Selasa, 28 Februari 2017

Perumpamaan Pohon dalam Memberantas Ideologi Radikal

Jakarta, Ustadz Felix Siaw. Radikalisme adalah selain gerakan juga ideologi. Ideologi ini tidak bisa dihancurkan. Bahkan bisa berkembang pesat jika berusaha dicabut. Jika radikalisme adalah sebuah pohon, yang perlu dilakukan adalah memperbanyak pohon-pohon lain yang dapat menangkal pohon dengan akar radikal tersebut.

Hal itu disampaikan oleh Direktur Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Irfan Idris dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Pembinaan Paham Keagamaan dan Penanganan Konflik, Selasa (12/12) yang digelar Bimas Islam Kementerian Agama RI di Jakarta.

Perumpamaan Pohon dalam Memberantas Ideologi Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)
Perumpamaan Pohon dalam Memberantas Ideologi Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)

Perumpamaan Pohon dalam Memberantas Ideologi Radikal

Menurut Irfan, justru upaya mencabut dan menghancurkan pohon tersebut hanya akan menumbuhkan radikalisme baru, bahkan jumlahnya bisa lebih besar. Ia menawarkan apa yang disebutnya narasi alternatif.

“Narasi alternatif ini membiarkan pohon tersebut dengan menanami dan memperkuat pohon-pohon lain dengan narasi-narasi cinta kebangsaan, Islam ramah, kebersamaan, kebinekaan, toleransi, saling menghormati. Lama-lama, pohon dengan akar radikal tersebut akan mati sendiri,” urai doktor lulusan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

Ustadz Felix Siaw

Irfan tidak memungkiri, upaya-upaya menghilangkan ideologi radikal itulah yang selama ini dilakukan sejumlah kalangan tanpa memahami dampak yang terjadi jika langkah yang ditempuh tidak bersifat persuasif.

Narasi-narasi untuk meng-counter paham radikal bisa melalui dakwah secara luas, baik terjun ke lapangan mupun di media sosial.

“Kita juga harus terus memperkuat narasi Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, cinta NKRI, dan meneguhkan UUD 1945 atau disingkat PBNU yang ditabur ke dalam pohon-pohon di sekitar pohon dengan akar radikal,” tukasnya. (Fathoni)

Ustadz Felix Siaw

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Kiai, Meme Islam, Amalan Ustadz Felix Siaw

Senin, 27 Februari 2017

Krisis Akhlaq, Kitab Ta’lim Al-Muta’allim Semakin Relevan

Demak, Ustadz Felix Siaw. Dalam rangka mengembangkan pendidikan berkarakter, kitab Ta’lim Muta’allim perlu dijadikan mata pelajaran utama. Pasalnya kitab ini mengajarkan secara detil perihal akhlak manusia sebagai individu, murid, sahabat, pengajar terhadap relasi sosialnya.

Demikian dinyatakan pengasuh pesantren Futuhiyyah Mranggen, Demak KH Muhammad Hanif Muslih ketika menyambut kunjungan ketiga kalinya rombongan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia, Selasa (4/3).

Krisis Akhlaq, Kitab Ta’lim Al-Muta’allim Semakin Relevan (Sumber Gambar : Nu Online)
Krisis Akhlaq, Kitab Ta’lim Al-Muta’allim Semakin Relevan (Sumber Gambar : Nu Online)

Krisis Akhlaq, Kitab Ta’lim Al-Muta’allim Semakin Relevan

“Walaupun memang belakangan ini banyak yang menganggap bahwa kitab Ta’lim Al-Muta’allim karya Syekh Az-Zarnuji itu sudah tidak relevan lagi untuk diajarkan di pesantren ataupun lembaga pendidikan lainnya,” terang Kiai Hanif menyayangkan hadirnya anggapan demikian.

Ustadz Felix Siaw

Menurutnya, pelajaran akhlaq masih cukup diandalkan sebagai alternatif untuk menanamkan sikap atau akhlaq terpuji bagi kalangan pelajar atau santri. (Dliya Uddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw

Ustadz Felix Siaw Syariah, Kajian Sunnah Ustadz Felix Siaw

Sabtu, 25 Februari 2017

Sekjen GP Ansor: Adat Basandi Syarak Wajah Islam Nusantara di Minang

Padang, Ustadz Felix Siaw. Sekretaris Jenderal PP GP Ansor Muhammad Aqil Irham mengapresiasi filosofi Minangkabau yang berbunyi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Menurutnya, semboyan ini sangat sesuai dengan paham yang dikembangkan GP Ansor yang merupakan anak kandung NU. Filosofi ini menegaskan bagaimana adat (budaya) dengan agama tumbuh dan berkembang di tanah Minang.

Demikian disampaikan Aqil pada pembukaan Konferensi Wilayah ke-XI GP Ansor Sumatera Barat di Balai Latihan Transmigrasi Padang, Sabtu (6/6). Konferwil dihadiri juga Wakil Ketua PWNU Sumbar Suardiwan, Ketua GP Ansor Sumatera Barat Rusli Intan Sati, pengurus GP Ansor Sumbar dan utusan dari cabang GP Ansor di Sumbar.

Sekjen GP Ansor: Adat Basandi Syarak Wajah Islam Nusantara di Minang (Sumber Gambar : Nu Online)
Sekjen GP Ansor: Adat Basandi Syarak Wajah Islam Nusantara di Minang (Sumber Gambar : Nu Online)

Sekjen GP Ansor: Adat Basandi Syarak Wajah Islam Nusantara di Minang

Pengembangan Islam dengan pendekatan kultur masyarakat sudah dicontohkan oleh para ulama nusantra yang penuh dengan semangat rahmatan lil alamin. Ternyata penyebaran Islam dengan pendekatan ini berhasil seperti di Jawa dikenal dengan Walisongo.

Ustadz Felix Siaw

"Dengan filosofi ABS-SBK tersebut potensi Ansor untuk berkembang besar di Sumbar," kata Aqil.

Ustadz Felix Siaw

Masa khidmat PP GP Ansor saat ini difokuskan pada visi besar Ansor yaitu revitalisasi nilai-nilai Aswaja dan sistem kaderisasi. Kedua visi Ansor ini harus bisa membumi di Nusantara.

"Melalui majelis zikir rijalul Ansor yang tumbuh di berbagai tingkatan kepengurusan Ansor, mampu membentengi umat dari serangan antitahlilan, yasinan, maulud dan lainnya," kata Aqil.

Aqil mengakui, saat ini hampir tidak ada hari bagi anak-anak Ansor tanpa kegiatan Islam Aswaja. Ansor membentengi warga NU di tengah munculnya kelompok yang mengatakan ajaran NU itu sesat.

