Rabu, 31 Januari 2018

Fungsi Dosen PAI di PTU Diambil Alih Organisasi Kemahasiswaan

Jakarta, Ustadz Felix Siaw. Sebuah keironisan terjadi terkait Pendidikan Agama Islam (PAI) di Perguruan Tinggi Umum (PTU). Peran dan fungsi pendidikan agama lebih banyak dilakukan oleh organisasi-organisasi kemahasiswaan dan organisasi kemasyarakatan dibanding dosen PAI itu sendiri.?

Kesimpulan tersebut berdasarkan hasil penelitian Pusat Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Agama (Puslitbang Penda) Balitbang dan Diklat Kemenag RI tahun 2015. Sedangkan pihak PTU sendiri tidak bisa mengontrol setiap kegiatan keagamaan yang dilakukan mereka sehingga penanaman ideologinya pun tak bisa dikendalikan.

Fungsi Dosen PAI di PTU Diambil Alih Organisasi Kemahasiswaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Fungsi Dosen PAI di PTU Diambil Alih Organisasi Kemahasiswaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Fungsi Dosen PAI di PTU Diambil Alih Organisasi Kemahasiswaan

Sedangkan fakta di lapangan yang terjadi selama ini, paham-paham Islam transnasional justru banyak berkembang di PTU. Alasan inilah yang harus menjadi perhatian penuh dosen PAI di PTU agar pemahaman agama tidak bergeser dari semangat kebangsaan Indonesia yang plural.

Kenyataan bahwa pendidikan agama di PTU lebih banyak dilakukan oleh organisasi kemahasiswaan memberikan kesan, peran dan tanggung jawab dosen PAI telah diambil alih oleh organisasi-organisasi tersebut.

Dalam penelitian, meskipun diakui bahwa pendidikan agama masih selaras dengan wawasan kebangsaan dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Namun, pendidikan agama yang masih sesuai dengan semangat kebangsaan tersebut hanya berlangsung seper sekian menit ketimbang kegiatan dan aktivitas pendidikan agama di luar perkuliahaan.?

Ustadz Felix Siaw

Penelitian itu mengungkapkan, kegiatan-kegiatan keagamaan yang mereka lakukan bersifat transnasional. Seperti yang telah kita mafhumi bersama, ideologi Islam transnasional bertujuan merongrong dasar negara Pancasila. Padahal Pancasila terbukti mampu menyatukan bangsa Indonesia yang majemuk ini.

Penelitian tersebut juga menyatakan, sumber daya manusia (SDM) tenaga pendidik baik kuantitas maupun kualitasnya dan juga dari segi sarana dan prasarana pendidikan agama Islam masih belum maksimal.?

Selain dari segi kuantitas dan kualitas SDM, keberadaan dosen agama masih sangat terbatas. Belum satupun dosen PAI (sasaran penelitian) yang telah mencapai posisi akademik tertinggi yaitu guru besar atau profesor. (Fathoni)

Ustadz Felix Siaw

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Budaya, Santri Ustadz Felix Siaw

Rais Aam PBNU Minta Pelajar NU Responsif dan Lebih Friendly

Jakarta, Ustadz Felix Siaw - Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ma’ruf Amin mengimbau IPNU-IPPNU agar responsif dengan mempersiapkan strategi yang lebih ramah dari segi sosialisasi. Strategi ini perlu ditempuh guna menyebarkan pengaruh pelajar NU ke ranah yang lebih luas.

Marketing friendly yang dikemas dengan kreatif dan inovatif akan mempengaruhi ketertarikan pelajar untuk bergabung dan menjadi bagian dari IPNU-IPPNU yang lahan garapannya berbasis pelajar.

Rais Aam PBNU Minta Pelajar NU Responsif dan Lebih Friendly (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais Aam PBNU Minta Pelajar NU Responsif dan Lebih Friendly (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais Aam PBNU Minta Pelajar NU Responsif dan Lebih Friendly

“Tentunya IPNU-IPPNU harus berani dan siapkan sebaik mungkin strategi branding. Memang sulit dilakukan, akan tetapi jika ide-ide itu tercetus melalui bentuk kegiatan yang menarik minat pelajar, harapan lebih jauh ranah IPNU-IPPNU tidak hanya pada pelajar di madrasah dan pesantren, akan jauh lebih baik jika mampu merambah luas ke sekolah-sekolah umum,” ujar Kiai Ma’ruf kepada Ustadz Felix Siaw di Gedung PBNU lantai 4, Rabu (23/3).

Ketua Umum MUI ini memaparkan bahwa saat ini kita sedang dalam masa perebutan pengaruh. Berbagai organisasi maupun paham telah mencoba masuk dalam bagian masyarakat melalui pendekatan yang strategis.

Ustadz Felix Siaw

Ustadz Felix Siaw

“Maka dari itu menjadi penting bagi IPNU-IPPNU agar bekerja keras menyebarkan pengaruhnya agar dapat diterima masyarakat kita harus mampu menjadi bagian dari mereka yang dikemas melalui media kreatif,” ujarnya.

Ia mengimbau agar kegiatan yang dilakukan oleh IPNU-IPPNU meski dalam konteks kekinian, tetapi tetap dalam koridornya dan tidak melanggar ajaran agama.

Kiai Ma’ruf menambahkan bahwa sangat diperlukan strategi branding untuk menunjukkan bahwa NU tidak polos.

“Orang awam akan menganggap NU itu polos dan konservatif. Mereka tidak mengetahui bahwa NU itu moderat, berpikir kritis, tidak tekstualis dan tidak liberalis. Singkatnya, saya menyebut itu moderat, dinamis, dan metodologis. Karena itu jelas dalam hal ini IPNU-IPPNU harus turut mengambil peran strategis,” pungkasnya. (Afifah Marwa/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Pondok Pesantren, Santri, Makam Ustadz Felix Siaw

Ngaji “Kilatan” Masih Diminati Santri

Kediri, Ustadz Felix Siaw

Sudah menjadi tradisi pada setiap bulan Ramadan, biasanya tiap pondok pesantren menggelar pengajian kitab kuning dengan sistem “kilatan” atau baca cepat. Kegiatan ini diperuntukkan bagi semua santri dari berbagai tingkatan yang tidak hanya diikuti oleh santri setempat, tapi juga dari pondok pesantren lain.

Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya di Kediri, Jawa Timur biasanya menjadi tumpuan para santri yang ingin ngaji kilatan atau tabarukan. Begitu juga tahun ini, ribuan santri dari berbagai daerah memilih tetap bertahan di sejumlah pondok pesantren untuk mendapatkan berkah (tabarukan) di bulan suci Ramadan dengan mengikuti program pengajian kitab kuning.

Salah satu pondok pesantren yang biasa mengadakan program semacam ini adalah Ponpes Al Falah, Ploso, Mojo, Kediri, menurut pengurus Ponpes Al Falah, Ali Muhsin, Jumat (29/9) menyebutkan, sekitar 2.000 santri dari berbagai daerah mengikuti pengajian kitab kuning selama bulan Ramadan.

Ngaji “Kilatan” Masih Diminati Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Ngaji “Kilatan” Masih Diminati Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Ngaji “Kilatan” Masih Diminati Santri

“Terhitung dari jumlah itu, sekitar 700 santri berasal dari ponpes lain di Pulau Jawa, sedang sisanya santri Ploso (Al Falah) sendiri yang memilih tidak pulang kampung, meski sebenarnya kegiatan belajar dan mengajar di bulan Ramadan ini diliburkan,” ungkapnya.

Sebagai contoh, pada Ramadan tahun ini, Ponpes Al Falah menjadwalkan satu kitab besar, yakni Tafsir Hadits Imam Muslim untuk ditamatkan dalam program pengajian kilat hingga hari ke-23 puasa Ramadan. Selain itu, masih ada sekitar 54 kitab lain yang dijadwalkan tamat dalam pertengahan bulan Ramadan, karena tingkat ketebalannya relatif lebih sedikit dibandingkan dengan Tafsir Hadits Imam Muslim.

Ustadz Felix Siaw

Pengajian yang sama juga diselengarakan di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri, terdapat sedikitnya 2.500 santri mengikuti tabarukan kitab kuning selama bulan Ramadan ini. Pengurus Ponpes Lirboyo, M Maftuh menyebutkan, dari jumlah tersebut 500 orang di antaranya adalah santri dari ponpes lain dan masyarakat umum.

“Pada Ramadan tahun ini kami mengadakan pengajian kitab besar ilmu tata Bahasa Arab karya Ibnu `Aqil yang dijadwalkan tamat pada hari ke-21 puasa,” tuturnya menjelaskan. Selain itu, tambah Maftuh, masih terdapat sekitar 50 kitab lain yang diajarkan dalam program pengajian kilat bulan Ramadan mulai pagi hingga malam hari.

Ustadz Felix Siaw

Program pengajian kilat yang diselenggarakan beberapa pesantren pada bulan Ramadan ini, merupakan program ekstra-kurikuler dan bukan sebagai suatu kewajiban bagi para santri, karena tahun pelajaran yang diterapkan di lingkungan ponpes biasanya diawali pada bulan Syawal dan berakhir pada bulan Rajab. (gpa/sam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Jadwal Kajian, Pertandingan Ustadz Felix Siaw

Selasa, 30 Januari 2018

Pendidikan Guru TPQ Awali Rangkaian Haflah Pesantren Tremas

Pacitan, Ustadz Felix Siaw - Pesantren Tremas Pacitan membuka rangkaian kegiatan Haflah Akhiruddirasah dan Wisuda Purna Belajar santri kelas III Madrasah Aliyah Salafiyah Muadalah. Haflah ini diawali dengan pendidikan dan pelatihan (Diklat) Guru Taman Pendidikan Qur’an (TPQ) dan Madrasah Diniyah (Madin), Jum’at-Sabtu (20-21/5).

Diklat ini yang terselenggara atas kerja sama pihak pesantren dan Kantor Kementrian Agama Kabupaten Pacitan ini diikuti oleh 500 santri dan puluhan ustadz-ustadzah pengelola TPQ Madin se-Kabupaten Pacitan. Panitia Diklat menghadirkan trainer pembina guru/ustadz dan pendongeng kenamaan dari Yogyakarta Ustadz Wuntat Wawan Sembodo.

Pendidikan Guru TPQ Awali Rangkaian Haflah Pesantren Tremas (Sumber Gambar : Nu Online)
Pendidikan Guru TPQ Awali Rangkaian Haflah Pesantren Tremas (Sumber Gambar : Nu Online)

Pendidikan Guru TPQ Awali Rangkaian Haflah Pesantren Tremas

Pengasuh Pesantren Tremas KH Luqman Harits Dimyathi mengatakan, santri lulusan pesantren harus mau mengamalkan ilmunya dengan terjun dan mengajari masyarakat sekitar tempat mereka tinggal dengan ilmu yang telah mereka peroleh dari pesantren.

Ustadz Felix Siaw

“Tidak boleh seorang santri itu menyembunyikan ilmunya. Harus mengajarkan dan menyebarluaskan kepada masyarakat sekitar,” ungkap Koordinator Nasional Gerakan Ayo Mondok itu.

