Jumat, 24 Februari 2012

Kunjungi PBNU, JK Doakan NU Tambah Maju dan Makmur

Jakarta, Ustadz Felix Siaw. Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) memenuhi undangan PBNU dalam kapasitasnya sebagai salah seorang mustasyar atau penasehat PBNU dalam rapat tertutup yang berlangsung pada Rabu (16/4).

Kepada para wartawan, ia menegaskan, sama sekali tidak ada pembicaraan politik dalam pertemuan tersebut. “Saya datang ke PBNU bukan hanya sekarang, saya selalu datang kalau diundang,” jelasnya.

Kunjungi PBNU, JK Doakan NU Tambah Maju dan Makmur (Sumber Gambar : Nu Online)
Kunjungi PBNU, JK Doakan NU Tambah Maju dan Makmur (Sumber Gambar : Nu Online)

Kunjungi PBNU, JK Doakan NU Tambah Maju dan Makmur

Meskipun tidak menjelaskan detail pertemuan tersebut, rapat tersebut merupakan upaya untuk terus meningkatkan kinerja organisasi.?

Ustadz Felix Siaw

“Saya berdoa NU terus maju dan tambah makmur,” tandasnya.?

Ustadz Felix Siaw

JK merupakan putra H Kalla, tokoh NU di Sulawesi Selatan. Dalam penyelenggaraan muktamar ke-32 di Makassar tahun 2010 lalu, ia membantu mensukseskan acara lima tahunan NU tersebut.

Ia merupakan salah satu calon presiden yang diusung oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), partai yang pendiriannya difasilitasi oleh PBNU.

KH Said Aqil Siroj yang mendampingi JK menjelaskan, rapat tersebut membahas berbagai persoalan internal organisasi, diantaranya rencana penyelenggaraan musyawarah nasional dan konferensi besar (munas dan konbes) yang akan berlangsung awal Mei mendatang di Jakarta. ?

Rapat tersebut dihadiri oleh Rais Aam PBNU KH Mustofa Bisri, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj serta para pengurus NU lainnya. (mukafi niam)

Foto: antara

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Sunnah, Syariah Ustadz Felix Siaw

Sabtu, 11 Februari 2012

Dikukuhkan, FKUB Generasi Muda

Semarang, Ustadz Felix Siaw. Forum Kerukunan Umat Beragama Generasi Muda (FKUB GM) Jawa Tengah yang baru pertama ada di Indonesia dan menjadi percontohan, Jum’at (30/12) kemarin dikukuhkan. pengurusnya dilantik.

Dikukuhkan, FKUB Generasi Muda (Sumber Gambar : Nu Online)
Dikukuhkan, FKUB Generasi Muda (Sumber Gambar : Nu Online)

Dikukuhkan, FKUB Generasi Muda

Pelantikan dilaksanakan di Hotel Muria, Jl Dr Cipto Semarang, oleh Wakil Gubernur Jateng Rustriningsih didampingi Kepala Badan Kesbangpollinmas Jateng Agus Tusono dan seluruh pengurus FKUB Jateng.

Disaksikan hadirin utusan FKUB kabupaten/kota se-Jateng dan pejabat Kantor Kanwil Kemenag Jateng, organiasi baru para aktivis muda lintas agama itu dikukuhkan untuk berkiprah menjaga kerukunan umat beragama di kalangan generasi muda.

Ustadz Felix Siaw

Mereka terdiri atas Ketua Imam Fadhilah (Islam), Wakil Ketua Iqbal Birsyada (Islam), Wakil Ketua Pdt Timotius Setyanto (Kristen), Sekretaris Titus Bayu Santoso (Katholik), Sekretaris II Chandra Purnama Sari (Budha), Bendahara Eko Pujianto (Hindu) Bendahara II Giyanto Wijaya Salim (Kong Hu Chu). 

Ustadz Felix Siaw

Ditambah para pengurus bidang yang mewakili unsur enam agama di Indonesia.

