Jumat, 31 Oktober 2014

Bangun Islam Moderat, Ulama Yordania Siap Gandeng Ulama Indonesia

Jakarta, Ustadz Felix Siaw. Model Islam wasathiyah (moderat) saat ini mampu menjadi solusi dari semakin pudarnya ukhuwah islamiyah umat Islam diseluruh penjuru dunia. Islam yang ramah dan toleran mulai mendapatkan tempat khusus bukan hanya di Indonesia dengan Islam Nusantaranya, namun juga di negara kawasan timur tengah yang sampai dengan saat ini terus bergejolak dilanda konflik.

Bangun Islam Moderat, Ulama Yordania Siap Gandeng Ulama Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Bangun Islam Moderat, Ulama Yordania Siap Gandeng Ulama Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Bangun Islam Moderat, Ulama Yordania Siap Gandeng Ulama Indonesia

Respon positif diberikan Darul Ifta (Majelis Ulama) Kerajaan Yordania dengan siap membangun kerja sama dan saling tukar pikiran terkait bagaimana cara membangun pemahaman keislaman dan dakwah Islam moderat dan Islam rahmatan lil alamin. Ulama Jordan Siap Menerima Ulama Indonesia dari MUI dan Nahdlatul Ulama serta ulama yang berpaham wasatiyah lainnya.

"Kami semua sangat senang dengan upaya-upaya membangun kerjasama dan taawun alal birri wattaqwa dengan semua ulama kaum muslimin di dunia ini. Wabil khusus  dengan Indonesia, karena kami tahu Umat islam di Indonesia ini jumlahnya terbesar di dunia, tentu kami sangat terbuka dan marhaban, serta ahlan washlan jika akan ada kunjungan dari MUI ke Jordan," kata Grand Mufti Of Hashemate Kingdom Of Jordan atau Syekh Darul Iftanya Kerajaan Yordania Syekh Muhammad Ahmad  Khalayleh.

Hal itu disampaikan Syekh Khalaylah yang didampingi dengan para masyayikh Darul Ifta lainnya seperti Ketua Komisi Fatwa, dan para ketua dan pimpinan darul Ifta lainya saat saat menerima Pengurus LDNU yang juga Anggota Komisi Dakwah MUI, KH Muhammad Nur Hayid di Kantor Darul Ifta, Amman, Yordania beberapa waktu lalu. 

Muhammad Nur Hayid yang akrab disapa Gus Hayid datang didampingi oleh Perwakilan dari Kedubes RI di Amman, Yordania, Suseno yang merupakan Atase Ketenagakerjaan di KBRI Amman.

Ustadz Felix Siaw

Dalam pertemuan tersebut dibahas isu-isu mengenai masalah kaum muslimin yang terjadi diberbagai belahan dunia. Mulai dari isu ekonomi kaum muslimin yang secara rata-rata dibawah kelompok non muslim. Selain itu juga dibahas soal lemahnya persatuan dan kebersamaan antara kaum muslimin yang mengakibatkan umat Islam mudah diadu domba dan dipecah belah. 

Ustadz Felix Siaw

Pada pertemuan tersebut, Grand Mufti mengatakan perlunya menyikapi mulai massif dan banyaknya pemahaman keagamaan yang ekstrem dan berlebihan atau tasyaddud yang menjadi cikal bakal munculnya konflik berkepanjangan. Menurutnya, jika umat islam bersatu dan tidak membesarkan perbedaan khilafiyyah, niscaya Islam akan menjadi berwibawa dan disegani 

"Apa yang terjadi di kawasan Timur Tengah dan dunia arab pada umumnya saat ini merupakan wujud lemahnya persatuan kaum muslimin, termasuk banyak berkembangnya pemahaman keagamaan yang mudah mengkafirkan orang lain. Sehingga, umat mudah disulut permusuhan karena kondisi ekonomi yang juga mempengaruhi," jelas Sekjen Lembaga Fatwa Darul Ifta Syekh Ahmad Alhasanat yang mendampingi Grand Syekh.