Ustadz Felix Siaw

Terjun mengamalkan ilmu, kata Kiai Luqman, terlebih dahulu harus dimulai dari hal terkecil, yakni dengan mengajari anak-anak kecil belajar Al-Qur’an dan dasar-dasar ilmu agama di mushalla atau di masjid. Taman pendidikan Al-Qur’an dan madrasah diniyah, menurutnya, merupakan tempat berpijak bagi santri untuk mengabdikan diri kepada masyarakat.

“Diklat ini sengaja dilakukan untuk membekali para santri agar mampu mengajari dan mendidik anak-anak kecil dengan baik. Sebab, mendidik anak kecil lebih sulit daripada mendidik anak remaja. Maka diperlukan kemampuan khusus untuk menanganinya,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Seksi PD dan Pontren Kemenag Pacitan Mutongin yang hadir membuka acara mengatakan, Kementrian Agama merasa terbantu dengan diklat yang diadakan oleh Pesantren Tremas Pacitan ini. Sebab di antara program Kemenag adalah membina, mengembangkan, dan meningkatkan kulitas guru TPQ-Madin.

“Kami merasa terbantu sekali. Semoga kerja sama ini terus berlanjut. Kami berharap diklat ini bisa bermanfaat bagi peningkatan kualitas pendidikan TPQ dan madrasah diniyah yang ada di Kabupaten Pacitan,” katanya.

Sementara itu Ustadz Wuntat Wawan Sembodo menyampaikan materi diklat dengan kreatif dan menarik. Dengan gaya humornya, ia berhasil membuat ratusan peserta terpingkal-pingkal. Ia mampu menirukan dan mempraktikkan sosok anak kecil dengan segala keluguan dan kelucuanya.

Ia menyampaikan beberapa materi seperti pengelolaan manajemen TPQ, metode BCM (Bermain, Cerita, dan Menyanyi), dan metode pembelajaran Al-Quran, melalui metode Iqro.

"Bila kita mengajar anak, maka kita harus benar-benar masuk ke dalam dunia mereka," ujarnya.

Sementara itu, puncak Haflah Akhiruddirasah dan Wisuda Purna Belajar Santri akan berlangsung pada Jumat (27/5) malam. Beberapa kegiatan lain akan digelar seperti tasyakuran dan penutupan asrama, Wisuda Santri TPQ Madin, Mega Konser Sanggar Seni Attarmasi (Garnisi), dan pengajian yang rencananya akan dihadiri oleh Rais Aam Nahdlatul Ulama KH Maruf Amin. (Zaenal Faizin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Internasional, Sejarah, Pemurnian Aqidah Ustadz Felix Siaw

LAZISNU akan Salurkan 15.000 Paket Sembako dan 10.000 Santunan Yatim

Jakarta, Ustadz Felix Siaw. Pengurus Pusat Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) akan menyalurkan sebanyak 15.000 paket sembako dan 10.000 santunan untuk anak yatim pada bulan Ramadhan 1436 H ini.

LAZISNU akan Salurkan 15.000 Paket Sembako dan 10.000 Santunan Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)
LAZISNU akan Salurkan 15.000 Paket Sembako dan 10.000 Santunan Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)

LAZISNU akan Salurkan 15.000 Paket Sembako dan 10.000 Santunan Yatim

“Paket sembako dan santunan ini adalah program rutin PP LAZISNU pada setiap bulan Ramadhan,” kata Ketua PP LAZISNU KH Masyhuri Malik ditemui di kantornya lantai 2 gedung PBNU, Jalan Karamat Raya 164 Jakarta Pusat, Senin (22/6).

Ditambahkan, paket sembako dan santunan yang akan disalurkan pada bulan Ramadhan ini diperoleh dari para muzakki dan dermawan yang sudah rutin menyalurkan zakat dan sedekahnya melalui LAZISNU.

Ustadz Felix Siaw

Sementara itu Manager Fundrising dan Program PP LAZISNU Nur Rohman mengatakan, tema yang diambil oleh PP LAZISNU dalam pengumpulan zakat, infaq dan shadaqah pada bulan Ramadhan tahun ini adalah “Bangkit Sedekah”.

Ustadz Felix Siaw

“Sedekah yang kita maksudkan di sini bermakna umum, menyangkut zakat, infaq dan shadaqah,” katanya.

Salurkan zakat, infaq, dan sedekah Anda melalui LAZISNU ke nomor rekening BNI 010.85723.08 untuk zakat dan BNI 010.85756.48 untuk infak dan shadaqah serta rekening Mandiri 123.000.483. 8951 untuk zakat  dan Mandiri 123.000.483.8977 untuk infaq dan shadaqah atau datang langsung ke kantor PP LAZISNU di Gedung PBNU, Lantai 2, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat. Telp 021-3102913 SMS 0813.9800.9800. (Red: Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Hikmah, Sunnah, Anti Hoax Ustadz Felix Siaw

Ahlussunnah wal Jamaah Sebagai Manhajul Fikr

Oleh Deni Gunawan



Ahlusunnah wal Jamaah atau yang sering disingkat Aswaja secara sederhana dapat diartikan sebagai kelompok yang mengikuti sunnah Nabi dan ajaran para sahabat Nabi yang merupakan santri nabi itu sendiri. Aswaja oleh sebagian orang sering dianggap sebagai madzhab, sebagian lainnya lagi menyebutnya sebagai manhajul fikr (metode berfikir). Untuk sementara saya memakai pengertian yang kedua (dengan berbagai peradabannya).

Ahlussunnah wal Jamaah Sebagai Manhajul Fikr (Sumber Gambar : Nu Online)
Ahlussunnah wal Jamaah Sebagai Manhajul Fikr (Sumber Gambar : Nu Online)

Ahlussunnah wal Jamaah Sebagai Manhajul Fikr

Aswaja sebagai manhajul fikr adalah respon para sahabat atas situasi umat yang kacau pada saat itu. tidak dapat dipungkiri bahwa kemunculan firqah-firqah (kelompok mazhab Islam) banyak dilatar? belakangi oleh situasi politik umat Islam saat itu.

Ustadz Felix Siaw

Setelah wafatnya Nabi, para pemimpin Muslim harus menentukan bentuk umat seperti apa yang harus mereka pilih. Sebagian mungkin tidak percaya jika harus ada “negara” dengan demikian tidak perlu satu pimpinan untuk memimpin keseluruhan suku dan kelompok pada saat itu. Sementara sebagian yang lain seperti Abu Bakar dan Umar berpendapat bahwa umat harus memiliki satu pemimpin sebagaimana pada saat Nabi. Sementara sebagian yang lainnya lagi percaya bahwa Ali bin Abi Thalib yang paling berhak atas tampuk kepemimpinan setelah Nabi. Di Arab yang menganggap bahwa ikatan darah sangat sakral, kualitas pemimpin dipercaya akan diwariskan kepada keturunannya dan sebagian warga Muslim percaya bahwa Ali telah mewarisi sebagian kharisma khusus Muhammad.

Ustadz Felix Siaw

Pada akhirnya, walaupun kesalehan Ali tidak diragukan lagi, tetapi dia masih sangat muda dan belum berpengalaman. Dengan demikian, Abu Bakar dipilih menjadi khalifah pertama Nabi melalui suara mayoritas. Meski singkat, suasana politik dan kepemimpinan terbilang cukup stabil, hingga sampai pada masa Umar dan Utsman di mana situasi politik tidak stabil, yang membuat keduanya mati dibunuh. Hingga tiba pada masa kepemimpinan Ali sebagai klimaks dari situasi politik yang tidak stabil pada era sebelumnya.

Ali menghadapi situasi yang sulit, ia harus menghadapi kelompoknya sendiri, serta kelompok pemberontak lainnya yang tak suka dan puas dengan kepemimpinannya. Ali harus menghadapi Aisyah dalam perang Jamal. Lalu menghadapi Muawaiyah dalam perang Shiffin. Dalam situasi ini Muawiyah yang menyadari kekalahannya kemudian memainkan peran politiknya. Ia menancapkan Al-Qur’an di tombak sebagai bentuk perdamaian dengan Ali. Di pihak Ali terpecah dalam menyikapi ini, pada akhirnya terjadilah arbitrase di mana Muawiyah secara ambisius mengambil alih kekuasaan dari Ali. ?

Kelompok loyalis Ali kemudian terpecah. Mereka yang setia dengan Ali disebut Syiah dan kelompok yang semula setia pada Ali lalu keluar dari barisannya karena merasa tidak puas dengan arbitrase dan menganggap Ali telah berlaku khianat terhadap hukum Allah disebut sebagai Khawarij (ekstremis).

Situasi politik yang kacau, sementara masing-masing pihak saling tuding, menambah rumit kondisi umat. Barisan setia Ali merasa Ali-lah yang paling berhak atas kepemimpinan dan merasa telah dibohongi serta dikhianati oleh pihak Muawiyah. Sementara pihak Muawiyyah sebaliknya merasa Muawiyah adalah pemimpin yang sah dan arbitrase adalah keadaan yang sudah ditakdirkan oleh Allah untuknya sehingga tidak boleh digugat, yang menggugat berarti melawan Allah. Di sisi lain kelompok Khawarij menganggap kedua belah pihak adalah thagut dan telah kafir dari hukum Allah sehingga halal darahnya (dibunuh).

Khawarij menghendaki kedua orang tersebut harus diperangi, hal ini sesuai doktrin mereka “la hukma illa lillah”, tidak ada hukum kecuali hukum Allah. Doktrin ini kerap kali digunakan oleh kelompok ekstremis dewasa ini. Pada dasarnya teks tersebut berbicara benar, namun interpretasi atas teks tersebut kemudian yang salah. Singkatnya, terjadilah konsfirasi untuk membunuh Ali dan Muawiyah yang pada akhirnya berhasil membunuh Ali, sedang Muawiyah lolos dari usaha pembunuhan tersebut.

Situasi yang kacau, saling menyalahkan, memfitnah dan membunuh saat itu memunculkan sekelompok orang yang memiliki pemikiran untuk menjaga peradaban dan keamanan umat. Bagi kelompok tersebut, situasi chaos jika tetap dibiarkan akan menyengserakan umat dan membawa umat pada kemunduran dan kehancuran. Karena hal itulah perlu usaha untuk menjaga kemananan dan menyelamatkan peradaban umat.

Cara berpikir demikianlah yang disebut dengan Aswaja sebagai manhajul fikr. Kata Aswaja sendiri memang belum ada pada masa Nabi ataupun masa awal kekhalifahan yang empat. Namun orang-orang yang memiliki cara berpikir ala Aswaja telah ada pada masa itu. Bagi kelompok Aswaja, situasi yang terjadi setelah wafat Nabi di Tsaqifah antara Abu Bakar, Umar dan beberapa tokoh sahabat yang lain adalah salah satu bentuk dari upaya ijtihad politik.

Dalam hal ini, ijtihad politik dipandang secara akomodatif, dimana hasil ijtihad yang benar maka berpahala dua, namun jika salah maka pahalanya satu. Dengan demikian kelompok yang berpikir dengan prinsip Aswaja ini melihat perdebatan panjang yang terjadi mengenai siapa yang paling berhak atas kepemimpinan setelah Nabi lebih bersifat terbuka, dinamis dan toleran. Cara berpikir di atas juga diterapkan dalam kasus arbitrase antara Ali dan Muawiyah, dan hal ini tentu berbeda dengan cara pandang kelompok Khawarij yang sangat ekstremis, kelompok Ali yang sangat sektarian dan begitu juga dengan kelompok Muawiyah.

