Selasa (15/10) lalu, 2 kambing kurban disembelih di pesantren ini. Para santri yang biasanya membuka-buka kitab kuning, kali ini berurusan dengan daging kurban. Sebagian dari mereka menyiapkan tusuk sate, sebagian yang lain menyiapkan tungku dan kayu bakar.
| Tambah Gizi, Nyate Bersama Setahun Sekali (Sumber Gambar : Nu Online) |
Tambah Gizi, "Nyate Bersama" Setahun Sekali
"Senang, bisa nyate dan makan sate, biasanya makan ala santri," ujar Antowi berseloroh sambil menyiapkan kayu di tungku yang akan dipakai untuk membakar sate.Ustadz Felix Siaw
Di tempat yang sama santri puteri yang sudah terbiasa "hidup di dapur pesantren" dengan sigap menggerus bumbu-bumbu yang sudah disiapkan"Mudah-mudahan rasanya tidak kalah dengan tukang sate profesional" harap Leni Nurwidia, salah seorang santri puteri Pesantren Al-Mukhtariyyah
Ustadz Felix Siaw
Setelah memasak sate para santri pun langsung menikmati masakan mereka. Secara terpisah, santri putera dan puteri makan di atas daun pisang. (Aiz Luthfi/Anam)Dari Nu Online: nu.or.id
Ustadz Felix Siaw Ubudiyah, Berita Ustadz Felix Siaw
Tidak ada komentar:
Posting Komentar