Sabtu, 12 Juni 2004

Penderita HIV/AIDS Tak Boleh Didiskriminasi

Jakarta, Ustadz Felix Siaw. Para penderita Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deviciency Syndrome (HIV/AIDS) harus dihargai karena mereka masih bisa berkarya kepada masyarakat meskipun mengidap suatu penyakit berbahaya. “Mereka tidak boleh didiskriminasi dan harus diberdayakan,” kata John Alubwaman dari Komite Penanggulangan AIDS dalam seminar yang digelar Pengurus Wilayah Fatayat NU DKI Jakarta.

Walaupun bisa menular, interaksi dengan penderita HIV/AIDS melalui kontak biasa, makanan atau minuman, kolam renang, telpon, atau gigitan nyamuk tidak membahayakan. HIV/AIDS menular melalui seks tidak aman, penggunaan alat suntik, tato, tindik secara bergantian, melalui transfusi darah dan dari ibu ke bayinya.

Penderita HIV/AIDS Tak Boleh Didiskriminasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Penderita HIV/AIDS Tak Boleh Didiskriminasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Penderita HIV/AIDS Tak Boleh Didiskriminasi

Sampai bulan Maret 2006 tercatat 10.156 penderita HIV/AIDS di Indonesia dengan kecenderungan peningkatan yang besar. “Di Jakarta 64-70 persen penderita HIV/AIDS timbul karena penggunaan jarum suntik secara bergantian akibat penggunaan Narkoba,” tandasnya.

Untuk wilayah DKI Jakarta, John menunjukkan pada Juni-Desember, terdapat 317 penderita HIV/AIDS baru yang melaporkan. Para pekerja seks komersial yang jumlahnya sekitar 120-160 ribu di Jakarta juga sangat rawan sebagai media untuk menularkan penyakit ini.

“Ini merupakan fenomena gunung es, banyak sekali penderita HIV/AIDS yang tidak melaporkan dan secara diam-diam menularkannya kepada fihak lain,” tuturnya.

Ustadz Felix Siaw

HIV/AIDS sangat susah untuk dideteksi dan hanya dapat dipastikan melalui tes darah. Sampai saat ini orang yang memiliki resiko tinggi terhadap penderita HIV/AIDS kebanyakan masih enggan memeriksakan dirinya.

Salah satu upaya pemerintah untuk mengurangi penderita HIV/AIDS adalah memberikan obat secara gratis dan penggunaan jarum suntik sekali pakai. “Bahkan untuk pecandu Narkoba disediakan mogadon agar mereka tidak menggunakan jarum dan pelan-pelan bebas sebagai pecandu,” tuturnya.

Ustadz Felix Siaw

Penggunaan kondom sebenarnya merupakan upaya untuk mengurangi risiko bagi mereka yang tak bisa menahan diri. “Menurut ajaran agama, memang upaya yang paling ideal adalah menghindari seks bebas, tapi realitasnya di masyarakat kan beda,” katanya.

Sementara itu Ketua PW Fatayat NU DKI Hj. Karimah Hamid berpendapat bahwa keluarga memiliki peran yang sangat penting sebagai tempat untuk mensosialisasikan nilai-nilai yang paling intensif dan menentukan, terutama bagi para remaja. Farum lain yang dapat digunakan adalah pengajian dan majelis taklim, remaja masjid, rohis dan lainnya. (mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Humor Islam, Habib Ustadz Felix Siaw

Sabtu, 29 Mei 2004

PMII Unsuri Sidoarjo Siap Bentengi Kadernya dari Radikalisme

Sidoarjo, Ustadz Felix Siaw. Maraknya gerakan radikalisme yang masuk di Indonesia, membuat beberapa kalangan muda terutama aktivis yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) untuk turut andil dalam membentengi generasi penerus bangsa dari ancaman gerakan garis keras.

PMII Unsuri Sidoarjo Siap Bentengi Kadernya dari Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Unsuri Sidoarjo Siap Bentengi Kadernya dari Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Unsuri Sidoarjo Siap Bentengi Kadernya dari Radikalisme

Ketua Rayon PMII Univeritas Sunan Giri (Unsuri) Sidoarjo, Fakultas Ekonomi Manajemen, Bakri Irwan kepada Ustadz Felix Siaw menyatakan siap membentengi kadernya dari serangan-serangan yang bersifat kekerasan tersebut.

"Langkah pertama yang akan kami lakukan dalam membentengi kader PMII yakni dengan memberikan paham-paham Islam Nusantara, melakukan kajian-kajian ataupun membedah radikalisme itu sendiri," ungkap Bakri, Ahad (28/6).

Ustadz Felix Siaw

Pria yang baru mendapatkan amanah menjadi Ketua Rayon PMII Unsuri itu juga akan melakukan terobosan-terobosan baru untuk mencetak para kadernya, sehingga menjadi kader yang benar-benar militan.

"Kami ingin menciptakan iklim pergerakan yang berbasis intelektualitas, spiritualitas, sosial, serta berpegang teguh pada prinsip idealisme pergerakan yang berlandaskan Ahlu Sunnah wal Jamaah (Aswaja) sebagai manhajul fikr," tegasnya.

Ustadz Felix Siaw

Menurutnya, dengan mencetak kader yang berintelektual tinggi, berakhlakul karimah serta berpegang teguh pada prinsip idealisme pergerakan, merupakan tanggung jawab yang harus dia jalankan pada estafet kepemimpinan selama kurang lebih setahun (satu periode 2015-2016) kedepan.

"Kami akan terus membangun sistem pengkaderan yang berkesinambungan, membangun sistem organisasi yang profesional, melakukan evalauasi demi menjaga kesolidan antara kader dengan pengurus, berinteraksi sesama kader yang lain sehingga tidak mengakibatkan putus hubungan," paparnya.

Pemilihan Ketua Rayon PMII Unsuri Fakultas Ekonomi Manejemen yang digelar di kampus Unsuri gedung C, Jumat (26/6) lalu dihadiri beberapa pengurus PMII lainnya terdiri dari Rayon Nusantara, Rayon Al-Azhar, Komisariat Unsuri dan komisariat PMII perjuangan Unitomo. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Sejarah, Kajian Sunnah, Daerah Ustadz Felix Siaw