami Khazanah Budaya

Empat mahasiswa dari Hatyai University itu adalah Mr. Fakkrudien Buhas, Ms. Sureeyatee Salon, Mr. Khoirol Sahoh dan Hamedah Saah. Pertama kali menginjakkan kaki di Kudus, mereka diterima antara lain oleh Subarkah (Wakil Rektor IV), Rochmad Winarso (Wakil Rektor IV), dan Slamet Utomo (Dekan FKIP).

Usai menerima para mahasiswa dari Thailand itu, Subarkah berpesan kepada dosen pendamping agar mereka dikenalkan dengan kekayaan budaya serta kuliner lokal di tanah air, khususnya di Kabupaten Kudus.

"Saya berharap mahasiswa dari Hatyai University diajak menikmati khazanah budaya dan kuliner Indonesia, khususnya di Kudus. Di Kudus ini ada Menara Kudus, ada Museum Kretek, dan lainnya. Kuliner khas, antara lain ada Garang Asem, Lentog Tanjung, juga Jenang Kudus," paparnya.

Diah Kurniati, salah satu dosen pendamping, mengatakan, bahwa para mahasiswa asal Thailand itu memiliki kesan yang sangat baik selama di Kudus. “Mereka sudah kami ajak berkunjung ke Menara Kudus, mencicipi Garang Asem dan Lentog Tanjung, bahkan tertarik mengikuti Car Free Day (CFD),” katanya.

Ustadz Felix Siaw

Selain itu, dalam beberapa hari ke depan, mereka akan kami ajak untuk berkunjung menikmati aneka destinasi wisata dan kuliner di Yogyakarta. “Belum lama ini, bersama mahasiswa UMK, para maahasiswa asal Thailand juga telah diajak berkunjung ke Kabupaten Jepara,” tuturnya.

Sedang di UMK, academic activities yang diikuti oleh para mahasiswa Thailand itu, lanjut Diah Kurniati menambahkan, antara lain diajak untuk berlatih karawitan bareng mahasiswa, tari kretek, dan dikenalkan dengan Bahasa Indonesia. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw

Ustadz Felix Siaw Meme Islam, Habib, Pahlawan Ustadz Felix Siaw

Ramadhan Momentum Penguatan Solidaritas Sosial

Oleh M. Haromain

Disadari atau tidak, kini perkembangan peradaban manusia telah berada di suatu masa yang nyaris semua hal diukur dengan materi. Terdapat kecendrungan orang makin mengukur legitimasi tindakannya berdasarkan harga. Dalam arus globalisai ini hampir semua urusan diukur dengan uang. Dalam istilah para politisi dan pengusaha dikenal pula prinsip "tak ada makan siang yang gratis".?

Sebagai konsekuensinya orang baru mau mengerahkan tenaga, keterampilan, keahlian dan pikirannya untuk orang lain jika ada ganti materi yang sebanding dengan kerja yang ia berikan. Seseorang bersedia memberikan suatu jasa kepada pihak lain bila ada harga yang sesuai. Akhirnya siapa yang kaya materi dapat memanjakan dan memuaskan pelbagai keinginannya seraya punya banyak alternatif ? gaya hidup yang dapat dipilihnya. ?

Ramadhan Momentum Penguatan Solidaritas Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Ramadhan Momentum Penguatan Solidaritas Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Ramadhan Momentum Penguatan Solidaritas Sosial

Tetapi harap diketahui pula, bahwa di sisi lain masyarakat dengan segala hal for sale seperti di atas kondisinya akan kontras bagi mereka yang tak mampu. Artinya semakin banyak hal yang diukur dengan materi, semakin menghimpit orang miskin dari kehidupan. Maka di sini terjadilah kesenjangan sosial yang dapat pula disebut sebagai kemungkaran sosial-meminjam istilahnya almarhum Muslim Abdurrahman.

Tak dapat dipungkiri fenomena masyarakat pasar (market society) ini, meminjam istilahnya Michael J. Sandel, tak hanya terjadi di wilayah perkotaan, melainkan sudah merambah juga sampai di kehidupan desa-desa, yaitu daerah yang dahulu warganya dikenal memiliki rasa solidaritas dan sistem paguyuban yang tinggi.?

Ustadz Felix Siaw

Salah satu indikator degradasi atau kemerosotan tersebut ialah makin hilangnya tradisi sambatan yang dahulu melekat kuat dalam masyarakat pedesaan. Sambatan ialah kerja gotong royong seperti membantu dalam proses pembuatan atau perbaikan rumahnya tetangga atau bersama-sama ikut membantu mencangkul sawahnya kerabat atas dasar solidaritas sosial dan dalam hal ini tidak mendapatkan bayaran.

Apakah sudah sedemikian keraskah tatanan hubungan masyarakat hingga semua dinilai dengan materi. Tidak adakah amal perbuatan yang dilandasi ketulusan dan keikhlasan, menolong dan membantu tanpa pamrih?

Disinilah urgensitas dari makna disunnahkannya ? memperbanyak sedekah serta kewajiban membayar zakat fitrah bagi tiap muslim pada bulan Ramadhan ini. Kita tahu orang yang membayar zakat dan memberi sedekah motifasinya adalah murni ibadah, mendekatkan diri kepada Allah serta mengharapkan ridho-Nya, selain tentunya menggugurkan dari tuntutan kewajiban. Tidak menuntut agar penerima zakat dan sedekah itu memberikan jasa balik entah berupa tenaga, ketrampilan maupun nilai manfaat lainnya.

Kewajiban zakat dan anjuran memperbanyak sedekah pada bulan puasa ini selain sifatnya transendental, sejatinya juga mengirim sinyal kepada umat manusia bahwa sepatutnya jangan semua hal diukur dengan materi, namun manusia perlu insaf bagaimanapun tetap ada bidang-bidang kehidupan yang tak bisa bahkan tak boleh diukur dengan uang.

Tidak cuma itu, hikmah disyariatkannya zakat dan memperbanyak sedekah terutama pada bagian akhir bulan suci Ramadhan adalah agar mereka yaitu golongan yang tidak mampu dapat ikut bahagia dan bergembira pada hari kemenangan, hari raya Idul Fitri.?

Ustadz Felix Siaw

Pada perayaan hari Idul Fitri semua orang tanpa kecuali harus bergembira, termasuk orang-orang yang digolongkan kurang mampu. Kegembiraan hari raya idul fitri bukan monopoli orang Islam yang berkecukupan saja, melainkan hak semua muslim.

Alhasil hikmah disyariatkannya kewajiban zakat fitrah serta anjuran berderma pada bulan ramadhan yang mulia ini menandakan betapa agama Islam di samping agama yang anti kemiskinan namun disisi lain juga sangat peduli kepada orang miskin. Mengajarkan supaya orang kaya menyantuni kaum papa, golongan orang lemah (mustadh’afin).***

Penulis adalah Pengajar di Pondok Pesantren Nurun ala Nur Wonosobo, Jawa Tengah.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Pemurnian Aqidah, Bahtsul Masail, Hadits Ustadz Felix Siaw

Selasa, 28 November 2017

GP Ansor Balapulang Wetan Dirikan Posko Mudik di Jalur Tegal-Purwokerto

Jakarta, Ustadz Felix Siaw - Dalam rangka membantu dan melayani para pemudik yang melewati jalur tengah Tegal-Purwokerto, Pimpinan Ranting (PR) GP Ansor Balapulang Wetan menyiapkan posko mudik lebaran 1438 H. Posko mulai aktif sejak H-5, Selasa (20/6) hingga H+5 Idul Fitri.

Lokasi posko ini terletak di depan Masjid Besar Al-Mujahidin Balapulang. Lokasi ini cukup strategis karena selain terletak di pinggir jalan raya, fasilitas penunjangnya juga lengkap seperti terdapat masjid, area parkir yang sangat luas, dan juga dekat dengan rumah makan.

GP Ansor Balapulang Wetan Dirikan Posko Mudik di Jalur Tegal-Purwokerto (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Balapulang Wetan Dirikan Posko Mudik di Jalur Tegal-Purwokerto (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Balapulang Wetan Dirikan Posko Mudik di Jalur Tegal-Purwokerto

Koordinator Lapangan Posko Mudik Mukson Faezal mengatakan, "Posko mudik lebaran GP Ansor ini akan dijaga selama 24 jam.”

Total anggota Ansor yang terlibat dalam kegiatan posko ini sebanyak 30 personel terbagi dalam beberapa shift dengan 3 pembagian shift waktu, yaitu shift pertama jam 07.00-14.00, shiht kedua jam 14.00-20.00, dan shift ketiga jam 20.00 hingga pukul 07.00. Setiap shift, posko akan dijaga oleh 8 orang. Pembagian 3 shift ini dimaksudkan agar semua bisa bertugas melayani dan stamina anggota tetap terjaga.

Ustadz Felix Siaw

Faezal melanjutkan, "Untuk personel yang terlibat adalah mereka yang sudah memiliki pelatihan terutama di bidang lalu lintas dan juga kemampuan pertolongan pertama pada kecelakaan. Kami juga akan mengawal pelaksanaan Shalat Idul Fitri 1438 H di Masjid Besar Al Mujahidin yang biasanya jamaah meluber hingga menutup separuh ruas jalan raya Tegal-Purwokerto, karena di sini penduduknya sangat padat. Apalagi para perantau dari luar kota juga banyak yang mudik di Balapulang”

Ustadz Felix Siaw

Ketua GP Ansor Balapulang Wetan Mochamad Fahmi mengatakan, "Pendirian posko mudik lebaran tahun ini untuk memberikan layanan bantuan bagi pemudik lebaran khususnya bagi pengguna transportasi darat. Sekaligus juga membantu pemerintah, polri dan masyarakat dalam menekan jumlah kecelakaan. Termasuk untuk membantah anggapan sebagian kecil masyarakat yang kerap mencibir Banser-nya GP Ansor hanya mau mengamankan gereja saat Natalan, makanya kami pun akan mengamankan jalannya pelaksanaan Shalat Idul Fitri di Masjid Besar Al-Mujahidin ini."

Fasilitas yang disediakan di posko mudik ini adalah layanan wifi gratis, takjil gratis bagi pemudik yang singgah di posko saat waktu berbuka puasa, dan sarana P3K untuk membantu penanganan korban terjadinya kecelakaan ringan. Korban kecelakaan berat akan dibantu menuju ke Puskesmas Balapulang atau RS terdekat. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Habib, RMI NU, Kiai Ustadz Felix Siaw

Forsikoma Siap Bedah Filosofi Paradigma PMII

Jombang, Ustadz Felix Siaw

Forum Konsolidasi Komisariat se-Matraman (Forsikoma) akan menggelar seminar bedah paradigma Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) pada Ahad, (25/1/ 2016) di Aula PCNU Jombang.?