Dibentuk di Seluruh Jateng

Ketua FKUB Jateng Abu Hapsin Umar didampingi jajaran pengurus menyatakan, pihaknya akan berupaya membentuk FKUB GM di seluruh kabupaten atau kota se-Jawa Tengah.  Targetnya, dalam tahun 2012 bisa selesai di 35 daerah di Jateng.

 “Kami mengupayakan agar FKUB GM bisa terbentuk di seluruh kabupatan/kota se-Jateng dalam tahun 2012 ini. Semoga ini kepeloporan ini membawa kebaikan dan bisa menyebar ke seluruh Indonesia,” tuturnya.

Ketua FKUB GM Iman Fadhillah menyatakan, forum yang dipimpinnya bertugas membantu FKUB yang sudah ada dalam upaya menjalin dialog antar umat beragama di kalangan generasi muda.

“Kami akan menjadi fasilitator bagi para pemuda lintas agama untuk membicarakan isu-isu strategis dalam relasi antar agama,” terang akvitis muda Nahdlatul Ulama ini.

Dosen Fakultas Syariah IAIN Walisongo Semarang ini menambahkan, forumnya telah menggelar rapat kerja dan memprogramkan banyak kegiatan. Diantaranya mengadakan Kongres Pemuda Antaragama yang mempertemukan pemuda lintas agama dari seluruh kabupaten/kota di Jawa Tengah.

Sementara itu, Wakil Gubernur (Wagub) Jateng Rustriningsih dalam sambutannya mengingatkan agar generasi muda Jawa Tengah terus menjaga kerukunan antarumat beragama agar tercipta suasana yang guyub, dan harmonis. Ia meminta pengurus FKUB GM Jateng membangun terus komunikasi lintas agama.

“Fasilitasi aspirasi umat dengan baik dan sosialisasikan kebijakan yang berkaitan dengan kerukunan umat beragama.”

Rustri berharap FKUB GM menjadi pionir dalam kehidupan sosial, dengan  program pemberdayaan  masyarakat dalam aktivitas yang positif seperti bhakti lingkungan, peduli korban bencana, dan pelatihan kerja.

Secara khusus Wagub menyampaikan penghargaan kepada Gerakan Pemuda Ansor yang pasukannya, Banser,  selalu membantu pengamanan perayaan Natal.

“Hal itu sebagai wujud nyata kerjasama lintas agama untuk mendukung toleransi dan kerukunan beragama,” ucapnya seraya mendukung pembentukan FKUB GM di daerah di Jawa Tengah.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Ichwan

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Khutbah, Nahdlatul Ulama, PonPes Ustadz Felix Siaw

Selasa, 07 Februari 2012

Pesantren: Instrumen Sinergi antara Ilmu, Islam, dan Indonesia

Oleh Suwendi

Keberadaan pondok pesantren menempati posisi strategis terutama dalam konteks pengembangan keilmuan, keislaman, dan keindonesiaan. Ilmu, Islam, dan Indonesia dalam beberapa diskursus terkadang dipahami secara diametral, sehingga sulit ditemukan titik temu antara ketiganya. Ilmu yang oleh sebagian cendekiawan dikategorikan sebagai sesuatu yang ”bebas nilai”, sehingga memadukan antara ilmu dan Islam yang oleh sebagian pemikir disebut proses islamisasi ilmu (islamization of knowledge) menghadapi kendala yang cukup serius, baik pada tingkat  ontologi, epistemologi, dan aksiologinya. Demikian juga mengembangkan Islam yang berkarakter keindonesiaan oleh sebagian kelompok ditanggapi secara resistensial.





