Senin, 18 Januari 2016

Kepengurusan IPNU-IPPNU Wonoasih Didominasi Remaja Belia

Probolinggo, Ustadz Felix Siaw - Seminggu pascakonferensi, Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Wonoasih Kota Probolinggo periode 2016-2019 rampung menyusun struktur kepengurusan, Sabtu (28/1). Kepengurusan in lebih dominan oleh remaja belia.

Kepengurusan yang disusun oleh Ketua IPNU dan IPPNU Wonoasih terpilih bersama tim formatur ini lebih banyak didominasi oleh kader-kader muda yang selama ini banyak berkutat di kepengurusan Pimpinan Komisariat (PK) IPNU dan IPPNU.

Kepengurusan IPNU-IPPNU Wonoasih Didominasi Remaja Belia (Sumber Gambar : Nu Online)
Kepengurusan IPNU-IPPNU Wonoasih Didominasi Remaja Belia (Sumber Gambar : Nu Online)

Kepengurusan IPNU-IPPNU Wonoasih Didominasi Remaja Belia

“Jika diprosentase, perbandingan antara pengurus lama dan baru yang masih muda mencapai 40% dibanding 60%. Artinya banyak pengurus baru yang bergabung,” kata Ketua IPPNU Wonoasij Evi Kumalasari.

Menurut Evi, selama ini ada beberapa pengurus lama yang sudah menikah yang pada akhirnya sibuk mengurus rumah tangga. Hal ini tentu berimbas pada tidak aktifnya kepada organisasi.

Ustadz Felix Siaw

“Kami bertekad akan membesarkan organisasi pelajar NU ini melalui perpaduan antara pengurus lama dan pengurus baru. Semua ini sejalan dengan harapan kami dalam tema Konferancab IPNU dan IPPNU, Bangkit Bersama Kader Muda,” jelasnya.

Ustadz Felix Siaw

Evi menambahkan, pihaknya sengaja lebih memprioritaskan kader muda sebagai upaya agar proses pengkaderan terus berjalan. Pasalnya kader yang ada selama ini belum berjalan secara optimal. Sehingga hal itu berdampak pada perkembangan roda organisasi.

“Yang pasti dengan kader muda ini langkah awal yang akan kami lakukan adalah pelatihan atau pemahaman khusus untuk kader baru baik dalam hal administrasi, kaderisasi, maupun organisasi,” tambahnya.

Dengan banyaknya kader muda ini Evi mengharapkan agar semangat mudanya untuk belajar, berjuang bertaqwa, dan mengabdi bisa menjadikan PAC IPNU dan IPPNU Kecamatan Wonoasih lebih baik lagi.

“Setidaknya semangat muda para pengurus ini mampu membuat mereka lebih berinovasi dalam menciptakan program-program ke depannya. Dengan demikian roda organisasi akan berjalan dengan baik dan programnya bermanfaat bagi pelajar NU,” harapnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Ahlussunnah Ustadz Felix Siaw

Jumat, 08 Januari 2016

Majalah Bangkit Suarakan Merdeka Lahir Batin

Yogyakarta, Ustadz Felix Siaw.  Majalah Bangkit yang diterbitkan NU DIY pada edisi Agustus 2013 ini mengangkat tema tentang Merdeka Lahir Batin. Tema ini dipilih karena cita-cita kemerdekaan sekarang ini sudah makin melenceng, sehingga Indonesia makin jauh dari merdeka lahir dan merdeka batin.

Demikian disampaikan oleh M. Nasrudin, Wakil Pemimpin Redaksi Bangkit, di Kantor PWNU DIY, Jl. MT Haryono 40-42 Yogyakarta (20/08).

Majalah Bangkit Suarakan Merdeka Lahir Batin (Sumber Gambar : Nu Online)
Majalah Bangkit Suarakan Merdeka Lahir Batin (Sumber Gambar : Nu Online)

Majalah Bangkit Suarakan Merdeka Lahir Batin

Bagi Nasrudin, dalam mengangkat tema merdeka lahir batin ini, redaksi menurunkan tulisan para pakar, diantaranya Arie Sujito (sosiolog UGM yang juga anggota Komisi Politik PWNU DIY), Kiai Mustafid (Penulis Buku Kaderisasi PB PMII dan PP IPNU, sekarang Direktur Pesantren Pelajar Mahasiswa Aswaja Nusantara Mlangi Yogyakarta), dan tulisan lainnya.

Ustadz Felix Siaw

“Dalam tulisan Arie Sujito dijelaskan bahwa tantangan kita saat ini dan ke depan adalah membangun kesadaran kolektif keindonesiaan sebagai bangsa dilandasi oleh ikatan ideologis dengan mendasarkan pada konsep negara berkembang. Ancaman nasionalisme dan integrasi bangsa Indonesia sebagai negara berkembang adalah, ketika negara mengabaikan problem-problem struktural masyarakat akibat terlalu melayani kemauan kaum borjuasi internasional. Itulah bibit-bibit terjadinya disintegrasi bangsa,” tegasnya.

Makanya, lanjutnya, Arie Sujito menjelaskan bahwa Secara praksis, kita perlu melawan sekaligus menghentikan bermacam tindakan penguasa, yang seolah mewakili negara dengan dalih konstitusional, ternyata menggadaikan kekayaan negeri ini (sebagai bagian kekuatan bangsa) pada kaum kapitalis internasional.

Ustadz Felix Siaw

“Makin hilangnya sumber daya alam ini yang dieksploitasi mengakibatkan ketidakadilan, marginalisasi berlangsung secara terus-menerus. Semua itu membuat bangsa ini makin karut-marut dan krisis berkepanjangan. Inlah tantangan serius, akar struktural mengapa krisis nasionalisme terjadi di negeri ini,” lanjtnya menjelaskan gagasan Arie Sujito.

Sementara itu, lanjut Nasrudin, tulisan dari Kiai Mustafid menjelaskan NU itu mewakili tradisi perlawanan ratusan tahun terhadap kekuasaan kolonial Belanda, dengan kedudukan mandiri, bebas, dan terdesentralisasi pada masyarakat pedesaan yang para kiainya orang-orang paling berpengaruh dan tak diperintah siapapun.

“Dalam tulisan Kiai Mustafid disimpulkan bahwa kristalisasi semangat dan gerak zaman telah menjadikan NU sebagai ikon sosial, budaya, dan agama di Indonesia, yang menjulang, seperti zamrud katulistiwa. Sejauh mata memandang (Indonesia) NU jualah yang nampak,” lanjutnya.   

Selain itu, juga dilengkapi banyak rubrik yang menarik, diantaranya biografi KH Mufid Mas’ud, Pendiri Pesantren Pandanaran, Sleman, sosok kiai yang selalu teguh menjaga tali silaturrahim, ada juga resolusi jihad pertanian yang sedang digaungkan Lembaga Pengembangan Pertanian NU DIY, dan ada juga spirit berwirausaha pengusaha muda NU, Taufiq, dalam mengembangkan batik.

“Semua ini suguhkan sebagai wujud manifestasi Bangkit merespon perkembangan jaman,” pungkasnya.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Rokhim

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Fragmen, Habib, Nahdlatul Ustadz Felix Siaw