Rabu, 25 November 2015

Dua Alasan Indonesia Inspirasi Perdamaian Timur Tengah

Jakarta, Ustadz Felix Siaw - Katib Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya C. Staquf menuturkan bahwa dunia sekarang sedang mengalami krisis Islam. Krisis itu terjadi pada negara-negara Islam yang telah mewujud ke dalam konflik-konflik militer yang mengarah kepada tragedi kemanusiaan secara berkepanjangan,”

Ia menyampaikan hal itu pada Press Gathering Pra-Interntional Summit of the Moderate Islamic Leaders (ISOMIL) di Lantai 8 Gedung PBNU pada Rabu, (23/3).

Dua Alasan Indonesia Inspirasi Perdamaian Timur Tengah (Sumber Gambar : Nu Online)
Dua Alasan Indonesia Inspirasi Perdamaian Timur Tengah (Sumber Gambar : Nu Online)

Dua Alasan Indonesia Inspirasi Perdamaian Timur Tengah

Kiai yang akrab disapa Gus Yahya tersebut menjelaskan, krisis Islam ini terjadi karena menyebarnya ideologi ekstrimis di dunia Islam, sehingga ini memicu ancaman keamanan di seluruh negara di dunia.

Ia mengatakan bahwa konflik negara Timur Tengah yang tidak kunjung usai dan terorisme di Eropa adalah dampak dari krisis Islam tersebut.

Ustadz Felix Siaw

Ustadz Felix Siaw

“Walaupun tidak ada peperangan di Indonesia seperti di Timur Tengah, tapi ancaman bencana dari peperangan itu tidak bisa kita anggap jauh dari kita. Kalau seandainya perang di Timteng tidak bisa dihentinkan dalam lima tahun ini, ekonomi dunia akan runtuh. Dan kalau ekonomi runtuh, 15 juta orang di Jakarta tidak bisa makan,” paparnya.

Lebih lanjut, Gus Yahya menilai bahwa orang-orang yang berperang di Timur Tengah dan yang melakukan aksi teror di negara-negara Barat adalah orang Islam. “Mereka membela diri dengan argumentasi Islam, membawa ayat, membawa hadits dari Islam. Ini berarti ada masalah di dalam Islam,” terang mantan juru bicara presiden Abdurrahman Wahid tersebut.

“Maka dari itu, dengan acara ini (International Summit of Moderate Islamic Leaders) PBNU ingin mengajak kepada seluruh umat Islam di seluruh dunia yang tidak ingin dan menginginkan bencana kemanusiaan terjadi dan Indonesia adalah negara yang paling memungkinkan untuk mewujudkan perdamaian di Timur Tengah dan menginspirasi Islam yang ramah,” kata Kiai asal Rembang tersebut.

Ada dua alasan, imbuh Gus Yahya, mengapa Indonesia adalah negara yang paling memungkinkan untuk mewujudkan perdamaian. Pertama, Indonesia adalah negara dengan mayoritas muslim terbesar di dunia.

“Dan yang kedua kita spenuhnya netral. Kita tidak memiliki kepentingan apapun di Timur Tengah,” pungkasnya. ?

Sementara itu, Ketua pengarah KH Maksum Machfoed mengatakan bahwa acara pertemuan para pemimpin moderat dunia tersebut bukanlah kepentingan NU semata.

“Ini (Isomil) adalah kepentingan bangsa Indonesia dan juga kepentingan seluruh umat beragama di seluruh dunia untuk membangun apa yang kita sebut peaceful co-existence (kedamaian bersama). Hidup bersama dalam toleransi dan saling menerima satu sama lain,” tuturnya.

Demikian pula, Ketua pelaksana KH Imam Aziz menerangkan bahwa acara ini merupakan upaya untuk menyelesaikan persoalan di tingkat masyarakatnya. “Maka dari itu yang kita undang (dalam acara ini) masyarakatnya, bukan kepala negaranya. Dan selain masalah teologis, salah satu pokok bahasan kita dalam konferensi nanti adalah masalah kesejahteraan,” jelasnya.

