Jumat, 16 Maret 2018

Pendidikan Pesantren Solusi Bekali Anak

Probolinggo, Ustadz Felix Siaw. Mustasyar PCNU Kabupaten Probolinggo H. Hasan Aminuddin menyampaikan bahwa masalah pendidikan saat ini menjadi tantangan tersendiri masyarakat yang masih memiliki anak usia sekolah. Solusinya adalah memasukkan anaknya di lingkungan pondok pesantren yang memadukan antara pendidikan umum dengan pendidikan agama.

Pendidikan Pesantren Solusi Bekali Anak (Sumber Gambar : Nu Online)
Pendidikan Pesantren Solusi Bekali Anak (Sumber Gambar : Nu Online)

Pendidikan Pesantren Solusi Bekali Anak

Hal tersebut disampaikan oleh Hasan Aminuddin saat menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Pondok Pesantren Ad-Dasuqqi di Desa Liprak Kulon Kecamatan Banyuanyar Kabupaten Probolinggo, Senin (26/12).

“Pendidikan pondok pesantren menjadi solusi bagi para orang tua dalam memberikan ilmu kepada anak-anaknya. Sebab di pesantren, selain diberikan ilmu umum, anak juga dibekali ilmu agama agar memiliki akhlak yang baik,” katanya.

Demi menjawab kepercayaan masyarakat tersebut jelas Hasan, maka manajemen di lingkungan pendidikan pondok pesantren harus dirubah sehingga keberadaan pondok pesantren bisa memberikan manfaat bagi orang tua.

“Pilihan pendidikan di pesantren tentunya akan menghemat pengeluaran orang tua terhadap kebutuhan anaknya dibandingkan jika anaknya tidak berada di pesantren. Tentunya hal ini juga menghindari tuntutan yang tidak bermanfaat dan merusak karakter serta perilaku akhlak para santri,” jelasnya.

Ustadz Felix Siaw

Dengan berada di lingkungan pesantren jelas Hasan, maka nantinya akan mampu membentengi anak dari hal-hal negatif akibat perkembangan zaman yang saat ini sudah sangat luar biasa. “Setidaknya dengan berada di pesantren, maka nantinya dapat mencetak karakter para santri yang lebih baik dan bermanfaat,” terangnya.

Hasan menghimbau kepada para orang tua agar selalu mendoakan anak-anaknya supaya menjadi anak yang bermanfaat dan berkualitas. Apalagi di pesantren anaknya diberikan pembelajaran tentang perilaku dan akhlak pada anak didiknya. “Sehingga nanti ilmu yang diajarkan kepada anaknya menjadi ilmu yang bermanfaat dan barokah,” pungkasnya.

Ustadz Felix Siaw

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini dihadiri oleh Pengasuh Pondok Pesantren Ad-Dasuqqi KH. Fakhrur Rozi Baqir, Pimpinan Bank Jatim Cabang Kraksaan Elfaurid Aguswantoro, Camat Banyuanyar H. Didik Abdul Rohim serta para tokoh agama dan tokoh masyarakat Desa Liprak Kulon Kecamatan Banyuanyar. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Quote, Kajian Sunnah, Berita Ustadz Felix Siaw

Selasa, 13 Maret 2018

Mendes Fasilitasi Pelaku Bisnis Indonesia dan Malaysia

Jakarta, Ustadz Felix Siaw?



Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Indonesia Eko Sandjojo memfasilitasi pertemuan pelaku bisnis Indonesia dan Malaysia di Hotel Gran Melia, Jakarta, (23/5). Pada kesempatan itu, ia mempertemukan lebih dari 20 perusahaan Malaysia dari sektor listrik, infrastruktur, jalan tol, properti, dengan 40 perusahaan swasta dalam negeri termasuk BUMN.?

Mendes Fasilitasi Pelaku Bisnis Indonesia dan Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)
Mendes Fasilitasi Pelaku Bisnis Indonesia dan Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)

Mendes Fasilitasi Pelaku Bisnis Indonesia dan Malaysia

Eko yang diamanati Presiden Joko Widodo Pejabat Penghubung Investasi untuk Malaysia, mendorong pengusaha kedua negara untuk menggali potensi investasi Malaysia sebesar Rp 61, 1 triliun. Selain itu, peluang potensi investasi Malaysia dengan proyek-proyek yang ditawarkan BUMN dari Indonesia sebesar Rp 65,6 triliun.

Dalam pertemuan tersebut, EKo memaparkan isu-isu terkini mengenai bagaimana meningkatkan iklim investasi, khususnya investor Malaysia melalui reformasi kebijakan investasi dan tata laksana penanaman modal dan industri yang ditawarkan. Kemudian upaya deregulassi terhadap kemudahan berinvestasi yang dilakukan pemerintah Indonesia dengan tujuan membantu meningkatkan iklim investasi Malaysia di Indonesia.?

Menteri Eko memastikan akan terus membantu mencari peluang investasi dari Malaysia. Upaya tersebut akan dilakukan dengan Duta Besar RI untuk Malaysia, Rusdi Kirana.?

Ustadz Felix Siaw

“Tim akan terus mengidentifikasi dan mengatasi persoalan yang menghambat investasi di Indonesia sesuai masukan dari pelaku bisnis di Malaysia dan di Indonesia. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dan Asosiasi Indonesia-Malaysia akan terus mengawal kelancaran proses realisasi investasi berkoordinasi dengan kementerian terkait,” katanya pada pertemuan bertajuk Indonesia Malaysia Business Networking itu.

Komitmen dan upaya untuk mendorong investasi dari Malaysia ke Indonesia akan dilakukan secara berkesinambungan dengan meningkatkan komunikasi, termasuk peningkatan pertemuan bisnis.?

Hadir pada kesempatan tersebut, Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini Mariani Soemarno, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, Dubes RI untuk Malaysia Rusd Kirana, Dubes Malaysia untuk Indonesia Datuk Seri Zahrain Mohamed Hashim. (Abdullah Alawi) ?

Ustadz Felix Siaw

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Berita, Anti Hoax, Kajian Sunnah Ustadz Felix Siaw

Tangkal Radikalisme, Pesantren Asnawiyah Gelar Sholawat Perdamaian

Demak, Ustadz Felix Siaw

Sekelompok orang yang kerap melakukan aksi kekerasan dan teror yang mengatasnamakan agama Islam selama ini membuat sebagian khalayak menganggap pesantren sebagai pusat kegiatan dan pengaderan kelompok tersebut dikarenakan kelompok itu selalu membawa nama agama dan pesantren.?

Tangkal Radikalisme, Pesantren Asnawiyah Gelar Sholawat Perdamaian (Sumber Gambar : Nu Online)
Tangkal Radikalisme, Pesantren Asnawiyah Gelar Sholawat Perdamaian (Sumber Gambar : Nu Online)

Tangkal Radikalisme, Pesantren Asnawiyah Gelar Sholawat Perdamaian

Hal inilah membuat pemangku Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur’an Asnawiyyah (PPTQ) Pilang Wetan, Kecamatan Kebon Agung, Demak, Jawa Tengah merasa terpanggil untuk menangkal anggapan yang mengaitkan pondok pesantren dengan ektremisme tersebut dengan menyelenggarakan sholawat dan pusisi perdamaian di pesantren, Ahad (31/01/2016) malam.

Pengasuh pesantren KH Muchozin dalam sambutan menguraikan hakikat pesantren termasuk sistem pembelajarannya dia menganggap ajaran Islam disampaikan secara transformatif termasuk bersolawat dan pembacaan puisi untuk menyampaikan pesan perdamaian.?

“Bukan melalui doktrin, termasuk pembuatan alat peledak maupun senjata, dipesantren adanya ya ngaji, bersholawat manaqib seperti ini, tidak ada pelajaran buat senjata, merakit bom atau sejenisnya, orang yang menuduh itu berarti perlu belajar dulu di pesantren biar tahu isinya pesantren,” kata Kiai Muchozin.