Kegiatan yang mengusung tema “Membedah Filosofi Paradigma PMII” ini sebagai bahan kajian dan upaya menemukan paradigma yang tepat untuk PMII setelah dihapusnuya paradigma kritis transformatif (PKT) saat Kongres PMII kemarin.

Forsikoma Siap Bedah Filosofi Paradigma PMII (Sumber Gambar : Nu Online)
Forsikoma Siap Bedah Filosofi Paradigma PMII (Sumber Gambar : Nu Online)

Forsikoma Siap Bedah Filosofi Paradigma PMII

Komisariat se-Matraman terdiri dari Kabupaten Pacitan, Ponorogo, Ngawi, Magetan, Madiun, Nganjuk, Jombang, Kediri, Trenggalek, Tulungagung dan Blitar. Mereka sudah mempersiapkan terkait beberapa teknis yang dibutuhkan pada acara tersebut. Bahkan sekitar delapan kali mereka berkumpul mendiskusikan guna memantapkan rencana tersebut.

Saat ini, seminar tersebut dimotori komisariat se-Jombang sebagai tuan rumah setelah sukses menggelar kegiatan pada beberapa bulan sebelumnya di Kediri. Seperti diketahui keberadaan komisariat di Jombang sebanyak enam komisariat, di antaranya Komisariat Hasyim Asy’ari Tebuireng, Pattimura, Ya’qub Husein, Darul Ulum, Umar Tamim dan Wahab Hasbullah, Tambakberas.?

Ustadz Felix Siaw

Rif’atuz Zuhro, Ketua Komisariat PMII Ya’qub Husein mengatakan tidak dipergunakannya materi PKT masih membutuhkan berbagai alasan logis dan kuat terutama untuk anggota baru, pasalnya PKT merupakan upaya warga PMII dalam menganalisa fenomina lebih tajam.

“Tidak dipergunakannya PKT di materi wajib saat prekrutan anggota baru menjadi pertanyaan yang serius bagi anggota dan kader. Meskipun sudah ada penjelasan-penjelsan tertentu, tapi kami rasa masih sangat perlu anggota dan kader PMII mengetahui subtansi dan alasan-alasan logis berdasarkan landasan filosofis khususnya se-Zona Matraman,’’ Katanya kepada Ustadz Felix Siaw, Kamis (21/1).

Lebih jauh Agus, Ketua Komisariat PMII Wahab Hasbullah menambahkan bahwa peran aktivis PMII pada tahun 2016 ini sangat dibutuhkan, baik yang bersifat rumusan strategis ataupun praktis, lantaran sudah memasuki era pasar bebas atau MEA. Kondisi demikian menurutnya sangat membutuhkan pijakan analisa yang kuat.

“Di awal tahun 2016 ini mungkin kita tidak begitu merasakan dampak dari MEA, tetapi alangkah baiknya PMII sebagai organisasi kaderisasi memperjelas paradigmanya di tengah era pasar bebas dunia. Justru kita PMII harus mempunya pandangan yang jelas untuk menhadapi pasar bebas tersebut,” ungkapnya.

Ustadz Felix Siaw

Dengan demikian, lanjut Agus, pihaknya sudah mengkoordinasikan dengan beberapa pembicara yang mumpuni untuk membincangkan filosufi paradigma PMII dan tantangan warga pergerakan menghadapi MEA melalui paradigma yang tepat guna. “Di antaranya nanti akan diisi oleh PB PMII, ? PKC PMII dan IKA PMII Jombang,” imbuhnya. (Ririf/Syamsul Arifin/Abdullah Alawi)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Bahtsul Masail, Fragmen Ustadz Felix Siaw

Pesantren Tambakberas Peringati Kemerdekaan dengan Luncurkan Buku

Jombang, Ustadz Felix Siaw - Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, Jawa Timur, meluncurkan buku baru, Kamis (17/8). Kegiatan yang diselenggarakan di Gedung Serba Guna KH Hasbullah Said tersebut berlangsung meriah dan dihadiri sejumlah pengasuh dan ratusan guru dari lembaga pendidikan formal yang ada di pesantren setempat. Acara diawali dengan istighatsah dalam rangka memperingati hari kemerdekaan ke-72 RI.

"Peluncuran buku ini memang bersamaan dengan hari kemerdekaan," kata Ainur Rofiq al-Amin usai kegiatan.

Pesantren Tambakberas Peringati Kemerdekaan dengan Luncurkan Buku (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Tambakberas Peringati Kemerdekaan dengan Luncurkan Buku (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Tambakberas Peringati Kemerdekaan dengan Luncurkan Buku

Menurut dosen pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya tersebut, memang kahadiran buku ini adalah sebagai semangat perjuangan yakni membangun negeri dan membangun umat muslim yang moderat, lanjutnya.

Ustadz Felix Siaw

Buku setebal 500 halaman tersebut berjudul “Tambakberas: Menelisik Sejarah Memetik Uswah” dan ditulis oleh dzurriyah atau keluarga pesantren. "Mereka berjumlah 8 orang yakni Heru Najib, Syifa Malik, Nidaus Saadah, Basyiratul Hidayah, Abdul Jabbar Hubbi, Wafiyul Ahdi, Khalid Masud dan saya sendiri," kata Gus Rofik, sapaan akrabnya.

Ustadz Felix Siaw

Sebagai gambaran, Gus Rofik mengemukakan bahwa buku itu berisi seputar biografi, sejarah sepak terjang perjuangan, sejumlah kisah, dan beragam sisi dari sosok para ulama dan kiai di Pesantren Tambakberas. "Tentu saja dengan tokoh pentingnya adalah KH Abdul Wahab Chasbullah," terangnya.

Kelebihan buku ini ditulis dengan acuan dari puluhan saksi sejarah, dan referensi utama yang berbicara tentang NU dan buku kuno lainnya. "Karena itu penulisnya adalah dzurriyah Tambakberas yang memiliki latarbelakang sebagai kiai, akademisi, hingga peneliti," kata salah seorang penulis, Heru Najib.

Sebenarnya, peluncuran buku tersebut sebagai percobaan untuk mengetahui tanggapan pasar. "Alhamdulillah hari ini bisa terjual hingga seribu eksemplar," kata Gus Heru, sapaan akrabnya. (Ibnu Nawawi/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Humor Islam Ustadz Felix Siaw

Senin, 27 November 2017

Pemuda Ansor Pengawal Ulama Aswaja

Demak, Ustadz Felix Siaw. Ketua Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Demak H. Abdurrahman Kasdi mengatakan, bahwa Ansor merupakan pemuda pengawal para kiai, ulama, dan juga pengawal faham Ahlussunnah wal Jamaah.

Pemuda Ansor Pengawal Ulama Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemuda Ansor Pengawal Ulama Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemuda Ansor Pengawal Ulama Aswaja

“Dengan mengembangkan sayap lembaga Rijalul Ansor, Ansor Demak ingin menyiapkan kader ulama dan kiai dari Ansor melalui kajian-kajian keIslaman, Bahtsul Kutub, Majlis Dzikir dan shalawat, kita harapkan lahir para kader ulama dan kader kiai dari Ansor,” Harap Durrahman.

Durrahman menyampaikan dalam rangkaian Pelantikan PC GP Ansor Kabupaten Demak periode 2013-2018, di Masjid Raudlatul Muttaqin Desa Klitih Kecamatan Karang Tengah Kabupaten Demak, Jawa Tengah pada Jumat, 18 Oktober 2013.

Ustadz Felix Siaw

Pengajian bertema, “Dengan Pengajian Majlis Dzikir dan Shalawat Rijalul Ansor, kita teguhkan Paham Ahlussunnah wal Jamaah di Kabupaten Demak” tersebut dihadiri oleh 2.000 kader Ansor, Banser, Para Kader Rijalul Ansor dan Jamaah masyarakat setempat.

Ustadz Felix Siaw

Lebih lanjut Durrahman yang juga Direktur Pascasarjana STAIN Kudus ini menambahkan, melalui pengajian ini yang dikemas Rijalul Ansor dengan bershalawat bisa membetengi umat dari aliran sempalan yang menyesatkan umat.

“Hendaknya dengan Rijalul Ansor, kita bisa membentengi masyarakat Demak dengan faham Ahlussunnah wal Jamaah dari rongrongan aliran sempalan dan aliran sesat yang akan merusak masyarakat Demak,” ungkapnya.

Pengajian akbar yang menghadirkan parade rebana 100 penerbang rebana tersebut dihadiri selain dihadiri pengurus pleno Ansor Demak juga dihadiri ketua PW GP Ansor Jateng, Jabir al-Faruqi, KH. Zainal Arifin Ma’shum dan para ulama dari NU

Pengajian akbar tersebut merupakan salah satu rangkaian pelantikan. PC GP Ansor Demak juga akan mengadakan apel akbar Banser dengan menghadirkan 4.000 orang. Rencananya akan diadakan pada tanggal 16 Nopember 2013 di Lapangan Koni Demak.

Selain itu, akan digelar bakti sosial dan pengobatan gratis. Sedangkan rangkaian kegiatan ini ditutup dengan Pelantikan yang akan dilaksanakan pada tanggal 17 Nopember 2013. (A. Shiddiq Sugiarto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Doa Ustadz Felix Siaw

Catatan dari Program Pengembangan Wawasan Keulamaan

Salah satu program kaderisasi yang dijalankan oleh Pengurus Pusat Lakpesdam dan dirasakan banyak manfaatnya yaitu Program Pengembangan Wawasan Keulamaan (PPWK). Program ini kembali dilaksanakan pada 17 - 20 April 2014 kemarin, bertempat di Wisma PKBI Kebayoran Baru Jakarta Selatan.

"Setelah menerima banyaknya permintaan dari beberapa PW dan PCNU serta Ketua Tanfidziyah PBNU, alhamdulillah Lakpesdam bisa menyelenggarakan kembali PPWK yang kali ini diikuti oleh sekitar 25 kader pilihan Kiai Muda perwakilan PCNU dari berbagai daerah," ungkap Ketua PP Lakpesdam Yahya Mashum kepada Ustadz Felix Siaw saat pembukaan acara tersebut.

Beberapa pihak terkait dari Pengurus Besar hadir dalam PPWK antara lain Wakil Ketua Umum PBNU KH Asad Said Ali sebagai pembuka acara tersebut. Sedangkan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj hadir sebagai narasumber utama (keynote speech) yang menyampaikan materi tasawuf berjudul "Faqih fi al-din & faqih fi mashalihil khalqi".

Beberapa narasumber yang berkompeten di bidang ilmu kalam, ushul fiqih, tasawuf juga fiqih siyasah dihadirkan oleh panitia antara lain Prof. Dr. Said Agil Husen al-Munawwar, KH Masdar Farid Masudi, HM Cholil Nafis, MA, Dr. Hj. Sri Mulyati, MA dan lainnya.