Acara ini akan diselengarakan dari tanggal 9 sampai 11 Mei 2016 di Jakarta Convension Center (JCC). Diantara pembicara yang direncanakan menjadi narasumber dalam acara tersebut adalah Muhammad Yunus (peraih nobel perdamaian dari Bangladesh, Nico Prusha (seorang ahli ISIS dari Universitas Vienna), Syekh Ali Jumu’ah (mantan Grand Mufti Al Azhar), Lauren Booth (seorang muallaf, adik iparnya Tony Blair), Steve Hanke (pakar ekonomi), Retno Marsudi (Menteri Luar Negeri), Luhut Panjaitan (Menko Polhukam), KH Ma’ruf Amin (Rais ‘Aam PBNU), KH Said Aqil Siroj (Ketua PBNU), Alwi Shihab, Muliaman Haddad (dari Otoritas Jasa Keuangan dan lainnya. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi)? ?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Lomba, Nasional Ustadz Felix Siaw

Minggu, 15 November 2015

PCNU Kendal Gelar Rangkaian Peringatan Harlah ke-92

Kendal, Ustadz Felix Siaw. Pengurus Cabang NU Kendal menggelar serangkaian kegiatan dalan rangka memperingati hari lahir ke-92 NU. Kegiatan harlah kali ini tergolong meriah dan padat kegiatan yang berlangsung selama dua pekan.

Menurut ketua panitia harlah NU, KH Mustamsikin banyaknya kegiatan Harlah NU tahun ini sekaligus sebagai ajang sosialisasi program PCNU Kendal tentang rencana pembangunan Rumah sakit NU (RSNU).

PCNU Kendal Gelar Rangkaian Peringatan Harlah ke-92 (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Kendal Gelar Rangkaian Peringatan Harlah ke-92 (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Kendal Gelar Rangkaian Peringatan Harlah ke-92

"Sudah saatnya NU Kendal punya rumah sakit," tegas Mustamsikin saat sambutan Seminar Kesehatan di Pendopo kabupaten Kendal Sabtu (9/5).

Ustadz Felix Siaw

Sebelumnya kegiatan harlah NU dimulai dengan mengadakan istighotsah serempak di masing-masing MWC NU (1/5) dengan dihadiri utusan PCNU Kendal untuk memberikan sosialisasi harlah NU dan pendirian rumah sakit.

Kemudian sepekan berikutnya (6/5) kegiatan dilanjutkan dengan istighotsah kubro oleh jamaah Al Hikmah di masjid Agung Kendal.

Ustadz Felix Siaw

Puncak acara sendiri akan dilaksanakan besok Ahad (10/5) dengan acara simaan & pengajian akbar di GOR Bahurekso Kendal yang akan dihadiri oleh Mensos Khofifah Indar Parawansa dan Ketua Umum PBNU KH Said Agil Siroj.

Sebagai penutup kegiatan Harlah Kamis (14/5) mendatang akan digelar kegiatan jalan sehat di alun-alun Kendal dengan berbagai macam door prize. (fahroji/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Nusantara, Ulama, AlaNu Ustadz Felix Siaw

Jumat, 13 November 2015

Kata Cholil Nafis soal Dai Bertarif

Jakarta, Ustadz Felix Siaw. Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat KH Cholil Nafis mengatakan, kalau para dai atau penceramah tidak memiliki pekerjaan lain selain ceramah maka sudah pasti mereka mengandalkan pemasukan dari ceramah tersebut.

“Apalagi di kota besar. Kita tidak bisa ingkari bahwa kehidupan di kota itu menuntut finansial yang lumayan,” kata Kiai Cholil kepada Ustadz Felix Siaw di Jakarta, Jumat (16/6).

Kata Cholil Nafis soal Dai Bertarif (Sumber Gambar : Nu Online)
Kata Cholil Nafis soal Dai Bertarif (Sumber Gambar : Nu Online)

Kata Cholil Nafis soal Dai Bertarif

Ia mengaku tidak pernah memberikan tarif tertentu kepada pihak pengundang. Baginya, ceramah adalah tempat untuk mengaji bersama, bukan hanya sekedar dari pelengkap sebuah acara dan dihitung bayarannya.

“Kalau bagi saya lebih senang ceramah itu sebagai tempat ngaji, bukan sebagai pelengkap dari sebuah kegiatan,” ungkap Dosen Pascasarjana Universitas Indonesia itu.

Ustadz Felix Siaw

Ia tidak menafikan bahwa ada beberapa dai yang secara terang-terangan memberi tarif kepada pihan pengundang. Namun demikian, ia menyatakan bahwa mayoritas mereka berdakwa memang karena ingin menyebarkan Islam dan bukan karena tarif.?

“Tetapi sepanjang yang saya tahu, mayoritas masih takdzim. Tidak semata-mata karena tarif,” terangnya.