Pesantren: Instrumen Sinergi antara Ilmu, Islam, dan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren: Instrumen Sinergi antara Ilmu, Islam, dan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren: Instrumen Sinergi antara Ilmu, Islam, dan Indonesia

Sebagian masyarakat mengidentikkan Islam dengan dunia Timur, khususnya Arab. Islam adalah Arab, dan Arab adalah Islam. Bahkan, seringkali memperadukkan dan tidak membedakan antara: mana ajaran Islam dan mana budaya Arab. Dianggapnya semua budaya Arab adalah ajaran Islam, dan ajaran Islam adalah semua yang berasal dari Arab. Hal ini mengakibatkan Islam dianggapnya hanya milik Arab. Di sisi lain, kita tidak memiliki keyakinan untuk mengatakan bahwa Indonesia juga adalah Islam. Di Arab ada Islam, di Indonesia juga ada Islam. Di sinilah tantangan yang sangat serius bagi dunia pesantren untuk mencari  formulasi integrasi ”Ilmu, Islam, dan Indonesia” baik pada tingkat pengembangan akademik, kurikuler, maupun desain kelembagaan yang jelas.



Ustadz Felix Siaw

Sejumlah cendekiawan muslim Indonesia sesungguhnya telah banyak melahirkan ide-ide pembaharuan dalam Islam-Indonesia. Abdurrahman Wahid dengan gagasan ”Pribumisasi Islam”, Nurcholish Madjid dengan ide merelasikan antara ”Islam dan Modernitas”, Quraish Shihab dengan gagasan ”Membumikan Islam”, atau “Islam Aktual” milik Jalaluddin Rahmat, merupakan ijtihad yang luar biasa dalam merumuskan Islam yang ”kekinian” dan ”kedisinian”. Islam yang mampu menjawab problem kekinian dan modernitas serta Islam yang fungsional dan aktual diterapkan di sini, di Indonesia.



Problematika masa dulu dengan masa kini tentu berbeda dan jauh lebih komplek. Demikian juga tantangan di belahan dunia sana jauh berbeda dengan tantangan yang dihadapi negara ini. Oleh karenanya, transformasi keislaman dari Islam-potensial menjadi Islam-aktual
 begitu penting. Islam tidak hanya di langit, tetapi ada juga di bumi. Islam tidak hanya sebagai ajaran agung, tetapi juga ajaran yang mampu menyelesaikan persoalan kemanusiaan.



Dalam konteks itu, pesantren dituntut agar mampu melahirkan sejumlah pemikir, pembaharu, dan mujtahid yang melahirkan gagasan-gagasan besar, ide-ide transformatif yang mampu menempatkan Islam sebagai pemecah problematika kemanusiaan. Untuk itu,
 terdapat beberapa langkah yang perlu dilakukan oleh pondok pesantren ke depan.

Ustadz Felix Siaw



Pertama,
 jadikan pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan Islam nasional dan dunia yang berkarakter keindonesiaan. Ciri khas budaya dan tradisi keislaman dengan meneguhkan tradisi lokalitasnya perlu direvitalisasi dengan tetap terbuka atas wacana pembaharuan dan pemikiran yang kontributif bagi pengembangan pendidikan. Pesantren didorong untuk menjadi wadah dialektika pemikiran, keilmuan, dan kebangsaan dengan tetap teguh atas kekhasan yang dimiliki pesantren. Oleh karenanya, revitalisasi atas budaya dan kearifan lokal patut untuk dijunjung tinggi.



Kedua,
 jadikan pesantren sebagai media yang mampu membentengi dari pemikiran dan gerakan radikalisasi agama. Ancaman radikalisasi agama sangat kuat dan nyata, dan itu tidak bisa dibiarkan. Radikaliasi keagamaan harus hadapi dengan mengembangkan pemikiran dan gerakan keislaman yang rahmatan lil’alamin, pemikiran dan gerakan keislaman yang damai, yang menjunjung tinggi demokrasi, hak asasi manusia, multikultural, dan semangat kemanusiaan, dengan tanpa meninggalkan identitas dirinya sebagai makhluk Tuhan yang harus selalu beribadah kepada-Nya. Cara dan metode dakwah dan keagamaan yang dikembangkan oleh Walisongo patut diberikan ruang yang cukup. Dakwah yang dimaksud adalah dakwah yang menenteramkan dan menyejukkan umat, bukan dakwah yang mencaci maki atau menghegemoni pemahaman keagamaan. Umat Islam Indonesia membutuhkan dan mendambakan lulusan pesantren yang mampu menyatukan dan meneguhkan kebersamaan, bukan menyalahkan dan menyudutkan.