Catatan dari Program Pengembangan Wawasan Keulamaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Catatan dari Program Pengembangan Wawasan Keulamaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Catatan dari Program Pengembangan Wawasan Keulamaan

Ketua pelaksana PPWK, Dr Marzuki Wahid mengatakan, tujuan dan desain PPWK kali ini difokuskan pada pendalaman dan penguatan reflektif keilmuan klasik Islam baik terutama yang terkait dengan keagamaan dan kebangsaan. Di luar dugaan, antusias peserta diklat PPWK cukup menggembirakan dengan penuh semangat dan disiplin bahkan hampir tiap sesi pelatihan selalu berakhir melebihi dari jadwal waktu yang ditentukan, lanjut Marzuki Wahid.

Short course PPWK ini ditutup oleh Koordinator penyelenggara Kaderisasi PBNU KH Masyhuri Malik pada hari Ahad siang 20 April 2014. Dengan selesainya diklat ini, PBNU dan Lakpesdam meminta kepada seluruh peserta, sekembalinya dari acara ini segera melakukan komunikasi dan silaturahmi dengan para tokoh kader penggerak, Pengurus Cabang atau Wilayah dan para Ulama setempat dalam rangka menyampaikan dan mengembangkan ilmu dan pengalaman yang diperoleh selama mengikuti pelatihan.

Sebagus apapun materi dan narasumber pelatihan yang diikuti, kunci keberhasilan dan kesuksesannya ada pada tindak lanjut positif dan semangat juang yang tinggi peserta diklat dalam berkhidmat membangun dan memberdayakan umat, pinta KH Masyhuri Malik. (Mukhlisin)

Ustadz Felix Siaw

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw

Ustadz Felix Siaw Ahlussunnah, Meme Islam Ustadz Felix Siaw

Minggu, 26 November 2017

Banser Melaya Bersihkan Monumen Bersejarah Perjuangan I Gusti Ngurah Rai

Jembrana, Ustadz Felix Siaw?



Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Kecamatan Melaya Kabupaten Jembrana, Provinsi Bali melakukan bakti sosial di Monumen Perjuangan Operasi Lintas Laut Jawa-Bali di Kawasan Taman Nasional Bali Barat, Jumat (24/3).

Turut andil pada aksi sosial bersih-bersih yang dimulai pukul 07.00 WITA itu dari unsur TNI, Polri, Tagana Jembrana dan Dinas Sosial Kabupaten Jembrana.

Banser Melaya Bersihkan Monumen Bersejarah Perjuangan I Gusti Ngurah Rai (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Melaya Bersihkan Monumen Bersejarah Perjuangan I Gusti Ngurah Rai (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Melaya Bersihkan Monumen Bersejarah Perjuangan I Gusti Ngurah Rai

Kasatkoryon Banser Kecamatan Melaya, Ipan, mengatakan, area monumen bersejarah itu terkesan kurang perawatan. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya rumput-rumput liar yang tumbuh berserakan disekitar monumen.

“Bisa jadi ini karena faktor lokasi monumen yang berada di tengah hutan sehingga sulit untuk selalu dipantau,” ujarnya.

Ustadz Felix Siaw

Padahal menurut Ipan, area monumen ini sangat berpotensi sebagai wahana edukasi sejarah kepada masyarakat terutama para pelajar jika dikelola dan dikembangkan dengan baik.?

“Hanya saja harus diakui, masyarakat lebih banyak menghabiskan waktunya ke tempat wahana hiburan ketimbang mengunjungi lokasi bersejarah, seperti monumen ini,” ungkapnya menyayangkan.

Untuk diketahui, monumen ini dibangun untuk mengenang pertempuran laut pertama RI pasca-Proklamasi Kemerdekaan RI. Hal itu terjadi pada tahun 1946 ketika sebelumnya pahlawan nasional kebanggaan rakyat Bali, I Gusti Ngurah Rai meminta bantuan pasukan dari Jawa untuk sama-sama menghadapi pasukan Belanda yang mendarat di Bali.

Kendati memenangkan pertempuran laut, tpai dari pihak rakyat Bali banyak korban berguguran, baik saat bertempur di laut, maupun pasukan yang gugur di darat saat membantu bergerilya bersama I Gusti Ngurah Rai. (Abraham Iboy/Abdullah Alawi)

Ustadz Felix Siaw

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Tegal Ustadz Felix Siaw

Santri Semarang Dalami Ilmu Falak

Semarang, Ustadz Felix Siaw. Mahasiswa yang tergabung dalam Community of Santri Scholars of Ministery of Religious Affairs (CssMora) Universitas Islam Negeri Walisongo dan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Falak mengadakan pelatihan Ilmu Falak. Seminar yang bertempat di audit I kampus I UIN Walisongo terdiri dari perwakilan dari SMA, MA, pesantren sekota Semarang, dan mahasiswa.

Hadir sebagai narasumber Dosen Ilmu Falak Ahmad Syifaul Anam, pengurus Lembaga Falakiyah NU Jawa Tengah KH Ahmad Izzuddin, penemu alat Falak I-zun Dial M Ihtirozun Niam, Nur Sodik, dan Luayyin.

Santri Semarang Dalami Ilmu Falak (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Semarang Dalami Ilmu Falak (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Semarang Dalami Ilmu Falak

Seminar Ilmu Falak itu bertemakan "Memantapkan Ibadah Melalui Ilmu Falak", menurut ketua panitia, "Ilmu Falak mempunyai peranan yang sangat penting dalam ibadah, seperti arah kiblat, waktu sholat, awal bulan, dan gerhana. Namun masih sedikit orang yang mempunyai keterampilan tersebut," ungkap Alamul Yakin.

Ustadz Felix Siaw

Pada kesempatan tersebut hadir pula Wakil Dekan III Fakultas Syariah UIN Walisongo. Dalam sambutannya ia berharap agar peserta lebih semangat untuk mendalami ilmu ini, karena ilmu ini dirasa masih langka ditemui. "Beliau juga berharap peserta bisa menjadi penerus ahli Falak yang sudah ada", tandas Arief Budiman.

Ustadz Felix Siaw

Pelatihan ini menekankan pada penguasaan arah kiblat dan waktu sholat, yang di dalamnya memuat materi fikih, perhitungan, dan praktiknya. Materi tersebut disampaikan oleh pemateri yang telah ahli dalam bidangnya. Peserta diajak untuk memahami bagaimana ulama fikih memandang pentingnya menghadap kiblat dan mengetahui waktu sholat, belajar caranya menghitung menggunakan kalkulator scientific, kemudian langsung mempraktikkan hasil perhitungan yang telah dihasilkan.

Tak hanya berhenti seminar saja, peserta diajak langsung praktik, para santri tak menemui kesulitan. Tak seperti yang dibayangkan sebelumnya, ternyata mengukur arah kiblat cukup mudah. Hanya membutuhkan 4 langkah. Menginput data di program yang telah disediakan, memosisikan bayangan di I-zun Dial, menentukan arah mata angin, berikutnya ketemulah arah kiblat.

"Ternyata mudah menentukan arah kiblat, cuma begitu saja", tutur Ahmad Rexy, delegasi dari Pondok Pesantren Al-Firdaus. (Zulfa/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Kyai Ustadz Felix Siaw

Buku Kontra MTA Laku Keras

Surabaya, Ustadz Felix Siaw. Buku "Meluruskan Doktrin MTA, Kritik Atas Dakwah  Majlis Tafsir Al-Quran di Solo" ternyata mendapatkan respon positif dari pembaca.

Buku yang diterbitkan Muara Progresif Surabaya ini tidak semata diminati kalangan pecinta MTA (Majlis Tafsir Al-Quran) di sekitar Solo, juga beberapa warga yang penasaran dengan kelompok pengajian yang cukup meresahkan tersebut.

Buku Kontra MTA Laku Keras (Sumber Gambar : Nu Online)
Buku Kontra MTA Laku Keras (Sumber Gambar : Nu Online)

Buku Kontra MTA Laku Keras

"Beberapa kalangan sudah memesan buku ini," kata Tirmidzi Munahwan, Direktur Muara Progresif kepada Ustadz Felix Siaw di Surabaya, Selasa (29/1). Tirmidzi -sapaan akrabnya- bercerita, sejak diterbitkan awal Januari 2013 lalu, sudah sekitar dua ribu buku yang telah dipesan pelanggan. 

Ustadz Felix Siaw

"Hampir semua kota tertarik dengan buku ini," katanya. "Bahkan ada juga dari luar Jawa," lanjut alumnus IAIN Sunan Ampel Surabaya ini.

Tirmidzi berterimakasih atas respon berbagai kalangan terhadap buku tersebut. "Ini adalah ikhtiar kami untuk membentengi akidah warga dari rongrongan faham diluar Ahlus Sunnah wal Jamaah," kata bapak satu anak ini. "Termasuk kepada Ustadz Felix Siaw dan media cetak yang bersedia menerima resensi dan resume buku tersebut," ungkapnya.

Ustadz Felix Siaw

Apa yang telah dilakukan beberapa media baik cetak maupun elektronik sangat membantu sampainya informasi buku tersebut kepada masyarakat, khususnya warga NU. "Sinergi ini harus terus dibina dan dipertahankan," harapnya.

Terlepas dari itu semua, Tirmidzi berharap agar warga dan para fungsionaris NU untuk terus membina dan memupuk kebersamaan demi tetap terjaganya aqidah Aswaja. "Sehingga kita dapat melestarikan Islam yang rahmatan lilalamin di bumi Nusantara ini," pungkasnya.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Saifullah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Tokoh, PonPes, Tegal Ustadz Felix Siaw

Sabtu, 25 November 2017

Gizi Buruk pada Kelompok Sosial Ekonomi Tinggi

Jakarta, Ustadz Felix Siaw. Selama ini kebanyakan orang berpandangan hanya anak-anak dari kelompok sosial ekonomi rendah yang bisa mengalami stanting. Faktanya, banyak juga dari kelompok sosial ekonomi tinggi mengidap stanting.

“Secara nasional prevalensi stanting masih tinggi. Angkanya pada kelompok sosial ekonomi tinggi mencapai 29 persen,” kata Direktur Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) Kresnawan, pada? forum Dialog Nasional Lintas Agama Cegah Stanting di Hotel Aryaduta, Jakarta, Selasa (14/11).

Gizi Buruk pada Kelompok Sosial Ekonomi Tinggi (Sumber Gambar : Nu Online)
Gizi Buruk pada Kelompok Sosial Ekonomi Tinggi (Sumber Gambar : Nu Online)

Gizi Buruk pada Kelompok Sosial Ekonomi Tinggi

(Baca: Stanting Meningkat, Masa Depan Bangsa Suram)

Kresnawan menyebut, stanting pada kelompok sosial ekonomi tinggi lebih disebabkan karena pola asuh serta pemberian makan bayi dan anak yang kurang tepat.