Sementara itu ketua yayasan PPTQ Kiai Cholilullah diacara yang sama mengatakan, majelis sholawat dianggapnya wahana yang tepat agar umat mengingat cara Rasulullah dalam berdakwah dengan metode rahmatan lil alamin. Dia pun mencontohkan saat Rasulullah SAW diejek orang yahudi yang buta namun dibalas-Nya dengan mengirim dan menyuapinya makanan tiap pagi.

Ustadz Felix Siaw

“Kalau kita mengingat cara Nabi Muhammad SAW saat menegakkan Islam dengan penuh kasih sayang seperti itu dan tidak pernah pakai kekerasan walau disakiti dan diejek, kita harus menganutnya,” tutur Kiai Cholil.

Kiai Cholilullah yang juga Ketua PAC GP Ansor Kebonagung menambahkan untuk merealisasikan gerakan rahmatan lil alamin lewat majlis sholawat dan puisi perdamaian tersebut dengan melibatkan Alumni yang sudah terjun di masyarakat.

Ustadz Felix Siaw

“Alumni sengaja kita libatkan agar pesan ini bisa sampai ke masyarakat, karena mereka sudah terbiasa hidup di tengah masyarakat,” jelas Gus Cholil.

Majelis sholawat perdamaian tersebut diikuti 200 peserta yang terdiri dari pengurus yayasan, pengasuh, santri dan alumni selain Sholawatan simtudh dhuror juga ada semaan al-Quran 30 juz, manaqib dan pembacaan puisi perdamaian. (A Shidiq Sugiarto/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Kyai, PonPes Ustadz Felix Siaw

Penyangga Indonesia itu Bernama Umat Islam

Oleh Imam Nahrawi

Nusantara merupakan anugerah yang luar biasa. Lebih dari sekadar kekayaan alam yang melimpah, negeri ini juga dikarunia kebudayaan yang sangat fleksibel dan bersahabat dengan manusia dan lingkungannya. Indonesia termasuk negara dengan peralihan agama mayoritas yang tergolong kerap: mulai dari kepercayaan lokal, Hindu, Budha, lalu Islam.

Penyangga Indonesia itu Bernama Umat Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Penyangga Indonesia itu Bernama Umat Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Penyangga Indonesia itu Bernama Umat Islam

Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia sekarang tak terlepas dari cara dakwah Wali Songo yang merakyat. Secara elegan para ulama penyebar Islam itu menginternalisasi ajaran Islam ke benak masyarakat lewat kebudayaan. Islam pun tersebar luas dengan nyaris tanpa kekerasan. Fakta ini setidaknya mencerminkan dua hal: toleransi mereka yang tinggi terhadap lokalitas dan canggihnya pendekatan yang mereka gunakan.

Ustadz Felix Siaw

Pada zaman revolusi, umat Islam juga mencetak sejarah sebagai bagian dari kelompok mayoritas yang berkontribusi untuk kemerdekaan republik ini. Bersama elemen bangsa lain, mereka mengorbankan pikiran, tenaga, harta, bahkan nyawa demi membebaskan tanah air dari belenggu penjajahan.

Teladan ulama

Perjuangan tersebut tentu terlalu sempit bila dilihat hanya untuk kepentingan Islam. Karena kenyataannya, sejak awal negeri ini dihuni oleh ragam agama dan etnis. Seruan perang suci oleh para ulama, misanya, pasti juga mencakup kepentingan seluruh rakyat di tanah air yang bineka itu.

Ustadz Felix Siaw

Pascakemerdekaan, perjuangan berlanjut dengan meletakkan pondasi republik yang baru lahir, merumuskan asas-asasnya, dan memikirkan struktur pemerintahannya. Usaha ini jelas sangat tidak mudah. Bisa dibayangkan betapa hebatnya perdebatan dan kontestasi kepentingan saat itu. Indonesia dihuni oleh ribuan suku dan unsur kebudayaan lainnya. Seluruhnya tentu menginginkan aspirasinya terpenuhi.

Meski demikian nyatanya gejolak tak sampai membuat negeri ini pecah belah. Di tengah belantara tarik menarik kepentingan kala itu para tokoh dan pendiri bangsa ini menunjukkan keluasan hatinya untuk memprioritaskan kepentingan bersama di atas kepentingan individu dan kelompok.

Sebagaimana tampak pada fenomena Piagam Jakarta, dokumen historis sebagai hasil kompromi antara kecenderungan “kaku” Islamis dan nasionalis dalam Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Semula sila pertama Pancasila yang termaktub dalam dokumen itu adalah “Ketoehanan, dengan kewajiban mendjalankan sjariat Islam bagi pemeloek-pemeloeknja”. Namun akhirnya tujuh kata dicoret dan berubah menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa” seperti yang kita baca sekarang.

Pencoretan tujuh kata itu tak akan terjadi seandainya umat Islam keras kepala dan hanya memikirkan aspirasi kelompok. Protes keras kala itu datang dari mana-mana hingga pada tahap ancaman disintegrasi. Berkat kearifan sikap ulama-ulama kita yang menjadi bagian penentu rumusan dasar negara, Pancasila dengan narasi yang sekarang ini disepakati, dan Indonesia pun selamat dari perpecahan.

Amal jariyah

Perjuangan, pemikiran, dan kearifan para pendahulu tersebut memiliki dampat yang sangat besar hingga sekarang. Barangkali kita tidak akan mendapati kondisi Indonesia seaman ini kalau saja para pendiri bangsa sama-sama mengunggulkan ego mereka. Apa yang mereka korbankan sebentuk amal jariyah, jasa agung yang manfaatnya terus mengaliri perjalanan bangsa hingga kini.

Pancasila merupakan warisan luhur para pendahulu, termasuk ulama, yang sayapnya mampu menaungi seluruh elemen bangsa yang majemuk ini. Ia menjadi titik temu yang bagi umat Islam di beberapa negara Timur Tengah adalah hal yang masih sulit diraih, bahkan menimbulknan krisis kemanusiaan dengan korban jiwa yang tidak sedikit.

Kaum Muslim di Indonesia memiliki landasan yang kuat, di mana Islam dan kebangsaan berjalin saling menunjang. Nilai-nilai di dalam Pancasila adalah substansi ajaran yang juga menjadi prinsip dalam Islam. Pancasila memang bukan agama, tidak dapat menggantikan posisi agama, tapi butir-butirnya tidak bertentangan dengan agama.

Semangat itu pula yang pernah ditegaskan Nahdlatul Ulama pada Musyawarah Nasional Alim Ulama Nahdhatul Ulama di Situbondo pada tahun 1983 dalam “Deklarasi tentang Hubungan Pancasila dengan Islam”. Bagi NU, penerimaan dan pengamalan Pancasila merupakan perwujudan dari upaya umat Islam Indonesia untuk menjalankan syari’at agamanya. Sementara itu, Muhammadiyah menyebut negara berasas Pancasila ini sebagai Darul Ahdi was Syahadah atau negara konsensus nasional yang terdiri dari beragam agama, keyakinan, suku, dan ras.

Namun demikian, kita tidak bisa menampik adanya sentimen SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan) dan radikalisme yang muncul di publik belakangan ini. Itu fakta yang mesti ditanggapi secara serius oleh tidak hanya aparat pemerintah tapi juga umat Islam sendiri secara umum. Meskipun, saya yakin, pelakunya sangat minoritas di antara mayoritas umat Islam Indonesia yang tetap ramah, toleran, moderat, dan menghargai budaya.

Amal jariyah para pendiri bangsa masih mengalir lancar hingga kini. Umat Islam punya sumbangsih besar dalam hal ini. Tentu bersama dengan komponen bangsa lain yang perannya tak bisa diremehkan. Umat Islam harus terus berbenah memperbaiki perannya, sembari itu harus istiqamah membangun potensinya yang demikian besar sebagai kekuatan penyangga utama negeri ini.

Penulis adalah Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia



Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Tegal, Kiai Ustadz Felix Siaw

Sabtu, 10 Maret 2018

NU Jabar Kembangkan Radio Dakwah

Cirebon, Ustadz Felix Siaw. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Jawa Barat melalui Lembaga TaMir Masjid NU (LTMNU) tengah mengembangkan radio FM sebagai media dakwah.?

