Selasa, 29 September 2015

PMII Kutai Timur Gelar Seminar Iringi Konferensi

Kutai Timur, Ustadz Felix Siaw

Kepengurusan PMII Kutai Timur kini telah berganti dari Nasirudin digantikan oleh Suci Nastiti. Prosesi pergantian pengurus ini diawali dengan rentetan kegiatan mulai dari seminar nasional dengan tema "Menguatkan Integritas Kebangsaan dengan Nilai Luhur Islam Nusantara" dan dilanjutkan dengan Konferensi Cabang (Konfercab) yang ke V yang bertemakan "Mengukuhkan Visi Gerakan PMII Kutai Timur untuk Mewujudkan Kutai Timur Bermartabat".

PMII Kutai Timur Gelar Seminar Iringi Konferensi (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Kutai Timur Gelar Seminar Iringi Konferensi (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Kutai Timur Gelar Seminar Iringi Konferensi

Kegiatan seminar berlangsung di Gedung BPU Kecamatan Sangatta Utara, sedangkan Konfercab berlangsung BPP-UTK Kecamatan Sangatta Selatan Kabupaten Kutai Timur. Seminar nasional kebangsaan dan pembukaan yang dihadiri oleh pengurus cabang, GP Ansor Kab. Kutai Timur, Alumi PMII Kutai Timur, Mabincab PMII Kutai Timur, DPD KNPI Kab. Kutai Timur, BEM STIE, BEM STAI Sangatta, Sapma PP, GMNI, HMI.

PCNU Kab. Kutai Timur membuka acara Seminar Nasional Kebangsaan dan konferensi PMII Cabang Kutai Timur yang ke V. Pembukaan acara seminar nasional kebangsaan & konfercab juga sangat meriah karena dihadiri oleh seluruh kader PMII STAI Sangatta, Rayon Tarbiyah dan Rayon Syariah yang berjumlah kurang lebih 150 kader dan anggota.

Dalam sambutanya Ketua Panitia Abdul Manab menyampaikan apresiasi kepada seluruh kader PMII Kutai Timur yang telah menghadiri kegiatan seminar nasional kebangsaan dan konfercab ke -V. Konfercab merupakan forum evaluasi, penilaian dan menyusun GBHO serta pemilihan ketua umum cabang baru masa khidmat 2016-2017.

Ustadz Felix Siaw

?

Nashirudin dalam sambutannya berharap agar PMII ke depan lebih baik dalam kaderisasi dan selalu progresif dalam mengawal dan mengontrol kebijakan-kebijakan pemerintah baik di level kabupaten, provinsi, maupun pusat. “Jadi jangan pernah berharap meminta apapun dari PMII tapi berfikirlah apa yang mau diberikan untuk PMII, dan semoga PMII Cabang Kutai Timur ke depan lebih baik dari sebelumnya," tutur Nasirudin.?

Ustadz Felix Siaw

Majelis pembina cabang (Mabincab) Hariono dalam sambutannya menuturkan, "Jadilah kader-kader yang militan yang mampu membawa perubahan karena kalian semua adalah generasi bangsa yang diharapkan oleh seluruh bangsa Indonesia khususnya kabupaten Kutai Timur.?

Dalam pemilihan yang berlangsung secara aklamasi Suci Nastiti menjadi ketua umum Kutai Timur masa ibadah 2016-2017.

Dalam sambutanya sebagai mandataris, Suci Nastiti menyampaikan bahwa PMII adalah milik bersama, jadi besarnya PMII Cabang Kutai Timur juga bergantung pada sahabat-sahabat yang mendedikasikan dirinya untuk PMII baik tenaga, pikiran, waktu bahkan materil. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Berita, Nasional, Halaqoh Ustadz Felix Siaw

Rabu, 23 September 2015

Madrasah Muallimat NU Kudus Resmikan Pesantren Putri

Kudus, Ustadz Felix Siaw?

Pengurus Madrasah NU Muallimat Kudus meresmikan pondok pesantren putri yang berlokasi di ? Dukuh Tepasan, Desa Demangan, Kecamatan Kota, Kudus. Rabu (12/9). Pondok pesantren ini berdiri di atas tanah seluas 2.460 meter persegi ini difokuskan pada pengajaran Al Quran.?

