Kamis, 28 Agustus 2014

Kisah Kampung Toleran di Selatan Jakarta

Oleh Nurhidayat

Jika tuan menelan sebuah ujaran mentah-mentah, itu seperti mengubur akal sehat. Tuan bisa buktikan itu sendiri. Tapi ini cerita penulis sendiri yang pernah tersesat dan enggan mengulangi kebodohan serupa.

Peristiwa ini terjadi sewaktu di pesantren dulu penulis terbuai untuk berjihad. Memerangi orang-orang kafir, murtad, begitu tafsirannya. Ittikad ini kemudian menyeret untuk hadiri tabligh akbar buatan Forum Solidaritas Umat Islam dalam rangka penolakan pendirian gereja KHBP Cinere pada 2012 silam.

Kisah Kampung Toleran di Selatan Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Kampung Toleran di Selatan Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Kampung Toleran di Selatan Jakarta

Saat itu bertebaran kabar; akan ada kristenisasi akbar di Depok! Dada siapa yang tidak bergelora? Entah siapa yang memulai itu. Yang jelas, itu dikabarkan dari mulut ke mulut dan tiap hari kian membesar. Dibeberkan pula bahwa Depok sudah ngantongi banyak gereja. Untungnya penulis tipe manusia penakut. Hanya bisa duduk manis saja, cukup. Sesekali tersentak teriakan Allahu Akbar!

Rendelnya gereja di Depok memang penulis benarkan. Pancoran Mas, salah satu daerah di Depok, saja ada 42 gereja. Bahkan di masa Hindia Belanda (1816-1942) ada nama Jalan Kerkstraat –dalam bahasa belanda– artinya jalan Gereja. Kini nama itu berubah menjadi Jalan Pemuda. Immanuel, gereja tertua di Depok juga berdiri di sana.

Meski begitu, setelah mengalami banyak pergulatan, penulis menyadari bahwa ujaran itu ternyata tidak benar. Apalagi selepas penulis melakukan penelitian di sana pada Oktober lalu. Di Depok istilah ‘kampung kristen’ menjadi penanda kampung-kampung di Jalan Pemuda. Jalan yang membelah dari Jalan Kartini menuju Jalan Sersan Anning, Kelurahan Depok, Pancoran Mas. Tapi, penulis lebih senang menyebutnya kampung toleran. Sebab, kampung ini melahirkan bibit-bibit unggul kebhinekaan.

Ustadz Felix Siaw

Kampung Toleran

Penduduk muslim di kampung ini sebenarnya mayoritas dan berbanding lurus dengan jumlah gereja yang juga mayoritas. ? Komposisinya mencapai 44 persen (6.606 jiwa) dari total pemeluk Kristen sekecamatan Pancoran Mas. Sementara Umat Islam mencapai 83 persen (40.902) dengan jumlah masjid 71 dan mushalla 229.

Komposisi ini ternyata menjadi barang antik dan mahal. Kampung ini menyulap perbedaan suku dan agama menjadi keindahan. Menghadirkan persaudaraan universal yang sedemikian kokoh. Bahkan ujaran kebencian di sini bak anjing menggonggong kabilah berlalu.

Hal itu terlihat, misalnya bila hari-hari besar keagamaan, Idul Fitri, Idul Adha dan Natal. Masyarakat biasa untuk pergi bernatal ke rumah keluarga Kristen atau berlebaran di tetangga yang Muslim. Khusus hari Natal yang kerap berdekatan dengan Tahun Baru, para tukang becak atau ojek bakal ketiban rezeki nomplok. Mereka kebanjiran pelanggan untuk menghantar pergi dan pulang dari gereja.

Ustadz Felix Siaw

Selain itu, ada satu hal yang abadi dari wajah toleransi di kampung ini, yakni tradisi membakar sate dari daging kurban bersama-sama oleh warga Muslim-Kristen. Daging kurban dibagi rata kepada warga, baik muslim maupun nonmuslim dan diatur oleh para ketua Rukun Tetangga. Tradisi ini terus berlangsung hingga hari ini.

