Senin, 29 Februari 2016

NU Rumuskan Modul Penanggulangan Bencana

Jakarta, Ustadz Felix Siaw

Di masa yang akan datang, Nahdlatul Ulama (NU) tak akan kewalahan lagi jika terjadi bencana alam. Karena, nantinya, organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Tanah Air ini akan memiliki sebuah modul tentang cara-cara efektif penanggulangan bencana alam berikut perangkat-perangkatnya.

Modul itu saat ini sedang dalam proses perumusan oleh Community Based Disaster Risk Management (CBDRM) NU melalui forum Roundtable Discussion Modul; “Pesantren Based Disaster Risk Management Nahdlatul Ulama” yang digelar di Hotel Gren Alia, Cikini, Jakarta, 20-23 Desember mendatang.

NU Rumuskan Modul Penanggulangan Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Rumuskan Modul Penanggulangan Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Rumuskan Modul Penanggulangan Bencana

Forum yang dibuka langsung oleh Ketua Pengurus Besar NU Andi Jamaro Dulung itu nantinya akan membuat modul penanggulangan bencana berbasis pesantren. Sejumlah pakar penanggulangan bencana dari berbagai lembaga bersama-sama CBDRM NU akan membuat modul versi NU tersebut.

Project Manager CBDRM NU Avianto Muhtadi, kepada Ustadz Felix Siawmengatakan, modul yang akan dirumuskan nanti bersifat penanggulangan sebelum terjadinya bencana alam itu sendiri. Menurutnya, hal itu penting guna mengurangi jumlah korban dalam suatu bencana.

“Bukan dalam pengertian tanggap darurat, rehabilitasi atau rekonstruksi. Tapi penanggulangan bencana sebelum terjadi bencana. Langkah antisipatif jika suatu saat terjadi bencana. Ini penting untuk mengurangi jumlah korban jika ada bencana,” terang Avin, begitu panggilan akrabnya.

Ustadz Felix Siaw

Di tempat yang sama, Ketua PBNU Andi Jamaro Dulung menyambut baik kegiatan tersebut. Diakuinya, hingga saat ini, NU belum memiliki ilmu dan pengalaman tentang penanggulangan bencana alam. “Kita ini  belum memiliki banyak referensi, ilmu dan pengalaman dalam hal penanggulangan bencana alam,” katanya.

Akibatnya, lanjut Andi—demikian ia akrab disapa, jika terjadi bencana alam, NU tidak mampu berbuat banyak. Gelombang pasang tsunami yang menghantam Aceh 2004 silam serta sejumlah bencana alam yang menyusul kemudian, menurutnya, cukup menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi NU.

“Lima hari pasca-tsunami, kami (tim relawan NU) ke Aceh. Sampai di sana kami bingung. Kami tidak bisa berbuat apa-apa. Persiapan-persiapan yang kami bawa dari Jakarta, ternyata tidak banyak dibutuhkan di sana. Ini pelajaran bagi NU agar bisa lebih siap jika suatu saat dibutuhkan,” terang Andi. (rif)

Ustadz Felix Siaw

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Kajian Ustadz Felix Siaw

Selasa, 23 Februari 2016

Apa yang Dicari Muslim Prancis ke Indonesia?

Jakarta, Ustadz Felix Siaw. Chairman Grand Mosque dari Kota Lyon Prancis Azeddin Bahi berkunjung ke PBNU pada Selasa (7/4). Ia ditemani Penanggung Jawab Administrasi dan Keuangan Grand Mosque Kamel Khabtane seorang penerjemah dan seorang yang akan belajar di Prancis.

Apa yang Dicari Muslim Prancis ke Indonesia? (Sumber Gambar : Nu Online)
Apa yang Dicari Muslim Prancis ke Indonesia? (Sumber Gambar : Nu Online)

Apa yang Dicari Muslim Prancis ke Indonesia?

Mereka diterima di lantai 3 gedung PBNU oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj bersama Sekretaris Jenderla PBNU H Marsudi Syuhud, Ketua PBNU Iqbal Sulam, Ketua PP LTMNU KH Abadul Manan A Ghani, dan Sekretaris PP RMI NU H Miftah Faqih. ?