Ustadz Felix Siaw

“Sedangkan pada kelompok sosek rendah lebih? disebabkan karena keterbatasan ketersediaan pangan di tingkat keluarga miskin. Angkanya mencapai 48 persen,” lanjut Kresnawan.

Bahaya stanting bukan mengancam anak bangsa saat ini, tetap lebih ke masa depan dan martabat bangsa.

“Karena anak (yang saat ini) stanting, dua puluh lima tahun lagi jadi SDM tidak berkualitas, tidak mampu berkompetisi, padahal jumlahnya banyak sebagai efek bonus demografi,” urai Kresnawan.

Ustadz Felix Siaw

Beberapa penyebab stanting di perdesaan antara lain belum optimalnya cakupan dan kualitas pelayanan kesehatan dasar (imunisasi, ANC, TTD), serta akses terhadap air bersih dan sanitasi yang buruk.

Selama ini bukan tidak ada upaya mencegah stanting di perdesaan. Sayangnya kegiatan tersebut masing-masing berjalan sendiri-sendiri, tidak ada koordinasi antar program/kegiatan.

“Cukup banyak kegiatan sektoral yang ada di desa dapat dimanfaatkan untuk pencegahan stanting,” pungkas Kresnawan. (Kendi Setiawan)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Tokoh Ustadz Felix Siaw

KH Abdul Halim Shiddiq Pelopor Ansor dan Muslimat NU Jember

Tidak banyak yang tahu siapa di balik pembentukan Gerakan Pemuda Ansor dan Muslimat NU di Jember. Dialah  KH Abdul Halim Shiddiq. Kakak kandung Rais Aam PBNU 1984-1991 KH Ahmad Shiddiq ini mensponsori kelahiran dua badan otonom NU tersebut.

Semasa hidupnya, Kiai Halim dikenal sebagai ulama yang suka berorgnisasi dan pencetak muballigh. Ketika itu, kekuasaan Belanda masih kuat mencengkeram negeri ini, Kiai Halim mengadakan perlawanan dengan melakukan kaderisasi pemuda dan calon muballigh. Untuk itu, ia mendirikan Persatuan Pemuda Indonesia (PPI) guna mewadahi kumpulan pemuda tersebut. Dan ternyata  cukup banyak muballigh yang tercetak dari PPI. Lembaga inilah yang ternyata kemudian menjadi embrio Ansor di Kabaputen Jember.

KH Abdul Halim Shiddiq Pelopor Ansor dan Muslimat NU Jember (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Abdul Halim Shiddiq Pelopor Ansor dan Muslimat NU Jember (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Abdul Halim Shiddiq Pelopor Ansor dan Muslimat NU Jember

Tidak hanya itu, Kiai Halim juga menggarap potensi kaum perempuan dengan membentuk “Himayatus Syarafil Muslimat wal Banat”. Artinya, pelindung kemulian wanita Islam. Dalam waktu yang tak terlalu lama, organisasi ini diubah namanya menjadi “Islahul Muslimat” di bawah binaan Ustadzah Solihah dan istrinya, Nyi Hayat Muzayyanah. Belakangan, Islahul Muslimat berganti nama menjadi Muslimat NU.

Sebagai muballigh, Pendiri pesantren ASHRI Talangsari, Jember ini sangat disukai karena sifatnya yang merakyat. Ia menggunakan sepeda onthel untuk menghadiri undangan tabligh meski di pelosok desa. Bahkan saat sudah mempunyai  mobil jeep pun, ia masih kerap kali keleling tabligh dengan sepeda onthelnya. Selain melakukan tabligh di  “darat”, ia juga menggelar tabligh di udara melalui radio amatir ASHRI. Itu karena ia memandang  bahwa  dakwah melalui radio jangkauannya lebih luas.

Ustadz Felix Siaw

Kiai Halim tergolong berani dan teguh pendirian. Untuk urusan fiqh, ia sangat keras. Contohnya, saat itu ia mendapati orang berjualan dedeh (daging yang terbuat dari darah). Kiai yang lahir pada 20 Mei 1912 ini kemudian menyampaikan hukum keharaman mengonsumsi dedeh saat pengajian di radio ASHRI. Bahkan, ia menuntut Bupati Jember Soejarwo bertanggung jawab. Sang bupati pun merespon dengan cepat, dengan melakukan razia di pasar  dan membuat aturan larangan menjual daging haram tersebut.

Ustadz Felix Siaw

Sikap yang sama, Kiai Halim tunjukkan dalam soal keberadaan patung di dekat alun-alun, yang juga berseberangan dengan halaman masjid jamik Jember, al-Baitul Amien. Melalui radio ASHRI, ia  menyatakan ketidak setujuannya terhadap pendirian patung tersebut. Bahkan ia mengancam tidak akan berkhotbah di masjid jamik jika patung itu masih ada di sana. Bahkan ia bepesan jika meninggal dunia, mayatnya tak rela dilewatkan di depan patung yang juga berdekatan dengan masjid tersebut.

Kiai Halim  meninggal dunia di rumah sakit Patrang, pada malam Selasa, 23 Maret 1970. Ribuan orang turut berduka, mengantarkan jenazahnya ke tempat peristirahatannya yang terakhir di pemakaman Turbah Condro, Kaliwates, Jember. Ia meninggalkan dua orang istri; Nyai Muzayyanah dan Nyai Najmu Laili yang asli Belanda. Sekarang putra-putrinya menjadi tokoh dan sebagian mengasuh pesantren. (Aryudi A Razaq/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Ahlussunnah, News Ustadz Felix Siaw

Mencari Titik Temu Awal Ramadhan (1)

KH Ghazalie Masroeri

Ketua Lajnah Falakiyah PBNU

Penentuan awal Ramadlan, awal Syawal, dan awal Dzulhijjah di negara-negara muslim selain Indonesia tidak mengalami permasalahan. Penentuannya diitsbatkan oleh Negara (Malik, Sulthon, Amir, dan lain-lain), kemudian umat Islam mengkutinya. Itsbat itu diterbitkan atas dasar pada rukyah, meskipun ilmu hisab berkembang.

Mencari Titik Temu Awal Ramadhan (1) (Sumber Gambar : Nu Online)
Mencari Titik Temu Awal Ramadhan (1) (Sumber Gambar : Nu Online)

Mencari Titik Temu Awal Ramadhan (1)

Lain halnya di Indonesia. Penentuan awal Ramadlan, awal Syawal, dan awal Dzulhijjah di Indonesia diitsbatkan oleh Menteri Agama RI dalam sidang itsbat yang dihadiri oleh Ormas-Ormas Islam. Setelah mendengar pandangan peserta sidang, kemudian Menteri Agama RI menerbitkan itsbat berdasarkan rukyah dan hisab sesuai dengan rekomendasi MUI yang diputuskan dalam ijtima’ ulama’ komisi fatwa MUI dan Ormas-Ormas Islam se Indonesia pada tanggal 16 Desember 2003.

Secara formal, itsbat itu berlaku bagi seluruh umat Islam di Indonesia. Tetapi dalam kenyataan sering terdapat kelompok-kelompok muslim mengambil sikap berbeda dengan itsbat itu. Idealnya, setelah diterbitkan itsbat, maka perbedaan harus sudah selesai, sesuai dengan yang dialami oleh para sahabat pada masa Rasulullah SAW. Riwayat Rib’i bin Hirasy dari salah seorang sahabat Rasulullah SAW bahwa para shahabat berbeda pendapat tentang akhir ramadlan, di tengah-tengah perbedaan itu datanglah dua orang a’robi melaporkan kepada Rasulullah SAW dan bersumpah: 

Ustadz Felix Siaw

Ustadz Felix Siaw

بِاللهِ َلاَهَلَّ اْلهِلاَلُ اَمْسِ عَشِيَّةً Ù‹ 

Demi Allah sejatinya hilal telah tampak kemarin sore

Atas dasar laporan dan sumpah (rukyah berkualitas) tersebut, maka Rasulullah saw mengitsbatkan hari itu hari Idul Fitri dan memerintahkan para sahabat untuk shalat ‘ied pada keesokan harinya (karena waktu itu sudah dzuhur) (HR. Ahmad dan Abu Daud). Kemudian perbedaan sudah selesai.

Perbedaan terjadi karena adanya perbedaan metode dan perbedaan kriteria dalam menentukan awal bulan.

Ilmu hisab berasal dari India masuk ke dalam kalangan Islam ketika era dinasti Abbasiyah abad 8 Masehi. Dewasa ini lebih dari dua puluh metode hisab berkembang di Indonesia. Antara metode-metode itu terdapat perbedaan, terutama antara metode taqribi dengan metode tahqiqi/tadqiqi/’ashri. Dan adanya perbedaan tentang kriteria awal bulan yaitu perbedaan antara kriteria wujudul hilal dengan kriteria imkanur rukyah. Perbedaan dalam hitungan menit masih dapat diberi toleransi, tetapi ketika perbedaan dalam hitungan derajat dan hari maka menimbulkan persoalan serius, seperti adanya perbedaan hitungan hisab taqribi dengan hitungan hisab tahqiqi/tadqiqi/’ashry tentang Idul Fitri 2011 M.

Perbedaan hitungan hisab yang menimbulkan persoalan serius ini mengundang adanya perselisihan mengenai kedudukan hisab di samping rukyah. Apakah hisab berfungsi sebagai instrumen pendukung dan pemandu rukyah; ataukah hisab dapat menggantikan rukyah.

Dalam pada itu, terdapat kelompok-kelompok kecil di luar Ormas-Ormas Islam yang menentukan awal Ramadlan, awal Syawal, dan awal Dzulhijjah menurut urfi masing-masing.

Sesungguhnya semua sistem penentuan awal bulan mempunyai kesaaman yaitu bahwa adanya hilal sebagai tanda datangnya awal bulan baru. Yang menjadi masalah ialah, adanya perbedaan mengenai kriteria hilal. Untuk itu kita perlu mengetahui definisi hilal secara bahasa, syar’i dan sains.

Hilal Menurut Bahasa

Hilal dalam Bahasa Arab adalah sepatah kata isim yang terbentuk dari 3 huruf asal yaitu ha-lam-lam (ﻫ - Ù„ - Ù„), sama dengan asal terbentuknya fi’il (kata kerja) Ù‡ÙŽÙ„ÙŽÙ‘ dan tashrifnya اَهَلَّ. Hilal (jamaknya ahillah) artinya bulan sabit, suatu nama bagi cahaya bulan yang tampak seperti sabit. Ù‡ÙŽÙ„ÙŽÙ‘ dan اَهَلَّ dalam konteks hilal mempunyai arti bervariasi sesuai dengan kata lain yang mendampinginya yang membentuk isthilahi (idiom). Bangsa Arab sering mengucapkan:

هَلَّ الِْهَلاَلُ dan اَهَلَّ اْلهِلاَلُ artinya bulan sabit tampak.