Dalam urusan bertetangga, prinsip kesetaraan adalah hal yang paling utama. Tak menilai agama apa yang dianut dan dari mana asal mereka. Warga senantiasa bergotong royong dalam segala hal. Misalnya ketika ada tetangga tertimpa musibah seperti sakit, mereka dengan spontan membesuk secara bergiliran.

Kebiasaan ini tidak hanya bagi mereka yang sudah dewasa. Sedari kecil mereka sudah terbiasa dengan toleransi antar sesama. Anak-anak yang muslim biasa menunggu temannya selesai kebaktian di sekitar gereja. Setelah itu mereka akan bermain besama. Begitupun teman-temannya yang Kristen. Mereka biasa menunggu di sekitar mushalla. Karena itu mereka juga hafal surat Al-Fatihah dan adzan.

Bukan Sekali Jadi

Tentu saja jalinan toleransi antarwarga ini? bukan tercipta begitu saja. Mereka melalui proses panjang, melalui tradisi-tradisi yang dirayakan bersama. Sudah sejak lama, antar warga ini terjalin persaudaraan, kawin-mawin dan patron-client.

Semakin jelas, bukan? Adalah suatu kebodohan belaka jika melihat banyaknya gereja disamakan dengan gencarnya arus kristensiasi. Padahal, tafsir terbuka pada dasarnya membuka keran toleransi tersebut.

Toh, agama jika dirumuskan sebagai ‘pertemuan spiritual di dalam perbedaan’ bukan sarana untuk ‘merezimkan kebenaran’ maka kita akan lebih indah melihat segala sesuatu. Tantangan utamanya, jika konsep toleransi bisa menyebar di desa lain, bisa jadi adalah upaya membangun metode pengajaran yang lebih terbuka. Tentu hal ini tidak mudah dan butuh komitmen tinggi dari pemerintah. Kitab kita dalam hidup bernegara adalah undang-undang, bukan? Bukan kitab agama-agama.

Itu sebabnya kampung toleran perlu ada di mana-mana. Agar keindahannya tak hanya di selatan pinggiran Jakarta saja. Tapi, meluas hingga ke pelosok Indonesia. Kepentingannya jelas: menghentikan adu domba.

?

Nur Hidayat adalah Koordinator Umum Forum Kajian Sosial dan Keagaam Piramida Circle Jakarta.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Ahlussunnah, Ubudiyah, Santri Ustadz Felix Siaw

Senin, 25 Agustus 2014

Episode Baru PCINU Pakistan

Oleh Firman Arifandi

Sudah merupakan tradisi yang sejak lama bergulir, bahwa Nahdlatul Ulama (NU) sarat dengan pendekatan-pendekatan intelektual dan sosial kemasyarakatan guna mensyiarkan Islam yang tasamuh rahmatan li-alamin. Hal ini juga menjadi pedoman kami, Pengurus Cabang Istimewa  Nahdlatul Ulama (PCINU) Pakistan dalam menjalankan program kerja di negeri Ali Jinnah ini.

PCINU Pakistan merupakan wadah organisasi NU di Pakistan yang berdiri pada tanggal 28 Mei 2005 dan diresmikan oleh Rais Syuriah DR. KH. M. Mashuri Naim, MA. Peresmian yang juga diisi dengan sumpah pengurus tersebut disaksikan oleh Ketua Umum Tanfidziyah PBNU KH Hasyim Muzadi dan Duta Besar RI untuk Pakistan H. Anwar Santoso serta para pejabat KBRI dan masyarakat Indonesia di Islamabad.

Episode Baru PCINU Pakistan (Sumber Gambar : Nu Online)
Episode Baru PCINU Pakistan (Sumber Gambar : Nu Online)

Episode Baru PCINU Pakistan

PCINU Pakistan yang diresmikan adalah Muhammad Niam, LLM selaku Musytasyar, Reza Muhammad, Lc selaku Rais Syuriah dan M. Sodiq Ahmad, Lc selaku Ketua Tanfidziah untuk masa jabatan 2005-2006.

