Sabtu, 31 Oktober 2015

Kandungan Ibadah dalam Tradisi Maulid

Memasuki bulan Rabi’ul Awal atau yang dikenal orang jawa dengan “bulan mulud”, ada tradisi yang senantiasa dilestarikan oleh sebagian umat Islam, yaitu tradisi baca Al-Barjanzi atau Burdah dalam rangka memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.

Tradisi ini biasanya diselenggarakan dari rumah kerumah secara bergiliran, atau di masjid-masjid maupun mushalla, dengan cara membaca shalawat secara bersama-sama dimana salah satu dari yang hadir membaca Al-Barjanzi tersebut, sedangkan yang tidak membaca dianjurkan menjawab dengan bacaan shalawat.Setelah acara usai dilanjutkan dengan jamuan makan bersama. Entah makanan itu berupa maknan ringan, snack, ataupun lainnya. Kadang kala juga hanya sekedar minuman teh atau kopi.

Semarak membaca Al-Barjanzi ini tiada lain bertujuan untuk bershalawat, memanjatkan doa untuk Nabi Muhammad sebagai nabi yang telah memberi perubahan dari jaman kegelapan jahiliyah menjadi jaman pencerahan Islam. Meskipun doa kita sebagai hamba tidak dibutuhkan Rasulullah saw, mengingat posisinya sebagai makluk yang paling utama, tetapi bagi kita doa itu sendiri adalah ibadah. Sebagaimana hadits riwayat dari Nu’man Bin Basyir Radliyallahu Anhu,? ? ? ? ? ? Doa adalah ibadah yang berpahala.

Dalam penyelenggaraan membaca Al-Barjanzi tersebut menyimpan beberapa macam ibadah, diantaranya adalah, membaca shalawat kepada Nabi Muhammad, bersedakah berupa makanan, berdoa dan mendoakan, mengingat perjuangan para pendahulu dengan maksud dan tujuan mengambil hikmah dan pelajaran dari masa mereka.

Kandungan Ibadah dalam Tradisi Maulid (Sumber Gambar : Nu Online)
Kandungan Ibadah dalam Tradisi Maulid (Sumber Gambar : Nu Online)

Kandungan Ibadah dalam Tradisi Maulid

Tentunya dibalik semua ibadah-ibadah diatas ada keberkahan dan anugerah yang akan diterima jika memang menjalankannya tulus karena mengharap pahala dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Hadits berikut memberi penjelasan mengenai keutamaan membaca shalawat, sebagaimana riwayat sahabat Ibnu Mas’ud Radliyallahu Anhu,

? ? ? ? ? ?, ? ? ?. Orang yang paling utama berada denganku kelak di hari kiamat adalah mereka yang banyak membaca shalawat kepadaku.

Ustadz Felix Siaw

Sungguh keberkahan tiada tara bagi siapa saja umat muslim diantara mereka yang senantiasa memperbanyak membaca shalawat kecuali balasan pahala dari Allah Subhanu Wa Ta’ala, dengan menempatkannya bersama Nabi Muhammad.

Ustadz Felix Siaw

Maka di bulan rabi’ul awal ini kita senantiasa membaca shalawat kepada Nabi Muhammad dan banyak mengerjakan ibadah-ibadah sunnah dengan maksud dan tujuan mendapat keberkahan dan rahmat serta pertolongan sari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. (Pen. Fuad H/ Red Ulil H)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Kajian Sunnah, Tokoh Ustadz Felix Siaw

Kamis, 15 Oktober 2015

Cara Wali Songo Mengislamkan Nusantara

Konsep “wali songo” merupakan pengambilalihan dari konsep kosmologi Nawa Dewata atau sembilan dewa, yakni dewa-dewa penjaga delapan mata angin ditambah satu dewa di titik pusatnya. Kedudukan dewa-dewa itu kemudian digantikan oleh manusia-manusia yang dicintai Tuhan, atau para wali yang berjumlah sembilan (songo).?

Jadi konsep Wali Songo merupakan pengambilalihan dari konsep Nawa Dewa Dewata yang bersifat hinduistik menjadi konsep sembilan wali yang bersifat sufistik. Di kalangan penganut ajaran sufi ada sembilan tingkat kewalian dari mulai wali quthub sampai wali khatam, seperti disebut oleh Ibnu Araby dalam Futuhat Makiyyah.

Cara Wali Songo Mengislamkan Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Cara Wali Songo Mengislamkan Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Cara Wali Songo Mengislamkan Nusantara

Hal tersebut merupakan salah satu bagian saja dalam “Atlas Wali Songo” karya besar sejarawan NU Agus Sunyoto; untuk sekedar menjelaskan kunci sukses dakwah Wali Songo menyebarkan Islam di wilayah Nusantara. Pengambilalihan konsep Nawa Dewata itu beserta lambang-lambangnya dan abtraksi-abstraksinya merupakan hal yang luar biasa di saat bekas wilayah kekuasaan Majapahit sedang mengalami kemunduran dalam aspek sosiokultural-religius.