Menanggapi Hal itu, Gus Hayid juga menceritakan fenomena yang sama yang juga terjadi di Indonesia. Belakangan ini tuturnya, banyak juga kelompok-kelompok tertentu sangat keras menentang cara berislam dan beragama yang sudah dianut oleh mayoritas kaum muslimin Indonesia. Padahal problem pokoknya bukan pada masalah ushuliyah, tetapi masalah furuiyah.

"Kami juga menghadapi hal yang sama soal ancaman ekstrimisme kanan dan kiri. Ekstrimisme kanan mengajak kepada orang-orang untuk mengkafirkan sesama kaum muslimin yang tidak sealiran dan sepemahaman dengan mereka, ekstrim kiri mengajak bersikap liberal dan bahkan anti-agama melalui gerakan masif di media maupun perusakan moral dengan narkoba dan semacamnya," terang Gus Hayid menanggapi sharing soal masalah keumatan.

Atas Dasar itulah, lanjut Grand Syekh, diperlukan upaya kongkrit untuk terus membangun dan menjalin sinergi dakwah yang tepat dan bisa dirasakan oleh umat. Dan langkah tersebut diperlukan kerjasama yang erat antara lembaga semacam darul Ifta untuk bersama-sama mengatasi masalah umat dengan mengunakan pemahaman dan pemikiran islam wasatiyyah.

"Kita tidak bisa sendiri-sendiri menghadapi tantangan dan ancaman terhadap pemahaman islam yang rahmatan lilalamin ini dan perusakan moral kaum muslimin yang akhirnya membuat umat Islam mudah dipecah belah. Kita harus bersama-sama mengatasinya," terangnya diamini oleh Gus Hayid dan rombongan.

Pertemuan ini digelar karena adanya rencana Komisi Dakwah MUI Pusat pimpinan KH Cholil Nafis akan melakukan Rihlah Ilmiah dalam rangka membangun kerjasama sekaligus saling belajar mengenai sistem berdakwah di era modern di berbagai dunia Islam dan sekaligus sistem lembaga semacam MUI merespon problematika umat. Rihlah Ilmiah yang direncanakan akan dilaksanakan pada Maret 2018 ini juga direncanakan ke berbagai negara lain seperti Mesir, Arab Saudi dan Turki selain ke Jordania. 

Menanggapi rencana penguatan kerja sama antara ulama Indonesia dengan Ulama Yordania, Dubes RI untuk Amman, Andi Rahmianto menyambut baik upaya tersebut. Pihak pemerintah melalui kedutaan besar di Yordania siap memfasilitasi dan membantu penguatan kerjasama antara para kedua negara dalam menguatkan pemahaman keilaman yang moderat atau wasathiyah.

"Kami sangat senang mendengar rencana itu. Sudah barang tentu kami pasti mendukung setiap upaya positif yang dibangun oleh para ulama kedua negara dalam rangka merekatkan hubungan antara kedua bangsa dan kedua negara sekaligus dalam rangka menangkal pemahaman islam ekstrem dan mengembangkan islam yang damai, islam rahmatan lil alamain," terang Suseno yang sudah bertugas di berbagai pos penting dan strategis, khususnya di Amerika ini. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw IMNU Ustadz Felix Siaw

Kuda Putih Kiai Asad

Perjuangan bangsa Indonesia meraih kemerdekaan bukanlah perkara mudah. Butuh perjuangan keras untuk mempertahankan hingga sekarang ini.





KHR Asad Syamsul Arifin merupakan salah satu tokoh yang menggelorakan semangat juang untuk melanggengkan NKRI dari agresi militer Belanda I. Pengasuh Pesantren Salafiyah Syafiiyyah Sukorejo ini rela mengorbankan waktu, tenaga, harta serta pemikirannya untuk mempertahankan wilayah kesatuan NKRI.