Perbincangan kedua belah pihak dimulai dengan Kiai Said Aqil Siroj menanyakan statistik penduduk Muslim di Prancis.

Ustadz Felix Siaw

Menurut Azeddin, ada sekitar 6 juta Muslim di negaranya. Jumlah tersebut, merupakan 10 persen dari keseluruhan penduduk. Dengan jumlah seperti itu, mereka bisa menempatkan wakilnya sebanyak 4 orang di parlemen.

Ustadz Felix Siaw

Berdasarkan pertanyaan-pertanyaan kiai yang akrab disapa Kang Said ini, Azeddin menjelaskan, saat ini muslim Prancis tidak berpikir muluk-muluk kepada pemerintah. Mereka hanya ingin pemerintah dan warga Prancis lain lebih mengerti tentang Islam.

Memang, kata dia, Prancis menghargai keberadaan Islam. Tapi hanya sebatas mengakui saja, tanpa mengenal lebih jauh. Prancis juga membuat organisasi yang mengayomi Islam, tapi itu bukan kebutuhan umat Islam. Tapi saat ini yang urgen adalah memahami Islam.

Setelah kasus Charlie Hebdo, lanjut dia, warga muslim dikritik sana-sini. Supaya aman, saat ini, masjid-masjid di Prancis dijaga militer.

Ia juga menyebutkan, ada sekitar 1500 warga Prancis yang memeluk Islam yang berangkat dan bergabung dengan ISIS. Namun, mereka adalah mualaf Prancis yang mengetahui Islam bukan bersumber masjid-masjid dari Prancis, melainkan dari internet.

Oleh karena itu, pihaknya telah bertemu dengan Kementerian Agama Republik Indonesia untuk melakukan kerja sama Indonesia-Prancis dalam pengajaran agama Islam.

Islam Aswaja

Kang Said kemudian mengemukakan bahwa NU adalah organisasi massa Islam terbesar di dunia yang berhaluan moderat, toleran, dan memiliki komitmen untuk keselamatan tanah air.

Keberadaan NU berusaha menciptakan kedamaian, ketenangan, antiradikalisme, antiextremisme. Hal itu karena pada dasarnya penduduk Indonesia, secara umum, tak ada fanatisme suku dan aliran mazhab berlebihan.

Padahal, di Indonesia terdiri dari beratus-ratus suku yang berada di pulau-pulau yang berbeda. “Alhamdulillah muslim Indonesia toleran. Ada yang radikal, tapi kecil. Di Arab, fanatisme suku dibarengi mazhab dan politik. Jadi, jika terjadi konflik mazhab atau politik, bisa terjadi perang suku,” jelasnya.

Kang Said kemudian mencontohkan bagaiman sikap muslim Indonesia yang menghormati hari besar agama minoritas seperti Hindu, Budha, dan Konghucu, dengan libur nasional. Apalagi dengan Katolik dan Kristen yang lebih besar.

Bahkan dari agama-agama itu ada yang menduduki menteri, gubernur, bupati, dan wali kota, meski mayoritasnya muslim. ?

Menanggapi itu Azeddin Bahi mengatakan, hal itulah yang dicari ke Indonesia. Ia ingin mebuktikan dan mengatakan kepada Prancis bahwa ada negara muslim besar yang menghargai minoritas.

Kang Said kemudian menjelaskan, pada umumnya masyarakat Indonesia menganut Ahlussunah wal Jamaah yang mengajarkan persaudaraan dengan sesama Islam, sesama warga Indonesia, dan umat manusia. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Habib, Fragmen, Sejarah Ustadz Felix Siaw

Kamis, 18 Februari 2016

Kisah Kiai Wahab Izinkan Kurban Sapi untuk Berdelapan

Jakarta, Ustadz Felix Siaw. Para kiai selalu menjadi tumpuan masyarakat untuk menyelesaikan berbagai persoalannya, yang kadangkala unik dan perlu penyelesaian yang bijak tanpa meninggalkan kaidah agama. KH Wahab Chasbullah pernah mengizinkan kurban sapi untuk berdelapan orang, padahal ketentuannya adalah kurban sapi maksimal untuk bertujuh.?