Cara berpikir dengan prinsip Aswaja ini kemudian diadopsi oleh Nahdhatul Ulama (NU) di Indonesia. NU yang bermazhab Sunni memakai prinsip Aswaja dalam merumuskan kultur gerakan dan keagamaannya. Karena hal yang demikian pula NU seringkali dituding sebagai kelompok yang oportunis, hal ini bisa diterima karena mereka yang menganggap demikian tidak memahami NU dan keAswajaannya, padahal oportunisme dengan prinsip keAswajaan NU sangatlah berbeda.

Aswaja sebagai manhajul fikr adalah upaya dari cara berpikir yang bertujuan menjaga peradaban dan stabilitas keamanan manusia di muka bumi. Aswaja menolak cara-cara berpikir dan bertindak licik, kasar, merusak, intoleran serta hal-hal yang membawa pada chaos dan kemudharatan. Karena itu kelompok Aswaja, misalnya NU sebagai prototype Islam Aswaja di Indonesia sangat teguh menjaga tradisi sembari terus mengikuti perkembangan zaman (al-muhafazhatu alal qadimis-shalih wal akhdzu bil jadidil-ashlah). Tidak hanya itu, bahkan tidak hanya menjaga dan mengambil, Aswaja juga menghendaki produksi dan kreativitas setiap saat dalam hal-hal positif (al-ijad).

Konsep Aswaja oleh NU kemudian ditelurkan menjadi beberapa nilai, selain nilai kuliyah al-khamsah yang sudah diyakini sebelumnya dalam Islam secara kesuluruhan, nilai-nilai itu antara lain, tawasuth (moderat) seorang Muslim haruslah dapat bersikap moderat tidak timpang dalam menyikapi persoalan, tasamuh (toleran) seorang Muslim haruslah bersikap toleran dengan cara menghargai orang atau kelompok lain di luar dirinya sebagaimana ia menghargai diri dan kelompoknya sendiri, tawazun (imbang) seorang Muslim harus berimbang dan mampu menakar setiap persoalan sesuai timbangannya tidak curang dan zalim, dan taaddul (adil) seorang Muslim harus mengedepankan keadilan, keadilan harus diperjuangkan dan ditegakkan dalam segala hal dan kondisi dalam melihat persoalan apapun.

Penulis adalah aktivis PMII Cabang Jakarta Selatan



Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Habib, Pesantren Ustadz Felix Siaw

Jangan Jadikan UN Tolok Ukur Kelulusan

Jakarta, Ustadz Felix Siaw. Kebijakan Ujian Nasional (UN) yang dikeluarkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI mendapat sorotan serius Lembaga Pendidikan Ma’arif NU. Lembaga yang menaungi pendidikan dasar dan menengah NU ini menolak, UN menjadi penentu tunggal kelulusan peserta didik.

Penolakan ini muncul dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) LP Ma’arif NU bertema ”Penguatan Tata Kelola Pendidikan Ma’arif NU sebagai Manifestasi Peningkatan Kualitas Pendidikan Nasional” di Jakarta, 21-23 Januari 2013. Rakernas diikuti sedikitnya 70 pengurus dari seluruh provinsi di Indonesia.

Jangan Jadikan UN Tolok Ukur Kelulusan (Sumber Gambar : Nu Online)
Jangan Jadikan UN Tolok Ukur Kelulusan (Sumber Gambar : Nu Online)

Jangan Jadikan UN Tolok Ukur Kelulusan

Forum menyepakati perlunya Kemendikbud RI mengubah kebijakan evaluasi pendidikan yang menjadikan UN sebagai satu-satunya barometer kelulusan peserta didik. Seharusnya, UN hanya digunakan sebagai proses pemetaan mutu pendidikan yang menunjang program prioritas pemerintah ke depan.

Ustadz Felix Siaw

”Sedangkan masalah kelulusan, kewenangannya diserahkan kepada satuan pendidikan masing-masing sesuai dengan prinsip desentralisasi yang menjadi filosofi UU Sisdiknas No 20 Tahun 2003,” kata Ketua Komisi Rekomendasi H Abdul Ghofarruzin saat membacakan butir rekomendasi.

LP Ma’arif NU menekankan pentingnya kebijakan pendidikan nasional menghormati karakter unik di setiap satuan pendidikan. Karena itu, kurikulum 2013 harus menyelaraskan diri dengan karakter lokal pendidikan di madrasah LP Ma’arif NU.

Ustadz Felix Siaw

”Selain itu, perlu juga dibangun pemahaman bersama bahwa pendidikan bukan hanya ruang lingkup kegiatan yang terjadi di dalam sekolah. Pemerintah ke depannya harus melihat keterkaitan nilai strategis yang ada di keluarga, masyarakat dan sekolah dalam proses pendidikan,” imbuh Ghofarruzin.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis ? ? : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Pertandingan, Meme Islam, Bahtsul Masail Ustadz Felix Siaw

Kader Ulama se-Jabodetabek Ikut Kursus Singkat Tasawuf Pesantren Al-Tsaqafah

Jakarta, Ustadz Felix Siaw. Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah asuhan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj hari ini, Kamis (19/12), membuka Kursus Singkat Tasawuf sebagai Etika Sosial. Peserta kursus ialah pengasuh pesantren, ustadz, dan santri utusan dari berbagai pesantren di Jakarta dan sekitarnya.

Kader Ulama se-Jabodetabek Ikut Kursus Singkat Tasawuf Pesantren Al-Tsaqafah (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader Ulama se-Jabodetabek Ikut Kursus Singkat Tasawuf Pesantren Al-Tsaqafah (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader Ulama se-Jabodetabek Ikut Kursus Singkat Tasawuf Pesantren Al-Tsaqafah

Kegiatan ini diselenggarakan atas kerjasama Pesantren Al-Tsaqafah dan Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementrian Agama RI. Pembukaan kegiatan ini disaksikan KH Said Aqil Siroj, seorang narasumber KH Wahfiyudin, dan Kasie Ketenagaan Subdit PD Pontren Kemenag RI Suwendi.

Latar belakang kursus ini adalah bahwa tasawuf merupakan sebuah misi kemanusiaan yang menggenapi misi Islam secara kaffah baik dari dimensi iman, islam, maupun ihsannya. Karenanya, Yayasan Said Aqil Siroj (SAS) Pondok Pesantren Luhur al-Tsaqafah berupaya menjadi mediator dan fasilitator dalam membumikan tasawuf sebagai etika sosial.

Ustadz Felix Siaw

Tema “Tasawuf sebagai Etika Sosial” merupakan bentuk refleksi dari upaya memperkuat pola pikir tawasuth (moderat), tawazun (keseimbangan), itidal (jalan tengah), dan tasamuh (toleran) dalam Islam.

Ustadz Felix Siaw

Tasawuf ditinjau kembali dari dimensi partikularnya, yang hanya sebatas ritual dan kesalehan individu. Tasawuf selanjutnya menempati posisi sebagai aktualisasi dimensi ihsan. Dalam praktik umat Islam sehari-hari, dimensi ihsan ini diwujudkan dalam bentuk dan pola beragama.

“Melalui ini, Pesantren Al-Tsaqafah berupaya menjadikan tasawuf sebagai metodologi dalam memahami realitas sosial sekaligus sebagai kritik sosial,” kata Kiai Said dalam sambutannya di Pesantren Al-Tsaqafah jalan M Kahfi I nomor 22 Cipedak Jagakarsa, Jakarta Selatan, Kamis (19/12).

Ketua Panitia Ashif Shofiyullah mengatakan, bicara etika dalam Islam berarti berbicara tentang prinsip pokok dan misi dasar Islam sebagai agama bumi yang diturunkan oleh Allah sebagai rahmat bagi alam semesta.

Urgensi tasawuf dengan menelaah dan meninjaunya kembali melalui perspektif universalitas dan partikularitasnya sebagai sebuah disiplin ilmu yang menitikberatkan pada nilai, menemukan konteksnya, ujar Ashif. (Muhammad Idris Masudi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Tegal, Nasional, Sejarah Ustadz Felix Siaw

Senin, 29 Januari 2018

Penegakan Hukum Kunci Demokrasi ala Gus Dur

Jakarta, Ustadz Felix Siaw



Peneliti Kebijakan Publik, Ahmad Maftuchan mengatakan, dalam berdemokrasi, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) bukan hanya bertindak sebagai pemikir, namun juga mempraktikannya. Lebih jauh, kita bisa mengeja demokrasi karena kedalaman pikiran dan tindakan nyata Gus Dur.

Penegakan Hukum Kunci Demokrasi ala Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Penegakan Hukum Kunci Demokrasi ala Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Penegakan Hukum Kunci Demokrasi ala Gus Dur

Hal tersebut disampaikan Maftuchan pada sesi ‘Gus Dur dan Demokrasi’ dalam Kelas Pemikiran Gus Dur (KPG) 2, Jaringan GusDurian Jakarta di kantor Yayasan Puan Amal Hayati, Ciganjur, Jakarta Selatan, Sabtu (1/4).

“Saya pernah menemani petani-petani yang menolak pabrik semen di Pati untuk bertemu Gus Dur. Waktu itu para petani bercerita saat ditangani polisi mendapatkan kekerasan, lalu memblokade jalan. Mereka juga meminta Gus Dur untuk langsung membela mereka. Mereka yang hadir berharap Gus Dur memberikan statmen yang keras yang bisa menggelorakan semangat. Tetapi Gus Dur justru memberikan statemen yang mencerminkan sikap kenegaraan yang sudah tinggi sekali yakni penegakan hukum,” urai Maftuchan.

Menurut Direktur Perkumpulan Prakarsa itu, ide Gus Dur dalam demokrasi menjadikan penegakan hukum sebagai kunci. Selain beraksi, juga harus menjunjung penegakan hukum, karena penegakan hukum adalah adalah kunci bernegara.?

“Para petani itu kaget dengan saran GD. Kita tahu bahwa upaya hukum yang menyangkut masyarakat kecil biasanya tidak berpihak dan biayanya mahal seperti datang ke pengadilan, membiayai pengacara, melakukan kajian hukum. Juga memakan waktu lama karena ada sidang-sidang,” Maftuchan meneruskan cerita.

Ustadz Felix Siaw

Namun, dari kejadian tersebut, demikian Maftuchan, bisa disimpulkan bagaimana cara untuk mengeja cara Gus Dur dalam demokrasi, yakni tegaknya hukum. Hukum sebagai panglima dalam kehidupan bernegara.

“Oleh karenanya kemudian timbul pertanyaan, apakah demokrasi akan berada hanya di tangan satu dua kekuasaan saja?” renung Maftuchan.

Dalam menyebarkan pemikirannya tentang demokrasi, Gus Dur memiliki strartegi khusus, yakni mengirimkan tulisannya ke berbagai media.

Ustadz Felix Siaw

“Omong-omong soal menulis, beliau tidak memperhitungan medianya apa. Tidak pilih-pilih hanya menulis untuk media besar saja. Beliau pemurah dalam mengirimkan tulisan. Beliau membagi rata diseminasi gagasan. Belum lagi judul, misalnya ‘Demokratisasi Model Kampung’. Ini bukan judul asal. Ini bukan saja sari pati demokrasi di mana ada satu pertanyaan yang sederhana: apakah kita akan mementangkan pencapaian individu dan masyarakat secara penuh atau menyerahkan sepenuhnya pada penguasa sebagai strategi kuno,” papar Maftuchan.