Ketua Pengurus Madrasah Muallimat, KH Nadjib Hassan mengungkapkan pendirian pesantren putri ini sebagai salah satu upaya yang dilakukan sebagai jawaban atas pelajaran salafiyah yang terus-menerus terdesak oleh pelajaran-pelajaran umum.?

Madrasah Muallimat NU Kudus Resmikan Pesantren Putri (Sumber Gambar : Nu Online)
Madrasah Muallimat NU Kudus Resmikan Pesantren Putri (Sumber Gambar : Nu Online)

Madrasah Muallimat NU Kudus Resmikan Pesantren Putri

“Ini adalah jawaban untuk terus mempertahankan dan mempertahankan pendidikan agama Islam terutama ? ajaran salafi. Kita juga bertekad untuk membentuk generasi yang qur’ani,” ujarnya di depan sejumlah tokoh yang hadir.

Ustadz Felix Siaw

Tak jauh berbeda apa yang disampaikan ketua PCNU Kudus, HM Chusnan. Dalam sambutannya, dia menyatakan peresmian pesantren putri ini selain menambah jumlah keberadaan pesantren putri di Kabupaten Kudus, juga melahirkan generasi mendatang akan semakin baik dan agamis.?

“Di tengah kemajuan zaman, kita tentu berharap pada generasi depan yang semakin baik dalam memahami alquran. Tentunya tak bisa lepas dari pesantren semacam ini,” kata Chusnan.

Ustadz Felix Siaw

Sementara Kepala Kemenag Kudus, H Hambali dalam sambutannya menyambut baik peresmian pesantren putri ini. Ia berharap tumbuhnya madrasah yang bersinergi dengan pesantren akan semakin memperbaiki kualitas alumninya.?

“Kita berharap alumni dari madrasah yang sekaligus telah membuka pesantren ini akan semakin berkualitas,” harapnya.

Pesantren ini diasuh oleh KiaiHamid Syatho dan istri, Minhatul Maula, sedangkan santrinya berasal dari pelajar putri MTs dan MA Mualllimat Kudus.Bangunan pesantren ini merupakan merupakan renovasi atas bangunan lama peninggalan zaman Belanda.?

“Kita tetap mempertahankan bentuk bangunan lama. Kita juga berterima kasih atas bantuan dari masyarakat terutama bantuan dari Kemenag atas renovasi bangunan ini,” terang Kiai Hamid.

Ia berharap dengan visi pesantren membentuk insan yang qur’ani, akan lahir generasi-generasi putri yang berkarakter islami serta berpegang teguh pada kitab suci Alquran.?

Redaktur ? : Mukafi Niam

Kontributor: Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw RMI NU Ustadz Felix Siaw

Minggu, 20 September 2015

Syukuran Harlah, Pelajar NU Karanganyar Gelar Khataman Al-Quran

Karanganyar, Ustadz Felix Siaw - Dalam menyambut harlah IPNU Ke-63 dan IPPNU Ke-62, para pengurus IPNU dan IPPNU Kabupaten Karanganyar mengkhatamkan 30 juz Al-Qur’an. Upacara khataman itu kemudian dilanjutkan dengan pembacaan tahlil sebelum dialog terbuka dengan para pembina di Gedung PCNU Kabupaten Karanganyar, Kamis (2/3).

Ketua IPNU Karanganyar M Ilham Subkhan mengatakan, khatmil Quran ini merupakan sarana agar nilai spiritual dalam berorganisasi para pengurus IPNU-IPPNU bertambah untuk kebesaran IPNU-IPPNU.

Syukuran Harlah, Pelajar NU Karanganyar Gelar Khataman Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)
Syukuran Harlah, Pelajar NU Karanganyar Gelar Khataman Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)

Syukuran Harlah, Pelajar NU Karanganyar Gelar Khataman Al-Quran

"Kegiatan khataman ini? merupakan momentum untuk memberikan tambahan bekal spiritual kepada para pengurus IPNU-IPPNU se-Kabupaten Karanganyar agar lebih giat lagi dalam membesarkan organisasi pelajar ini," ujarnya.

