Jumat, 08 Desember 2017

Gelar Halaqah Kiai dan Nyai, Pusat Studi Pesantren Bahas Persoalan Bangsa

Bogor, Ustadz Felix Siaw. Peran penting pesantren dalam menghadapi berbagai persoalan bangsa, termasuk radikalisme agama mencoba diperkuat oleh Pusat Studi Pesantren (PSP) melalui kegiatan Halaqah Kiai dan Nyai, Senin-Rabu (4-6/12) di Bogor, Jawa Barat.

Gelar Halaqah Kiai dan Nyai, Pusat Studi Pesantren Bahas Persoalan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Gelar Halaqah Kiai dan Nyai, Pusat Studi Pesantren Bahas Persoalan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Gelar Halaqah Kiai dan Nyai, Pusat Studi Pesantren Bahas Persoalan Bangsa

Kegiatan kali kedua bertema Jihad Pesantren Berbasis Literasi: ikhtiar Menangkal Radikalisme Beragama ini diikuti oleh sekitar 50 kiai dan nyai pimpinan dan pengasuh pondok pesantren dari berbagai daerah.

Direktur Pusat Studi Pesantren Achmad Ubaidillah mengatakan, ikhtiar yang dilakukannya ini merupakan usaha menjalin jaringan dan konsolidasi lintas pesantren untuk mewujudkan tujuan bersama dalam meningkatkan literasi pesantren sebagai upaya menangkal radikalisme agama.

“Tantangan pesantren di era teknologi tidaklah mudah mengingat propaganda radikal saat ini memanfaatkan berbagai ruang media digital,” ujar Ubaidillah yang saat ini mengelola Pesantren Al-Falak Pagentongan, Loji, Kota Bogor.

Ustadz Felix Siaw

Upaya literasi pesantren, sambungnya, sudah dilakukan oleh Pusat Studi Pesantren ke berbagai daerah. PSP sudah keliling ke delapan provinsi untuk meningkatkan penguatan literasi pesantren di era digital.

“Saat in kami sudah memiliki sekitar 600 kader,” jelasnya.

Ubaidillah menilai, halaqah para kiai dan nyai ini penting sebagai wujud meneruskan perjuangan para ulama pendahulu. Menurutnya, dahulu para ulama tidak berhenti memperkuat konsolidasi dalam menghadapi sekaligus mencari solusi atas problem bangsa dan negara.

Ustadz Felix Siaw

“Perjumpaan para ulama pesantren seperti Syekh Nawawi Al-Bantani, Syekh Abdul Muhyi Pamijahan, KH Hasyim Asy’ari adalah usaha memperkuat perjuangan,” ungkapnya.

Dalam meniti perjuangannya saat ini, Ubaidillah mengaku terinspirasi dari kakek buyutnya, KH Tubagus Muhammad Falak, ulama kharismatik kelahiran Pandeglang dan pendiri NU di Bogor.

“Halaqah ini merupakan upaya rekontekstualisasi perjumpaan para kiai,” tandasnya.

Dalam halaqah ini, PSP membahas lima materi penting. Pertama, Seluk Beluk Terorisme: The Untold Story yang dibawakan oleh Ustadz Sofyan Tsauri. Kedua, Pemaknaan Ayat-Ayat Jihad dalam Konteks Keindonesiaan dan Kemanusiaan yang diisi oleh KH Ahmad Ishomuddin.

Ketiga, Jihad Pesantren Berbasis Literasi yang disampaikan Nyai Fadhilah Khunaini. Keempat, Membendung Arus Ekstremisme di Indonesia. Kelima, Integrasi Pesantren dan Masyarakat: Khittah Berdirinya Pesantren yang dibawakan oleh Kiai Abdullah Syam. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Pondok Pesantren, Nusantara, Internasional Ustadz Felix Siaw

Tidak ada komentar:

Posting Komentar