Berbagai kegiatan yang dilakukan di kalangan warga NU, dituduh sesat. Untuk itu, Ansor melalui Rijalul Ansornya terbukti mampu membentenginya. "Untuk itu, Ansor di Sumbar harus terus berkibar," tutur Aqil.

Terkait dengan kaderisasi, saat ini Ansor terus menertibkannya. Konferwil ini juga merupakan kaderisasi melahirkan pemimpin. Pemimpin yang dilahirkan itu harus siap menghadapi masalah, tantangan dan mampu menyelesaikan masalah.

Pemimpin itu harus menjadi solusi, bukan membuat masalah. Pemimpin itu ada yang lahir melalui sekolah, tapi memang banyak pemimpin yang disiapkan melalui pengkaderan, artinya pemimpin itu memang dikader.

"Melahirkan seorang pemimpin itu memang tidak mudah. Butuh proses kaderisasi dan kemampuan," tambah Aqil. (Armaidi Tanjung/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Nahdlatul, Daerah Ustadz Felix Siaw

Jumat, 24 Februari 2017

Membongkar Jaringan Radikal ISIS

Indonesia saat ini telah hampir memasuki fase darurat radikalisme. Fenomena kekerasan atas nama agama, peristiwa bom bunuh diri yang menyeret korban, serta merasuknya jaringan teroris-radikal di beberapa daerah menjadi ancaman nyata. Terlebih, jaringan radikal dari Islamic State of Irak and Syiria (ISIS) telah masuk ke beberapa kawasan di Indonesia. Selain itu, fenomena Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) juga layak direnungkan dalam pertanyaan tentang bagaimana menangkal radikalisme di negeri ini.

Buku karya Reno Muhammad, “ISIS: Mengungkap Fakta Terorisme Berlabel Islam” mencoba membongkar pemahaman kaum salafi yang menginginkan khilafah serta getol meneriakkan pengkafiran. Dalam buku ini, Reno Muhammad menggunakan fenomena ISIS sebagai pintu masuk. Buku ini, diharapkan oleh penulisnya, menjadi menjadi salah satu elemen mata air yang menginspirasi. Reno Muhammad dengan jeli menggali latar belakang munculnya ISIS, kemudian menganalisa kekeliruan takfir, serta? kepentingan ekonomi di baliknya munculnya ISIS di beberapa negara timur tengah. Buku ini juga menawarkan perspektif deradikalisasi dengan menyampaikan gagasan Islam cinta, untuk kedamaian antar umat agama di negeri ini.

Membongkar Jaringan Radikal ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)
Membongkar Jaringan Radikal ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)

Membongkar Jaringan Radikal ISIS

Dalam buku ini, Reno Muhammad membongkar kesalahan berpikir kelompok yang menginginkan tegaknya khilafah. Ada dua argumentasi mendasar, yang disampaikan dalam buku ini: (1) Jika mendasarkan sistem khalifah pada kepemimpinan Nabi Muhammad, tentu saja hal ini salah besar. Nabi Muhammad tidak menetapkan diri sebagai khalifah (dalam artian pemimpin politik), akan tetapi menggerakkan tata nilai berdasar wahyu dan intuisi; (2) Nabi Muhammad tidak pernah mengabarkan bahwa agama Islam menjadi agama politik yang mengatur sistem kenegaraan berbasis agama. Ajaran Islam yang diwartakan oleh Sang Rasul, menjadi rahmat bagi semesta alam (hal. 127).



ISIS: Jaringan Radikal ?


Ustadz Felix Siaw

Ustadz Felix Siaw

Reno Muhammad melacak bagaimana radikalisme berkembang sebagai kekuatan politik yang bertemu dengan kepentingan ekonomi. Semangat untuk tajdid dan melakukan pembaruan, telah dikobarkan oleh barisan Hasan al-Banna, seorang pembaru asal Mesir. “Pemuda belia itu bernama Hasan al-Banna (1906-1949). Ia sangat mengesankan, berpikiran kuat,kharismatik dan dapat menyakinkan orang untuk mengikutinya. Pada sebuah petang bulan Maret 1928—nyaris berbarengan dengan lahirnya Sumpah Pemuda di Indonesia—enam pemuda di Ismailiyah, Mesir, datang untuk meminta Hasan al-Banna bertindak: Kami tidak tahu cara praktis mencapai kemuliaan Islam dan kesejahteraan kaum muslim. Kami bosan dengan kehidupan yang dihina dan dikekang ini. Kami melihat orang-orang Arab dan Muslim tidak memiliki status atau martabat. Mereka tidak lebih dari orang upahan yang dimiliki orang asing (hal. 7). Dengan demikian, semangat untuk menegakkan khilafah yang dipahami, sebagai usaha untuk menegakkan martabat kaum muslim.

Apa yang dicitakan oleh Hasan al-Banna kemudian bergeser menjadi aksi-aksi kekerasan. Inilah yang menjadi penyebab bergesernya semangat pembaruan, menjadi aksi kekerasan, kepentingan kekuasaan dan akses ekonomi berupa monopoli minyak. Hadirnya ISIS di Timur Tengah, tidak lepas dari latar belakang ini. Rezim Bashar al-Assad menjadi bagian penting dari tegaknya Suriah, meski digempur oleh jaringan radikal ISIS dan revolusi Timur Tengah, yang disebut sebagai musim semi jazirah Arab. ?

Dalam buku ini, Reno Muhammad menulis, “Sejak berkuasa pada 2000, Bashar al-Assad menjadi kekuatan absolut yang tidak bisa digoyahkan oleh para oposisi. Pada mulanya, ia diharapkan mampu membawa angin perubahan bagi modernisasi ekonomi dan reformasi politik di Suriah. Akan tetapi, struktur dan kultur politik telah menyebabkan rezim Bashar al-Assad hanya melanjutkan kepemimpinan orang tuanya yang dikenal otoriter” (hal. 17). ?

Mengapa Bashar al-Assad tidak tergoyahkan? Reno Muhammad, menyajikan dalam tiga analisis tentang kuatnya Rezim al-Assad ini. Pertama, klan al-Assad menguasai sektor militer dan bisnis, yang menjadi tulang punggung kekuatan politik. Dengan demikian, klan ini menjadi penyangga solidnya kekuatan politik, militer dan ekonomi di panggung kekuasaan. Bashar al-Assad didukung oleh orang-orang kuat yang loyak dengan jaringan keluarga, yang menjadikan posisi pemimpin menjadi tidak tergoyahkan.

Kedua, Bashar al-Assad dengan jeli merangkul faksi Syiah Alawi. Kelompok ini, meski hanya 11 persen dari total penduduk Suriyah, dikenal sangat solid dan memiliki hubungan emosional kuat antar anggota. Kedekatan Syiah Alawi dengan Bashar al-Assad ini turut menjadi penguat kekuatan rezim al-Assad di Suriyah. Juga, jaringan Suriyah dan Iran menjadi kokoh, karena dukungan kelompok Syiah di belakang Assad.