Ketiga, dengan bertambahnya varian-varian layanan pendidikan di lingkungan pesantren, bukan berarti lalai atau meninggalkan kajian dan konsentrasi keilmuan yang justru menjadi identitas lembaga pesantren. Hal ini patut menjadi perhatian, pasalnya belakangan mulai terjadi fenomena dengan mengakomodasi sejumlah layanan pendidikan  itu menjadikan kajian keagamaan (tafaquh fiddin) yang awalnya menjadi ciri dari pesantren malah justru semakin tertinggal. Ketika pesantren mengakomodasi layanan pendidikan formal, semisal sekolah dan madrasah, justru kajian kitab kuning semakin berkurang. Oleh karena itu, merevitasilasi pesantren yang hanya menyelenggarakan kajian kitab kuning mutlak dilakukan.



Keempat,
 pondok pesantren didorong untuk memiliki jaringan kerjasama (networking) yang luas, baik dalam pengembangan akademik, perpustakaan, sarana prasarana, maupun akses pemanfaatan lulusan. Kerjasama tidak hanya bersifat nasional, tetapi juga terhadap sejumlah lembaga berskala regional dan dunia. Kreativitas dan pemikiran out of the box juga diperlukan demi pengembangan pesantren yang lebih baik.



Tentu saja, di samping beberapa langkah di atas, masih banyak pemikiran dan upaya lain yang patut dirumuskan untuk menjadikan pesantren sebagai lembaga yang khas keilmuan, keislaman, dan keindonesiaan. 










Alumni Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon dan Dosen STAINU Jakarta



Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw AlaNu, Daerah, Warta Ustadz Felix Siaw

Rabu, 01 Februari 2012

Gus Miek, dari Khataman ke Tempat Perjudian

GUS MIEK adalah seorang yang sangat terkenal di kalangan guru sufi, seniman, birokart, preman, bandar judi, kiai-kiai NU, dan para aktivis. Dialah yang membangun tradisi pengajian Sema’an Al-Qur’an Jantiko Mantab dan pembacaan wirid dzikrul ghafilin bersama beberapa koleganya. 

Hamim Tohari Djazuli adalah nama lengkapnya. Ia dilahirkan pada 17 Agustus 1940 di Kediri dari pasangan KH Jazuli Usman dan Nyai Radliyah. Nyai Radliyah ini memiliki jalur keturunan sampai kepada Nabi Muhammad, sebagai keturunan ke-32 dari Imam Hasan, anak dari Ali bin Abi Thalib dengan Siti Fathimah.

Gus Miek, dari Khataman ke Tempat Perjudian (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Miek, dari Khataman ke Tempat Perjudian (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Miek, dari Khataman ke Tempat Perjudian

Ayah Gus Miek, KH. Jazuli Usman adalah pendiri pesantren Ploso Kediri. Ia pernah nyantri kepada banyak guru, di antaranya kepada KH Hasyim Asy`ari, Mbah Ma’ruf (KH Ma’ruf Kedunglo), KH Ahmad Shaleh Gondanglegi Nganjuk, KH Abdurrahman Sekarputih, KH Zainuddin Mojosari, KH Khazin Widang, dan Syaikh al-`Allamah al-Aidrus Mekkah. 

KH Jazuli Usman nama kecilnya adalah Mas Mas`ud. Dia telah sekolah di STOVIA yang ada di Batavia, tatkala anak-anak seangkatannya belum sekolah. Mas Mas`ud ini anak dari Mas Usman, kepala KUA Ploso, Kediri. Pada saat itu jabatan sebagai kepala KUA sangat bergengsi. Akan tetapi ayah Gus Miek lebih memilih hidup dan mendirikan pesantren.

Ustadz Felix Siaw

Sejak kecil, Gus Miek sudah tampak unik. Dia tidak suka banyak bicara, suka menyendiri, dan bila berjalan selalu menundukkan kepala. Akan tetapi Gus Miek juga sering masuk ke pasar, melihat-lihat penjual di pasar, sering melihat orang mancing di sungai. Bila keluarganya berkumpul, Gus Miek selalu mengambil tempat paling jauh. 

