Senin, 31 Juli 2017

Gus Yahya: Penetapan Jerusalem sebagai Ibu Kota Israel Timbulkan Masalah Baru

Jakarta, Ustadz Felix Siaw. Katib Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf mengatakan keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengakui Jerusalem sebagai Ibu Kota Israel bukan hanya tidak akan menyelesaikan masalah, namun juga akan menimbulkan masalah baru.

“Ada akar konfllik tidak berujung selama ini karena pihak Israel selalu mengambil keputusan secara sepihak dan memaksakan (keputusan itu) kepada Palestina,” kata Gus Yahya, sapaan akrabnya, kepada Ustadz Felix Siaw, Kamis (7/12) pagi.

Gus Yahya menilai keputusan-keputusan Israel selama ini telah terbukti tidak menyelesaikan masalah.

Gus Yahya: Penetapan Jerusalem sebagai Ibu Kota Israel Timbulkan Masalah Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Yahya: Penetapan Jerusalem sebagai Ibu Kota Israel Timbulkan Masalah Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Yahya: Penetapan Jerusalem sebagai Ibu Kota Israel Timbulkan Masalah Baru

“Pengakuan Jerusalem sebagai Ibu Kota Israel malah akan menimbulkan disabilitas di kawasan,” lanjutnya.

Perang yang terjadi di Timur Tengah yang terjadi sampai hari ini, lanjut Gus Yahya, secara signifikan disebabkan adanya persoalan Israel. 

Ustadz Felix Siaw

“Karena Israel terus menerus menolak membuat keputusan bersama dengan bangsa Palestina," paparnya.

Keputusan tersebut juga akan menjauhkan Timur Tengah dari solusi peperangan yang tak berkesudahan ini.

“Harus dicari jalan keluar dari hambatan selama ini untuk solusi perdamaian,” pungkas Gus Yahya. (Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw

Ustadz Felix Siaw AlaSantri, Olahraga Ustadz Felix Siaw

Minggu, 30 Juli 2017

Fatihah Bid’ah? Helmy Faishal: Fokuslah ke Profesimu sebagai Artis

Jakarta, Ustadz Felix Siaw. H A Helmy Faishal Zaini mengimbau kepada artis berinisial TW dan ZAM yang menilai sebuah bacaan fatihah kepada orang yang sudah meninggal merupakan bid’ah untuk kembali fokus ke profesinya sebagai artis. Menurut Sekjen PBNU ini, kalaupun harus berdakwah, sampaikanlah materi-materi agama yang damai dan menyejukkan, bukan menyesatkan umat.

“Hati-hati dalam mengeluarkan pernyataan, kalau mereka menganggap hadiah bacaan fatihah bid’ah, mudah saja logikanya, berarti tampilmu di televisi jauh lebih bid’ah karena zaman Nabi tak ada televisi,” tegasnya, Kamis (3/9).

Fatihah Bid’ah? Helmy Faishal: Fokuslah ke Profesimu sebagai Artis (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatihah Bid’ah? Helmy Faishal: Fokuslah ke Profesimu sebagai Artis (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatihah Bid’ah? Helmy Faishal: Fokuslah ke Profesimu sebagai Artis

Helmy menerangkan, bahwa fenomena artis seperti TW harus dipahami betul oleh masyarakat. Karena menurutnya, kelompok yang sering membid’ah-bid’ahkan mempunyai kecenderungan memanfaatkan artis untuk menyesatkan umat.

Ustadz Felix Siaw

“Orang-orang seperti TW men-deligitimasi peran para ulama, ilmu para ulama yang menurun kepada para muridnya terus tersambung, tidak putus karena saling kirim doa dan mendoakan, baik saat masih hidup maupun ketika sudah meninggal,” papar Menteri PDT RI 2009-2014 ini.

Ustadz Felix Siaw

Seperti diberitakan, TW dan ZAM sebagai host dalam sebuah acara di televisi swasta menyampaikan pernyataan yang menilai hadiah bacaan fatihah kepada mayit merupakan bid’ah. Hal tersebut menurut mereka tidak ada dalilnya dan tidak dilakukan Nabi Muhammad SAW. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Pemurnian Aqidah, Makam, Syariah Ustadz Felix Siaw

Jumat, 28 Juli 2017

Ciptakan Kader Militan, IPNU-IPPNU Wonoasih Makesta

Probolinggo, Ustadz Felix Siaw - Sebagai upaya menciptakan kader NU yang benar-benar militan dan mau berjuang untuk membesarkan NU di kalangan pelajar, Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Wonoasih Kota Probolinggo menggelar Masa Kesetiaan Anggota (Makesta), Selasa (20/12).

Kegiatan yang dipusatkan di aula Pondok Pesantren An-Nur Kelurahan Sumbertaman Kecamatan Wonoasih Kota Probolinggo ini diikuti oleh 80 orang peserta yang merupakan siswa dan siswi dari SMPN 8 Probolinggo, MAN 1 Probolinggo, MTs Intisarul Ulum, MA An Nur, SMPI Riyadlus Sholihin, MTs Mutaallimin? dan SMKN 4 Probolinggo.

Ciptakan Kader Militan, IPNU-IPPNU Wonoasih Makesta (Sumber Gambar : Nu Online)
Ciptakan Kader Militan, IPNU-IPPNU Wonoasih Makesta (Sumber Gambar : Nu Online)

Ciptakan Kader Militan, IPNU-IPPNU Wonoasih Makesta

Hadir dalam kesempatan tersebut Ketua PC IPNU Kota Probolinggo Anton, Ketua PC IPPNU Kota Probolinggo Nur Baiti As-Shiddiqy, Ketua PAC IPNUKecamatan Wonoasih Hijjul Baiti Manis Tatok, Ketua PAC IPPNU Kecamatan Wonoasij Mamlu’ul Hasanah serta segenap pembina.

Ustadz Felix Siaw

Ketua PAC IPNU Kecamatan Wonoasih Hijjul Baiti Manis Tatok mengungkapkan bahwa Makesta merupakan pengkaderan tingkat awal bagi anggota IPNU-IPPNU. Dimana tujuannya adalah untuk memperdalam dan memperkokoh kembali faham Ahlussunnah wal Jamaah.

Ustadz Felix Siaw

? “Dalam Makesta ini para anggota IPNU-IPPNU dikenalkan pengertian dari materi ke-Aswaja-an, ke-NU-an, kepemimpinan, keorganisasian dan ke-IPNU dan IPPNUan. Sehingga mampu menjaring santri yang benar-benar berakhlak mulia dan memiliki loyalitas yang tinggi terhadap organisasi,” ujarnya.

Melalui Makesta ini Tatok mengharapkan agar PAC IPNU dan IPPNU Kecamatan Wonoasih tambah mantap dalam belajar, berjuang dan bertaqwa menjalankan syiar IPNU dan IPPNU di Kecamatan Wonoasih.

“Mudah-mudahan Makesta ini mampu menghasilkan kader IPNU-IPPNU yang benar-benar matang dalam segi pemahaman dan segi penerapan sebagai pelajar NU selanjutnya,” harapnya. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Habib, Warta, Hikmah Ustadz Felix Siaw

Rabu, 26 Juli 2017

NU Surabaya Pertanyakan Pencabutan Perda Larangan Miras oleh Mendagri

Surabya, Ustadz Felix Siaw. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Surabaya menilai pencabutan Peraturan Daerah (Perda) Pelarangan Miras oleh Menteri Dalam Negeri (Mendagri) ? Tjahjo Kumolo membuktikan bahwa pemerintah kehilangan sensitivitas terhadap persoalan moral sosial.

"Pencabutan tersebut seolah pemerintah menutup mata terhadap fakta-fakta empirik bahwa miras menjadi sumber berbagai kejahatan dan kerusakan. Berbagai kasus pembunuhan, pemerkosaan, perampokan, kecelakaan dan bermacam kejahatan lain nyata-nyata terjadi akibat pelakunya dalam pengaruh miras, makanya dalam Islam khamr disebut, Ummul Khabaith," kata H A Muhibbin Zuhri, Ketua PCNU Surabaya kepada Ustadz Felix Siaw, Jumat (20/5).