NU Jabar Kembangkan Radio Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Jabar Kembangkan Radio Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Jabar Kembangkan Radio Dakwah

Hal ini tampak ketika Rais Syuriyah PBNU KH Masdar Farid Masudi mengunjungi studio radio Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Al Biruni di Babakan, Ciwaringin, Cirebon, Jawa Barat, Ahad (6/1). Radio ini cukup lama pasif hingga akhirnya bekerjasama dengan PWNU Jabar.

"Ini radio swasta yang kurang bisa mengembangkan kreativitas. Kita coba dorong untuk bisa aktif kembali bersama NU Jawa Barat," kata Ketua LTMNU Jabar HM Syaifullah Amin.

Ustadz Felix Siaw

Syaifullah menargetkan, bulan depan radio siap mengudara dan bisa diakses oleh seluruh penduduk di kawasan Kabupaten Cirebon, Kota Cirebon, Kabupaten Majalengka, dan Kabupaten Kuningan.

Ditambahkan, pengembangan radio dimaksudkan untuk memperkuat paham Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja). Rencananya, radio ini akan diisi sejumlah kegiatan, seperti pengajian, dialog interaktif, pemberitaan, dan lain-lain.

Ustadz Felix Siaw

Ketua Pengurus Pusat LTMNU KH Abdul Manan A Ghani yang juga meninjau studio radio mendukung penuh lahirnya radio berbasis NU di Cirebon. Ia berharap, prestasi ini dapat ditingkatkan dan menjadi percontohan bagi pengurus LTMNU lain di seluruh Indonesia.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis ? : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Doa Ustadz Felix Siaw

Jumat, 09 Maret 2018

Kalau Sama-sama Ngotot, Mungkin Sekarang Indonesia Belum Lahir

Solo, Ustadz Felix Siaw - Indonesia didirikan dengan kompromi-kompromi antara kaum islamis yang ingin mendirikan negara agama dan kaum nasionalis yang ingin mendirikan negara sekuler.

“Melihat fakta sejarah, kalau waktu itu, islamis dan nasionalis sama-sama ngotot dan tidak mau kompromi, mungkin sampai sekarang Indonesia belum lahir," tutur Wakil Rais Syuriyah PCNU Kota Surakarta Kiai Abdul Aziz Ahmad, usai mengikuti acara Apel Nusantara Bersatu yang diadakan di Lapangan Kota Barat Solo, Rabu (30/11).

Kalau Sama-sama Ngotot, Mungkin Sekarang Indonesia Belum Lahir (Sumber Gambar : Nu Online)
Kalau Sama-sama Ngotot, Mungkin Sekarang Indonesia Belum Lahir (Sumber Gambar : Nu Online)

Kalau Sama-sama Ngotot, Mungkin Sekarang Indonesia Belum Lahir

Ditambahkan kiai yang juga pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Surakarta itu, para ulama akhirnya tetap konsekuen dengan kompromi tersebut dan memiliki semboyan NKRI harga mati. "Maka lahirlah Pancasila, yang menyerap ajaran-ajaran keduanya,” kata dia.

Ustadz Felix Siaw

Acara Apel Nusantara Bersatu ini, turut dihadiri kurang lebih 7.000 peserta dari berbagai elemen, di antaranya jajaran Pemkot, TNI, Polri, organisasi masyarakat dan organisasi keagamaan, serta tokoh masyarakat di Solo.

Ustadz Felix Siaw

Perwakilan dari berbagai elemen masyarakat tersebut menandatangani Ikrar Kesepakatan Bersama dalam rangka menjaga kebhinekaan dan antisipasi bahaya terorisme, paham radikalisme dan separatisme di Kota Surakarta.

Ikrar Kesepakatan Bersama yang ditandatangani oleh berbagai elemen masyarakat berisi lima poin. Pertama, setia kepada NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Kedua, menjaga keutuhan dan kedaulatan NKRI, menghormati keberagaman suku, agama, ras dan budaya, dan siap bersama-sama menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan.

Poin ketiga, mengamalkan prinsip sikap toleran dan menjaga kerukunan untuk mewujudkan kehidupan masyarakat yang aman, tertib dan adil. Keempat, menolak segala bentuk gerakan anarkisme dan radikalisme yang ingin memecah- belah persatuan bangsa, mengadu domba dengan provokasi SARA.

Poin kelima, menjunjung tinggi ketentuan hukum yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Kyai, Sholawat Ustadz Felix Siaw

Kamis, 08 Maret 2018

6 Cara Peningkatan Amal Selepas Ramadhan

Jember, Ustadz Felix Siaw - Bulan Ramadhan adalah bulan pendidikan dan latihan (diklat) bagi umat Islam. Berhasil atau tidaknya diklat tersebut, indikasinya bisa diteropong dari amal perbuatannya setelah Ramadhan. Meningkatkah ibadahnya atau semakin kendur. Di situlah penilaian keberhasilan Ramadhan.

Hal tersebut diungkapkan Ketua Pengurus Cabang Lembaga Pendidikan Ma’arif Kabupaten Jember, Jawa Timur Ustadz Hobri Ali Wafa saat menjadi khatib shalat idul fitri di Masjid Darussalam, Jl. Jayanegara No, 22 Jember, Rabu (6/7).

6 Cara Peningkatan Amal Selepas Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
6 Cara Peningkatan Amal Selepas Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

6 Cara Peningkatan Amal Selepas Ramadhan

Menurutnya, untuk melakukan peningkatan amal tersebut, dapat diupayakan melalui enam cara. Pertama, musyaratah. Artinya, mengawali bulan Syawal hendaknya diawali dengan tekad yang bulat? untuk betul-betul berupaya meningkatkan amal.

Kedua, muraqabah. Yaitu memantau diri atau merasakan bahwa Allah memantau. Jika sikap ini dimiliki, siapa pun tidak akan main-main dalam pelaksanaan tekad tersebut. "Ketiga, muhasabah, yaitu melakukan introspeksi sejauh mana pelaksanaan tekad yang diikrarkan tersebut. Apakah terlaksana dengan baik, atau terlaksana tetapi dipenuhi dengan kelalaian, atau tidak terlaksana sama sekali," tukansya.

Ustadz Felix Siaw

Sedangkan yang keempat adalah muaqabah, yaitu memberikan sanksi terhadap kelalaian dalam pelaksanaan tekad tersebut. Sebab, bila kelalaian itu tidak diberikan sanksi, dikhawatirkan kelalaian serupa akan terulang kembali.

Ustadz Felix Siaw

Kelima, mujahadah, yaitu mengerahkan segenap kemampuan yang ada pada diri untuk memperbaiki kelalaian. "Keenam, taubikh wa muatabah, yaitu koreksi diri. Dengan cara ini kita menyadari bahwa amal-amal kita penuh dengan kekurangan sehingga ke depan berupaya ditingkatkan," tuturnya.

Sementara itu, Wakil Ketua LTN NU Jember Ustadz Aryudi A. Razaq yang menjadi imam/khatib di masjid Al-Falah Kecamatan Patrang, dalam khotbahnya mengimbau agar hari raya kemenangan ini disyukuri dalam bentuk kegiatan yang positif. Bergembira tak dilarang. Bersukaria pun boleh. Namun semua itu tak boleh membuat umat Islam lalai dengan tugas dan kewajibannya selaku hamba Allah dan kholifah fil ardli.

"Yang jelas pesta pasti berakhir, kegembiraan juga akan berlalu. Karena itu, marilah kita bersiap-siap untuk berjuang meraih kemenangan lain di masa-masa yang akan datang di belantara kehidupan yang maha luas," tukasnya. (Red: Abdullah Alawi)

?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Nusantara Ustadz Felix Siaw

Cara KH Muhsin Ali Ajari Warga Demen Ngaji

Jepara, Ustadz Felix Siaw

KH Muhsin Ali, salah satu kiai sepuh Jepara, Jumat (10/03) kemarin, mengembuskan napas terakhir di RS Islam Sultan Hadlirin Jepara, Jawa Tengah. Meski Pengasuh Pesantren Al Mustaqim Desa Bugel, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara ini telah tiada namun kenangan bersamanya masih dirasakan oleh putranya, Sholahuddin.

