Kamis, 28 Desember 2017

Pendidikan Agama Harus Ciptakan Lulusan Berkualitas

Kudus, Ustadz Felix Siaw. Ketua PWNU Jawa Tengah H. Muhammad Adnan mengatakan, di tengah situasi kompetisi global, lembaga pendidikan agama (LPA) harus menciptakan lulusan yang berkualitas. Untuk memnuhi itu, harus memiliki tiga standar kualitas. Tiga stanadar itu adalah mutu kelulusan, mutu proses pembelajaran, serta mutu layanan dan lingkungan pendidikan.

Dijelaskan Adnan, mutu lulusan adalah, lembaga pendidikan agama harus berusaha menghasilkan lulusan yang berkualitas dan memiliki kompetensi tinggi di bidangnya. Sementara mutu proses pembelajaran, harus didukung  soft dan hardskill dari para tenaga pendidik dan fasilitas memadai dan mendukung.

Pendidikan Agama Harus Ciptakan Lulusan Berkualitas (Sumber Gambar : Nu Online)
Pendidikan Agama Harus Ciptakan Lulusan Berkualitas (Sumber Gambar : Nu Online)

Pendidikan Agama Harus Ciptakan Lulusan Berkualitas

“Sementara mutu layanan dan lingkungan pendidikan menjadi sebuah kondisi yang menyebabkan peserta didik nyaman dan terlayani kebutuhan akademik,” terangnya di depan peserta yang sebagian besar kepala madrasah dan pondok pesantren se-Kudus. Kegiatan itu dikemas dalam halaqah keagamaan yang diadakan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus, di gedung Rektoriat I, Selasa (7/5).

Untuk menuju ke arah itu, kata dia, umat Islam memiliki modal ideoligis dan sosiologis sehingga semuanya tergantung sejauh mana memanfaatkannya, “Harus diakui, umat Islam Indonesia sangat terlambat mengantisipasi global competiive khususnya dilihat dari indikator pendidikan. Meski begitu, lebih baik terlambat daripada tidakmelakukan sama sekali,” tambahnya.

Ustadz Felix Siaw

Ustadz Felix Siaw

Diterangkannya, tingkat kemajuan sebuah bangsa tidak lagi hanya diukur dari gross domestic produck (GDP) atau ukuran ukuran ekonomi makro, akan tetapi menggunakan ukuran yang lebih luas yaitu lima indikator; pendidikan, kesehatan, kualitas hidup, daya saing ekonomi, dan lingkungan politik.

“Di sektor pendidikan, kita bisa menggunakan ukuran seberapa banyak karya tulis berupa buku yang diterbitkan. Buku merupakan indikator peradaban suatu bangsa,” tandas Adnan.

Bangsa Jepang, kata Adnan mencotohkan, adalah bangsa pembelajar yang baik dan melakukannya seperti ibadah.  Di negara itu, persaingan sangat ketat sehingga dikenal jam belajar tambahan (juku) dan peran ibu dalam mendampingi anak belajar  (kyoiku mama).

“Berbeda Indonesia, ada rapat sekolah diliburkan dan siswanya senangnya bukan main. Meski kadang rapatnya batal, tetap saja libur,” ucapnya bercanda.

Di akhir ceramahnya, Adnan mendorong pengelola madrasah untuk memperbanyak buku-buku perpustakaan sebagai upaya meningkatkan minat baca.

Selain Ketua PWNU Jateng, pembicara halaqah lainnya ketua Umum PB Ikatan Keluarga Alumni (IKA) PMII H. Arief Mudatsir Mandan. Pada kesempatan itu, Arief berbicara mengembangkan kader muslim dalam perspektif politik.

Redaktur         : Abdullah Alawi

Kontributor     : Qomarul Adib

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siaw Jadwal Kajian, Daerah, Warta Ustadz Felix Siaw

Tidak ada komentar:

Posting Komentar