NU Surabaya Pertanyakan Pencabutan Perda Larangan Miras oleh Mendagri (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Surabaya Pertanyakan Pencabutan Perda Larangan Miras oleh Mendagri (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Surabaya Pertanyakan Pencabutan Perda Larangan Miras oleh Mendagri

Alasan utama yang dipakai Mendagri bahwa perda tersebut bertentangan dengan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag). "Pengendalian dan pengawasan miras, justru mencedarai sistem hukum kita," lanjut dosen pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya ini.

"Harusnya, justru Permendag-lah yang dicabut, karena jelas bertentangan dengan berbagai Undang-undang, setidaknya Undang-Undang kesehatan, pangan, dan Undang-undang perlindungan konsumen. Belum lagi kalau ditarik ke atas, maka Permendag jelas bertentangan dengan Pancasila, sila pertama. Karena permendag mengabaikan nilai-nilai moral dari agama apapun di Indonesia," tegasnya.

Keputusan MA terhadap judicial review Peraturan Presiden (Perpres) mengenai pengendalian dan pengawasan mihol-pun sepertinya diabaikan begitu saja.

"Ada apa pemerintah ini, bukankah pemerintah tugasnya melindungi warga bangsa ini dari berbagai kerusakan, atau pemerintah telah menjadi agen kapitalis, pengusaha dan pengedar miras?" tanya Muhibbin dengan heran.

Ustadz Felix Siaw

NU Surabaya mempertanyakan siapa yang sebenarnya yang diuntungkan dalam hal pelarangan miras. Jika pemerintah beralasan perlu pendapatan negara dari cukai miras, tentu tidak sepadan dengan keluarga korban yang menjadi korban dampak miras.

"Cobalah hitung, berapa biaya yang harus dicover APBN untuk dampak miras, berapa pula kerugian yang harus ditanggung keluarga-keluarga, yang menjadi korban dampak miras, Tolong pemerintah jawab semua ini. Dimana jargon Revolusi Mental yang digembar-gemborkan Jokowi, apakah hanya lips service," pungkasnya. (Rof Maulana/Zunus)

Ustadz Felix Siaw

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Tokoh, Olahraga Ustadz Felix Siaw

Selasa, 25 Juli 2017

Sumbangsih Besar, Santri Tak Tertulis di Sejarah Sekolah

Purworejo, Ustadz Felix Siaw - Peran santri pondok pesantren dalam membangun bangsa Indonesia nyaris tidak diakomodir dalam sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah. Padahal, sumbangsih santri terhadap bangsa sejak zaman penjajahan hingga kemerdekaan sangatlah besar.

Hal itu diungkapkan pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan, Purworejo KH Achmad Chalwani saat berceramah dalam kegiatan pesantren kilat di hadapan guru dan ratusan siswa SMK TKM Teknik Tamansiswa Purworejo, Selasa, (13/6).

Sumbangsih Besar, Santri Tak Tertulis di Sejarah Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)
Sumbangsih Besar, Santri Tak Tertulis di Sejarah Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)

Sumbangsih Besar, Santri Tak Tertulis di Sejarah Sekolah

Menurutnya, ada banyak pemotongan sejarah tokoh-tokoh bangsa termasuk sejarah pendiri Taman Siswa.

"Ki Hadjar Dewantara adalah seorang santri dari Kiai Sulaiman Zaenudin di Kalasan, Sleman Jogjakarta. Namun sayang, sejarah Ki Hadjar Dewantara sebagai seorang santri ini tidak pernah diajarkan di sekolah-sekolah," tandasnya.

Ustadz Felix Siaw

Karena latar belakang seorang santri, sambung KH Chalwani, maka wajar jika salah satu pendapatnya tentang pendidikan yakni, sistem pendidikan yang paling berhasil adalah sistem pendidikan pondok pesantren karena lingkungan pesantren sangat mendukung kegiatan pembelajaran.

"Pendapat tersebut disampaikannya berdasarkan pengalaman pribadi Ki Hadjar Dewantara. Termasuk pendirian Taman Siswa ini kan juga diilhami dari sistem pesantren. Maka sangatlah tepat jika TKM ini mengadakan pesantren kilat," katanya.

Ustadz Felix Siaw

Selain Ki Hadjar Dewantara, ada seorang santri yang berani menentang penjajah Belanda ketika yang lain tidak ada yang berani. Santri itu bernama Abdul Hamid putra Sultan Hamengkubuwono ke III dari ibu Pacitan.

"Abdul Hamid ini namanya kelak menjadi nama Kodam IV Jawa Tengah yakni Pangeran Diponegoro. Sayang Diponegoro yang pernah nyantri di KH Hasan Besari Ponorogo, mengaji tafsir Al-Quran kepada KH Baidhowi Bagelen Purworejo tidak pernah diajarkan dalam pelajaran sejarah," katanya.

Menurut KH Chalwani, masih banyak lagi sejarah pahlawan yang berjasa besar terhadap bangsa Indonesia yang berlatar belakang santri. Termasuk tokoh emansipasi wanita RA Kartini.

"Bahkan yang memiliki ide untuk menafsiri Al-Quran dengan bahasa Jawa agar mudah dipahami oleh masyarakat juga Kartini. Ide tersebut disampaikannya kepada KH Soleh Darat Semarang dan akhirnya betul-betul direalisasikan oleh KH Soleh," tandasnya.

Sementara itu, Kepala SMK Teknik Tamansiswa Purworejo, Ki Gandung Ngadino SPd mengungkapkan, pesantren kilat tersebut adalah salah satu rangkaian kegiatan di bulan Ramadan. Selain pesantren kilat juga dilaksanakan tarawih bersama, tadarus serta kegiatan takbir saat malam lebaran nanti.

"Kegiatan ini adalah upaya kami untuk memberikan pengetahuan agama kepada para siswa. Bahkan diluar bulan Ramadhan, kami juga secara rutin menggelar khataman Al-Qur’an dan kegiatan mujahadah," tambahnya. (Lukman-Naufa/Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Pesantren, Berita, Kajian Sunnah Ustadz Felix Siaw

Senin, 24 Juli 2017

PBNU: Masyarakat Tidak Perlu Reaktif Soal Al-Quran Langgam Jawa

Jakarta, Ustadz Felix Siaw. Rais Syuriyah PBNU KH Masdar F Mas’udi mengajak masyarakat untuk tetap tenang menyikapi pembacaan Al-Quran dengan langgam lokal. Terlalu sensitif, manusia cenderung kehilangan daya cerna sehingga tergesa-gesa memutuskan sesuatu.

PBNU: Masyarakat Tidak Perlu Reaktif Soal Al-Quran Langgam Jawa (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: Masyarakat Tidak Perlu Reaktif Soal Al-Quran Langgam Jawa (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU: Masyarakat Tidak Perlu Reaktif Soal Al-Quran Langgam Jawa

“Jangan keterlaluan. Masak apa saja diributkan? Jangan reaktif begitulah. Agama itu juga soal rohani, sangat dekat dengan dzauq, perasaan. Tetapi dzauq di sini jangan diartikan sebagai emosi kemaharan, kebencian,” kata Kiai Masdar kepada Ustadz Felix Siaw di Jakarta, Selasa (19/5) sore.

Menanggapi kontroversi pembacaan Al-Quran dengan langgam Jawa di Istana Negara, Jumat (15/5), Kiai Masdar menegaskan bahwa langgam lebih dekat dengan soal budaya.

Ustadz Felix Siaw

Dalilnya jelas, “Bacalah Al-Quran dengan baik”. Ulama memahami dalil ini sebagai kewajiban bagi pembaca Al-Quran untuk pertama memerhatikan makhraj juga tajwidnya. Ini paling penting, ujar Kiai Masdar.

Ustadz Felix Siaw

Jangan sampai tertukar panjang-pendeknya. Jangan juga “ha” dibaca “kha”, huruf hamzah dibaca sebagai ain, atau sebaliknya. Ini bisa merusak makna.

Kedua, tetap harus menghargai dan menghormati kalimat Al-Quran sebagai sesuatu yang suci dan Ilahi. Perlu respek pada Al-Quran, bukan niat melecehkan.