Ù‡ÙŽÙ„ÙŽÙ‘ الرَّجُلُ artinya seorang laki-laki melihat/memandang bulan sabit. 

اَهَلَّ الْقَوْمُ الْهِلاَلَ  artinya orang banyak teriak ketika melihat bulan sabit.

هَلَّ الشَّهْرُ artinya bulan (baru) mulai dengan tampaknya bulan sabit.

Jadi menurut Bahasa Arab, hilal adalah bulan sabit yang tampak pada awal bulan dan dapat dilihat. Kebiasaan orang Arab berteriak kegirangan ketika melihat hilal.

Hilal Menurut al-Qur’an

Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 189 mengemukakan pertanyaan para sahabat kepada Nabi SAW tentang ahillah (jamak dari hilal):

يَسْأَلونَكَ عَنِ الأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيْتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ  .... “Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: "Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji…””

Ayat ini menunjukkan bahwa ahillah atau hilal itu sebagai kalender bagi kehidupan manusia dan ibadah, termasuk ibadah haji. Pertanyaan itu muncul karena sebelumnya para sahabat telah melihat penampakan hilal atau dengan kata lain hilal telah tampak terlihat oleh para sahabat.

Para mufassir telah mendefinisikan, bahwa hilal itu pasti tampak terlihat. Al-Maraghi dalam tafsirnya jilid I halaman 84 mengemukakan sebuah riwayat dari Abu Na’im dan Ibnu ‘Asakir dari Abi Sholih dan Ibnu Abbas menceritakan:

اِنَّ مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ وَثَعْلَبَةَ بْنَ غُنَيْمَةٍ قَالاَ: يَارَسُوْلَ اللهِ, مَا بَالُ الْهِلاَلِ يَبْدُوْ دَقِيْقًا مِثْلَ الْخَيْطِ ثُمَّ يَزِيْدُ حَتَّى يَعْظُمَ وَيَسْتَوِىَ وَيَسْتَدِيْرَ, ثُمَّ لاَ يَزَالُ يَنْقُصُ وَيَدُقُّ حَتَّى يَعُوْدَ كَمَا كَانَ, لاَ يَكُوْنُ عَلَى حَالٍ فَنَزَلَتِ اْلاٰيَة 

Sesungguhnya Mu’adz bin Jabal dan Tsa’labah bin Ghunaimah bertanya: “Ya Rasulallah, mengapa keadaan hilal itu tampak lembut cahayanya laksana benang, selanjutnya bertambah sehingga membesar, merata dan bundar, dan kemudian berangsur-angsur menyusut dan melembut sehingga kembali seperti keadaan semula, tidak dalam satu bentuk?” Maka turunlah ayat ini.” 

Ash-Shabuni dalam tafsirnya Shafwatuttafasir juz I halaman 125 mengemukakan tafsir ayat tersebut sebagai berikut:

يَسْأَلُوْنَكَ يَامُحَمَّدْ عَنِ الْهِلاَلِ لِمَ يَبْدُوْ دَقِيْقًا مِثْلَ الْخَيْطِ ثُمَّ يَعْظُمُ وَيَسْتَدِيْرُ ثُمَّ يَنْقُصُ وَيَدُقُّ حَتىَّ يَعُوْدَ كَمَا كَانَ؟

Mereka bertanya kepadamu hai Muhammad tentang hilal mengapa ia tampak lembut semisal benang selanjutnya membesar dan terus membulat kemudian menyusut dan melembut sehingga kembali seperti keadaan semula?”

Dalam pada itu Sayyid Quthub dalam tafsirnya fii Zhilalilqur’an juz I halaman 256 menafsirkan ayat tersebut sebagai berikut:

فَهُمْ يَسْأَلُوْنَ عَن اْلاَهِلَّةِ ... مَا شَأْنُهَا؟ مَا باَلُُ الْقَمَرِ يَبْدُوْ هِلاَلاً ثُمَّ يَكْبُرُ حَتىَّ يَسْتَدِيْرَ بَدْرًا ثُمَّ يَأْخُذُ فِى التَّنَاقُصِ حَتَّى يَرْتَدَّ هِلاَلاً ثُمَّ يَخْتَفِى لِيُظْهِرَ هِلاَلاً مِنْ جَدِيْدٍ؟



“Maka mereka bertanya tentang ahillah (hilal) … bagaimana keadaan ahillah (hilal)? Mengapa keadaan qamar (bulan) menampakkan hilal lalu membesar sehingga bulat menjadi purnama selanjutnya berangsur menyusut sehingga kembali menjadi hilal lagi dan kemudian menghilang tidak tampak untuk selanjutnya menampakkan hilal dari (bulan) baru?

Al-Maraghi dalam tafsirnya jilid 4 hal 67 menafsirkan ayat …وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ (QS Yunus : 5) sebagai berikut:

وَقَدَّرَ سَيْرَ اْلقَمَرِ فِىْ فَلَكِهِ مَنَازِلَ يَنْزِلُ كُلَّ لَيْلَةٍ فِى وَاحِدٍ مِنْهَا لاَ يُجَاوِزُهَا وَلاَ يَقْصُرُ دُوْنَهَا وَهِيَ ثَمَانِيَةٌ وَعِشْرُوْنَ يُرَى الْقَمَرُ فِيْهَا بِاْلاَبْصَارِ , وَلَيْلَةٌ اَوْ لَيْلَتَانِ يُحْتَجَبُ فِيْهِمَا فَلاَ يُرَى .

Allah menetapkan perjalanan bulan pada orbitnya beberapa manzilah; setiap malam menempati satu manzilah; tidak akan melampaui dan tidak berkurang dari padanya. Adapun manzilah-manzilah itu ialah 28 manzilah yang di dalamnya bulan terlihat oleh mata, dan 1 malam atau 2 malam bulan tertutup, maka tidak dapat dilihat.”

Penafsiran ini mengisyaratkan bahwa dari observasi bulan al-Maraghi berkesimpulan:

Awal bulan ditandai dengan penampakan hilal yang dapat dilihat dengan mata di awal malam (sesaat setelah matahari terbenam).

27 manzilah berikutnya, yakni tanggal 2 sampai dengan 28, bulan dapat dilihat dengan mata.

Manzilah ke-29 atau ke-30, bulan tidak dapat dilihat dengan mata.

Penafsiran yang sama juga dilakukan al-Maroghi terhadap surat Yasin ayat 39.

Jelaslah menurut ayat-ayat Al-Qur’an dan tafsirnya tersebut, bahwa hilal atau bulan sabit itu pasti tampak terlihat.

Hilal Menurut as-Sunnah

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Daud dari Rib’i bin Hirasy dari salah seorang sahabat Rasulullah SAW sebagaimana disebutkan di depan :

بِاللهِ لَاَهَلَّ اْلهِلاَلُ اَمْسِ عَشِيَّةً  

Demi Allah sungguh telah tampak hilal kemarin sore

Hadits ini menyatakan bahwa hilal itu pasti tampak terlihat. Demikian pula dalam hadits-hadits yang lain seperti hadits Mu’adz bin Jabal dan Tsa’labah bin Ghunaimah tersebut di atas:

يَارَسُوْلَ اللهِ, مَا بَالُ الْهِلاَلِ يَبْدُوْ دَقِيْقًا مِثْلَ الْخَيْطِ …

(Artinya : “Ya Rasulallah, mengapa keadaan hilal itu tampak lembut cahayanya laksana benang”)

Hilal Menurut Sains

Hilal atau bulan sabit atau dalam istilah astronomi disebut crescent adalah bagian dari bulan yang menampakkan cahayanya terlihat dari bumi ketika sesaat setelah matahari terbenam pada hari telah terjadinya ijtima’ atau konjungsi. 

Dari tinjauan bahasa, Al-Qur’an/tafsir, As-Sunnah dan tinjauan sains sebagaimana diutarakan di atas maka dapat disimpulkan bahwa hilal adalah bulan sabit yang cahayanya lembut laksana benang yang tampak dan terlihat dari bumi dengan mata di awal bulan, sesaat setelah terbenamnya matahari di hari telah terjadinya ijtima’ atau konjungsi, sebagai tanda datangnya bulan baru. 

Kalau tidak tampak tidak disebut hilal. Hilal tidak hanya dalam angan-angan/pemikiran; dan tidak hanya dalam dugaan/keyakinan. Untuk mengetahui adanya penampakan hilal (ظُهُوْرُ الْهِلاَل), diperlukan upaya-upaya observasi, pengamatan, atau rukyah di lapangan.

* Makalah disampaikan dalam acara Mudzakarah di Aula TK Islam Al-Azhar lt.II Kampus Al-Azhar Kebayoran Baru, Senin 2 Juli 2012, yang dipanel dengan Prof. DR. Thomas Djamaluddin (Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN), dan Prof. Dr. H. Syamsul Anwar, M.A.(Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah). Moderator : Dr. HM. Hartono, MM (Ka. Sekretariat Masjid Agung Al Azhar)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Santri Ustadz Felix Siaw

Jumat, 24 November 2017

Gus Dur: Saya Ikut Mbah Hasyim

Jakarta, Ustadz Felix Siaw. Dalam jangka panjang, yang menjadi penentu dalam berbagai hal dalam kehidupan bermasyarakat adalah masyarakat itu sendiri, bukan pemimpin keagamaan. Karena itu, pilihan negara Islam menjadi sangat tidak tepat.

“Bukan lagi kiai yang menentukan. Karena itu, almarhum Rais Akbar Nahdlatul Ulama KH. Hasyim Asy’ary dan KH. Wahid Hasyim itu berfikir ya sudah negara ini jangan dijadikan negara Islam,” kata mantan ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di depan para puluhan peserta pengajian Ramadhan di Pesantren Ciganjur, Jakarta (1/10).

Gus Dur: Saya Ikut Mbah Hasyim (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur: Saya Ikut Mbah Hasyim (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur: Saya Ikut Mbah Hasyim

Kenapa kita menjadi negara Pancasila? Menurut Gus Dur, dalam masa depan pluralitas itu sangat penting dan tidak bisa dipisahkan dari kehidupan umat manusia yang beragama. Islam sendiri tidak memungkiri adanya pluralitas itu.

“Maka mau tidak mau jangan negara Islam. Kalau saya sih ikut Mbah Hasyim saja (KH. Hasyim Asy’ary: Red), karena kenyataannya memang begitu,” kata Gus Dur.