Terkait dengan ceramah bertarif, ia sering bepesan dan berkoordinasi untuk tidak berceramah dan menentukan tarif tertentu jika yang mengundang umat masyarakat.?

Ustadz Felix Siaw

“Tetapi kalau yang mengundang perusahaan karena untuk syiar dan itu dianggarkan, sebaiknya saling pengertian antara pihak panitia dan dai nya,” ungkapnya.

Ia menyadari, ada dai yang tidak mendapatkan bagian yang seharusnya dia dapatkan. Misalkan, sebuah perusahan menganggarkan ratusan juta untuk mengundang dai tertentu agar orang yang datang banyak. Tetapi, di lapangan dai tersebut hanya mendapatkan bagian yang jauh lebih kecil dari yang dianggarkan. (Muchlishon Rochmat/Fathoni)

? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Sholawat, Pendidikan Ustadz Felix Siaw

Senin, 09 November 2015

Islam Moderat Penting Digaungkan di Tengah Pergeseran Gerakan Keislaman

Bandar Lampung, Ustadz Felix Siaw. Wakil Rais Syuriyah PWNU Provinsi Lampung KH Khairuddin Tahmid menjelaskan bahwa Paradigma Islam Wasathiyah (moderat) harus menjadi corak faham keagamaan mainstream umat Islam di Indonesia. Hal ini menurutnya penting seiring dengan semakin kuatnya indikasi bergesernya gerakan keislaman di negeri ini ke kutub kiri ataupun kutub kanan.

"Pergeseran ke kutub kiri memunculkan gerakan liberalisme dan sekularisme dalam beragama. Sedangkan pergeseran ke kutub kanan menumbuhkan radikalisme dan fanatisme sempit dalam beragama.

Islam Moderat Penting Digaungkan di Tengah Pergeseran Gerakan Keislaman (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam Moderat Penting Digaungkan di Tengah Pergeseran Gerakan Keislaman (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam Moderat Penting Digaungkan di Tengah Pergeseran Gerakan Keislaman

Demikian disampaikan Kiai yang juga Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Lampung ini saat menjadi Pemateri pada Dialog Ormas Keagamaan di Kampus Universitas Malahayati Bandarlampung, Kamis (20/7).

Kiai Khairuddin menambahkan bahwa Islam wasathiyah identik dengan kaum Muslimin yang disebut sebagai ummatan washatan dalam Quran yang mampu menjadi saksi kebenaran bagi manusia Iain. "Ummatan washatan adalah umat yang selalu menjaga keseimbangan. TIdak terjerumus ke ekstrimisme kiri atau kanan, yang dapat mendorong kepada tindakan kekerasan," ujarnya.

Ustadz Felix Siaw

Islam moderat lanjut Dosen UIN Raden Intan Lampung ini, memiliki ciri sesuai dengan beberapa qaidah seperti santun, tidak keras dan tidak radikal (Layyinan, Ia fazzon wala gholizon), Kesukarelaan, tidak memaksa dan tidak mengintimidasi (Tathowwuiyyan, Ia ikrohan wala ijbaron), toleran, tidak egois dan tidak fanatis (Tasamuhiyyan, Ia ananiyyan wala taasubiyyan) dan saling mencintai, tidak saling membenci dan bermusuhan (Tawaddudiyyan, Ia takhosumiyyan wala tabaghudiyyan).

Keterkaitannya antara agama dengan negara, ia mengatakan bahwa Indonesia merupakan contoh model relasi negara yang simbiotik mutualisme. Agama dan negara merupakan dua entitas yang berbeda. Namun keduanya dipahami saling menempatkan diri, di mana agama dan negara dipahami sebagai saling membutuhkan secara timbal balik.

Ustadz Felix Siaw

"Agama membutuhkan negara sebagai instrumen dalam melestarikan dan mengembangkan agama, sebaliknya negara juga memerlukan agama karena agama juga membantu dalam pembinaan moral, etika dan spiritualitas," katanya.

Lebih lanjut Ia menjelaskan bahwa Agama dalam konteks negara mesti diletakkan sebagai sumber nilai, dan secara fungsionai agama mengambil peran tawassuth. Hal ini dalam artian menentukan visi kenegaraannya dengan pendekatan membangun masyarakat Islam (Islamic society) dari pada membangun negara Islam (Islamic state). (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Kajian Ustadz Felix Siaw