Cara KH Muhsin Ali Ajari Warga Demen Ngaji (Sumber Gambar : Nu Online)
Cara KH Muhsin Ali Ajari Warga Demen Ngaji (Sumber Gambar : Nu Online)

Cara KH Muhsin Ali Ajari Warga Demen Ngaji

Salah satu kenangan yang masih ia ingat hingga sekarang ialah cara mendidik almarhum kepada warga sekitar agar demen mengaji.

Dulu, sebagaimana diceritakan lelaki yang kerap disapa Gus Sholah itu sewaktu boyong dari Pesantren Pondoan Pati asuhan KH Muhammadun, Kiai Muhsin diamanati ayahnya untuk meneruskan langgar yang pernah dirintis ayahnya. Mushala Al Firdaus, namanya.

Ustadz Felix Siaw

Sembari mengajar di Madrasah Muallimin, kiai sepuh ini mempunyai strategi agar mushala tak hanya digunakan untuk tidur. Dibelikanlah alat rebana.

Ustadz Felix Siaw

Lewat alat musik tersebut Kiai Muhsin membuat anak muda di kampung semangat. Dengan seringnya latihan, alhasil grup rebana ini diundang K Sulaiman untuk tampil di kediamannya. Lambat laun grup ini juga kerap mendapat undangan dari masyarakat sekitar.

Di tengah-tengah tenarnya grup ini, sang ibunda kiai, Muslimah marah. Dirampaslah seperangkat alat musik ini. Tujuannya agar tidak main lagi. “Bapak menjelaskan perkara ini kepada ibu. Intinya mushala menurut Bapak (Kiai Muhsin Ali) bukan sekadar tempat tidur,” jelasnya saat ditemui Ustadz Felix Siaw di rumah duka, Sabtu (12/03) siang.

Berawal dari kemarahan ibu ini, pihak keluarga mengevaluasi kegiatan tersebut. Sehingga kegiatan yang mulanya hanya rebana dan zafin mulai saat itu kemudian ditambah dengan ngaji, hafalan Al-Qur’an dan masih banyak lagi.

Cerita itulah yang menjadi awal berdirinya pesantren hingga kini. Saat ini tercatat sekitar 175 santri yang mukim di pesantren yang beralamat di Jalan Pasar Lama desa Bugel RT 05 RW 02 Kecamatan Kedung Kabupaten Jepara. Santri mukim ini berasal dari Jepara, Demak, Pati, dan Semarang.

Kini, kiai sepuh berusia 76 tahun ini telah kembali ke haribaan Illahi. Sebagai salah satu putra almarhum, Gus Sholah yang juga dosen Institut Pesantren Mathaliul Falah (Ipmafa) Pati ini secara tidak langsung menyatakan siap meneruskan perjuangan ayahanda tercintanya.

Di Yayasan Muhsin Ali berdiri MTs, TPQ, Wustho, Ulya dan Pesantren. Apalagi kiai muda ini teringat apa yang menjadi petuah bapaknya, yakni agar tetap istiqamah berjuang di pesantren, madsarah dan Nahdlatul Ulama.

Nasihat ini baginya bukan ucapan belaka. Ayahnya memang aktif di KBIHNU, PCNU, dan pesantren Al Mustaqim.

Sabtu (12/03) pagi almarhum sudah dikebumikan di maqbarah keluarga Bani Ali dan Muslimah (Banlima) tak jauh dari kediamannya. Pasangan KH Muhsin Ali dan Hj. Mas’adah meninggalkan 5 anak Hj. Elok Faiqoh, H. Luluk Zahroh, H. Sholahuddin, Habiburrahman dan Hj. Nur Hidayah. (Syaiful Mustaqim/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw IMNU, Nasional Ustadz Felix Siaw

Rabu, 07 Maret 2018

Gelar Raker 2018, Lakpesdam PBNU Perkuat Program dan Kinerja

Jakarta, Ustadz Felix Siaw. Beraktivitas di Lakpesdam adalah melanjutkan visi dan cita-cita Nahdlatul Ulama yakni menjadi jam’iyah diniyah Islamiyah ijtima’iyah yang memperjuangkan tegaknya ajaran Aswaja, mewujudkan kemaslahan masyarakat, kemajuan bangsa, kesejahteraan, keadilan, dan kemandirian khususnya warga NU serta terciptanya rahmat bagi semesta dalam wadah NKRI.

Demikian kalimat awal yang disampaikan Ketua Lakpesdam PBNU, H Rumadi Ahmad saat mengawali Rapat Kerja Tahunan 2018 di Aula PBNU Jakarta, Selasa (23/1).

Gelar Raker 2018, Lakpesdam PBNU Perkuat Program dan Kinerja (Sumber Gambar : Nu Online)
Gelar Raker 2018, Lakpesdam PBNU Perkuat Program dan Kinerja (Sumber Gambar : Nu Online)

Gelar Raker 2018, Lakpesdam PBNU Perkuat Program dan Kinerja

Rumadi menerangkan, memasuki tahun ketiga dalam periode kepengurusan 2015-2020 ini, beberapa capaian memang sudah terlaksana, namun perlu terus dikuatkan dan ditingkatkan. Ada PPWK (Pendidikan dan Pengembangan Wawasan Keulamaan) dan penggerak ranting yang menjadi bagian dari proses kaderisasi.

“Proses pemberdayaan masyarakat dan pendampingan kelompok melalui program Peduli, Konsorsium Kemala dam Kompak, hingga digitalisasi perpustakaan dan penerbitan Jurnal serta beberapa buku juga terus dilakukan,” ujar Rumadi.

Ustadz Felix Siaw

Spirit khidmah untuk peningkatan kualitas SDM NU menjadi bagian penting yang harus terus diupayakan, termasuk mendorong dan mempengaruhi kebijakan yang sesuai dengan misi Nahdaltul Ulama.

“Rapat Kerja Tahunan ini diharapkan mampu melahirkan gagasan lanjutan dari yang sudah tercapai dua tahun lalu,” katanya.

Aspek pengelolaan kelembagaan dan keuangan juga menjadi hal yang tidak luput untuk terus dirapikan, begitu juga laporan kegiatan, membuat rintisan sertifikasi profesi, hingga pemberitaan Lakpesdam di media sosial.

Ustadz Felix Siaw

Menusliskan isu-isu penting yang melibatkan PBNU di dalamnya juga perlu didokumentasikan dalam sebuah buku. Dan tahun berikutnya juga diharapkan mulai membuat pemetaan potensi yang dimiliki jaringan Lakpesdam baik di wilayah maupun cabang sehingga bisa saling bersinergi.

Rapat kali ini juga dihadiri salah satu Ketua PBNU, Robikin Emhas yang juga menegaskan pentingnya kaderisasi yang telah dirumuskan PBNU dalam 5 jenis dan model, yakni kaderisasi keulamaan, kaderisasi struktural, kaderisasi penggerak NU, kaderisasi fungsional dan kaderisasi profesional.

“Ini menjadi ruh bagi organisasi, terlebih di tengah gempuran dan bullying serta fitnah yang beredar luas di masyarakat, dan tak sedikit juga menimpa PBNU dan jajaran ulama dan tokohnya,” ucap Robikin.

Berbagai support terkait riset dan gagasan program serta kaderisasi yang baik akan sangat dibutuhkan, terlebih menyongsong dua hal penting, yakni bonus demografidan era digital. Bagaiamana generasi penerus merespon perubahan namun tetap berpijak pada cita-cita dan visi Nahdlatul Ulama di atas.

“Tentu semua anak negeri ini tidak ingin Indonesia dijadikan sebagai medan pertempuran, baik dunia maya apalagi dunia nyata, berbagai pihak yang hanya mau mengambil keuntungan,” tandasnya. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Lomba, Pahlawan Ustadz Felix Siaw

"Sang Kiai" Film Terbaik FFI 2013, Wakili Indonesia di Academy Award

Jakarta, Ustadz Felix Siaw. Malam Anugerah Piala Citra Festival Film Indonesia (FFI) 2013 menjadi malamnya film "Sang Kiai" yang menjadi menjadi Film Bioskop Terbaik.