Demokrasi dan kebebasan merupakan satu kata kunci. Gus Dur menawarkan itu sebagai model kampung. Dengan strategi tersebut, Gus Dur mewujudkan adanya perlakuan warga yang sama di mata UUD. Ketimpangan bisa diselesaikan dan demokrasi benar-benar meaningful dalam konteks yang lebih luas.?

Dari cerita ini bisa ditarik dalam kontekas yang lebih luas ketika mendampingi petani Kendeng, tulisan itu berkaitan. “Tulisan itu nyambung dengan perilaku keseharian Gus Dur. Tidak ada perbedaan atara ? tulisan dengan yang dijalankan Gus Dur,” tegas Maftuchan. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Amalan, Nahdlatul, Kajian Islam Ustadz Felix Siaw

Ketum PP IPNU Harap Kader Istiqomah Jalankan Organisasi

Jakarta, Ustadz Felix Siaw. Tasyakur hari lahir (harlah) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) yang digelar di Gedung PBNU lantai 8, Jumat, (24/2) diwarnai dengan pemotong tumpeng.

Seusai acara sambutan dan arahan dari alumni berakhir, Resepsi Hari Lahir ke-63 IPNU dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng. Asep didampingi Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia Ubaedillah Sadewa dan Wakil Sekretaris PWNU Yogyakarta Masyhuri memotong tumpeng. Potongan demi potongan tumpeng pun dibagikan kepada rekan-rekan alumni IPNU.

Ketum PP IPNU Harap Kader Istiqomah Jalankan Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketum PP IPNU Harap Kader Istiqomah Jalankan Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketum PP IPNU Harap Kader Istiqomah Jalankan Organisasi

Sebelumnya, dalam sambutannya, Ketua Umum Pimpinan Pusat Asep Irfan Mujahid berharap agar IPNU selalu istiqomah dalam menjalankan roda organisasi, merealisasikan amanat yang dimandatkan kepada IPNU sesuai sektor garapannya, yakni pelajar dan santri.

“Mohon doanya dari rekan-rekan senior, para kader, dan seluruh yang hadir di sini, semoga kami selalu diberikan keistiqomahan, kami senantiasa diberikan kekuatan, ketabahan, kesabaran dalam menunaikan amanat organisasi yang dimandatkan kepada IPNU,” harap Asep.

Ada peristiwa menarik pada acara tersebut. Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PP IPPNU) membawa kue bolu yang di atasnya menyala api lilin angka 63.

Ustadz Felix Siaw

Pria asal Ciamis itu terlihat kesusahan mematikan nyala api lilin itu. Ia berulang kali mengembuskan tiupannya. Namun api itu tetap hidup, seperti semangat rekan-rekan IPNU yang masih setia sampai akhir acara, meski sudah mendekati tengah malam. (Syakir/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw

Ustadz Felix Siaw Kyai, Olahraga, Nusantara Ustadz Felix Siaw

Calon Presiden Indonesia Tidak Boleh Pengkhianat

Jakarta, Ustadz Felix Siaw. H Rhoma Irama dalam taushiyah istighotsah di halaman Gedung PBNU meminta warga membantu penyelenggara Pilpres Juli mendatang untuk menyeleksi ketat calon Presiden Indonesia ke depan. Capres itu, menurutnya, mesti bebas dari segala bentuk pelanggaran hukum termasuk pengkhianatan terhadap negara.

Calon Presiden Indonesia Tidak Boleh Pengkhianat (Sumber Gambar : Nu Online)
Calon Presiden Indonesia Tidak Boleh Pengkhianat (Sumber Gambar : Nu Online)

Calon Presiden Indonesia Tidak Boleh Pengkhianat

“Kualitas Presiden Indonesia harus ditentukan sejak penyeleksiannya oleh penyelenggara Pilpres,” ujar H Rhoma yang kerap dipanggil Bang Haji di hadapan sedikitnya 150 jamaah istighotsah di halaman PBNU Jakarta Pusat, Rabu (30/4) malam.

Menurutnya, sosok pemimpin harus memiliki sifat sidiq. Lebih dari sekadar jujur, sifat sidiq dipahaminya sebagai sebuah kebersihan seorang pemimpin dari segala bentuk cacat baik secara moral, hukum, maupun konstitusional.

Ustadz Felix Siaw

“Artinya ia tidak pernah tercatat sebagai pelaku tindakan kejahatan atau pengkhianatan terhadap negara pada masa lalu. Kejahatan korupsi dan kelalaian terhadap pemerataan ekonomi merupakan satu bentuk pengkhianatan terhadap UU selain berbuat makar,” kata Bang Haji.

Ustadz Felix Siaw

Di samping itu, pemimpin Indonesia harus bertakwa kepada Allah SWT. “Ketakwaan ini syarat mutlak pemimpin Indonesia. Takwa menjadi modalnya dalam menjalankan pemerintahan sesuai amanah UUD 1945,” ujar Raja Dangdut yang mengenakan kopiah dan pakaian serba putih.

Menutup taushiyahnya, Bang Haji mengajak jamaah untuk melantunkan bersama bait sebuah lagunya, “Hai manusia, hormati ibumu; yang melahirkan; dan membesarkanmu.” (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Khutbah Ustadz Felix Siaw

Minggu, 28 Januari 2018

Hayati Idul Fitri dengan Menjadi Hamba yang Bersih

Jakarta, Ustadz Felix Siaw. Setelah berpuasa selama satu bulan penuh, akhirnya umat Islam di seluruh dunia merayakan hari raya Idul Fitri atau hari kemenangan.

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menyampaikan pesan Idul Fitri, “Kepada seluruh umat Islam, mari kita hayati arti Idul Fitri dengan menjadi hamba Allah yang bersih dan mari kita sempurnakan dengan saling silaturrahim dan saling memaafkan.”

Kiai Said mengutip sebuah ajaran Islam “Innama amwalukum waaulaadukum fitnah” yang dapat dimaknai bahwa dalam kehidupan sehari-hari, selalu ada kesalahan dan dengan saling memaafkan, maka kesalahan tersebut selesai.

Hayati Idul Fitri dengan Menjadi Hamba yang Bersih (Sumber Gambar : Nu Online)
Hayati Idul Fitri dengan Menjadi Hamba yang Bersih (Sumber Gambar : Nu Online)

Hayati Idul Fitri dengan Menjadi Hamba yang Bersih

Ia mengingatkan bahwa Islam adalah agama yang damai, yang mengajarkan untuk saling memaafkan, bukan saling membunuh. “Kelompok Islam yang mengajarkan kebencian bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri.

Ustadz Felix Siaw

Dakwah dengan pendekatan budaya yang dilakukan oleh para Walisongo terbukti lebih berhasil daripada pendekatan lewat perang sebagaimana terjadi di Spanyol. Tanpa terasa nilai-nilai Islam terinternalisasi. 

“Islam Indonesia adalah Islam mayoritas yang tidak sombong, bahkan mayoritas melindungi minoritas.” (Mukafi Niam)

Ustadz Felix Siaw

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Pesantren Ustadz Felix Siaw

Hikayat Kencing Arab Badui di Masjid Nabawi

Alkisah, suatu hari Masjid Nabawi kedatangan seorang Arab dari wilayah perkampungan. A’rabiy istilahnya. Kemudian, tak lama setelah itu, ternyata orang Arab badui tersebut buang air kecil di area masjid Nabawi.

Patut Anda ketahui,bahwa masjid pada masa Nabi jelas tidak seperti masjid kita saat ini, yang menggunakan karpet, dikeramik lantainya, serta dibangun megah. Masjid pada masa Nabi beralaskan tanah, sehingga jika ada hujan, maka tanahnya menjadi basah dan repot digunakan beribadah.

Bagaimana selanjutnya? Orang Arab kampung yang kencing di masjid Nabawi itu tentu saja segera dikerubung para sahabat Nabi. Mereka mencela dan meneriaki perbuatan itu, sebagai sesuatu yang tentu saja kelewatan.

Hikayat Kencing Arab Badui di Masjid Nabawi (Sumber Gambar : Nu Online)
Hikayat Kencing Arab Badui di Masjid Nabawi (Sumber Gambar : Nu Online)

Hikayat Kencing Arab Badui di Masjid Nabawi

“Sungguh buruk apa yang ia lakukan,”. Demikian ucapan salah seorang sahabat, sebagaimana diriwayatkan dalam kitab hadits Shahih Muslim.

“Wahai kalian,” Nabi melerai mereka. “Biarkan saja dia sampai selesai,” bahkan dalam riwayat lain disebutkan, ”Siapa tahu dia akan masuk surga.” Sahabat yang mengetahui hal itu segera berhenti mencela orang Arab badui tadi.

Setelah orang Arab badui itu berlalu, Nabi meminta kepada sahabat untuk mengambil air sekitar satu timba. “Siramkan air itu  di atas tanah yang dikencingi tadi,” kata beliau.

Ustadz Felix Siaw

Dari kisah tersebut, tentu satu hal yang dapat dipahami adalah betapa pengasihnya Kanjeng Nabi dalam mengajari umat. Beliau tidak langsung mengingatkan perbuatan si Arab dari kampung itu. Tentu si Arab badui itu akan merasa malu. Pun kepada para sahabat, Rasulullah juga melarang untuk mencela sebuah kekeliruan. Nabi tidak mencela mereka, malah mengajari mereka bagaimana cara menyucikan suatu najis.

Ustadz Felix Siaw

Kita bisa mengambil hikmah dari kisah tersebut. Nabi datang ke Madinah dengan tujuan yang mulia. Beliau dengan sifat pengasihnya menuntun umat menuju kebaikan. Beliau sangat berhati-hati mendahulukan welas asih dibanding benar meskipun lebih mengetahui tentang syariat, agar kerukunan tetap terbina. 

Jika saja dalam kisah tersebut Nabi langsung menyentak si Arab badui, siapa yang tahu kalau ternyata si Arab kampung tidak akan mengikuti ajaran Nabi. Kalau beliau membiarkan para sahabat mencela bahkan menyakiti orang itu, bisa saja ada konflik-konflik yang akan terjadi.

Selain itu, Nabi juga mengajarkan bahwa mencela tidak akan menyelesaikan persoalan, melainkan mengajarkan umat bagaimana menjadi pribadi yang membenarkan orang lain dengan santun serta mencontohkan solusinya. Melalui peristiwa tersebut, para sahabat akhirnya tahu bahwa cara mensucikan najis akibat kencing adalah dengan menyiramnya. Ajaran sederhana itu pun akhirnya kita pahami hingga hari ini, karena keteladanan Nabi menyampaikan syariat dengan santun. Wallahu a’lam. (Muhammad Iqbal Syauqi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Pertandingan, Khutbah Ustadz Felix Siaw

Turba NU Blitar Mantapkan Aswaja dan Konsolidasi

Blitar, Ustadz Felix Siaw. Pada Sabtu siang, (10/1) bertempat di. Kantor MWC NU Kanigoro Blitar Jawa Timur diselenggrakan kegiatan silaturahim PCNU Kabupaten Blitar dengan pengurus  MWC NU, Ranting, lembaga dan badan otonom.