Konsekuensi dari negara Pancasila adalah adanya pemisahan yang tegas antara agama dan negara. “Karena itu undang undang seperti Anti Pornografi dan Pornoaksi (APP) harus dihindarkan, nah karena itu berarti UU berarti pemerintah campatr tangan,” kata Gus Dur yang sejak awal berbeda dengan PBNU dalam soal APP.

Dalam negara Pancasila, dikatakan Gus Dur, pemerintah tidak dapat menentukan apakah sebuah intitusi dalam masyarakat telah mengganggu ketentraman umum atau tidak. Gus Dur mencontohkan, pemerintah yang diwakili oleh pihak kepolisian sempat berencana menutup pesantren Nguki Solo yang dipimpin oleh Ustadz Ba’asyir karena dinilai meresahkan masyarakat dan diklam sebagai sarang penggemblengan para teroris.

Ustadz Felix Siaw

“Waktu itu hanya saya yang berani membantah. Saya katakan, bahwa negara tidak punya urusan untuk menutup pesantren. Masyarakat yang berhak menutup, bukan kepolisian. Apalagi kepolisian kan hanya menjalankan perintah saja, tidak berhak menentukan apakah melanggar kepentingan umum atau tidak,” kata Gus Dur. (nam)

Ustadz Felix Siaw

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Kyai, Tokoh, Nasional Ustadz Felix Siaw

Kamis, 23 November 2017

Mendikbud Hapus Tiga Tokoh Penyebar Islam Kalsel sebagai Cagar Budaya

Banjarmasin,Ustadz Felix Siaw. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Muhadjir Effendy mencabut status 3 makam tokoh di Kalimantan Selatan sebagai cagar budaya. Ketiga makam tersebut adalah Datu Abulung di Martapura (Kabupaten Banjar), Datu Sanggul di Tapin, dan makam Datu Tumpang Talu di Kandangan.

Mendikbud Hapus Tiga Tokoh Penyebar Islam Kalsel sebagai Cagar Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Mendikbud Hapus Tiga Tokoh Penyebar Islam Kalsel sebagai Cagar Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Mendikbud Hapus Tiga Tokoh Penyebar Islam Kalsel sebagai Cagar Budaya

Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Kalimantan Selatan menyesalkan langkah Mendikbud. PWNU menilai mereka mereka adalah tokoh-tokoh terhormat, penyebar Islam, bahkan pejuang republik.

Bagi PWNU, mereka adalah tokoh-tokoh berani yang menolak dan melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda. Jasa-jasa mereka sangat besar untuk republik ini. Karena itu dulu pantas jika makamnya masuk cagar budaya.

Ustadz Felix Siaw

“Aneh sekali, setelah bertahun-tahun sudah masuk sebagai cagar budaya, kok baru sekarang malah dicabut?” ujar Sekretaris PWNU Kalimantan Selatan H. Nasrullah AR melalui siaran pers Ahad (6/8).

Ustadz Felix Siaw

Jika alasan pencabutan status cagar budaya itu karena berubah desain dari bentuk asal, kata dia, itu sama sekali tidak relevan. Sebab penghargaan ketiga makam itu sebagai cagar budaya bukan karena desainnya, melainkan karena ketokohannya.

Menurut dia, bukti ketokohan mereka, sampai hari ini ketiga datu itu terus meningkat. Terbukti kunjungan umat selalu ramai setiap harinya. Bagi masyarakat Banjar khususnya, dan Kalimantan pada umumnya, ketiga tokoh itu sangat dihormati.

“Bagi kami, langkah Mendikbud itu, seperti menyepelekan ketokohan ketiganya. Tokoh idola warga Banjar,” lanjutnya.

Ia berharap Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, melalui Gubernur dan DPRD Kalimantan Selatan menolak sikap Mendikbud itu. Sebab, bagaimanapun, langkah Menteri itu cenderung menyepelekan khazanah budaya yang selama disanjung dan hormati. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Meme Islam, Fragmen, RMI NU Ustadz Felix Siaw

Di Muka Sekda, IPNU dan IPPNU Jepara Perjuangkan Pelajar Putus Sekolah

Jakarta, Ustadz Felix Siaw. Pengurus Pimpinan Cabang IPNU dan IPPNU Jepara menemui Sekretaris Daerah (Sekda) kabupaten Jepara Sholih di rumah dinasnya, Selasa (14/7). Dalam pertemuan yang dirangkai dengan buka puasa bersama ini, rombongan yang berjumlah sedikitnya 30 pelajar ini mengungkapkan fenomena pelajar putus sekolah karena masalah biaya.

Di Muka Sekda, IPNU dan IPPNU Jepara Perjuangkan Pelajar Putus Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Muka Sekda, IPNU dan IPPNU Jepara Perjuangkan Pelajar Putus Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Muka Sekda, IPNU dan IPPNU Jepara Perjuangkan Pelajar Putus Sekolah

Pada pertemuan ini, mereka membahas perihal bagaimana peran pemerintah terhadap sekolah-sekolah swasta khususnya dan pendidikan di Jepara pada umumnya menjelang Masa Orientasi Peserta Didik Baru (MOPDB).

Menurut Sekretaris IPNU Jepara Riyan Azis Salafuddin, sekarang ini sudah banyak berdiri sekolah mulai baik negeri maupun swasta di Jepara. Namun masih ada beberapa anak usia SMP yang tidak bersekolah lantaran tidak ada biaya.

Ustadz Felix Siaw

“Selain itu juga ada lebih banyak anak usia SMA yang putus sekolah,” ujar Riyan.

Sementara Sekda Jepara Sholih menyatakan bahwa terkait masalah pendidikan, pemerintah telah mengupayakan sebaik-baiknya seperti adanya Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan Sertifikasi bagi para guru.

Ustadz Felix Siaw

Saat ini Pemkab Jepara juga mengupayakan peningkatan kualitas sekolah-sekolah swasta, pemberian beasiswa bagi siswa kurang mampu, juga ditambah dengan program dari Dinas Sosial yang menyelenggarkan Pengurangan Pekerja Anak (PPA).

“Semua itu tinggal kemauan saja,” ujar Sholih. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Quote Ustadz Felix Siaw

LFNU Probolinggo Gelar Pelatihan Hisab dan Rukyat

Probolinggo, Ustadz Felix Siaw. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Probolinggo melalui Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) menggelar pelatihan hisab dan rukyat angkatan 1 tahun 2015, Sabtu (7/11) di aula Kantor Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Probolinggo.

LFNU Probolinggo Gelar Pelatihan Hisab dan Rukyat (Sumber Gambar : Nu Online)
LFNU Probolinggo Gelar Pelatihan Hisab dan Rukyat (Sumber Gambar : Nu Online)

LFNU Probolinggo Gelar Pelatihan Hisab dan Rukyat

Pelatihan yang dibuka oleh Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Probolinggo KH Abdul Hadi ini diikuti oleh seluruh pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU), perwakilan lembaga, lajnah dan badan otonom (banom) serta pengurus PCNU Kabupaten Probolinggo.

Dalam sambutannya Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Probolinggo KH Abdul Hadi menyampaikan ucapan terima kasih dan sangat bersyukur kepada Allah SWT karena apa yang menjadi impiannya selama ini telah menjadi kenyataan. Lembaga, lajnah dan badan otonom bisa berjalan baik sebagaimana yang diharapkan.

Ustadz Felix Siaw

“Karena NU itu diibaratkan tubuh, sedangkan anggota tubuhnya adalah lembaga, lajnah dan banom hingga ke ranting. Kalau semuanya bisa berfungsi dengan baik, maka secara otomatis Nahdlatul Ulama akan mampu menjadi pencerah dalam kehidupan ini,” ungkapnya.

Ustadz Felix Siaw

Sementara KH. Ahsanul Haq dari PWNU Provinsi Jawa Timur memberikan apresiasi kepada pengurus PCNU Kabupaten Probolinggo dan jajarannya yang telah mampu membangun kerja sama dan kemitraan dengan baik sehingga segala apa yang diplanning bisa berjalan sesuai harapan.

“Merujuk pelaksanaan Muktamar ke-33 Jombang, kita ketahui bersama bahwa dalam Muktamar tersebut sistemnya telah berubah. Ada perbaikan-perbaikan sistem yang dilakukan mulai dari PBNU, PWNU, PCNU hingga PRNU. Harapannya adalah organisasi kita menjadi sempurna,” katanya.

Sedangkan Ketua Pengurus Cabang LFNU Kabupaten Probolinggo menyampaikan bahwa kegiatan pelatihan hisab dan rukyat ini dilakukan untuk menyamakan persepsi dan menambah pengetahuan dalam upaya menentukan awal bulan Ramadhan yang dimungkinkan adanya perbedaan.

“Dari dulu sudah sering terjadi perbedaan karena sistem yang digunakan juga berbeda. Dengan kegiatan ini masyarakat dan warga Nahdlatul Ulama bisa memahami adanya perbedaan tersebut sehingga dapat memperkecil adanya problematika konflik di kalangan masyarakat,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, PWNU Provinsi Jawa Timur juga memberikan sosialisasi Kartu Tanda Anggota Nahdlatul Ulama (Kartanu) dengan menggandeng PT. Media Promosi? yang dipandu Mas Hakim Maftuh, santri alumni Pondok Pesantren Salafiyah Safi’iyah Sukorejo Situbondo. (Syamsul Akbar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Ahlussunnah Ustadz Felix Siaw

Rabu, 22 November 2017

Ini Instruksi PWNU Aceh Kepada Peserta Muskerwil

Banda Aceh, Ustadz Felix Siaw



Untuk melengkapi struktur organisasi di tingkat kecamatan Ketua Tanfidziyah (Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama) PWNU Aceh Tgk. H. Faisal Ali menginstruksikan kepada seluruh Pengurus Cabang (PC) NU kabupaten/kota se-Aceh untuk segera melengkapi kepengurusan di tingkat kecamatan bahkan sampai ke tingkat ranting.

Ini Instruksi PWNU Aceh Kepada Peserta Muskerwil (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Instruksi PWNU Aceh Kepada Peserta Muskerwil (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Instruksi PWNU Aceh Kepada Peserta Muskerwil

?

“Ke depan semua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama harus memiliki kantor sekretariat yang memadai sehingga koordinasi antara sesama pengurus NU, Badan Otonom, Lembaga dan Lajnah NU bisa dilakukan secara rutin,” tambah Faisal Ali dalam Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) NU Aceh di Aula Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) MPU Aceh, Sabtu(19/03/2016).

?

Hal senada juga diperkuat oleh Sekretaris Tanfidziyah, Tgk. Asnawi M. Amin. Ia berharap ke depan PCNU harus Aktif melaksanakan kegiatan pengkaderan di berbagai tingkat mulai dari IPNU, IPPNU, PMII, Fatayat, dan GP Ansor juga harus aktif mengadakan kajian-kajian keilmuan dalam konteks Ahlussunah wal ? Jamaah (Aswaja). Ia juga mengatakan, warga NU akan datang bisa memiliki Kartanu. ?