Ustadz Felix Siaw

Pada awalnya Gus Miek disekolahkan oleh KH Jazuli Usman di Sekolah Rakyat, tetapi tidak selesai karena dia sering membolos. Setelah itu Gus Miek belajar Al-Qur’an kepada ibunya, kepada Hamzah, Khoirudin, dan Hafidz. Ketika pelajaran belum selesai Gus Miek sudah minta khataman. Para gurunya jadi geleng-geleng kepala.

Ketika usia Gus Miek masih 9 tahun, dia sudah sering tabarrukan ke berbagai kiai sufi. Beberapa kiai yang dikunjunginya adalah KH Mubasyir Mundzir Kediri, Gus Ud (KH Mas’ud) Pagerwojo-Sidoarjo, dan KH Hamid Pasuruan. Di tempat Gus Ud Pagerwojo Sidoarjo, Gus Miek bertemu dengan KH Achmad Shidiq yang usianya lebih tua. KH Achmad Shidiq ini di kemudian hari sering menentang tradisi sufi Gus Miek, tetapi akhirnya menjadi kawan karibnya di dzikrul ghafilin.

Kebiasaan Gus Miek pergi ke luar rumah menggelisahkan orang tuanya. Akhirnya ayahnya memintnya ngaji ke Lirboyo, Kediri di bawah asuhan KH Machrus Ali, yang kelak begitu gigih menentang tradisi sufinya. 

Di Lirboyo Gus Miek bertahan hanya 16 hari  dan kemudian pulang ke Ploso. Ketika sadar orang tuanya resah akibat kepulangannya, Gus Miek justru akan menggantikan seluruh pengajaran ngaji ayahnya, termasuk mengajarkan kitab Ihya Ulumuddin. 

Tapi beberapa bulan kemudian, Gus Miek kembali ke Lirboyo. Ketika masih di pesantren ini, pada usia 14 tahun Gus Miek pergi ke Magelang, nyantri di tempatnya KH. Dalhar Watucongol, mengunjungi Mbah Jogoreso Gunungpring, KH Arwani Kudus, KH Ashari Lempuyangan, KH Hamid Kajoran, dan Mbah Benu Yogyakarta. Setelah itu Gus Miek pulang lagi ke Ploso.

Di Ploso, di tempat pesantren ayahnya, Gus Miek minta dinikahkan, dan akhirya ia menikah dengan Zaenab, putri KH. Muhammad Karangkates, yang masih berusia 9 tahun. Pernikahan ini berakhir dengan perceraian, ketika istrinya masih berusia sekitar 12 tahun. Pada masa ini Gus Miek sudah sering pergi untuk melakukan dakwah kulturalnya di berbagai daerah, tabarrukan ke berbagai guru sufi, dan mendapatkan ijazah wirid-wirid.

Pada tahun 1960 Gus Miek menikah dengan Lilik Suyati dari Setonogedong. Pernikahan ini atas saran dari KH. Dalhar dan disetujui KH. Mubasyir Mundzir, salah satu guru Gus Miek. Gadis itulah yang menurut gurunya akan sanggup mendampingi hidupnya, dengan melihat tradisi dan kebiasaan Gus Miek untuk berdakwah keluar rumah. 

Pada awalnya pernikahan Gus Miek dengan gadis Setonogedong ditentang KH Jazuli Utsman dan Nyai Radliyah. Setelah melalui proses yang panjang akhirnya pernikahan itu disetujui. Saat itu Gus Miek sudah berdakwah ke diskotek-diskotek, ke tempat perjudian, dan lain-lain. 

Dari berbagai perjalanan, riyadlah,  dan tabarrukan, Gus Miek akhirnya menyusun kembali wirid-wirid secara tersendiri yang didapatkan dari para gurunya. Pada awanya Gus Miek mendirikan Jama`ah Mujahadah Lailiyah tahun 1962. Sampai tahun 1971 jama`ah yang dirintis Gus Miek ini sudah cukup luas. 