Turba NU Blitar Mantapkan Aswaja dan Konsolidasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Turba NU Blitar Mantapkan Aswaja dan Konsolidasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Turba NU Blitar Mantapkan Aswaja dan Konsolidasi

Kegiatan ini merupakan agenda rutin dari PCNU Blitar dalam menyapa kepengurusan di tingkat MWC. 

"Kegiatan diselenggarakan rutin setiap hari Sabtu," kata Abdullah Muzakki kepada Ustadz Felix Siaw.

Ustadz Felix Siaw

Salah satu pengurus di Lazis PCNU Blitar ini menandaskan bahwa pada setiap kegiatan turba ada dua MWC yang dikunjungi. 

"Untuk hari ini merupakan silaturahim ke sembilan belas dari dua puluh dua kecamatan yang ada di Blitar," katanya.

Ustadz Felix Siaw

Kesempatan ini menjadi media bagi kepengurusan di tingkat MWC untuk mendapatkan gambaran rencana program PCNU Kabupaten Blitar agar diketahui. 

"Karena itu seluruh pengurus PCNU Kabupaten Blitar dihadirkan dan menjelaskan program prioritas masing-masing lembaga, lajnah dan badan otomom," katanya. "Hal ini juga menjadi pertimbangan bagi kepengurusan MWC dan Ranting NU untuk menjadi percontohan di kepengurusan mereka," lanjutnya.  

Pertemuan tidak semata diisi dengan konsolidasi dan pemaparan program organisasi, juga diisi dengan pemahaman Ahlussunnah Waljamaah atau Aswaja. 

Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Blitar, KH Imam Suhrowardi mengingatkan para pengurus akan tantangan jamiyah yang semakin kompleks. 

Pada saat yang sama, Ketua PCNU KH Masdain Rifai menandaskan, "sosialisasi program dari seluruh ketua lembaga dan lajnah menjadi sarana merapatkan barisan sembari membumikan Aswaja NU," tandasnya.

Manfaat kegiatan menjadi sarana untuk menyampaikan problem organisasi semisal penyelamatan aset baik barang, organisasi, maupun anggota.

Kegiatan ini semakin menemukan momentum lantaran Kecamatan Kanigoro bakal menjadi ibu kota Kabupaten Blitar seiring rencana kepindahan kantor kabupaten di wilayah ini. (syaifullah/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Pesantren Ustadz Felix Siaw

Batas Awal dan Akhir Pelaksanaan Shalat Id

Assalamu ’alaikum wr. wb.

Pak Ustadz Ustadz Felix Siaw yang baik hati. Sebelumnya saya minta maaf yang sebesar-besarnya jika pertanyaan yang saya ajukan terkesan tidak bermutu. Di kampung saya shalat Id biasanya dilaksanakan pada jam tujuh pagi atau kadang lebih. Yang ingin saya tanyakan, sebenarnya kapan mulai masuk waktu shalat Id dan kapan berakhirnya? Atas penjelasannya saya ucapkan terima kasih. Wassalamu ’alaikum wr. wb. (Ridlo/Belik-Pemalang)

Batas Awal dan Akhir Pelaksanaan Shalat Id (Sumber Gambar : Nu Online)
Batas Awal dan Akhir Pelaksanaan Shalat Id (Sumber Gambar : Nu Online)

Batas Awal dan Akhir Pelaksanaan Shalat Id

Jawaban

Assalamu ’alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Shalat Id pertama kali disyariatkan pada tahun satu Hijriyah. Pandangan ini didasarkan pada hadits riwayat Anas RA. Riwayat ini menyebutkan bahwa penduduk Madinah memilik dua hari yang digunakan oleh mereka sebagai waktu untuk bersenang-senang.

Ustadz Felix Siaw

Tradisi ini sudah mengakar kuat pada masa jahiliyah. Mengetahui hal itu Rasulullah saw kemudian bersabda, “Sungguh, Allah telah mengganti bagi kalian yang lebih baik dari dua hari tersebut, yaitu mengganti dengan hari Idul Fitri dan Idul Adha.”

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ?

Ustadz Felix Siaw

Artinya, “Shalat Id disyariatkan pada tahun pertama Hijriyah. Dalilnya adalah riwayat dari Anas RA yang menyatakan, ‘Rasulullah SAW datang ke Madinah, dan mereka (penduduk Madinah) memiliki dua hari yang dimanfaatkan untuk bersenang-senang. Rasul pun bertanya, ‘dua hari apa ini?’ Mereka menjawab, ‘Dulu kami di masa jahiliyah bermain-main dalam dua hari itu.’ Lantas Beliau SAW bersabda, ‘Sungguh, Allah telah mengganti bagi kalian yang lebih baik dari dua hari tersebut, yaitu hari Idul Fitri dan Idul Adha,’” (Lihat Wahbah Az-Zuhaili, Al-Fiqhul Islamiy wa Adillatuhu, cetakan ke-12, Damaskus, Darul Fikr, juz II, halaman 513).

Sedangkan mengenai soal awal waktunya, para ulama dari kalangan madzhab Syafi’i ada yang disepakati dan ada yang diperselisihkan. Yang disepakati di antara mereka adalah tentang akhir waktu shalat Id, yaitu ketika matahari tergelincir.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Ulama dari kalangan madzhab Syafi’i sepakat bahwa waktu akhir pelaksanaan shalat id adalah ketika tergelincirnya matahari,” (Lihat Muhyiddin Syarf An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, Jeddah, Maktabah Al-Irsyad, juz VII, halaman 7).

Adapun yang diperselisihkan adalah mengenai awal waktu shalat Id. Setidaknya ada dua pendapat sebagaimana didokumentasikan Muhyiddin Syarf An-Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab.

Pendapat pertama menyatakan bahwa awal waktu shalat Id adalah dimulai dari terbitnya matahari. Namun yang lebih utama shalat Id ditangguhkan dulu sampai matahari naik seukuran satu tombak. Pandagan ini menurut Muhyiddin Syarf An-Nawawi adalah yang paling sahih.

? ? ? ? (?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Mengenai waktu awal pelaksanaan shalat Id terdapat dua pendapat. Pendapat yang paling sahih, dan ditegaskan pengarang kitab Al-Muhadzdzab (Abu Ishaq Asy-Syirazi), penulis kitab Asy-Syamil, Ar-Ruyani dan ulama yang lain adalah bahwa awal waktu pelaksanaan shalat Id mulai dari terbitnya matahari. Yang paling utama adalah menangguhkan shalat Id sampai naiknya matahari seukuran satu tombak,” (Muhyiddin Syarf an-Nawawi, Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, juz, VII, halaman 7).

Pendapat kedua menyatakan bahwa awal waktu shalat Id adalah ketika matahari naik. Ini adalah pandangan yang ditegaskan oleh Al-Bandaniji dan Abu Ishaq Asy-Syirazi dalam kitab At-Tanbih. Menurut An-Nawawi, pendapat ini zhahirnya adalah ucapan Ash-Shaidalani, Al-Baghawi, dan ulama lainnya.

(?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Pendapat kedua menyatakan bahwa masuknya waktu shalat Id adalah ketika naiknya matahari. Pendapat ini ditegaskan oleh Al-Bandaniji dan Abu Ishaq Asy-Syirazi dalam kitab At-Tanbih. Pendapat ini zhahirnya adalah ucapan Ash-Shaidalani, Al-Baghawi dan selain keduanya,” (Lihat Muhyiddin Syarf An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, juz VII, halaman 7).

Berangkat dari penjelasan singkat di atas, dalam soal waktu awal terjadi perbedaan di antara para ulama terutama di kalangan madzhab Syafi’i sendiri. Pendapat yang dianggap paling sahih adalah yang menyatakan bahwa awal waktu shalat Id dimulai ketika terbitnya matahari. Sedang mengenai akhir waktunya mereka sepakat, yaitu ketika tergelincirnya matahari.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu’alaikum wr. wb.



(Mahbub Ma’afi Ramdlan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Pemurnian Aqidah Ustadz Felix Siaw

Koruptor Perlu Divonis Dua Kali Lipat dan Dimiskinkan

Jakarta, Ustadz Felix Siaw. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mendesak agar koruptor yang berasal dari penegak hukum, mendapat hukuman dua kali lipat dibandingkan dengan yang lain.

Koruptor Perlu Divonis Dua Kali Lipat dan Dimiskinkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Koruptor Perlu Divonis Dua Kali Lipat dan Dimiskinkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Koruptor Perlu Divonis Dua Kali Lipat dan Dimiskinkan

“Karena mereka ngerti hukum,” katanya di gedung PBNU, Kamis.

Publik kembali dikejutkan dengan tertangkapnya ketua Mahkamah Konstitusi (MK), lembaga yang selama ini sangat dihormati. Meskipun demikian, Kiai Said tidak secara khusus merujuk pada figur ketua MK, melainkan semua pelaku koruptor karena Indonesia sudah dalam keadaan darurat korupsi.

Ustadz Felix Siaw

PBNU dalam munas tahun 2003, memutuskan koruptor tidak layak disholati oleh para kiai dan komitmen terhadap pemberantasan korupsi ini kembali ditegaskan dalam munas NU di Cirebon 2012 lalu.

“Kita mendukung sepenuhnya langkah KPK dalam memberantas korupsi,” tegasnya. (mukafi niam)

Ustadz Felix Siaw

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Cerita, Berita, Tokoh Ustadz Felix Siaw

Sabtu, 27 Januari 2018

Menpora Ingin SSO Pesantren Rejoso Jadi Gelaran Nasional

Jombang,Ustadz Felix Siaw. SMA Darul Ulum Pesantren Rejoso Jombang kembali menggelar (SSO) Science Sosial and Olympiads ke XVI tahun 2015 untuk pelajar SMP sederajat se-Indonesia. Kegiatan yang diikuti sebanyak 814 group tersebut ditutup langsung Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrowi.

"Seharusnya kegiatan SSO ini bisa menjadi agenda Nasional. Dan insyaallah akan segera kami sampaikan kepada rekan rekan terutama Menteri Pendidikan dan Menteri Ristek Dikti, agar gelaran SSO menjadi gelaran nasional," ujarnya saat menutup kegiatan, Ahad (23/8).

Menpora Ingin SSO Pesantren Rejoso Jadi Gelaran Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Menpora Ingin SSO Pesantren Rejoso Jadi Gelaran Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Menpora Ingin SSO Pesantren Rejoso Jadi Gelaran Nasional

Imam Nahrowi menambahkan, pemerintah punya fasilitas yang sangat memungkinkan untuk memnfasilitasi kegiataan SSO ini. “Sehingga bisa inspirasi dan motifasi bagi siswa siswa SMP dan juga semangat para anak muda kita untuk mengasah kemampuan terbaiknya," imbuhnya.

Ustadz Felix Siaw

Menteri juga berpesan kepada pelajar SMA DU2 Unggulan yang juga santri Pesantren Rejoso ini agar dalam menimba ilmu tetap patuh kepada para guru dan kiai. "Sebagai pelajar dan santri harus tetap takdiman wa takriman kepada kiai, guru dan dosen. Yang lebih penting adalah kepada orang tua agar ilmunya bermanfaat," pintanya mengingatkan.

