Selasa, 06 Maret 2012

IAIN Jember Segera Bertransformasi Jadi UIN

Jember, Ustadz Felix Siaw. Setelah berhasil naik status dari Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember dua setengah tahun lalu, kini mereka telah mempersiapkan diri bertransformasi menjadi Universitas Islam Negeri (UIN).?

IAIN Jember Segera Bertransformasi Jadi UIN (Sumber Gambar : Nu Online)
IAIN Jember Segera Bertransformasi Jadi UIN (Sumber Gambar : Nu Online)

IAIN Jember Segera Bertransformasi Jadi UIN

Seakan berpacu dengan waktu, petinggi IAIN Jember terus berupaya memenuhi segala persyaratan untuk merealisasikan keinginan tersebut, baik dari sisi sumber daya manusia ? maupun pembanguan fisik.

Menurut Rektor IAIN Jember, Babun Suharto, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Islam, Kementerian Agama sudah menyetujui kenaikan status IAIN menjadi UIN Jember.?

"Secara prinsip, sudah disetujui. Surat dari Kementerian Agama juga sudah kami terima. Tinggal melengkapi sejumlah persyaratan lain," ucapnya di Jember, Jumat (28/4).

Ustadz Felix Siaw

Mantan Ketua PC GP Ansor Jember itu menambahkan, saat ini IAIN Jember memiliki 5 guru besar, 50 tenaga bergelar doktor, dan beberapa lainnya sedang menempuh pendidikan S3 baik di dalam maupun di luar negeri.?

Pada saat yang sama, sarana dan prasarana pendidikan terus dilengkapi, termasuk pembukaan sejumlah program studi baru. Dengan demikian, diharapkan perubahan status tersebut segera bisa diwujudkan.?

"Karena itu, saya butuh dukungan semua pihak, dan saya yakin dalam waktu tak terlalu lama, Jember bakal memiliki UIN," lanjutnya.

Ustadz Felix Siaw

Di tempat terpisah, dukungan perubahan status tersebut datang dari Ketua PCNU Jember, KH Abdullah Syamsul Arifin. Menurutnya, akan menjadi kebanggaan tensendiri bagi warga Jember jika perguruan tinggi yang embrionya digagas oleh kiai dan tokoh NU tersebut, kelak menjadi UIN.?

"Harapan kita semua, IAIN Jember bisa segera menjadi UIN," ucapnya.

Sebelumnya, tokoh NU Jawa Timur, Hasan Aminuddin saat bekunjung ke Jember ? memberikan dukungannya terhadap rencana perubahan status IAIN Jember. Bahkan ia mengusulkan agar IAIN Jember membuka program-program studi yang menjadi peluang dan banyak dibutuhkan untuk menjawab tantangan zaman ke depan, seperti entepreneurship dan ekonomi kreatif. (Aryudi A. Razaq/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Tokoh Ustadz Felix Siaw

Kamis, 01 Maret 2012

Ini Penyebab Beragama di Nusantara Banyak Kenduri

Jakarta, Ustadz Felix Siaw 



Ketua Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) PBNU KH Agus Sunyoto mengatakan di dalam bahasa lokal Nusantara hampir tidak ditemukan kata searti dengan miskin. 

Ini Penyebab Beragama di Nusantara Banyak Kenduri (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Penyebab Beragama di Nusantara Banyak Kenduri (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Penyebab Beragama di Nusantara Banyak Kenduri

“Kalau kita belajar ilmu bahasa, kita akan menemukan fakta bahasa-bahasa lokal kuno, Jawa kuno, Sunda kuno, Bali, tidak kita temukan kosa kata yang sama artinya dengan miskin. Tidak ada,” katanya di gedung PBNU, Jumat 28 Juli lalu.  

Menurut dia, miskin berasal dari bahasa Arab, kata yang belakangan masuk karena pengaruh Islam. Kata fakir, juga bahasa Arab. Begitu juga kata melarat, yang berubah dari asal kata mudharat yang berasal dari bahasa yang sama. 

“Tidak dikenal istilah miskin,” katanya pada Silaturahim Kebudayaan bertema “Meneguhkan Kebudayaan, Memperkuat Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia” yang digelar Lesbumi PBNU.

Hal itu, lanjutnya, berkaitan dengan pemilikan makanan orang Nusantara. Pada zaman kuno, di tiap desa, pedukuhan, rumah, orang Nusantara mempunyai lumbung makanan persediaan. 

Ustadz Felix Siaw

“Nah, orang yang berlimpah makanan punya kebiasaan cara berpikir untuk membagi makanan.”

Jadi, kata dia, orang Jawa itu mulai lahir sudah mengucapkan syukur dengan membagi makanan. Namanya berokohan. Pada kegiatan itu tetangga diundang untuk mencicipi. Kemudian berdoa bersama, pulang membawa berkat. 

Pada usia tujuh hari setelah kelahiran, ada upacara lepas tali pusar. Slametan lagi. Makan lagi. Pulang bawa akanan lagi. 

“Nanti selapanan, 35 hari, makan lagi. Upacara lagi. Turun tanah, khitan, kawin, lamaran, dengan kenduri selamaten, sampai mati pun makan karena kita lumbung makanan,” jelasnya.

Ustadz Felix Siaw

Kemudian, penulis buku populer “Atlas Wali Songo; Buku Pertama yang Mengungkap Wali Songo sebagai Fakta Sejarah” ini belakangan bermunculan cara pandang Timur Tengah yang melihat membagi makanan secara aneh. Bagi mereka mubazir dan bid’ah. 

“Mereka memandang dengan cara etik, pandangan orang asing.sementara pandangan kita wajar, wong kita berlimpah makanan. Kalau tidak membagi makanan, salah kita. Kenapa Islam kita berbeda? Karena melimpah makanan,” katanya. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Aswaja, Quote Ustadz Felix Siaw