“Jadi tidak boleh ada maksud-maksud yang kurang menghormati. Mau langgam apa, tidak masalah asal taat pada dua asas tadi itu,” tandas Kiai Masdar. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Nahdlatul Ulama, Olahraga Ustadz Felix Siaw

Minggu, 23 Juli 2017

Kiai Maruf Amin dan Para Da’i NU Doakan Warga Gaza

Jakarta, Ustadz Felix Siaw. Ketua Umum Muslimat NU Hj Khofifah Indar Parawansa memohon kesediaan Mustasyar PBNU KH Ma’ruf Amin memimpin sedikitnya 120 peserta pelatihan da’i dan da‘iyah NU untuk mendoakan korban sipil di Gaza Palestina. Doa bersama untuk Palestina ini sekaligus menutup pelatihan dakwah di Gedung PBNU, Selasa (22/7) sore.

Kiai Maruf Amin dan Para Da’i NU Doakan Warga Gaza (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Maruf Amin dan Para Da’i NU Doakan Warga Gaza (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Maruf Amin dan Para Da’i NU Doakan Warga Gaza

“Kita sedih menyaksikan kebrutalan agresi militer Israel yang menyerang korban sipil di jalur Gaza. Kita mengharapkan warga dunia dalam hal ini PBB, negara-negara Islam, dan liga Arab untuk berpartisipasi dalam perdamaian di Palestina,” kata Khofifah.

Sebelum memimpin doa, Kiai Ma’ruf yang juga mengisi materi Keaswajaan dan Kepemimpinan Nasional dalam pelatihan yang difasilitasi PP LDNU dan Himpunan Da’i dan Majelis Taklim Muslimat NU ini menekankan peran para da’i NU di tengah tantangan dakwah yang semakin berat.

Ustadz Felix Siaw

“Tugas para da’i ialah membuat peta dakwah agar mengetahui medan tantangan dakwah dari segala dimensinya. Karena itu, da’i mesti terus berpikir memetakan strategi dakwah. Tantangan terus berubah,” kata Kiai Ma’ruf.

Ustadz Felix Siaw

Kelenturan Aswaja NU memberikan keluasan kepada kita semua untuk tidak berhenti di titik nyaman. Da’i tidak boleh statis, harap Kiai Ma’ruf.

“Mari kita tengadahkan tangan mengharapkan ridho Allah untuk menurunkan bantuannya bagi kemaslahatan warga Gaza,” ujar Kiai Ma’ruf sebelum membacakan doa yang diaminkan peserta pelatihan da’i. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Berita, Kajian Islam Ustadz Felix Siaw

Pelajar NU Sidoarjo Gelar Latihan Kader Muda

Sidoarjo, Ustadz Felix Siaw. Pimpinan Anak Cabang IPNU-IPPNU kecamatan Tulangan kabupaten Sidoarjo menggelar Latihan Kader Muda (Lakmud) 2015 di SMP Insan Kamil desa Karang Puri Wonoayu Sidoarjo. Lakmud tersebut akan berlangsung selama tiga hari, Jumat-Ahad (20-22/11).

Pelajar NU Sidoarjo Gelar Latihan Kader Muda (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Sidoarjo Gelar Latihan Kader Muda (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Sidoarjo Gelar Latihan Kader Muda

Ketua IPNU Tulangan Muhammad Fauzi mengatakan, untuk meningkatkan inteligensi kader dari mentalnya, maka IPNU-IPPNU Tulangan mengadakan acara tersebut yang bertajuk "Mari Kita Cetak Kader IPNU-IPPNU yang Berkarakter Luhur, Toleran dan Tetap Memegang Teguh Aswaja".

"Para peserta mendapatkan materi seputar IPNU-IPPNU, Aswaja atau ke-NUan, materi tentang dalil tradisi tahlilan, dalil adzan dua kali sholat Jumat, kepemimpinan, manajemen organisasi, pemecahan masalah, pengenalan studi usia, problem pendidikan seperti narkoba, bagaimana cara mengatasi dan menanggulangi narkoba," kata Fauzi, Jumat (20/11) malam.

Ustadz Felix Siaw

Menurutnya, Lakmud tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Karena, pada Lakmud 2015 ini panitia juga mengadakan lomba kreasi pelajar. Pesertanya dari tingkat ranting hingga komisariat sekecamatan Tulangan. Para peserta lomba akan membuat karikatur atau kaligrafi foto ketua IPNU-IPPNU Tulangan dengan ukuran 60x50 cm. Bagi yang menang akan mendapatkan trofi dan sertifikat serta bingkisan hadiah dari panitia.

"Setelah ini ada penilaian Cabang award yang akan dilaksanakan pada Januari 2016 mendatang. Salah satu strategi kami dengan mengadakan lomba kreasi ini sekaligus mencetak kader untuk menjadi pengurus. Karena Mei akhir 2016 nanti, masa jabatan kami akan berakhir. Semoga dapat menumbuhkan ketua IPNU-IPPNU Tulangan yang lebih baik lagi," ungkap Fauzi.

Ustadz Felix Siaw

Acara yang diikuti sekitar 80 peserta dari tingkat ranting dan komisariat IPNU-IPPNU sekecamatan Tulangan ini mampu melahirkan kader atau pemimpin yang bisa menjadi teladan bagi anggotanya.

"Alhamdulillah pesertanya ada yang dari IPNU Wonoayu dan IPNU Krian. Semoga dengan diadakannya Lakmud ini mampu mencetak kader yang berkarakter luhur, toleran dan tetap memegang teguh Aswaja An-Nahdliyah," tandas Fauzi. (Moh Kholidun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw News, Daerah, Makam Ustadz Felix Siaw

Rabu, 19 Juli 2017

Hasyim: NU Dianggap Tidak Berdasar Syariah

Jakarta, Ustadz Felix Siaw. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi menegasakan, organisasi NU tidak anti syariat Islam, namun menolak penerapan syariat Islam secara legal-formal. NU mempunyai cara tersendiri dalam menerapkan syariat Islam di Indonesia.

“Ini menolak anggapan dari luar yang menganggap NU sebagai kelompok yang bukan syariah,” kata Kiai Hasyim saat membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Lembaga Bahtsul Masa’il Nahdlatul Ulama (LBMNU) di Cibubur, Jakarta, Rabu (5/9) siang.

Hasyim: NU Dianggap Tidak Berdasar Syariah (Sumber Gambar : Nu Online)
Hasyim: NU Dianggap Tidak Berdasar Syariah (Sumber Gambar : Nu Online)

Hasyim: NU Dianggap Tidak Berdasar Syariah

Dikatakan NU melaksanakan syariat Islam dalam konteks negara Indonesia. Oleh karena itu, lanjut Pengasuh Pesantren Al-Hikam Malang itu, LBMNU sebagai perangkat organisasi NU yang membidangi persoalan hukum syariah perlu lebih aktif dalam memberikan kontribusi pada tata hukum positif di Indonesia.

“Mereka yang terlibat dalam bahtsul masail haruslah kiai yang menguasai ibarat fikih. Selain itu harus menguasai konteks persolan, karena tidak mungkin hukum terlepas dari konteksnya,” katanya.

Kontektualitas menuntut adanya orientasi interdisipliner, berbagai disiplin ilmu, dengan melibatkan para pakar sebelum pengambilan hukum. Ditambahkan, juga perlu adanya dalil argumentatif untuk menjelaskan semua keputusan hukum yang telah diambil.

Ustadz Felix Siaw

Di hadapan para utusal LBM seluruh Indonesia, Kyai Hasyim, mengeluhkan semakin langkanya para kiai NU yang mumpuni di bidang hukum syariah.

“Padahl NU belakangan menjadi penting sebagai rujukan syariah nasional dan sebagai perbandingan bagi gerakan syariah internasional. Di Indonesia ini belum lega sebelum mendengar keputusan NU. Di internasional pun NU mulai didengarkan bagaimana cara pemutusan masalah negara yang sangat plural,” katanya serius.(nam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Warta, Ahlussunnah Ustadz Felix Siaw

Ustadz Felix Siaw

Selasa, 18 Juli 2017

Sinkretisme Islam Nusantara, Terbentuk atau Dibentuk?

Para pengamat Barat melihat Islam di Indonesia, atau di wilayah Nusantara pada umumnya, sebagai bentuk sinkretisme, bukan Islam yang sebenarnya sebagaimana yang mereka lihat di Timur Tengah; sebuah penampakan Islam yang seragam dengan "jubah dan warna hitam putih"; bukan Islam dengan berbagai "corak warna dan batik", dan Indonesia memang tidak pernah diproklamirkan sebagai sebuah negara Islam.