Ustadz Felix Siaw

Sementara itu dalam pelaksanaan SSO kemarin, diikuti sekitar 817 tim dengan rincian 505 tim Science dan 313 tim sosial. Meski dilaksanakan di SMA milik Pesantren Darul ulum Peterongan Jombang, peserta juga banyak dari nonmuslim.

"Mohon tidak heran dan kaget, meski di pesantren pesertanya ada yang tidak berjilbab. Karena kami tidak membatasi peserta latar belakang apa, muslim atau nonmuslim yang terpenting mereka sekolah SMP atau sederajat silakan ikut di SSO ini," kata KH Zaimuddin W Asad salah satu Majelis pengasuh Pesantren seraya mengatakan pihaknya sudah mengajarkan Islam Nusantara terlihat dari pesertanya juga banyak yang non muslim.

Kepala Sekolah SMA Darul Ulum 2 Kaseri mengatakan, SSO adalah murni kreativitas dari anak-anak SMA Darul Ulum 2 Peterongan. Mulai dari izin pelaksanaan menembus sulitnya demokrasi pemerintah hingga grand final untuk menjaring bibit muda berpotensi menjadi generasi emas Indonesia guna memimpin bangsa di masa yang akan datang.

"SSO ini adalah yang ke 16 yang merupakan tahun ke-4 yang dilaksanakan secara online. Kita berharap dukungan pemerintah agar kegiatan ini bisa menjadi kegiatan nasional," ujarnya. (Muslim Abdurrahman/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Pemurnian Aqidah Ustadz Felix Siaw

Dari Desa ke Desa, Pelajar NU Akrabi Masyarakat dengan Tadarus Al-Qur’an

Cirebon, Ustadz Felix Siaw

Program Tadarus Al-Qur’an bersama anggota dan masyarakat menjadi salah satu program unggulan Safari Ramadhan Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar IPPNU) Kecamatan Gebang, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Program tersebut sebagai upaya mendekatkan organisasi beranggotakan para pelajar ini dengan masyarakat, di samping menguatkan soliditas pengurus di tingkat kecamatan dan desa-desa.

"Kegiatan ini bekerjasama dengan Irmas (ikatan remaja masjid) dan DKM (dewan kemakmuran masjid) di desa-desa yang berada di Kecamatan Gebang,” jelas Nailu Farh, salah seorang panitia Safari Ramdhan, Ahad (26/6).

Dari Desa ke Desa, Pelajar NU Akrabi Masyarakat dengan Tadarus Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)
Dari Desa ke Desa, Pelajar NU Akrabi Masyarakat dengan Tadarus Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)

Dari Desa ke Desa, Pelajar NU Akrabi Masyarakat dengan Tadarus Al-Qur’an

Selama ini kegiatan sudah dilaksanakan dari masjid ke masjid di berbagai desa di antaranya masjid Desa Gebang Sawah, Gebang Udik, Kalimekar, Kalimaro, Gebang Mekar, Kalipasung, Gebang Ilir, Gebang Kulon, Dompyong Wetan, dan Dompyong Kulon. “Masih ada 4 desa lagi yang tersisa. Mudah-mudahan seluruh desa yang memang sudah ada rantingnya dapat kita tempati,” jelas Nailu Farh, salah seorang panitia Safari Ramdhan, Ahad (26/6).

Ustadz Felix Siaw

Sedangkan Abdul Kholik, Ketua PAC IPNU Kecamatan Gebang, berharap kegiatan tersebut menjadi wasilah untuk mempererat tali silaturahim dengan para anggota dan kader IPNU-IPPNU di Kecamatan Gebang, juga dengan masyarakat. “Mudah-mudahan dengan Tadarus Al-Qur’an keliling ini kepengurusan PAC dan PR juga PK di Kecamatan Gebang tambah solid dan progresif,” ungkapnya.

Ustadz Felix Siaw

Sementara itu Siti Maghfiroh, Ketua PAC IPPNU Gebang, menjelaskan, program Tadarus Al-Qur’an ini merupakan rangkaian Safari Ramadhan yang dimulai sejak tanggal 6 Juni 2016. Ia juga mengatakan selesai Tadarus keliling pihaknya akan melaksanakan Pesantren Kilat (Sanlat) selama tujuh hari menjelang Idul Fitri.

“Alhamdulillah kegiatan kami selama ini direspon sangat baik oleh para anggota bahkan masyarakat. Dengan kegiatan inilah kami menunjukkan dan mendekatkan diri kepada masyarakat,” tandas Firoh, sapaan akrab Ketua IPPNU Gebang kepada Ustadz Felix Siaw. (Nurjannah Al Kendali/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Fragmen Ustadz Felix Siaw

GP Ansor Bali Sediakan Takjil Pemudik ke Jawa

Jembrana, Ustadz Felix Siaw?

Untuk memudahkan para pemudik berbuka puasa, Gerakan Pemuda Ansor dan Banser Kecamatan Gerokgak, Buleleng, Bali bekerjasama dengan GP Ansor Ranting Gilimanuk Jembrana, membagi bagikan makanan ringan untuk berbuka puasa (takjil) bagi pengendara motor di pelabuhan Gilimanuk, Jumat (23/6).

GP Ansor Bali Sediakan Takjil Pemudik ke Jawa (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Bali Sediakan Takjil Pemudik ke Jawa (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Bali Sediakan Takjil Pemudik ke Jawa

Penyeberangan laut di ujung barat pulau Bali ini selalu ramai dan padat menjelang Idul Fitri. Pada puncak arus mudik, untuk menyeberang ke pulau Jawa, pemudik harus mengantre berjam-jam karena volume kendaraan yang terus meningkat.?

Wakil Ketua GP Ansor Kecamatan Gerokgak Baiturrahman menjelaskan bahwa kegiatan ini semata-mata demi membantu pemudik agar tidak kesusahan mencari makanan ketika berbuka puasa.

"Pelabuhan Gilimanuk ini secara administratif bukan masuk wilayah Buleleng, namun secara geografis kami berdekatan," ujarnya.

Sehingga, Baiturrahman melanjutkan, kami berkoordinasi dan bekerja sama dengan Pimpinan Ranting GP Ansor Gilimanuk, yang sejak awal memang telah bersama kepolisian turut membantu arus mudik.

Ustadz Felix Siaw

Pada kegiatan itu, GP Ansor membagikan sedikitnya 700 paket makanan pada pemudik. Selain dibantu oleh Banser Gilimanuk, kegiatan ini juga didukung oleh Kinaara Resort Pemuteran. (Abraham Iboy/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw

Ustadz Felix Siaw PonPes Ustadz Felix Siaw

Wabub Sidoarjo Imbau Masyarakat Jauhi Narkoba serta Waspada Bahaya Radikalisme

Sidoarjo, Ustadz Felix Siaw - Wakil Bupati Sidoarjo H Nur Ahmad Syaifuddin mengajak masyarakat Sidoarjo untuk menjauhi narkoba. Selain itu, pria yang sering disapa Cak Nur ini juga mengimbau para santri untuk mewaspadai adanya bahaya radikalisme yang saat ini menyasar ke berbagai wilayah di Indonesia.

Pernyataan ini disampaikan Cak Nur pada halal bihalal dan harlah ke-9 Jamiyah Dzikrul Asyiqin di halaman Pesantren Roudlotul Hasanah Desa Sumokali, Kecamatan Candi, Sidoarjo, Kamis (28/7) malam.

Wabub Sidoarjo Imbau Masyarakat Jauhi Narkoba serta Waspada Bahaya Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Wabub Sidoarjo Imbau Masyarakat Jauhi Narkoba serta Waspada Bahaya Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Wabub Sidoarjo Imbau Masyarakat Jauhi Narkoba serta Waspada Bahaya Radikalisme

"Mari kita bangun bersama Sidoarjo ini agar terbebas dari narkoba. Selain itu, untuk mengantisipasi adanya bahaya radikalisme, para santri harus dibentengi dengan aqidah yang kuat sehingga mampu membendung terhadap munculnya bahaya radikalisme," ujarnya.

Ustadz Felix Siaw

Di tempat yang sama Kepala BNN Kabupaten Sidoarjo AKBP Supriyanto mengatakan, agar terhindar dari bahaya narkoba diperlukan peran orang tua untuk selalu memantau perkembangan anaknya. Pasalnya, tidak menutup kemungkinan sewaktu-waktu narkoba bisa masuk. Karena itu, anak-anak harus dibentengi dari bahaya narkoba mulai sejak dini.

"Orang tua, wali santri dan siapa pun harus turut serta memantau anak-anak dan para santrinya agar mereka terhindar dari bahaya penggunaan obat terlarang seperti narkoba," tegas Supriyanto.

Sementara itu, pengasuh Pesantren Roudlotul Hasanah KH Achmad Ducha Mashudi berharap agar masyarakat Sidoarjo senantiasa bersinergi dalam mewujudkan Sidoarjo lebih baik.

Ustadz Felix Siaw

"Terima kasih kepada Wakil Bupati Sidoarjo dan Kepala BNN Sidoarjo atas segala kehadiran dan apa yang telah disampaikan. Semoga ke depannya Sidoarjo menjadi lebih baik," kata Kiai Achmad. (Moh Kholidun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Sunnah, Bahtsul Masail Ustadz Felix Siaw

Presiden Iran Deklarasikan Akhir dari ISIS

Teheran, Ustadz Felix Siaw. Presiden Iran Hassan Rouhani mendeklarasikan berakhirnya Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Pernyataan Hassan tersebut ditayangkan di TV pemerintah, Selasa (21/11).

“Hari ini dengan petunjuk Tuhan dan perlawanan rakyat di wilayah tersebut kita bisa katakan bahwa kejahatan ini (ISIS) telah diangkat dari masyarakat atau telah dikurangi,” kata Rouhani seperti dikutip reuters.com, Selasa (21/11).

Presiden Iran Deklarasikan Akhir dari ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)
Presiden Iran Deklarasikan Akhir dari ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)

Presiden Iran Deklarasikan Akhir dari ISIS

Meski pondasi dan akarnya sudah dihancurkan, Rouhani mengaku bahwa sisa-sisa dari ISIS masih akan terus ada dan tumbuh. 

“Tentu sisa-sisanya akan terus berlanjut tetapi pondasi dan akarnya sudah dihancurkan,” tegasnya.

Komandan Militer Senior Elite Revolutionary Guards Qassem Soleimani mengatakan bahwa ISIS sudah berhasil dikalahkan, dalam sebuah surat yang dikirimkannya kepada Ayatollah Ali Khamenei dan diterbitkan di Sepah news.

Ustadz Felix Siaw

Soleimani memerintahkan Quds Force, cabang Elite Revolutionary Guards yang bertanggung jawab atas operasi di luar Iran, pada posisi garis depan dalam pertempuran melawan Negara Islam di Irak dan Suriah.

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengucapkan selamat atas keberhasilan Soleimani dalam mengalahkan ISIS. Ayatollah juga mengatakan, ini adalah pukulan telak bagi Amerika, Israel, Arab Saudi karena telah menciptakan dan mendukung ISIS.

“Ini (kekalahan ISIS) adalah pukulan melawan pemerintah Amerika masa lalu dan saat ini dan rezim yang terkait dengannya di wilayah ini yang telah menciptakan grup ini dan memberi mereka berbagai macam jenis dukungan sehingga mereka dapat memperluas kekuatan jahat mereka di Asia barat,” kata Khamenei.