Ketiga, al-Assad dengan piawai menggunakan kekuatan militer dan intelijen untuk mengukuhkan kekuatan politiknya. Status sebagi darurat militer, telah memberi kewenangan bagi operasi intelijen untuk menghabisi kelompok oposisi sampai ke akar-akarnya. Inilah yang menjadi sistem militer yang menguatkan kepemimpinan Bashar al-Assad. Keempat, al-Assad memegang posisi kunci dalam mengendalikan Partai Baath. Di Suriyah, partai ini mendapat legitimasi yang kuat, bahkan dapat merekrut orang-orang penting dari kelompok Sunni dengan menempatkannya di posisi-posisi strategis. Tentu saja, ini adalah salah satu jaminan kekuatan politik Bashar al-Assad di negerinya.

Jaringan ISIS yang menghalalkan? kekerasan tentu saja tidak boleh didukung dengan kesepakatan. Harus ada upaya untuk melawan jaringan ISIS, dengan sistem deradikalisasi yang integratif. ISIS juga ditolak oleh beberapa tokoh agama, “Apa yang dilakukan oleh ISIS, tidak diridhai oleh Allah dan tidak mencerminkan spirit al-Qur’an. Perilaku kekerasan jelas sama sekali tidak dibenarkan oleh Islam. Muslim yang baru mengangkat pisau saja sudah mendapat laknat Allah. ISIS juga sudah ditolak oleh ulama-ulama besar di seantero dunia. Atas dasar tersebut, NU mengajak masyarakat agar ikut menolak ISIS karena akan mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” ungkap KH. Said Aqil Siroj dalam buku ini (hal. 148).

Melalui buku ini, Reno Muhammad ingin mengajak pembaca untuk memahami jaringan teroris-radikal, serta kemudian mengupayakan deradikalisasi. Ia mencatat, bahwa kekerasan bukanlah cara untuk menegakkan syariat Islam. Sejarah mencatat, masuknya Islam dan penyebarannya ke seluruh penjuru Tanah Air Indonesia, tidak melalui pertumpahan darah, apalagi ledakan bom. Para Wali, menyiarkan Islam melalui pendekatan kebudayaan yang sarat kedamaian. Buku ini mengungkapkan analisis alternatif untuk memahami jaringan teroris-radikal, serta memberi tawaran bagaimana menghadirkan Islam cinta, yang penuh kasih sayang dan perdamaian [].

Data Buku:



Penulis? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : Reno Muhammad

Judul Buku? ? ? ? : ISIS: Mengungkap Fakta Terorisme Berlabel Islam|

Penerbit? ? ? ? ? ? ? ? : Noura Book

Edisi? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : Desember 2015

ISBN? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : 978-602-385-055-6

Perensi? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : Munawir Aziz, pembaca buku (@MunawirAziz)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Jadwal Kajian, Bahtsul Masail Ustadz Felix Siaw

Rabu, 22 Februari 2017

Kongres Garam Rakyat PBNU Diselenggarakan 11-12 Juli

Jakarta, Ustadz Felix Siaw. Kongres Garam Rakyat Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) akan diadakan pada 11-12 Juli 2012 di Pondok Pesantren Nurul Amanah Basanah Tanah Merah, Bangkalan, Madura. Kongres akan dihadiri oleh para petani garam dari wilayah-wilayah kabupaten penghasil garam Nusantara.

Dalam konferensi pers persiapan Kongres Garam Rakyat di kantor PBNU, Jakarta, Rabu (4/7), Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menegaskan, PBNU akan mendampingi para petani garam yang mayoritas merupakan warga NU.

Kongres Garam Rakyat PBNU Diselenggarakan 11-12 Juli (Sumber Gambar : Nu Online)
Kongres Garam Rakyat PBNU Diselenggarakan 11-12 Juli (Sumber Gambar : Nu Online)

Kongres Garam Rakyat PBNU Diselenggarakan 11-12 Juli

“Daerah pesisir baik yang berada di pulau Jawa maupun luar Jawa mayoritas penghuninya adalah warga NU. PBNU melibatkan diri secara aktif dalam rangka mengangkat derajat warganya yang selama ini termarjinalkan dalam kegiatan usaha garam,” katanya.

Ustadz Felix Siaw

Menurut Kang Said, panggilan akrab KH Said Aqil Siroj, dengan luas laut 2/3 persen dari wilayah Indonesia serta panjang garis pantai mencapai sekitar 95 ribu km, maka tidak pantas kalau konsumsi garam dalam negeri masih mengandalkan impor.

“Kalau masih impor itu namanya kita kufur nikmat, maka PBNU mendukung pemerintah untuk mewujudkan swasembada garam,” tambah Kang Said yang didampingi Ketua PBNU yang juga pakar pangan dan guru besar UGM Prof KH Maksum Mahfudz dan Dirjen KP3K Kementerian Kelautan dan Perikanan Sudirman Saad.

Ustadz Felix Siaw

Kongres Garam Rakyat PBNU ini dilaksanakan oleh Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU). Ketua Panitia Kongres H Mustholihin Madjid mengatakan, para petani garam yang akan mengikuti kongres ini berasal dari daerah-daerah penghasil garam, antara lain Sumenep, Pamekasan, Sampang, Bangkalan, Lamongan, Gresik, Pasuruan, Probolinggo, Surabaya, Tuban, Rembang, Pati, Demak, Jepara, Brebes, Cirebon, Indramayu, karawang, karangasem, Jeneponto, Bima, dan Kupang.

Kongres rencananya akan dibuka oleh Menteri Kelautan dan Perikanan RI Sharif Cicip Sutardjo, Menteri PDT Helmy Faishal Zaini, Deputi Bidang Koordinasi Pertanian dan Kelautan Kementerian Bidang Perekonomian Diah Maulida, dan Dirjen Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian Panggah Susanto.

Penulis: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Humor Islam Ustadz Felix Siaw

Minggu, 19 Februari 2017

Gus Sholah: NU Harus Independen

Makassar, Ustadz Felix Siaw. Nahdlatul Ulama (NU) sebagai lembaga organisasi sosial harus independen dan tidak boleh bermain dalam wilayah politik apapun. Independen sebab telah kembali ke khittahnya sebagai lembaga yang mengedepankan paham ke-NU-an, kebangsaan dan kemasyarakatan.



Gus Sholah: NU Harus Independen (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Sholah: NU Harus Independen (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Sholah: NU Harus Independen

Demikian dinyatakan Pengasuh pondok Pesantren Tebuireng Jombang Salahudin Wahid (Gus Sholah) ketika menjadi pembicara pada acara Konsolidasi Mensukseskan Muktamar ke-32 Nahdlatu Ulama dan Dialog Kandidat Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Hotel Yasmin Makassar, Ahad (20/12).