Kategori pemenang paling bergengsi itu diumumkan di penghujung acara puncak FFI 2013 di Marina Convention Centre, Semarang, Jawa Tengah, Sabtu malam (7/12).

Sang Kiai Film Terbaik FFI 2013, Wakili Indonesia di Academy Award (Sumber Gambar : Nu Online)
Sang Kiai Film Terbaik FFI 2013, Wakili Indonesia di Academy Award (Sumber Gambar : Nu Online)

"Sang Kiai" Film Terbaik FFI 2013, Wakili Indonesia di Academy Award

"Sang Kiai" bersaing dengan film lainnya yang juga meraih banyak penghargaan seperti "Belenggu" dan "Habibie dan Ainun".

Ustadz Felix Siaw

Berikut ini daftar pemenang FFI2013 dari berbagai kategori:

Ustadz Felix Siaw

Pemenang Film Bioskop Terbaik: Sang Kiai

Pemenang Pemeran Pendukung Pria Terbaik : Adipati Dolken - Sang Kiai

Pemenang Penata Efek Visual: Eltra Studio – Moga Bunda Disayang Allah

Pemenang Pemeran Pendukung Wanita: Jajang C. Noer - Cinta Tapi Beda

Pemenang Penata Artistik Terbaik: Iqbal – Belenggu

Pemenang Penata Musik Tebaik: Aksan Sjuman - Belenggu

Pemenang Penyunting Gambar Terbaik: Cesa David Luckmansyah – Rectoverso

Pemenang Penata Busana Terbaik: Retno Ratih Damayanti – Habibie & Ainun

Pemenang Penghargaan Khusus Film Dokumenter Pendek Terbaik: Epic Java

Pemenang Film Pendek Terbaik: Simanggale

Pemenang Film Animasi Pendek Terbaik: Sang Supporter

Pemenang Penata Suara Terbaik: Khikmawan Santosa, M Ikhsan, Yusuf A Pattawari - Sang Kiai

Penata Sinematografi Terbaik : Yudi Datau-Lima Sentimeter

Penulis Skenario Terbaik: Ginatri S Noer & Ifan Ardiansyah Ismail – Habibie & Ainun

Pemenang Penulis Cerita Asli Terbaik: Anggoro Saronto - Sang Pialang (Garuda Nusantara Sinema)

Pemenang Film Dokumenter Pendek Terbaik - Split Mind (FFTV - IKJ)?

Pemenang Film Dokumenter Panjang Terbaik - Denok & Gareng (Dwi Susanti Nugraheni, Jawa Dwipa Film)

Pemenang Pemeran Utama Pria Terbaik: Reza Rahadian - Habibie & Ainun

Pemenang Pemeran Utama Wanita Terbaik: Adinia Wirasti - Laura & Marsha

Pemenang Sutradara Terbaik: Rako Prijanto - Sang Kiai

Academy Award

Prestasi "Sang Kiai" sebagai film terbaik Festival Film Indonesia (FFI) 2013 akan menjadi perwakilan Indonesia di ajang Academy Awards 2014 kategori Film Berbahasa Asing Terbaik.

Film berkisah tentang seorang ulama KH Hasyim Asyari itu meraih empat Piala Citra di malam puncak FFI 2013 di Semarang, Jawa Tengah, Sabtu malam (7/12).

Sejatinya, film yang dibintangi oleh pemeran utama Ikranagara tersebut mendapat persaingan ketat dari film lainnya seperti "Habibie dan Ainun" (raihan tiga Piala Citra) serta "Belenggu" (dua Piala Citra). Terlebih film-film rival itu masuk ke dalam sejumlah nominasi kategori penghargaan.

Contohnya, "Habibie dan Ainun" masuk ke dalam delapan nominasi sedangkan "Belenggu" lebih banyak lagi dengan 13 nominasi.

Empat kategori nominasi yang dimenangi "Sang Kiai" yaitu Film Bioskop Terbaik, Pemeran Pendukung Pria Terbaik (Adipati Dolken), Penata Suara Terbaik (Khikmawan Santosa, M Ikhsan dan Yusuf A Pattawari) serta Sutradara Terbaik (Rako Prijanto).

Tahun ini, FFI menyeleksi sejumlah judul untuk meraih Piala Citra di masing-masing kategori. Di antaranya sebanyak 53 judul film bioskop, 80 judul film dokumenter durasi pendek, 21 judul film dokumenter durasi panjang, 119 judul film durasi pendek, 75 judul film televisi dan 93 judul film animasi durasi pendek. (antara/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Humor Islam, Berita, Pondok Pesantren Ustadz Felix Siaw

Senin, 05 Maret 2018

Jelang UN, IPNU-IPPNU Wirosari Agendakan Istighotsah Kubro

Grobogan, Ustadz Felix Siaw. Menghadapi Ujian Nasional, Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPNU-IPPNU) kecamatan Wirosari kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, menggelar rapat persiapan istighotsah kubro Maret mendatang.

Pertemuan rutin selapanan yang membahas persiapan istighotsah kubro digelar di masjid Miftahul Falah Ahad (23/2). Tampak hadir dalam pertemuan ini jajaran pimpinan ranting, komisariat, dan cabang IPNU-IPPNU Grobogan.

Jelang UN, IPNU-IPPNU Wirosari Agendakan Istighotsah Kubro (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang UN, IPNU-IPPNU Wirosari Agendakan Istighotsah Kubro (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang UN, IPNU-IPPNU Wirosari Agendakan Istighotsah Kubro

Ketua PAC IPNU Wirosari Mugi Setyono mengatakan, kegiatan ini bertujuan mempererat kader muda NU selain menjadi forum bertukar pendapat dalam memajukan progam-program IPNU-IPPNU.

Ustadz Felix Siaw

Forum ini memutuskan bahwa istighotsah tersebut dilaksanakan di masjid Jami’ Baitur Rahman. “Masalah tanggal, belum kami sepakati sebab menyangkut kebijakan madrasah-madrasah. Kami bisa mempublikasikan tanggal setelah ada kesepakatan dengan mereka,” pungkasnya.

Pertemuan ini diawali dengan lantunan lafal Maulid Simtud Duror karya Habib Ali Al-Habsyi yang berisi biografi Rasulullah. “Rutinan ini kami buka dengan maulid sebagai salah satu bentuk pelestarian ajaran dan tradisi ke-NUan,” pungkas Setyono. (Asnawi Lathif/Alhafiz K)

Ustadz Felix Siaw

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Nasional Ustadz Felix Siaw

Minggu, 04 Maret 2018

Cegah Provokasi, Kemenag Brebes Terbitkan Khutbah Idhul Fitri

Brebes, Ustadz Felix Siaw. Guna menghindari isi khutbah yang provokatif, Kantor Kementerian Agama Brebes menerbitkan khutbah Idhul Fitri 1436 Hijriyah. Penerbitan khutbah dilatarbelakangi pengalaman tahun-tahun lalu di mana banyak beredar khutbah berisi provokatif. Padahal Idhul Fitri sebagai hari kemenengan umat Islam harus dipenuhi dengan suasana menyejukkan.

Cegah Provokasi, Kemenag Brebes Terbitkan Khutbah Idhul Fitri (Sumber Gambar : Nu Online)
Cegah Provokasi, Kemenag Brebes Terbitkan Khutbah Idhul Fitri (Sumber Gambar : Nu Online)

Cegah Provokasi, Kemenag Brebes Terbitkan Khutbah Idhul Fitri

“Jangan sampai, Idhul Fitri dikotori oleh isi khutbah yang isinya adu domba, menghujat, menyakiti kelompok tertentu yang agitatif dan provokatif,” ? ujar Kepala Kantor Kemenag Brebes H Imam Hidayat usai menghadiri rapat kesiapan Idhul Fitri di ruang rapat Setda Brebes, Rabu (8/7).

Buku khutbah yang diterbitkan disebar ke seluruh masjid sekabupaten Brebes dan tempat-tempat shalat Ied di berbagai kota Brebes. Di Brebes, ada sekitar 1500 masjid. Tiap Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) dan Penyuluh Agama sekabupaten Brebes telah menyebar khutbah terbitan kementerian agama di masjid-masjid.