Adalah dua postulat yang dikemukakan oleh A. Khoirul Anam dalam rubrik Risalah Redaksi Ustadz Felix Siaw pada tanggal 19 September 2013 lalu: Mengapa Muslim di Nusantara atau Indonesia ini kurang diperhitungkan dalam dinamika sejarah perkembangan Islam, baik secara historis maupun geopolitik?

Persoalan ini penting untuk kembali diangkat ke permukaan karena faktanya Islam Nusantara secara genealogi, etnografi, historiografi, maupun secara antropologi banyak dimunculkan oleh ilmuwan-ilmuwan barat melalui penelitiannya. Sebut saja salah satunya ialah Clifford Geertz, Antropolog Amerika dengan triloginya yaitu santri, abangan, dan priyayi dalam agama Jawa.

Secara historis, wacana yang berkembang ialah, ada tiga teori masuknya Islam di Nusantara yaitu teori Gujarat, Persia, dan Arab. Lantas, mana teori yang mendekati kebenaran untuk kemudian bisa dijadikan rujukan secara historis? Tentu di sini kita tidak bermaksud mengurai sejarah tersebut. Artinya, Islam yang berkembang di Nusantara memang berasal dari luar namun penuh dengan nuansa lokalitas.

Sinkretisme Islam Nusantara, Terbentuk atau Dibentuk? (Sumber Gambar : Nu Online)
Sinkretisme Islam Nusantara, Terbentuk atau Dibentuk? (Sumber Gambar : Nu Online)

Sinkretisme Islam Nusantara, Terbentuk atau Dibentuk?

Bahkan agama Hindu-Buddha yang konon dianggap sebagai agama pertama yang diyakini oleh para leluhur tidak sepenuhnya benar, sebab keyakinan dan kepercayaan yang muncul pertama kali ialah kepercayaan kepada roh para leluhur yang lazim kita sebut animisme dan dinamisme. Keyakinan tersebut oleh orang-orang Nusantara terdahulu disimbolkan dengan mantera, keris, semedi di bawah pohon besar yang dikemas dalam laku (mirip ibadah) sehingga inilah yang kemudian menurut Clifford Geertz, menjadi sebuah sistem budaya (cultural system).

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, mengapa para antropolog Barat menganggap bahwa Islam di Indonesia penuh dengan sinkretis?

Ustadz Felix Siaw

Perlu diketahui bahwa, kepercayaan orang-orang Nusantara terdahulu seperti yang dikemukakan oleh Prof. Nur Syam membentuk sebuah nilai sehingga orang berbondong-bondong mengikuti ritual-ritual pemujaan, pembacaan mantera, semedi (meditasi), sebab dengan laku tersebut, para penghayat keyakinan memperoleh sebuah nilai yaitu ketenangan batin, sehingga membentuk sebuah makna dari ritualnya tersebut, dan sistem demikian berjalan terus-menerus jika ada kepercayaan baru yang masuk ke Nusantara.

Dari hal ini, kita bisa memahami bahwa orang-orang Nusantara dahulu sudah mempunyai sifat toleran dalam menerima kepercayaan baru yang masuk. Termasuk dalam menerima ajaran agama monoteisme seperti Hindu, Buddha, Nasrani ataupun Islam.  Hal demikian juga bukan hanya karena tolerannya orang-orang Nusantara dalam menerima ajaran baru yang masuk, tetapi juga agama atau kepercayaan baru yang masuk mampu menyesuaikan dengan tradisi yang dibawa sejak zaman dahulu terutama Islam sehingga agama baru yang dianut oleh orang-orang nusantara tidak lepas dari tradisi lokal yang dibawa oleh agama atau kepercayaan terdahulunya.

Misal Islam di Sasak, Lombok yang diteliti oleh Dr. Erni Budiwanti. Dia mengemukakan bahwa Islam Sasak adalah Islam juga, hanya saja Islam yang bernuansa lokal. Dalam agama wetu telu yang paling menonjol dan sentral adalah pengetahuan tentang lokal, tentang adat, bukan pengetahuan tentang Islam sama sekali, misalnya doa-doa, tempat peribadatan masjid dan tempat lain yang mengintroduksi keislaman mereka.

Ustadz Felix Siaw

Hal inilah yang kemudian disimpulkan oleh para antropolog Barat bahwa Islam di Nusantara berbau sinkretisme. Namun, kemudian Budiwanti mengemukakan lagi bahwa sebenarnya peran negara dalam bentuk Islam waktu limo, yaitu Islam puritan yang ada di Lombok menjadi sangat menonjol di tengah suasana pribumisasi Islam yang mestinya berperan akomodatif bukan penetratif. Mengapa? Karena hal demikian akan banyak merugikan tradisi keagamaan lokal, dan ini tidak sesuai dengan karakter Islam sendiri yang ramah.

Lain Sasak, lain pula Jawa dengan kejawennya. Sampai saat ini, sebagian muslim di Jawa masih menampakkan ritual-ritual kepercayaan terdahulunya seperti disimbolkan dengan sesajen dan slametan. Dengan trikotominya, santri, priyayi, dan abangan seperti yang telah dijelaskan, Clifford Geertz mengemukakan bahwa paradigma kehidupan kejawen relatif masih sangat dominan sehingga pola ritual slametan juga dominan, seirama dengan dominannya ideologi abangan dalam kehidupan keagamaan dan sosial politik di Jawa. Dari  hal inilah Geertz melihat elemen-elemen yang sinkretik dan animistik dalam pola slametan di Jawa. Meskipun pada zaman sekarang lebih pada akulturasi budaya, sebab slametan diisi dengan bacaan-bacaan Al-Quran.

Demikian kita bisa memahami bahwa Clifford Geertz adalah satu dari antropolog Barat yang ‘menghukumi’ bahwa Islam di Indonesia penuh dengan sinkretisme. Geertz adalah seorang antropolog yang mengkonsentrasikan diri dalam antropologi budaya. Perspektif antropologinya seperti yang dikemukakan oleh Nur Syam ialah antropologi simbolik-interpretatif.  Aliran antropologi yang memperoleh perhatian luas dan menjadi perbincangan hingga akhir-akhir ini. Aliran ini dikembangkan oleh Geertz melalui berbagai kajiannya, terutama di Indonesia.

Lebih dari 40 tahun Geertz memperkenalkan antropologi Indonesia ke dunia luar. Bahkan karena kajian antropologinya tersebut, Geertz memperoleh Bintang Tanda Jasa Utama dari Pemerintah Indonesia.  

Ironis! Ketika Geertz merupakan seorang antropolog yang memahami Islam Indonesia penuh dengan sinkretisme. Dengan demikian, selama 40 tahun pula Geertz memahamkan pada dunia bahwa Islam yang berkembang di Indonesia adalah salah satu bentuk sinkretisme sehingga tesis A. Khoirul Anam di atas telah menemui klimaksnya ketika muslim Indonesia tidak diperhitungkan di dunia.

Geertz, selama 40 tahun malang melintang memahamkan budaya Islam Nusantara yang dalam mainstream-nya bersifat sinkretik memunculkan hipotesis dalam pikiran penulis bahwa paham sinkretisme sesungguhnya terbentuk dengan sendirinya atau justru dibentuk dan didesain oleh pengamat Barat sendiri?

Penulis mempunyai pemahaman bahwa hakikat Islamlah yang mesti menjadi perhatian bersama dalam memahami Islam wetu telu atau Islam kejawen, misalnya. Sebab dari hakikat itulah kita dapat memahami keotentikan Islam dengan berbagai praktik keagamaan berbasis lokal menuju Tuhannya; bukan Islam yang dipahami secara simbolistik berupa jubah dan jenggot seperti yang nampak di Arab. 

 

Fathoni, mahasiswa Pascasarjana Kajian Islam Nusantara STAINU Jakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Pesantren Ustadz Felix Siaw

Minggu, 16 Juli 2017

Sempat Tertinggal, Al Kahfi Jinakkan Nurul Khaerat 4-1

Bandung, Ustadz Felix Siaw

Tim asal Kebumen, Al Kahfi menunjukkan mental permainan yang tangguh saat menundukkan perlawanan Nurul Khaerat Lil Muhibbin. Sempat ketinggalan terlebih dulu, Al Kahfi membalikkan keadaan dengan skor meyakinkan, 4-1. Laga putaran akhir babak grup Liga Santri Nusantara (LSN) ini digelar pada pagi hari, 25 Oktober 2017, di Stadion Lodaya, Bandung.