“Saya sebagai manusia biasa tahu diri bahwa saya sudah berusia lanjut, yakni 67 tahun. Namun beberapa Kyai dari Ponpes Lirboyo, Ponpes Langitan, Ponpes Situbundo, Ponpes Jombang dan Ponpes Tebuireng mendatangi saya untuk menyatakan kesediaan saya sebagai Ketua Umum PBNU dengan alasan saya masih sehat bugar,” tutur Gus Sholah.

Ustadz Felix Siaw

Menurut Gus Sholah, hal inilah yang menjadi dasar sehingga dirinya berkeyakinan maju dalam bursa pencalonan Ketua Umum PBNU pada acara Muktamar ke 32 yang akan dilaksanakan di Makassar bulan Maret tahun 2010 mendatang.

Beberapa pokok pemikiran yang disampaikan oleh Gus Solah antara lain bahwa NU kedepan sudah harus interaktif kedalam internal organisasi untuk perbaikan manajemen yang selama ini dirasa kurang, baik itu manajemen PBNU sendiri maupun ke Cabang-cabang yang ada diseluruh Indonesia.

Ustadz Felix Siaw

Hadir dalam acara yang dilaksanakan oleh PCNU Makassar ini antara lain; Pengurus PBNU Andi Jamaro Dulung, Ketua Syuriah PWNU Sulawesi Selatan, Ketua Syuriah dan Tanfidziyah PCNU Makassar, dan Ketua-ketua PCNU dalam wilayah Sulawesi Selatan. (saz)Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Humor Islam Ustadz Felix Siaw

Senin, 13 Februari 2017

Bulan Rajab, Bukan Bulan Biasa

Khutbah I



? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Bulan Rajab, Bukan Bulan Biasa (Sumber Gambar : Nu Online)
Bulan Rajab, Bukan Bulan Biasa (Sumber Gambar : Nu Online)

Bulan Rajab, Bukan Bulan Biasa

Jamaah shalat Jumat hadâkumullah,

Ustadz Felix Siaw

Tak terasa kita kembali memasuki bulan Rajab. Entah karena kesibukan atau waktu kita yang kurang berkah, perjalanan hidup serasa semakin cepat. Tiba-tiba saja kita bertambah tua. Tiba-tiba saja kita menapaki kembali bulan Rajab. Tiba-tiba saja kita akan menghadapi bulan Sya’ban lalu bulan suci Ramadlan. Sejatinya, tidak ada istilah “tiba-tiba”, karena waktu berjalan linier seperti lazimnya, kecuali timbul dari perasaan pribadi lantaran sikap abai alias tidak peduli.

Ustadz Felix Siaw

Bulan Rajab adalah bulan istimewa. Dalam kitab I‘anatut Thalibin dijelaskan bahwa “Rajab" merupakan derivasi dari kata “tarjib” yang berarti mengagungkan atau memuliakan. Masyarakat Arab zaman dahulu memuliakan Rajab melebihi bulan lainnya. Rajab biasa juga disebut “Al-Ashabb” (?) yang berarti “yang mengucur” atau menetes”. Dijuluki demikian karena derasnya tetesan kebaikan pada bulan ini.

Bulan Rajab bisa juga dikenal dengan sebutan “Al-Ashamm” (?) atau “yang tuli”, karena tidak terdengar gemerincing senjata pasukan perang pada bulan ini. Julukan lain untuk bulan Rajab adalah “Rajam” (?) yang berarti melempar. Dinamakan demikian karena musuh dan setan-setan pada bulan ini dikutuk dan dilempari sehingga mereka tidak jadi menyakiti para wali dan orang-orang saleh.

Allah memasukkan bulan Rajab sebagai salah satu bulan haram alias bulan yang dimuliakan.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

"Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya ada empat bulan haram. (QS. At-Taubah:36)

Bulan haram adalah empat bulan mulia di luar Ramadlan, yakni Dzulqadah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.? Disebut “bulan haram” (? ?) karena pada bulan-bulan tersebut umat Islam dilarang mengadakan peperangan.

Memang beberapa hadits dla’if, bahkan palsu, yang menjelaskan secara eksplisit tentang gambaran pahala amalan-amalan tertentu pada bulan Rajab. Namun demikian, bukan berarti tidak ada keutamaan menjalankan ibadah, misalnya puasa, dalam bulan Rajab. Justru puasa menjadi istimewa karena dilakukan pada bulan istimewa. Hanya saja, seberapa besar pahala yang akan didapat, Allahu a’lam. Hanya Allah yang tahu. Tugas hamba adalah menghamba kepada Allah dan seyogianya tak terikat dengan pamrih apa saja.

Dalam hadits riwayat Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad dikatakan:

? ? ?

“Berpuasalah pada bulan-bulan haram.”

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumid-Din menyatakan bahwa kesunnahan berpuasa menjadi kian bernilai bila dilakukan pada hari-hari utama (al-ayyam al-fadhilah). Hari- hari utama ini dapat ditemukan pada tiap tahun, tiap bulan, dan tiap minggu. Terkait siklus bulanan ini Al-Ghazali menyatakan bahwa Rajab masuk dalam kategori al-asyhur al-fadhilah di samping Dzulhijjah, Muharram dan Sya’ban. Rajab juga terkategori al-asyhur al-hurum? di samping Dzulqa’dah, Dzul Hijjah, dan Muharram.

Jamaah shalat Jumat hadâkumullah,

Keitimewaan bulan Rajab juga terletak pada peristiwa ajaib isra’ dan mi’raj Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam. Peristiwa tersebut terjadi pada bulan Rajab tahun 10 kenabian (620 M). Itulah momen perjalanan Rasulullah dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha lalu menuju ke sidratul muntaha yang ditempuh hanya semalam. Dari peristiwa isra’ dan mi’raj ini, umat Islam menerima perintah shalat lima waktu. Begitu agungnya peristiwa ini hingga ia diperingati tiap tahun oleh kaum muslimin di berbagai belahan dunia.

Saat memasuki bulan Rajab, Rasulullah memberi contoh kita untuk membaca:

? ? ? ? ? ? ? ?

“Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan bulan Sya’ban dan pertemukanlah kami dengan bulan Ramadlan.”

Khatib mengajak diri sendiri dan jamaah sekalian agar tidak menyianyiakan bulan yang agung ini. Dari berbagai keterangan yang disebutkan tadi, sangat jelas bahwa bulan Rajab memiliki keutamaan lebih di atas bulan-bulan pada umumnya. Ia adalah momen untuk meningkatkan kualitas diri, baik tentang kedekatan kita kepada Allah (taqarrub ilallâh) maupun perbuatan baik (amal shâlih) kita kepada sesama. Belum tentu tahun berikutnya kita akan berjumpa dengan kesempatan merasakan kembali bulan Rajab. Saatnya menyisihkan fokus kita kepada bulan mulia ini di tengah kesibukan duniawi kita yang melengahkan. Wallahu a’lam.