Kuda Putih Kiai Asad (Sumber Gambar : Nu Online)
Kuda Putih Kiai Asad (Sumber Gambar : Nu Online)

Kuda Putih Kiai Asad





Melalui novel K.H.R. Asad Syamsul Arifin Kesatria Kuda Putih Santri Pejuang ini kita diajak penulis menyelami sejarah bangsa. Karya berbasis sejarah ini merupakan cara terbaik untuk menggambarkan betapa dahsyatnya pertempuran yang menguras banyak tenaga. Meski terdapat sisi kekurangan berupa keterbatasan data sejarah dan hanya mengandalkan rujukan dari buku Kharisma Kiai Asad di Mata Umat (2009), tentu juga menjadi kendala tersendiri bagi penulis untuk berhati-hati menggunakan sejarah di lapangan. Namun, disisi lain penulis harus jeli dalam menggali data yang ada.

Ustadz Felix Siaw





Ustadz Felix Siaw

Tokoh utama bernama Yusuf, santri yang memiliki tekad kuat dalam mengemban amanah sebagai seorang kurir (penyampai pesan). Perjalanan Yusuf inilah yang membawa kita menelusuri perjuangan Kiai Asad dalam berbagai pergerakan untuk menyusun strategi hingga melancarkan serangan terhadap pasukan Belanda.





Novel ini berlatar belakang tahun 1947, dimana Belanda menyebut operatie product untuk merebut daerah yang kaya sumber daya alam. Belanda mendarat di Pasir Putih Situbondo dan Teluk Meneng Banyuwangi. Kiai Asad dan Barisan Pelopor memulai perjalanan merebut senjata di gudang mesiu Desa Dabasah Bondowoso. Begitulah kronik sejarah yang terjadi. (halaman xxix)





Yusuf sempat gentar karena berulang kali mendapat peringatan ibunya. Hal ini wajar, sebagai orang tua tentu merasa was-was terhadap anaknya. Karena diceritakan bahwa ayah Yusuf tak kembali dari laskar hingga cerita ini rampung. Di sisi lain, kakek Yusuf memiliki jiwa yang kuat untuk merebut kemerdekaan karena dengan sebilah keris pernah digunakan untuk melawan penjajah. Ketika memandang cucunya ini memiliki rasa kebanggaan yang bercampur cemas karena sudah seringkali kehilangan orang tercintanya. Mungkin semangat juang inilah yang menurun pada cucunya.





"Sudah lama tak kelihatan. Apa ibumu masih menahanmu di rumah?" ujar Kiai Asad sembari membuka tutup pipa besi untuk mengambil surat yang tergulung di dalamnya. (halaman 15)





Dalam berjuang melawan Belanda, kiai Asad tidak sendirian. Bersama kiai lain, ia berembug strategi, termasuk membentuk Barisan Pelopor. Komando gerakan ini berada dalam tangan beliau. Selain itu, barisan Pelopor ini sangat agamis. Dalam berjuang kiai Asad selalu mengingatkan akan niat jihad fi sabilillah, semata-mata untuk menegakkan agama dan negara.





Kiai Asad juga merangkul perampok, penjudi dan bajingan masuk anggota Pelopor. Alasan ini agar mereka sadar dan bertobat kepada Allah. Di sisi lain, keahlian dan kemampuan mereka ini bila dikelola dengan baik dan digunakan dengan tepat akan bermanfaat untuk menegakkan syiar Islam. Hal inipun ternyata ampuh dilakukan Kiai Asad dalam merekrut mereka untuk berjuang bersama.





Selain Yusuf dan sosok Kiai Asad terdapat Letnan Sufyan yang hadir dalam novel ini. Nama Sufyan merupakan rekaan penulis yang terinspirasi dari kisan Letnan Dua beserta pasukannya dari Sidoarjo, Mojokerto dan Malang yang menjaga pesisir pantai Jawa Timur, khususnya ketika terjadi baku tembak di Pasir Putih, Situbondo 1947. (halaman 29) Penulis menggambarkan perjalanan Sufyan ini dengan penuh heroik melakukan gerilya menghambat pergerakan pasukan Belanda yang baru mendarat di pesisir.