Seperti disinggung pada bagian 1, Islam yang sudah masuk ke wilayah Nusantara semenjak abad ke-7 Masehi baru diminati oleh penduduk asing dari Cina, Arab dan Persia. Baru pada akhir abad ke-15 hingga paruh abad ke-16 ada sekumpulan tokoh penyebar Islam yang berjuluk Wali Songo telah berhasil mengislamkan penduduk pribumi dengan metode dakwah yang khas; hampir tidak ada pergolakan dan penolakan.

Ustadz Felix Siaw

Wali Songo berhasil menjelaskan apa itu Islam dan seluk-beluknya dengan perangkat-perangkat budaya yang ada dan dihayati oleh masyarakat. Islam “dibumikan” dengan prinsip bil hikmah wal mauidzatil hasanah wajadilhum billati hiya ahsan. Penjelasan mengenai Islam dikemas secara sederhana yang dikaitkan dengan pemahaman masyarakat setempat.

Wali Songo benar-benar masuk ke jantung kebudayaan masyarakat, tidak hanya soal yang rumit seperti kosmologi. Agus Sunyoto, mengutip salah satu primbon, menyebutkan tugas-tugas tokoh para Wali Songo dalam mengubah dan menyesuaikan tatanan nilai-nilai dan sistem budaya masyarakat. Misalnya Sunan Giri bertugas menjelaskan siklus perhitungan kalender dan perubahan hari. Sunan Gunung Jati mengajarkan tata cara berdoa, membaca mantra dan pengobatan. Sunan Drajat mengajarkan tata cara membangun rumah. Sunan Kudus mengajarkan cara membuat keris dan kerajinan emas.

Ustadz Felix Siaw

Hal penting yang perlu dicatat dalam sukses dakwah Wali Songo adalah corak sufistik dalam ajaran-ajaran mereka. Istilah “wali” itu sendiri sangat lekat dengan kaum sufi atau kajian tasawuf. ? Corak sufistik dalam hal ini diperbandingkan dengan corak fikih yang hitam-putih. Ajaran sufi lebih terbuka, luwes dan adaptif dalam menyikapi keberadaan ajaran selain Islam.

Keterangan gambar: Lambang Nawa Dewata (Surya majapahit).

A. Khoirul Anam

Serial ini ditulis dalam rangka menyambut kegiatan Pengajian Budaya dan Bedah Buku Atlas Walisongo untuk memperingati Harlah NU dan Maulid Nabi Muhammad SAW di halaman PBNU, Jakarta, 31 Januari dan 1 Februari 2013

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Tegal Ustadz Felix Siaw

Jumat, 02 Oktober 2015

ISIS Gunakan Media Sosial untuk Sebarkan Pahamnya

Jakarta, Ustadz Felix Siaw



Pengamat ISIS dari Universitas Vienna, Dr Nico Prucha, mengatakan, ISIS menggunakan media sosial sebagai strategi komunikasi untuk merekrut dan menyebarkan pahamnya.

ISIS Gunakan Media Sosial untuk Sebarkan Pahamnya (Sumber Gambar : Nu Online)
ISIS Gunakan Media Sosial untuk Sebarkan Pahamnya (Sumber Gambar : Nu Online)

ISIS Gunakan Media Sosial untuk Sebarkan Pahamnya

"Mereka merekrut anggota baru dari video dan jaringan media sosial yang mereka sebarluaskan," kata ? Prucha, pada International Summit of the Moderate Islamic Leaders (Isomil), di Balai Sidang Senayan, Jakarta, Selasa.

Oleh sebab itu, paham ISIS gampang tersebar karena sebagian besar penyebaran pemahaman mereka menggunakan pendekatan berbasis sosial.

Hal ini juga berdampak pada wajah Islam di mata dunia yang mengaggap ISIS adalah Islam sebenarnya.

Ustadz Felix Siaw

Dia mengatakan ISIS mengunggah dua video dalam sehari, menggunakan bahasa Arab dan kemudian diterjemahkan dalam bahasa lainnya.

"Jadi sebanyak 95 persen menggunakan bahasa Arab dan sebanyak lima persen menggunakan bahasa lain, seperti Jerman, Belanda, Inggris," kata Nico.

Dia mengatakan ISIS mempunyai simpatisan atau anggota di berbagai negara Eropa yang masuk sebagai imigran.

Kejadian ini berdampak pada penolakan negara-negara Eropa atas imigran Muslim di negaranya.

Ustadz Felix Siaw

Dia mengatakan ISIS mengklaim dirinya sebagai Islam yang paling benar sesuai Al-Qur’an dan sunnah Rasul, mereka juga menolak Islam yang berbeda dari paham mereka.

"Seperti mereka menolak Islam yang ada di Indonesia, mereka menganggap Islam Nusantara salah karena menjunjung toleransi kepada umat beragama," kata dia.

Selain itu, ISIS juga menguasai tanah seperti di Suriah dan di Irak. Prucha mengatakan gerakan ISIS ini berbahaya karena menggunakan pendekatan kekerasan dan perang. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Ulama Ustadz Felix Siaw