Pada Juni, ISIS melakukan serangan pertamanya di Iran. Serangan tersebut menewaskan delapan belas orang di Teheran. (Muchlishon Rochmat)

Ustadz Felix Siaw

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Sholawat, RMI NU, Kajian Sunnah Ustadz Felix Siaw

Jumat, 26 Januari 2018

Ulama NU Pakar dalam Kitab Kuning dan Memahami Quran

Pontianak, Ustadz Felix Siaw. Puncaknya keilmuan ulama NU, setidaknya ada dalam dua keahlian. Pertama adalah keahlian membaca kitab kuning. Kedua, keahlian dalam memahami Al-Quran. 

Ulama NU Pakar dalam Kitab Kuning dan Memahami Quran (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama NU Pakar dalam Kitab Kuning dan Memahami Quran (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama NU Pakar dalam Kitab Kuning dan Memahami Quran

Hal  itu dipaparkan Rais Majelis Ilmy Jam’iyyatul Qurra` Wal Huffazh Nahdlatul Ulama (JQHNU) Prof Dr KH Ahsin Sakho Muhammad pada taushiyah pembukaan Musyawarah Nasional IV JQHNU di Pontianak, Kalimantan Barat, Jumat (6/7).

“Kalau kita lihat sejarah, bagaimana hubungan ulama-ulama Indonesia dengan ulama di tanah Hijaz, maka bisa kita ketahui bahwa ulama-ulama Nahdlatul Ulama adalah pelanjut ilmu yang diwariskan oleh ulama Hijaz,” jelas Rektor Institut Ilmu al-Quran (IIQ) Jakarta ini.

Ustadz Felix Siaw

Ahsin menambahkan, kita lihat Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari merupakan pelanjut seorang ulama Syekh Umar Hamdan, Alwi Al-Maliki Abbas, dan orang-orang sejawatnya itu.  

Ustadz Felix Siaw

“Ulama-ulama NU telah melakukan perjuangan yang mencengangkan, membanggakan! Banyaknya kitab-kitab hadits, kitab-kitab fiqih itu disalurkan oleh mereka,” tegasnya.

Tapi, ada satu lagi kelompok di lingkungan ulama NU, yaitu ulama-ulama hufadz dan qurra Al-Quranul Karim. 

“Mereka berjuang berpuluh-puluh tahun menimba ilmu di negeri Makkkah, Madinah, Mesir. Kemudian pulang ke Indonesia. Mereka menyabarkan Al-Quranul Karim kepada masyarakatnya,” tambahnya.

Maka, sambung Ahsin, kita tahu, di Indonesia ini banyak markas-markas atau pusat-pusat ke-Quranan. Mulai dari madura, Sumatera Utara, Bone, Bugis, Sulawesi Selatan, Banten. Kemudian juga di Yogyakarta, di Surabaya, dan lain sebagainya.

“Mereka itulah pahlawan-pahlawan yang menyebarkan Al-Quran,” pungkasnya.   

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis   : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Lomba, Olahraga, Nahdlatul Ulama Ustadz Felix Siaw

GP Ansor Lakbok Gebrak Pasar dengan Shalawat

Ciamis, Ustadz Felix Siaw. Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat menggebrak pasar Kalapasawit dengan shalawat pada Sabtu malam pada Jumat malam, (30/5). Kegiatan bertajuk “Ansor Bershalawat” itu tetap dikunjungi banyak orang kendati diguyur hujan.

“Ansor Bershalawat” digelar bersama Ustad Soleh ILHAM dari Yogyakarta (backing vocal Habib Syekh bin Abdul Qodir Assegaf). Sebelumnya delapan orang anggota Jam’iyatul Qurra wal-Huffaz NU Kecamatan Lakbok membaca ayat suci Al-Quran. Kemudian dilajutkan dengan sambutan Ketua PC GP ANSOR Kabupaten Ciamis Dandeu Rifa’i Hilmi.

GP Ansor Lakbok Gebrak Pasar dengan Shalawat (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Lakbok Gebrak Pasar dengan Shalawat (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Lakbok Gebrak Pasar dengan Shalawat

Dalam sambutannya, Dandeu mengatakan, GP Ansor sebagai generasi penerus perjuangan NU harus siap siaga menghadapi problem masyarakat, khususnya di bidang keagamaan, “Dengan Gebyar shalawat ini, mari kita jaga pesan-pesan yang disampaikan oleh guru kita, KH Hasyim As’ari,” katanya.

Ustadz Felix Siaw

Ia menambahkan, PAC Kecamatan Lakbok yang dipimpin Hirzudin, harus mendampingi kegiatan-kegiatan masjid dan mushola supaya faham-faham Islam radikal tidak menembus kekuatan kita.

“Ansor Bershalawat” tersebut dihadiri tidak kurang 1000. Turut hadir anggota GP Ansor Tasikmalaya, Kota Banjar, Kabupaten Ciamis, Kabupaten Pangandaran, dan PAC Kecamatan Banjarsari.

Ustadz Felix Siaw

Sebagai rangkaian kegiatan tersebut, sebelumnya telah digelar perlombaan tenis meja memperebutkan piala Karang Taruna kabupaten Ciamis. Para pemuda dan siswa tingkat SD/MI berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.

Selanjutnya tanggal 30 Mei digelar donor darah bersama PMI Kabupaten Ciamis dengan jumlah pendonor mencapai 20 orang dari unsur masyarakat dan pengurus GP Ansor. Lalu lomba hadroh tingkat SD/MI memperebutkan piala PC GP ANSOR Kabupaten Ciamis. Walapaun jumlah peserta hanya 7 grup, namun cukup menjadi perhatian masyarakat Lakbok.

Redaktur     : Abdullah Alawi

Kontributor : Ahmad Muhafidz

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Halaqoh Ustadz Felix Siaw

Puasa Hari Asyuro dan Amalan Lainnya

Dalam kitab Nihayatuz Zain, Syaikh Nawawi al-Bantani menerangkan hari-hari tertentu yang disunnahkan berpuasa. Pertama puasa hari arafah, yaitu puasa pada tanggal sembialn Dzulhijjah bagi yang tidak berhaji.

Kedua puasa tanggal sepuluh Muharram yang dikenal dengan hari asyuro. Ketiga puasa tanggal Sembilan Muharram atau disebut dengan hari tasua. Keempat puasa enam hari di bulan Syawwal. Kelima puasa tanggal tiga belas pada tiap bulannya. Keenam puasa hari senin dan kamis.

Demikian diterangkan dengan kalimat

Puasa Hari Asyuro dan Amalan Lainnya (Sumber Gambar : Nu Online)
Puasa Hari Asyuro dan Amalan Lainnya (Sumber Gambar : Nu Online)

Puasa Hari Asyuro dan Amalan Lainnya

Ù? سÙ? صوم عرفة وعاشوراء وتاسوعاء وستة Ù…Ù? شوال وأÙ? ام البÙ? ض والاثÙ? Ù? Ù? والخمÙ? س ?

Tanggal sepuluh Muharram yang dalam bahasa arab disebut asyuro? adalah hari istimewa. Nabi pernah ditanya mengenai keistimewaan tanggal tersebut. Beliau menjawab bahwa puasa tanggal 10 Muharram yakaffirus sannah al-madhiyyah .

Artinya puasa tanggal 10 Muharram dapat menebus dosa satu tahun yang lalu. Sedangkan puasa hari ‘Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah dapat menebus dosa dua tahun yang lalu. Hal ini dikarenakan hari ‘Arafah adalah hari khususnya manusia termulia di maya pada ini, yaitu Rasulullah saw. Sedangkan 10 Muharram adalah harinya para Nabi lainnya.

Ustadz Felix Siaw

Selanjutnya diterangkan pula bahwa 10 Muharram adalah hari yang penuh dengan kesejarahan. Tercatat beberapa kejadian penting yang berlangsung pada hari 10 Muharram, tentunya dengan tahun yang berbeda-beda. Pertama, 10 Muharram adalah hari diciptakannya Nabi Adam as. di dalam surga.

Kedua, hari dimana Nabi Nuh berhenti berlayar dalam banjir bandangnya. Ketiga, Allah menjadikan lautan bagaikan daratan sebagai ruang pelarian Nabi Musa sekaligus kuburan bagi Fir’aun. Keempat,? hari keluarnya Nabi Yunus dari perut ikan Hut.

Kelima, hari dilahirkannya Khalilullah Nabi Ibrahim as dan juga hari diselamatkannya Nabi Ibrahim as dari kobaran api.? Keenam, hari kelahiran Nabi Isa as dan hari dimana Allah swt. menyelamtkan Nabi Isa as dari kejaran umatnya dengan mengangkatnya ke atas.

Sedangkan puasa tanggal Sembilan Muharram disunnahkan berdasarkan pada hadits rasulullah saw:

لئÙ? عشت الى قابل لأصوم Ù…Ù? التاسع والعاشر.

Ustadz Felix Siaw

Andaikan aku ada umur panjang, aku akan puasa tanggal 9 dan 10 Muharram”

Dalam kesempatan lain Imam? Ajhuri mengatakan bahwa barang siapa mengucapkan hasbunallah wani’mal wakil ni’mal maula wa ni’man nashir? tujuh puluh kali di malam 10 Muharram, insyaallah Allah akan mencukupi kehidupannya tahun pada tahun tersebut.

?

Sumber: Syaikh Nawawi al-Bantani, Nihayatuz Zain

Redaktur: Ulil Hadrawy . Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Ulama, Pahlawan Ustadz Felix Siaw

Kolumnis Malaysia Dokumentasikan Islam Indonesia

Jombang, Ustadz Felix Siaw. Karim Raslan, kolumnis Malaysia, melakukan syuting film dokumenter tentang Indonesia. Jumat kemarin (17/1) pengambilan gambar dilakukan di Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur Kegiatan ini melibatkan KH Khoiron Syuaib, dai yang aktif membina Pekerja Seks Komersial atau PSK.

Kolumnis Malaysia Dokumentasikan Islam Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Kolumnis Malaysia Dokumentasikan Islam Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Kolumnis Malaysia Dokumentasikan Islam Indonesia

Ya, semenjak berkenalan sekitar 10 tahun silam, Karim Raslan mengagumi kiprah KH Khoiron Syuaib yang mengentaskan para PSK di Surabaya dengan cara lembut. Bagi Karim, cara lembut nan elegan akan membuat orang terkesan dan terpikat hatinya.

Tentang pesantren, ia menilai lembaga pendidikan Islam tertua di Nusantara ini adalah sentral pengajaran metode dakwah dan memperdalam kajian agama. Menurutnya, pesantren merupakan miniatur NU, dan NU adalah gambaran sikap elegan muslim Indonesia.

Ustadz Felix Siaw

"Saya memahami keislaman dan keIndonesiaan dari diskusi dengan Gus Dur," kata Karim  di tengah-tengah pengambilan gambar.

Ustadz Felix Siaw

Alumnus Universitas Cambridge ini menilai jika proses liputan di Pesantren Tebuireng merupakan bagian dari episode "Islam sebagai Rahmat" dalam serial "Ceritalah Indonesia", sebuah film dokumenter tentang Indonesia.

"Mengapa syuting di Tebuireng, karena Kiai Khoiron Syuaib alumni pondok ini, dan Tebuireng juga salah satu pesantren besar yang punya pengaruh signifikan dalam kehidupan berbangsa dan beragama," kata kolumnis ini.