Judul buku Kuda Putih, merupakan kisah nyata kehidupan Kiai Asad. Pada saat perang gerilya ini, Kiai Asad sering menunggang kuda putih, warna kegemarannya. Karena itu, ia dikenal pula dengan sebutan "Satria Kuda Putih. Mengapa, menggunakan kuda putih? "Nabi Ibrahim kudanya juga putih," jelasnya suatu hari kepada wartawan Tempo edisi 15 Oktober 1983. (Kharisma Kiai Asad di Mata Umat: 2009)





Karya semacam ini ke depan perlu kita perbanyak untuk menuliskan sejarah bangsa ini. Perjalanan Kiai Asad ini telah diadakan peringatan dengan menggelar napak tilas tempat yang pernah disinggahi untuk bergerilya semenjak 2014. Selain seorang pejuang, kiai kelahiran Makkah dari pasangan Raden Ibrahim dan Siti Maemunah ini produktif dalam menulis diantaranya, Ekonomi dalam Islam, Syair Madura, Risalah Shalat Jumat, Isra Miraj, Tsalats Rasail, Tarikh Perjuangan Islam Indonesia, Risalah al-Tauhid, al-Aurad al-Yaumiyyah dan karya lain yang masih dalam bentuk tulisan tangan.





Dengan membaca novel berbasis sejarah seperti ini, kita diajak penulis untuk terus mengingat kepahlawanan founding fathers untuk menguatkan nasionalisme. Indonesia ini tak hanya memiliki kekayaan alam. Begitu pula dengan pemikiran liberal hingga fundamental serta moderat tumbuh berdampingan membentuk Indonesia yang guyub dan rukun.?









Data Buku

Judul : K.H.R. Asad Syamsul Arifin Kesatria Kuda Putih Santri Pejuang?

Penulis : Ahmad Sufiatur Rahman?

Penerbit : Tinta Medina?

Cetakan : Mei, 2015

Tebal : xxxviii + 210 halaman?



ISBN : 978-602-72129-7-8?





Peresensi? Mukhamad Zulfa, Pegiat Diskusi Rabu Sore IDEASTUDIES Semarang





Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Hadits, AlaNu, Cerita Ustadz Felix Siaw

Sabtu, 11 Oktober 2014

PMII Banten Harapkan Pilkada Cerdas dan Berintegritas

Serang, Ustadz Felix Siaw?

Pengurus Koordinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Banten mengharapkan pemilihan kepala daerah yang akan digelar di provinsi tersebut dilakukan warga dengan cerdas memilih calon agar menghasilkan pemimpin yang berintegritas.?

PMII Banten Harapkan Pilkada Cerdas dan Berintegritas (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Banten Harapkan Pilkada Cerdas dan Berintegritas (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Banten Harapkan Pilkada Cerdas dan Berintegritas

“Kita sadari serta ketahui kelahiran suatu negara yang bernama Indonesia ini merupakan ? manifestasi kesepakatan dari ? perbedaan kultur, etnis, agama dan bahasa, yang kemudian di kemas dalam ? pancasila yang menjadi pilar dalam kehidupan berbanga dan bernegara,” ungkap Ketua PKC PMII Banten Mukhtar Ansori Attijani di Serang, Banten pada Rabu (8/2).

Ia menambahkan, proses pemilihan kepala daerah dikhawatirkan meninggalkan kesan-kesan yang agak buram. Dari 166 pelaksanaan yang digelar Juni 2008 lalu, termasuk tujuh pilkada provinsi, 12 di antaranya bermasalah.?