Khutbah II

? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Alif Budi Luhur



Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Kyai Ustadz Felix Siaw

Rabu, 08 Februari 2017

Perdaban Maju Tidak Ekstrem Kiri atau Kanan

Jakarta, Ustadz Felix Siaw 

Sejarah mengajarkan, peradaban Islam dan peradaban-peradaban lain yang maju, beradasarkan keadilan. Tidak berlandaskan ekstrem kiri atau kanan. Karena jika berlandaskan kiri akan bermusuhan dengan ekstrem kanan. Begitu juga sebaliknya. 

Perdaban Maju Tidak Ekstrem Kiri atau Kanan (Sumber Gambar : Nu Online)
Perdaban Maju Tidak Ekstrem Kiri atau Kanan (Sumber Gambar : Nu Online)

Perdaban Maju Tidak Ekstrem Kiri atau Kanan

Demikian disampaikan Wakil Sekretaris Lembaga Dakwah PBNU KH Jamaluddin F. Hasyim saat menyampaikan khotbah jumat di Masjid An-Nahdlah, gedung PBNU, Jakarta pada Jumat (18/11).  

Menurut dia, kata keadilan, berasal dari kata adil. Kata tersebut secara bahasa, artinya pertengahan, moderasi. Dalam hal ini, semakna dengan tawasuth. Namun, keadilan juga mencakup makna tegak lurus yang tidak dikandung tawasuth

“Adil tersebut kuat dalam prinsip, tidak terombang-ambing. Adil seperti timbangan, di tengah, dan tegak lurus, kalau condong dia akan berat sebelah,” katanya ketika diwawancarai selepas shalat Jumat. 

Ustadz Felix Siaw

Ia kemudian mengutip firman Allah dalam Al-Qur’an Al-Baqarah 143 yang berbunyi, wa kadzalika ja’alnakum ummatan washatan. Jamal mengutip Ibnu Abbas yang mengartikan washatan artinya dua, adlan (adil), dan khairan (baik). Dalam konteks ayat tersebut, washatan artinya umat yang adil atau umat yang terbaik.

Umat yang terbaik dan adil, kata dia, adalah ciri umat Islam yang tidak berlandaskan pemikiran yang ekstrem. Jika ekstrem kanan, maka akan bermusuhan dengan ekstrem kiri. “Ini sebuah sunatullah yang terjadi. Peradaban harus adalah (adil) atau washatiyah,” lanjutnya.

Sebaliknya, peradaban yang terbelakang berlandaskan pada lawannya kata adil yaitu dzalim. “Dzalim adalah sikap yang tidak berpijak di atas keadilan, tapi berdasar kehendak subyektif. Dzalim biasanya dilakukan penguasa. Ia mengubah tatanan dengan kehendaknya, perbuatan melawan keadilan, melawan dari yang disepakati bersama.”

Kiai yang pernah nyantri di Darul Rahman asuhan KH Syukron Makmun, Jakarta ini menambahkan, Rasulullah mengatakan, seorang pemimpin dzalim, melakukan tipu daya kepada yang dipimpinnya, maka Allah mengharamkan sorga baginya.

Di dalam hadits lain disebutkan, siapa saja yang diberikan kekuasaan untuk mengurusi urusan muslim, kemudian lari dari tanggung jawabnya, tidak mau mengurusi yang dipimpin, maka Allah tidak akan memberikan pertolongan kepadanya. (Abdullah Alawi)

Ustadz Felix Siaw

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Pahlawan, Kajian Islam, Kajian Ustadz Felix Siaw

Senin, 06 Februari 2017

Kapolda Jabar: Pesantren dan Tokoh Agama Punya Peran Penting Atasi Terorisme

Majalengka, Ustadz Felix Siaw. Kapolda Jawa Barat Irjen Polisi Anton Charliyan mengingatkan kepada masyarakat Majalengka untuk tetap berpegang teguh pada ajaran Islam yang sebenar-benarnya. Sebab itu, pihaknya mengagendakan untuk safari khusus ke pesantren-pesantren yang ada di Jawa Barat.

Kapolda Jabar: Pesantren dan Tokoh Agama Punya Peran Penting Atasi Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Kapolda Jabar: Pesantren dan Tokoh Agama Punya Peran Penting Atasi Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Kapolda Jabar: Pesantren dan Tokoh Agama Punya Peran Penting Atasi Terorisme

"Berdasarkan data tahun ini para pelaku radikalisme paling banyak berasal dari Jawa Barat, 90 persen di tahun ini adalah di Jawa Barat itu kantongnya para teroris, untuk itu ke depan, jangan sampai terjadi lagi," ungkapnya saat berkunjung ke Pesantren Al-Mizan Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat, Rabu (2/8).

Saat ini inteloransi dan radikalisme sudah berkembang tidak karuan dan sebetulnya bukan tugas polisi untuk memeranginya, karena ini berkaitan erat dengan perang keyakinan. Karena itu, untuk meyakinkan seseorang agar tidak menyangkut pemahaman radikalisme, pendekatannya itu harus langsung ke tokoh-tokoh agama dan pesantren.

"Pendekatannya itu harus menggunakan pendekatan pemahaman dari para alim ulama dan tokoh agama. Untuk para teroris ini jangan terlalu dibiarkan mereka itu, terlalu lama dibiarkan akhirnya menjadi mengakar. Makanya sekarang, minimal mereka para teroris ini harus dikucilkan. Supaya mereka jera. Saya mohon agar di pesantren tidak ada radikalisme," ungkapnya.

Ustadz Felix Siaw

Selain itu, Kapolda juga meyakini bahwa Indonesia masih mencintai NKRI, salah satu bentuk penangkal adalah dengan merangkul tokoh masyarakat dan tokoh agama, di pesantren pesantren yang mereka kelola khususnya di Jawa Barat.

Ditempat terpisah pengasuh Pondok Pesantren Al-Mizan, KH Maman Imanulhaq mengatakan pihaknya akan konsen dari dulu hingga kini untuk melawan bandar narkoba, melawan teroris dan menjadikan Islam adalah spirit untuk perdamaian.