Salah satu tujuan penting diresmikannya PCINU Pakistan adalah untuk mensinergikan program yang bertujuan memberdayakan kader muda NU. PCI-NU Pakistan yang semula hanya berbentuk paguyuban komunitas NU merubah diri menjadi PCI-NU untuk lebih memperkuat hubungan struktural dengan PBNU di Jakarta. Masyarakat NU di Pakistan menyebar tidak hanya di Islamabad, namun juga di kota-kota lain seperti Lahore, Karachi dan Rawalpindi terdiri dari para mahasiswa yang menuntut ilmu di Pakistan dan beberapa pekerja Indonesia di lembaga asing di Pakistan.

Sepanjang perjalanannya sejak diresmikan, tak sedikit agenda yang dihelat dan tak lepas dari nuansa keilmuwan, kekeluargaan, dan semangat kenusantaraan. Karena mayoritas warga NU di Pakistan adalah mahasiswa yang notabene menempuh jurusan agama seperti ushuluddin dan fakultas syariah, maka tak jarang mereka menggelar acara diskusi keilmuwan, bahtsul masail, dan lain sebagainya yang memang sengaja dikemas untuk seluruh warga Indonesia di Pakistan dan tidak bersifat eksklusif. Selain itu, acara-acara yang bertujuan mempererat tali persaudaraan antar WNI dan bersifat santai juga kerap digelar seperti tabadul hadayah, Jalan santai berhadiah, perlombaan anak-anak, NU Cup, dan lain-lain sehingga NU di mata WNI dirasa sangat dekat dan bersahabat tidak hanya antar sesama muslim tapi juga semua.

Ustadz Felix Siaw

Namun perjalanan yang maksimal ini sempat  mengalami masa kevakuman beberapa waktu dikarenakan beberapa hal. Yakni pada pertengahan tahun 2010 pasca kejadian pemboman di kampus International Islamic University yang menelan belasan korban, dan kemudian berdampak pada kebijakan pemerintah untuk memperketat regulasi di bidang imigrasi. Sehingga terasa sekali susahnya mendapat visa study ke Pakistan.

Sementara para pelajar dan mahasiswa yang kerap mewarnai pergerakan NU di Pakistan juga sedikit demi sedikit kembali ke tanah air karena masa studynya telah usai. Masa kevakuman ini berlangsung selama kurang lebih tiga tahun dengan kuantitas SDM yang sangat minim sekali, namun NU masih ada dan eksis dengan segala kegiatannya yang sederhana di internal.

Pada akhir tahun 2012 intensitas kehadiran mahasiswa baru mulai kembali dirasakan dan mahasiswa berlatarbelakang NU juga mulai nampak terlihat antusiasnya untuk membentuk aktivitas pada interes yang sama. Mulailah sejak enam bulan setelahnya, yakni tepatnya pada Agustus 2013 kumpulan mahasiswa ini sepakat untuk menggelar yasinan dan kajian rutin setiap malam jum’at bergilir di setiap asrama. Ide terus bergulir hingga akhirnya komunitas NU kembali bisa merangkul masyarakat Indonesia secara keseluruhan dengan menggelar pengajian mingguan ke rumah-rumah.

Atas inisiasi bersama, akhirnya mahasiswa berlatarbelakang NU yang berjumlah 25 orang setelah berkonsultasi dengan senior yang ada dan masyarakat yang telah lama tinggal di Pakistan, semuanya sepakat untuk melanjutkan roda organisasi PCI-NU Pakistan yang sempat mengalami masa surut.

Ustadz Felix Siaw

Untuk memaksimalkan kerja usaha membangun komunikasi, rencana dan strategi maka PCI NU Pakistan penting  untuk dilanjutkan. Lembar episode baru kini mulai ditoreh kembali setelah para warga Nahdliyin di Pakistan yang terdiri dari segala elemen WNI, mereka kembali menggelar Konfercab NU pada bulan februari 2014 yang saat itu berhasil membentuk formatur dewan Suriah dan pengurus Tanfiziyah yang baru untuk masa Bhakti 2014-2015.