Kisah berikut bahkan melibatkan dua tokoh besar NU, berhadapan dengan masyarakat desa yang awam. Seorang warga desa berkeinginan untuk berkurban sapi. Persoalannya orang tersebut menginginkan agar kurban tersebut dapat diniatkan untuk delapan orang, bukan tujuh.?

Kisah Kiai Wahab Izinkan Kurban Sapi untuk Berdelapan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Kiai Wahab Izinkan Kurban Sapi untuk Berdelapan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Kiai Wahab Izinkan Kurban Sapi untuk Berdelapan

Pertama-tama, warga tersebut mengunjungi kediaman KH Bisri Syansuri di daerah Denanyar Jombang. Singkat cerita, ia mengutarakan maksudnya untuk berkurban sapi yang diniatkan untuk delapan orang. Tentu saja, Kiai Bisri yang sangat ketat menjaga kaidah fikih menolak permintaan itu.?

Ustadz Felix Siaw

“Kalau kurban berdelapan, ya harus satu sapi ditambah satu kambing.”?

Ustadz Felix Siaw

Orang kampung tentu punya logika berpikir sendiri, ia protes, karena dengan prinsip mangan ora mangan kumpul, ia berharap nanti di akhirat, sapi tersebut bisa menjadi kendaraan bagi seluruh anggota keluarganya.

“Bisa ngak kiai, kita korban satu sapi yang gemuk biar muat delapan orang, kan anak saya masih kecil-kecil. Masak ngak ada sapi yang muat delapan orang. Soalnya kalau satu sapi dan satu kambing, nanti kalau di oro-oro maghsyar ketlingsut, susah nanti carinya. Kita ingin masuk surga bareng-bareng.”?

Kiai Bisri dengan tegas menyatakan ngak bisa kurban sapi untuk berdelapan karena memang kaidah fikihnya begitu.

Singkat cerita, orang desa tersebut keukeuh dengan keinginannya dan tidak mau menerima saran dari Mbah Bisri Syansuri. Karena tidak ada penyelesaian, ia lalu pulang.

Karena sudah mantap dengan niatnya, ia kemudian mendatangi kediaman KH Wahab Chasbullah di daerah Tambak Beras Jombang.?

Di rumah Kiai Wahab, ia menceritakan maksudnya.?

“Saya ingin kurban satu sapi yang gemuk untuk delapan orang.”

Kiai Wahab pertama terteguh dengan permintaan tersebut, setelah berpikir sejenak, kemudian ia menjawab, “Ya ngak apa-apa, bisa buat berdelapan, sembelih kurbannya di sini saja.”?

Tapi ia masih ragu, “Kata Kiai Bisri ngak bisa kurban sapi ? untuk berdelapan.”?

“Itu fikihnya Kiai Bisri, fikih di sini bisa,” jawab Mbah Wahab.

Kemudian Kiai Wahab bertanya, “Sekarang gini, anakmu umur berapa yang paling kecil.”?

“Baru usia tiga bulan Kiai,” jawab warga desa itu.?

“Gini, anakmu kan kecil, nah, tambah kambing satu untuk tangga supaya bisa buat ancik-ancik. Kalau ngak kamu tambahi kambing satu, ngak bisa naik, nanti malah ditinggal sapi. Ngak mlebu suwargo bareng.”

Bujukan Kiai Wahab tersebut masuk di logika warga kampung tersebut, “Ya sudah nanti saya tambahin kambing satu yang gemuk, biar kuat buat ancik-ancik.?

Akhirnya, ketemulah solusi yang diinginkan oleh warga desa tersebut, secara fikih tetap sah dan memuaskan keinginan warga desa tersebut. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Pendidikan, Sunnah, Ahlussunnah Ustadz Felix Siaw