Ustadz Felix Siaw

Khutbah yang berjudul Perspektif Fitri Terhadap Dinamika dan Perubahan Karakter Manusia, juga bisa diakses di www.nu.or .id dan www.brebeskab.go.id.

Ustadz Felix Siaw

Gerakan radikalisme yang dilakukan Islam garis keras, lanjutnya, telah membuat persatuan dan kesatuan Indonesia terancam. Kebencian terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia digencarkan mereka tanpa tedeng aling-aling. Sehingga kita perlu mewaspadai gerakan tersebut, yang bisa saja dihembuskan lewat khutbah Idhul fitri.

Imam juga mengimbau agar Takbir Keliling Idhul Fitri jangan dilaksanakan di jalan raya. Karena bisa mengganggu arus lalu lintas yang masih padat oleh arus mudik lebaran.

“Takbir keliling tidak dilarang, tetapi hendaknya dilaksanakan di kampung-kampung saja, dengan penuh semarak. Tidak harus berkeliling ke jalan raya kota,” imbuhnya. (Wasdiun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Tegal, Pahlawan, Makam Ustadz Felix Siaw

Perayaan Tahun Baru ala Lesbumi NU Tasikmalaya

Tasikmalaya, Ustadz Felix Siaw

Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PCNU Kota Tasikmalaya menyambut pergantian tahun dengan gelaran Tasyakur Akhir Tahun. Kegiatan bertema “Tafakur Diri untuk Negeri” ini menyajikan berbagai pentas mulai dari pembacaan puisi, nadhaman, pencak silat, musik angklung, dan nyanyian shalawat dari Grup Band Aswaja Fi’il Harmony.

Perayaan Tahun Baru ala Lesbumi NU Tasikmalaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Perayaan Tahun Baru ala Lesbumi NU Tasikmalaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Perayaan Tahun Baru ala Lesbumi NU Tasikmalaya

Acara tersebut dilaksanakan pada Sabtu (31/12) pukul 20.00 WIB di Jalan Dr. Soekardjo No. 47 tepatnya di depan Gedung Nahdlatul Ulama (NU) Kota Tasikmalaya, Jawa Barat.

Pentas seni tersebut mendapat sambutan positif dari warga setempat. Hujan deras yang sempat mengguyur Kota Tasikmalaya tidak menurunkan antusiasme mereka untuk hadir menyaksikan pergelaran itu.

Ustadz Felix Siaw

Menurut Ketua Lesbumi PCNU Kota Tasikmalaya Aan Ahmad Farhan, pihaknya mempersembahkan berbagai pentas seni yang merupakan ciri khas budaya di Tanah Air. “Mari kita tasyakur sekaligus tafakur,” Kata Aan.

Ia juga menambahkan, penampilan Aswaja Fi’il Harmony, grup musik milik Lesbumi PCNU Kota Tasikmalaya, menjadi warna baru dalam perhelatan ditengah hiruk pikuk perayaan tahun baru. “Karena band ini menyanyinyakn lagu-lagu shalawatan yang merupakan kekhasan orang-orang NU,” tuturnya.

Ustadz Felix Siaw

“Harapannaya semoga di tahun 2017 ini Aswaja Fi’il Harmony dapat roadshow ke setiap sekolah dan pesantren terwujud dengan baik dan lancar, guna mensyiarkan shalawat lewat musik,” tambah Aan. (Agum Gumilar/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Kajian Sunnah, Syariah, Humor Islam Ustadz Felix Siaw

Sabtu, 03 Maret 2018

Kiai Sholeh Darat Penyambung Risalah Islam

Semarang, Ustadz Felix Siaw - Kiai Sholeh Darat adalah penyambung risalah Islam. Dengan keilmuannya mendidik para santri dan mengarang banyak kitab, ajaran Rasulullah bisa tersebar di Nusantara dan membuat orang Jawa mereka mengenal agama Islam.

Karena Kiai Sholeh merupakan guru dari para gurunya ulama nusantara, maka tersebarlah ajaran Islam dan diteruskan para murid dan muridnya murid hingga kini dan di masa mendatang. Kitab-kitab karyanya juga terus dicetak dibaca dan diajarkan sehingga semakin luas sebaran ajaran Islam ke masyarakat khususnya di Jawa.

Kiai Sholeh Darat Penyambung Risalah Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Sholeh Darat Penyambung Risalah Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Sholeh Darat Penyambung Risalah Islam

Demikian disampaikan KH Khafid Romli asal Boja Kendal, Jawa Tengah dalam mauidhoh hasanah di acara Pengajian Haul ke-116 Kiai Sholeh Darat di halaman masjid Darat Semarang, Jumat (15/7) malam.

Kiai muda alumnus Pondok Pesantren Padaan Podorejo Ngaliyan Semarang, ini mengajak hadirin untuk melanjutkan kiprah keilmuan Kiai Sholeh Darat dengan banyak belajar agama dan mengaji kitab-kitab karya sang waliyullah yang pernah jadi mufti di Mekah itu.

Ustadz Felix Siaw

"Mbah Sholeh Darat adalah penyambung risalah Islam. Karena beliaulah kita mengenal Nabi Muhammad dan ajaran Islam melalui para guru kita dan melalui kitab-kitab karya beliau," tuturnya yang dominan memakai Bahasa Jawa dalam taushiyahnya.

Jika tiada Kiai Sholeh Darat, lanjutnya, orang Jawa (Nusantara) pada umumnya tidak mengerti makna Al-Quran maupun apa saja yang isi syariat Islam.

Ustadz Felix Siaw

Sebab Kiai Sholeh Darat yang bernama lengkap Syaikh Muhammad Sholeh bin Umar Assamarony adalah penulis pertama Tafsir Al Quran berbahasa Jawa. Sehingga orang Jawa termasuk RA Kartini sang murid yang tidak mengerti arti ayat Al Quran bisa mengetahui isi kandungan kitab suci umat Islam tersebut.

Sebelumnya, mayoritas orang hanya bisa membaca Al-Quran tanpa tahu artinya. Dan kalaupun ada yang mengerti isinya, itu hanya kalangan terbatas yang menguasai bahasa Arab dan perangkat ilmu lainnya macam kiai atau santri pondok pesantren.

Seperti diketahui, Kiai Sholeh Darat adalah pengarang Tafsir Faidhur Rohman, kitab berisi penerjemahan dan penjelasan atas ayat Al Quran berbahasa Jawa dengan aksara Arab Pegon.

Kitab itu diyakini didorong penulisannya oleh RA Kartini yang merupakan murid beliau dan meminta agar bisa mengerti arti Al-Quran dalam aktivitas mengajinya. Diyakini pula, kitab Tafsir itu menjadi kado perkawinan dari sang guru kepada Kartini saat ia menikah dengan Bupati Rembang RM Jayadiningrat. (Ichwan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Daerah, Internasional, Kajian Islam Ustadz Felix Siaw

Jumat, 02 Maret 2018

Inayah Wahid: Teater Ajarkan Toleransi dengan Sesama

Kudus, Ustadz Felix Siaw. Putri bungsu KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Inayah Wulandari menghadiri acara festival? teater Pelajar 2015 di Gor Bulutangkis Djarum Kaliputu Kudus, Jawa Tengah, Sabtu (21/11). Dalam acara itu, Inayah didaulat menjadi? juri final festival yang diselenggarakan Teater Djarum selama dua hari Sabtu-Ahad (21-22/11).

Saat ditemui Ustadz Felix Siaw, Inayah mengatakan dirinya sangat mengapresiasi kegiatan teater di lingkungan pelajar. Menurutnya, teater adalah kegiatan bagus yang mengajarkan toleransi, empati, memberikan penghormatan, dan penghargaan kepada orang lain.

Inayah Wahid: Teater Ajarkan Toleransi dengan Sesama (Sumber Gambar : Nu Online)
Inayah Wahid: Teater Ajarkan Toleransi dengan Sesama (Sumber Gambar : Nu Online)

Inayah Wahid: Teater Ajarkan Toleransi dengan Sesama

?