Ustadz Felix Siaw

?

“Setiap warga NU harus ada Kartanu (kartu tanda anngota NU) yang Insya Allah juga sebagai ATM kerjasama PBNU dengan Bank Mandiri,” tutup Asnawi dihadapan peserta Mukerwil yang terdiri dari jajaran Pengurus Wilayah NU Aceh, Pengurus Cabang NU se-Aceh (Ismi Amran/Mukafi Niam)

Ustadz Felix Siaw

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Humor Islam, AlaNu Ustadz Felix Siaw

Selasa, 21 November 2017

Penangkal Mahasiswa Anarkis, UIM Terampak Pesantren Mahasiswa

Makassar, Ustadz Felix Siaw. Universitas Islam Makassar mengadakan Pesantren Mahasiswa dan Training ESQ gelombang 3 bagi mahasiswa baru Pembukaan Pesantren Mahasiswa ini dihadiri para wakil Rektor UIM, Direktur Pascasarjana, Seluruh Dekan se Universitas , Ketua Lembaga, dan dihadiri 523 peserta dari berbagai fakultas 29/11, kegiatan ini akan berlangsung selama 4 hari 29/11-2/12 ? yang dipusatkan di aula SMK Darussalam.

Penangkal Mahasiswa Anarkis, UIM Terampak Pesantren Mahasiswa (Sumber Gambar : Nu Online)
Penangkal Mahasiswa Anarkis, UIM Terampak Pesantren Mahasiswa (Sumber Gambar : Nu Online)

Penangkal Mahasiswa Anarkis, UIM Terampak Pesantren Mahasiswa

Dalam sambutannya Suradi sebagai Ketua Panitia Pelaksana mengemukakan Pesantren mahasiswa dan Training ESQ ini wajib diikuti setiap mahasiswa, sebagai salah satu syarat kegiatan proses akademik. Setiap peserta akan mendapatkan sertifikat yang akan menjadi syarat ujian meja/munaqys.

Disisi lain Training ESQ ini akan dilatih trainer dari tim ESQ Sulawesi Selatan yang berpengalaman dan untuk pesantren mahasiswa akan dibimbing langsung oleh sesepuh Nahdlatul Ulama Sulawesi Selatan diantaranya Anregurutta KH Sanusi Baco Rais Syuriyah NU Sulsel yang juga pimpinan Ponpes Nahdlatul Ulum Soreang Maros, KH Zain Irwanto Wakil Rais NU Sulsel, dan Dr Arfah Shiddiq Wakil Ketua NU Sulsel. Materi pesantren diantaranya Aqidah, Syariah dan Tasawuf sesuai dengan kultur keilmuan Nahdlatul Ulama. Ungkap Suradi

Ustadz Felix Siaw

Wakil Rektor III Dr Abd Rahim Sanjata yang juga mewakili Rektor Universitas Islam Makassar dalam sambutannya, memaparkan Universitas Islam Makassar sebagai lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama memliki tanggung jawab moral untuk melahirkan intelektual yang memiliki akhlakul karimah. Melalui pesantren mahasiswa dan training ESQ ini, mahasiswa akan diberikan materi penyadaran spiritual.

Ustadz Felix Siaw

Akhir-akhir ini banyak masyarakat ? yang antipati terhadap gerakan mahasiswa dalam menyampaikan aspirasinya yang terkadang anarkis. Sebagai Perguruan Tinggi Islam yang memiliki visi misi yang mencetak intelektual, tentunya melalui training ESQ dan Pesantren ini, mahasiswa akan digembleng untuk mendapatkan materi spiritual dan melalui pesantren, mahasiswa akan mendapatkan ilmu praktek cara beribadah sesuai dengan kultur NU. Tambahnya.

Olehnya itu, UIM mengharapkan seluruh mahasiswa mengikuti proses training dan pesantren mahasiswa ini sampai selesai. Disisi lain, mahasiswa ke depan akan mendapatkan materi-materi spiritual dalam proses perkuliahannya sebagai bekal untuk mengaplikasi dalam kehidupan bermasyarakat. Ungkapnya sekaligus membuka proses pesantren mahasiswa ini. (andy muhammad idris/mukafi niam)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Fragmen, AlaNu, Tegal Ustadz Felix Siaw

Mbah Muchit, Pemikir NU Sepanjang Hayat

Yogyakarta, Ustadz Felix Siaw. Ketika itu di tengah suasana pelantikan pengurus baru PBNU 2015-2010, salah satu sesepuh NU, KH Abdul Muchit Muzadi wafat. Duka yang sangat mendalam, sekaligus cambuk bagi generasi penerus untuk melanjutkan perjuangan Mbah Muchit yang selalu setia berjuang bersama NU dan Indonesia.

“Kita sangat kehilangan sosok panutan seperti Mbah Muchit,” lirih HM Lutfi Hamid, MAg, Pimpinan Umum Majalah Bangkit PWNU DI Yogyakarta, Jumat (16/10).

Mbah Muchit, Pemikir NU Sepanjang Hayat (Sumber Gambar : Nu Online)
Mbah Muchit, Pemikir NU Sepanjang Hayat (Sumber Gambar : Nu Online)

Mbah Muchit, Pemikir NU Sepanjang Hayat

Lutfi menambahkan, Mbah Muchit sepanjang hayatnya tak pernah berhenti untuk memikirkan NU dan Indonesia. Ia tak takut apapun kalau itu untuk kepentingan NU dan Indonesia. Bahkan kepentingan diri sendiri dan keluarga sering dinomorduakan. Ia jalani itu dengan bahagia, tanpa mengeluh. Ketika usianya sudah lanjut, dan sering didera penyakit, Mbah Muchit malah berkelakar, “Saya ini tidak sakit, saya ini sudah tua.”

Ustadz Felix Siaw

“Majalah Bangkit Edisi Oktober 2015 ini hadir dengan semangat yang diwariskan Mbah Muchit. cintanya terhadap NU ia gunakan sebagai wasilah untuk menjaga Indonesia,” tegasnya. 

Ustadz Felix Siaw

Semangat hidup inilah, lanjutnya, yang mesti menjadi ruh generasi NU dan bangsa ini. Gagasan Islam Nusantara membutuhkan generasi yang siap berjuang sepenuh jiwa raga seperti Mbah Muchit. Inilah yang mesti dilahirkan generasi yang meneguhkan Islam Nusantara untuk Indonesia dan dunia. 

“Bangkit akan terus mengawal Islam Nusantara. Agar tema itu tidak hanya dibicarakan sesaat, tetapi meresap dalam sanubari Nahdliyyin. Peran semua elemen bangsa mesti dikelola dengan sistematis, sehingga gagasan Islam Nusantara bisa memberi manfaat untuk masa depan,” tegas Kakanwil Kemenag Sleman tersebut. (Suhendra/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Sholawat Ustadz Felix Siaw

Ketua PCNU Jombang Wasiatkan Catur Tama

Jombang, Ustadz Felix Siaw. Peringatan hari lahir Nahdlatul Ulama yang berbarengan dengan Maulidurrasul serta Pasar Rakyat, sore tadi dibuka dengan apel kesetiaan. NU akan kukuh menjaga empat pilar kebangsaan demi khidmat kepada negara.

Alun-alun kota Jombang menjadi saksi komitmen pembelaan NU terhadap eksistensi NKRI. Ribuan fungsionaris, warga dan simpatisan NU memadati alun-alun kota santri dalam rangka mengikuti apel kesetiaan (8/2).

Ketua PCNU Jombang Wasiatkan Catur Tama (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua PCNU Jombang Wasiatkan Catur Tama (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua PCNU Jombang Wasiatkan Catur Tama

Pemimpin upacara, KH Isrofil Amar yang juga Ketua PCNU Jombang merasa bangga dan berterimakasih kepada semua elemen NU yang terlibat secara aktif demi suksesnya acara ini. Demikian juga kepada beberapa pihak, termasuk Pemkab Jombang yang bersinergi demi terselenggaranya kegiatan.

Ustadz Felix Siaw

Dalam amanatnya, Kiai Isrofil –sapaan kesehariannya- mengingatkan para hadirin untuk tetap menjaga keutuhan bangsa. “Saya namakan kegiatan sore ini sebagai apel catur tama warga NU,” katanya. 

Secara rinci, Ketua PCNU Jombang dua periode ini menandaskan bahwa ada empat hal yang harus dipegang teguh oleh para fungsionaris dan warga NU.

Ustadz Felix Siaw

Pertama adalah melaksanakan dan mensukseskan empat pilar bangsa Indonesia. Empat pilar tersebut adalah Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika. Bagi Kiai Isrofil, komitmen ini tidak dapat ditawar. 

“Bahkan siapa saja, baik perorangan dan kelompok yang akan merongrong terhadap eksistensi empat pilar ini, maka akan berhadapan dengan NU,” katanya disambut aplaus panjang hadirin. “Marilah kita amankan empat pilar bangsa dan negara ini,” lanjutnya.

Yang kedua adalah warga NU wajib untuk mencintai dan mengembangkan jam’iyah Nahdlatul Ulama. “Di mana saja dan kapan saja, nahdliyin harus terus berjuang dan mendukung eksistensi NU,” katanya yang kembali disambut tepuk tangan hadirin.

Untuk yang ketiga adalah warga dan fungsionaris NU harus senantiasa mempelajari, mendalami dan mengamalkan aqidah Ahlussunnah wal jamaah. “Di mushalla dan masjid, mari kita gelorakan tahlil, yakni kalimat La ilaha illallah,” katanya. “Demikian juga di mushalla serta masjid, ayo kita gelorakan shalawat nabi, Allahumma shlli ‘ala Sayyidina Muhammad” katanya yang disambut “Allahumma shallu ‘alaihi” para hadirin.

Sedangkan tugas keempat adalah mencegah perbuatan mungkar. Dosen Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum Jombang ini mengingatkan bahwa dalam hidup pasti ada kebaikan dan keburukan. 

“Tugas kita adalah mengajak masyarakat untuk berbuat kebajikan,” terangnya. Namun demikian, Kiai Isrofil mengingatkan agar dalam menyeru kebaikan serta mencegah keburukan tetap dalam bingkai yang dibenarkan. “Strategi menyeru berbuat baik dan mencegah keburukan adalah dengan akhlakul karimah,” tandasnya.

Di akhir amanatnya, Kiai Isrofil menagih komitmen ribuan peserta apel untuk terus berada dan menjaga Nahdlatul Ulama. “Sekali NU, tetap NU,” katanya yang ditirukan seluruh peserta apel.

Kegiatan dihadiri seluruh badan otonom, lembaga, dan lajnah NU. Tampak pula para undangan dari unsur Muspida, partai politik dan elemen masyarakat Jombang lainnya. Bahkan anggota pramuka, kelompok barongsai juga ikut serta dalam apel kesetiaan yang dimulai sejak jam 15.00 hingga 17.00 WIB ini.