Sempat Tertinggal, Al Kahfi Jinakkan Nurul Khaerat 4-1 (Sumber Gambar : Nu Online)
Sempat Tertinggal, Al Kahfi Jinakkan Nurul Khaerat 4-1 (Sumber Gambar : Nu Online)

Sempat Tertinggal, Al Kahfi Jinakkan Nurul Khaerat 4-1

Babak pertama pertandingan berjalan kurang menarik dan minim peluang. Kedua tim sama-sama gagal menunjukkan bentuk permainan terbaik. Baik Al Kahfi yang berseragam strip biru putih,maupun Nurul Khairat yang memakai kostum hjau hitam, sepertinya sempat kesulitan beradaptasi dengan permukaan rumput lapangan sintetik di  Stadion Lodaya yang membuat bola bergulir lebih cepat. Sampai peluit wasit mengakhiri babak pertama, kedua tim gagal membobol gawang lawan.

Di babak kedua, pertandingan berjalan jauh lebih baik. Gol cepat Nurul Khaerat pada menit 36 memecahkan skor kacamata sekaligus memaksa Al Kahfi memberikan perlawanan lebih kuat. Gol pertama ini bermula dari tusukan pemain Nurul Khaerat di depan kotak penalti lawan. Para pemain Al Kahfi yang terlalu berkonsentrasi pada bola, gagal mengantisipasi operan pemain lawan di sisi kiri pertahan. Dari sisi kiri pertahanan lawan, pemain Nurul Khaerat memberi umpan silang mendatar yang disambut dengan tendangan dari jarak dekat. 0-1 untuk Nurul Khaerat.

Ustadz Felix Siaw

Al Kahfi yang tersengat gol lawan membalas pada menit ke-49 Gol ini bermula dari pemain sayap kiri Al Kahfi yang memenangkan duel dengan bek kanan lawan. Ia berlari bebas dan mengirim operan datar ke kotak penalti lawan. Penyerang yang dioper dengan cerdik mengelabui pengawalnya dengan mengoper bola ke sebelah kanan, di mana Kampten tim Bayu Aji berdiri tanpa kawalan. Dengan tenang pemain bernomor 12 ini mengirim bola datar yang tak bisa dijangkau kiper lawan.

Pada menit ke-61 Al Kahfi membalikkan keadaan lewat gol kedua mereka yang memanfaatkan kesalahan lini belakang lawan. Kegagalan komunikasi antara kiper dan bek Nurul Khairat dalam mengantisipasi serangan membuat bola justru jatuh ke kaki sayap Al Kahfi Rahmat S yang tinggal berhadapan dengan gawang kosong. 2-1

Ustadz Felix Siaw

Menit ke-65 Al Kahfi menambah keunggulan menjadi 3-1 lewat tendangan penyerang Sahrul M dari dalam kotak penalti. Beberapa menit kemudian, gol Al Kahfi yang bermula dari umpan terobosan, dicetak oleh Faozan, menggenapi skor akhir menjadi 4-1. Skor ini bertahan sampai pertandingan usai.

Pelatih Nurul Khairat, Kamaludin, mengakui bahwa lawannya secara teknik lebih kuat dan mampu memanfaatkan kelemahan di lini belakang tim asuhannya.

“Pemain kami memang secara teknik kalah. Semoga ini bisa jadi pengalaman buat anak-anak agar di Liga Santri selanjutnya bisa lebih baik,” kata kamal usai pertandingan.

Sementara Pelatih Al Kahfi, Supriyanto, mengaku puas dengan hasil akhir pertandingan, meskipun pemainnya sempat kesulitan beradaptasi dengan lapangan rumput sintetis.

“Ini pengalaman pertama kami (bermain di rumput sintetik), jadi sempat kesulitan. Tapi anak-anak staminanya lebih kuat dan mentalnya juga bagus. Saya melihat kelemahan lawan di lini belakanga, karenanya saya instruksikan tim untuk terus menekan,” kata Supriyanto. (Ahmad Makki/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Pesantren, Nasional Ustadz Felix Siaw

Kamis, 13 Juli 2017

Sadari Potensi Besar NU, Para Kiai Terbitkan Fiqih Organisasi

Semarang, Ustadz Felix Siaw

Nahdlatul Ulama telah tumbuh menjadi organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, bahkan dunia. Dengan jumlah warganya yang menurut survei LP3ES tahun 2012 berjumlah 80 juta orang, NU bisa dikatakan melebihi “negara”. Karena dari segi jumlah anggota saja, sudah tiga kali lipat dari penduduk Kerajaan Saudi Arabia.

Jam’iyah yang didirikan oleh Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari ini bisa dikatakan sebagai as-sawadul a’dham (golongan mayoritas) yang disebut dalam hadits Rasulullah, dijamin tidak akan bersepakat dalam kesesatan.

Sadari Potensi Besar NU, Para Kiai Terbitkan Fiqih Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Sadari Potensi Besar NU, Para Kiai Terbitkan Fiqih Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Sadari Potensi Besar NU, Para Kiai Terbitkan Fiqih Organisasi

Karena posisinya inilah, NU dituntut harus bisa menjadi contoh yang baik (uswah hasanah) dalam berperilaku, agar diteladani organisasi lain. Juga harus menjadi pedoman perilaku bagi warganya. Walhasil, NU harus senantiasa melahirkan ulama yang menjadi rujukan keagamaan.

Ketua Majma’ al-Buhuts an’Nahdliyah (MBN) KH A Muadz Thohir menyampaikan hal itu kepada Ustadz Felix Siaw, untuk mengabarkan kelanjutkan pembahasan Fiqih Organisasi yang pada 11-13 Desember lalu dimusyawarahkan dalam Halaqoh Nasional MBN di Bali.

Ia mengatakan, di antara hasil dari halaqoh tersebut adalah terbentuknya Tim Perumus yang bertugas menyusun buku Fiqih Organisasi. Dalam buku tersebut, akan memuat segala masalah yang diperlukan sebagai pedoman berorganisasi. Meliputi apa yang harus dan apa yang dilarang dilakukan oleh NU sebagai organisaasi. Juga yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh pengurus NU. Serta pedoman beragama bagi jamaah NU, yakni untuk anggota terdaftar maupun warga nahdliyin yang biasanya disebut NU kultural.

“NU harus menjadi contoh berperilaku bagi organisasi lain dan warganya sendiri. Kami sedang menyusun Fiqih Organisasi,” ujar Pengasuh Ponpes Putri Raudlah al Thahiriyah Kajen, Pati, Jawa Tengah ini.

Ustadz Felix Siaw

Muadz menyampaikan, saat ini pihaknya menerima banyak masukan dari para kiai dan santri. Kebanyakan memberi masukan agar dalam Fiqih Organisasi banyak aturan mengenai pedoman perilaku pengurus NU dan unit-unitnya. Yaitu yang di lembaga, lajnah maupun badan otonom (banom).

Kata dia, pengurus struktural NU di setiap tingkatan harus diseleksi dengan syarat yang ketat. Pemenuhan syarat itupun masih harus diverifiaksi dengan memperhatian suara umat. Semacam tanggapan publik.

“Jadi tidak sembarang orang bisa menjadi pengurus NU maupun unit-unitnya. Tidak setiap orang boleh dilipih dalam forum pemilihan pengurus NU,” tuturnya.

Lalu ketika sudah? menjadi pengurus NU, sambung dia, tidak boleh berbuat selain yang telah digariskan oleh organisasi. Baik yang ada di Perarutan Dasar/Peraturan Rumah Tangga, maupun dari hasil musyawarah atau rapat.

Ustadz Felix Siaw

Jadi nantinya, tidak akan ada lagi pengurus NU berpetualang ke sana kemari bermain politik atau bertindak liar di luar kontrol organisasi. Di sini pengawasan para kiai di lembaga Syuriyah menjadi urgen.