"Kami di pesantren masih berpegang teguh pada Pancasila dan NKRI. Kami jamin bahwa didikan di pesantren ini tidak ada indikasi inteoleransi ataupun yang mengarah ke radikalisme," ungkapnya. (Tata Irawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw

Ustadz Felix Siaw Tokoh Ustadz Felix Siaw

Kamis, 02 Februari 2017

PBNU: Pemerintah RI Harus Perjuangkan Pengakuan Etnis Rohingya

Jakarta, Ustadz Felix Siaw. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) meminta Pemerintah RI untuk terlibat langsung dalam memperjuangkan hak kewarganegaraan etnis Rohingya di Myanmar. Pemerintah RI menggerakan negara Asean untuk menekan otoritas setempat untuk mengakui kehadiran etnis Rohingya.

PBNU: Pemerintah RI Harus Perjuangkan Pengakuan Etnis Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: Pemerintah RI Harus Perjuangkan Pengakuan Etnis Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU: Pemerintah RI Harus Perjuangkan Pengakuan Etnis Rohingya

“Sejak 1982, kewargaan di Myanmar didasarkan pada etnisitas. Pada peraturan itu, mereka hanya mengakui etnis Bengali, bukan Rohingya. Karena tidak mau dimasukkan ke dalam Bengali, kehadiran etnis Rohingya ditolak otoritas setempat,” kata Ketua PBNU H Slamet Effendi Yusuf di tengah rapat harian Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU, di Jakarta, Rabu (27/5) sore.

Menurut Slamet, Pemerintah RI memang tidak bisa terlalu jauh untuk menuntut otoritas setempat mengubah peraturan 1982 itu. Itu tidak boleh karena mengganggu kedaulatan otoritas setempat.

Ustadz Felix Siaw

Tetapi Pemerintah RI bersama kolega Asean misalnya meminta otoritas setempat untuk membuat regulasi yang mengakomodasi hak-hak komunitas etnis Rohingya.

Ustadz Felix Siaw

“RI itu senior di Asean. Upaya ini semestinya bisa dilakukan Pemerintah RI. Inilah sikap NU menanggapi tragedi kemanusiaan terhadap etnis Rohingya,” kata Slamet di hadapan peserta rapat. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Internasional, PonPes, Hikmah Ustadz Felix Siaw

Menjaga Sepuluh Mutiara Paling Berharga

Sepeninggal Rasulullah SAW, Malaikat Jibril akan tetap turun ke bumi. Tidak untuk menurunkan wahyu lagi, tetapi guna mengambil sepuluh mutira yang paling berharga dalam kehidupan manusia.

? الحمد لله أحمده وسبحاÙ? Ù‡ وتعالى على Ù? عمه الغزار, أشكره على قسمه المدرار, . أشهد اÙ? لا اله الا الله وحده لا شرÙ? Ùƒ له. واشهد اÙ? سÙ? دÙ? ا محمدا عبده Ùˆ رسوله الÙ? بÙ? المختار. اللهم صل على سÙ? دÙ? ا محمد وعلى أله الأطهار وأصحابه الأخÙ? ار وسلم تسلÙ? ما كثÙ? را. أما بعد فÙ? اأÙ? ها الÙ? اس اتقوالله حق تقاته ولاتموتÙ? الا وأÙ? تم مسلموÙ? . . Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Menjaga Sepuluh Mutiara Paling Berharga (Sumber Gambar : Nu Online)
Menjaga Sepuluh Mutiara Paling Berharga (Sumber Gambar : Nu Online)

Menjaga Sepuluh Mutiara Paling Berharga

Marilah kita kembali menambah kadar ketaqwaan kita kepada Allah swt dengan menghindar berbagai larangan-Nya dan juga menjauhi berbagai perkara yang dibenci Rasul-Nya. Sesungguhnya hanya dengan taqwalah kita akan menghadapi kehidupan ini secara sempurna.

Jama’ah Jum’ah yang berbahagia

Memang tidak selayaknya kita membicarakan keburukan demi keburukan yang terjadi di muka bumi ini. Apalagi keburukan yag terjadi di sekitar kita, yang kerap kali melibatkan orang-orang dekat kita. Alangkah baiknya jikalau kita mulai melangkah menyelesaikan dan membenahi keburukan itu, tidak sekedar membicarakannya.

Tindak korupsi yang tidak kunjung surut, pasar narkoba yang semakin meluas, kriminalitas yang kian tinggi, norma dan nilai moral yang telah bergeser. Begitu merosotnya keadaan di sekitar kita, hingga berbagai fatwa ulamapun dianggap angin lalu.

Ustadz Felix Siaw

Guna berbenah itulah kita harus tahu persis akar permasalahan dari keburukan itu. Agar treatmen yang akan diberikan tidak salah sasaran. Nampaknya hadits Rasulullah saw ketika berdialog dengan Malaikat Jibril dapat dijadikan pegangan sebagai indikasi juga sebagai solusi.

Ketika Rasulullah saw dalam keadaan sakit yang menghantarkan belaiu wafat, malaikat Jibril datang menemuinya. Setelah berbincang sejenak Rasulullah saw bertanya kepada Jibril “Jibril, apakah kamu nanti masih akan sering turun ke bumi ketika aku sudah meninggal? Jibril menjawab “masih Rasul, saya akan turun sepuluh kali lagi ke bumi, saya turun untuk mngambil sepuluh mutiara dari bumi ini sepeninggalmu”. Rasulullah saw pun penasaran, lalu bertanya kembali “mutiara macam apa yang igin kau ambil itu? jibril menjawab “لأَوَّلُ) أَرْفَعُ البَرَكَةَ مِÙ? ÙŽ الأَرْضِ)mutiara pertama yang akan saya ambil dari muka bumi ini adalah barokah.

Ustadz Felix Siaw

Para kyai biasa memaknai barokah dengan ziyadatul khair. Yang secara bahasa dapat diartikan ‘tambah baik’. Artinya, sesuatu itu dianggap memiliki kebarokahan jika memang dapat melahirkan kebaikan yang lain. Misalkan berdagang yang berkah itu akan menjadikan pedagangnya makin banyak bersedekah dan tambah rajin beribadah. Begitu pula ilmu yang barokah itu akan menjadikan pemiliknya berperilaku semakin baik, tidak malah semakin buruk. Ilmu akuntansi yang barokah tidak akan disalah gunakan oleh pemiliknya untuk korupsi.

Jama’ah yang Berbahagia

Mutiara kedua yang diambil oleh Jibril dari bumi adalah rasa dari hati manusia ? وَالثَّاÙ? ىِ) أَرْفَعُ المَحَبَّةَ مِÙ? Ù’ قُلُوْبِ الخَلْقِ) jika demikian, maka yang tersisa hanyalah rasa benci. Lihatlah sekarang di sekitar kita apakah masih ada cinta dalam hati penguasa yang membuat rakyat dan para petani hidup makin sengsara. Bagaimana ada cinta jikalau mereka tega mengimpor bahan baku dan menghancurkan harga local? Apakah itu cinta? Saya kira kita sudah bisa menilia dan menjawabnya.