"Teater sebagai media bagus sekali untuk mengampanyekan toleransi, kita tidak main hakim sendiri dan akan bisa menghargai sesama," ujarnya.

?

Ustadz Felix Siaw

Dikatakan, Indonesia sangat membutuhkan generasi masa depan yang memahami akan toleransi. Dengan bermain teater, meraka akan memainkan peran tokoh-tokoh? di luar komunitasnya? yang ketika sampai pada titik puncaknya akan memahami toleransi dengan baik.

?

Ustadz Felix Siaw

"Dalam konteks kekinian toleransi menjadi urgen dan harus dikenalkan sejak dini kepada anak-anak. Salah satu media bagus ya teater. Karena kalau sudah main teater, kita tidak akan mempertanyakan latar belakang,? semua akan kerja sama," tandas putri Gus Dur yang biasa disapa Inayah Wahid ini.

?

Ia menuturkan dirinya sangat merasakan manfaatnya aktif di dunia teater pada waktu masih sekolah Menengah Atas (SMA). Ditegaskan, teater mampu menjadi sarana penyaluran ekspresi dan kreasi bagi pelajar.

?

"Melalui teater, anak-anak punya penyaluran yang positif. Mereka pulang sekolah tidak berbuat aneh-aneh, langsung bermain teater," imbuhnya.

Selain menjadi juri, Inayah Wahid juga menjadi pemateri Workshop teater yang menjadi rangkaian acara Fesetival tersebut. Siang harinya, Inayah dijadwalkan bertemu dengan kader-kader NU dalam acara silaturahim di aula Kantor NU Jalan Pramuka Nomor 20 Kudus.

?

Sementara itu,? final festival teater Pelajar ini, menampilkan 3 kelompok teater tingkat SMP diantaranya, Teater satu atap SMP 3 Kudus, Teater Temperatur SMP 1 Mejobo dan Teater PR Mts NU Nahdlatul Athfal. Sedangkan tingkat SMA, 7 kelompok teater yang lolos di final adalah Teater Stif MANU Ibtidaul Falah Dawe, Teater X-Miffa SMKNU Miftahul Falah Dawe, Teater Patas SMA I Bae, Teater Kahanan SMA 1 Mejobo, Studi One SMA ! Kudus, Teater Ganesha SMA 2 Kudus dan teater Apotek SMK Duta Karya Kudus. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Cerita, Bahtsul Masail Ustadz Felix Siaw

MTs Maarif Tembarak Juara Umum Porsema Temanggung 2017

Temanggung, Ustadz Felix Siaw. Madrasah Tsanawiyah (MTs) Maarif Tembarak di Selopampang Temanggung kembali menjadi juara umum dalam ajang Pekan Olahraga dan Seni Maarif (Porsema) tingkat Kabupaten Temanggung Jawa Tengah 2017.?

MTs Maarif Tembarak Juara Umum Porsema Temanggung 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)
MTs Maarif Tembarak Juara Umum Porsema Temanggung 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)

MTs Maarif Tembarak Juara Umum Porsema Temanggung 2017

Porsema yang digelar Lembaga Pendidikan (LP) Maarif NU Temanggung itu terpusat di MAN Kowangan berlangsung selama dua hari, akhir pekan lalu.

"Porsema tahun ini, kita meraih prestasi yang cukup membanggakan. Kita mendapat 14 emas, ? 3 perak 3 dan 1 perunggu, dinobatkan menjadi juara umum," ucap Kepala MTs Maarif ? Tembarak M Rohmatullah usai menyerahkan tropi, piagam penghargaan dan uang pembinan kepada siswa ? berprestasi dikemas dalam upacara bendera di halaman madrasah, Senin (6/2) kemarin.

Aktivis muda NU itu merinci , 14 emas itu diantaranya; juara I Olimpiade Matematika diraih oleh Virda Agustina, juara I Olimpiade IPA (Avita Khilyatul Hafni), juara I Olimpiade Ke-NU-an (Laelatul Azizah), juara I pidato bahasa jawa (M. Azza Iqdam M), juara I pidato bahasa Indonesia (Umi Nur Haeni), juara I pidato bahasa arab (Linainil Muna).

Ustadz Felix Siaw

Selanjutnya, juara I puisi religi siswa putra (M. Adip Fauzi Hidayat), juara I puisi religi putri (Linda Listyani), juara I cerdas tangkas Ke-NU-an (Team siswa MTs Maarif Tembarak), juara I lari marathon 5 km putra (M. Husein Basri), juara I lari marathon 5 km putri (Ani Roudhotussarifah), juara I catur putri (Rema Wahyu Sari).

Adapun 3 perunggu, diantaranya; juara 2 lomba karya ilmiah IPA ? oleh ? tim terdiri 3 orang siswa (Laeli, Nela dan Mujib), juara 2 lomba poster (Fajar Pramudiyo), juara 2 Bulu Tangkis Putri (Saparyatun) dan terakhir 1 perunggu, yakni; juara 3 Olimpiade IPS (Maulidya Syifa Annisa).

"Prestasi ini, akan tetap kita pertahankan dalam Porsema yang akan datang. Saat ini, kami fokus menyiapkan diri ? untuk berlaga dalam Porsema tingkat Jawa Tengah yang akan digelar di Kabupaten Jepara 18-21 Mei mendatang," ungkapnya. ?

Wakil Kepala MTs Maarif Tembarak Mukhtar Hadi Purwanto menambahkan, untuk menyongsong Porsema tingkat Jateng, supaya mendapat prestasi yang membanggakan sebagai wakil Temanggung, saat ini siswa-siswa yang kini menjadi juara umum tingkat Kabupaten terus digembleng dan dilatih secara intensif dengan bimbingan para pelatih, selain pelatih, juga melibatkan alumni.

"Prestasi yang kita capai ini, bukti kami sungguh-sungguh dalam mengelola madrasah. Kami berharap sekolah yang berlokasi di Jalan Simpang Empat Desa Kacepit Selopampang ini bisa tambah maju, makin dipercaya dan menjadi idola masyarakat," harapnya. (Ahsan Fauzi/Fathoni)

Ustadz Felix Siaw

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Anti Hoax, Pertandingan, Berita Ustadz Felix Siaw

Kamis, 01 Maret 2018

Katib Aam: NU Didirikan Bukan Sekadar untuk Dakwah

Jakarta, Ustadz Felix Siaw. Katib Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf mengingatkan tetang pentingnya Nahdliyin mengetahui tujuan didirikannya Nahdlatul Ulama. Menurutnya, NU didirikan para ulama lebih dari semata untuk tujuan dakwah dan tarbiyah Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

“Tapi NU juga beridiri untuk listishlâhi (membangun dan memperbaiki) Indonesia,” ujarnya di hadapan peserta Pelatihan dan Konsolidasi Media Online di Lingkungan PBNU yang digelar Lembaga Ta’lif wan Nasyr NU (LTNNU) di Jakarta, Sabtu (24/10).

Katib Aam: NU Didirikan Bukan Sekadar untuk Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)
Katib Aam: NU Didirikan Bukan Sekadar untuk Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)

Katib Aam: NU Didirikan Bukan Sekadar untuk Dakwah

Pria yang akrab disapa Gus Yahya ini lalu menceritakan tentang keluarnya NU dari partai Masyumi menjelang Pemilu 1955. Baginya, sikap NU untuk keluar dari partai afiliasi kelompok-kelompok Islam tersebut merupakan keputusan cerdas yang melampaui urusan NU sebagai golongan.

Ustadz Felix Siaw

Sebab, katanya, bila NU tetap bergabung di Masyumi kemungkinan besar partai ini memperoleh suara separuh lebih warga Indonesia dan mendominasi keputusan sidang konstituante. Hal ini tidak positif untuk perkembangan Indonesia, karena Masyumi yang didominasi kalangan muslim modernis kala itu mengusung gagasan sektarian berdirinya negara Islam.