“NU ini organisasi ulama. Selama ini disegani dan menjadi paku bumi karena isinya para ulama. Maka seluruh kontrol kebijakan dan dan tindakan pengurus NU ada pada ulama,” jelasnya.

?

Identifikasi dan Beri Solusi

Anggota MBN yang mengajar di UIN Walisongo Semarang, Dr Ismail mengatakan, penyusunan Fiqih Organisasi adalah mengidentifikasi masalah dan mencari solusi. Yakni NU perlu dilihat secara rinci, apa saja masalahnya, dan bagaimana tawaran solusinya. Setelah ketemu solusinya, dijalankan.

Menantu alm KH Kholil Bisri yang hobi kaligrafi ini mengatakan, progres? pelaksanaan solusi itu harus diawasi. Dievaluasi secara rutin, diukur tingkat keberhasilannya. Jika gagal, maka pemimpin yang bertanggungjawab diganti, atau dirombak kepengurusannya.

“Dalam Fiqih Organisasi, salah satu hal pokok adalah identifikasi masalah. Lantas solusinya. Ini tentu memuat sanksi,” kata aktivis berbagai organisasi dan LSM ini.

?

Matang di Usia Seabad

Sekretaris MBN H Bisri Adib Hattani melanjutkan, di usia NU yang akan memasuki satu abad masehi pada 2026, jamiyyah ini harus mapan. Tidak boleh lagi ada masalah internal seperti konflik pengurus atau kisruh saat ada Pemilu.

Disebabkan NU sudah menjadi sorotan dunia sebagai wakil Islam “yang sesungguhnya”, maka sudah semestinya di usia seabad nanti, NU sudah tersistem baik yang penataannya dimulai dari Fiqih Organisasi.

“NU harus matang sejak sekarang,” ujarnya mendampingi Kiai Muadz.?

Aktivis muda NU yang biasa dipanggil Gus Adik ini mengatakan, dunia barat maupun timur telah terpesona dengan NU yang mempraktekkan Islam ahlussunnah wal jamaah. Yang damai dan indah. Berlawanan model keagamaan di kawasan Arab yang penuh gejolak, bahkan terorisme. Maka menurutnya, NU akan semakin dianggap penting perannya. NU akan dicontoh tak hanya oleh organisasi Islam di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia.

Oleh karena itu, mau? tidak mau, suka tidak suka, NU harus berbenah. Harus menata diri secara serius, agar harapan masyarakat dunia yang begitu besar itu tidak mengalami kekecewaan. Jangan sampai NU tampak molek di luar, tapi keropos di dalam. Karena penuh masalah di dalam rumah tangganya sendiri.

Salah satu rekomendasi yang disepakati dari Halaqoh, ungkapnya, PBNU diminta melanjutkan program Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU).

“Para kader itulah yang diharapkan menjalakan Fiqih Organisasi,“ pungkasnya di sela kesibukan mempersiapkan Haflah Haul KH Bisri Mustofa di Ponpes Raudlatut Thalibin Leteh Rembang yang akan diselenggarakan pada Kamis (17/12/2015). (Ichwan/Mahbib)

?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Pendidikan Ustadz Felix Siaw

Rabu, 12 Juli 2017

Masyarakat Madura Jarang Akses Berita Toleransi

Sumenep, Ustadz Felix Siaw. Mayoritas masyarakat Madura, Jawa Timur, masih jarang mengakses pemberitaan terkait toleransi atau perdamaian. Karena itu media perlu ikut mempromosikan isu-isu toleransi dan perdamaian.

Demikian hasil survei Search for Common Groud Indonesia dan Asian Muslim Action Network yang bekerja sama dengan Biro Pengabdian Masyarakat Pondok Pesantren Annuqayah (BPM PPA) di tiga kabupaten di Madura, yaitu Sumenep, Pamekasan, dan Sampang.

Masyarakat Madura Jarang Akses Berita Toleransi (Sumber Gambar : Nu Online)
Masyarakat Madura Jarang Akses Berita Toleransi (Sumber Gambar : Nu Online)

Masyarakat Madura Jarang Akses Berita Toleransi

Dari hasil survei terungkap, masyarakat yang jarang mengakses pemberitaan tentang toleransi sebanyak 40,7 persen, sering 34,3 persen, sering sekali 9.8 persen, jarang sekali 2,8 persen, tidak pernah 6,5 persen, dan tidak tahu/tidak jawab 6,5 persen.

Ustadz Felix Siaw

Survei tersebut dilakukan kepada 350 responden dengan sasaran anak muda dan rumah tangga pada tanggal 12-14 Mei 2014. Pemaparan hasil survei disampaikan di Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-guluk, Sumenep, Rabu (16/7) di hadapan tokoh agama.

Ustadz Felix Siaw

Menanggapi hasil survei tersebut, Ketua PCNU Sumenep A Pandji Taufiq mengatakan, pemberitaan terkait dengan toleransi dan perdamaian di Madura memang tidak banyak tersentuh media.

Oleh karenanya, ia mendorong media untuk memberikan porsi yang dominan dan gencar mempromosikan isu-isu toleransi dan perdamaian.

"Peran media sangat penting untuk menggiring opini publik. Oleh karenanya, media harus ikut andil dalam promosi kedamaian dan toleransi," tuturnya. (M Kamil Akhyari/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Pesantren, Lomba Ustadz Felix Siaw

Antara Kami dan Mereka

Oleh Arrial Thoriq

Mbah Hasyim, ingin kami bercerita kepadamu

Tentang kami, santri-santrimu

Yang belajar di pondok-pondokmu

Antara Kami dan Mereka (Sumber Gambar : Nu Online)
Antara Kami dan Mereka (Sumber Gambar : Nu Online)

Antara Kami dan Mereka

Dengan mereka, yang suka memaki kami

Yang belajar dari bayangan dan khayal

Tapi sukanya berlaga seperti ulama

Ustadz Felix Siaw

Antara kami dan mereka

Terdapat parit lebar terbuka

Mereka menyebut kami cucumu yang durhaka

Ustadz Felix Siaw

Yang pantas masuk neraka

Padahal kami mengurus NU penuh suka

Lillahi ta’ala tanpa duka

Antara kami dan mereka

Terdapat parit lebar terbuka

Kami syi’iran

Mereka mengkafirkan

Kami penuh kesabaran

Mereka penuh kebencian

Antara kami dan mereka

Terdapat parit lebar terbuka

Shalawat Nariyah kata mereka bid’ah

Slametan kata mereka tiada faedahnya

Nderek kyai kata mereka taqlid buta

Jadi santri kata mereka kolot belaka

Mereka boleh sesukanya menyakiti kami

Tapi kalau mereka sampai mengusik Pancasila

Dan menggoyang keutuhan NKRI

Kami, Banser, Fatayat, Muslimat, dan kader NU lainnya

Siap berjihad memenuhi fatwamu Mbah Hasyim

Jihad fi sabilillah mempertahankan Sang Dwiwarna

Di depan kan selalu kami nyanyikan :

Pusaka hati wahai tanah airku

Indonesia negeriku

Engkau panji martabatku

Siapa datang mengancammu

Kan binasa di bawah dulimu!

Arrial Thoriq Setyo Rifano, pelajar SMA Negeri 4 Malang, Jawa Timur



Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Meme Islam, Nahdlatul, Kajian Islam Ustadz Felix Siaw

Wagub Sulsel Lepas Gerak Jalan Santai Harlah UIM

Makasar, Ustadz Felix Siaw - Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Agus Arifin Numang melepas gerak jalan santai Universitas Islam Makassar dalam rangka Harlah Ke-50 di Halaman Taman Makam Pahlawan Panaikang, Jumat (3/6). Gerak jalan santai ini dimulai dari Taman Makam Pahlawan dan berakhir di Universitas Islam Makassar.

Gerak jalan ini diikuti seluruh civitas akademika UIM, lembaga, sejumlah badan otonom NU, IKA PMII, dan beberapa sekolah di bawah naungan Maarif NU.

Wagub Sulsel Lepas Gerak Jalan Santai Harlah UIM (Sumber Gambar : Nu Online)
Wagub Sulsel Lepas Gerak Jalan Santai Harlah UIM (Sumber Gambar : Nu Online)

Wagub Sulsel Lepas Gerak Jalan Santai Harlah UIM

Agus Arifin Numang mengapresiasi keberadaan lembaga pendidikan Islam di bawah naungan NU yang telah menginjak usia 50 tahun. UIM telah banyak memberikan kontribusi besar bagi kecerdasan masyarakat Sulawesi Selatan.