Ustadz Felix Siaw

Ketua IPPNU Karanganyar Muflichah mengungkapkan rasa syukurnya kepada Allah SWT karena organisasi pelajar yang ia pimpin di Karanganyar mengalami perkembangan cukup menggembirakan.

Ustadz Felix Siaw

Selain itu, ia juga berharap dengan khatmil Quran oleh pengurus ini yang diselenggarakan dalam peringatan harlah IPNU-IPPNU semakin solid dan merata dalam pengkaderan.

"Bertepatan dengan harlah IPPNU yang jatuh hari ini. Semoga IPNU dan IPPNU di Kabupaten Karanganyar semakin solid, aktif, dan berkembang. Selain itu, pengkaderan semakin merata," harap Muflich.

Pembina IPNU NHT Kholid menegaskan pentingnya menggalakan kaderisasi. Tetapi pendalaman terhadap NU tidak kalah penting. “Kita pun harus menata niat perjuangan di IPNU dan IPPNU, bahwa kita khidmah di NU juga melestarikan Aswaja.”

Pertemuan harlah ini ditutup dengan pemotongan nasi tumpeng. (Ahmad Rosyidi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Ahlussunnah, Sunnah Ustadz Felix Siaw

Minggu, 06 September 2015

Fiqih Toleransi ala Pesantren, Jalan Tengah Problem Kebhinnekaan

Temanggung, Ustadz Felix Siaw. Sejak kemunculannya secara menyolok mulai beberapa bulan terakhir ini, isu tentang toleransi dan intoleransi sampai saat ini masih tetap menjadi topik perbincangan yang hangat di Indonesia.?

Bahkan tak dapat sangkal kedua isu tersebut kini nuansa persoalannya justru kian berkembang sedemikian rupa hingga munyembul aneka polemik dalam pelbagai lapisan masyarakat dan negara.

Pondok Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional tertua di Nusantara ini, metodologi pembelajaran di dalamnya tidak saja berfungsi sebagaimana yang sudah lazim kita ketahui seperti misalnya menjadi benteng penjaga moral dan tradisi, media pemindahan ilmu dan pengetahuan agama dari kiai ke santri.?

Fiqih Toleransi ala Pesantren, Jalan Tengah Problem Kebhinnekaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Fiqih Toleransi ala Pesantren, Jalan Tengah Problem Kebhinnekaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Fiqih Toleransi ala Pesantren, Jalan Tengah Problem Kebhinnekaan

Harta karun pesantren

Salah satu harta karun yang belum banyak digali dari pesantren adalah adanya pembelajaran di pesantren yang sebenarnya mampu menawarkan solusi berupa ajaran toleransi yang khas serta memiliki karakteristik toleransi tersendiri yang membedakan dengan model-model toleransi lainnya yang di antaranya dinilai cenderung ekstrem. ?

Ustadz Felix Siaw

Demikian benang merah dari diskusi dan bedah buku karya Syarif Yahya berjudul Fikih Toleransi dan Relevansinya dengan Kebhinekaan yang diadakan oleh LPM Grip STAINU Temanggung, bertempat di aula kampus STAINU Temanggung lantai tiga, Rabu (15/2).

"Saya berulang-ulang dalam buku ini memetakan tiga kelompok yang masing-masing mempunyai perbedaan pandangan secara signifikan. Ketiganya yaitu kelompok kanan, kiri, dan tengah. Kelompok pertama yang dimaksud ialah kaum fundamentalis yang sangat kaku dalam menafsirkan agama. Bagi mereka ukhuwah islamiyah hanya berlaku bagi orang yang sefaham saja,” terang Syarif Yahya penulis buku ini.

Sementara Golongan kedua acap cenderung liberal, sering mereka mewacanakan dan mempraktikkan toleransi tanpa batas. Menurut golongan ini toleransi tak melulu dalam ranah sosial kemasyarakatan an sich tapi juga termasuk dalam wilayah teologi peribadatan. Maka posisi fiqih tradisional pesantren berada di tengan antara keduanya. ? ? ?