Berawal dari pengajian dan tahlilan rutin setiap malam Jum’at di hostel kampus IIUI sejak pertengahan tahun 2013 lalu, dipupuk rasa kebersamaan antar mahasiswa, hingga saat ini PCI-NU Pakistan dan warganya kembali merangkul masyarakat Indonesia secara keseluruhan dengan bergilir menggelar yasinan, tahlil dan dilanjutkan dengan kajian kegamaan dari rumah ke rumah. Hal ini dibentuk demi menghidupkan dua aspek penting yaitu menyambung silaturahim dan atmosphere keagamaan.

Beberapa waktu lalu, pada tanggal 2 Maret 2014 Lakpesdam yang dikomandoi oleh saudara Hasanuddin Tosimpak, S.Pd.I menggelar acara nonton bareng alias nobar film Sang KIai mengundang segenap mahasiswa Indonesia yang berdomisili di Islamabad. Nobar ini dimaksudkan untuk merefleksikan kembali perjalanan kalangan santri dan ulama yang mewarnai proses menuju kemerdekaan Indonesia. Hadir dalam acara tersebut, ketua PIP-PKS Pakistan, saudara Irfan Abdul Aziz, ketua Pengurus Muhammadiyah cabang Pakistan saudara Hatta Fahamsyah, dan perwakilan PERSIS cabang Pakistan saudara Emha Hasan Saifullah. Bedah film dipresentasikan oleh rais Syuriah NU Pakistan saudara Ahmad Badruddin, Lc.

Tak kalah pentingnya, badan otonom Fatayat NU yang merupakan wadah untuk mengoptimalkan gerakan muslimat pada khususnya, juga menggelar kegiatan yang berkaliber unggul. Hingga saat ini program yang rutin mereka gelar adalah kajian mingguan dan satu program yang melibatkan masyarakat Indonesia di Pakistan bernamakan DKI (Daily Khotmil-Qur’an Islamabad), yakni merupakan program mengaji harian untuk membiasakan setiap orang bisa mengkhatamkan satu juz dalam sehari, targetnya agar setiap individu tak lepas kesehariannya dari Qur’an sebagai pedoman dan kemudian mentadaburinya. Program DKI ini dikoordinir oleh saudari Fina Fandini, S.Pd.I dan saudari Ummi Salamah S.Pd.I

Dalam bidang pengembangan  sumber daya masyarakat yang dipegang oleh Lakpesdam (Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Masyarakat) PCI-NU Pakistan akan berkonsentrasi menggelar kajian-kajian bertemakan Islam dan nusantara, menggelar bahtsul masail terhadap fenomena-fenomena kontemporer. Selain itu, Lakpesdam juga berkonsentrasi memfasilitasi  paham ke NU-an untuk warganya dalam program orientasi NU yang akan digelar dalam waktu dekat ini. Pada tanggal 2 Maret 2014 lalu, Lakpesdam juga telah menggelar pelatihan penggunaan almaktabah as-syamilah dan metodologi penelitian berbasis teknologi digital yang digelar untuk umum dan pada mahasiswa khususnya.

Demikianlah progress seputar PCINU Pakistan pasca konfercab pada Februari kemarin, lembaran baru telah dimulai harapannya ke depan kita mampu bersinergi bersama seluruh masyarakat Indonesia dan seluruh instansi Indonesia di Pakistan dalam menerapkan program bersama demi membangun solidaritas dan menumbuhkan kecintaan pada tanah air dan agama.

 

Firman Arifandi, Ketua PCINU Pakistan

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Nahdlatul Ulama, Internasional Ustadz Felix Siaw

Jumat, 15 Agustus 2014

Kiai Said: Beri Kesempatan Densus Tunjukkan Siyono Teroris

Jakarta, Ustadz Felix Siaw



Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj meminta masyarakat bersabar agar densus bisa membuktikan bahwa Siyono memang benar-benar teroris.?

Kiai Said: Beri Kesempatan Densus Tunjukkan Siyono Teroris (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said: Beri Kesempatan Densus Tunjukkan Siyono Teroris (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Said: Beri Kesempatan Densus Tunjukkan Siyono Teroris

“Terorisme adalah musuh negara, siapapun orangnya. Densus 88 perangkat negara. NU, Muhammadaiyah merupakan kekuatas sipil yang di luar wilayah negara. Oleh karena itu, dalam kasus Siyono, berikan kesempatan kepada Densus. Buktikan itu teroris. Kalau itu terbukti, maka NU berada di belakang negara,” katanya di gedung PBNU, Kamis.?