"Tak hanya itu, UIM sebagai perguruan tinggi swasta milik NU, ke depannya harus menjadi pilar utama perubahan akhlakul karimah bagi masyarakat Sulsel. Apalagi dengan konsep kampus Qurani yang dikembangkan UIM saat ini," kata Agus yang juga Mustasyar NU Sulsel ini.

Ustadz Felix Siaw

Rektor UIM Dr Majdah M Zain Agus AN mengatakan, "Selaku rektor, kami mengucapkan terima kasih banyak kepada seluruh pendiri, pengurus Yayasan Perguruan Tinggi Al-Gazali Makassar, pengurus NU Sulsel, dan seluruh civitas akademika UIM yang telah banyak mengabdikan sebagian umurnya untuk memajukan UIM. Semoga UIM ke depan lebih baik," ujarnya.

Ustadz Felix Siaw

Majdah mengajak seluruh peserta gerak jalan santai untuk membacakan Al-Fatihah dan meniatkan pahalanya untuk almarhum Prof Dr H Abd Rahman Idrus yang telah berpulang ke rahmatullah pada 31 Mei 2016. “Semoga jasa-jasanya menjadi amal jariyah," ujar Majdah.

Tampak hadir Mantan Rektor UIM Prof Zainuddin Thaha, Wakil Rektor I Prof Arfin Hamid, Wakil Rektor II Dr Saripuddin Muddin, Wakil Rektor III Dr Abd Rahim Mas P Sanjata, Wakil Rektor IV Dr Muammar Bakry, Kepala Biro Drs H Muhammad Said, Ketua IKA PMII Dr Abd Kadir Ahmad, dan pengurus FKCA Sulsel. (Andy Muhammad Idris/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Hadits, Nahdlatul, Tokoh Ustadz Felix Siaw

Pelajar NU Diingatkan Tak Buru-buru Nikah

Lombok Tengah, Ustadz Felix Siaw. IPNU-IPPNU bersama BKKBN Propinsi Nusa Tenggara Barat akan menggelar Sosialisasi Generasi Berencana (Genre) dan Pendewasaan usia perkawinan pada hari Jum’at-minggu 17-19 April 2015 di Pondok Pesantren Nurul Qur’an Lendang Simbe Desa Mertak Tombok Kabupaten Lombok Tegah.

Pelajar NU Diingatkan Tak Buru-buru Nikah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Diingatkan Tak Buru-buru Nikah (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Diingatkan Tak Buru-buru Nikah

Selain kegiatan sosialisasi, nanti juga akan di gelar di waktu yang sama yaitu Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) dan Diklat Orientasi Kaderisasi dengan tema meningkatkan Kualitas Kader berbasis Ahlussunah Waljamaah.

“Nanti kami akan laksakan Makesta dan Orientasi Kaderisasi yang di rangkaikan dengan Sosialisasi Genre dan Pendewasaan Usia perkwinan,” ujar Imam Subki Ketua Cabang IPNU Lombok Tengah di Lombok Tengah, Senin (13/4).

Ustadz Felix Siaw

Adapun tujuan dari kegiatan tersebut menurut Imam sapaan akrabnya agar pelajar NU mengikuti kaderisasi fomal organisasi sebagai gerbang awal dalam mengenal NU lebih baik, mendorong kader-kader pelajar NU agar memiliki nalar sosial yang baik di tengah-tengah masyarkat, dan serta saat Orientasi Kaderisasi para Pengurus IPNU-IPPNU di Lombok Tengah dapat memahami sistem tata kerja Organisasi sesui bidangnaya masing-masing.? ? ?

Ustadz Felix Siaw

“Sedangkan tujuan dari Sosialisasi Generasi Berencana (Genre) dan pendewasaan usia Perkwainan menurutnya agar kader-kader IPNU-IPPNU mengetahui usia minimal maupun maksimal terkait perkwainan untuk siap berumah tangga,” tutup alumni Santri Pesantren Al-Mansuriah Bonder Praya Barat Lombok Tengah ini. (Samsul Hadi/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Doa, Pahlawan, Santri Ustadz Felix Siaw

Minggu, 09 Juli 2017

PBNU Terima Hibah Kapal dari Pengusaha Jepang

Jakarta, Ustadz Felix Siaw - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menerima hibah kapal dari seorang pengusaha asal Jepang, Muhammad Suzuki Nobukazu, Jumat (6/1) sore. Kapal bernama Dai Ni Bente Maru itu terbuat dari aluminium ringan, 19,99 gross ton, dan berfungsi sebagai kapal riset dan pelatihan perikanan dan kelautan.

Prosesi serah terima hibah berlangsung singkat di kantor PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, ditandai penandatanganan sebuah piagam oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan Muhammad Suzuki Nobukazu.

PBNU Terima Hibah Kapal dari Pengusaha Jepang (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Terima Hibah Kapal dari Pengusaha Jepang (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Terima Hibah Kapal dari Pengusaha Jepang

Kiai Said mengucapkan terima kasih kepada Suzuki atas bantuan yang diberikan. Ia berharap kapal Dai Ni Bente Maru dapat dimanfaatkan untuk kepentingan warga NU sebagaimana fungsinya. Syamsudin penerjemah yang mendampingi Suzuki mengatakan, hari ini kapal tersebut sudah sampai di Pantai Mutiara, Pluit, Jakarta Utara.

Suzuki adalah muallaf yang membaca syahadat bersama pengusaha lain Ogawa Hideo di kantor PBNU pada 9 Desember 2015 melalui bimbingan Kiai Said.

Ustadz Felix Siaw



Ustadz Felix Siaw

(Baca: Dua Pengusaha Jepang Masuk Islam di PBNU)


Turut menyaksikan prosesi penyerahan secara simbolis kapal itu Bendahara Umum PBNU Bina Suhendra, Wasekjen PBNU H Andi Najmi Fuaidi, Ketum Pimpinan Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Ali Masykur Musa, serta Ketua PBNU Marsudi Syuhud dan Robikin Emhas.

Selain menyerahkan hibah, dalam kesempatan itu Suzuki juga mengantarkan dua pemuda asal Jepang, Tatsunori Hoshi dan Ohnuma Yoka untuk berikrar sebagai muallaf lewat bimbingan Kiai Said. Yang pertama merupakan karyawan di perusahaan milik Suzuki, sementara yang kedua adalah putri wali kota Numazu Jepang. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Sejarah, Internasional, Meme Islam Ustadz Felix Siaw

Penyuluh Agama Islam Kurang Manfaatkan Teknologi Komunikasi Modern

Jakarta, Ustadz Felix Siaw. Penyuluh Agama (PA) memiliki peran penting dalam membimbing masyarakat terkait dengan permasalahan keagamaan yang dihadapi oleh mereka. Akan tetapi tugas mereka berbeda dengan ustadz atau ulama. PA merupakan kepanjangan pemerintah.

Dalam hal ini fungsi PA bukan sekedar memberikan ceramah-ceramah atau pembinaan rohani umat, tetapi menjadi public relations pemerintah khususnya Kementerian Agama dalam mendifusikan informasi-informasi pembangunan keagamaan dan kebijakan-kebijakan keagamaan.

Penyuluh Agama Islam Kurang Manfaatkan Teknologi Komunikasi Modern (Sumber Gambar : Nu Online)
Penyuluh Agama Islam Kurang Manfaatkan Teknologi Komunikasi Modern (Sumber Gambar : Nu Online)

Penyuluh Agama Islam Kurang Manfaatkan Teknologi Komunikasi Modern

Temuan dari hasil penelitian Balitbang dan Diklat Kementerian Agama (2013) menunjukkan, dari aspek teknik komunikasi yang digunakan, secara umum PA masih mengandalkan model komunikasi tatap muka atau komunikasi kelompok. Menurut para PA, model komunikasi inilah yang dianggap paling efektif dalam penyampaian pesan. Kondisi sosiologis masyarakat dengan tingkat pendidikan yang relatif sedang dan mobilitas tidak tinggi komunikasi kelompok dalam jumlah kurang dari 50 secara teoritik memang cukup efisien, terutama untuk kelompok primer di mana anggota kelompok cukup kenal dan akrab. Itu sebabnya bagian terbesar PA kurang menguasai teknik-teknik komunikasi yang memanfaatkan teknologi modern. Selain alasan minimnya sarana, motivasi mereka untuk menguasai teknologi relatif rendah. Ini disebabkan juga karena sasaran komunikan PA, terutama PA Islam hanya terfokus pada majelis taklim dan kelompok-kelompok keagamaan lokal lainnya.