Redaktur     : Hamzah Sahal

Kontributor : Syaifullah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw News, Lomba, Pertandingan Ustadz Felix Siaw

Senin, 20 November 2017

Nusron Wahid: Inilah Tiga Pilar Bangsa Besar

Kudus, Ustadz Felix Siaw - Kebesaran suatu bangsa sangat ditentukan oleh bersatunya tiga pilar yakni mauluduhu bi Makkah (kelahiran Nabi di Makkah), wahijratuhu bil madinah (hijrahnya Nabi Muhammad ke Madinah), dan washultonu bis syam (pemimpin Negeri Syam). Secara simbolik, ketiganya ini tercermin pada sosok habaib, kiai, dan pemimpin di Indonesia.

Demikian disampaikan Ketua PBNU H Nusron Wahid dalam acara peringatan maulid Nabi Muhammad SAW dan haul Eyang Suryo Kusumo di halaman Pesantren Nashrotul Ummah Desa Mejobo Kecamatan Mejobo Kudus, Selasa (31/5) malam.

Nusron Wahid: Inilah Tiga Pilar Bangsa Besar (Sumber Gambar : Nu Online)
Nusron Wahid: Inilah Tiga Pilar Bangsa Besar (Sumber Gambar : Nu Online)

Nusron Wahid: Inilah Tiga Pilar Bangsa Besar

Nusron menguraikan, Islam tidak akan kuat tanpa bersatunya kelahiran Nabi Muhammad. Membicarakan lahirnya Nabi Muhammad berarti ada hubungannya dengan kuturunan atau dzurriyah-nya yakni para habib.

Ustadz Felix Siaw

"Jadi Islam di Indonesia akan kuat manakala ada habaib. Jadi kehadiran Habaib di sini telah memenuhi salah satu pilar tadi," tegas Ketua BNP3TKI ini.

Ustadz Felix Siaw

Sedangkan Hijratuhu bil Madinah, Nusron menjelaskan bahwa hijrahnya nabi ke Madinah pada zaman itu mendapat jaminan keamanan masa depan perjuangan kaum Ansor. "Berhubung sudah tidak ada lagi sahabat Ansor, maka menjadi penerusnya adalah ulama. Suatu bangsa bisa besar karena ada ulama," jelasnya.

Yang dimaksud Wasulthonu bi Syam adalah seorang negarawan atau pemimpin. Negara sangat membutuhkan sosok negarawan seperti pemimpin negara mulai presiden, gubernur, bupati, lurah bahkan ketua RW sekalipun sehingga bisa berkembang.

"Bangsa Indonesia terjalin rukun karena selalu dibimbing para habib-kiai dan diayomi pemimpin. Ketiga pilar ini tidak boleh dipisahkan dan diadudombakan. Bila ada yang mengadu domba habib dengan ulama, berarti orang tersebut akan menghancurkan negara. Termasuk pula mengadu pemimpin-pemimpin negara," tegas Ketua Umum GP Ansor masa khidmah 2011-2016 ini.

Selain Nusron, turut hadir menyampaikan taushiyah Rais Aam Jamiyah Ahli Thariqah Muktabarah Annahdliyyah Habib Luthfi bin Yahya. (Qomarul Adib/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Budaya Ustadz Felix Siaw

Minggu, 19 November 2017

Perjuangan Tanpa Pamrih dari Para Guru Ngaji (2)

Pendidikan sebagai instrumen mencerdaskan kehidupan bangsa tentu tidak akan berjalan jika kalkulasinya selalu materi. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa mewujudkan kesejahteraan guru, khususnya di lingkungan pendidikan Islam harus diperhatikan betul, baik oleh pemerintah maupun masyarakat terkait.

Hadirnya buku jilid kedua tentang kisah para ngaji berjudul Mendidik Tanpa Pamrih: Kisah Para Pejuang Pendidikan Islam Jilid 2 ini bisa menjadi inspirasi bagi para guru dan pengambil kebijakan bahwa di berbagai pelosok daerah banyak ‘mutiara terpendam’ yang masih butuh sentuhan kebijakan meski perjuangan mereka tanpa pamrih. Buku kedua yang juga diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kemenag RI ini berusaha menjangkau lebih luas lagi tentang kisah para guru ngaji.

Perjuangan Tanpa Pamrih dari Para Guru Ngaji (2) (Sumber Gambar : Nu Online)
Perjuangan Tanpa Pamrih dari Para Guru Ngaji (2) (Sumber Gambar : Nu Online)

Perjuangan Tanpa Pamrih dari Para Guru Ngaji (2)

Jika di jilid pertama banyak memotret para guru ngaji di daerah pulau Jawa, dalam buku kedua yang diberi Epilog oleh pendidik dan sastrawan Madura KH D. Zawawi Imron ini lebih banyak memotret guru ngaji di luar Pulau Jawa seperti Aceh, Mataram, Manado, Pontianak, hingga Papua. Terhitung dari jumlah total 29 kisah guru ngaji dalam buku ini, 17 tulisan berasal dari luar pulau Jawa sisanya dari Pulau Jawa.

Kendati demikian, baik para guru ngaji yang berasal dari Jawa dan luar Jawa tidak ada bedanya dalam sisi perjuangan mewujudkan pendidikan yang ramah dan murah. Potret perjuangan yang penuh dengan kesederhanaan inilah yang terus dilakukan oleh para pejuang tersebut. Meski proses pembelajaran dilakukan dengan sarana dan prasarana yang belum memadai, mereka tetap berupaya mencetak generasi emas dan berakhlak mulia seperti yang menjadi misi pendidikan Islam.

Dalam buku yang ditulis oleh para penulis muda dengan pendekatan jurnalistik sastrawi ini, berbagai tulisan inspiratif dihadirkan untuk menyampaikan bahwa keterbatasan dana, dukungan, sarana, dan lain-lain tidak mengurangi sedikit pun semangat untuk terlibat aktif mencerdaskan dan menyiapkan para generasi berkualitas dari berbagai aspek ilmu dan keterampilan. Apalagi dewasa ini pendidikan Islam terus menjelma menjadi ruh di tengah kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Jika ditarik benang merah, perjungan para guru ngaji yang dikisahkan secara apik dalam buku ini berangkat dari keprihatinan mereka terhadap generasi anak bangsa yang makin jauh dari nilai-nilai moralitas. Sebut saja guru bernama Husnul Khatimah (halaman 267) yang disebut dalam buku ini sebagai Tjut Nyak Dien. Ia secara nyata membangun lembaga pendidikan Islam yang bernama Taman Pendidikan Masyarakat (TPM) “Tanyoe” di Desa Lambirah, Aceh Besar dengan biaya dari uang beasiswanya sendiri saat ia masih kuliah di UIN Ar-Raniry Aceh.?

Ustadz Felix Siaw

Begitu pun dengan guru ngaji bernama Bastiah (halaman 167) yang mengabdikan dirinya dalam membina TPQ di desanya, Klirong, Kecamatan Tanggulangin, Kebumen, Jawa Tengah. Ia prihatin dengan berbagai perilaku premanisme di desanya sehingga bagi dia, penanaman nilai-nilai agama penting bagi generasi muda terutama anak-anak. Selain TPQ di Masjid, ia juga membuka pengajian di rumahnya. Pendidikan maraton ia jalani tiap hari yakni selesai mengajar di TPQ Masjid, ia lanjutkan membimbing anak-anak yang kerap sudah menunggu di rumahnya. Latar belakang menjadi TKI tidak membuatnya surut untuk membangun pendidikan Islam. Justru keputusannya menjadi TKI tidak terlepas untuk mewujudkan cita-cita mulianya. “Ya Allah, saya berangkat ingin mencukupi anak-anak yang ngaji. Perjuanganku Ya Allah,” Bastiah mengingat doanya.

Teladan lain dalam buku setebal 316 halaman ini hadir dari Ustadz Abdul Haris Sholeh (halaman 199). Guru Madrasah Diniyah di Desa Kebandungan, Kecamatan Bantarkawung, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah ini menjalani aktivitas mendidiknya disambi menekuni ternak kerbau lumpurnya. Berdasarkan semangat untuk membangun lembaga yang pendidikan Islamnya itu, Ustadz Haris secara serius mengelola peternakannya itu sehingga dapat juga memberdayakan masyarakat sekitarnya.?

Ustadz Felix Siaw

Luar biasanya lagi, dia mampu membesarkan usaha ternaknya sehingga mendapat pengahargaan dari Bupati. Dari perjuangannya inilah Bupati mengusulkan Ustadz Haris menjadi Pelestari Sumber Daya Genetik (SDG) Kerbau Lumpur Tingkat Provinsi Jawa Tengah. Pria kelahiran Brebes, 12 Juni 1980 ini dinilai layak karena telah terbukti mendukung program Swasembada Daging Sapi/Kerbau tahun 2015 dengan menjunjung tinggi kearifan lokal.

Tentu kisah-kisah inspiratif lain dari 29 para pejuang pendidikan Islam bisa diteguk dalam buku ini. Yang perlu ditekankan dalam perjuangan mereka adalah bahwa kerja-kerja kultural seperti yang dikisahkan dalam buku ini tidak bisa dikalahkan oleh kerja-kerja politik dengan pendekatan kekuasaan dan uang. Perjuangan mereka adalah pembelajaran yang mewah karena berangkat dari ketulusan hati yang tidak ada tandingannya. Sebab itu, tidak jarang generasi yang muncul menjadi berkualitas secara akhlak karena berangkat dari keikhlasan jiwa.?

Tentu kisah dalam buku ini hanya sebagian kecil dari praktik yang tumbuh secara luas di masyarakat. Buku ini hanya berupaya menggambarkan ‘sebutir’ dan ‘sebongkah’ berlian yang bertebaran di berbagai pelosok dan sudut desa. Potret ini tidak serta merta ingin mengajak para pihak-pihak terkait untuk melakukan hal serupa, tetapi ingin memberikan ungkapan perjuangan kepada para pendidik lain dan para pengambil kebijakan agar keberadaan mereka juga perlu mendapat perhatian sebagai bagian dari elemen pencerdas generasi anak bangsa.***

Identitas buku:

Judul ? : Mendidik Tanpa Pamrih: Kisah Para Pejuang Pendidikan Islam (Jilid 2)

Editor ? : Abi S Nugroho, Hamzah Sahal

Penerbit ? : Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kemenag RI

Tebal ? ? ? ? ? : xviii + 316 halaman

Cetakan ? : I, Desember 2015

Peresensi : Fathoni Ahmad, Pengajar di STAINU Jakarta.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Kiai, RMI NU Ustadz Felix Siaw