Dalam babakan episode yang pengambilan gambarnya dilakukan di perpustakaan pondok dan komplek makam Gus Dur. Di hadapan kamera, Karim memberikan narasi singkat mengenai pesantren, Wali Songo, NU, dan Islam Indonesia.

Pesantren Tebuireng merupakan tempat pengkaderan Kiai Khoiron dan lokalisasi Bangunsari, Surabaya, menjadi medan dakwahnya. Dia juga menjelaskan bahwa Tanjung Perak, Surabaya, merupakan pelabuhan kuno dan menjadi titik temu peradaban dunia sejak ratusan tahun silam. Sosok Sunan Ampel dinilai sebagai penyebar agama Islam secara damai.

"Nilai-nilai Islam yang menyebarkan kasih sayang merupakan kunci mewujudkan Islam sebagai Rahmat," katanya.

Usai syuting di Tebuireng, pengambilan dokumentasi dilanjutkan ke bekas lokalisasi Bangunsari Pelabuhan Tanjung Perak, dan Makam Sunan Ampel. (Syaifullah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Makam, Nahdlatul Ustadz Felix Siaw

Kamis, 25 Januari 2018

Saat Malaikat Tertawa, Saat Malaikat Menangis

Malaikat sebagai makhluk ciptaan Allah, Tuhan Yang Maha Esa, senantiasa menjalankan tugas dengan baik, sebagaiaman dalam ayat:

Saat Malaikat Tertawa, Saat Malaikat Menangis (Sumber Gambar : Nu Online)
Saat Malaikat Tertawa, Saat Malaikat Menangis (Sumber Gambar : Nu Online)

Saat Malaikat Tertawa, Saat Malaikat Menangis

? ? ? ? ? ? ? ?

Ustadz Felix Siaw

“…tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS at-Tahrim: 6)

Mereka ini senior bagi manusia yang bertugas dengan tingkat kegalan yang nyaris tidak ada, kecuali kisah Harut–Marut. Di antara 10 malaikat yang wajib diketahui oleh umat Islam adalah Malaikat Izrail. Dia adalah malaikat dengan tugas mengambil paksa nyawa; tidak diundur-undur dan tidak dimaju-majukan. Semuaanya sesuai dengan masa dan tempat tertentu, dan hanya kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa kita semua kembali.

Tentang Malaikat Izrail dalam kitab Hikaya Shufiyah diceritakan, suatu kali Malaikat Izrail ‘alaihissalam ditanya:

 

Ustadz Felix Siaw

? ? ?

“Apakau engkau juga pernah tertawa?”

? : ? ? ? ? ?

“Ya, aku pernah tertawa sekali, dan menangis sekali. Pertama, aku tertawa kepada laki-laki yang telah melakukan tawar-menawar harga sepatu yang tidak akan rusak sampai masa lima tahun, sementara aku mengambl nyawanya saat dia sedang melakukan transaksi. Hehehe,” tawa Malaikat.

Kedua, aku bersedih ketika saat itu ada perempuan yang memiliki dua anak yatim yang masih imut-imutnya. Perempuan itu menyeberangkan sungai anaknya satu-satu. Anak pertama sudah perempuan itu turunkan di tepi sungai, sementara saat hendak mengambil yang anak keduannya, kuasa Allah, tiba-tiba air menyeret menenggelamkan ibu dua anak yatim tersebut dan meninggal. Kejadian tersebut membuatku terharu, karena ada dua anak kecil yatim dan terpisahkan oleh keadaan, sementara ibunya telah meninggalkan mereka.

Hingga akhirnya, Allah SWT menampakkan kepada suatu masa depan bagi mereka berdua, bahwa anak pertama akan menjadi Raja Penjuru Timur, dan satunya akan jadi Raja penjuru Barat. Dan Allah, Maha Suci, Dialah Dzat pengelola segala sesuatu, tiada Tuhan selain-Nya.”

Hikayat ini menyiratkan pesan, antara lain, tentang terbatasnya waktu manusia dalam menikmati harta dunia. Manusia mungkin punya keinginan dan angan-angan panjang tentang masa depan kenikmatan. Tapi mesti dicatat bahwa Allah punya takdir sendiri terkait batas umur manusia di alam fana ini.

Kematian bisa terjadi kapan saja, baik pada momen suka maupun duka. Pada saat-saat “wajar” ataupun tak terduga dan tidak diharapkan sama sekali. Takdir ini pun tak bisa segera dihakimi mutlak sebagai keburukan. Karena di belakangnya ada takdir lain yang tidak diketahui hamba-Nya.

Ali Makhrus, Mahasiswa Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta 

Diolah dari Muhammad Abu al Yusr Abidin, Hikaya Shufiyah, cet 7 (Damaskus : Dar Al Basyair, 2001 M /1421 H), hal 262.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Ubudiyah Ustadz Felix Siaw

GP Ansor Gelorakan Sumenep Waspadai Terorisme

Sumenep, Ustadz Felix Siaw

Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Sumenep, Jawa Timur menggelorakan "Sumenep Waspada". Hal itu menyusul indikasi kian merebaknya paham radikalisme dan gerakan terorisme yang mengancam ketenangan bangsa Indonesia.

"Karena itu, Kamis (21/1) besok pukul 08.00 WIB, sahabat-sahabat ketua dan sekretaris Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor se-Sumenep akan mengadakan kampanye simpatik di depan Masjid Jamik," terang Ketua PC GP Ansor Sumenep M Muhri Zaen, Rabu (20/1).?

GP Ansor Gelorakan Sumenep Waspadai Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Gelorakan Sumenep Waspadai Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Gelorakan Sumenep Waspadai Terorisme

Menurut alumnus Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep tersebut, tema yang diusung ialah Sumenep Waspada. Yaitu, waspada terhadap terorisme, radikalisme agama, dan aliran Sesat dengan membagikan stiker kepada para pengendara sepeda motor, mobil, dan pejalan kaki.

"Indonesia kini mengalami ancaman besar berupa radikalisme agama dan terorisme. Ini sudah menjadi persoalan akut yang mesti kita lawan melalui aksi penyadaran kepada khalayak," terang M Muhri.

Dalam konteks lokal, tambah mantan Ketua Umum PC PMII Sumenep tersebut, di Kabupaten Sumenep kini terdapat gerakan aliran atau paham keagamaan yang mengancam keutuhan bangsa.

"Memang Indonesia menjadi incaran paham radikalisme, karena tergolong berpenduduk muslim terbesar di dunia. Begitu halnya di Sumenep. Penyikapan terhadap aliran atau paham yang nyeleneh menjadi fokus gerakan kami," paparnya. (Hairul Anam/Fathoni)

Ustadz Felix Siaw

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Pemurnian Aqidah, Tokoh, Lomba Ustadz Felix Siaw

Ustadz Felix Siaw

300 Anggota Banser Subang Siap Bentengi Ulama dan NKRI

Subang, Ustadz Felix Siaw. Dalam rangka penggemblengan karakter kader, Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Subang menggelar Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) dan Pendidikan dan Pelatihan Dasar(Diklatsar) Barisan Ansor Serbaguna (Banser) jilid II dengan konsepsemi milter.

Kegiatan tersebut diselenggarakan di Ponpes As-Salafiyah, CiasemSubang, Jawa Barat, Sabtu (5/10) dan secara resmi dibuka Ketua Tanfidziyah PCNU Subang KH Musyfiq Amrullah.

300 Anggota Banser Subang Siap Bentengi Ulama dan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
300 Anggota Banser Subang Siap Bentengi Ulama dan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

300 Anggota Banser Subang Siap Bentengi Ulama dan NKRI

Kegiatan yang akan berakhir Senin (7/10) mendatang ini diikuti 300 peserta, perwakilan dari 30 Pengurus Anak Cabang (PAC) se-Kabupaten Subang. Ketua GP Ansor Subang Asep Alamsyah Heridinata mengatakan, ke-300 peserta tersebut akan menerima pembinaan selama pelatihan.

Ustadz Felix Siaw

“Seluruh peserta akan digembleng fisik dan mental untuk melatihkedisiplinan sebagai kader Ansor yang siap menunjukkan eksistensinyadalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” jelas Asep, Sabtu (5/10).

“Pembinaan akan dilakukan secara semimiliter. Hal ini diharapkansemua peserta bisa melewati tahapan-tahapan sampai tiga hari kedepan," imbuhnya.

Ustadz Felix Siaw

Pelatihan dan pendidikan semacam ini, menurut Asep, bermanfaat bagi Nahdlatul Ulama sebagai organisasi induk dan untuk bangsa dan negara secara umum.

“Karena dengan mencetak Banser-Banser ini dimaksudkan untuk menjadi apa yang disebut sebagai benteng ulama dan bangsa. Jadi jika ada pihak yang merongrong eksistensi Ulama dan NKRI, maka kader Ansor dan Banser siap menjadi bentengnya,” tegas Asep.

Hadir pula dalam acara pembukaan Pimpinan Pondok Pesantren As-Salafiyah KH Haromain Kepala Desa Ciasem Baru, Kapolsek Ciasem dan Danramil Ciasem, serta unsur Pimpinan Wilayah GP Ansor Jawa Barat Uung Mahuri dan pengurus PCNU Subang. (Ade Mahmudin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Pertandingan Ustadz Felix Siaw

Tokoh Pendidikan NU Ciamis Berpulang

Bandung, Ustadz Felix Siaw. Kabar duka datang dari Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.  Seorang tokoh pendidikan NU, Dr H Maman Abdurachman, berpulang ke rahmatullah. Maman saat ini tercatat sebagai Wakil Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Ciamis, di samping juga Dekan FE Universitas Galuh Ciamis.

Tokoh Pendidikan NU Ciamis Berpulang (Sumber Gambar : Nu Online)
Tokoh Pendidikan NU Ciamis Berpulang (Sumber Gambar : Nu Online)

Tokoh Pendidikan NU Ciamis Berpulang

“Semasa hidupnya beliau adalah sosok yang gigih dalam mengisi perjuangan NU, sosok yang concern terhadap kemajuan pendidikan kader-kader NU khususnya di Ciamis. Semasa hidup beliau tak henti-hentinya memotivasi dan memfasilitasi kader-kader IPNU untuk terus belajar dan meningkatkan prestasi,” kata Ketua Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar NU (IPNU) Kabupaten Ciamis Wahab Hasbullah melalui pesan singkat, Kamis (14/8).

Maman wafat 12 Agustus 2014, pukul 21.30 WIB, di RS Hasan Sadikin Bandung. Mantan Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Ciamis ini dikenal sebagai pribadi yang berdedikasi dan setia mendampingi para pelajar NU di Ciamis.

Ustadz Felix Siaw

Asep Irfan Mujahid Ketua Pimpinan Wilayah IPNU Jawa Barat yang juga mantan Ketua PC IPNU Ciamis saat dihubungi (14/8) mengatakan, sosok Maman sangat dikagumi oleh para kader IPNU Ciamis.

Ustadz Felix Siaw

“Karena beliau sangat dekat dengan kader-kader IPNU sehingga dalam sepak terjangnya di dunia pendidikan berpengaruh dalam agenda kaderisasi di IPNU Ciamis,” ujarnya. (Aris Prayuda/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Jadwal Kajian, Ubudiyah, Daerah Ustadz Felix Siaw