Mutiara yang ketika yang akan diambil Jibril dari bumi ini adalah rasa sayang diantara keluarga (وَالثَّالِثُ) أَرْفَعُ الشُّفْقَةَ مِÙ? Ù’ قُلُوْبِ الأَقاَرِبِ jikalau harimau tidak akan memangsa anaknya sendiri, tetapi sering kali kita temukan anak dan orang tua saling membunuh, bahkan seorang ibu tega menjual bayinya. Atau bahkan seorang anak menjual bapaknya. Bahkan dalam dunia politik yang semakin menghangat karena musim pilkada berapa saudara yang telah berubah menjadi musuh? Sepertinya rasa sayang antar keluarga semakin menipis. Namun demikian semoga Allah tetap melindungi kita semua.

Mutaiar keempat yang akan diambil oleh Jibril dari bumi ini keadilan di hati pemimpin وَالرَّابِعُ) أَرْفَعُ العَدْلَ مِÙ? ÙŽ الأُمَراَءِ) rasa-rasanya mengenai hal ini kita bersama telah pandai menilai. Apakah kekuasaan di sekitar kita masih mengandung keadilan? Dapatkah disebut ke adilan jika terjadi tebang pilih dalam penegakan hukum? Na’udzubillah min dzalik.

Mutiara kelima yang akan diambil oleh Jibril dari bumi ini adalah وَالخاَمِسُ) أَرْفَعُ الحَÙ? اَءَ مِÙ? ÙŽ الÙ? ِّساَءِ) rasa malu dari perempuan. Rasa malu itu kini telah dirubah menjadi rasa bangga. Bangga menjadi perempuan simpanan. Bangga menjadi gadis gratifikasi seksual, bahkan sebagian menggunakan alasan seni demi menutupi kemaluan yang telah hilang. Semoga kita semua terhindar dari yang demikian ini.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Mutiara keenam yang akan diambil oleh Jibril dari bumi adalah وَالسَّادِسُ) أَرْفَعُ الصَّبْرَ مِÙ? ÙŽ الفُقَراَءِ) kesabaran dari para fakir. Perlu diakui bahwa factor yang mengondisikan negara miskin dan berkembang tetap aman dan tertata adalah kesabaran para fakir dalam menerima bagian mereka. Namun, ketika golongan fakir miskin ini tidak sabar dengan nasib mereka, maka kesenjangan social bisa berubah menjadi kekacauan fisik. Inilah yang tergambar dalam prosesi premanisme di berbagai kota.

Mutiara ketujuh yang diambil oleh Jibril dari bumi adalah وَالسَّابِعُ) أَرْفَعُ الوَرَعَ وَالزُهْدَ مِÙ? ÙŽ العُلَماَءِ) wirai dan zuhud dari para ulama. Wira’i adalah menjaga diri dari yang syuhbat dan yang haram, sedangkan zuhud itu tidak mementingkan harta-dunia, keduanya merupakan karakter para ulama. Akan tetapi jika wira’i dan zuhud telah hilang dari ulama maka nilai keulamannyapun mulai berkurang. Nampaknya inilah yang terjadi pada ulama kita. wajarlah jika akhir-akhir ini berbagai fatwa mereka tidak di dengar lagi oleh masyarakat. Pengajian-pengajiannya hanya dianggap sebagai tontonan.

Mutiara ke delapan yang diambil oleh Jibril dari bumi adalah وَالثَّامِÙ? ُ) أَرْفَعُ السَّخاَءَ مِÙ? ÙŽ الأَغْÙ? ِÙ? اَءِ) kedermawanan bagi orang kaya. Diantara unsur yang dapat melanggengkan sirkulasi kehidupan ekonomi dan social di suatu masyarakat adalah kesabaran fakir dan kedermawanan orang kaya. Keduanya akan saling mengisi. Namun jikalau semua itu lenyap, maka harmonisme dalam satu masyarakat dapat hilang tergantikan dengan unharmonism.

Jama’ah yang Berbahagia

Mutiara ke Sembilan yang diambil oleh Jibril dari bumi adalah وَالتَّاسِعُ) أَرْفَعُ القُرْآÙ? ÙŽ) mengangkat al-Qur’an, tepatnya menghilangkan ruh al-Qur’an itu sendiri sebagai tuntunan dalam kehidupan. Memang, kemajuan teknologi kini makin mempermudah telinga kita mendengarkan lanutnan ayat-ayat al-Qur’an. melalui mp3, DVD, online bahkan juga tafsirnya pun dapat diperoleh dengan mudah pula. Akan tetapi semangat qur’an itu sendiri sekarang makin pudar bersama dengan makin mudahnya mendengarkan al-qur’an. Meski demikian kita harus tetap berusaha memohon kepada Allah Yang Maha Kuasa agar Jibril tidak mengambil mutiara ini.

Dan terakhir, mutiara yang diambil oleh Jibril dari bumi adalah iman. العاَشِرُ) أَرْفَعُ الإِÙ? ْماَÙ? ÙŽ) mungkin ini adalah mutiara paling berharga diantara sembilan mutiara lainnya. Atau bisa saja ini adalah urutan mutiara yang paling akhir yang akan diambil oleh Jibril. Sebagaimana struktur teks hadits ini yang memposisikannya paling belakang. Iman itu ada di hati semoga Allah menetapkannya dalam hati kita masing-masing.

Jama’ah yang Dimuliakan Allah

Khotbah kali ini sebenarnya berdasarkan pada hadits yang bunyinya:

رُوِىَ Ø£ÙŽÙ? ÙŽÙ‘ جِبْرِÙ? ْلَ عَلَÙ? ْهِ السَّلاَمُ Ù? َزَلَ عَلَى الÙ? َّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَÙ? ْهِ وَسَلَّمَ فىِ مَرَضِ مَوْتِهِ فَقاَلَ Ù? اَجِبْرِÙ? ْلُ هَلْ تَÙ? ْزِلُ مِÙ? Ù’ بَعْدِى ؟؟ فَقاَلَ Ù? َعَمْ Ù? اَرَسُوْلَ اللهِ Ø£ÙŽÙ? ْزِلُ عَشْرَ مَرَّاتٍ أَرْفَعُ العَشْرَ الجَواَهِرِ مِÙ? ÙŽ الأَرْضِ قاَلَ Ù? اَ جِبْرَÙ? ْلُ وَماَتَرْفَعُ مِÙ? ْهاَ ØŸ قاَلَ Ø› (الأَوَّلُ) أَرْفَعُ البَرَكَةَ مِÙ? ÙŽ الأَرْضِ (وَالثَّاÙ? ىِ) أَرْفَعُ المَحَبَّةَ مِÙ? Ù’ قُلُوْبِ الخَلْقِ (وَالثَّالِثُ) أَرْفَعُ الشُّفْقَةَ مِÙ? Ù’ قُلُوْبِ الأَقاَرِبِ (وَالرَّابِعُ) أَرْفَعُ العَدْلَ مِÙ? ÙŽ الأُمَراَءِ (وَالخاَمِسُ) أَرْفَعُ الحَÙ? اَءَ مِÙ? ÙŽ الÙ? ِّساَءِ (وَالسَّادِسُ) أَرْفَعُ الصَّبْرَ مِÙ? ÙŽ الفُقَراَءِ (وَالسَّابِعُ) أَرْفَعُ الوَرَعَ وَالزُهْدَ مِÙ? ÙŽ العُلَماَءِ (وَالثَّامِÙ? ُ) أَرْفَعُ السَّخاَءَ مِÙ? ÙŽ الأَغْÙ? ِÙ? اَءِ (وَالتَّاسِعُ) أَرْفَعُ القُرْآÙ? ÙŽ (وَالعاَشِرُ) أَرْفَعُ الإِÙ? ْماَÙ? ÙŽ?