Menurut dia, kekecewaan publik terhadap hasil pilkada yang teramat dalam di sejumlah daerah, menyebabkan kerusuhan dan amuk massa. Usai Pilkada (pemilhan kepala daerah) terjadi kerusuhan dan sengketa yang melelahkan, menghabiskan pikiran, tenaga serta uang.?

Agar peristiwa buram yang terjadi dalam pilkada tidak terulang, lanjutnya, kita harus melaksanakan pemilu bersih (jujur). Kalau pemilu bersih (jujur) sudah hadir, otomatis akan damai. Karena yang kalah merasa wajar di dalam pertandingan: ada yang kalah, ada yang menang.

Ustadz Felix Siaw

“Untuk itulah kami dari PKC PMII Banten mengelar “Kaijian untuk daerah Tercinta” yang diselenggarakan pada Rabu, 8 Februari 2017 bertempat di Rumah Makan “S” Rizki Kota Serang,” katanya.?

Dengan kegiatan tersebut, PMII berharap membantu mensukseskan kelancaran teknis maupun non-teknis agar Pilkada cerdas dan berintegritas bisa menghasilkan pemimpin yang berkulitas di provinsi Banten.?

PMII mengimbau kepada berbagai komponen masyarakat untuk :?

Ustadz Felix Siaw



1. Berpartisipasi aktif dalam proses pilkada

2. Kepada para mahasiswa agar terlibat langsung dalam mengawal Pilkada agar Transparan, akuntable dan damai

3. Kepada para stakeholder, alim ulama dan tokoh masyarakat agar bisa menahan dari dari provokasi – provokasi berita Hoax atau di pancing oleh TimSes salah satu calon

4. Mendorong agar pihak kepolisian dan pihak penyelenggara agar Netral dan terbuka untuk menatralisir berbagai konflik horizontal di masyarakat.

5. Pemimpin yang berkualitas adalah harapan besar masyarakat Banten

(Obon Najmutsakib/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Bahtsul Masail, Nusantara, Internasional Ustadz Felix Siaw

Jumat, 10 Oktober 2014

Mengapa Tanah Air Mesti Didahulukan daripada Islam?

Jakarta, Ustadz Felix Siaw. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengaku mengembangkan pemikiran Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari tentang ukhuwwah islamiyyah (persaudaraan sesama umat Islam) dan ukhuwwah wathaniyyah (persaudaraan sesama bangsa).

Mengapa Tanah Air Mesti Didahulukan daripada Islam? (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengapa Tanah Air Mesti Didahulukan daripada Islam? (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengapa Tanah Air Mesti Didahulukan daripada Islam?

Menurut dia, sebagai sebuah strategi, memperjuangkan tanah air harus dilakukan lebih dahulu daripada Islam. Kenapa? “Karena dengan tanah air ini kita bisa memperjuangkan Islam,” ujarnya dalam pembukaan Harlah ke-60 dan Rakernas IPNU di Jakarta, Senin (24/02).

Kiai Said, sapaan akrabnya, mengatakan banyak bangsa yang tidak bisa menjaga tanah airnya akhirnya hilang dari sejarah, seperti yang dialami bangsa Kurdi.

Ustadz Felix Siaw

Man laisa lahu ardlun laisa lahu tarikh, waman laisa lahu tarikh laisa lahu dzakirah; barangsiapa tidak memiliki tanah air, tidak memiliki sejarah dan barangsiapa tidak memiliki sejarah tidak akan dikenang,” imbuhnya. 

Ustadz Felix Siaw

Timur Tengah, lanjut Kiai Said, memiliki segudang ulama yang ‘alim dan ‘allamah. Namun demikian, di sana terjadi banyak konflik berdarah yang tidak bisa dipecahkan oleh ulama.

Hal ini, menurutnya, karena tidak adanya nasionalisme di kalangan ulama dan organisasi kemayarakatan sebagai kekuatan masyarakat sipil di sana. Dengan adanya ormas seperti NU, Al-Washliyyah, Hizbul Wathan dan lain-lain, ulama Indonesia memiliki peran strategis, baik di kancah nasional maupun Internasional.