Model pendekatan yang berbeda dilakukan oleh PA Kristen, Katolik, dan Buddha di Manado di mana sasaran kelompok binaan penyuluh lebih bervariasi meliputi komunitas kaum muda, tukang ojek, tukang kayu, dan kelompok masyarakat lain. Bahkan di kota ini penyuluh agama Kristen, Katolik dan Buddha sudah menggunakan metode penyuluhan yang mengarah pada model bimbingan yang transformatif dan partisipatoris. Metode ini berbentuk seperti kritik film, permainan puzzle, diskusi kelompok, sharing pengalaman, dialog, permainan ular tangga bernuansa nilai-nilai agama, dan lain-lain.?

Penelitian dilakukan di Kota Medan, Lampung Tengah, Kota Padang, Kabupaten Kuningan, Kabupaten Lamongan, Kota Manado, Kabupaten Timor Tengah Utara, dan Kota Denpasar. (Mukafi Niam)

Ustadz Felix Siaw

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Cerita, AlaSantri, Kiai Ustadz Felix Siaw

Ustadz Felix Siaw

Senin, 03 Juli 2017

Guru, Penentu Penting Mutu Pendidikan

Jakarta, Ustadz Felix Siaw - Madrasah yang berkualitas harus memiliki pendidik yang unggul. Artinya, pendidik harus profesional dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Kompetensi guru yang memungkinkan untuk mengembangkan suatu lembaga pendidikan yang unggul menurut Trimantara yang dikutip Nur Azizah adalah kompetensi penguasaan mata pelajaran; kompetensi dalam pembelajaran; kompetensi dalam pembimbingan; kompetensi komunikasi dengan peserta didik; dan kompetensi dalam mengevaluasi.

Dalam upaya mengembangkan kompetensi tersebut, guru harus aktif belajar terus menerus dengan selalu membaca fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, sehingga pembelajaran bersifat faktual dan kontekstual. Guru juga harus mampu menilai hasil balajar ranah kognitif, psikomotorik dan afektif siswa, dan dapat mengetahui siapa dan ranah apa saja yang belum dikuasai oleh siswa. Dengan demikian guru tepat memberi pencerahan kembali kepada siswanya.

Guru, Penentu Penting Mutu Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Guru, Penentu Penting Mutu Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Guru, Penentu Penting Mutu Pendidikan

Menciptakan guru yang profesional dapat dilakukan oleh lembaga pendidikan madrasah melalui beberapa tahapan. Tahapan awal adalah persiapan pembelajaran dalam arti guru harus banyak membaca, dan mengikuti kursus, pelatihan, seminar, workshop. Lebih khususnya guru mengikuti kegiatan pembuatan program kerja guru melalui MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran). Kegiatannya meliputi penyusunan silabus dan pembuatan rencara pelaksanaan pembelajaran (RPP) sesuai dengan kurikulum 2013.

Ustadz Felix Siaw

Tahapan berikutnya, pelaksanaan pebelajaran, di mana guru harus fleksibel dalam penggunaan metode pembelajaran. Dalam arti metode pelaksanaan program pembelajaran disesuaikan dengan kondisi dan situasi peserta didik. Fokus pelaksanaan pembelajaran menyebar pada tiga ranah meliputi kognitif, afektif, maupun psikomotorik.

Ustadz Felix Siaw

Tahapan akhir yaitu penilaian pembelajaran. Penilaian harus dilakukan secara objektif dan transparan dengan berpatokan pada sistem penilaian kurikulum 2013. Guru harus mampu tanggap terhadap aktivitas pembelajaran dengan melakukan tindakan-tindakan yang dibutuhkan siswa sehingga tujuan pembelajaran akan tercapai.

Guru harus mampu tanggap terhadap aktivitas pembelajaran dengan melakukan tindakan-tindakan yang dibutuhkan siswa sehingga tujuan pembelajaran akan tercapai. Peranan guru yang sangat penting tersebut bisa menjadi potensi besar dalam memajukan atau meningkatkan mutu pendidikan. Guru yang benar-benar berlaku professional dan dapat mengelola dengan baik, tentunya mereka akan makin semangat dalam menjalankan tugasnya, bahkan rela melakukan inovasi-inovasi pembelajaran untuk mewujudkan.

Profesionalisme guru harus disikapi dengan peningkatan kualifikasi dan kompetensi, apalagi sekarang ada keharusan mengikuti uji sertifikasi untuk menentukan kelayakan seorang guru. Guru jangan sampai terkena “jebakan rutinitas”, di mana guru hanya disibukkan dengan kegiatan sehari-hari yang membedakan keadaan status sosial, ekonomi, dan jenis kelamin sehingga lupa dengan peningkatan kompetensi dan profesionalisme.

Perekrutan guru kelas unggul melalui 4 mata pelajaran yaitu Bahasa Arab, Bahasa Inggris, Matematika, dan IPA; tidak tergantung dengan guru PNS yang ada melainkan mencari yang memiliki kompetensi bidang studinya dan bisa berkomunikasi dengan menggunakan bahasa asing (Arab atau Inggris) walaupun belum berstatus PNS.

Program pengembangan guru diarahkan melalui penempatkan personil yang dapat melayani keperluan semua siswa, penyediaan guru yang memiliki wawasan “School Based Manajemen”, penyediaan kegiatan untuk pengembangan profesi pada semua staf dcan guru, penjamin kesejahteraan staf dan siswa, serta penyelenggaraan forum atau diskusi untuk membahas kemajuan sekolah (School performance).

Selain itu, guru didorong untuk meningkatkan kompetensinya melalui diklat atau workshop yang diadakan Kemenag, Diknas maupun Madrasah sendiri, bahkan dengan menggunakan biaya sendiri seperti kursus Bahasa Inggris dan belajar mengoperasikan komputer, LCD, atau kursus IT.

(Baca sebelumnya: http://www.nu.or.id/post/read/73204/kemenag-dongkrak-mutu-mts-melalui-kebijakan-inovatif) (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Lomba, AlaSantri, Internasional Ustadz Felix Siaw

Kiai Sahal: Waspadai Pihak yang Pecah Belah Umat Islam

Jakarta, Ustadz Felix Siaw. Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Sahal Mahfudh mengimbau umat Islam, khususnya warga NU, agar menjaga ukhuwah islamiyah. Banyak pihak yang tidak ingin umat Islam di Indonesia bersatu.

“Kita harus waspada. Ada pihak-pihak yang ingin memecah-belah umat Islam. Karena kalau umat Islam bersatu akan menjadi kekuatan besar,” katanya saat memberikan pengantar dalam rapat gabungan Syuriyah-Tanfidziyah di kantor PBNU, Jakarta, Rabu (7/11).

Kiai Sahal: Waspadai Pihak yang Pecah Belah Umat Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Sahal: Waspadai Pihak yang Pecah Belah Umat Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Sahal: Waspadai Pihak yang Pecah Belah Umat Islam

Kepada pengurus lengkap syuriyah dan tanfidziyah PBNU, Kiai Sahal juga berpesan agar semua menjaga kesatuan organisasi NU. Jangan sampai NU terpancing dengan berbagai  isu yang dihembuskan untuk memecah belah ukhuwah nahdliyah. “Bisa dari luar, atau dari dalam NU sendiri,” kata Kiai Sahal. 

Ustadz Felix Siaw

Rapat gabungan antara lain membahas tindak lanjut dari pelaksanaan Munas-Konbes NU 2012 di Cirebon beberapa waktu lalu. Dalam kesempatan itu Kiai Sahal menyampaikan terimakasih kepada para pengurus dan pihak-pihak yang telah bekerja mensukseskan pelaksanaan Munas-Konbes.

Ustadz Felix Siaw

Penulis: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Pesantren Ustadz Felix Siaw