Ustadz Felix Siaw

“Jika negara Islam berdiri, maka NKRI pasti bubar. Apalagi saat itu Papua belum berhasil direbut,” ujarnya. Menurut Gus Yahya, kiai-kiai NU mengambil keputusan visioner itu dengan logika syariat dan fiqih yang sangat kompleks dan kerap berusaha dipatahkan kelompok lain hanya dengan jargon sederhana “kembali ke al-Qur’an dan Hadits”.

Dengan demikian, lanjutnya, NU terdiri dari dua gagasan yang tak bisa saling dilepaskan, yakni? keaswajaan dan keindonesiaan. Hanya saja, untuk menyiarkan kedua hal tersebut NU butuh kendaraan konkret, seperti media dan lain-lain.

Ia mendorong para peserta pelatihan tersebut aktif dalam menyebarkan nilai-nilai Aswaja dan keindonesiaan untuk membangun bangsa Indonesia yang lebih beradab. Hadir dalam kesempatan itu ketua Pengurus Pusat LTNNU Juri Ardiantoro, serta para utusan dari lembaga dan badan otonom NU. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw AlaNu Ustadz Felix Siaw

Pembangunan Desa dan Peran IPNU

Oleh Achmad Faiz MN Abdalla



Secara regulasi, desa nyaris dilupakan selama puluhan tahun. Desa tidak mampu menjadi kekuatan ekonomi karena perhatian pemerintah terhadap desa sangat terbatas. Data Kemendesa tahun 2015, dari seluruh desa di Indonesia yang berjumlah 74.093 desa, masih ada 39.086 desa (52,78 persen) yang masuk kategori desa tertinggal. Sementara data BPS menyebutkan, masih ada 10.985 desa yang belum memiliki Sekolah Dasar (SD). Adapun untuk pelayanan kesehatan dasar, masih ada 117 kecamatan yang belum memiliki Puskemas atau Puskesmas Pembantu.

Pembangunan Desa dan Peran IPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Pembangunan Desa dan Peran IPNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Pembangunan Desa dan Peran IPNU

NU yang berbasis di pedesaan sedikit banyak tentu terdampak dengan keadaan tersebut. Tidak dipungkiri, peran NU sangat besar dalam mengawal kehidupan berbangsa dan bernegara. NU telah menjadi garda terdepan terhadap berbagai persoalan bangsa. Namun, peran NU dicemaskan tergerus seiring melemahnya soliditas dan daya tahan NU akibat kemiskinan struktural massa NU di pedesaan.

Masa reformasi pun bergulir. Otonomi Daerah menjadi bagian penting agenda reformasi. Dalam perkembangannya, terbitlah Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Undang-undang tersebut mengamanahkan paradigma baru dalam membangun desa sebagai bagian penting pembangunan nasional. Setelah berpuluh tahun dipunggungi, akhirnya desa mendapat penguatan yuridis. Hal itu pun dipertegas dengan Nawa Cita Presiden Jokowi, yakni membangun Indonesia dari pinggiran.

Ustadz Felix Siaw

Komitmen Pemerintah telah ditunjukkan dengan adanya Dana Desa. Tahun 2016 ini, Dana Desa naik menjadi Rp 46,98 triliun. Ditambah Alokasi Dana Desa (ADD) dari Pemerintah Daerah, maka rata-rata setiap desa akan mengelola dana tidak kurang dari Rp 1 Milyar.

Ustadz Felix Siaw

Namun yang harus dipahami, selain Dana Desa, gerakan dan partisipasi masyarakat juga harus terbangun dengan baik. Menurut Marwan Jafar (2015), ada tiga prinsip yang harus diterapkan dalam membangun desa, yaitu government, movement dan culture. Artinya, dibutuhkan sinergi yang baik antara keseriusan pemerintah dengan gerakan masyarakat dalam membangun desa. Semua itu harus mengedepankan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal.

Membangun partisipasi dan gerakan masyakarakat, harus dimulai dari pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang pembangunan desa. Dalam teori ilmu hukum, pengetahuan masyarakat akan sebuah peraturan merupakan indikator tercapainya kesadaran dan kepatuhan masyarakat terhadap peraturan tersebut. Karena itu, masyarakat minimal memahami hal-hal mendasar tentang kedesaaan, seperti kelembagaan desa, hak-hak masyarakat desa, pembangunan partisipatif, dan lainnya.

Sebagai contoh, seringkali masyarakat tidak mendapatkan laporan yang transparan mengenai hasil aset desa dan sumber Pendapatan Asli Desa (PADes) lain. Bahkan banyak aset desa yang tidak diatur di dalam Perdes (Peraturan Desa), sehingga pemanfaatannya untuk kesejahteraan masyarakat seringkali tidak terpenuhi dengan baik. Masyarakat desa umumnya hanya diam, karena tidak dibekali pengetahuan yang cukup. Dengan demikian, dibutuhkan pengetahuan yang baik agar terbangun partisipasi dan pengawasan masyarakat yang baik.



Peran IPNU


NU secara sosiologis tentu bertanggung jawab terhadap penguatan unsur movement tersebut. Di samping karena berbasis di pedesaan, juga karena politik kebangsaan NU untuk mendukung pemerintah dalam program pembangunan nasional. Menurut Marwan Jafar, Resolusi Jihad yang ditelurkan dari pemikiran Kiai Hasyim Asyari harus dikontekstualisasikan dengan era pembangunan saat ini, yakni dengan membangun Indonesia dari desa-desa.

Sebagai salah satu badan otonom (banom) NU, IPNU tentu diharapkan berperan serta dalam penguatan gerakan masyarakat tersebut. Setidaknya, ada dua alasan mengapa IPNU harus mengambil peran strategis tersebut.

Pertama, membangun desa haruslah menjadi visi keindonesiaan, tidak sekadar visi pemerintah. Generasi muda harus dikenalkan perihal urgensi pembangunan desa sebagai salah satu dimensi penting pembangunan nasional. Harus ada ruang pemahaman bagi generasi muda, baik melalui pendidikan formal atau organisasi pelajar seperti IPNU. Dengan begitu, pembangunan desa tidak bersifat parsial, berhenti pada tatanan regulasi dan unsur government, namun bersifat menyeluruh, dengan membangun kesadaran generasi muda sebagai upaya penting membangun partisipasi dan gerakan masyarakat.

Kedua, IPNU memiliki basis struktural yang menjangkau sampai ke tingkat ranting (desa). Tidak jelas, berapa jumlah riil IPNU ranting yang terdata. Namun umumnya, struktur IPNU hampir dapat ditemukan di setiap struktur ranting NU. Keadaan ini harus dimanfaatkan dengan baik. Terlebih, masih banyak desa yang tidak memiliki karang taruna sebagai lembaga pemberdayaan anak muda. Keberadaan IPNU tentu akan sangat membantu pemerintah dalam mengoptimalkan peran anak muda untuk bersinergi membangun desa.

Untuk itu, perlu digagas kajian tentang desa di lingkungan IPNU. Secara rutin, perlu diadakan diskusi yang membahas pembangunan desa. Pemerintah Desa setempat atau alumni-alumni IPNU yang telah berkiprah di pemerintahan dapat digandeng untuk menyelenggarakan kajian desa tersebut. Materi yang dibahas mulai yang berkaitan pemerintahan, semisal kelembagaan desa, Peraturan Desa, Dana Desa, APBDes atau? BUMDes; Perencanaan Pembangunan Desa, meliputi RPJMDes, RKPDes dan penggalian serta pengembangan potensi desa; dan materi-materi yang berkaitan dengan kearifan lokal desa.

Berbekal pengetahuan dan pemahaman yang diperoleh dari kajian tersebut, IPNU diharapkan dapat berperan aktif dalam Musyawarah Desa, khususnya dalam perumusan RPJM Desa, RKP Desa dan APB Desa. Di samping itu, juga dapat berperan aktif dalam pemberdayaan ekonomi desa melalui BUMDesa serta membangun sinergi dengan elemen masyarakat desa lainnya dalam mengawasi penggunaan dana desa. Dengan begitu, IPNU dapat memberikan peran nyata dalam pembangunan desa.

Penulis adalah pelajar NU Gresik



Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Sunnah Ustadz Felix Siaw