Kiai Said mengakui, idealnya siapapun yang melanggar hukum, ditangkap hidup-hidup dan kemudian diadili. Maka yang memutuskan kemudian adalah pengadilan.?

“Tapi kadang sering terjadi dalam keadaan darurat, Densus sendiri juga manusia biasa, maka terjadi seperti ini,” paparnya.?

Ustadz Felix Siaw

Karo Penmas Polri Brigjen Agus Rianto membenarkan Siyono ditangkap Tim Densus 88 Antiteror Polri pada Selasa (8/3) yang merupakan pengembangan dari tersangka T alias W.

Ketika diminta menunjukkan senjata api yang sudah diserahkan kepada orang lain, ternyata Siyono tidak dapat menunjukkan rumah dan orang yang dimaksud.?

Akhirnya, setelah pencarian gagal, mereka balik lagi dan di dalam mobil, terjadi perkelahian. Siyono akhirnya dapat dikendalikan disertai dengan kelelahan dan lemas.?

"Ternyata nyawa tersangka tidak dapat ditolong dan meninggal dunia di rumah sakit. Selanjutnya jenazah dibawa ke Rs Polri Kramatjati, Jakarta," ucap Agus seperti dikutip dari detik.com. (Mukafi Niam)

Ustadz Felix Siaw

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Sunnah, Ubudiyah, Sholawat Ustadz Felix Siaw

Senin, 11 Agustus 2014

Hentikan Politisasi Agama untuk Kepentingan Pilkada!

Jakarta, Ustadz Felix Siaw. Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara, menyerukan agar isu sentimen agama tidak digembor-gemborkan untuk kepentingan politik sesaat, khususnya Pilkada yang bakal digelar serentak tahun ini.

Ketua PC GP Ansor Kota Pematangsiantar Arjuna mengatakan, kontestan pilkada, organisasi kemasyarakatan agama, dan lembaga terkait harus mampu memosisikan diri dengan mengedepankan kebajikan, kemaslahatan, kejujuran, dan keadilan untuk menjadi dasar dan tujuan dalam bersikap, bertindak, dan mengambil kebijakan.

Hentikan Politisasi Agama untuk Kepentingan Pilkada! (Sumber Gambar : Nu Online)
Hentikan Politisasi Agama untuk Kepentingan Pilkada! (Sumber Gambar : Nu Online)

Hentikan Politisasi Agama untuk Kepentingan Pilkada!

Menurutnya, politisasi agama adalah bentuk langkah manipulatif yang menggunakan instrumen propaganda agama atau kepercayaan untuk mempengaruhi konstituen. Arjuna mengatakan, hajatan Pilkada serentak adalah contoh faktual, di mana posisi dan peran agama mulai digeser sekaligus dimanfaatkan untuk kepentingan politik sesaat. GP Ansor mengecam keras penggunaan isu agama untuk kepentingan semacam ini.

Ustadz Felix Siaw

“Jika politik diperjuangkan untuk kepentingan agama, barangkali tidak akan menjadi masalah. Namun, jika agama dieksploitasi untuk kepentingan politik seperti penggunaan simbol-simbol agama dan ajaran agama hanya demi tujuan mencapai kemenangan politik, di sinilah mulai terjadi pelecehan agama,” ujar Arjuna dalam siaran pers, Rabu (4/11).

Ustadz Felix Siaw

Pelecehan tersebut, sambungnya, tidak bisa dihindari apabila sudah bersinggungan dengan nafsu keserakahan akan kekuasaan politik. Namun ia optimis, masyarakat bisa menyeleksi dan tak mudah terpancing dengan isu sentimen agama. “Kita yakin masyarakat sudah pintar, tidak akan terprovokasi oleh isu-isu yang membawa-bawa keagamaan dalam politik sesaat,” katanya. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Pendidikan Ustadz Felix Siaw