Ustadz Felix Siaw

Ketua Aswaja Center Kabupaten Temanggung ini menambahkan, meski pada awalnya antara Islam fundamentasil seperti Wahabi dengan Islam tradisional mempunyai kesamaan materi yang dipelajari misalnya pembahasan tentang jihad, amar maruf nahi mungkar, kisas, rajam, potong tangan, dll yang mana term-term Islam tersebut juga terdapat dalam kitab kuning yang dibaca santri, tapi istimewanya kaum tradisionalis pesantren tetap bisa tampil moderat.?

Hal itu kata kuncinya adalah terletak pada masih lestarinya metodologi pembelajaran kaum pesantren yang tidak dogmatis dan Cuma menggantungkan pada metode istifta atau meminta fatwa pada mufti dari negara pusatnya sebagaimana yang ditempuh golongan Islam fundamentalis.

Kekayaan metode

Lebih dari itu, kata Gus Yahya, demikian sapaan akrab alumni Al-Anwar Rembang ini, pendidikan pesantren memiliki kekayaaan metode seperti metode halakah misalnya, dimana murid berhadapan langsung dengan guru, kemudian santri menyimak pemamaparan materi yang luas dari guru, dipakainya pendapat ulama salaf salih yang jelas sanadnya, dipertimbangkannya aneka khilafiyah, juga murid dapat menyaksikan secara langsung pembawaan guru yang santun yang senantiasa mengedepankan akhlak mulia.

"Fiqih melalui metode syarah dan verbalisasi halakah dari matan sampai hasyiah bukanlah kitab fatwa. Fiqih ini lebih berupa pandangan umum penjelasan nash-nash suci. Itu artinya fleksibelitasnya terjaga dan memungkinkan seseorang dapat mengamalkannya sesuai kondisi yang menuntutnya. Berbeda dengan metode istifta ala Wahabi, kareana fatwa bersifat terikat dengan situasi dan kondisi tertentu maka belumlah tentu fatwa Arab cocok untuk Indonesia,” tuturnya.

Dalam kesempatan itu, Kiai muda yang baru saja memenangi juara I kompetisi nasional penulisan esai yang diprakarsai Ustadz Felix Siaw ini menyatakan kurang setuju pada kelompok Islam yang disebutnya liberalis.?

Menurutnya dalam soal ukhuwah, sebagian kelompok liberal demi melawan intoleransi mereka getol mengampanyekan persaudaraan sebangsa dengan terlebih dahulu menghancurkan dinding batas agama, seperti gencar sekali menghujati kaum fundamentalis dan tradisionalis sembari mereka berakrab karib dengan non-muslim secara kelewat batas.?

Mereka juga yang beranggapan bahwa persaudaraan lintas agama lebih penting ketimbang persaudaraan seagama demi bhinneka tunggal ika.

Berbeda dengan itu, lanjut pengurus LBM PCNU Temanggung ini, kelompok pesantren tradisionalis yang terinstitusikan dalam NU berpandanagan tengah dalam menyikapi kebhinnekaan.?

Jika kaum kanan begitu gemar mengafirkan muslim dari golongan lain yang berbeda paham; jika kaum kiri dengan dalih persatuan bangsa kemudian melacurkan agama melalui pluralisme teologi, maka kelompok pesantren bersikap tengah bahwa ukhuwah harus dibangun secara urut: ukhuwah qarabah (sekeluarga), ukhuwah islamiyah, dan ukhuwah wathaniyah atau sebangsa.?

"Kita berkewajiban baik kepada kepada saudara seagama tapi jangan samapai kebaikan itu melebihi kebaikan kita kepada keluarga. Kita berkewajiban baik kepada saudara sebangsa tapi jangan sampai melebihi kebaikan terhadap saudara seagama," jelas Gus Yahya.

Dalam acara yang diikuti sekitar seratus peserta ini, hadir pula Wakil Bupati Temanggung, Kapolres Temanggung, perwakilan dari berbagai banom dan lembaga dari kalanagan NU Temanggung, delegasi pondok pesantren, dan delegasi dari LPM beberapa Perguruan tinggi di Jawa Tengah. (M. Haromain/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Budaya, AlaSantri, Doa Ustadz Felix Siaw