Pada tahun 1971, para jama`ah Gus Miek dan masyarakat NU menghadapi dilema pemilu. Saat itu semua pegawai negeri diminta memilih Golkar oleh penguasa. Gus Miek sendiri tidak mencegah bila para pengikutnya yang PNS untuk memilih Golkar, karena situasi sosial saat itu di bawah rezim otoriter Soeharto. 

Metamorfosis dari komunits yang dibangun Gus Miek, semakin menampakkan bahwa ia mengembangkan tradisi wirid di luar kelompok tarekat yang sudah mapan di kalangan NU. Jama`ah Mujahadah Lailiyah yang dibangunnya berkembang menjadi dzikrul ghafilin. Pada tahun 1971-1973 susunan wirid-wirid dzikrul ghafilin diusahakan untuk dicetak, terutama setelah jangkauan dakwah Gus Miek telah menjangkau Jember. 

Bersama-sama KH Achmad Shidiq yang awalnya sangat menentang, tetapi akhirnya menjadi sahabatnya, naskah wirid dzikrul ghafilin berhasil dicetak. Naskah-naskah yang tercetak dibagikan kepada jaringan jama`ah Gus Miek: di Jember di bawah payung KH Achmad Shidiq, di Klaten di bawah payung KH Rahmat Zuber, di Yogyakarta di bawah payung KH Daldiri Lempuyangan, dan di Jawa Tengah di bawah payung KH Hamid Kajoran Magelang. 

Di samping mengorganisir dzikrul ghafilin, Gus Miek pada tahun 1986 juga mengorganisir sema’an Al-Qur’an. 

Beberapa bulan kemudian sema’an ini dinamakan Jantiko. Tahun 1987 sema’an Al-Qur’an Jantiko mulai dilakukan di Jember. Saat itu KH. Achmad Shidiq sudah menjadi Rais Am Syuriyah PBNU yang diangkat oleh Muktamar NU ke-27 di Situbondo tahun 1984. 

Dibandingkan dzikrul ghafilin, jama`ah Jantiko ini lebih cepat berkembang. Pada tahun 1989, Jantiko kemudian diubah namanya menjadi Jantiko Mantab atau Jantiko man taba. Ada juga yang mengartikan Mantab sebagai Majlis Nawaitu Tapa Brata. Dikatakan juga man taba itu berarti siapa bertaubat. Jantiko Mantab ini kemudian berkembang ke berbagi daerah. 

Perjuangan Gus Miek dengan dzikrul ghafilin, sema`an Al-Qur’an, dan tradisi sufinya ke tempat-tempat diskotek, tempat perjudian, dan lain-lain, sangatlah tidak mudah. Di tengah-tengah jam`iyah NU yang telah membakukan tarekat mu’tabarah, tradisi sufi Gus Miek mendapatkan perlawanan. Dzikrul ghafilin dianggap berada di luar kelaiman, tidak mu’tabarah. Penentangan datang dari orang yang sangat terkenal, sekaligus pernah menjadi gurunya di Lirboyo, yaitu KH Machrus Ali. 

Hanya saja, semua itu bisa dilewati Gus Miek dengan sabar. Yang paling menggemberikan karena KH Achmad Shidiq sebagai orang yang sangat dihormati di NU, yang pada awalnya menentang tradisi sufinya, kemudian bersama-sama mengembangkan dzikrul ghafilin di sekitar Jember dan sekitarnya.

Gus Miek wafat pada 5 Juni 1993. Dia dimakamkan di Pemakaman Tambak Kediri, diiringi ratusan ribu kaum muslimin. Di pemakaman ini pula KH Achmad Shidiq dimakamkan, di sebelah timur makam Gus Miek. Di pemakaman ini pula terdapat tidak kurang dari 22 orang yang kebanyakan menjadi guru sekaligus murid Gus Miek. [Nur Kholil Ridwan] 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Hadits, Budaya Ustadz Felix Siaw