Dari hadits inilah khotib kemudian berusaha mengefaluasai realita zaman sekarang yang ternyata dalam bahasa hadits itu Jibril sudah mulai bertindak turun kebumi satu-persatu mengambil mutiara itu. Semoga masih banyak mutiara yang tersisa. Semoga Allah swt memberikan kekuatan pada kaum muslimin untuk menjaga kesepuluh mutiara tersebut.

بَارَكَ اللهُ لِÙ? Ù’ وَلَكُمْ فِÙ? Ù’ اْلقُرْآÙ? ِ اْلعَظِÙ? ْمِ ÙˆÙŽÙ? َفَعَÙ? ِÙ? ÙˆÙŽØ¥Ù? َّاكُمْ ِبمَا ِفÙ? ْهِ مِÙ? ÙŽ اْلآÙ? اَتِ وَالذكْر ِالْحَكِÙ? ْمِ وَتَقَبَّلَ مِÙ? ِّÙ? وَمِÙ? ْكُمْ تِلاَوَتَهُ Ø¥Ù? َّهُ هُوَ السَّمِÙ? ْعُ اْلعَلِÙ? ْمُ

?

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَاÙ? ِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِÙ? ْقِهِ وَاِمْتِÙ? َاÙ? ِهِ. وَاَشْهَدُ اَÙ? Ù’ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِÙ? ْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَÙ? ÙŽÙ‘ سَÙ? ِّدَÙ? َا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَاÙ? ِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَÙ? ِّدِÙ? َا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِÙ? ْمًا كِثÙ? ْرًا اَمَّا بَعْدُ

فَÙ? اَ اَÙ? ُّهَا الÙ? َّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِÙ? ْمَا اَمَرَ وَاÙ? ْتَهُوْا عَمَّا Ù? ÙŽÙ‡ÙŽÙ‰ وَاعْلَمُوْا اَÙ? ÙŽÙ‘ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِÙ? ْهِ بِÙ? َفْسِهِ وَثَـÙ? ÙŽÙ‰ بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِÙ? ÙŽÙ‘ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ Ù? ُصَلُّوْÙ? ÙŽ عَلىَ الÙ? َّبِى Ù? Ø¢ اَÙ? ُّهَا الَّذِÙ? Ù’Ù? ÙŽ آمَÙ? ُوْا صَلُّوْا عَلَÙ? ْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِÙ? ْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَÙ? ِّدِÙ? َا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَÙ? ْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَÙ? ِّدِÙ? اَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَÙ? ْبِÙ? آئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَارْضَ اللّهُمَّ عَÙ? ِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِÙ? Ù’Ù? ÙŽ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَاÙ? وَعَلِى وَعَÙ? Ù’ بَقِÙ? َّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَتَابِعِÙ? التَّابِعِÙ? Ù’Ù? ÙŽ لَهُمْ بِاِحْسَاÙ? ٍ اِلَىÙ? َوْمِ الدِّÙ? Ù’Ù? ِ وَارْضَ عَÙ? َّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ Ù? َا اَرْحَمَ الرَّاحِمِÙ? Ù’Ù? ÙŽ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِÙ? ِÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَاْلمُؤْمِÙ? َاتِ وَاْلمُسْلِمِÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْÙ? آءُ مِÙ? ْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَاÙ? ْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِÙ? َّةَ وَاÙ? ْصُرْ Ù…ÙŽÙ? Ù’ Ù? َصَرَ الدِّÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَاخْذُلْ Ù…ÙŽÙ? Ù’ خَذَلَ اْلمُسْلِمِÙ? Ù’Ù? ÙŽ ÙˆÙŽ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّÙ? Ù’Ù? ِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى Ù? َوْمَ الدِّÙ? Ù’Ù? ِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَÙ? َّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَÙ? ÙŽ وَسُوْءَ اْلفِتْÙ? َةِ وَاْلمِحَÙ? ÙŽ مَا ظَهَرَ مِÙ? ْهَا وَمَا بَطَÙ? ÙŽ عَÙ? Ù’ بَلَدِÙ? َا اِÙ? ْدُوÙ? ِÙ? ْسِÙ? َّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَاÙ? ِ اْلمُسْلِمِÙ? Ù’Ù? ÙŽ عآمَّةً Ù? َا رَبَّ اْلعَالَمِÙ? Ù’Ù? ÙŽ. رَبَّÙ? َا آتِÙ? اَ فِى الدُّÙ? Ù’Ù? َا حَسَÙ? َةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَÙ? َةً وَقِÙ? َا عَذَابَ الÙ? َّارِ. رَبَّÙ? َا ظَلَمْÙ? َا اَÙ? ْفُسَÙ? َاوَاِÙ? Ù’ لَمْ تَغْفِرْ Ù„ÙŽÙ? َا وَتَرْحَمْÙ? َا Ù„ÙŽÙ? َكُوْÙ? ÙŽÙ? ÙŽÙ‘ مِÙ? ÙŽ اْلخَاسِرِÙ? Ù’Ù? ÙŽ. عِبَادَاللهِ ! اِÙ? ÙŽÙ‘ اللهَ Ù? َأْمُرُÙ? َا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَاÙ? ِ وَإِÙ? ْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ ÙˆÙŽÙ? ÙŽÙ? ْهَى عَÙ? ِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُÙ? ْكَرِ وَاْلبَغْÙ? Ù? َعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْÙ? ÙŽ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِÙ? ْمَ Ù? َذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ Ù? ِعَمِهِ Ù? َزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ

?

Redaktur: Ulil Hadrawy. ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw AlaNu, Khutbah, Berita Ustadz Felix Siaw