Maka dari itu, Kiai Said berharap IPNU sebagai ujung tombak pengkaderan NU mampu mewarisi nilai-nilai yang telah dipelopori oleh ulama Nusantara sebagai pengawal ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah dan NKRI.

“Selama masih ada NU, Insya Allah Indonesia akan terus ada. Semoga, NU langgeng sampai yaumil qiyamah,” ungkapnya di depan Wakil Menteri Pertahanan Letjend Sjafrie Sjamsoeddin, tamu undangan, para alumni IPNU, Pimpinan Pusat dan Pimpinan Wilayah IPNU se-Indonesia.

Usai sambutan, Kiai Said menerima kenang-kenangan dari Ketua Umum PP IPNU Khairul Anam Kharisah. PP IPNU periode ini juga memberi penghargaan kepada tokoh-tokoh yang dianggap berjasa besar dan memiliki dedikasi kepada IPNU. (A Naufa Khoirul Faizun/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Sejarah, Kajian Ustadz Felix Siaw

Kamis, 02 Oktober 2014

Aswaja Landasan Jihad dan Khidmah Ummat

Karawang, Ustadz Felix Siaw. Ajaran Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) adalah ajaran yang moderat dan menjadi landasan perjuangan dan pengabdian kepada Ummat. Aswaja telah kokoh sebagai landasan jihad oleh Nahdlatul Ulama untuk memperbaiki kondisi sosial dan kultural bangsa Indonesia.

Aswaja Landasan Jihad dan Khidmah Ummat (Sumber Gambar : Nu Online)
Aswaja Landasan Jihad dan Khidmah Ummat (Sumber Gambar : Nu Online)

Aswaja Landasan Jihad dan Khidmah Ummat

Demikian dinyatakan Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBM NU) KH Arwani Faisal di Karawang, Rabu (12/6). Menurut Arwani, Aswaja sebagai ideologi tengah-tengah telah memiliki karakter ke-Indonesia-an yang mampu menjadi perekat bagi kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia.

Ustadz Felix Siaw

"Aswaja yang dianut oleh NU selalu dipertahankan untuk tidak terdorong ke kutub ekstrim dalam beragama. Demikian juga Aswaja tidak boleh diseret-seret ke dalam kutub ideologi liberal," tutur Arwani.

Lebih lanjut Kyai asal Demak ini menjelaskan, Aswaja harus tetap dipertahankan sebagai konsep perjuangan yang mampu menjadi solusi bagi segenap permasalahan ummat Islam, khususnya di Indonesia. Aswaja harus dijaga dari adanya rongrongan paham radikalisme yang membahayakan keutuhan bangsa Indonesia.

Ustadz Felix Siaw

"Nahdlatul Ulama akan senantiasa berjuang untuk memastikan bahwa Ideologi Aswaja senantiasa menjaga adanya keragaman pendapat dalam beragama, sehingga ideologi agama tidak terjerembab ke dalam juruang kejumudan atau keliberalan," tandas Arwani.

Dalam Aswaja, perbedaan pendapat, selama tidak ada nash qothi (dalil nash) adalah boleh. Sedangkan untuk urusan hal-hal yang tidak ada nash qathi adalah bersifat ijtihadiyah yang memungkinkan terjadinya perbedaan pendapat.

"NU dengan paham Aswaja-nya senantiasa membuka diri terhadap perbedaan-perbedaan pendapat. NU akan selalu bergerak dan dinamis dengan terus bermunculannya pendapat-pendapat baru selama masih berada dalam koridor-koridor yang dapat dipertanggungjawabkan, terutama dalam mengikuti perkembangan-perkembangan zaman," tandas Arwani.

Penulis ? ? : Syaifullah Amin?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Nasional Ustadz Felix Siaw